Unram, MEDIA – Pelaksanaan Pemilihan Raya (Pemira) di Universitas Mataram (Unram) hingga kini belum juga digelar. Agenda yang seharusnya menjadi ruang demokrasi mahasiswa yang menjadi tanggung jawab Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unram tersebut mengalami stagnan tanpa kejelasan jadwal, tahapan, maupun mekanisme resmi dari penyelenggara.
Mandeknya Pemira dinilai berpotensi mencederai prinsip demokrasi kampus. Sejumlah mahasiswa mempertanyakan kinerja DPM Unram yang hingga saat ini belum mampu menghadirkan kepastian terkait pesta demokrasi mahasiswa tersebut.
Ketiadaan informasi terbuka mengenai draf peraturan, tahapan teknis, hingga waktu pelaksanaan semakin memperkuat kesan tertutupnya proses penyelenggaraan. Kondisi ini dinilai berpotensi mencederai demokrasi mahasiswa apabila terus dibiarkan tanpa kepastian.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Peneliti dan Pengkaji Kemasyarakatan (HMP2K) Unram, Awi, turut menyoroti situasi tersebut. Ia menilai keterlambatan Pemira tidak terlepas dari dampak persoalan pada periode sebelumnya.
“Belum berjalannya pemira tahun ini mungkin di sebabkan oleh dampak yang terjadi pada pasca tahun 2025 yang dimana kemarin kan ada problem di sana sehingga mungkin untuk melaksanakan program kerja nya agak telat,” Ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi tersebut tidak terlepas dari tanggung jawab penyelenggara. Apalagi mengingat dampaknya bagi Mahasiswa dan UKM. “Kondisi pada saat ini tentu merupakan kelalaian dari pihak penyelenggara tidak memandang Pemira sebagai wadah penting mahasiswa,” tambahnya.
Ia Berharap masalah ini bisa segera terselesaikan dan tidak dibiarkan berlarut-larut, “Ini tidak ada bau baunya akan di selenggarakannya, jangan sampai kondisi ini di biarkan berlarut larut tanpa adanya kepastian”, tutupnya.
Kritik juga disampaikan Ketua Grahapala Rinjani Unram. Pria yang akrab disapa ‘Rembo’ itu menilai persoalan Pemira merupakan masalah berulang setiap tahun dan menunjukkan lemahnya pengelolaan demokrasi kampus.
“Pemilihan Raya Universitas Mataram selalu terulang dengan bungkus produk kegagalan, independensi sektoral serta menumpuknya kepentingan pribadi setiap tahunnya selalu menjadi bumbu basi setiap awal tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPM Universitas Mataram menyatakan bahwa Pemira tetap akan dilaksanakan setelah aktivitas perkuliahan kembali berjalan normal. “Tentu pasti kita akan menjalankannya setelah perkuliahan aktif”. ujarnya.
Ia juga memberikan klarifikasi terkait alasan belum digelarnya Pemira, dimana Pemira tidak bisa diadakan dihari libur, terlebih dirinya sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam beberapa hari terakhir.
“Kemudian mana bisa kita buat Pemira di hari libur, dan saya KKN pun di hari libur. Pun kalau Pemira dipaksa dilaksanakan tidak akan efektif karena mahasiswa sedang libur dan sebagian KKN juga ada yang balik kampung, sedangkan kita dari DPM sendiri mau agar Pemira itu berjalan se-demokratis mungkin,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi terkait jadwal maupun tahapan Pemira. Mahasiswa pun masih menunggu kepastian agar proses demokrasi kampus dapat berjalan secara terbuka dan tepat waktu.
(iwn, rfi)
