28.5 C
Mataram
Sunday, July 14, 2024
spot_img

Catatan Hitam Demokrasi Mahasiswa Unram

Oleh: Haerul Muamalah

Demokrasi adalah medan aktualisasi, karena demokrasi mewadahi dialektika dari pihak manapun untuk menghasilkan konklusi dari suatu isu publik yang sedang hangat diperbincangkan.

Demokrasi juga melahirkan perspektif-perspektif baru dari para pembuat kebijakan. Sehingga dalam merumuskan kebijakan untuk publik secara moral dan etik, produk yang dihasilkan harus benar-benar berangkat dari urgensi dan kemaslahatan konstituen. Bukan dari intervensi apalagi kepentingan sepihak untuk memuluskan rencana pribadi tertentu, tentu itu telah melanggar nilai-nilai publik.

Kampus dalam hal ini tidak hanya belajar teori-teori di dalam kelas, tapi sebagai miniature Negara, kampus menjadi ranah praktik demokrasi mahasiswa, merepresentasikan melalui lembaga-lembaganya dengan nama eksekutif, legislatif dan mahasiswa umum sebagai konstituen publik.

Salah satu core demokrasi mahasiswa di Kampus Universitas Mataram yang hari ini sedang menemukan momentumnya kembali, yakni Pemilu Raya Mahasiswa (Pemira). Ini akan menjadi _gawe_ besar yang ditunggu-tunggu sekali dalam setahun.

Perhelatan ini tentu dimaksudkan untuk mencari presiden mahasiswa yang mampu merepresentasikan kemasalahatan publik di kampus Universitas Mataram. Sehingga apa yang diperjuangkan dalam rangka Pemira ini harus jelas dan merepresentasikan publik bukan pesanan atau kerja-kerja ditengah malam seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) adalah wadah yang memfasilitasi munculnya Pemira, sekaligus melahirkan _Trigger Mechanism_ yang biasanya dikenal dengan KPRM (Komisi Pemilu Raya Mahasiswa) yang menyiapkan langkah taktis dalam pemira mahasiswa tersebut.

Tapi sungguh tidak disangka, saat ini DPM seperti tidak bisa menjawab permasalahan eksistensialnya sebagai lembaga yang menampung aspirasi mahasiswa, untuk siapa produk dan peraturannya tersebut ? Tidak jelas di representasikan untuk siapa.

Tantangan eksistensial tersebut diantaranya, keterbukaan ketika pemilihan KPRM, persyaratan yang seolah dibuat sepihak tanpa pertimbangan publik, tidak dipertarungkan diatas panggung terbuka, pengalaman kerja dan jam terbang mereka sejauh mana? Tentu ini sangat dibutuhkan, karena dia akan memimpin Pemira Unram yang dinamis.

Hal ini lagi-lagi membuka pintu pertanyaan kita semua. Terpilih melalui siapa dan dengan mekanisme yang bagaimana? Hanya DPM lah yang tau. Setelah diumumkan, KPRM seperti mati suri, tidak pernah diperkenalkan dan tiba-tiba langsung memberi kejutan seperti mengulang kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Selanjutnya tidak pernah ada bahasan bersama tentang Pemira yang menggunakan sistem online, tiba-tiba keputusan rektor keluar dan menetapkan Pemira Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tahun ini menggunakan platform tersebut.

Dari siapa proposalnya? Tentu ada yang mengusulkan dan mengintervensi birokrasi. Lalu atas nama siapa? tidak ada jajak pendapat sebelumnya.

Sosialisasi yang minim bahkan pencerdasan politik yang sangat kurang tiba-tiba menghasilkan keputusan yang tidak jelas direpresentasikan untuk siapa.

Banyak pertanyaan akhir-akhir ini yang dilontarkan mahasiswa. Tentu ini sekelumit dari tulisan yang hanya mengungkapkan sedikit, dan tak tau mau disampaikan kemana. Yang pada akhirnya mental dan dikembalikan pula.

Pintu permainan demokrasi mahasiswa ini seolah dibuka lebar dan dipertontonkan diatas kepiawaian DPM berdansa diatas panggung yang menawan, pesertanya dari semua kalangan, tapi tiket masuknya bertuliskan “Boleh masuk acara, asalkan diam! Acara sedang berlangsung.”

Menteri Harmonisasi Kehidupan Kampus

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles