31.5 C
Mataram
Sunday, June 23, 2024
spot_img

Organisasi vs Magang: Organisasi Kampus Kalah dengan Magang?

Oleh: M. Rido Fajri

Apakah Organisasi mahasiswa mulai kehilangan eksistensi?

Sedang menjadi buah bibir dimana-mana, katanya organisasi kampus sudah kehilangan pamor dan tidak berguna lagi. Saingan terberat organisasi kampus saat ini adalah magang dan program-program exchange atau komunitas leadership yang lebih luas jangkauannya semacam program dari MBKM, tedX, Aiesec, dsbnya.

Akhir-akhir ini pengurus organisasi mahasiswa dihadapi oleh fenomena penurunan progres dan kehilangan personil inti ditambah dengan penurunan jumlah rekrutmen anggota baru. Puncak fenomena ini sangat terasa ketika program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek RI mulai tahun 2020 kemudian berhasil dilaksanakan secara offline pada tahun 2022 ini.

Program MBKM ini memberikan kesempaatan bagi mahasiswa/i untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karier masa depan. Dalam penerapannya mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk 1 (satu) semester (setara dengan 20 SKS) menempuh pembelajaran di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama; dan paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS menempuh pembelajaran pada program studi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda, pembelajaran pada program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar perguruan tingginya. Jadi, mahasiswa nantinya secara tidak langsung akan diajak untuk belajar caranya hidup di lingkungan masyarakat. Pada dasarnya kebijakan tersebut bertujuan untuk dapat mengenalkan adanya dunia kerja pada mahasiswa sejak dini. (Savima.com, 2021)

Namun, bertolak belakang dengan tujuan baiknya muncul masalah baru pada organisasi mahasiswa. Masalah yang timbul karena banyak mahasiswa pengurus organisasi yang mengikuti proram tersebut, yaitu mulai dari kekurangan anggota aktif, penurunan rekrutmen anggota baru, perombakan pengurus inti, tersendatnya program kerja sehingga tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan masalah organisasi lainnya. Kemudian, secara berkelanjutan berdampak pada ketidakmaksimalannya kontribusi, regenerasi, hingga kaderisasi dalam masing-masing organisasi. Sehingga kegiatan berjalan ala kadarnya dan tidak benar-benar mencerminkan tujuan akibat terlalu sibuk menjaga keutuhan internal.

Dahulu, ketika ditanya apa kegiatan yang superior bagi mahasiswa, jawabannya adalah organisasi, tetapi banyak dari mahasiswa sekarang justru berlomba-lomba untuk magang. Hal tersebut menjadikan eksistensi organisasi kian tergerus, terlebih di tengah pandemi yang menjadikan organisasi tidak dapat seutuhnya “terbang” sebebas dahulu.

Padahal, organisasi adalah tempat paling aman bagi mahasiswa untuk “berbuat kesalahan” dan belajar. Berbeda dengan magang, yang notabenenya sudah berbicara tentang perusahaan dan bisnis. Organisasi diibaratkan sebagai langkah pertama untuk mencari pengetahuan dan pengalaman sebelum memasuki dunia kerja, yang salah satunya adalah magang itu sendiri. Namun, realitasnya organisasi sering kali dianggap kurang berinovasi dan beradaptasi yang menjadikannya dianggap tidak relevan lagi bagi beberapa kalangan mahasiswa. Organisasi menjadi tempat pertama kali belajar memimpin, tentang dipercaya dan mempercayai orang lain, yang membuka pikiran serta pandangan baru untuk bisa beradaptasi.

Namun, banyak pula mahasiswa yang justru menganggap organisasi tidak lagi relevan untuk diikuti, terlebih di tengah implementasi program MBKM Magang. Padahal, relevan atau tidaknya, tergantung kultur organisasi yang dipilih dan pribadi mereka sendiri.

Atas banyaknya asumsi yang menjelaskan lebih unggul organisasi atau magang? Maka, mari coba kita bedah dengan studi perbandingan.

