24.9 C
Mataram
Saturday, October 17, 2026
spot_img

Perpustakaan Bukan Tempat Pacaran: Mengembalikan Perpus Unram sebagai Ruang Belajar

Oleh: Syifa Nur Auliya

Perpustakaan seharusnya menjadi salah satu ruang paling penting dalam kehidupan akademik mahasiswa. Di tempat inilah mahasiswa mencari pengetahuan, membaca buku, mengerjakan tugas, berdiskusi, dan menemukan gagasan baru. Namun, fungsi tersebut akan kehilangan makna ketika perpustakaan justru digunakan untuk aktivitas yang tidak berkaitan dengan kegiatan akademik.

UPT Perpustakaan Universitas Mataram, sebagai bagian dari lingkungan pendidikan tinggi, semestinya menjadi ruang yang nyaman dan kondusif bagi mahasiswa untuk belajar dan membaca. Keberadaan perpustakaan bukan sekadar pelengkap fasilitas kampus, melainkan bagian penting dari ekosistem intelektual universitas. Karena itu, penggunaannya perlu dijaga bersama.

Tidak ada yang salah dengan mahasiswa berinteraksi dan membangun hubungan pertemanan di lingkungan kampus. Namun, perpustakaan memiliki fungsi yang berbeda dengan ruang terbuka atau tempat berkumpul lainnya. Ketika perpustakaan digunakan untuk pacaran, bercanda berlebihan, membuat kegaduhan, atau aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan kebutuhan belajar, kenyamanan mahasiswa yang sedang membaca dan berkonsentrasi dapat terganggu.

Persoalannya bukan semata-mata mengenai siapa yang datang bersama siapa. Persoalannya adalah kesadaran terhadap ruang. Setiap tempat memiliki fungsi dan etika. Sebagaimana ruang kelas digunakan untuk belajar dan laboratorium digunakan untuk praktikum, perpustakaan juga memiliki kehormatan sebagai ruang pengetahuan.

Ironisnya, di tengah rendahnya minat baca mahasiswa, ruang yang seharusnya menjadi rumah bagi buku dan gagasan justru berpotensi kehilangan identitasnya. Mahasiswa datang ke perpustakaan, tetapi belum tentu datang untuk membaca. Padahal, di antara rak-rak buku itu tersimpan berbagai pemikiran yang dapat memperluas cara pandang mahasiswa terhadap dunia.

Kita sering berbicara tentang mahasiswa sebagai kaum intelektual. Namun, intelektualitas tidak cukup dibangun melalui ruang kelas. Ia juga tumbuh dari kebiasaan membaca, berdiskusi, bertanya, dan menguji gagasan. Perpustakaan menjadi salah satu tempat penting untuk membentuk kebiasaan tersebut.

Karena itu, menjaga ketenangan dan fungsi perpustakaan bukan hanya tugas petugas perpustakaan. Mahasiswa sebagai pengguna juga memiliki tanggung jawab moral. Menjaga suara, menggunakan fasilitas dengan baik, menghormati orang yang sedang belajar, dan menggunakan ruang sesuai fungsinya merupakan bentuk sederhana dari budaya akademik.

Perpustakaan Unram seharusnya menjadi tempat ketika seorang mahasiswa datang dengan rasa ingin tahu dan pulang membawa sesuatu: sebuah pengetahuan, sebuah pertanyaan, atau bahkan sebuah gagasan baru. Bukan sekadar tempat untuk menghabiskan waktu.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang melarang mahasiswa untuk memiliki hubungan atau bersosialisasi. Kampus memiliki banyak ruang untuk itu. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan perpustakaan kepada marwahnya: sebagai ruang belajar, membaca, berpikir, dan bertumbuh. Sebab universitas tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang hadir di kampus, tetapi juga mahasiswa yang mau membaca dunia. Dan barangkali, langkah kecil untuk membangun budaya intelektual itu dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: datang ke perpustakaan untuk membaca, bukan sekadar untuk mencari tempat bertemu.

Media
Mediahttps://mediaunram.com
MEDIA merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Universitas Mataram yang bergerak di bidang jurnalistik dan penalaran.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles