Mataram, MEDIA – Universitas Mataram (Unram) dipercaya menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) ke-3 Keluarga Mahasiswa Teknik Indonesia (KMTI) yang akan berlangsung pada 23 hingga 27 Juni 2025. Perhelatan berskala nasional ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa teknik se-Indonesia untuk berkumpul, bertukar gagasan, dan merumuskan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Sebanyak 210 perguruan tinggi teknik dari seluruh Indonesia dijadwalkan ambil bagian dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka menegaskan eksistensi KMTI sebagai wadah strategis yang mampu menyatukan suara dan potensi mahasiswa teknik dari berbagai daerah.
Koordinator Pusat KMTI, Lalu Wahyu Alam, menjelaskan bahwa KMTI hadir sebagai forum pemersatu mahasiswa teknik dan menjadi tempat untuk merancang inovasi serta pemikiran yang relevan dengan kebutuhan bangsa.
“Keluarga Mahasiswa Teknik Indonesia bukan hanya organisasi, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk mendorong kemajuan melalui sinergi antar mahasiswa teknik. Tujuan utama kami adalah menyatukan semangat dan pikiran dari seluruh kampus di Indonesia demi menciptakan inovasi yang berguna bagi masyarakat,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan Munas KMTI ke-3 akan mencakup Seminar Nasional bertema teknologi dan pembangunan berkelanjutan, forum musyawarah organisasi, serta field trip ke berbagai destinasi budaya dan edukatif di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Acara ini diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghasilkan gagasan-gagasan aplikatif dan rekomendasi kebijakan.
Ketua Panitia Pelaksana, Ihlasul Amal, mengungkapkan bahwa panitia telah melakukan berbagai persiapan matang untuk memastikan kelancaran kegiatan. Pihaknya juga menjalin sinergi dengan pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan mitra strategis lainnya.
“Kami berkomitmen menjadikan Munas ini sebagai ajang yang tidak hanya sukses secara teknis, tapi juga memiliki makna besar dalam mendorong peran mahasiswa teknik sebagai aktor perubahan sosial dan pembangunan,” ujarnya.
Munas ini sekaligus menjadi ruang aktualisasi bagi mahasiswa teknik untuk menyampaikan kritik konstruktif, ide inovatif, serta solusi nyata terhadap berbagai tantangan nasional, khususnya di sektor teknologi, energi, dan infrastruktur. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, mahasiswa teknik dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk turut mengawal pengelolaannya secara adil dan berkelanjutan. “Sudah saatnya mahasiswa teknik berdiri di garis depan pembangunan. Teknologi bukan hanya alat, tapi juga jalan untuk mencapai kesejahteraan jika digunakan dengan bijak,” tambah Ihlasul.
Lebih dari itu, Munas ini juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan emosional dan intelektual antar mahasiswa teknik dari berbagai latar belakang budaya dan wilayah. Melalui dialog dan kolaborasi, diharapkan terbentuk jaringan nasional yang solid dan berkelanjutan dalam mengawal citacita kemajuan Indonesia.
Unram, MEDIA – Keterlambatan pelantikan organisasi mahasiswa (Ormawa) di lingkungan Universitas Mataram (Unram) menuai kekecewaan dari berbagai pihak, terutama para pengurus UKM dan BEM. Hingga pertengahan Mei 2025, pelantikan pengurus UKM tingkat universitas belum juga dilaksanakan, sehingga memicu respons keras dari mahasiswa.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Sujita, S.T., M.T., mengatakan bahwa pelantikan belum dapat dilaksanakan karena Surat Keputusan (SK) untuk BEM dan DPM belum ditandatangani oleh Rektor. “Sebenarnya sudah oke, tapi mungkin belum jadi saja,” ujar WR III.
Ketua BEM Unram, Lalu Nazir Huda, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil mediasi dengan Wakil Rektor III, alasan utama keterlambatan pelantikan adalah sikap Rektor yang enggan menandatangani SK selama masih ada konflik internal mahasiswa, terutama yang berkaitan dengan Pemira.
“Bukan belum berani, lebih ke nggak mau kalau masih ada konflik. Kemarin kita sudah mediasi dengan WR III,” jelas Nazir. Ia juga menambahkan bahwa ada pertimbangan jangka panjang dari rektor yang turut memengaruhi keputusan tersebut.
Di sisi lain, keterlambatan pelantikan ini turut berdampak pada kinerja organisasi mahasiswa. Ketua UKM Grahapala Rinjani, Wahyu Habibullah, menyatakan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menahan-nahan pelantikan, karena seluruh berkas kepengurusan telah diserahkan sejak Januari.
“Program kerja kami sudah cukup padat dan disusun dari jauh hari. Tapi sekarang semua terhambat karena tidak ada anggaran awal yang bisa digunakan untuk bergerak,” ujarnya.
Mahasiswa yang akrab disapa Wardan itu juga menilai adanya kontradiksi dalam sikap kampus. Di satu sisi, mahasiswa didorong untuk aktif berkegiatan, bahkan dengan skala minimal nasional. Namun di sisi lain, hak organisasi terkait dana justru dibatasi.
“Kita dituntut menunaikan kewajiban, berkontribusi pada IKU (Indikator Kinerja Utama), tapi hak kita tidak dipenuhi. Ini yang membuat kegiatan Ormawa terkesan mendadak dan asal-asalan,” tegasnya.
Perkenalkan, aku Zahra. Mahasiswa semester 6 yang sedang merasa lelah. Mungkin kata “lelah” terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku tidak hanya letih karena tugas-tugas kuliah atau beban kuliah yang tak ada habisnya, tapi juga karena tekanan dari dalam diri sendiri yang makin lama makin menumpuk—semacam krisis kecil yang kadang membuatku bertanya, “Apakah semua ini benar-benar pantas aku perjuangkan?”
Hari-hariku dipenuhi ritme yang nyaris sama: bangun pagi, kuliah, tugas, rapat organisasi, begadang, lalu mengulang lagi keesokan harinya. Semuanya seperti berjalan otomatis. Aku menjalaninya, tapi tidak benar-benar hadir di dalamnya. Sampai akhirnya, di antara pagi yang tergesa dan malam yang membisu, aku bertemu mereka. Bukan di kelas, bukan pula dalam lingkup satu angkatan.
Pertemuan pertama itu terjadi secara kebetulan. Aku sedang duduk di pojok kedai kopi kecil di dekat fakultas, tempat aku biasa melarikan diri dari keramaian kampus. Saat itu aku hanya ingin sedikit tenang, mungkin menyesap kopi hangat sambil menyelesaikan satu tugas yang terasa menyiksa. Di sana, duduk di meja sebelah, ada mereka—tertawa, berdiskusi, memperdebatkan hal-hal remeh tapi menyenangkan. Salah satu dari mereka, Rifky, tanpa ragu menyapaku duluan. “Sendirian, Kak? Mau gabung aja sekalian biar nggak tegang,” katanya sambil tersenyum ramah. Entah mengapa, ajakan itu terasa tulus dan hangat. Aku mengangguk pelan, dan sejak saat itu, hidupku berubah sedikit demi sedikit. Plot twist nya Rifky adalah pamanku dan teman satu angkatanku pas SMP haha.
Ada juga momen lain, ketika aku melangkah masuk ke gedung pusat kegiatan mahasiswa. Sebenarnya, aku hanya ingin mencari tempat duduk nyaman untuk mengisi waktu kosong di antara jadwal kuliah. Di sana, aku bertemu Della dan Ayu di parkiran gedung PKM . Mereka mengajakku ke kantin FKIP, meski aku bukan siapa-siapa di sana. Tapi itu awal dari percakapan yang berlanjut menjadi kebersamaan.
Arman dan Ikbal aku temui di kemudian hari, dalam ruang diskusi kecil tentang isu sosial yang diselenggarakan secara tidak resmi. Kami berbeda latar belakang, berbeda angkatan, bahkan berbeda jurusan. Tapi justru dari perbedaan itulah percakapan kami menjadi kaya. Mereka tidak hanya membuka ruang untuk aku bercerita, tapi juga memberi perspektif baru yang menyadarkanku: aku tidak sendirian, dan aku tidak harus menyelesaikan semua ini sendirian.
Mereka datang di waktu yang tidak terduga. Bukan sebagai teman sekelas yang setiap hari aku temui, tapi sebagai teman hidup yang kutemui di luar kelas—di sela-sela hidup, di sela-sela keputusasaan. Kami tertawa bersama di Meja hijau bundar yang dingin, berbagi kopi, saling bertukar keluh kesah tanpa takut dihakimi.
Rifky selalu datang dengan cerita lucu dan komentar yang menghibur. Della dan Ayu punya aura yang menenangkan, seperti dua kakak perempuan yang siap mendengar tanpa menghakimi. Arman penuh semangat dan energi, seperti baterai hidup yang bisa mengisi semangat siapa pun di sekitarnya. Dan Ikbal… dia tidak banyak bicara, tapi ketika dia bicara, kamu tahu itu datang dari hati yang dalam.
Kini aku sadar, bahwa yang membuat semester ini tetap bisa aku jalani bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tidak sendirian. Aku punya mereka—orang-orang yang tidak datang karena satu angkatan, tapi karena satu frekuensi jiwa.
Dan untuk itu, aku bersyukur. Di antara gelisah dan lelah yang nyaris membuatku menyerah, aku bertemu mereka. Di kedai kopi yang hangat, di lorong gedung yang ramai, di ruang diskusi yang kecil tapi penuh makna. Mereka adalah bagian dari cerita perkuliahanku yang paling manusiawi—bukan tentang nilai, bukan tentang gelar, tapi tentang pertemuan dan rasa terhubung.
Terima kasih telah hadir di hidupku, di waktu yang paling aku butuhkan, meski aku tak pernah meminta.
Unram, MEDIA — Refleksi terhadap kondisi pendidikan dan ketenagakerjaan menjadi sorotan dalam acara “Refleksi May Day & Hardiknas: Liberalisasi dan Komersialisasi Dunia Pendidikan dan Ketenagakerjaan” yang digelar pada 7 Mei 2025 di Taman Sekret UKM Unram.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh UKPKM Media Unram, UKM HMP2K, dan WMPM Unram, menghadirkan panggung ekspresi serta diskusi publik. Panggung ekspresi diisi dengan pembacaan puisi yang menggambarkan pergulatan pekerja dan mahasiswa dalam menghadapi sistem yang semakin terkomersialisasi, memberikan ruang bagi peserta untuk menuangkan refleksi mereka melalui seni.
Sementara itu, sesi dialog publik menghadirkan I Putu Rika Juliartawan dan Ahmad Junaidi sebagai pemateri utama, yang membahas secara mendalam isu liberalisasi pendidikan dan ketenagakerjaan. Diskusi menyoroti alasan demonstrasi tahunan pada 1 Mei serta dampak kebijakan yang memperburuk akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak.
Melalui diskusi ini, peserta diajak untuk merenungi pentingnya perjuangan kolektif dalam mendorong perubahan sosial. Seperti yang dikatakan Tan Malaka, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” Kutipan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter untuk melawan ketidakadilan sistemik.
Salah satu pesan utama dari dialog publik ini adalah bahwa perubahan tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama. Dengan menghadirkan perspektif akademik dan aktivisme, acara ini memberikan ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk merefleksikan peran mereka dalam membangun sistem pendidikan dan ketenagakerjaan yang lebih berkeadilan.
Mataram, MEDIA – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, puluhan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB menggelar demonstrasi di depan gedung DPRD NTB, pada Jumat (2/5).
Aksi ini mengangkat grand issue “Bersatulah Mahasiswa dan Rakyat Rebut Demokrasi Sejati, Wujudkan Kepastian Kerja dan Transparansi Sektor Pendidikan yang Mengabdi Kepada Rakyat Lawan Fasisme!”
Aksi dimulai dari pukul 10.30 Wita, dengan rangkaian orasi dan pembakaran banner. Dalam orasinya, salah satu orator menyampaikan keresahan terhadap kondisi pendidikan saat ini yang dinilai semakin jauh dari keadilan.
“Apakah pendidikan hanya diciptakan untuk menjadi buruh murah? Pendidikan adalah pondasi bangsa, dan kami tidak akan diam ketika pondasi itu rusak!” Ungkap salah satu orator.
Masa aksi membawa sepuluh tuntutan utama, di antaranya:
1. Wujudkan Sistem Pendidikan Nasional yang Gratis, Imiah, Demokratis, dan Berbasis Kerakyatan, serta Merata di Seluruh Wilayah Indonesia, terkhusus Daerah Tertinggal, Terluar, Terbelakang, untuk klas buruh, klas tani, dan rakyat.
2. Evaluasi Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025 tentang Kebijakan Efisiensi APBN yang berdampak pada pemotongan dana pendidikan di kampus dan berpotensi menurunkan kualitas layanan serta akses pendidikan tinggi, CABUT PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS!
3. Segerakan pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan hukum terhadap buruh!
4.Tolak inisiatif rancangan Sudent Loan, Tolak dan Hentikan pembahasan RUU Sisdiknas yang tidak melibakan partisipasi publik yang bermakna!
5. Jalankan program jangka panjang reformasi agraria sejati sebagai dasar dalam pembanguhan industri nasional yang mandiri dan berdaulat!
6. Desak Pemerintah Pusat membuka ruang demokrasi atas penanganan Pelecehan dan Kekerasan Seksual melalui dukungan secara politis dan anggaran kepada Satgas PPKS, serta Birokrasi Kampus aktif menyatakan sikap secara kelembagaan dalam Mewujudkan Ruang Aman di Lingkungan Perguruan Tinggi.
7. Hentikan segala bentuk perampasan tanah oleh PT ITDC di Kuta Mandalika dan tuntaskan kasus penguasaan ilegal mafia tanah di Pondok Perasi Ampenan sebagai bentuk penegakan keadilan dan melawan kriminalisasi agraria!
8. Cabut Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang merugikan buruh, melemahkan peran UMKM, dan melegitimasi kepentingan investor besar!
9.Menegaskan penerapan Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan mengenai permohonan dispensasi kawin agar tidak disalahgunakan, khususnya untuk melegitimasi pernikahan antara korban kekerasan seksual dengan pelaku dan ketimpangan hukum adat. Evaluasi dan penyelidikan atas realisasi Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pencegahan Perkawinan Anak, mengingat Provinsi Nusa Tenggara Barat tercatat sebagai provinsi dengan angka perkawinan anak perempuan tertinggi 2021-2023.
10. Menuntut transparansi dalam pengelolaan sektor pendidikan agama dan konsistensi perubahan kurikulum yang melanggengkan kebudayaan feodal!
Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Massa aksi menyatakan bahwa perjuangan ini akan terus berlanjut sampai pendidikan benar-benar menjadi hak rakyat.
Sampai berita ini diterbitkan Ketua DPRD belum berani menerima masa aksi dan tuntutannya.
Mataram, MEDIA — Sejumlah Mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Kamisan Mataram pada hari Kamis (1/5) menggelar mimbar bebas di simpang Bank Indonesia sebagai bentuk untuk memperingati Hari Buruh dan juga momentum menyambut Hari Pendidikan Nasional.
Aksi ini diwarnai dengan adanya orasi, pembacaan puisi, hingga penaburan bunga mawar secara simbolis sebagai makna dari korban pelanggaran HAM yang masih mendapatkan janji saja tanpa mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya.
Lalu Nazir Huda selaku Kordinator Umum dalam aksi ini mengungkapkan jika aksi mimbar yang digelar hari ini bertujuan untuk menyampaikan perlawanan terhadap pembungkaman suara buruh di berbagai wilayah. Ia juga sempat menyinggung jika kegiatan yang dilaksanakan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Presiden Prabowo sebagai peringatan Hari Buruh merupakan pengalihan perhatian publik.
“Pihak Presiden Prabowo mengadakan konser di GBK sore ini. Bagi kami, itu adalah upaya pengalihan yang harus kami respon dengan perlawanan melalui aksi kamisan yang kami selenggarakan hari ini,” ungkapnya.
Sebagai penutup, melalui terselenggaranya aksi ia menyerukan kepada mahasiswa untuk tidak diam dalam menyuarakan perlawanan dan segera merespon isu-isu yang ada di NTB maupun isu-isu nasional.
Unram, MEDIA – Aksi pencurian kembali mencoreng keamanan fasilitas kampus. Insiden ini menimpa seorang mahasiswa Universitas Mataram (Unram) saat menjalankan ibadah Salat Asar di Masjid Babul Hikmah Unram, pada kamis (1/5), sekitar pukul 15.50 WITA.
Aksi tersebut terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di masjid. Dalam rekaman, pelaku yang mengenakan kaos hitam, celana pendek, masker, dan membawa kantong kresek terlihat memasuki masjid. Ia tampak memantau situasi sebelum mengambil handphone korban yang sedang diisi daya. Setelahnya, pelaku keluar dan bergabung dengan seorang rekan yang menunggu di area parkiran.
Barang yang diambil berupa handphone Infinix Note 40 berwarna hitam.
“Saya cukup sedih dan shock karena ini pertama kalinya saya kecolongan, apalagi di masjid yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman. Tapi ini sudah terjadi, jadi saya hanya bisa bersabar,” ungkap korban yang merupakan mahasiswa D3 perpajakan.
Hingga saat ini, identitas pelaku masih belum diketahui. Pihak keamanan kampus tengah berupaya mengungkap pelaku berdasarkan rekaman CCTV. Kepada siapa pun yang memiliki informasi terkait pelaku, diharapkan dapat segera melaporkannya kepada pihak keamanan kampus untuk membantu proses penyelidikan lebih lanjut.
Kejadian ini sekali lagi menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan, bahkan di tempat ibadah. Pihak keamanan kampus diharapkan untuk mengambil tindakan tegas guna mencegah insiden serupa di masa mendatang. Peristiwa ini turut mempertanyakan efektivitas sistem pengamanan di lingkungan kampus.
Seperempat dari abad ini kita sudah sangat akrab membahas tentang masalah lingkungan hidup, berbicara tentang efek ruma kaca, sampah rumah tangga, limbah industri, pemanasan global hingga deforesrasi yang terjadi hampir di berbagai seluruh penjuru bumi. Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan berhubungan timbal balik, sebuah komponen sistem yang sangat kompleks dan merupakan kesatuan ruang antara makhluk hidup dan abiotik lainnya. Tentu hal ini menjadi tantangan besar dan menjadi pekerjaan rumah yang sangat panjang bagi kita sebagai manusia itu sendiri. Kita sulit berlaku adil terhadap kehidupan terutama dengan lingkungan alam kita sendiri. Secara harfiah manusia sudah ada dan terbentuk dengan alaminya menjadi seorang Antroposentrisme yaitu paham yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta, dan hanya manusia yang memiliki nilai intrinsik tersebut. Manusia menganggap seluruh makhluk hidup lainnya hanya sebagai instrumental, dengan kata lain manusia memandang makhluk hidup lainnya karena fungsi bukan karena perannya dalam lingkungan yang kemampuannya dapat melayani manusia. Antroposentrisme diduga kuat berakar pada ajaran agama-agama Monotheis (paham yang meyakini bahwa hanya ada satu tuhan) termasuk Islam sendiri yang dituduh mengembangkan ajaran tersebut. Akar permasalahan krisis lingkungan dan alam di senyalir berawal dari filsafat Antroposentrisme dalam jiwa-jiwa manusia di bumi ini. Dari Arnold Joseph Toynbee sebagai mana dikutip oleh Martin Harun dalam pengantar buku AgamaRamahLingkungan, menegaskan bahwa agama-agama monetheis telah menghilangkan rasa hormat terhadap alam yang lahi. Sehingga tak ada yang mampu menahan ketamakan manusia.
Menelusuri Jejak Antroposentrisme dari filsafat barat ke etika islam
Berangkat dari tuduhan-tuduhan di atas, maka timbul beberapa pertanyaan yang cukup layak untuk dikaji dan dijawab dalam tulisan ini. Apakah benar islam mengajarkan antroposentrisme? Bagaimana konsep ekologi yang di tawarkan dalam islam? Dan bagaimana pandangan islam tentang hubungan manusia dengan alam dan lingkungan hidup? Apakah kita sadar dan paham terhadap prinsip ekologi yang di tawarkan dalam agama Islam? Dalam sejarahnya filsafat Antroposentrisme berawal dari filsafat pelepasan manusia dari kungkungan tuhan. Pada abad pertengahan tepatnya, alam pikiran dunia barat dipenuhi dengan pikiran mitologis. Yakni berdasarkan pada mitologi Yunani. Pada saat itu barat benar-benar terkungkung di dalam paham keagamaan bahwa seolah-olah tuhan itu membelenggu manusia. Muncullah pandangan antroposentrisme sebagai pendobrak pandangan keagamaan mitologi secara revolusioner. Pandangan antroposentrisme atau juga lazim dikenal dengan humanisme beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada tuhan, melainkan manusia. Manusialah penguasa realitas, yang menentukan nasibnya sendiri dan kebenaran. Antroposentrisme sejatinya hadir dengan datangnya rasionalisme yang tidak lagi percaya bahwa hukum alam bersifat mutlak. Antroposentrisme menjadi sebuah filosofi terkait dengan manusia yang berasal dari tradisi pencerahan Eropa. Bisa dikatakan bahwa antroposentrisme, merupakan anak kandung dari ateisme. Antroposentrisme dapat diklasifikasikan sebagai tahapan dari musim semi ateisme, yang mana letaknya ini berada pada satu tahap di bawah ateisme. Kemudian, isme di sini sama-sama menafikan Tuhan, hal terburuknya ialah ketika antroposentrisme menguat dan menjadi sangat ekstrem, maka kemungkinan terburuknya, ia akan berubah dan mengarah pada ateisme. Menurut Resmussen-sebagaimana dikutip oleh mary evelyn dan john A. Grim bahwa akar dari segala permasalahan lingkungan diduga berawal dari filsafat antroposentrisme.
