23.5 C
Mataram
Thursday, January 15, 2026
spot_img

Asrama Mahasiswa Sumbawa jadi Umpan Politik, Mahasiswa Sumbawa Korban

Oleh: L. RIZKY PANGDUA RAMADHAN

Pengantar

Setiap ajang pemilu, kampanye dan obral janji menjadi instrumen utama bagi calon pemimpin dalam menarik simpati konstituen. Masyarakat disuguhi berbagai program dan visi yang menjanjikan perubahan serta kesejahteraan. Namun, apakah semua janji tersebut realistis dan memiliki dampak positif bagi rakyat? Bagaimana implikasinya jika janji-janji tersebut tidak terealisasi, atau bahkan direalisasikan namun justru merugikan sebagian besar masyarakat?

Janji kampanye sering kali menjadi alat retoris yang digunakan untuk membangun citra positif seorang kandidat. Dalam perspektif komunikasi politik, McNair (2011) mengatakan bahwa kampanye politik adalah bentuk persuasi yang bertujuan untuk memengaruhi opini publik. Para kandidat biasanya menyesuaikan janji mereka dengan kebutuhan dan harapan rakyat guna memperoleh dukungan sebanyak mungkin. Walau terkadang, kandidat tersebut hanya membual tanpa memikirkan secara matang bagaimana merealisasikan janjinya.

Pada kenyataannya, tidak semua janji kampanye dapat terealisasi. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan anggaran, dinamika politik di parlemen, serta kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Dalam teori Rational Choice yang dikemukakan oleh Anthony Downs (1957), pemilih seharusnya bersikap rasional dalam menilai janji politik, mempertimbangkan kredibilitas kandidat, serta menilai sejauh mana janji-janji tersebut dapat diwujudkan secara konkret. Oleh karena itu, seyogyanya kandidat memaparkan konsep yang dapat dicerna masyarakat, dengan bahasa yang sederhana dan jujur.

Pembahasan

Salah satu isu yang menjadi janji dan komoditas politik di setiap perhelatan pesta demokrasi di Tana Samawa adalah Asrama Mahasiswa Sumbawa, baik itu dalam pemilu maupun pilkada. Janji untuk memperbaiki dan membangun fasilitas asrama sering dijadikan bahan retorika oleh para politisi dalam kampanye untuk meraih dukungan, terutama suara di kalangan mahasiswa dan pemuda. Namun, seringkali janji tersebut tidak terwujud secara konkret, atau jika pun terwujud, hanya sebatas pencitraan yang tidak memberi dampak signifikan bagi kualitas pendidikan dan kehidupan mahasiswa. Hal ini menggambarkan fenomena di mana isu asrama mahasiswa digunakan secara strategis untuk memenangkan suara, tetapi tidak mencerminkan komitmen nyata terhadap kesejahteraan pendidikan.

Dalam konteks ini, teori Political Marketing (Pemasaran Politik) sangat relevan. Teori ini menjelaskan bagaimana isu asrama mahasiswa dimanfaatkan oleh politisi. Political marketing menekankan pentingnya pencitraan dan komunikasi dalam meraih simpati publik. Asrama mahasiswa menjadi isu yang sangat relevan karena mahasiswa adalah kelompok yang memiliki peran penting dalam proses politik dan sosial. Politisi tahu bahwa mahasiswa sering kali menjadi simbol perubahan dan kemajuan, sehingga mereka memanfaatkan isu asrama untuk memperlihatkan perhatian terhadap kelompok ini.

Teori Agenda Setting juga relevan untuk menganalisis fenomena ini. Dalam teori ini, media dan politisi berperan penting dalam membentuk agenda publik dengan menentukan isu-isu yang harus menjadi perhatian utama. Asrama mahasiswa sering kali dimasukkan dalam agenda politik oleh kandidat atau partai politik untuk memperlihatkan bahwa mereka peduli terhadap kebutuhan dasar mahasiswa. Namun, dalam banyak kasus, isu ini hanya muncul selama kampanye dan segera dilupakan setelah pemilu selesai. Dengan kata lain, janji-janji ini lebih berfungsi untuk menarik perhatian daripada menciptakan perubahan nyata.

