21.5 C
Mataram
Wednesday, May 27, 2026
spot_img
Home Blog Page 35

Cegah Stunting Ala Mahasiswa Peternakan Unram

0

Unram, MEDIA – Mahasiswa Peternakan Unram yang tergabung dalam Tim Program Penguatan Kualitas (PPK) Ormawa BEM Faterna, adakan pengabdian di Desa Boyamare, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur.

Tim PPK Ormawa Faterna ini memiliki misi besar dalam pengabdian kali ini, yaitu mencegah stunting melalui pemanfaatan susu kambing.

“Misi kami yakni membangkitkan dan meningkatkan kembali semangat dalam pemeliharaan kambing perah yang baik, Untuk Meningkatkan meningkatkan produktifitas Kambing Perah, dan mengajak peternak dan keluarganya mau memerah susu kambingnya,” ungkap Saddam Isnalude selaku Ketua Tim PPK Ormawa BEM Faterna Unram.

“Supaya dapat menopang kebutuhan gizi masyarakat khususnya di Boyemare sehingga dapat mengatasi stunting dan ketahanan pangan di Indonesia, serta terbukannya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Peternak kambing Etawa di desa Boyemare,” sambung Saddam.

Menurut Saddam, alasan kenapa ia dan Tim PPK Ormawa lainnya lebih memilih kambing Peternakan Etawa (PE), karena kambing peranakan ini bisa dimanfaatkan sebagai kambing dwiguna (daging dan susu).

Lanjut Saddam, susu Kambing peranakan ini juga memiliki kandungan Gizi yang pas, yang dimana 100 gram susunya mendekati komposisi sempurna Air Susu Ibu (ASI).

“Kandungan lemak susunya juga lebih rendah daripada susu sapi sehingga digemari oleh konsumen susu, karena lebih rendah kolesterol juga. Hal ini membuat susu kambing lebih aman untuk dikonsumsi.  sehingga kami optimis bisa mereduksi stunting,” terang Saddam.

Saddam juga menegaskan bahwa Alternatif pencegahan stunting yang dilakukan pemerintah dengan cara membagikan telur kepada masyarakat, kalau dilakukan secara berkepanjangan kurang efisien. Sebab, hal tersebut hanya ditujukan kepada anak-anak dibawah 5 tahun, berbeda dengan pemanfaatan kambing PE.

“Kambing Etawa yang memiliki produksi susu yang banyak dapat memberikan peningkatan gizi kepada masyarakat bahkan satu keluarga dapat terpenuhi jika performa produksi susu kambing Etawa tersebut baik. Dismping itu masyarakat juga dapat meningkatkan nilai ekonominya dengan menghasilkan Bibit serta Menghasilkan Kompos,” tegas Saddam.

“Oleh sebab itu kami dari Tim PPK Ormawa Telah Berkomitmen dan menjalankan Konsep Plan kami serta akan membentuk Koperasi susu kambing yang dimana lembaga ini akan menaungi kelompok ternak yang ada di desa Boyemare,” lanjut mahasiswa semester 7 tersebut.

Sementara itu, Yudiatna Dwi Sahreza selaku Ketua BEM Faterna Unram menjelaskan bahwa PPK Ormawa ini sendiri merupakan kolaborasi antara Ormawa dan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiwaan (Belmawa) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek).

“Tahapannya dimulai dari perguruan tinggi yang mengajuka proposal, kemudian dari Ormawa itu sendiri membuat sub proposal pillor project sesuai dengan tema yang ditentukan oleh Belmawa. sehingga seluruh kegiatan pengabdian nanti di biayai oleh Belmawa itu sendiri, namun dananya terbatas,” beber Yudi.

Tidak hanya itu, Yudi juga membeberkan bahwa Tim PPK Ormawa BEM Faterna ini sendiri terdiri dari 12 orang mahasiswa dan mahasiswi yang dimana merupakan sayap dan badan dari pengurus BEM Faterna Unram.

Menurutnya durasi pengabdian ini akan berakhir setelah masyarakat di Desa Boyamare bisa mengelola kambing PE dengan mandiri.

“Durasi waktu yang akan kami tempuh adalah sampai peternak di desa boyemare dapat membudidayakan kambing PE dan mendapatkan hasil yang maksimal serta dapat berternak mandiri,” simpulnya. (Zhr)

5 Mahasiswa Unram Lolos Seleksi KKN Internasional

0

Unram, MEDIA – 5 mahasiswa Universitas Mataram (Unram) lolos seleksi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kerjasama Internasional.

Kerja sama ini dilakukan antara Universitas Mataram dan Seoul National University (SNU).

 

Adapun nama-nama mahasiswa Unram yang lolos KKN kerjasama Internasional tersebut yaitu :
1.Hasbiallah Al-Amin Prodi Teknik Informatika
2.Suci Raditya Yadnya Prodi Teknik Elektro
3.Ni Kadek Astrid Sendina Prodi Hubungan Internasional
4.Rosyidatul Afifah Prodi Bahasa Inggris
5. Arinda Mariza Prodi Manajemen

 

Kegiatan tersebut berlangsung selama 1 Minggu dari tanggal 31 Juni sampai dengan 6 Agustus 2023.

 

Adapun Rangkaian kegiatan dari KKN kerjasama internasional ini adalah, melakukan akulturasi budaya Indonesia dan Korea dengan pertunjukan budaya yang dilaksanakan tanggal 4 Agustus 2023 di Dome Unram.

 

Bukan hanya itu, dalam kerjasama ini Unram dan SNU mengagendakan beberapa kegiatan seperti bina lingkungan. Dalam kegiatan tersebut dicanangkan pembagian Donasi 1000 bibit bakau dan Pembersihan Pantai di Pantai Kerandangan Sengigi sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan di Lombok.

 

Selain itu juga dalam kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pembinaan UMKM berbasis bisnis digital kepada seluruh masyarakat umum yang mengikuti kelas Bisnis Digital, Pengenalan pendidikan Bahasa Korea melalui kelas Basic Korea, Pendidikan Tourism melalui kelas Korea Tourism, dan Pembelajaran lebih lanjut Bahasa Korea untuk bekerja melalui kelas EPS-Topic.

 

korea education professor is Kim hojeong dalam sambutannya pada acara pembukaan, berharap kerja sama ini merekatkan persaudaraan antara UNRAM dan SNU.

 

“Kami berharap agar persaudaraan dan kerjasama UNRAM dan SNU dapat terus menjalin komunikasi kerjasama dengan baik lebih dekat dan lebih dalam sebagai keluarga yang hebat dan luar biasa” Ungkapnya

 

Ungkapan senada juga di sampaikan oleh Digital business professor is Park munseo.

 

Acara tersebut dihadiri LPPM UNRAM, Dekan Teknik Universitas Mataram, serta Perwakilan Rektor dan Professor Manager Seoul National University. Juga di ikuti oleh 6 mahasiswa UNAS dan 15 mahasiswa SNU. (Albn)

Dorong Produksi Susu Kambing PE: PPK Ormawa Faterna Latih Kelompok Wirausaha Peternakan di Desa Boyamare

0

 

Lotim, MEDIA—  Tim Program Penguatan Kapasitas (PPK) Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) BEM Fakultas Peternakan adakan pelatihan kelompok wirausaha peternakan di Desa Boyamare. Jum’at (4/8).

 

Kegiatan bertajuk “Pelatihan Budidaya Kambing PE sebagai Kambing Dwiguna” tersebut dilaksanakan guna mendorong peningkatan produksi susu kambing Peranakan Etawa (PE) di Desa Boyamare.

 

Ketua tim PPK ORMAWA, Saddam Isnal Ude mengatakan kegiatan ini terdiri dari Pelatihan Pembuatan Pakan Konsentrat dan Silase serta Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dari Limbah Ternak Kambing.

 

“Adanya program ini untuk mendorong produksi susu kambing PE sebagai Agribisnis Kambing Perah melalui Teknologi Tepat Guna, artinya teknologi sesuai dengan lingkungan,” ucap mahasiswa semester 7 itu.

 

Lebih lanjut, Saddam menekankan komitmen bersama tim dan seluruh kelompok wirausaha peternakan, serta pihak terkait agar berkolaborasi nyata untuk menjadikan desa ini sebagai contoh pendongkrak wirausaha peternakan kambing perah.

 

Kades Boyemare, Muhamad Amin, S. Pd menanggapi antusiasme peternak pada pelatihan ini sangat tinggi dan memiliki potensi untuk bekerja sama melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dengan ketentuan kelompok harus  memiliki legalitas yang sah.

 

“Kami sangat bersyukur atas kegiatan ini, sehubungan dengan masyarakat kami di Desa Boyemare. Hari ini saya lihat antusias kelompok ternak sangat luar biasa, Insyaallah kedepannya Pemerintah Desa memiliki alas hak untuk menganggarkan hal hal yang seperti ini,” jelas Muhamad Amin.

 

Sementara itu, Praktisi Budidaya Kambing PE, Muhammad Khalid Rozani, S. Pt., menjelaskan pengembangan peternakan harus terus ditingkatkan melalui transfer knowledge dari kampus ke masyarakat terutama peternak.

 

“Adanya perubahan dan pengembangan peternakan lebih lebih di masyarakat kita, harus kita bantu dari macam – macam elemen, termasuk mahasiswa.” tutur Rozani.

 

Lanjutnya, Rozani berharap peternak mampu menerapkan formulasi pembuatan pakan dan pemanfaatan limbah kambing PE sebagai pupuk organik menjadi peluang untuk meningkatkan ekonomi peternak.

 

Lulusan Sarjana S1 Peternakan itu menegaskan kepada mahasiswa, diperlukannya kegiatan yang sustainable untuk membantu pemasaran produk dari kelompok ternak, baik produk kompos maupun produk lainnya.

 

“Tentu, tidak hanya sampai disini saja, peternak sudah tau peluang – peluang pembuatan pakan, pemanfaatan kompos dan harus ada tindak lanjut dari teman-teman mahasiswa  untuk ikut membantu bagaimana hasil produk yang sudah dibuat bisa keluar,” kata Rozani saat hendak meninggalkan lokasi.

 

Disisi lain, Ketua Kelompok Pandan Gero, Muhammad Irham menerangkan jumlah peternak pada kelompok tersebut sejumlah 32 peternak dan jumlah populasi ternak 350 ekor.

 

“Kaitannya dengan pelatihan ini, ini sangat mendidik untuk kita yang masih pemula. Pokoknya apapun bentuk-bentuk usaha khususnya di bidang peternakan Insyaallah kita sama-sama memajukan,” ujar Irham. (Ydi)

Perjuangan Adalah Berjuang

0

Oleh : Meinudin, AZM

 

Teman teman, ikan itu busuk dari kepala,
Jika sudah busuk, semua ikut busuk.
Pikiran adalah motivasi,
Pikiran adalah tindakan
Pikiran adalah sebab dan akibat

 

Teman teman, di India Seorang Manji bisa membelah gunung di India
Untuk membantu Perempuan
Mengambil air bertahan hidup
Semuanya karena keyakinan dalam pikiran
Tidak ada yang mustahil
Kita mesti butuh pikiran yang jernih
Yang sulit karena pikiran yang rumit

 

Teman teman, orang dulu bermalam dengan labirin
Berbincang tanpa komplin
Hingga nuansa Kasih Terjalin
Sekrang, Seba mudah
Tapi semua merasa gundah
Entah, ini sudah berubah
Atau kita yang tidak mau bersusah

 

Teman teman
Sepertinya kita butuh pengaruh
Pengaruh Untuk tumbuh
Saling asuh
Dan Tetep Dalam suasana keruh
Untuk Jernih dalam wadah Tanpa keluh

 

Teman teman,
Semuanya Sangat dinamis
Kita hanya perlu keyakinan
Keyakinan yang berakar dari pikiran
Supaya tau
Perjuangan adalah Perjuangan.

 

Semua bisa menjadi apa
Menjadi Apa yang anda bisa.