Antara Keistimewaan Manusia dan Tanggung Jawab Ekologis
Terdapat ayat-ayat al-Quran yang di sinyalir mengandung nilai dan paham antroposentrisme. Pertama adalah konsep manusia sebagai makhluk yang paling Istimewa terdapat dalam Ayat keempat surah At-Tin berbunyi, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Ada juga terdapat dalam surat al-isra ayat 70 berbunyi: “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk lain yang telah kami ciptakan” ayat serupa terdapat pula pada ayat-ayat lainnya seperti surat Al-Infitar ayat 7-8, Surat At-tagabun ayat 3, surat Al-Nahl ayat 78, dan Surat Al-Rum ayat 7. Kedua, ayat-ayat yang menggambarkan manusia sebagai makhluk berakal terdapat dalam surat Al-Baqarah Ayat 75 yang berbunyi “Maka, apakah kamu (muslimin) sangat mengharapkan mereka agar percaya kepadamu, sedangkan segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui (nya)?” dan masih banyak ayat lainnya yang berbicara bahwa manusia makhluk berakal. Di antaranya terdapat dalam QS. Al-Anfal :21, QS Al-Hajj: 46, QS. AL-Ra’d :2, QS. Hud: 123. Dengan demikian, banyak yang beranggapan bahwa makhluk lainnya lebih rendah dari manusia karena tidak berakal. Ketiga yaitu, manusia Digambarkan sebagai makhluk paling kuasa atas sumber daya alam dan lingkungan sebab, alam semesta ini di ciptakan hanya untuk semesta hal tersebut terdapat pada ayat surat al-Baqarah: 22,29., al-jatsiyah: 13, dan di surat Luqman:20. Keempat adalah ayat-ayat tentang kedudukan manusia sebagaimana manifestasi wakil Allah di bumi. Terdapat dalam surat al-Baqarah:30, surat al-an’nam:165 dan QS. Shad:26. Keempat dasar keagamaan ini kemudian melebur menjadi stu dalam bingkai teologi lingkungan yang terkesan antroposentris. Gejala-gejala tersebut jelas Nampak terlihat Ketika dijumpai dalam kehidupan nyata akan perilaku masyarakat yang tidak mencerminkan perilaku ekologis. Keempat prinsip tersebut akan di bedah melalui pendekatan tanasub al-ayat yaitu ilmu Al-Qur’an yang membahas persesuaian atau hubungan antara satu ayat dengan ayat lain, baik yang berada di depan atau di belakangnya.
Harapannya cara penafsirannya atomistic (pendekatan atau studi yang berfokus pada analisis sistem kompleks dengan memperhitungkan komponen-komponen terkecil penyusunnya, yaitu atom). Dapat dihindari agar ditemukan maqasid (tujuan-tujuan syariat dan rahasia-rahasia yang dimaksudkan oleh Allah dalam setiap hukum dari keseluruhan hukum-Nya) tentang pesan-pesan ekologis. Terkait keistimewaan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna konteks dalam ayat-ayat di atas hanya dipahami sebatas kesempurnaan fisik dan jaminan kesempurnaan manusia terwujud Ketika dimensi spiritual dan amaliahnya terpenuhi sebagaimana di jelaskan dalam tafsir al-Qurthubi seorang ulama, ahli hadis dan ahli tafsir Al-Qur’an. Ia merupakan seorang pemikir dalam Mazhab Maliki yang menghasilkan sebuah kitab tafsir Al-Qur’an yang dikenal sebagai Tafsir Al-Qurthubi. Dengan demikian maka dimensi non-fiksi justru lebih penting. yaitu aspek keimanan (shaleh secara individual) dan aspek amal shalih (secara sosial). Sebagaimana dinyatakan dalam surat al-nahl: ayat 97. Ketika Ibnu Kasir menafsirkan kalimat tersebut dan terdapat tiga variable dalam ayat tersebut terkait dengan kehidupan yang berkualitas yaitu: berbuat baik, religiusitas dan kehidupan yang berkualitas. Ketiga variable tersebut merupakan mata rantai yang tidak dapat di pisahkan satu sama lain. Al-Qattan memaknai amal shalih yaitu amal baik termasuk urusan-urusan kemasyarakatan dan lingkungan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesempurnaan fisik manusia merujuk pada kesempurnaan amal shaleh. Dalam hubungan dengan lingkungan alam. Kesempurnaan manusia juga tidak menjadi variable dominan al-Qur’an. Manusia sejatinya hanya bagian kecil dari lingkungan alam ini. Keterbatasan kesempurnaan manusia di tegaskan dalam surat al-isra ayat 37-38, dan surat al-Alaq 6-7. Dua ayat tersebut mengisyaratkan kepada kita tentang keterbatasan dan kekurangsempurnaan manusia terhadap alam ini. Dan, terkadang manusia sering kali melapaui batasnya dalam mengelola alam. al-qhurtubi dalam tafsirannya jelas menyatakan posisi kelemahan manusia di hadapan alam. Bumi dan gunung adalah bagian dari ekosistem yang tidak boleh dieksploitasi sesuai kemauan dan kesenangan manusia. Sebab, dieksplorasi sekuat apapun, manusia tetap tidak akan mampu menaklukkan alam itu sendiri. terkait dengan ayat-ayat yang mengedepankan keistimewaan akal manusia. Ayat-ayat di atas juga dituduh sebagai basis antroposentrisme dalam Islam.
Benar bahwa akal adalah anugerah luar biasa yang membedakannya dengan makhluk lain. Dengan akal manusia diharapkan mampu mengelola alam dan lingkungan dengan baik. Karena sejatinya penciptaan manusia bermotif pemakmur atau pembangun bumi dan bukan untuk sebaliknya, merusak bumi ini. Hal ini ditegaskan Allah dalam surat al-Hud ayat 61, dalam hal ini Ibnu Kasir menafsirkan ayat tersebut dengan pemahaman dan maknanya bahwa manusia di mandatkan untuk melakukan Pembangunan dan mengelola bumi. Dalam hal ini, menurut Harun Nasution. Akal manusia adalah pelengkap wahyu dan panca Indera bagi manusia dalam memahami alam itu sendiri. lebih dari itu, al-Qur’an sendiri tidak menafikan peran pengamatan dan penalaran akal dalam memahami alam ini. Namun demikian, dalam banyak variannya al-Qur’an juga mencela manusia ketika tidak mampu menggunakan akalnya dengan baik. Penggunaan akal dengan baik dalam konteks pemeliharaan lingkungan dan alam ini adalah mengetahui yang baik dan buruk dalam mengelola alam ini. Namun jika akal ini tidak digunakan sebagaimana mestinya maka posisi manusia sama bahkan lebih rendah (hina) dari makhluk yang bernama binatang. Al-Qur’an juga banyak menyuruh kerja akal untuk memahami kerusakan lingkungan dan alam. dalam konteks ini refleksi akal sangat ditekankan agar pembangunan di bumi ini berjalan secara berkelanjutan.hal tersebut dapat dilihat dalam surat al-Rumi ayat 9 dan surat al-Jasyiah ayat 13. pada kenyataannya manusia meruapakan makhluk lingkungan. Manusia membutuhkan lingkungan (spesies lain) dan sebaliknya, lingkungan membutuhkan manusia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sejatinya Islam adalah agama yang sangat peduli dengan persoalan pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.
Manusia sebagai sesama ciptaan Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jaringan besar yang bersifat kompleks dari sistem ekologi alam. Sebagaimana ditegaskan dalam surat al-Ra’du ayat 4. ayat ini ditafsiri oleh Ibnu Katsir dengan ungkapan bahasa yang lebih lugas, ayat tersebut dapat dipahami dan dikatakan bahwa: “Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem sebagai penyangga kehidupan”. Dengan demikian jelas manusia sebagai khalifah bukanlah penguasa bumi, melainkan penerus yang secara fungsional untuk memelihara dan memakmurkan bumi ini. Lebih lanjut dijelaskan kekhalifahan berarti manusia menjadi memegang mandat Tuhan untuk menyelenggarakan kehidupan bertanggung jawab. Hakikat khalifah menurut al-Maudhu ialah manusia bukan pemilik, apalagi penguasa, segala yang di atas bumi, namun hanya sebagai wakil dari sang pemilik sejati yaitu Allah. Kelebihan utamanya adalah adanya kemampuan manusia untuk berfikir atau kepemilikan akal yang sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Kelebihan kedua adalah keberadaan kehendak bebas pada manusia. Bagaimanapun juga, al-Qur’an telah menegaskan manusia diberi kebebasan untuk beriman atau kafir, dengan masing-masing pilihan mempunyai konsekuensi tersendiri. berbeda dengan alam semesta yang secara otomatis mentaati Allah swt, manusia dapat memilih untuk taat atau ingkar kepada Allah swt.
Refleksi Teologis atas Peran Manusia sebagai Wakil Tuhan
Dalam pandangan Ibnu Arabi, dunia manusia dan mikrokosmos adalah serupa. Ibnu Arabi sering menyebutkan denga istilah dunia kecil (mikrokosmos) bagi manusia dan dunia besar (makrokosmos) bagi alam semesta. Mikrokosmos adalah sebuah kesadaran sedangkan makrokosmos hanyalah suatu intstrumen pasif dalam kuasa Tuhan. Dalam ilustrasi yang sangat indah, manusia bagi alam semesta ini adalah ibarat ruh bagi jasad manusia. Dalam al-Futtuhat al-Makkiyah, sebagaimana dikutip Chittick, Ibnu Arabi menjelaskan dengan nada jelas: “Bedakan dirimu sendiri dari kosmos dan bedakan kosmos dari dirimu. Bedakan yang lahir dan yang batin, dan yang batin dari yang lahir. Bagi kosmos kalian adalah ruh kosmos, dan kosmos adalah bentuk lahiriyah kalian. Bentuk ini yang tidak mempunyai makna apa pun tanpa ruh. Oleh sebab itu, kosmos tidak memiliki arti tanpa kalian”. Sepenggal kalimat di atas menegaskan bahwa antara manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya dilukiskan ibarat tubuh dan ruh yang saling melengkapi.
Antara Amanah dan Arogansi
Analisa-analisa di atas akhirnya semakin meneguhkan bahwa sejatinya atroposentrisme tidak ditemukan apalagi diajarkan dalam Islam. Dalam ekologi Islam, justru menempatkan manusia secara proporsional. Meskipun manusia mempunyai kelebihan dibanding makhluk lain keberadaannya masih menjadi bagian dari lingkungan dan bukan berada di luar ekosistem. Bahwa lingkungan alam ini diciptakan manusia bukanlah pandangan keliru. Namun manusia bukanlah pemilik alam ini. Dengan demikian manusia tidak boleh mengeksploitasi alam dengan seenaknya sendiri. Islam melarang keras paham antroposentrisme dalam pengelolaan lingkungan. Sebab antroposentrisme sejatinya identik dengan mental orang-orang paganis. Dan benih-benih antroposentrisme justru lahir dari orang-orang paganistis. Sebab dalam paham ini manusia meyakini hanya manusia lah yang paling berkuasa. Tidak ada kekuatan kecuali kekuatan manusia. Akibatnya timbul sikap manusia yang meremehkan dan merendahkan makhluk lain. Hal tersebut telah di kecam oleh al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 6-12. Dalam ayat tersebut mengisyaratkan korelasi kuat antara paganis, antroposentis dan kerusakan lingkungan. Indikator orang-orang pagan adalah keras kepala, keras hati, penuh kamuflase dan angkuh dalam pengelolaan lingkungan. Mereka selalu berdalih membangun bumi, padahal sejatinya mereka merusak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kerusakan alam yang parah saat ini akarnya bukan pada antroposentrisme Islam (theogenik), namun pada pola tingkah manusia yang kelewat batas (antrogenik).
Dari Kesadaran Religius ke Tanggung Jawab Alam
Hubungan manusia sebagaimana hamba Allah dan diutus menjadi Khalifah di muka bumi memiliki posisi saling terkait kuat, karena dalam tugas manusia sebagai khalifah memiliki wewenang mengelola dan mengatur bumi beserta isinya. Sedangkan tugas manusia sebagai hamba, manusia melakukan segala aktivitas sesuai dengan aturan Allah dan bertanggungjawab atas semua tindakannya. Munculnya teori Darwin tentang survival of the fiftest telah menempatkan manusia sebagai makhluk yang lebih unggul dari makhluk lainnya, sehingga manusia berusaha menguasai alam dan mampu menklukan alam. Hal tersebutlah menyebabkan terjadinya kerusakan alam di berbagai belahan bumi. Dampak dari teori Darwin semakin menunjukkan bahwa manusia tidak lagi menjadi makhluk yang bergantung kepada alam, melainkan manusia menjadi faktor penentu atas keberlangsungan alam. Islam telah melarang manusia untuk melakukan eksploitasi dan pengerusakan terhadap alam dan spesies tumbuhan serta hewan. Seperti halnya dalam surat Al-A’raf [7] 31. Makna dalam kandungan ayat tersebut menyatakan bahwa islam telah mengatur manusia dalam mengelola dan memanfaatkan alam dengan porsi dan batasan agar tidak merusak alam, tidak boros (mubazir), tidak serakah dan tidak menyia-nyiakannya yang tidak diperlukan.
