25 C
Mataram
Thursday, June 13, 2024
spot_img

Kisah Unik Dibalik Stand Penjualan KSR

Catatan: Khan – Al Won

Dalam kondisi pandemi seperti ini, umumnya, mahasiswa (termasuk penulis) yang menetap di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) sering merasa malas membeli cemilan, kopi, rokok jika harus naik, melewati atau memanjat gerbang belakang Unram.

Tepatnya gerbang yang biasa dilalui untuk keluar wilayah Unram, di Gomong. Atau, keluar melalui jalur masuk yang berada di depan, dengan menggunakan sepeda motor. Ah… Terasa jauh. Boros bensin.

Sementara itu, Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unram hadir membawa solusi. Mereka seakan mengetahui masalah yang dihadapi para penghuni PKM. Terutama para perokok dan pengopi.

Di depan sekretnya, organisasi yang lebih dikenal KSR ini menjual berbagai makanan dan minuman. Mulai dari kopi hingga aneka cemilan. Harganya pun sesuai pasaran. Pastinya sesuai dengan isi dompet mahasiswa.

Sore menjelang solat magrib, anggota Media Unram berkesempatan bertemu dengan Ketua KSR PMI Unram, Ari Sandi, di meja bundar PKM.

Dia menjelaskan, KSR membuka stand penjualan, karena pada 25-30 Oktober mendatang, mereka akan melaksanakan salah satu proker besar. Yaitu kemah bakti pengabdian masyarakat.

“Hanya sementara. Pertengahan Oktober, kami sudah tidak berjualan lagi,” kata orang yang akrab disapa Sandi ini.

Lebih jauh Sandi menjelaskan, dana yang diberikan oleh birokrasi Unram tidak cukup untuk melaksanakan kegiatan ini. Masih banyak kegiatan besar KSR yang sudah dilaksanakan. Ditambah lagi, ada beberapa yang belum. Juga, untuk sangu kepengurusan selanjutnya. “Tidak mungkin, kami membiarkan uang kasnya kosong,” ucapnya.

Oleh karena itu, dia dan anggotanya membuka stand penjualan. Selain usaha untuk mencari dan menutupi kekurangan dana, ini juga merupakan salah satu cara untuk melatih anggota KSR.

“Setiap mengadakan kegiatan besar, kami tidak mungkin mengharapkan dan sepenuhnya menggunakan bantuan dana dari birokrasi untuk kegiatan besar. Kegiatan kami banyak. Seberapa sih bantuan birokrasi,” beber Sandi sambil sesekali menghisap rokok ditangannya.

Bagaimana jika ada yang mengatakan, “KSR ini seakan-akan menyaingi Kopma?”

Terkait hal itu, Sandi mengatakan, pada dasarnya, siapapun bisa membuka stand penjualan di Gedung PKM. Tidak ada yang melarang.

Namun, dia mengaku merasa sungkan dengan UKM lain, terutama Koperasi Mahasiswa (Kopma). Pasalnya, Kopma bergerak dibidang bisnis dan penjualan.

Untuk sementara ini, Kopma belum bergerak. Belum jualan. Menurutnya, bukan masalah yang cukup serius jika untuk sementara waktu KSR membuka stand penjualan. Juga, kebanyakan pembeli adalah anggota KSR itu sendiri.

“Sepertinya, Kopma tidak merasa keberatan. Kami pun berjualan tidak lama,” ungkap mahasiswa FKIP Unram ini.

Sandi juga bercerita, bahwa berjualan adalah tradisi lama yang dimiliki KSR. Sebelumnya, mereka juga mencari dana dengan berjualan. Mulai dari baju hingga beraneka jajan/kue.

Untuk baju, mereka menjualnya pada alumni, dengan harga yang tidak ditentukan. Dan untuk jajan, para anggota mengambil, kemudian membawa dan menjualnya di fakultas dan kelasnya masing-masing.

“Namun sekarang, karena pandemi, juga Kopma sedang tidak berdagang, kita bikin stand penjualan,” tegasnya.

Pembicaraan kami, Kamis (24/9) kemarin terkesan biasa saja. Seperti tidak ada yang istimewa. Tapi, bagi penulis, ada sesuatu yang bisa dipelajari dari obrolan singkat itu. Khususnya, cara menjalankan keuangan organisasi.

Kembali ke pembahasan stand penjualan tadi, bagi teman-teman mahasiswa, khusunya yang tinggal di Gedung PKM, bisa mengunjunginya. Para penjualnya ramah, ganteng dan cantik.

Hanya saja, hingga hari ini, penulis belum mengetahui, bisa berutang atau tidak.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles