Oleh Elsa, Alumni UNRAM Tahun Lulus 2025
Di sejumput mentari yang pengap, tepat di antara ruang-ruang lembab yang tumpang tindih, sesak, meminta dibebaskan. kami melingkar membentuk rapat-rapat ide yg dirangkai dari saliva tajam yang terus melontarkan kata demi kata, kalimat demi kalimat.
”Jadi, kami mau minta teman-teman anggota baru untuk merangkai acara Dies Natalis ini. ” Buka seseorang di ujung sana.
Kami, yang disambut tangan oleh sepuh-sepuh organisasi ini sebagai anggota baru agaknya merasa linglung dan ragu. Sebagian dari kami bahkan baru saja masuk berkuliah, baru mulai beroganisasi, malah diberi tugas seberat ini.
”Serius bang?” Ucap Yudi di ujung sana.
Tampaknya ia sangat bersemangat, mungkin ia sudah siap menjadi bagian dari kepanitiaan ini.
”Iya, kamu yang jadi ketua panitianya ya Yud!” Asal saja.
Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan. Dan mau tidak mau, siap tidak siap harus di iyakan. Jadi mulai detik itu hingga hari-hari berikutnya, kami adalah orang yang benar-benar sibuk. Mana ada waktu untuk bercanda dengan teman satu jurusan. Pelan-pelan kami mulai seperti lem ditangan yang kasar. Terus bersama merancang semua hingga tersepakati, bahwa kami akan membuat perhelatan yang megah, dengan konsep yang tiada tanding. Saat itu, demi menutup kekurangan dana kami tidak segan kesana kemari menjual apapun yang bisa kami usahakan, mungkin ini ya organisasi yang sebenarnya?
Sampai Pada malam puncaknya, aku sebagai koordinator acara sudah mulai kesana kemari menyiapkan segala yang kiranya bisa segera disiapkan. Mulai dari prasmanan yang lauknya kami masak sendiri dari pagi buta, hingga talent-talent yang musti segera dihubungi kembali. Saat itu kaki seperti ringan dan tidak tahu letih. Hingga semua acara berjalan dengan (setidaknya) baik. Aku, terduduk di belakang panggung, menangis tersedu entah karena terlalu lelah atau karena merasa kurang saja memberikan semua tenaga dan kekuatanku yang terbaik untuk acara ini. Meski aku tau hari itu dan bahkan hari-hari sebelumnya kami kurang tidur bahkan tidak tidur sama sekali.
Aku rasa, pengalaman kepanitiaan kali itu banyak sekali melahirkan bakat dan semangat baru. Bahkan Yudi si ketua panitia yang dulunya susah mengutarakan apa yang ada dipikirannya, kini sudah sangat sukses dengan karirnya. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Bahkan semenjak itu kami semakin lengket acara apapun kemanapun kami selalu semangat.
Aku hanya berharap masa-masa itu bisa terulang kembali. Membarakan lagi mimpi-mimpi.