Pemikiran Agama Islam dalam beberapa prinsip dasar yang terkait lingkungan dan menjadi basis elaborasi konsep ekologis dalam islam. Pandangan manusia sebagai khalifah tidaklah menjadikan manusia sebagai pemegang mutlak pada dirinya dan alam, karena segala sesuatu yang dimiliki manusia berasal dari Tuhan, dan tugas manusia hanyalah menjaga dan memelihara serta menggunakan sesuai kebutuhannya. Konsep khalifah sebagai yang telah dikemukakan diatas menunjukkan bahwa dalam ajaran islam memiliki relevansi dan perhatian yang sangat besar terhadap konsep ekologis dan lingkungan hidup. Sehingga untuk itu, ajaran islam mengenai konsep ekologis dan lingkungan hidup perlu dikonstruksi sebagai sistem, keyakinan akan nilai-nilai dan cita-cita lingkungan hidup, yang dapat dipahami, ditransformasikan dan di internalisasikan oleh seluruh umat untuk diperjuangan guna mewujudkan cita cita tersebut. Dari uraian dan analisis di atas dapat diambil kesimpulan pada tulisan ini bahwa antroposentrisme sejatinya lahir bukan dari agama Islam. Pandangan antroposentrisme muncul disebabkan metode penafsiran yang parsial dan atomistik. Islam memandang manusia dengan lingkungan alam bersifat simbiosa mutual dan manusia secara fungsional merupakan makhluk pembangun (khalifah) yang amanah dan ber-ihsan.
Infrastruktur kampus adalah fondasi penting bagi proses pendidikan yang berkualitas. Jalan yang aman, parkiran yang memadai, dan fasilitas umum yang layak bukan hanya pelengkap, melainkan kebutuhan dasar untuk mendukung aktivitas akademik. Namun, realitas di Kampus 2 Universitas Mataram menunjukkan sebaliknya.
Akhir-akhir ini banyak mahasiswa mengeluhkan kondisi jalur di Kampus 2 Universitas Mataram yang sangat memprihatinkan. Jalur utama yang menghubungkan aktivitas sehari-hari mahasiswa itu terlihat seperti jalur trek offroad. Bukan hanya berlubang, jalan tersebut juga terlihat kumuh dan tidak layak. Ketika musim hujan tiba, jalan berubah menjadi rawa atau danau kecil karena tergenang air. Mahasiswa jadi kesulitan melewati genangan tersebut, bahkan sepeda motor pun kadang ikut terendam dan susah dikeluarkan. Situasi ini sudah menjadi keluhan lama dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa, dan tentu berpengaruh pada semangat belajar dan beraktivitas di Kampus 2.
Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Jalur yang rusak juga menyebabkan timbulnya debu berlebihan saat musim kemarau. Debu ini sangat mengganggu kenyamanan mahasiswa dan dosen. Akibatnya, sebagian besar warga kampus merasa tidak nyaman berada di lingkungan tersebut. Solusi yang diharapkan mahasiswa sebenarnya sederhana: semua jalur rusak dipaving atau diperbaiki merata, agar debu hilang dan jalan bisa dilalui dengan aman serta nyaman oleh siapa saja.
Fakta di lapangan, sebagian besar jalur di Kampus 2 memang rusak. Sangat susah untuk menemukan jalan yang benar-benar mulus. Bahkan ketika berkendara, mahasiswa harus berhati-hati karena banyak lubang dan jalan yang tidak rata. Kondisi ini bisa menimbulkan efek benturan dan risiko jatuh. Jalur yang berkerikil dan tidak stabil juga semakin memperburuk situasi. Semua ini membuat berkendara di sekitar Kampus 2 menjadi aktivitas yang berisiko.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah lahan parkir. Area parkir di Kampus 2 sangat sempit. Mahasiswa sering kesulitan saat ingin memarkirkan atau mengeluarkan kendaraan mereka. Petugas keamanan kampus atau satpam pun turut prihatin. Mereka sering harus ikut merapikan kendaraan agar tetap tertata rapi walaupun lahan parkir sebenarnya tidak mencukupi. Belum lagi soal atap—tidak ada pelindung dari panas matahari ataupun hujan. Akibatnya, kendaraan mahasiswa terkena paparan langsung yang bisa merusak kondisi motor.
Keadaan ini sangat disayangkan, apalagi mengingat Kampus 2 memiliki fasilitas guest house yang diperuntukkan bagi tamu luar daerah atau institusi lain. Bagaimana jika para tamu atau pengunjung melihat jalur utama kampus yang rusak parah, kumuh, dan terkesan dibiarkan? Tentu saja ini bisa memengaruhi pandangan mereka terhadap institusi Universitas Mataram secara keseluruhan. Fasilitas yang buruk seperti itu akan mencoreng wajah kampus, terutama jika dibandingkan dengan harapan dan standar kampus negeri pada umumnya.
Tak heran, banyak mahasiswa menyebut Kampus 2 sebagai “kampus yang dianaktirikan” atau “kampus yang tidak diurus.” Sebutan ini muncul bukan tanpa sebab. Kampus 2 sangat jarang tersorot dalam unggahan resmi akun media sosial UNRAM. Kalaupun muncul, biasanya hanya menampilkan sisi-sisi bagusnya saja. Padahal, kenyataan di lapangan sangat bertolak belakang. Banyak fasilitas penting masih minim dan tak layak pakai.
Karena tidak ada sorotan, maka perhatian dari pihak rektorat terhadap Kampus 2 pun sangat terbatas. Efeknya, perbaikan di kampus ini menjadi terhambat atau bahkan tak kunjung dilakukan. Padahal, di saat yang sama, Kampus 1 terlihat terus dibangun besar-besaran. Banyak gedung dan fasilitas baru muncul, sedangkan Kampus 2 seolah dibiarkan stagnan.
Hal yang menyedihkan, masalah jalur ini bukanlah masalah baru. Dari tahun ke tahun, mahasiswa Kampus 2 selalu menyuarakan keluhan yang sama. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan konkret dari pihak kampus untuk menyelesaikan persoalan ini secara menyeluruh. Pernah memang ada upaya perbaikan jalur di beberapa tahun sebelumnya, tetapi tidak bertahan lama. Jalan kembali rusak, berlubang, dan tidak bisa dilalui dengan baik. Artinya, perbaikan yang dilakukan selama ini tidak efektif dan tidak berkelanjutan.
Masalah parkiran juga tak kalah penting. Lahan parkir tidak sebanding dengan jumlah kendaraan mahasiswa. Ketika penuh, mahasiswa bahkan harus memarkir motor mereka di lapangan olahraga yang biasa digunakan oleh mahasiswa maupun pihak sekolah di sekitar Kampus 2. Ini tentu bukan kondisi ideal. Apalagi, parkiran tersebut juga dikenal sebagai tempat yang cukup “angker” karena dikelilingi pohon-pohon besar seperti pohon beringin. Akar-akar pohon tersebut menyembul ke permukaan tanah, menyulitkan proses parkir dan menimbulkan risiko bagi kendaraan.
Yang lebih disayangkan, hingga menjelang pelaksanaan PKKMB tahun ini pun belum ada perbaikan berarti terhadap jalur utama di Kampus 2. Jalur yang menjadi pintu masuk mahasiswa baru itu masih rusak, penuh lubang, dan memalukan. Bagaimana kesan pertama mereka terhadap kampus jika hal mendasar seperti ini tidak diperhatikan?
Semua ini menunjukkan adanya kegagalan dalam menjalankan amanat Undang-Undang. Dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, disebutkan bahwa setiap lembaga pendidikan tinggi wajib menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar-mengajar secara optimal. Namun, yang terjadi di Kampus 2 justru sebaliknya. Sarana dasar seperti jalan, parkiran, dan perlindungan kendaraan pun tidak memadai. Sementara jumlah mahasiswa terus bertambah, fasilitas tidak ikut ditingkatkan.
Kami sebagai mahasiswa hanya berharap agar pihak lembaga UNRAM bisa lebih cepat, tanggap, dan serius menanggapi persoalan ini. Kami ingin merasa nyaman dan aman saat belajar. Kami ingin agar mahasiswa angkatan selanjutnya tidak perlu mengeluhkan masalah yang sama. Kami tidak ingin mewariskan masalah, kami ingin perubahan.
Semoga pendapat ini bisa menjadi cerminan dan suara dari mahasiswa yang berada di Kampus 2 UNRAM. Kami tidak meminta sesuatu yang muluk, hanya hak dasar kami sebagai warga kampus untuk mendapat fasilitas yang layak dan manusiawi.
Oleh :Dendy Anugrah Apriliansyah (Sekjen BEM Peternakan Unram)
Raden Ajeng Kartini atau biasa disebut Raden Ayu (R.A.) Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia dan beliau juga dikenal sebagai Pelopor Kebangkitan Perempuan Pribumi. Beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Jawa tengah 17 September 1904. Tulisan ini memiliki irisan tujuan untuk mengetahui Pemikiran dan perjuangan R.A. Kartini tentang pendidikan perempuan pribumi, karena untuk menjadi perempuan yang berpendidikan sebelum tahun 1900-an adalah hal yang sangat sulit dicapai oleh kaum perempuan. Perempuan tidak diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan, berawal dari masalah tersebut timbulah pemikiran-pemikiran R.A. Kartini.
Kartini menyakini bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mengangkat derajat perempuan. Ia tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, tetapi juga menyuarakan pentingnya perempuan memiliki kebebasan berpikir, berpendapat, dan memilih jalan hidupnya sendiri. Ia menulis banyak surat kepada teman-temannya di Belanda, seperti Estelle Zeehandelaar, yang berisi pandangan dan kritiknya terhadap tradisi yang membatasi perempuan. Salah satu kutipan terkenalnya adalah “Habis gelap terbitlah terang”, yang mencerminkan harapannya akan masa depan yang lebih cerah bagi perempuan Indonesia. Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan dan ketidakadilan. Ia menulis banyak surat kepada teman-temannya di Belanda, seperti Estelle Zeehandelaar, yang berisi pandangan dan kritiknya terhadap tradisi yang membatasi perempuan. Salah satu kutipan terkenalnya adalah “Habis gelap terbitlah terang”, yang mencerminkan harapannya akan masa depan yang lebih cerah bagi perempuan Indonesia.
Perjuangan R.A. Kartini bukan hanya tentang pendidikan, melainkan tentang pengakuan terhadap martabat dan potensi perempuan sebagai manusia seutuhnya. Ia membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berani bermimpi, menuntut hak, dan berkontribusi secara aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Hari ini, warisan perjuangan Kartini menjadi pengingat bahwa kesetaraan gender belum sepenuhnya tercapai. Masih banyak perempuan yang menghadapi diskriminasi, kekerasan, dan keterbatasan akses terhadap pendidikan serta pekerjaan. Karena itu, semangat Kartini harus terus dihidupkan bukan hanya sebagai seremoni tahunan, tetapi melalui aksi nyata yang menjamin keadilan dan kesempatan yang setara bagi semua, tanpa memandang gender. Jika melihat kilasan balik berikut perjuangan yang diuraikan dalam kehidupan jiwa besar RA Kartini yang patut menjadi aksi dan tauladan kunci. 1. Pendidikan untuk Perempuan: Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, yang pada masa itu sangat terbatas. Ia mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di Jepara. 2. Kesetaraan Gender: Kartini menentang adat istiadat yang membatasi peran perempuan, seperti kawin paksa dan pingitan. Ia ingin perempuan memiliki kebebasan berpikir dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. 3. Inspirasi Melalui Surat-Surat: Surat-surat Kartini, yang kemudian diterbitkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menjadi inspirasi bagi banyak perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
Peran Perempuan di Masa Awal Kemerdekaan
Potret perjuangan perempuan di masa awal kemerdekaan Indonesia adalah kisah luar biasa tentang keberanian, keteguhan, dan pengorbanan. Di tengah medan perjuangan yang keras dan dominasi patriarki yang kuat, perempuan Indonesia tetap hadir sebagai pilar penting dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Berikut adalah gambaran umum tentang peran dan perjuangan mereka: a) Pejuang Bersenjata Banyak perempuan yang ikut terjun langsung ke medan perang, bergabung dengan laskar-laskar rakyat maupun tentara. Contoh tokoh: Cut Nyak Dien (walau berjuang jauh sebelum proklamasi, semangatnya menjadi inspirasi pejuang wanita setelahnya), Laksamana Malahayati – laksamana perempuan pertama di dunia. b) Peran dalam Organisasi Setelah kemerdekaan, perempuan aktif dalam organisasi seperti KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) untuk menyuarakan hak-hak perempuan dalam pembangunan bangsa. c) Peran Sebagai Intel dan Kurir Dalam pertempuran, perempuan sering dijadikan penghubung antar pasukan atau intelijen, karena mereka lebih bisa bergerak tanpa terlalu dicurigai oleh penjajah. d) Pendukung Logistik dan Kesehatan Perempuan juga mendirikan dapur umum, menjadi tenaga medis, dan membantu pemulihan para pejuang yang terluka. e) Pendidikan dan Propaganda Perempuan seperti Maria Ulfah Santoso, aktif dalam dunia pendidikan dan hukum, memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Mereka juga menyebarkan semangat nasionalisme melalui tulisan, pidato, dan organisasi sosial.
Beberapa Tokoh Perempuan Inspiratif 1) Kartini – Peletak dasar emansipasi wanita. 2) Dewi Sartika – Pelopor pendidikan untuk perempuan di Jawa Barat. 3) Maria Walanda Maramis – Tokoh pendidikan dan pergerakan perempuan di Sulawesi Utara. 4) S.K. Trimurti – Jurnalis, pejuang kemerdekaan, dan Menteri Perburuhan pertama Indonesia. 5) Rasuna Said – Salah satu tokoh perempuan yang suaranya sangat kuat dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak perempuan, bahkan hingga ke sidang Volksraad (Dewan Rakyat).
Makna Perjuangan Mereka
Perjuangan perempuan di masa itu bukan hanya soal angkat senjata, tapi juga soal melawan struktur sosial yang mengekang. Mereka membuktikan bahwa perempuan punya tempat penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Apakah masih relavan nilai perjuangan RA Kartini masa lampau dan masa kini? Kondisi awal perjuangan Raden Ajeng Kartini sangat dipengaruhi oleh tradisi dan adat istiadat yang berlaku pada masa itu. Kartini dalam keluarga priyayi yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, ia tetap menghadapi berbagai keterbatasan yang dialami perempuan pada masa kolonial.
Tantangan yang Dihadapi Kartini a) Pingitan: Pada usia 12 tahun, Kartini harus menjalani tradisi pingitan, di mana perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah dan memiliki kebebasan terbatas. b) Pendidikan Terbatas: Kartini hanya dapat mengenyam pendidikan dasar karena aturan adat yang membatasi akses perempuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. c) Ketidaksetaraan Gender: Kartini menyaksikan bagaimana perempuan sering kali dianggap lebih rendah daripada laki-laki, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Melihat perjuangan kartini terdahulu bangga dan merasa miris melihat kartini masa kini yang mulai hilang dalam radar perjuangan DNA kartini. Jika melihat kondisi periodisasi sekarang ini tentu kita agaknya merasa bahwa banyak kartini muda yang lebih sibuk merawat dan memoles frame luar daripada isi pikiran. Kenapa demikian? Ya tentunya ini pengaruh dari tekanan yang sudah mulai tergeser, kartini terdahulu ditekan oleh proses merebut kesetaraan gender dan memperjuangkan hak kaum perempuan untuk berada setara tanpa menampikkan peran utamanya dalam keluarga. Akan tetapi hari ini, perjuangan merawat nilai tersebut sudah terdistorsi oleh zaman.
Merebut Kembali Nilai-Nilai yang Terdistorsi
Merebut kembali nilai-nilai yang terdistorsi dan merawat nilai kesetaraan gender adalah perjuangan yang terus relevan di berbagai belahan dunia. Kesetaraan gender, atau gender equality, adalah prinsip yang menekankan bahwa setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pekerjaan, dan pengambilan keputusan.
Hari ini begitu banyak kartini masa kini yang Nilai-nilai kesetaraan sering kali terdistorsi oleh tradisi, stereotipe, atau sistem sosial yang tidak adil. Misalnya: Diskriminasi Gender: Ketidaksetaraan dalam upah, akses pendidikan, dan representasi politik. Norma Sosial: Peran tradisional yang membatasi perempuan hanya pada tugas domestik. Kekerasan Berbasis Gender: Bentuk kekerasan fisik, emosional, atau ekonomi yang sering kali dialami perempuan.
Untuk merebut kembali nilai-nilai ini, diperlukan upaya kolektif melalui pendidikan, advokasi, dan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender. Dan jika memang kita akan kembali ke titah awal perjuangan dan DNA awal perjuangan RA Kartini sudah sepantasnya kartini masa kini mengambil peran dan sikap yang sejalan dalam berbagai aspek baik teoritis maupun praksisnya. Kita tidak ingin melihat titah awal perjuangan yakni “ dari gelap terbitlah terang” berubah menjadi “ dari gelap menjadi gelap”. Oleh sebab itu, kita berhak merebut kembali semangat dan atmosfer awal perjuangan para kartini terdahulu.
Merawat Nilai Kesetaraan dan Perjuangan Gender Equality
Perjuangan kesetaraan gender telah dilakukan oleh banyak tokoh dan organisasi di seluruh dunia. Contohnya: RA Kartini: Di Indonesia, Kartini memperjuangkan pendidikan bagi perempuan sebagai langkah awal menuju kesetaraan. Helen Keller: Di Amerika Serikat, ia menjadi simbol pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas. Gerakan Feminisme Global: Gerakan ini terus mendorong perubahan sosial untuk menghapus diskriminasi berbasis gender.
Terlepas dari perjuangan kartini tentu masih banyak perempuan-perempuan dunia yang juga bisa menjadi inspirasi kaum perempuan serta menjadi mata air keteladanan yang patut dijadikan sebagai grand desain untuk melangkah menjadi kartini muda dimasa ini.
Teori perempuan internasional sering kali berfokus pada perjuangan untuk kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan penghapusan diskriminasi di berbagai bidang, seperti pendidikan, pekerjaan, dan hak asasi manusia. Salah satu tokoh inspiratif yang relevan dalam konteks ini adalah Helen Adams Keller, seorang perempuan luar biasa yang mengatasi keterbatasan fisik untuk menjadi simbol perjuangan dan pemberdayaan.
Helen Keller lahir pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat. Pada usia 19 bulan, ia kehilangan penglihatan dan pendengarannya akibat penyakit yang diduga sebagai rubella atau demam scarlet. Namun, dengan bantuan gurunya, Anne Sullivan, Helen belajar berkomunikasi melalui metode sentuhan dan akhirnya menguasai beberapa bahasa.Helen Keller menjadi perempuan tunanetra dan tunarungu pertama yang meraih gelar sarjana, lulus dengan predikat cum laude dari Radcliffe College pada tahun 1904. Ia kemudian menjadi penulis, dosen, dan aktivis yang memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, perempuan, dan kaum miskin. Helen juga dikenal sebagai pendukung sosialisme, yang ia anggap sebagai jalan menuju keadilan sosial.
Relevansi dengan Kisah Perempuan Internasional Kisah Helen Keller mencerminkan beberapa prinsip penting dalam teori perempuan internasional: 1. Pemberdayaan Melalui Pendidikan: Helen menunjukkan bahwa pendidikan adalah alat yang kuat untuk mengatasi hambatan sosial dan fisik. 2. Kesetaraan Hak: Ia memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan perempuan, menekankan pentingnya inklusivitas dalam masyarakat. 3. Inspirasi Global: Helen Keller menjadi simbol bahwa perempuan, terlepas dari keterbatasan mereka, dapat berkontribusi secara signifikan dalam berbagai bidang.
R.A. Kartini dan Helen Keller memandang dan menyakini bahwa Pendidikan merupakan jalan suci untuk suatu hal yang sangat penting, dengan pendidikan mampu mengangkat derajat dan mampu mengangkat martabat bangsa baik itu pendidikan untuk laki-laki maupun untuk perempuan dan cita-cita yang diinginkan R.A. Kartini dan Helen Keller.
Perayaan kartini tidak hanya kegiatan uforia biasa sebagai bentuk ucapan pamflet,video, dan dokumentasi kegiatan. Akan tetapi esensi terbaik dalam hal hari kartini yakni proses internalisasi dan kontemplasi nilai-nilai yang terdahulu menjadi sebuah habitus serta karakter dalam jati diri Kartini masa kini.
Tujuan akhir dari perayaan Hari Kartini tidak hanya sekedar untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan kesetaraan gender. Perayaan ini juga ber tujuan untuk menginspirasi perempuan Indonesia agar terus berkarya, berani bermimpi, dan mandiri dalam menjalani hidup. Selain itu, Hari Kartini menjadi momen refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Mari kita jadikan Hari Kartini sebagai momentum untuk terus mendorong perubahan. Kita perlu menciptakan ruang-ruang inklusif di sekolah, tempat kerja, hingga dalam keluarga yang menghargai keberagaman dan kesetaraan. Sebab sebagaimana yang diyakini Kartini, perempuan bukan objek yang harus dibatasi, melainkan subjek yang berhak bermimpi, tumbuh, dan memimpin.