Jika kita menggunakan PoV mahasiswa yang ingin mendaftar sesuatu, ini adalah perbandingan benefit yang akan didapatkan di keduanya dilihat dari segi keuangan, pendalaman skill, dan relasi, antara lain:

  1. Segi keuangan
  2. Organisasi mahasiswa

Ngeluarin uang banyak, untuk:

  • Kas anggota tiap bulan
  • Beli PDH yang kadang tidak bisa dipakai lagi
  • Nombokin danusan bisa sampai ratusan ribu
  1. Magang: Justru kebanyakan dapat uang sebagai fee magang, kalaupun tidak biasanya ada uang makan
  2. Segi pendalaman skill
  3. Organisasi mahasiswa: Biasanya sih belajar publick speaking, people management tapi lebih sering ada masalah politis
  4. Magang: Sama-sama bisa mendapatkan pendalaman skill seperti organisasi kampus, tapi lingkupnya lebih lebar dan luas
  5. Segi Relasi
  6. Organisasi mahasiswa: Bisa dapat kenalan dari senior dan teman lintas jurusan/fakultas.
  7. Magang: Bisa dapat kenalan dari orang yang berpengalaman di bidang yang ingin kita telusuri karirnya dan teman-teman satu tim, mungkin bisa dari berbagai universitas.

Hmm jika kalau dibandingkan, sepertinya organisasi kampus jadi tidak terlihat semenarik itu ya?

Eits, tapi ini yang penting. Kita harus bisa membedakan tujuan dari keduanya.

  1. Organisasi mahasiswa bertujuan untuk Karena ini lembaga organisasi, tujuannya untuk memberi layanan sesuai tri dharma dan menyelesaikan masalah kemahasiswaan di kampus. Jadi, kita akan belajar bersosialisasi dan memulai komunikasi strategis tingkat dasar. Sangat komunal dan cocok untuk melatih social skills Dan yang terpenting dalam organisasi, kaderiasasi penjenjangan kepemimpinan didapatkan lebih leluasa. Oleh karena itu, skill organisasi akan mengakselerasikan upgreading karir dalam kompetisi magang.
  2. Magang bertujuan untuk Sesuai namanya, magang bertujuan untuk mempersiapkan karir kita. Jadi disini kamu akan memberikan skills yang kamu kuasai untuk kepentingan target perusahaan, dan belajar lebih lanjut bidang yang ingin kita tekuni. Maka, yang didapatkan saat magang akan sangat berbeda antar individu, menyesuaikan kebutuhan pengembangan karirnya.

Apa yang perlu dilakukan pemimpin dan jajaran pengurus organisasi agar gak kalah dari magang dan agenda eksternal kampus lainnya?

Perlu dipahami, organisasi kampus dan magang itu bukan saingan. Jadi keduanya bukan subtitusi yang bisa menggantikan satu sama lain. Harusnya, organisasi kampus gak merasa kalah dan bisa membacanya sebagai potensi untuk belajar dari tingginya antusiasme magang ini.

Justru, ini bisa menjadi peluang untuk pengurus organisasi kampus untuk:

  1. Melaksanakan program kerja berbasis Human Centered Design, jadi cari tahu dulu apa yang anggota dan penerima manfaatmu butuhkan. Buatlah asesmen (upaya mendapatkan data/informasi) dan banyak-banyak research supaya banyak refrensi. Jangan sampai cuma ngulang-ngulang program saja karena bisa jadi sudah tidak relevan.
  2. Membangun sistem kerja yang jelas, yang lebih meng-empower Jangan ada rapat-rapat telat sampai tengah malam, buat jobdesk/tupoksi rinci, beri anggota ruang berpendapat, dan pastinya, beri target yang jelas.
  3. Kolaborasi! Yap, kolaborasi ini bukan cuma dengan organisasi kampus sebelah, tapi juga dengan berbagai startup, corporate, agency. Bukan cuma dalam bentuk sponsorship, tapi juga bisa berpartner misal untuk menjadi pengisi acara, mengadakan acara berdua atau menjadi mentor.

Saat tiga hal ini dijalankan, ekosistem organisasi kampus akan bertumbuh. Organisasi kampus bisa menjadi ruang untuk para pengurus dan anggotanya belajar dan berkembang.

Tidak apa-apa pengurus organisasi juga magang di perusahaan A atau startup B, karena memang magang dan organisasi itu dua hal yang berbeda. Disinilah peran organisasi bisa menjadi tempat untuk anggotanya mengeksplor banyak hal di dalam kampus, sebelum mempersiapkan karirnya di luar kampus.

Dari studi banding yang penulis pernah ikuti dengan Universitas Andalas dan Institut Pertanian Bogor dengan hasil bahwa kedua universitas tersebut mengalami permasalahan yang sama dengan yang kita rasakan saat ini. Namun, kedua universitas ini telah berhasil mengkolaborasikan irisan kesamaan antara organisasi mahasiswa, akademik, dan program MBKM yang notabenenya magang menjadi sebuah sistem yang terpadu. Program MBKM yang berhubungan dengan akademik dapat dijadikan satu kesatuan penilaian SKS. Maksudnya adalah mata kuliah yang dapat diimplementasi dikegiatan MBKM akan masuk dalam sistem penilaian perkuliahan dengan terhitungnya SKS kuliah. Artinya MBKMnya dapat kuliah juga dapat. Kemudian kegiatan MBKM dan sistem perhitungan SKS kuliah ini diimplementasikan dalam program-program organisasi kemahasiswaan yang relevan dengan beberapa mata kuliah.

Contohnya, kegitan pengabdian dalam organisasi mahasiswa yang relevan dengan suatu mata kuliah seharusnya dapat terhitung SKSnya karena proses kompleksitas pembelajaran yang didapat selama pengabdian menjadi implementasi tridhrama perguruan tinggi yakni pengabdian. Contoh lainnya yaitu program magang yang disesuaikan dengan basic organisasi, misal BEM memiliki program magang di Kantor Gubernur atau DPM memiliki program magang di Kantor DPRD. Kemudian, mata kuliah masing-masing mahasiswa yang menjadi peserta/panitia dalam program itu seharunya dapat terhitung SKS kuliahnya. Sehingga pada akhirnya tidak ada kegiatan mahasiswa yang sia-sia dan tidak ada perspektif negatif yang ditimbulkan oleh satu sistem (misalnya MBKM) dengan sistem yang lain (Organisasi Mahasiswa). Kemudian sistem irisan ini akan membuat mahasiswa lebih mudah dalam mengefesien-efektifkan waktu, tenaga, pikiran, dan materialnya.

Tapi biasanya yang udah kenal magang dan dunia luar kampus tuh gak tertarik masuk organisasi kampus lagi. Akhirnya yang minat ke organisasi kampus justru turun terus.

Disitu poinnya. Pemimpin dan pengurus organisasi perlu berubah dan membuat organisasi kampus menjadi tempat yang masih menarik untuk dipilih. Sadari bahwa:

  1. Manusia itu take and give, dan memikirkan apa manfaatnya sesuatu itu untuk dirinya
  2. Ingat bahwa tujuan tiap orang tidak sama. Pintar pintarlah memilih tim yang setujuan, mau belajar dan berkembang bersamamu
  3. Feedback tidak hanya dalam bentuk materi atau skill, bisa jadi kebermanfaatan ataupun pertemanan yang sehat juga menjadi daya tawar organisasi.

Oh iya, kita bisa juga mengajak teman-teman yang magang untuk bergabung menempati post strategis di organisasi ataupun sharing menjadi konsultan untuk mengimplementasikan sistem kerja, mengadopsi tools-tools teamwork, dan belajar tentang adaptif dari hasil magang. Akan mengasyikkan jika organisasi kampus berani berubah dan menghilangkan stigma kuno, kan?!

Semoga pandangan saya ini bisa bermanfaat bagi pembacanya. Sekali lagi ini hanya opini dari penulis atas dasar keresahan yang dialami. Sekian dan terimakasih sudah membaca.

 

Penulis merupakan Mahasiswa Agribisnis, Fakultas Pertanian 2019

Refrensi: Google dan Instagram

Media
Mediahttps://mediaunram.com
MEDIA merupakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) Universitas Mataram yang bergerak di bidang jurnalistik dan penalaran.

Related Articles

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

20,000FansLike
1,930FollowersFollow
35,000FollowersFollow

Latest Articles