DPM Unram Disebut Ormawa ‘Pengangguran’

0

Unram, MEDIA – Sejak dilantik pada Mei 2023 lalu hingga Agustus 2023, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unram tak pernah muncul di berbagai persoalan mahasiswa.

Belum lagi program-program yang dilaksanakan tak pernah berdampak positif bagi mahasiswa di universitas beralmamater biru ini.

Hal itu juga didukung dengan jarangnya terlihat “batang hidung” para pengurus DPM Unram. Karena itu, bukan hal yang aneh jika publik menilai bahwa DPM Unram adalah organisasi pengangguran.

Kritik itu disampaikan Ketua Wahana Mahasiswa Pengabdi Masyarakat (WMPM), M. Taufik.

“Yah gitulah, entah kita yang subjektif atau memang dari mereka ada yang di privat,” ungkapnya.

Taufik juga mangatakan bahwa DPM Unram hari ini mengalami demoralisasi dan mis perspektif dalam memahami pokok kerjanya.

“kami mengatakan bahwa DPM hari ini mengalami demoralisasi karena mis perspektif atau salah memahami dalam pokok pekerjaan DPM sebagai legislatif,” tegasnya.

Lanjut, Taufik mengatakan bahwa seharusnya DPM Unram lebih banyak dikenal daripada BEM.

“Yah karena memang posisi DPM sebagai legislatif itu harus lebih menonjol dalam menanggapi permasalahan-permasalahan internal kampus sebab DPM yang bersentuhan langsung dengan problem mahasiswa,” terangnya.

Oleh karenanya, Taufik menegaskan bahwa DPM dalam hal ini ketika melihat permasalahan mahasiswa harus cepat tanggap dan turun dalam menyelsaikan masalah tersebut.

“Terlebih lagi harus mempunyai data yg valid,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Abdullah Al Hadid mengklaim bahwa dirinya dan pengurus DPM melakukan koordinasi dengan BEM mengenai beberapa permasalahan mahasiswa.

“Masalah tuntutan-tuntutan mahasiswa kita koordinasikan dengan BEM kita hanya menerima aspirasi kan,” ungkapnya.

Terkait dengan beberapa pertanyaan mengenai pengawasan terhadap kinerja BEM Unram, Hadid mengungkapkan bahwa ia dan pengurus DPM Unram akan melakukan evaluasi.

“Kita akan adain evaluasi, ada sidang SOP nya nanti,” bebernya.

Tidak hanya itu, terkait sekretariat yang tidak pernah diisi selama beberapa bulan terakhir, Hadid buka suara bahwa Sekretariat DPM kehilangan kunci.

“Kehilangan kunci kita kemarin, makanya kita cari-cari kunci ternyata kuncinya masuk didalam sekret,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPM Unram menanggapi dengan ikhlas dikatakan Ormawa pengangguran

“Ya kita terima aja tanggapan teman-teman karena kita kan juga punya kendala kemarin,” tuturnya. (Zhr)

Tutur Batin

0

Oleh : EL

 

Maaf
Pada diri sendiri
Sudah menyakiti banyak sekali
Takut menolak semua hal ini
Menyalahkan banyak hal pada diri ini

 

Maaf
Pada aku yang tak pernah menerima
Atas semua takdir yang dihadirkan semesta
Pada ikhlas yang disiapkan dunia
Menolak kenyataan-kenyataan yang ada

 

Maaf
Pada diri yang tak pernah merasa puas
Kepada aku yang tak sempurna
Yang terus hidup dalam datang dan pergi
Namun tak pernah mengharap pisah itu sendiri

 

Maaf
Kepada diriku yang pembohong
Membohongi dunia seisinya, juga diri sendiri
Kepada aku yang memaksa untuk terus kuat
Kepada aku yang menolak bagian diri yang rapuh

 

Maaf
Ajarkan diri ikhlas
Menerima aku
Yang tak sempurna
Tak akan pernah

 

 

Ruang tangis, 2023

KKN Desa Masmas Adakan Sosialisasi Pengembangan UMKM Untuk Menyongsong Program Desa Preneur

0

Loteng, MEDIA – Mahasiswa KKN (Kuliah kerja nyata) Unram periode 2022/2023 di desa Masmas, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, adakan  sosialisasi pengembangan UMKM.