Di sisi lain, teori Patronage Politics menjelaskan bagaimana janji tentang asrama mahasiswa sering kali dipakai untuk membangun hubungan patron-klien antara politisi dan masyarakat. Janji-janji pembangunan asrama ini seringkali menjadi cara bagi politisi untuk membangun loyalitas dengan kelompok tertentu—dalam hal ini mahasiswa—yang diharapkan akan memberikan suara mereka dalam pemilu atau pilkada berikutnya. Terkadang, meskipun janji tersebut tidak sepenuhnya terlaksana, loyalitas yang dibangun selama kampanye masih bisa menguntungkan politisi.

Melihat Secara Historis Asrama yang Melahirkan Banyak Tokoh

Bagi mahasiswa Sumbawa tahun 1980-an hingga 2000-an, siapa yang tidak mengenal “Wisma Samawa H. L. Mala Syarifuddin” atau yang lebih akrab disebut “Asrama Mahasiswa Samawa”? Dari asrama tersebut telah lahir banyak generasi emas mulai dari politisi, akademisi, hingga birokrat.

Banyak organisasi mahasiswa dan pegiat kebudayaan lahir dari rahim asrama ini. Tidak jarang, setiap mahasiswa yang pernah tinggal di asrama ketika lulus, selalu mendapatkan jabatan strategis di pemerintahan maupun profesi lainnya. Bisa jadi itu adalah buah manis dari proses pahit yang telah dilalui selama berada di asrama. Namun, tempat yang penuh sejarah itu terbakar pada tahun 2011.

Dan bisa jadi, mahasiswa Sumbawa sekarang yang ada di Mataram tidak tahu bahwa pernah ada Asrama Mahasiswa Sumbawa. Suara lantang dan desakan dari mahasiswa dan pemuda Sumbawa yang ada di Mataram pun makin hari mulai hilang ditelan bumi.

Urgensi adanya asrama bagi mahasiswa, pemuda, dan pelajar Sumbawa yang ada di Mataram sangat penting. Asrama merupakan wadah untuk bertemu, berkumpul, dan melakukan kegiatan kesamawaan. Namun, ironisnya, Pemerintah Kabupaten dan DPRD tidak menunjukkan tindakan konkret untuk menyelesaikan permasalahan ini. Justru isu asrama mahasiswa Sumbawa selalu dijadikan bahan kampanye di setiap pesta demokrasi. Pemimpin silih berganti dengan janji-janji yang tidak ditepati. Lantas, apa bentuk pertanggungjawaban Pemerintah Kabupaten Sumbawa terhadap mahasiswa yang berkuliah dan bersekolah di Mataram? Mereka adalah calon generasi penerus pemimpin, pemikir, dan praktisi Kabupaten Sumbawa.

Kesimpulan

Janji pembangunan asrama mahasiswa Sumbawa dalam setiap pesta demokrasi mencerminkan bagaimana isu ini dijadikan komoditas politik yang tidak selalu diikuti dengan realisasi yang sesuai harapan. Dengan menggunakan berbagai teori politik, kita bisa melihat bahwa janji-janji tersebut seringkali lebih berfungsi sebagai alat pemasaran politik dan pembentukan citra, daripada sebuah upaya konkret untuk memperbaiki kehidupan mahasiswa. Oleh karena itu, masyarakat, terutama mahasiswa, harus lebih kritis dan cerdas dalam menilai janji-janji politik agar tidak terjebak dalam retorika yang hanya bertahan sementara.

Harapan kita semua, mahasiswa, pemuda, dan pelajar harus terus menyuarakan pembangunan kembali asrama. Kita juga harus menuntut seluruh Pemerintah Kabupaten Sumbawa untuk segera melakukan pembangunan kembali Asrama Mahasiswa Sumbawa–Mataram.

Media
Mediahttps://mediaunram.com
MEDIA merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Universitas Mataram yang bergerak di bidang jurnalistik dan penalaran.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles