26.5 C
Mataram
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Berubahnya Perekonomian dan Fungsi Keluarga Akibat Corona

Oleh: Zulhaq Armansyah

Mahasiswa Prodi Sosiologi Unram

Akhir-akhir ini dunia sedang digemparkan oleh virus corona atau Covid-19. Seperti yang diketahui, virus corona ini memakan banyak korban dengan penyebarannya yang cepat. Oleh karena itu, untuk mengurangi dan mencegah penyebaran virus corona ini, pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah (Pemda) mengeluarkan imbauan agar menghindari kerumunan, tidak keluar rumah dan menjaga jarak (social distancing) dengan orang-orang.

Dampak dari virus dan imbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah ini tentu saja menyebabkan kerugian bagi beberapa perkonomian yang ada di berbagai belahan dunia. Di Negara Indonesia sendiri, perekonomian semakin menurun. Sebelumnya, pemerintah berupaya untuk meningkatkan perkonomian yang ada, dan ingin mengurangi angka kemiskinan maupun pengangguran yang ada. Namun sayang, virus ini menghambat keinginan bangsa yang merdeka pada 17 Agustus 19945 ini. Menurut berita Kompas Tv — Jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia per Jumat (1/5) secara kumulatif mencapai 10.551 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 800 orang meninggal dunia dan 1.591 orang lainnya dinyatakan sembuh.

Tidak hanya perekonomian skala besar (nasional) saja yang merosot, tapi perekonomian skala kecil juga, seperti keluarga. Jika dilihat dan diamati lebih dalam lagi, dampak dari Covid-19 ini sangat merugikan perkekonomian masyarakat kecil, terlebih lagi dalam masyarakat tersebut terdapat keluarga yang memiliki pekerjaan dan penghasilan dibawah standar atau taraf kehidupan normal. Seperti kuli bangunan, pedagang sayur keliling dan lain sebagainya. Tentu saja ini akan berpengaruh pada kehidupan keluarga tersebut. Bagaimana tidak, para keluarga tersebut akan dihadapkan dengan pilihan. Pilihan pertama, jika tidak mencari makan, maka akan mati kelaparan. Kedua, jika keluar mencari makan (bekerja), maka akan mati.

Menurut pengamatan penulis melalui dunia maya (social media) mengenai perkembangan ekonomi yang ada, nampaknya memiliki dampak yang sangat besar. Banyak masayarakat mengeluh (Dengan menulis status di social media). Mulai dari pekerjaan, peribadahan, pendidikan, dan kesehatan.

Dalam pandangan sosiologi, setiap sesuatu apalagi masalah pasti memiliki dampak positif dan negatif. Paradigma sosiologi memberi pandangan dan pedoman mendasar pada siapa pun yang hendak mempelajari masyarakat dengan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana. Selain itu, juga mengetahui untuk dampak-dampak yang ditumbulkan dari fenomena sosial, khususnya keluarga. Begitu pula kalau kita hendak mempelajari perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat.

Namun, jika kita telusuri dari aspek perkonomian sosiologi keluarga, banyak keluarga yang tidak bekerja karena virus ini. Akhirnya, angka kemiskinan meningkat, dan memiliki potensi meningkatnya jumlah pengangguran. Terlebih lagi, dalam dunia pendidikan, kebijakan pemerintah agar para pelajar, mahasiswa belajar di rumah masing-masing dengan memanfaatkan kemajuan internet.

Tidak bisa dipungkiri, ada bantuan pemrintah untuk memberikan kuota gratis. Tapi, apakah pemerintah akan selalu dapat memberikan subsidi internet terus menerus. Pada akhirnya, kuota dan prasarana kuliah online menjadi tanggung jawab keluarga. Bagi keluarga yang memiliki bahan, pangan, dan pengahasilan yang cukup dan terjamin, tentu pandemi Covid-19 ini tidak akan mempengaruhi perekonomian keluarganya, justru ini menguntungkan bagi mereka, karena mereka memiliki kesempatan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Selain itu, keluarga juga menjadi disfungi. Seperti fungsi afeksi, artinya keluarga menjadi tempat memberikan cinta dan kasih, di dalam keluarga ada rasa kasih sayang dan cinta kasih antar sesama anggota keluarga. Fungsi Proteksi atau perlindungan, keluarga berfungsi memberikan perlindungan bagi anggota keluarganya, sehingga akan menimbulkan rasa aman dan tentram. Bagaimana tidak, selama mewabahnya virus corona ini, keluarga hanya sebagai pelarian. Artinya, karena tidak ada aktivitas atau aktivitas hanya bisa dikerjakan di rumah, sehingga rumah dan keluarga menjadi tempat paling aman, bukan lagi rasa aman.

Fungsi Pendidikan, keluarga mempunyai fungsi untuk mendidik anak-anak sebelum masuk sekolah secara formal dan masyarakat secara luas, terbentuk personalitinya, mengetahui, memahami norma-norma mengenai apa yang baik dan tidak layak dalam masyarakat. Dengan adanya Covid-19 ini, ketika orang tua sebagai tenaga didik yang ada di rumah tidak bisa lagi memberikan pendidikan, karena fokus pada pekerjaan.

Kemudian fungsi pemeliharaan, keluarga pada dasarnya berkewajiban untuk memelihara anggotanya yang sakit, menderita, dan tua. Sekarang sudah tidak bisa lagi, karena beberapa gejala yang dikhatirkan menjadi gejala virus, sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Jika dilihat dengar berlandaskan teori, Covid-19 ini melanggar Perspektif Postmodernis dalam keluarga, yaitu memiliki kemampuan untuk melakukan difusi, memodifikasi atau merubah aturan yang merupakan entitas (kesatuan) yang memiliki tujuan-tujuan pokok urbanity merupakan karakteristik keluarga postmodern. Batasan antara ruang publik (tempat kerja) dan ruang privat (rumah/keluarga) menjadi lebih terbuka dan fleksibel. Sedangkan sekarang, rumah menjadi tempat bekerja sekaligus.

Oleh karena itu, penulis berharap Covid-19 ini segera berlalu, sehingga keluarga berfungi sebagaimana mestinya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles