Mataram, MEDIA- Lebaran sudah semakin dekat. Bagi sebagian orang, ini sekedar libur panjang. Tapi bagi kamu, mahasiswa perantauan di Mataram dan sekitarnya, ini adalah pertarungan antara rindu yang membara dan realita yang menampar.
Mudik bagi mahasiswa bukan sekadar perjalanan fisik dari kos ke kampung halaman. Setelah sekian lama bergelud dengan tumpukan tugas, organisasi, ujian, skripsi dan masakan kos yang itu-itu saja, akhirnya ada kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Namun, di balik mudiknya mahasiswa, ada kecemasan yang sering kali tidak terucap: apakah uang cukup? Apakah dosen mengizinkan? Apakah skripsi bisa ditinggal?
Realita Dompet dan Tiket “War”
Kita tahu betul, harga tiket menjelang Lebaran itu tidak masuk akal. Bagi mahasiswa yang masih bergantung pada kiriman orang tua, keputusan untuk mudik sering kali harus diiringi dengan “berkorban”. Ada yang rela menahan diri tidak jajan selama sebulan, ada pula yang harus mencari kerja sampingan demi menutupi selisih tiket.
Saran klise “pesan tiket jauh-jauh hari” memang benar, tapi situasi tidak selalu memungkinkan. Kebanyakan dari kita memilih jalur darat contohnya lewat rute Sumbawa-Bima. Siap-siap saja, karena macet di jalur ini sudah menjadi kebiasaan menjelang lebaran dan libur panjang. Untungnya, jadwal ujian biasanya baru dimulai dua minggu setelah Lebaran. Jadi, fokus kamu sekarang bukan khawatir tugas sebelum berangkat, tapi bagaimana selamat sampai di sana.
Kuncinya bukan hanya hemat, tapi bijak. Jangan sampai kamu pulang dengan tangan hampa karena uang habis di jalan. Bawa oleh-oleh secukupnya, yang penting sampai dengan selamat dan utuh.
Dilema Akademik
Ini adalah tantangan terberat yang sering diabaikan. Tidak semua kampus meliburkan perkuliahan penuh menjelang Lebaran. Ada yang masih ada UTS, kuliah online, tugas kelompok, atau bimbingan skripsi yang mendesak.
Rasa bersalah sering muncul. Di satu sisi, hati ingin memeluk keluarga di kampung. Di sisi lain, ada notifikasi email dari dosen pembimbing yang menuntut revisi. Mudik bukan lagi soal fisik, tapi soal manajemen waktu. Banyak mahasiswa akhirnya memilih “mudik digital”, membawa laptop dan mengerjakan tugas di teras rumah orang tua.
Jika kamu berada di posisi ini, komunikasikan. Jangan menghilang. Kabari dosen atau ketua kelompok mengenai kondisimu. Koordinasi di awal jauh lebih baik daripada mengejar deadline di atas kendaraan saat macet total di jalur Pantura atau lintas Sumbawa.
Lebih Dari Sekadar Tradisi
Di tengah segala kelelahan dan hitungan biaya, mengapa kita tetap memaksakan diri untuk mudik?
Bagi mahasiswa asal Bima, Sumbawa, Lombok Timur, atau daerah luar pulau lainnya, mudik adalah tentang “mengisi ulang bahan bakar jiwa”. Seperti yang sering disinggung dalam kajian sosiologi, mudik adalah ritual merawat akar. Saat kamu pulang, kamu bukan lagi mahasiswa yang pusing dengan IPK. Kamu kembali menjadi anak, keponakan, atau adik yang dirindukan.
Momen bersalaman dengan orang tua, mendengar cerita tetangga, dan makan masakan rumah adalah terapi mental terbaik yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ini adalah investasi kesehatan mental sebelum kamu kembali menghadapi kerasnya kehidupan kampus.
Tips Mudik Ala Mahasiswa
Agar perjalananmu tetap nyaman dan aman, catat beberapa hal ini:
- Sebelum kamu benar-benar melangkah pergi, jangan lupa bahwa kamar kos adalah “markas” yang harus tetap aman saat ditinggal. Pamit kepada bapak/ibu kos, bersihkan kamar dari sisa makanan agar tidak mengundang hama, amankan barang berharga, mencabut semua colokan listrik serta mengunci pintu dan jendela dengan rapat sebelum meninggalkan kamar.
- Pastikan Keamanan: Jika memilih transportasi umum, pastikan trayek resmi. Jika membawa kendaraan pribadi, servis mesin sebelum berangkat. Keselamatanmu adalah prioritas utama orang tuamu.
- Jaga Stamina karna perjalanan darat lewat jalur pegunungan atau laut bisa menguras energi. Bawa camilan, minum vitamin, dan istirahat di rest area. Jangan memaksakan diri menyetir jika sudah lelah.
- Dokumen Penting: Simpan tiket, KTP, dan KTM di tempat yang mudah dijangkau tapi aman. Fotokopi dokumen penting sebagai cadangan.
- Tetap Terhubung: Kabarkan posisimu pada keluarga di kampung dan teman di kos. Jangan biarkan mereka khawatir.
Mudik Lebaran bagi mahasiswa adalah cerita tentang kedewasaan. Tentang bagaimana kamu belajar mengatur prioritas, menghargai uang, dan memahami arti keluarga. Mungkin perjalananmu penuh kemacetan, mungkin dompetmu menipis, atau mungkin tugasmu belum selesai.
Tapi, saat kamu tiba di pintu rumah dan disapa oleh senyum orang tua, semua lelah itu akan terbayar. Mudiklah dengan persiapan matang, tapi jangan lupa bawa pulang semangat baru. Karena setelah libur usai, kampus masih menanti dan masa depan masih harus diperjuangkan.
Selamat mudik, selamat bertemu keluarga. Hati-hati di jalan, kawan.
(Nxl)