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menyongsong program desa preneur sesuai dengan tema KKN Desa Masmas periode 2022/2023.

Drs. H. Burhanudin, M.Si., salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram,  sekaligus sebagai narasumber kegiatan sosialisasi ini berpesan bahwa salah satu kunci dalam mengembangkan UMKM terletak pada pemasarannya.

”Trik Pemasaran yaitu buat yang beda dan lakukan dengan cara yang berbeda,” ucapnya.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga diberikan pendampingan dalam pembuatan NIB (Nomor Induk Berusaha) untuk pemilik atau pelaku usaha di desa Masmas.

Amrulla selaku ketua KKN Desa Masmas berharap bahwa dengan diadakannya sosialisasi ini, dapat meningkatkan semangat berusaha dikalangan masyarakat Masmas.

“Kita berharap kegiatan ini dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan masyarakat, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang bagaimana cara pengembangan UMKM dan meningkatkan kreativitas masyarakat dalam berwirausaha,” bebernya.

Sosialisasi ini dilaksanakan pada Minggu,16 Juli 2023 di SDN Masmas. Dimulai pada pukul 09.00 WITA hingga selesai.

Selain mengundang para pelaku UMKM, dalam kegiatan ini juga turut mengundang Sekretaris desa, beberapa mahasiswa KKP UIN Mataram, KKN Peresak, dan KKN Aik Bukaq. (Zhr/Advetorial)

Artikel KKN Desa Mareje : Keterlibatan Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata

0

Masyarakat adalah salah satu unsur penting pemangku kepentingan untuk bersama-sama dengan Pemerintah dan kalangan usaha/swasta bersinergi melaksanakan dan mendukung pengembangan kepariwisataan. Oleh karena itu pengembangan kepariwisataan harus memperhatikan posisi, potensi, dan peran masyarakat baik sebagai subjek atau pelaku maupun penerima manfaat pengembangan, karena dukungan masyarakat turut menentukan keberhasilan jangka panjang pengembangan kepariwisataan.

 

Dukungan masyarakat dapat diperoleh melalui penanaman kesadaran masyarakat akan arti penting pengembangan kepariwisataan. Untuk itu dibutuhkan proses dan pengkondisian untuk mewujudkan masyarakat yang sadar wisata. Masyarakat yang sadar wisata akan dapat memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai penting yang terkandung dalam Sapta Pesona.

 

Salah satu model peengembang pariwisata yang mengkolaborasikan fungsi pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku adalah pengembangan desa wisata. Pengembangan desa wisata, mendorong berbagai upaya untuk melestarikan dan memberdayakan potensi keunikan berupa budaya lokal dan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang ada di masyarakat yang cenderung mengalami ancaman kepunahan akibat arus globalisasi yang sangat gencar dan telah memasuki wilayah pedesaan.

 

Pengembangan desa wisata berjalan begitu pesat dan menyebar di hampir seluruh wilayah provinsi di Indonesia. Kearifan lokal menjadi kunci masyarakat yang bermartabat sehingga pengembangan desa wisata tetap memegang nilai-nilai luhur khas masyarakat desa. Dengan memegang nilai-nila luhur yang tertanam dalam keseharian masyarakat lokal, maka desa wisata dapat berkembang secara mandiri, professional dengan tetap mengusung semangat kebersamaan khas masyarakat desa.

 

Semoga dengan adanya sosialisasi ‘Desa sadar wisata’ ini bisa memberikan kontribusi positif untuk  tumbuh kembangnya pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Desa Mareje. Dan marilah bersama-sama bergandengan tangan untuk mewujudkan desa Mareje sebagai desa wisata yang hebat dan bermartabat. (Advetorial)

Menung,

0

 

Satu minggu berlalu pasca tragedi pemukulan oleh oknum satpam di kampus ku, Universitas Alabasta tepatnya. Aku lelap dalam tontonan bukti-bukti penganiayaan tersebut yang kini sudah beredar luas di media sosial. Sesekali ku tatap langit-langit kamarku, sembari membayangkan kebengisan mereka saat itu.

Aku tak habis pikir, hanya sebatas bersuara dan ingin didengar, kami justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi.

Bukan kawanku yang salah, bukan!. Kata-kata hina dan olokan dari mereka bukanlah menjadi alasan bogem satpam-satpam itu mengarah ke kami.

Aku juga tak habis pikir, Rektor yang selalu kami anggap sebagai ayah di kampus ini justru menutup mata dalam kasus ini, mungkin juga mata hati! Entahlah, Ku harap tidak.

Klise mungkin jika kami meminta keadilan. Kami hanya meminta perlakuan yang sesuai atas apa yang telah kami bayar, atas biaya-biaya operasional yang melejit di kampus ini, dan atas fasilitas yang aku tak tau harus seperti apa ku gambarkan.

Seisi kamarku ini mungkin sudah beralih fungsi menjadi tempat proyeksi pikiranku. Sesaat dinding-dinding di kamarku tiba-tiba menampilkan sosok predator-predator seksual yang rela melampiaskan birahinya ke kawan-kawanku.

“Ahh, dasar brengsek,” ucapku dengan nada kesal.

“Aku?,” Tanya Dono, kawanku yang sedang duduk merokok di sampingku.

Ku tatap sejenak ia dengan ekspresi datar, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.

Aku lebih memilih lelap dalam pikiranku daripada berdebat dengan kawanku satu ini. percuma saja, kami tak akan pernah se-pemikirian.

Sampai detik ini aku masih kebingungan, mengapa satpam-satpam itu begitu bengisnya?. Tidakkah mereka takut akan balasan, akan jiwa-jiwa yang mereka perlakukan seperti binatang. Setau ku mereka tidak buta huruf, mereka hanya enggan membaca.

“Siapa ya dibalik mereka?,” Sahut Dono yang juga tiba-tiba ikut termenung.

“Maksudmu?,” Tanyaku sembari terkaget ketika melihat kawanku yang satu ini tiba-tiba ikut termenung. Tidak biasanya ia seperti ini, biasanya ia hanya akan menaruh perhatian pada hal-hal yang berbau judi, dan mungkin sesekali alkohol ketika ia bosan.

“Iya, siapa dibalik mereka, satpam-satpam itu?,” tanya Dono balik.

“Apa mungkin mereka dilindungi oleh Rektor ya?,” Lanjutnya bertanya sembari menghisap rokok dan menatap langit-langit.

“Entahlah,” jawabku.

Aku tak tau pasti siapa dibalik satpam-satpam brengsek itu. Tapi aku yakin bahwa Rektor-lah yang berdiri di belakang mereka. Meskipun beredar di media, Rektor menganggap dirinya tidak tau menau tentang hal tersebut.

Keyakinanku tak begitu kuat, tapi aku punya logika sederhana untuk dijadikan landasan. Atasan atau sebutlah Rektor bisa mengangkat pegawai dengan kewenangannya. Perintah yang harus diikuti oleh pegawai tersebut adalah mestinya terhadap atasan yang mengangkatnya. tidak mungkin kuasa penuh dipegang oleh pegawai tersebut. Tidak mungkin juga ia mengikuti perintah, atau diperintah oleh Rektor kampus lain.

Meskipun ia membantah karena kelalaian pegawainya, Rektor seharusnya ikut bertanggung jawab karena ia tidak bisa mengendalikan mereka, sehingga mereka lalai.

Sebagian kawanku mungkin pasrah tragedi ini akan di politisasi oleh mereka-mereka yang katanya rela berkorban demi mahasiswa. Iya!, Katanya.

Tapi aku tak tau mengapa, Bukannya memihak kami, justru orang-orang itu memandang kami seperti seorang preman. Ahh bangsat, mereka bukan hanya memandang kami sebagai seorang preman, tapi juga memperlakukan kami seperti mereka.

