oleh: Hessinta Saulandari
Identitas Buku
Judul buku: 1984
Penulis buku: George Orwell
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2020
Penerjemah: Landung Simatupang
Tebal halaman: 397
Genre: Fuksi Distopia
ISBN: 978-602-291-731-1
Novel 1984 merupakan novel klasik distopia karya Goerge Orwell. Orwell menulis novel ini pada tahun 1948 dengan latar waktu 1984 di negara fiktif Oceania. Negara ini dipimpin oleh Big Brother. Dia merupakan seorang pemimpin yang sangat dihormati dan diagung-agungkan oleh rakyatnya. Walaupun rakyatnya sendiri sebenarnya tidak pernah melihat bahkan mempertanyakan apakah dia benar-benar ada atau sebatas seorang tokoh yang diciptakan keberadaanya oleh para penguasa. Novel ini dikisahkan dari sudat pandang seorang tokoh bernama Winston Smith, seorang pekerja Ministry Of Truth (Kementrian Kebenaran). Ia merupakan seorang pegawai yang patuh, namun diam-diam sering mempertanyakan tentang berbagai hal yang janggal tentang negaranya
Novel ini mengangkat isu politik, yang terinspirasi dari rezim brutal Adolf Hitler dan Josep Stalin setelah perang dunia II. Novel ini bukan sekedar fiksi, melainkan tentang peringatan bahaya dari totalitarianisme. Orwell barangkali menulis novel ini sebagai bentuk ramalan tentang kondisi suatu negara pada masa depan.
Kondisi mengerikan yang diciptakan Orwell mengakibatkan ketertarikan besar pembaca. Pembaca ditarik untuk melihat kondisi yang gelap dan mencekam. Dimana dunia ini digambarkan penuh dengan pemantauan ketat, propaganda dan penindasan. Menciptakan bagaimana dunia menjadi terbatas dan kebebasan dapat direnggut dalam masyarakat yang diatur oleh pemerintah yang otoriter.
Secara keseluruhan dalam resensi ini saya ingin menjabarkan bagaimana sinopsis dari novel ini, bagaimana kebenaran menjadi relatif dan rakyat dipaksa percaya pada realitas versi penguasa, Serta bagaimana bahasa dimanfaatkan sebagai alatlegitimasi kekuasaan untuk membatasi kosakata sehingga rakyat tidak bisa berpikir kritis atau menentang kekuasaan.
Sinopsis
Winston Smith merupakan seorang pekerja Ministry Of Truth (Kementrian Kebenaran) di sebuah negara fiktif Oceania. Ministry Of Truth merupakan salah satu dari empat kementrian utama di negara tersebut. Di kementrian ini Ia bertugas mengendalikan seluruh media, merevisi sejarah, menciptakan kebohongan menjadi suatu fakta dan penghapusan informasi untuk kepentingan partai di negara Oceania.
Selama hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang mematuhi setiap aturan yang dikeluarkan partai,walaupun dipikirannya berteriak ingin memberontak karena ia diam-diam mempertanyakan tentang segala hal kebijakan negaranya yang dipimpin oleh seorang diktator.
Di negara Oceania, Partai merupakan entitas yang menguasai kekuasaan dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan di negara tersebut. Masyarakat diatur dengan sistem pengawasan ketat melalui telescreen. Telescreen merupakan perangkat yang beroprasi sebagai televisi, kamera keamanan dan mikrifon. Alat ini juga dipakai untuk menyiarkan propaganda dan pengawasan dua arah yang tidak dapat dimatikan. Pemasangan alat ini sangat meluas, dia dipasangkan di tempat-tempat umum dan tempat pribadi untuk mengawasi gerak-gerik masyarakat sehingga alat ini sebagai simbol kuat hilangnya privasi dan kontrol Pemerintah yang ketat dan mutlak atas warga negaranya melaluli teknologi.
Dengan keberadaan Telescreen Winston merasa terjebak dalam dunia tanpa kebebasan. Ia mulai meragukan segala hal kebenaran yang disampaikan melalui telescreen. Ia diam-diam membeli buku harian rahasia dan mulai mencatat pemikiran kritisnya sendiri dan mulai mempertanyakan sistem pemeritahan yang ada pada negaranya.
Pada suatu hari ia menerima surat cinta dari Julia, seorang yang ia curigai sebagai mata-mata partai yang memantau segala aktivitasnya. Namun, kecurigaan Winston berubah menjadi ketertarikan pada Julia. Winston menyadari bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada Julia, dan hubungan mereka menjadi hubungan yang dilarang oleh negara, karena negara melarang mencintai seseorang secara emosianal selain ke Big Brother. Hubungan mereka merupakan bentuk pemberontakan terhapad rezim totaliter Big Brother. Cinta mereka menjadi simbol harapan dan perlawanan, namun pada akhirnya mereka dikhianati dan ditangkap, yang secara tragis menghacurkan harapan mereka.
