24.5 C
Mataram
Thursday, June 13, 2024
spot_img

Mengabadikan Aib

Oleh : Arman

Takdir aib itu. Pertama, untuk dihindari dan kedua untuk disembunyikan. Di sembunyikan pun, jika aib itu sudah keterlaluan, ia akan memunculkan diri. Apalagi jika aib itu sudah keterlaluan, masih pula didokumentasikan. Karenanya aib jenis ketiga ini bukan hanya akan muncul di kelak kemudian, tetapi juga akan menjadi azab dan kegemparan.

Mari kita tengok takdir aib yang pertama itu, bahwa ia jenis perilaku yang harus dihindari. Tujuannya jelas, karena hidup manusia harus berujung pada martabat, sedang aib adalah pembengkok martabat paling nyata. Maka, hidup yang berujung pada aib adalah hidup yang tidak diperintahkan.

Tetapi ini adalah tahapan paling ideal dan itu berat bagi sebagian orang. Maka disediakanlah tahapan kedua yakni tahap rasional, tahapan ketika aib cukup disembunyikan. Boleh menyandang aib sepanjang ia disembunyikan.

Manusia adalah spesies paling rawan aib sekaligus paling pemalu di jagat ini, karenanya kepadanya bahkan alam sendiri menyediakan banyak dinding penghalang. Dinding paling tangguh dari itu semua bernama rahasia. Dinding rahasia itu berlapis-lapis. Semakin tinggi derajat rahasia, semakin tebal dan berlapis dinding-dindingnya.

Inilah dinding yang melindungi orang-orang berderajat mulia. Ia adalah pelindung dengan presisi tinggi. Dari pribadi jenis ini, yang sibuk dibicarakan hanyalah keluhuran dan prestasi-prestasi hidupnya. Kepada aibnya, orang tidak tega. Kenapa? Karena aib itu, jikapun ada, pasti jumlahnya tak seberapa. Dan yang tak seberapa itupun terdiri atas aib yang remeh-temeh saja. Apalagi makin luhur perilaku seseorang makin peka dalam menyusun daftar aibnya. Jangankan sampai berhutang atau makan tak bayar, makan terlalu kenyang saja, bicara terlalu keras, tertawa terlalu lebar, sudah menjadi aib bagi mereka.

Maka jelas kenapa ada aib yang “boleh” sepanjang mereka disembunyikan. Karena apa yang disebut “boleh” itu hanyalah menyangkut soal-soal sederhana, yang kebanyakan orang jamak melakukan dan ia adalah soal yang mudah dimaafkan.

Karenanya, jika yang disembunyikan itu bukan lagi aib yang jamak, tetapi sudah melebihi batas kejamakan, maka dinding-dinding pelindung itu akan melepas tanggungjawabnya.

Aib itu lalu akan mengembara serupa makhluk Frankenstein yang menanyakan siapa bapaknya. Ia akan mencari sampai ketemu walau harus ke ujung dunia. Celakanya pertemuan itu selalu berakhir di ruang dan waktu yang keliru, dan biasanya ditandai oleh dua keadaan: Pertama, aib itu menemukan sang induk tepat ketika prestasinya sedang menjulang, ketika kepadanya seluruh keberuntungan seperti sedang ditumpahkan. Kedua: tepat ketika keadaan sedang sebaliknya, yakni ketika sang induk sedang di akhir masa kejayaan. Tegasnya, sudah tinggal pensiun, malah masuk penjara.

Jadi ada jenis aib yang kehilangan proteksi karena kadarnya yang sudah kehilangan toleransi. Seberapapun besar ia dilindungi, cuma akan diberontaki. Maka bisa dibayangkan, jika ada aib yang sudah keterlaluan itu masih pula didokumentasikan. Ia akan segera menjadi tontonan umum dan tak ada perangkat apapun yang bisa mencegah publik untuk segera menggelar acara nonton bareng di mana-mana yang kegaduhannya akan melebihi Piala Dunia atau kebaya merah.

Tetapi inilah yang terjadi: mengabadikan aib itu, tampak makin meninggi dari hari ke hari. Makin banyak saja orang yang gatal merekam walau itu aib sendiri. Bahkan ada saja orang tampil mewah dengan percaya diri, walau jelas-jelas hidupnya dibiayai oleh korupsi.

Dan semoga kita bukan termasuk golongan para manusia yang mengabadikan aib.

Media
Mediahttps://mediaunram.com
MEDIA merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Universitas Mataram yang bergerak di bidang jurnalistik dan penalaran.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles