29.5 C
Mataram
Monday, February 26, 2024
spot_img

Mahasiswa dan Rekonstruksi Peradaban di Era Post Truth

Post-truth muncul dan berkembang ditunjang akses informasi yang masif, di mana masyarakat dapat memproduksi informasi sendiri dengan berbagai media. Orang dengan mudah mengambil data apapun dan membuat kesimpulan sendiri serta tafsir sesuai yang diinginkan. Media menjadi arena pertaruhan kepentingan pribadi dan kelompok.

Isu politik dan agama adalah komoditas informasi yang laris manis di era post-truth. Menggunakan senjata disinformasi dengan teknik merekayasa pesan atau gambar agar membungkam pikiran kritis masyarakat. Rekayasa informasi dilakukan dengan masif agar setiap orang bingung untuk menafsirkan. Ini mengakibatkan kecurigaan dan permusuhan di antara kelompok-kelompok masyarakat.

 

Istilah ”post-truth” atau ”pasca-kebenaran”, pemantiknya adalah dua peristiwa politik yang pada saat itu cukup menghebohkan dunia Barat, yaitu referendum Brexit di Inggris dan pemilihan presiden di Amerika Serikat. Brexit maupun pemilihan presiden AS yang memenangkan Donald Trump itu sama-sama dipenuhi kebohongan.

Realitas sosial manusia berkembang begitu pesat dengan segala dimensinya. Modernisasi menghela gerakannya dengan amat ligat, hampir menyentuh segala sektor kehidupan. Pada masa ini, geliat pemikiran yang disokong oleh kemajuan teknologi begitu melesat, merambah pola pikir jutaan manusia di dunia.

Seorang profesor di Universitas Notre Dame, USA, mengemukakan gagasan intelektualnya terkait gejolak kontroversi Islam awal. Dari jarak ribuan kilometer, di Indonesia, seseorang mampu melahirkan reaksi intelektual berupa pembacaan dan pemahaman gagasan tersebut. Semua berkat teknologi, di samping mampu memudahkan manusia menjangkau akses menuju kebaikan, juga mampu mengantarkan kepada kebatilan.

Termasuk yang mencuat belakangan ini, soal gerakan radikalisasi yang begitu meresahkan. Islamic State yang kian gencar menebar terornya, maraknya pengeboman, serta menjamurnya orang kehilangan dengan kedok hendak berjuang di jalan Tuhan mencerminkan bahwa masyarakat kita masih rapuh menelan asupan salah satu bias modernisasi.

Demikian sedikit gambaran bahwa seiring bergulirnya masa, manusia selalu ramai dengan lalu lalang perubahan dengan segala tetek bengek yang tersemat di dalamnya. Kematangan bernalar dan keampuhan berpikir amatlah dibutuhkan dalam hal ini. Tanpa kedua hal tersebut, kita bakal terseret derasnya arus menghanyutkan kita.

Mahasiswa, pemuda yang berkecimpung di dunia pendidikan, ialah sosok yang turut hadir meramaikan keberlangsungan perubahan ini. Bukan sekadar meramaikan pada tataran pemerhati saja, lebih jauh, mahasiswa ikut terlibat dalam aksi perubahan ini. Bahkan, mahasiswalah yang diimpikan bakal memimpin masyarakat menuju idealisme.

Bukan tanpa alasan, mengapa Ir. Soekarno mengatakan dengan lantang bahwa dunia mampu Ia guncang dengan 10 pemuda. Pemuda yang sehat jiwa dan raga biasanya selalu meletup gairah semangatnya. Ketika mendalami sesuatu, pemuda sering berjuang mati-matian demi mencapai tujuan, malang melintang menghancurkan lawan.

Kalau dahulu pemuda berjuang memberangus serangan penjajah, sekarang pemuda justru dihadapkan kepada hal yang lebih serius dari itu. Melawan penjajah adalah peperangan fisik, jejaknya mampu diendus oleh mata telanjang. Sedangkan, masa sekarang adalah peperangan ideologi yang wujudnya pun abstrak tak tergambarkan. Hanya mata dan hati jeli yang mampu melacak motif busuk wujud penjajahan dalam konteks ini dan mahasiswa adalah yang dimaksud dari pemuda pemberantas penjajah modern itu.

Merupakan kolaborasi yang brilian jika mahasiswa mampu bergabung dengan masyarakat dan melakukan konstruksi peradaban di dalamnya. Masyarakat butuh seseorang yang mampu dijadikan sebagai acuan dalam melangkah, mereka butuh referensi dalam bertindak menuju kehidupan yang mulia. Mahasiswa adalah jawaban dari semuanya.

Bukan sembarang mahasiswa yang layak diterjunkan di tengah khalayak. Dibutuhkan kemampuan mengatur masa, kepiawaian mengatasi problematika, serta keahlian dalam intelektual, agar mahasiswa mampu memakmurkan tatanan masyarakat yang ada.

Sebagai contoh, mahasiswa yang kompeten dalam bidang keagamaan bisa terjun mendistribusikan keilmuannya melalui pengadaan penyuluhan materi keagamaan untuk masayarakat. Tergabung di dalamnya, menggalakan soal bagaimana memahami doktrin keagamaan dengan efektif dan sesuai tuntunan. Melihat gejala dewasa ini, maka wacana deradikalisasi mungkin mampu menjadi tujuan utama pencerahan keagamaan masyarakat.

Mahasiswa yang terampil dalam bidang kedokteran bisa menggelontorkan potensinya lewat pengadaan pengobatan gratis dan sebagainya. Mahasiswa yang mahir soal ekonomi bisa menggandeng pihak koperasi desa, mengarahkan bagaimana keuntungan bisa melonjak, serta bagaimana lingkungan bisa diatasi, bagaimana agar perihal kemiskinan yang menjangkit dan sebagainya bisa diminimalisir.

Semua mahasiswa dengan berbagai kemahiran dalam bidang masing-masing dipersilakan mengalirkan ilmunya lewat berbagai kegiatan positif di masyarakat, kegiatan yang konsturktif dan mampu memiliki daya jual tinggi.

Dalam menapaki konstruksi sebuah daerah yang dituju memang tidak selalu berjalan mulus. Senantiasa hadir aral mengawani perjuangan. Biasanya, permasalahan hadir seperti penolakan oleh sebagian kecil masyarakat yang memang terlanjur larut dalam kultur keterbelakangannya dan merasa puas berkubang di dalamnya.

Problematika bisa berupa minimnya fasilitas daerah, cuaca yang menghambat perhelatan kegiatan, kekurangsadaran SDM yang bertugas soal urgensi pengembangan ini dan sebagainya. Kendati demikian, sambil dicarikan solusi, pencapaian yang gemilang diharapkan tercapai dengan sempurna.

Tatanan daerah yang efektif, baik materi ataupun nonmateri, moral masyarakat yang berbudi, pemahaman keagamaan yang bersih, tali silaturahmi yang erat antar warga, kerjasama yang tanpa perhitungan, aura kekompakan yang meruap dan sebagainya adalah representasi tujuan dari pembangunan daerah menuju iklim pengusung peradaban yang cerah dan mencerahkan.

Semua tatanan pembangunan yang cukup efektif dalam proses pemberian napas segar bagi setiap napas pembangunan dan kemanusiaan seharusnya harus berlandaskan kesadaran dan kolektivitas kehidupan yang yakin akan sebuah dorongan kebersamaan dalam koridor kesadaran. Artinya disini, semua bentuk iklim cerah tentang pembangunan dan kesadaran masyarakat harus ditindaklanjuti dengan metodos yang lebih kuat daripada konsep dalam setiap diksi yang saya lontarkan ini menjadi kontinum utama untuk mencapai sebuah kesadaran akan representasi diri sebagai seorang manusia yang berlabelkan masyarakat dan mahasiswa.

Problematika masyarakat dan kesadaran masyarakat menjadi tanggung jawab utama para kaula muda dengan artefak buatan selaku mahasiswa, peran utama mahasiswa bukan hanya pada tataran akademisi dan intelektualitas namun, di dalam diri seorang mahasiswa terdapat core utama yaitu sebagai jantung utama masyarakat yang akan membawa benih-benih kebermanfaatan dalam setiap napasnya sebagai seorang penggerak peradaban.

Roda penggerak peradaban yang player utamanya adalah mahasiswa, tentunya akan dapat memberikan masyarakat lega akan setiap tenaga dan kontribusi kebermanfaatan yang diberikan. Menurut hemat saya, semua tindakan dan konsep pemikiran para kaula muda menjadi jalan utama menuju pintu besar rekonstruksi peradaban. Modal moralitas dan sosial menjadi bomerang utama dalam landasan perjuangan atas asas kesadaran.

Tulisan ringkas ini sejatinya mengajak saudara-saudara semua yang berstatus dan berlabelkan sebagai mahasiswa agar ikut andil meramaikan pesta pembangunan masyarakat bukan hanya pembangunan dalam konteks kognitif saja akan tetapi bagaimana kemudian seorang yang sudah berlabelkan mahasiswa dapat memberikan tindakan praksis yang berlandaskan kesadaran dan cinta karena era saat ini sangat membutuhkan dua elemen tersebut sebab, geliat modernisasi di era Post truth yang terjadi di dunia ini butuh bimbingan yang memadai agar tidak ditempuh secara salah kaprah oleh masyarakat.

Media
Mediahttps://mediaunram.com
MEDIA merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Universitas Mataram yang bergerak di bidang jurnalistik dan penalaran.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles