Mataram, MEDIA – Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) gelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional di Kantor Gubernur NTB, Jumat (1/5). Massa menuntut upah layak dan perbaikan infrastruktur yang dinilai mangkrak.
Aksi yang tersebut diisi dengan orasi-orasi bernada kritik. Para pembicara menyoroti nasib pekerja yang masih digaji di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP), sekaligus menagih komitmen perbaikan jalan rusak yang hingga kini belum tersentuh, khususnya di wilayah Kabupaten Bima.
“Dapat dilihat hari ini, banyak sekali buruh yang mendapatkan upah dibawah UMP, upah tersebut belum bisa dikatakan layak untuk buruh,” ujar salah seorang orator saat aksi berlangsung.
Selain itu, orator juga orator lainnya mengkritik lambatnya penanganan infrastruktur.
“Pemerintah seakan tutup mata terkait permasalahan yang ada di NTB saat ini, salah satunya infrastruktur jalan yang tidak kunjung diperbaiki di Kabupaten Bima” tegasnya.
Koordinator Umum Aksi, Dodik, merinci dua klaster tuntutan: umum dan regional.

Tuntutan Umum:
- Penyesuaian upah buruh sesuai standar layak
- Evaluasi menyeluruh terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN)
Tuntutan Regional:
- Percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di Kabupaten Bima
- Kebijakan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat NTB
Sekitar pukul 16.48 WITA, Sekretaris Daerah (Sekda) NTB mewakili Gubernur menemui massa. Namun, pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan konkret dikarenakan tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan poin tuntutan.
Menyikapi hal tersebut, massa menyatakan sikap untuk kembali turun pada Selasa (5/5) dengan jumlah peserta lebih besar. Mereka juga menegaskan permintaan agar Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, hadir langsung menemui demonstran tanpa perwakilan pada aksi berikutnya.
Aksi berlangsung sejak pukul 13.00 hingga WITA di depan Kantor Gubernur NTB, ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap oleh Koordinator Umum Aksi.
(Mln)