Winston dan kekasihnya Julia ditangkap dan disiksa oleh O’Brien yang merupakan seorang yang ia paling percayai untuk membantunya melakukan pemberontakan. Mereka disiksa secara fisik dan mental, serta mengalami siksaan yang paling menyakitkan di kamar 101. Dikamar tersebut Winstondipaksa untuk menghianati Julia dan menghacurkan cinta mereka. Dan pada akhirnya Winston menyerah sepenuhnya dan mencintai Big Brother seorang yang merupakan pemimpin di negara Oceania.
Kebenaran Dianggap Relatif
Kebenaran yang dianggap relatif merupakan kebenaran yang tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang absolut, objektif, dan universal. Melainkan kebenaran bisa berubah-ubah sesuai dengan kepentingan, sudut pandang atau kekuasaan. Dalam novel ini relativitas kebenaran dapat diwujudkan melalui Partai. Partai yang berkuassa mendefinisikan kebenaran. Fakta sejarah bisa dihapus, diubah, atau ditulis ulang di Ministry Of Truth (Kementrian Kebenaran). Winston sering menyadari bahwa dalam negara itu partai sering memaksakan orang lain untuk menerima kebohongan. Dengan demikian semua catatan menceritakan dongeng yang sama, dan pada akhirnya dusta tersebut lulus dan masuk kedalam sejarah dan menajadi kebenaran.
“Dia yang menguasai masa silam, kata selogan partai, menguasai hari depan, dia yang menguasai hari ini menguasai masa silam. Tetapi masa silam itu, meskipun berdasarkan sifatnya dapat diubah, tidak pernah diubah-ubah. Apapun yang benar-benar sekarag ini adalah benar sejak kekal sampai kekal. Sederhana saja, segala yang diperlukan hanyalah serangkaian kemenangan tak putus-putus atas memorimu sendiri. Realitaslah yang mengendalikan”
“ Seluruh sejarah adalah semacam batu tulis, bisa dihapus bersih dan ditulis lagi seiring yang dibutuhkan. Bagaimanapun sesudah dilakukan pemalsuan, tidak pernah mungkin dibuktikan bahwa memang ada pemalsuan apapun juga.”
Partai memaksakan setiap orang untuk menolak bukti yang tertangkap mata dan telinga. Kebebasan berpikir mereka dibatasi dan dipersempit. Bahkan, relativitas kebenaran diperlihatkan secara ekstrem. Ketika Partai mengatakan 2+2 = 5, maka mereka harus mempercayainya. Karena setiap ucapan partai adalah benar. Winston hanya menginginkan kebebasan dimana ia bebas untuk memikirkan segala hal tanpa harus menuruti kata Partai.
“Kebebasan ialah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua ditambah dua samadengan empat. Jika itu dijamin, semua yang lain mengikuti”
Hal ini menegaskan bahwa logika sekalipun dapat diputarbalikkan jika partai menghendakinya. Sehingga apa yang disebut benar pada hakikatnya ditentukan oleh kekuasan.
Tidak hanya itu, Partai juga juga memaksa masyarakat untuk memegang dua keyakinan yang bertetantangan sekaligus, yang dalam novel ini disebut doublethink. Doublethink merupakan kemampuan untuk menampung dua keyakinan yang bertentangan dalam pikiran seseorang, lalu menerima keduanya sebagai sebuah kenyataan. Misalnya dalam selogan partai yang berbunyi:
“Perang adalah Damai, Kebebasan adalah Perbudakan, Ketidaktahuan adalah Kekuatan”
Kalimat tersebut merupakan sebuah kontradiksi, tetapi harus diyakini sebagai kebenaran yang mutlak. Dalam Praktiknya juga Winston dan masyarakat Oceania dipaksa percaya bahwa musuh negara bisa berganti dalam semalam, misalnya sebelumnya berperang melawan Eurasia lalu besoknya diumumkan bahwa musuh sebenarnya adalah Eastasia. Mereka pun percaya bahwa mereka selalu berperang denga Eastasia. Masyarakat dipaksa menerima kontradiksi, walaupun mereka tahu terdapat perubahan, mereka harus tetapyakin bahwa tidak pernah ada perubahan, hal inilah yang disebut dengan doublethink. Dengan doublethink seseorang bisa lupa fakta yang tidak sesuai dengan narasi partai
Bahasa Dimanfaatkan Sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan
Bahasa tidak hanya digambarkan sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai alat kekuasaan. Partai memahami bahwa dengan mengendalikan bahasa, mereka dapat mengendalikan pikiran manusia. Hal ini diwujudkan melalui proyek newspeak. Newspeak ini dimaksud untuk mempersempit lingkup pemikiran, hal ini secara tidak langsung memangkas pilihan kata hingga ketingkat minimum.
“ Tidakkah kamu lihat bahwa seluruh tujuan newspeak untuk menyempitkan lingkup pemikiran? . Pada akhirnya nanti kita akan membuat kejahatan pikiran sungguh-sengguh tidak mungkin, karena tidak akan ada kata untuk mengungkapkannya. Setiap konsep yang diperlukan akan diungkapkan dengan satu kata saja, yang maknanya didefinisikan ketat dan kaku, dan segala pengertian embel-embelnya dihapus dan dilupakan. Pada edisi kesebelas ini kita sudah tidak jauh lagi dari titik itu. Tapi, prosesnya akan terus berjalan lama setelah kamu dan saya mati”
Kosa kata Newspeak disusun secara teratur yang dituangkan dalam bentuk kamus yaitu Newspeak Dictionary. Kosa katanya dipersempit dan dimodifikasi maknanya, dan hanya menyisakan kosa kata yang mendukung ideologi Partai. Kosa kata yang berkaitan dengan kebebasan, pemberontakan, atau pemikiran kritis dihapuskan, dengan demikian masyarakat tidak lagi memiliki alat untuk mengepresikan perlawanan.Misalnya kata “bebas” masih terdapat dalam Newspeak Dictionary , tetapi kata ini hanya dapat digunakan dalam pernyataan “Kucing ini bebas dari bakteri ”. Selain itu kata “bebas” tidak bisa digunakan dalam pegertian lamanya yang terkandung dalam frase “politik bebas” dan “pemikiran bebas/kebebasan berpikir”, karena kebebasan politik dan kebebasan berpikir tidak adalagi atau dengan kata lain telah dihilangkan sehingga tidak perlu dinamai.
“Setiap tahun jumlah kata menyusut dan makin menyusut, dan lingkup kesadaran selalu dipersempit. Bahkan sekarangpun, tentunya tidak ada dalih untuk melakukan kejahatan pikiran. Ini cuma soal disiplin diri, pengendalian realitas. Tapi, pada akhirnya itu semua tidak perlu lagi. Revolusi akan rampung ketika bahasanya sempurna. Pernahkah kau pikir, Winston, bahwa menjelang tahun 2050, selambat-lambatnya, tidak satu manusia pun yang masih hidup yang dapat mengerti percakapan seperti percakapan kita ini?”
Penutup
Melalui Novel 1984 Orwell seakan ingin memberikan peringatan melalui tulisannya tentang masa depan yang mungkin saja akan menjadi kenyataan. Dalam Novel ini, Orwell menghadirkan gambarkan dunia yang gelap, penuh ketakutan dan tanpa kebebasan. Dimana hakikat berpikir bebas manusia dirampas oleh penguasa yang memproduksi ilusi sebagai realitas palsu. Manusia tidak lagi percaya pada mata dan telinganya sendiri, melainkan dipaksa menerima narasi yang direkayasa. Pada titik itu, kebebasan berpikir tidak hanya dibatasi, tetapi juga dilenyapkan melalui tipuan yang dilegalkan.
Ia tidak hanya menghadirkan kisah Winston yang teragis, namun membuka mata pembaca bahwa kekuasaan yang absolut mampu menghapus ingatan, merubah bahasa, menundukkan seseorang, bahkan merekayasa kebenaran. Negara yang dibangun seakan dikelilingi dengan tembok yang tidak memiliki ujung, penuh dengan kabut pengawasan dan tirani, hingga pembaca merasa terjebak dalam lorong panjang yang tidak memiliki cahaya.
Novel ini bukan sekedar bacaan, melainkan renungan yang akan terus hidup. Ia berfungsi sebagai cermin, menampilkan bayangan yang gelap yang bisa lahir kapan saja jika manusia lengah. Dengan bahasa yang tegas dan tajam Orwell mengajak kita untuk selalu bertanya, tidak pernah berhenti mencari kebenran, tidak pernah berhenti mengingat dan tidak pernah berhenti melawan ketika kebebasan terasa terancam. Karna tanpa kebebasan berpikir, manusia bayangan yang hidup dalam ketakutan, dan tunduk pada wajah tanpa rupa.