Aku juga tak habis pikir, kemana mahasiswa/mahasiswi lainnya. Ribuan mereka tertidur melihat kami diperlakukan layaknya seperti binatang. Bahkan kami lebih pantas disebut hewan sirkus dimata mereka.

Mungkin yang kuratapi terlalu klise, karena dianggap masih berjemur di Lembah Idealisme ini. Iya klise!, sebab teriakan di Lembah ini masih belum bisa membangunkan manusia-manusia gua itu.

Aku hanya akan menaruh kompromi terhadap mereka. Mereka orang-orang tua yang menyebut demonstrasi tidak ada kerjaan. Tapi tidak dengan mahasiswa yang apatis, aku menganggap tiada mahasiswa yang buta huruf, dan oleh sebab itu tiada mahasiswa yang tidak tau arti diri sebenarnya. Sudah capek senior-senior gondrong itu menjelaskan apa itu mahasiswa menurutku.

Ahh percuma juga, kawan-kawan mahasiswa lainnya mungkin tidak merasakan kekacauan ini.

Padahal aku begitu kasihan dengan mereka, kawan-kawanku yang kuliah kerja nyata (KKN). Seharusnya Universitas Alabasta ini memberikan suntikan dana kepada mereka. Namun, mereka malah diam saja mengikuti alur yang sudah terjadi, menormalisasi penindasan ini hingga dianggap bukan masalah.

“Kok aku kepikiran ya, masak ada anak buah yang begitu beraninya kalau tidak ada bos dibelakang mereka?,” tanya Dono dengan nada kebingunan.

“Hmm, setau ku ndak ada,” kata ku.

“Nah kan apa ku bilang, masak anak buah gak nurut perintah bos, namanya juga anak buah,” tegasnya sembari menunjukkan ekspresi yang sama ketika ia baru mendapatkan jackpot.

Aku tersenyum sejenak melihat tingkah kawanku satu ini, aku baru ingat ia juga mahasiswa. Setahu ku ia hanya jadi mahasiswa ketika menjelang UAS.

“Ngomong-ngomong bisa juga kamu mikir, kesambet petir ya?,” Tanya ku ke Dono dengan nada keheranan.

“Iya juga ya, kesambet petir zeus kali,” jawabnya sembari tertawa.

“Tapi setelah dipikir pikir, benar juga apa yang sering kamu ucapkan. Kita tak akan tau bahwa kondisi kita sedang tidak baik-baik saja, jika kita tidak mencari tau. Aku rasa jelas sekarang, kita memang ndak baik-baik saja,” simpulnya.

Hingga hari ini aku mengerti satu hal, bahwa semua orang punya keresahan yang sama, punya pertanyan-pertanyaan mendasar yang sama, juga punya kapasitas untuk mencari jawaban akan keresahan dan pertanyaan itu. Namun tidak semua orang memiliki keinginan untuk menggunakan kapasitasnya tersebut. Sebagian dari kita enggan, enggan berpikir, juga melawan.

Kawanku Dono mengingatkan ku satu hal, bahwa pada dasarnya mereka bukan tidak bisa berpikir, tapi enggan untuk berpikir. Mereka bukan tidak bisa merenung tetapi enggan merenung. Sedangkan kita, sudahkan kita merenung?, Merenungi apa yang sedang kita lakukan dan apa yang harusnya kita lakukan. Sebagai Manusia, juga Mahasiswa.

Aku yakin mereka dan kita semua punya kapasitas untuk berdialog dengan diri sendiri. Bertanya tentang batas-batas diri sebagai seorang Rektor, Pegawai, Satpam, dan mahasiswa, juga tentang masa lampau, hari ini dan esok.

“Menurutmu sekelas pak Rektor yang punya gelar pernah mikir gak?,” tanya ku ke Dono dengan nada menguji.

“Ya pernah lah, orang aku aja yang kerjanya main slot masih mikir,” jawab Dono sembari tertawa.

Aku tersenyum mendengar jawaban kawanku ini, selain jawaban tersebut memang ada benarnya, ia juga akhirnya mengakui bahwa kerjaannya hanya main judi slot saja.

“Ehh entar dulu, kalau pak Rektor mikir, kok kayak gini ya?,” Tanya Dono balik sembari menatapku.

Entahlah aku harus jawab apa terhadap pertanyaan kawanku ini, lebih baik aku diam dan membiarkannya mencari jawabannya sendiri.

Disaat-saat seperti ini, Aku tiba-tiba teringat sang Penyair, seorang yang selalu kuanggap guru. Ia bercerita padaku bahwa ia pernah tak sependapat dengan seseorang. tapi dikala orang itu hendak bersuara, ia pastikan orang itu bisa bersuara dengan aman.

Dengan alasan apapun aku tak pernah sudi ada kekerasan diatas suara-suara yang kita lantangkan.

(Zhr).

Unram Masif Akan Premanisme dan Anti Dengan Pemikiran Kritis

0

oleh : Syahrul Ramadhan

 Pendidikan dalam konsep Tridharma Perguruan Tinggi menjadi sektor utama dalam menjujung tinggi peradaban, hingga sekarang kebudayaan itu sangat penting dan harus tetap ada dalam tubuh kemahasiswaan.

Suatu ketakutan dan kehawatiran mahasiswa, ketika ini masih saja terus bersarang dalam perguruan tinggi Universitas Mataram (Unram), yang anti akan pemikiran yang kritis. dan itu terjadi ketika pengamat politik Roky Gerung datang Dan ditolak mentah-mentah akan kedatangan seorang pengamat politik yang kritis.

Mahasiswa mesti menunjukan taringnya
Karna Realita dan kembegisan yang terjadi tidak memproyeksi permasalah yang ada.
Dan ini bentuk hilangnya daya nalar dan moralitas yang tidak normatif sehingga tidak menggambarkan nilai etiks.

Pemikiran dan kritikan adalah anekdot dari buah ilmu pengetahuan dan itu diwajipkan dalam demokrasi. hak dan kewajiban kemahasiswaan dalam menyampaikan aspirasi dan berekspresi di hantam dengan membabi buta lewat tindakan represif dan premanisme pihak keamanan kampus masih saja terjadi.

Takut akan pemikiran adalah hama yang mesti di hapuskan dan tidak boleh di biarkan karna hanya akan mengakibatkan kekhawatiran terhadap mahasiswa yang menjujung tinggi akan perubahan.

 

kualitas kampus nomor satu terbaik di profinsi NTB tidak sesuai dengan kriteria dan karakter kampus.
Ambisi dan angan kampus yang katanya ingin menembus kanca internasional Ternyata hanya fenomena belaka, dan rasa-rasanya terlalu naif untuk di capai.

menciptakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa kini menjadi angan-angan dan hanya sekedar oreantasi jika dikotori dengan hal yg demikian.

Seiringan dengan permasalahan yang ada mesti dipertanyakan kuantitas dan kualitas kampus. karna ini bentuk tupoksi dalam membentuk proyeksi Pengambangan lingkup pendidikan adalah estafet berikutnya bagi anak bangsa.

Sangat di sayangkan, jika kampus di perdayakan sebagai bahan Euforia semata
Tidak ada landasan baik, inipun menjadi ironi pelik dalam kampus universitas Mataram terlebihnya lebihnya hilangnya kultur dialektis, analisis, dan kritis.

banalitas mesti tidak di biarkan menjamur dalam tubuh perguruan tinggi dan fenomena ini mesti di hapus dan di usut oleh negara dan mendapatkan efek jerah dengan ketentuan yang ada. Sehingga ini tidak menimbulkan konsekuensi sehingga nilai moral etiks itu tidak hilang dalam budaya dalam integritas pendidikan.

Perguruan tinggi bukan tempat untuk menumbuhkan bandit-bandit, yang hanya untuk memproyeksi komersialisasi dan memangkas hak asasi yang ada. Hawatirnya ini akan menimbulkan kesenjangan akibat relasi kuasa terhadap perguruan tinggi.

Kementrian, pendidikan, kebudayaan riset dan teknologi ( Kemendikbud ) mesti mengevaluasi perguruan tinggi di NTB !.