Oleh: Lalu Wahyu Alam
IKA UNRAM, sebagai ikatan alumni Universitas Mataram, hari ini lebih sering terasa sebagai nama dalam AD/ART daripada sebagai organisasi yang benar-benar hidup. Diatas kertas, ia disebut sebagai “wadah silaturahmi dan kolaborasi alumni”. Namun dalam praktik, banyak alumni justru bertanya-tanya, IKA UNRAM ini sebenarnya masih ada atau tidak?
Gedung Ada dan Mewah, Tapi Organisasi Tak Terasa Ada
Tidak bisa dipungkiri bahwa IKA UNRAM memiliki Gedung yang representatif. Megah dan membanggakan. Namun ironisnya, kemegahan gedungnya tidak diriingi oleh kemegahan aktifitas dan kegiatan organisasi. Gedung berdiri kokoh, tapi denyut organisasinya hampir tak terdengar. Sebuah simbol fisik yang tampak hidup, tetapi secara fungsi justru terasa kosong.
Mandat Besar, Gerak Kecil
Sebagai organisasi alumni, IKA UNRAM memegang mandat besar menjadi jembatan antara mahasiswa, kampus dan alumni. Membuka ruang jejaring serta menghadirkan kontribusi nyata bagi alumni, kampus, daerah dan bangsa. Namun yang terihat justru sebaliknya. Kegiatan nyaris tidak terdengar, program terencana tidak terlihat dan dampak ke alumni dan kampus hampir tidak terasa.
Komunikasi Mandek, Alumni Terpinggirkan
Di era digital, alasan sulit menjangkau alumni sudah tidak relevan, karenya banyak hal bisa dimanfaatkan untuk komunikasi seperti grup media sosial dan platform komunikasi lain banyak tersedia. Namun yang terjadi, banyak alumni bahkan tidak tahu siapa penguru IKA UNRAM saat ini, apa programnya, dan bagaimana cara alumni bisa terlibat atas nama IKA UNRAM. Tidak ada update berkala disosial media resmi IKA UNRAM, tidak ada laporan kegiatan yang jelas dan tidak ada ajakan yang serius untuk berpartsipasi.
Gagal Menjadi Ruang Jejaring dan Kolaborasi
Alumni UNRAM tersebar diberbagai sektor dengan potensi besar. Namun tanpa wadah yang aktif dan serius, potensi tersebut dibiarkan tercecer. IKA UNRAM seharusnya menjadi pusat informasi peluang kerja, kolaborasi antara mahasiswa dengan alumni, serta mentoring bagi mahasiswa. Sesuatu yang hingga kini belum terlihat dijalankan dengan serius.
Antara Kepemimpinan, keseriusan dan Hanya Label Semata
Organisasi yang tidak bergerak biasanya bukan sekedar soal kesibukan, tetapi prioritas dan keseriusan. Jika jabatan hanya menjadi label, bukan Amanah yang dikerjakan dengan dedikasi, maka stagnasi Adalah konsekuensi. IKA UNRAM membutuhkan kepemimpinan yang mau berubah, pengurus yang siap bekerja dan mekanisme evaluasi yang jelas.
Saatnya Bangkit atau Mengaku Kalah
Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menggugat apakah IKA UNRAM ingin terus menjadi seperi sekarang”sepi”, tak terdengar, tak berpengaruh atau berani bangkit menjadi organisasi alumni yang benar-benar hidup?. Saatnya pengurus IKA UNRAM memilih, Bangkit dengan serius atau mengakui bahwa ia sudah tidak relevan dan tidak mampu lagi menjalaninya.
