Unram, MEDIA – Sebagian besar kita pernah merasakannya, dengan bangga kita membawa tumbler ke kampus, merasa telah melakukan satu hal kecil yang baik untuk bumi. Kita menghindari botol plastik sekali pakai, mengikuti tren gaya hidup ramah lingkungan, dan berharap kampus mendukung langkah kecil ini. Namun, realitas di lapangan sering kali menghianati harapan tersebut. Alih-alih mendapat dukungan, kita justru dihadapkan dengan fasilitas yang mangkrak dan kekecewaan yang mendalam.
Dilansir dari sirkularium.com, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menghasilkan sekitar 2.500 ton sampah setiap harinya. Bukan sekedar angka saja, ini adalah bom waktu lingkungan. Kampus seharusnya menjadi benteng pertahanan untuk memutus mata rantai sampah plastik ini. Sayangnya, niat baik mahasiswa sering kali kandas di tengah jalan karena ketiadaan infrastruktur yang memadai.
Di sinilah fenomena terbesar muncul. Universitas Mataram (Unram) mencatatkan prestasi membanggakan. Peringkat dunia kita berdasarkan aspek THE Sustainability Impact Rankings meroket ke posisi 601–800 melompat signifikan dari kisaran 1001–1500 pada tahun sebelumnya. Namun, mari kita jujur dan bertanya, apa gunanya peringkat dunia keberlanjutan jika fasilitas dasar untuk mendukung gaya hidup hijau saja kita biarkan rusak?
Fakta di lapangan sangat menohok. Saat ini, Unram bersama Bank BTN menyediakan dua tempat isi ulang air (water refill station) pada April 2025, yang katanya untuk “Campus Go Green”. Salah satunya, terletak di belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Sayangnya, itu hanya berdiri diam, tidak pernah berfungsi, dan menjadi pajangan mati yang mempertanyakan keseriusan pihak pengelola. Apakah mesin ini hanya dipasang untuk memenuhi syarat administrasi kampus hijau, tanpa niat sungguh-sungguh untuk merawatnya?
Satu unit lainnya berada di sekitar Foodcourt, kondisinya tak jauh lebih baik. Fungsinya tidak menentu, kadang bisa kadang tak bisa. Saat kita beruntung dan mesin itu berfungsi, volume air yang keluar sangatlah kecil. Kita harus menunggu lama hanya untuk mengisi satu tumbler. Lebih memprihatinkan lagi, rasa airnya sering kali terasa payau. Apakah ini standar kualitas air minum yang ingin kita berikan kepada sivitas akademika?
Inilah paradoks yang harus kita lempar ke permukaan. Kampus mempromosikan citra berkelanjutan, tetapi membiarkan fasilitas pendukungnya rusak. Akibatnya? Mahasiswa yang sudah repot-repot membawa tumbler akhirnya menyerah. Mereka terpaksa kembali membeli air mineral dalam botol plastik karena tidak ada alternatif yang layak. Kampanye pengurangan sampah gagal, bukan karena mahasiswa malas berubah, tetapi karena sistem yang tidak mendukung.
Solusinya sebenarnya tidak rumit dan tidak butuh teknologi luar angkasa. Kampus perlu melakukan desentralisasi fasilitas. Bayangkan jika setiap gedung perkuliahan atau setiap fakultas memiliki setidaknya satu tempat isi ulang air yang memadai, terawat, dan terjamin kebersihannya. Langkah konkret ini akan memangkas antrean panjang dan menjadikan akses air bersih sebagai hak dasar mahasiswa, bukan kemewahan yang harus diperebutkan. Pihak pengelola harus mengalokasikan anggaran pemeliharaan rutin khusus untuk mesin-mesin ini, sama seriusnya dengan anggaran untuk publikasi prestasi atau acara seremonial.
Mari kita tagih tanggung jawab ini. Perbaiki dan perbanyak fasilitas refill air minum secepatnya. Karena peringkat dunia tidak akan berarti apa-apa jika kita gagal menyediakan hak dasar mahasiswa dan gagal menjaga lingkungan di halaman kita sendiri. Jangan biarkan tumbler kita hanya menjadi aksesori gaya, sementara permasalahn sampah plastik bertemaran dimana mana.
(Nxl) (Kelompok 1 LJTD XXXIV)
