24.5 C
Mataram
Wednesday, January 14, 2026
spot_img

Kekuatan Propaganda dalam Mengontrol Persepsi Masyarakat: Film ‘Senyap’ dan Sejarah yang Ditutupi

oleh: Trisandi

“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para jenderal yang gugur, kita juga perlu mengingat suara-suara korban lain yang dibungkam dalam senyap.”

Setiap kali bulan September tiba, memori kolektif bangsa ini seakan diarahkan pada satu titik: peristiwa G30S. Selama puluhan tahun, film Pengkhianatan G30S/PKI diputar berulang-ulang di televisi. Generasi demi generasi tumbuh dengan gambaran mengerikan tentang PKI, lengkap dengan adegan penyiksaan yang dibarengi dengan dramatisasi ala film horor. Pesan yang tertanam sederhana: PKI biadab, sementara tentara dan massa yang menghancurkannya adalah pahlawan

Tetapi narasi itu menyisakan ruang kosong yang besar. Ruang kosong tentang apa yang terjadi setelahnya. Ketika ratusan ribu orang dibantai, ditahan tanpa pengadilan, dan dicap sebagai musuh negara. Ruang kosong tentang keluarga-keluarga yang kehilangan ayah, ibu, atau anaknya hanya karena tuduhan. Ruang kosong itu hampir tak pernah dibicarakan secara terbuka, apalagi diakui sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Di titik inilah film dokumenter Senyap (The Look of Silence) karya Joshua Oppenheimer hadir. Film ini menawarkan perspektif yang berlawanan dengan propaganda resmi Orde Baru. Alih-alih menyoroti pelaku yang membanggakan aksinya, seperti dalam Jagal (The Act of Killing), Senyap memilih fokus pada korban. Melalui sosok Adi Rukun, seorang tukang kacamata yang kakaknya dibunuh dalam pembantaian 1965, film ini membawa penonton menyaksikan keberanian sederhana: keberanian untuk bertanya.

Pertanyaan Adi kepada para pelaku—bagaimana mereka bisa membunuh, apakah mereka menyesal, apakah mereka sadar telah menghancurkan keluarga lain, membuka fakta yang mencengangkan. Banyak pelaku tidak menunjukkan rasa bersalah. Ada yang tertawa, ada yang menyeringai, ada pula yang membela diri dengan mengatakan mereka hanya menjalankan perintah. Semua itu lahir dari legitimasi narasi negara yang sejak lama membenarkan pembantaian massal sebagai tindakan “menyelamatkan bangsa”.

Inilah kekuatan propaganda: ia tidak hanya membentuk opini, tetapi juga mengatur emosi dan moral. Puluhan tahun dicekoki film propaganda, buku pelajaran, dan pidato resmi telah membuat sebagian masyarakat percaya bahwa membunuh orang yang diduga PKI bukanlah dosa. Rasa bersalah lenyap, diganti keyakinan bahwa mereka adalah pahlawan.

Berbeda dengan film G30S/PKI yang biasa diputar di rumah-rumah maupun alun-alun kota, Senyap bekerja dengan keheningan. Tatapan mata Adi kepada para pelaku menjadi simbol perlawanan tanpa suara. Diam yang panjang, wajah yang menegang, dan kebisuan yang menyergap ruang wawancara justru lebih bising daripada teriakan. Di situlah kekuatan film ini, ia tidak perlu menambahkan efek dramatis, karena kenyataan sudah cukup menyobek hati nurani.

Menonton Senyap sama dengan menghadapi sejarah yang disembunyikan. Kita dipaksa melihat sisi lain dari G30S: bukan hanya kisah tentang kudeta yang gagal, tetapi juga tentang pembunuhan massal yang jarang disebut. Kisah ribuan orang yang tak pernah diberi kesempatan membela diri. Kisah keluarga yang menanggung trauma hingga generasi berikutnya.

Hari ini, ketika sebagian pihak masih berusaha menghidupkan kembali propaganda lama, Senyap hadir sebagai pengingat: sejarah tidak pernah tunggal, dan sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Ada suara-suara korban yang selama ini dibuang, ada kebenaran yang sengaja dikubur.

Meskipun film ini mendapat beberapa kritik, akan tetapi film ini menghadirkan pesan yang sangat penting: propaganda bisa mengendalikan ingatan, tetapi tidak bisa selamanya membungkam akal. Pada akhirnya, kebenaran akan selalu mencari jalannya sendiri, bahkan lewat tatapan mata seorang anak korban yang hanya ingin tahu, “Mengapa kakak saya harus dibunuh?”

Media
Mediahttps://mediaunram.com
MEDIA merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Universitas Mataram yang bergerak di bidang jurnalistik dan penalaran.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles