27.1 C
Mataram
Thursday, June 11, 2026
spot_img
Home Blog Page 90

Deky Aswandi, Pengidap Jantung Bocor Membutuhkan Bantuan Kita

0

Media Unram – Salah satu pengidap jantung bocor berasal dari Leong Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Deky Aswandi membutuhkan uluran tangan kita.

Menurut penjelasan salah satu keluarga korban, Hapid melalui Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat (Kadiv PM) Himasos, Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Deky mengidap penyakit jantung bocor selama empat bulan. Sesuai dengan rujukan Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB, kemudian harus di rujuk ke RS Jantung Jakarta.

“Saat ini, kami belum mempunyai dana untuk biaya pergi ke Jakarta dan biaya hidup selama menjalani pengobatan di sana,” ungkap Hapid.

Berikut keperluan yang dibutuhkan Hapid dan keluarga selama menjalani masa pengobatan di Jakarta yang berhasil dirangkum oleh Media Unram:
1. Tiket untuk PP tiga orang (satu pasien, satu keluarga , satu pendamping),
2. Biaya kos maksimal selama kurang lebih tiga bulan,
3. Biaya hidup sebanyak tiga orang,
4. Biaya tiket kontrol bolak balik setelah oprasi minimal 4 s/d 5 kali atau sampai dinyatakan sembuh total.

Hapid menjelaskan, pihak keluarga hanya mengandalkan bantuan dari donatur. “Kami hanya mengandalkan dari donatur. Kami tak mengingkari, Alhamdulillah dari Dinsos masih udah dapet,tapi dari PKH nya. Dari Baznas Kabupaten kita udah dapet. Sekarang kita ajuin ke Baznas provinsi tapi blm ada respon,” bebernya kepada Media Unram saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (19/6).

Mari, kita bersama-sama meringankan beban saudara Deky Aswandi, dengan memberikan sedikit bantuan kepadannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.

Untuk saluran donasi, melalui Bank BRI: 3571 01 032863 53 1 (MELLA LATHIFAH ANGGARANI)

Bukti transfer dikirim melalui: 0877 5973 9008 (SARINAH). (Khn)

Aku Menyerah

0

Oleh: Zyil Hasina

Dunia terus berputar,
Waktu terus berjalan,
Semangat kian memudar,
Harapan kian terlupakan.

Diri tak sanggup lagi berjuang meraih impian,
Kaki tak sanggup lagi melangkah mengejar angan,
Rasa tak sanggup lagi berkorban,
Tak ada lagi jiwa yang penuh harapan.

Perjuangan hanya tinggal kenangan,
Kini, aku menyerah.
Sebab keangkuhannya menghinakan hati,
Kepiawaiannya menggundahkan hati,
Kedengkiannya menyayat hati,
Kesetiaannya menunda rintangan kesuksesan yang kan ku alami,
Segala mengusik kisah hidup yang kutulis rapi.

Dan ku putuskan, aku menyerah.

 

Mataram, 22 Juni 2020

Sudah Berumur Tiga Tahun, ini Kisah Komunitas Seni Ampure Sesela

0

“Jika seni bertujuan untuk memelihara akar dari budaya kita, masyarakat harus membiarkan seniman bebas mengikuti visi mereka masing-masing kemanapun hal itu membawa mereka” – Jhon F. Kennedy.

Sesela, Media Unram – Untuk melepas kejenuhan selama beberapa bulan sekaligus menyambut new normal, anggota UKPKM Media Unram Sesela, Media Unram mengunjungi salah satu tempat komunitas kesenian, Ampure Sesela, Sabtu (20/6).

Pose bersama anggota UKPKM Media Unram bersama anggota Komunitas Ampure Sesela (foto: ist)

Dalam kunjungannya kali ini, anggota Media Unram juga turut berpartisipasi dalam salah satu rangkaian kegiatan yang diadakan oleh komunitas yang berasal dari Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat ini. Yaitu kegiatan kelas video grafis. Sebelumnya, beberapa kegiatan seperti, hiburan (bernyanyi), materi scat dan tentang cukil.

Menurut penjelasan salah satu pendiri komunitas ini, Ahmad ijtihad, Ampure Sesela merupakan sebuah komunitas yang memberikan wadah untuk berkspresi dan berkarya, khususnya para pemuda.

“Dalam komunitas ini kita bisa saling berbagi pengetahuan secara umum. Selain itu kami juga mengarsip sosio kulter yang ada di desa Sesela melalu berbagai media, baik tulis, audio visual,” beber orang yang biasa disapa Ijtihad ini kepada Media Unram, saat ditemui sedang duduk santai.

Kanan: Ahmad Ijtihad
(foto: ist)

Ijtihad juga menerangkan, mereka memperkenalkan hasil karyanya melalui pameran seni, pentas musik, hingga peristiwa budaya Bubupek. Yakni riset yang dilakukan selama satu bulan, kemudian dipresentasikan dalam waktu satu hari. “Setiap hasil riset dipresentasikan dengan cara dan tema yang berbeda-beda,” katanya.

Lebih jauh ijtihad menerangkan, kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh komunitas Ampure ini memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya masyarakat setempat. “Karena sebagaian besar aggota komunitas ini berasal dari sesela, maka setiap ada kegiatan komunitas pasti akan melibatkan pihak-pihak yang ada di desa,” ungkap ijtihad.

Selain itu, lanjutnya, melalui komunitas ini mereka bisa mengenalkan Sesela sebagai desa budaya. “Karena secara sejarah, Desa Sesela ini adalah desa yang berbudaya, hal tulah yang kita upayakan agar hidup kembali,” harapnya.

Asal usul diberikannya nama Ampure

Bagi sebagian masyarakat Lombok, ampure bukan sebuah kalimat yang asing untuk didengarkan. Jika melihat maknanya sendiri, ampure lebih mengaju pada ucapan permohonan maaf.

Menurut penjelasan ijtihad, kata Am Pure Sesela (dalam bahasa Lombok) yang berarti “Saya asli orang Sesela”. Ketika disebut ampure, artinya kita meminta maaf kepada Desa Sesela. Suatu daerah yang memiliki sejarah politis dan memiliki peran yang besar pada masa perjuangan. Tetapi jarang diketahui oleh masyarakat.

“Jadi, ketika menyebut nama komunitas ini, kita bisa mengartikan bahwa orang tersebut memberitahukan bahwa dia asli orang Sesela dan bisa juga dia meminta maaf kepada desa ini,” terang orang yang memiliki rambut gondrong tersebut.

Menariknya, Ampure Sesela ini tidak pernah menggunakan sistem kaderisasi dalam perekrutannya. “Selama orang tersebut mau beproses bersama, maka orang tersebut adalah bagian dari Ampure,” beber Ijtihad.

Ijtihad mengaku, komunitas ini selalu didukung oleh desa dalam segala kegiatan. Bahkan dalam setiap kegiatan kita biasanya menghadirkan tokoh-tokoh desa untuk memberikan semacam wejangan dan orasi kebudayaan.

Pria berkaca mata ini juga mengaku, setiap melakukan kegiatan, komunitas ampure tidak pernah disokong oleh dana dari pihak manapun. “Setiap dana berasal dari dana gotong royong para anggota,” pungkasnya.

Catatan penulis: Komunitas Ampure bisa menjadi tempat bagi para pemuda-pemudi, khususnya mahasiswa yang ingin mengetahui lebih jauh lagi terkait dengan budaya-budaya yang ada di Sesela, Lombok Barat.

Di sana, warga setempat ramah-ramah, suasanannya nyaman, tenteram. Karena berdekatan dengan pondok pesantren. Ramai, namun tidak macet. (Ays, Lnf, Khn)

Ibu Pasti Pulang

0

Oleh: Rahayu Praya Ningsih

“Kak, ini aku bawain kue labu kesukaan Kakak,” ujarku sambil mengusap lembut kepalanya. Berharap dia akan mengingatku ketika aku membawakan kue kesukaannya dulu. Ini sudah kali ketiga aku berkunjung dengan membawakannya kue labu, setelah sebelumnya ia menolak mentah-mentah dan melempar begitu saja kue itu ke tanah. Kue labu yang aku tempatkan dalam kotak bekal siang miliknya sama sekali tidak membuatnya tertarik untuk mencicipinya, bahkan untuk sekedar melihatnya pun tidak.

Dia masih saja terpaku dengan ranting yang ada digenggamannya, memainkan benda tersebut layaknya makhluk yang bisa diajak bicara dan bercanda. Sesekali dia tertawa, lalu seketika ekspresinya menjadi sedih. Kembali tertawa, lalu berubah menjadi tatapan kosong. Tapi tidak mengapa, esok hari aku akan kembali lagi. Dan seterusnya aku akan kembali.

“Mbak, waktu kunjungannya sudah habis,” ujar perawat itu mengingatkan.
“ Baik Mbak.”
“Syila pulang dulu ya Kak, besok Syila datang lagi,” ucapku sambil melambaikan tangan ke arah Kakakku. Tentu saja dia tidak membalas lambaianku, karena memang melihatnya pun tidak.
***

Namaku Syila. Tiga tahun terakhir adalah masa-masa perjuangan yang berat bagiku. Kehidupanku seketika berbanding terbalik dari beberapa tahun silam. Syifa, Kakakku yang merupakan satu-satunya keluargaku yang masih hidup saat ini. Ayahku telah lama meninggal, waktu itu ketika Kak Syifa berumur tiga tahun dan Ibuku sedang mengandung diriku. Beruntungnya Kak Syifa ketika itu masih sempat merasakan kasih sayang seorang Ayah.

Selanjutnya kami dibesarkan oleh seorang bidadari yang Tuhan kirim dengan rupa yang amat cantik dan baik hati, dia biasa kami panggil Ibu. Bagiku dia adalah wujud cinta kasih Tuhan yang diberikan kepada kami. Memberikan kami hidup dan kehidupan. Dia yang menjadi rumah kami dan pelindung bagi kami di segala situasi.

Aku dan Kakakku terpaut usia tiga tahun. Waktu itu, ketika Kak Syifa berusia 18 tahun, ia amat merasakan betapa di dalam hidupnya membutuhkan sosok Ibu. Kak Syifa senantiasa membaktikan dirinya untuk membantu Ibu berjualan kue keliling kampung, kue terenak buatan bidadari kami. Ya, Ibuku menghidupi kami dengan berjualan kue keliling kampung. Dan setiap hari libur, Kak Syifa selalu ikut menemani Ibu untuk berjualan. Aku yang waktu itu masih dianggap kecil belum diperbolehkan untuk ikut berjualan, alhasil aku ditugaskan untuk di rumah menunggu kepulangan mereka sambil sesekali membereskan dan membersihkan rumah.

Kak Syifa amat senang bisa ikut membantu Ibu. Menurutnya, melakukan hal yang bisa meringankan pekerjaan Ibu adalah hobi teristimewanya. Sedangkan aku selalu bertugas untuk membantu Ibu dan Kakak membereskan dapur sehabis mereka memasak kue. Begitulah, cinta kasih di keluarga kami terjalin begitu lekat karena memang kami hidup bersama dan saling membantu dengan uluran kasih dan kehangatan. Sungguh, ini adalah kehidupan yang aku harap akan berlansung selamanya. Aku, Kakakku dan bidadari kami, Ibu.

Namun sayangnya hidup tidak selalu mengikuti kemauan manusia. Kehidupan seketika memberontak. Dia membangkang apa yang hatiku inginkan. Dia berpaling dari doa-doa yang senantiasa aku panjatkan. Tuhan mencabut pemberian indah tersebut dari kami. Begitu cepat, hingga rasanya bagai mimpi. Aku rapuh dan seolah jatuh terpelanting ke bagian paling gelap dari kehidupan. Bahkan Kakakku sampai tidak mampu membendung penderitaan ini. Jiwa raganya terguncang hingga kesadaran menjauhinya. Beruntung aku mampu bertahan, segera bangkit demi melanjutkan sisa-sisa mimpi. Tapi tidak dengan Kak Syifa.
***

“Dek, Kok Ibu belum juga pulang, ya?” tanya Kakakku cemas.
“Ibu masih dijalan mungkin Kak, tunggu aja sebentar lagi” ujarku.
“Tapi matahari sudah hampir terbenam, Dek, Ibu tidak pernah pulang selambat ini, kan?” sahut Kakakku mulai panik. “Kamu tunggu di rumah ya. Kakak mau mencari Ibu sebentar.”
“Kakak mau cari kemana? Ini juga sudah hampir malam Kak,” tanyaku.
“Kamu tunggu saja di rumah, Kakak akan keliling menyusuri jalan yang biasa Kakak dan Ibu lewati ketika berjualan,” ujar Kakakku. Lansung saja Kakakku pergi keluar untuk mencari Ibu. Berbekal senter dan juga jaket yang dibawanya.

Hari itu, Kakakku memang tidak bisa menemani Ibu berjualan. Bukan tanpa sebab, melainkan Ibu menyuruhnya untuk menemaniku di rumah.
“Untuk hari ini, kamu ga usah ikut Ibu jualan, ya? Temani adik kamu. Sesekali kamu juga harus berada di rumah. Kasian Syila kalau harus selalu sendirian di rumah,” pinta Ibu.
Kakakku tidak pernah menolak apapun yang diperintahkan Ibuku, dia selalu mematuhinya. Dan akhirnya untuk sehari ini saja, dia menemaniku di rumah.
***

Sudah hampir jam 9 malam dan Kakakku belum juga pulang, begitupun dengan Ibuku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diam dan menunggu di rumah saja. Untuk mengusir rasa bosan, akupun pergi ke kamar Ibu. Mengambil baju-bajunya yang sudah robek dibagian jahitannya. Sudah beberapa hari terakhir aku melihat Ibu pergi berjualan dengan kondisi pakaian yang bolong-bolong, entah itu dibagian pundaknya, ketiaknya maupun dibagian lengannya. Ibu sebenarnya tahu bahwa ada jahitan yang lepas dibajunya, namun ia memilih untuk tetap memakainya.

“Nggak apa-apa sayang, cuman bolong-bolong kecil. Lagian bajunya juga masih bagus dan layak pakai,” ujar Ibuku ketika aku bertanya mengapa ia tidak membeli baju baru.

Begitulah Ibuku, sesederhana itu ia dalam menilai sebuah penampilan. Setelah mendapatkan beberapa potong baju yang menurutku bisa diperbaiki, akupun mencari jarum dan benang yang Ibu simpan di laci kamarnya. Tidak butuh waktu lama untuk mencari barang kecil itu, setelah beberapa saat aku merogoh laci tersebut, akhirnya ku temukan yang ku cari. Aku cukup terlatih untuk bisa menjahit baju, Ibu yang mengajariku. Ya, walaupun hanya menjahit secara manual, tapi setidaknya aku bisa dengan kreatif menambalnya dan tidak harus selalu membeli baju ketika ada bagian robek.

“Syila…Syila…buka pintunya Dek,” teriak Kakakku sambil menggedor pintu. Sontak aku terkejut dan lansung terbangun, membukakan pintu. Entah kapan aku tertidur, sebab baju-baju Ibuku masih berada digenggamanku sewaktu aku terbangun ketika mendengar suara teriakan Kakak.
“Kakak kok pulangnya….”
Belum saja aku menyelesaikan kalimat pertanyaanku, Kakak sudah menghambur memelukku sambil menangis terisak-isak.
“Ayo! Kita pergi ke rumah sakit,” ujar Kakakku.
“Ada apa, Kak? Dan kenapa Kakak menangis?” tanyaku dengan masih sedikit menahan kantuk.
“Ibuu…Ibuu…Dia masuk rumah sakit” ujarnya sambil menangis.
***

Tampak beberapa orang masih menunggu di lorong kamar jenazah rumah sakit, tempat Ibuku dirawat.
“Mereka ini adalah anak kandung dari korban,” ujar seorang bapak yang tinggalnya tidak jauh dari rumah kami.
Bapak itu dengan rela mau mengantarkan kami ke rumah sakit setelah kami tergopoh-gopoh meminta bantuan kepadanya. Kakakku dengan masih terisak-isak menceritakan kejadian yang terjadi kepada Bapak tersebut sembari di atas motor ketika hendak menuju ke rumah sakit. Aku hanya bisa menangis sambil sesekali sesenggukan ketika mendengar cerita Kakakku.
“Ibunya tidak tertolong, Pak,” ujar salah seorang Ibu.
“Buk…..”
Kakakku seketika pingsan mendengar perkataan Ibu itu.
***

Kejadian tiga tahun yang lalu telah merubah kondisi Kakakku dengan begitu drastis. Setelah Ibu meninggal, dia menjadi pribadi yang murung dan lebih banyak diam. Dia masih menjadi Kakak yang hangat, namun ketegarannya itu hanya berlansung beberapa tahun saja. Jauh di dalam dirinya ternyata menyimpan pedih dan penderitaan yang bahkan dia sendiri tidak mampu mengatasinya.

Sampai akhirnya menginjak tahun keempat sepeninggal Ibu, kelakuan serta sikapnya mulai aneh. Bahkan bisa dibilang tidak waras. Dia mulai berhalusinasi dengan masuk dapur dan berpura-pura seakan-akan dia sedang memasak kue bersama Ibu. Mengobrol dan berbicara layaknya sedang berhadapan dengan Ibu.

Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuknya dimasa-masa itu, aku hanya bisa menemaninya setiap saat dan mengurusi segala kebutuhannya sambil sesekali berujar, “Ibu pasti pulang, Kak.”
Hanya kata-kata itu yang bisa aku lontarkan ketika dia acapkali bertanya “Dek, Kok Ibu belum juga pulang, ya?”

Aku tahu dirinya sedang depresi, mungkin dia menanyakan hal itu sebab dirinya masih tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa kami. Hingga bertahun-tahun lamanya. Sampai pada suatu kejadian dia memanggilku yang saat itu aku sedang merapikan kamar, “Adek, kesini yuk?”

Aku lansung bergegas menghampirinya. Namun betapa terkejutnya aku ketika mendapati dia hendak menikam dirinya dengan pisau dapur. Tangannya tengah bersiap-siap menusuk perutnya. Sontak aku lansung mencegahnya dengan mencengkram kuat-kuat lengannya dan merebut paksa pisau itu dari tangannya. Dia memberontak dan berusaha melepaskan cengkramanku, namun aku lansung memasang diri sekuat tenaga untuk melawannya. Akhirnya pisau itu aku lempar keluar jendela dapur yang tengah terbuka.

“Kakak mau ketemu Ibu, hahaha..” ucapnya.
“Apa yang Kakak pikirkan sampai bisa ngelakuin hal gila ini!” bentakku.
“Hahaha! Ibu di sana, ya?”
Karena sikapnya sudah semakin parah, akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Aku sebenarnya amat tidak tega melihat dia tinggal di rumah sakit jiwa, tetapi melihat kondisinya yang seperti itu membuatku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak akan sanggup untuk menanganinya jika dia tetap seperti itu. Sedih? Amat. Melihat kondisi ketika Kakakku harus dibawa ke rumah sakit jiwa.
Ketakutan mendatangiku. Sebab, mungkin kali ini aku berhasil mencegahnya, namun aku tidak tahu entah kapan dia akan melakukan hal itu kembali, dan aku juga tidak tahu apa aku bisa mencegahnya lagi.
***

Siang itu, tiba-tiba mobil Avanza putih dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Ibuku yang ketika itu hendak menyeberang jalan. Mobil itu tampak hilang kendali, terlihat dari arah lajunya yang tidak karuan. Ibuku terpental sejauh beberapa meter, kue dagangannya habis bertebaran dimana-mana. Bakul yang menjadi wadah kue itu menggelinding dan akhirnya jatuh ke selokan. Nampak kue-kue tersebut kotor karena bercampur dengan tanah yang berserakan di jalanan. Belum lagi cairan merah keluar dari tubuh Ibuku yang kini sudah tidak sadarkan diri. Tergeletak di tengah jalan. Bidadariku, kini darah segar mengalir keluar dari tubuhnya.

Orang-orang yang melihat kejadian tersebut lansung berlarian menuju Ibuku saat itu. Teriakan meminta tolong terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Hingga seorang bapak yang baru saja pulang membajak sawah lansung dengan sekuat tenaga berlari menuju kerumunan sambil mengeluarkan kalimat cacian dan sumpah serapah kepada pengendara Avanza maut itu.

“Heh! Keluar kamu sialan! Ayo tanggung jawab! Dasar keparat!” ujar Bapak itu dengan begitu geram.
Disusul juga teriakan oleh para warga yang lain. Mendesak pengendara itu supaya keluar. Mereka berulang kali memukul badan mobil tersebut, menggedor kacanya bahkan ada yang nekat menghantam mobil tersebut dengan batu. Namun butuh waktu yang cukup lama agar pengendara itu mau keluar. Andai saja petugas kepolisian tidak datang waktu itu, mungkin si pengendara itu sudah mati ditempat akibat amukan massa. Entah siapa yang menelpon petugas kepolisian tersebut, yang jelas orang tersebut berada di lokasi kejadian.

Sesampainya petugas kepolisian dilokasi kejadian, mereka lansung menelpon ambulance. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya mobil ambulance tiba. Lansung saja tanpa basa-basi Ibuku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, pengendara mobil tersebut lansung dibawa dan di amankan oleh polisi.

Sungguh pedih ketika aku mengetahui semua rentetan kejadian yang memilukan itu. Peristiwa yang menjadi titik balik perubahan hidup Kakakku, dan juga aku. Tak henti-hentinya mataku basah, air mata mengalir tanpa jeda dari netra yang kupunya. Setelah mendengar cerita kesaksian dari seorang Bapak yang dulu menolong Ibuku ketika dia baru saja pulang bertani dari sawahnya. Terasa begitu nyata hingga rasanya aku benar-benar berada dan melihat secara lansung peristiwa itu.

Sudah sekian lama aku berniat mencari tahu kronologis kejadian yang menimpa Ibu kami. Secara diam-diam sudah beberapa bulan terakhir aku mencari keterangan dari warga sekitar tempat peristiwa tabrakan tiga tahun lalu. Aku merasa diusiaku yang sekarang sudah cukup untuk bisa mendengar bagaimana detailnya. Setelah bertanya sana-sini dan mencari informasi, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku cari. Beruntung Bapak yang dulu menolong Ibuku masih hidup dan dengan senang hati menceritakan segala yang dilihatnya tiga tahun silam.

“Pengendara itu sebenarnya yang membiayai semua proses perawatan hingga pemakaman Ibumu, Nak,” ujar bapak tersebut. “Dan pengemudi itu mengaku dia memang yang bersalah dan sudah mendapat hukumannya. Bapak hanya berharap kamu dan saudarimu bisa mengikhlaskan semuanya,” lanjutnya.
“Sudah Pak, saya sudah ikhlas.”
“Lalu, saudarimu?” tanyanya.
“Sangat sulit baginya Pak, makanya sekarang dia berada di rumah sakit jiwa karena kejadian itu,” jawabku.
“Astaga!” sahut Bapak itu kaget, “Hmm..semoga saudarimu lekas membaik, Nak. Bapak tidak bisa berbuat lebih untuk kalian,” lanjutnya.

Ketika mendengar penuturan Bapak tersebut bahwa ternyata yang membiayai perawatan Ibuku adalah si pelaku, aku sempat terkejut. Tapi rasa terkejut itu tidak membuatku merasa harus berterima kasih kepadanya. Memang sudah seharusnya begitu, bukan?
***

Esoknya aku kembali mengunjungi Kakakku. Seperti biasa, aku berkunjung dengan membawakannya kue labu. Berharap semoga hari ini ada hal baik yang terjadi pada kondisi Kakakku.

“Suster, bagaimana perkembangan kondisi Kakak saya?”
“Masih belum ada, Mbak,” jawabnya, “Setelah Mbak pulang kemarin…..” ucapan perawat itu terhenti.
“Ada apa sus? Kakak saya kenapa?” tanyaku mulai cemas.

“Dia melompat ke tanah lalu bertingkah semakin gila, Mbak. Dia menggaruk-garuk tanah menggunakan ranting yang dipegangnya sambil teriak memanggil “Ibu.. Ibu..” dan nampak juga dia menangis Mbak. Saya sampai dibantu perawat lain saking kewalahannya,” tutur perawat itu.

Penglihatanku mulai menggenang. Perlahan butiran hangat menetes membasahi pipiku. Ternyata Kak Syifa masih amat terpukul dengan kejadian itu. Aku sempat berpikir bahwa mungkin yang menjadi penyesalan terberatnya adalah, ketika dia mematuhi perintah Ibuku untuk tidak ikut berjualan di hari itu. Mungkin itulah hal pertama yang dia ingat sewaktu mengetahui bahwa Ibu tertabrak mobil.

Andai saja ia tahu bahwa itu akan menjadi hari terakhir kami bersama, tentu ia akan bersikeras untuk ikut. Andai saja ia tahu bahwa mungkin Ibu sudah memiliki firasat tentang nasibnya di hari itu, mungkin ia akan berani untuk membantah permintaan Ibu supaya ia tetap di rumah bersamaku. Hal-hal seperti itulah yang menjadi beban pikiranku ketika melihat kondisinya.

“Sekarang dia dimana, Sus?” tanyaku.
“Masih di kamarnya, Mbak. Semalaman dia terus mengerang. Untunglah pagi tadi dia setidaknya bisa tidur dengan nyenyak,” jawab Suster itu.
“Baiklah, biarkan saja dia tidur. Besok saya akan kembali lagi,”
“Baik, Mbak.”
***

Sesampainya di rumah, aku lansung membaringkan diri di ranjang kamar. Entah kenapa sore itu aku merasa begitu letih, padahal aktivitas fisik tidak banyak yang sudah aku lakukan. Aku merasa amat mengantuk. Seakan-akan rasanya tidak pernah ada kantuk yang begitu memaksaku untuk terlelap. Ditambah dengan suasana rumah yang sepi menambah sugesti untuk segera bermimpi. Memang selama ini aku jadi hidup sendiri, semenjak Kakak tinggal di rumah sakit jiwa.

“Sayang, bawa Kakakmu pulang, bawa dia bersamamu. Dia amat menderita di sana. Ingatkan dia akan kenangan-kenangan kita,”

“Ibu? Ibu? Aku mendengar suara Ibu. Ibu dimana? Kenapa gelap sekali?”
“Bawa Kakakmu pulang, sayang. Sembuhkan dia.”
“Ibu? Ibu dimana? Ibuu..”
“Ibuuu…” teriakku.

Mimpi yang membuatku seketika terbangun dan berteriak. Mimpi yang aku harapkan menjadi kenyataan. Ah! Bukankah orang mati tidak bisa hidup lagi. Begitu konyol pikiranku waktu itu. Tapi disisi lain, aku mengingat satu hal. Ibu menyuruhku untuk membawa pulang Kakakku. Aku berpikir apa maksud perkataan Ibu dalam mimpiku itu. Mimpi yang bahkan tidak akan bisa aku lupakan seumur hidupku.

Aku terbangun dalam kondisi tanganku gemetar. Nafasku terengah-engah memikirkan maksud mimpiku itu. Mencoba berpikir jernih, mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah mimpi. Tapi seketika aku bimbang, mencari kepastian justru kebimbangan melandaku dengan hebat. Aku memikirkan mimpi semalaman.
***

“Pagi suster,” sapaku ketika melihat perawat itu sedang bersama Kakakku di taman rumah sakit jiwa itu.

“Iya selamat pagi, Mbak,” balasnya.
“Bagaimana kondisinya hari ini?”
“Seperti yang Mbak lihat, syukurlah dia sudah lebih baik.”

Perasaan yang amat lega menghampiriku ketika melihat kondisi Kakak sudah membaik sejak penuturan perawat itu kemarin. Tujuanku mengunjungi Kakak hari ini bukan hanya ingin membawakannya kue labu saja. Aku sudah membulatkan tekad akan meminta izin kepada pihak rumah sakit untuk membawanya pulang ke rumah. Ya, aneh dan konyol memang. Aku, mempercayai mimpi semalam.

“Apakah benar sesulit itu mendapatkan izin, Sus?” tanyaku.
“Iya Mbak, karena ketika pasien berada di luar, itu akan menambah tanggung jawab kami sebagai perawat.”
“Hanya sebentar saja, Sus. Saya mohon dengan amat sangat,” pintaku, “Saya janji ini tidak akan lama. Saya hanya berniat memperlihatkannya kenangan-kenangan kami saja.” Lanjutku.
“Baiklah, akan saya usahakan, Mbak.”
***

Pagi itu akhirnya mobil pasien rumah sakit jiwa berangkat menuju rumah kami. Dengan didampingi tiga orang perawat beserta supir. Dua perawat laki-laki dan seorang perawat perempuan yang biasa merawat Kakakku. Mereka dengan pakaian seragam biru muda menemani perjalanan kami. Bersyukur bahwa Kakakku tidak mengerang atau tidak mengamuk ketika akan dibawa, dia seperti manut saja ketika di gandeng menuju mobil. Tidak bertanya, tidak berkata apa-apa. Hanya menampilkan ekspresi kosong dengan ranting selalu berada dalam genggamannya.

Bahkan ketika sampai di depan rumah pun dia tidak masih saja patuh. Melangkah dengan tenang sambil terus di gandeng oleh perawat-perawat itu. Awalnya aku berpikir niatku ini akan berhasil, sampai akhirnya semuanya gagal.

“Tidaaak…Pergi…Tidaaak…Hahaha….” teriak Kakakku ketika kita baru saja sampai di pintu. Dia mengamuk. Mengerang dan berusaha melawan para perawat itu.

Perawat-perawat dengan sigap mengambil tindakan. Mengikat tangan dan kaki Kakakku dengan tali yang mereka sudah siapkan. Dengan segera mereka membawa kembali Kakakku.

Aku yang menyaksikan kejadian itu amat menyesalinya. Betapa bodohnya aku sehingga mempercayai mimpi semu. Betapa putus asanya aku sehingga menuruti perkataan Ibuku yang hanya hadir lewat mimpi.
***

“Sayang, bawa Kakakmu pulang…bawa dia bersamamu. Dia amat menderita di sana. Ingatkan dia akan kenangan-kenangan kita,”
“Ibu? Ibu? Aku mendengar suara Ibu. Ibu dimana? Kenapa gelap sekali?”
“Bawa Syifa pulang, sayang. Sembuhkan Kakakmu.”
“Ibu? Ibu dimana? Aku tidak bisa melakukannya. Ibuu…!”
“Bawa Syifa pulang, sayang. Sembuhkan Kakakmu.”
“Ibuu..!” teriakku seketika terbangun.

Lagi-lagi mimpi yang sama kembali muncul malam itu. Aku terbangun dengan keringat bercucuran didahiku. Aku gemetar dan nafasku terengah-engah, sama seperti kemarin. Apa maksud semua ini?. Kenapa mimpi yang tidak bisa aku wujudkan terus mendatangiku?. Aku berpikir keras malam itu. Mencoba menjernihkan pikiran. Aku bangun dari tempat tidur, lalu mondar-mandir sambil memikirkan apa maksud dibalik semua mimpi itu. Mungkin ada sesuatu yang berusaha Ibu sampaikan kepadaku melalui mimpi.
***

Keesokan harinya aku kembali mengunjungi Kakak. Seperti biasa, aku bertemu dengan perawat perempuan yang biasa merawat Syifa.
“Apa kemarin Kakak saya baik-baik aja, sus?” tanyaku.

“Iya, Mbak. Syukur kejadian kemarin tidak berlansung lama. Dia kembali tenang ketika kami dalam perjalanan,” jawabnya, “Hal itu terjadi mungkin karena dia merasa tidak nyaman berada di lingkungan asing. Lingkungan yang tidak biasa dia lihat,” sambungnya.

“Tapi rumah itu ‘kan tempat tinggal kami dulu, sus,” tukasku.
“Memang, Mbak. Tetapi bisa jadi ketika dia dibawa kembali ke hal-hal di masa lalu yang membuatnya sedih, maka kemungkinan besar kejadian kemarin bisa saja terjadi.”

“Tapi, Mbak. Saya mohon untuk sekali lagi mengizinkan dia supaya dibawa ke rumah kami,” ujarku, “Kali ini, adalah kali terakhir saya meminta hal ini, sus. Tolong izinkan saya, sus. Saya mohon,” pintaku sambil menangis dihadapan perawat itu.

Aku tidak tahu mengapa aku tiba-tiba menangis. Air itu dengan sendirinya keluar dari mataku. Saat itu aku hanya berharap bahwa aku akan diizinkan membawanya pulang, sekali lagi. Dan setelahnya, apapun yang terjadi aku tidak akan meminta hal ini lagi.
***

Rupanya Tuhan masih memberiku kesempatan. Setelah aku memohon-mohon untuk diizinkan, akhirnya Kakakku dibawa kembali lagi ke rumah kami. Namun para perawat yang mendampingi kami berpesan bahwa ini kali terakhir aku diizinkan. Mereka adalah perawat yang sama yang mendampingi Kakakku kemarin.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku tiada henti berdo’a semoga hari ini hal baik terjadi. Walaupun dalam hati kecilku merasa bahwa hal ini mustahil untuk diharapkan, tetapi aku meyakinkan diri. Selama masih ada harapan, sekecil apapun itu, aku akan memperjuangkannya.
***

Begitu tiba di depan rumah dan melangkah perlahan hingga sampai di depan pintu, aku merasa tenang sebab Kakakku tetap diam dan menurut saja ketika diajak masuk. Tidak ada suara teriakan ataupun tindakan penolakan darinya.

Aku memutuskan untuk mengajaknya lansung ke kamar Ibu. Dia menurut saja ketika perawat itu menggandeng tangannya. Sampai akhirnya aku menceritakan tentang kejadian yang selama ini berbulan-bulan aku selidiki. Menceritakan kronologis kematian bidadari kami. Bahkan semua kenangan yang aku miliki bersama Kakak dan Ibu aku ceritakan kembali.
Dia hanya diam, menatap lantai dengan tatapan kosong. Butiran hangat itu kembali menetes dari pelupuk mataku. Aku merasa ini perbuatan sia-sia. Namun segera aku menghapusnya.

Lalu seketika aku teringat akan baju-baju peninggalan Ibu. Baju-baju yang masih simpan rapi dalam lemari pakaiannya. Aku mengambil beberapa potong baju yang menurutku sering Ibu kenakan dulu. Aku juga mengambil beberapa potong baju milik Ibu yang dulu sempat aku jahitkan. Aku mengeluarkannya dari dalam lemari dan menciumnya.

Lalu aku bawa ke hadapan Syifa. Meletakkannya dipangkuan Syifa sambil menceritakan bagaimana sosok Ibu. Aku mengusap lembut kepala Kakak sambil menangis menceritakan kehidupan bahagia kami dulu. Namun Syifa hanya diam mendengarkan, menatap baju-baju yang berada dipangkuannya.

Tapi tiba-tiba dia menoleh ke arahku dengan kondisi matanya berkaca-kaca. Aku terkejut bukan main. Tapi itu hanya berlansung beberapa detik saja, sebelum kemudian dia kembali menunduk, menatap baju-baju itu dengan tatapan kosong. Perawat itu tampaknya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya duduk disampingnya.

Aku menunduk, menelungkupkan wajahku dengan kedua tanganku. Menangis tersedu-sedu memikirkan apa yang sudah aku lakukan?. Tidak peduli seberapa keras usahaku, hasilnya akan selalu sama. Namun tidak disangka ketika aku merasa hampir menyerah seperti itu, suara lembut memanggilku,
“Syila…adikku.”
***

Pembagian Kuota Internet Belum Merata, ini Kata WR II

0

Media Unram – Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unram Kurniawan, angkat bicara terkait tidak meratanya pembagian kuota internet kepada seluruh mahasiswa Unram.

“Yang bermasalah adalah pemilik kartu simpati. Sedangkan kartu lain, Alhamdulillah tidak ada masalah,” ungkap Kurniawan kepada Media Unram saat dikonfirmasi via WhatsApp, Jumat (19/6).

Kurniawan menjelaskan, sebelumnya, pihak kampus melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram memberikan waktu kepada mahasiswa agar mengisi kembali nomor seluler di SIA Unram hingga Rabu, (17/6) lalu. Tetapi sampai dengan hari ke lima UAS, masih banyak mahasiswa yang belum mendapatkan kuota internet.

“Terkait masalah mahasiswa yang belum mendapatkan kuota, saya belum ada laporan,” lanjut Kurniawan.
Kurniawan mengatakan, bagi mahasiswa yang belum mendapatkan kuota internet dari kampus, agar segera memberikan data kepada kami melalui BEM.

Pada waktunya yang sama, Media Unram juga mewawancarai salah satu ketua perhimpunan mahasiswa prodi, Usmariadi. “Terkait data, kami sudah menyerahkan data kepada pihak BEM. Tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan terkait itu,” beber Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Unram ini.

Orang yang biasa disapa Us ini juga menjelaskan, pihak BEM mengatakan bagi mahasiswa yang belum mendapatkan kuota internet sejak awal, akan memperoleh kuota dobel.

“Untuk mahasiswa sosiologi saja sekitar 50 orang yang belum mendapatkan kuota internet. Dan sampai sekarang belum ada,” lanjut Us.

Mahasiswa yang berasal dari Lombok Utara ini berharap, semoga Unram segera mendistribusikan kuota kepada mahasiswa. “Semoga ada titik terang, terkait masalah ini. Kasihan teman-teman yang sedang melakukan UAS, jangan sampai terkendala karena kuota internet,” pungkasnya. (khn)

Banyak Mahasiswa Belum Dapat Kuota Internet, Ketua Himasos: Unram Jangan PHP

0

Media Unram – Hingga hari ke lima Ujian Akhir Semester (UAS), kuota internet yang disediakan oleh Unram belum sepenuhnya didapatkan oleh mahasiswa.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Usmariadi menjelaskan, banyak mahasiswa yang belum bisa mendapatkan kuota dari Unram. “Ini menjadi perdebatan di grup ketua himpunan Unram,” ungkapnya saat diwawancarai Media Unram via WhatsApp, Jumat (19/6).

Lebih jauh dia menjelaskan, sebelum UAS pihak Unram mengatakan akan mendistribusikan kuota internet kepada seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.

“Bahkan banyak yang belum mendapatkan sejak bulan lalu. Dan hari ini, masih ada mahasiswa yang belum mendapatkan kuota. Padahal UAS sedang berlangsung,” lanjut orang yang biasa disapa Us ini.

Us berharap agar pihak Unram segera memberikan kuota kepada seluruh mahasiswa. “Unram jangan PHP. Kasihan teman-teman yang sedang melakukan UAS, jangan sampai terkendala karena kuota. Semoga aja ada titik terang nantinya,” pungkasnya. (khn)

Kawan

0

Oleh: Khan, Mahasiswa Jomblo Pecinta Kopi.

Kawan, bagaimana kabar kalian? Sudah lama kita tidak berjumpa ya

Kawan, tak rindukah kalian saat kita duduk melingkar bersama?

Menikmati secangkir kopi di pinggir jalan,
Membahas persoalan yang ada; Mulai dari tugas, kampus, gadis, hingga kondisi negara yang tengah krisis.

Kawan, taukah kalian, bahwa hari ini aku sedang mengkhawatirkan keadaan kita.

Nilai akhir, kuota internet dari kampus yang akan berakhir.

Kawan, ngomong-ngomong, apakah kalian sudah membaca berita?
Tentang hukuman bagi pelaku yang menyiram air keras, hanya mendapatkan ganjaran satu tahun penjara.                                 Alasannya, karena tidak sengaja. Padahal, cacat mata seumur hidup adalah akibatnya.
Pasti sudah ya.

Oh iya kawan, terkait masalah tentara, yang viral karena meminta presiden untuk turun dari jabatannya,          Justru malah dia dipecat dari dari jabatannya.

Tentara yang dipenjara karena menangkap TKA,                     walaupun dalam berita yang tersebar dia dipenjara karena terlibat dalam kasus pembunuhan.

Padahal, yang dibunuh itu adalah seorang pencuri kelas berat,          orang yang selalu membuat resah masyarakat.

Yang membuat ku heran kawan, kasusnya kapan, waktu penangkapnya kapan.

Apakah kalian tau itu?

Kawan, aku sedih, ketika TKA asing sudah banyak masuk ke Indonesia. Merampas hak kerja masyarakat kita. Tapi, itukan berita lama, sudah lumrah. Hahaha… TKA dapat kerja, warga sendiri merana.

Kawan, sejenak, mari kita sisihkan sedikit waktu untuk mendoakan Indonesia. Semoga lekas sembuh, baik dari virus corona maupun dari virus hukum negara.

Kawan, ingat, jaga diri mu,
Kita akan bertemu dengan keadaan yang baru. Dengan semester yang baru pula.

Pojok kamar, 15 Juni 2020.

Wisuda Online Unram Ditunda

0

Media Unram – Rencana wisuda online yang akan dilaksanakan Unram pada 18 Juni 2020 ditunda dengan alasan pendaftar yang jumlahnya sangat sedikit.

Berdasarkan SE Nomor 526/UN18.1/EP/2020 beberapa pilihan untuk calon wisudawan dan wisudawati yang sudah mendaftar yaitu:
a. Semua biaya wisuda dikembalikan dengan rincian:
– Pembelian toga Rp 250.000,-
– Buku dan Kartu IKA Rp 75.000,-
– Bagi wisudawan dan wisudawati yang membayar biaya pengiriman saat mendaftar pengiriman, biaya pengirimannya Rp 50.000.
Bagi yang memilih poin a, hanya mengembalikan kelengkapan atau toga yang pernah diterima.

b. Sebagian biaya wisuda dikembalikan
– Buku dan Kartu IKA Rp 250.000,-
– Bagi wisudawan dan wisudawati yang membayar biaya pengiriman saat mendaftar pengiriman, akan dikembalikan Rp 50.000.
Bagi yang memilih poin b, pada saat dibukanya kembali pendaftaran wisuda , maka tidak perlu lagi membayar biaya pembelian toga.

c. Biaya wisuda tidak dikembalikan
Bagi yang memilih poin c , pada saat dibukanya kembali pendaftaran wisuda, maka tidak perlu lagi membayar biaya pembelian toga, buku dan kartu IKA serta biaya pengiriman. Ini berlaku bagi wisudawan dan wisudawati yang sudah membayar biaya pengiriman saat pendaftaran.

Khusus para wisudawan dan wisudawati yang memilih pengembalian biaya wisuda harus mengikuti mekanisme yang tertera di  http://wisuda.unram.ac.id. Kemudian, mengisi isian nomor rekening pengembalian biaya wisuda. Pengisian nomor rekening ini mulai dapat dilakukan pada 19-30 Juni 2020. Pengembalian biaya dilakukan melalui nomor rekening sesuai dengan yang diisi oleh pendaftar. Pelaksanaan wisuda periode Maret 2020 yang sempat tertunda akan tetap dilaksanakan dalam waktu yang belum dapat ditentukan. (lnf/b)

Nomor Satu

0

Michael Waroy

Engkau yang selalu jadi nomor satu,
Ku ingin kau tau betapa aku merindu,
Rinduku begitu parah hingga membatu,
Dan kau adalah mantra untuk melunakkannya,
Aku yang pergi terlalu aksa,
Hatiku terus meronta-ronta,
Sebab menanggung rasa.

Hai kau yang nomor satu,
Di sini aku sendiri tanpa ada yang memahamiku,
Seperti bayi yang masih belajar bicara,
Sedang kau laksana ibu yang memahami anaknya.

Kau memang nomor satu dan satu-satunya,
Entah kapan kita berjumpa,
Semoga aku bisa mendapat mantra,
Sebelum kejamnya mati tiba.

Mataram, 11 Juni 2020

Hari Lahir Pancasila di tengah Pandemi Covid-19

0

Oleh : Hasan Ikhtiar Akbar
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mataram

“Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang ku kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah”(Ir. Soekarno).

Pada 1 Juni 1945 Pancasila di rumuskan oleh Bung Karno dan para Founding Fathers. Tentu ini tidak berjalan mulus, akan tetapi ada beberapa gejolak yang dialami bangsa dan Founding Fathers sehingga terciptanya titik terang Pancasila. Dan kini Hari Lahir Pancasila di peringati setiap tahun, yakni pada 1 Juni. ĹppĺPancasila merupakan dasar negara bangsa Indonesia serta pedoman hidup bagi warga negara Indonesia dan diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa dalam bernegara.

Menurut Muhammad Yamin, Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.

Seharusnya bangsa Indonesia bangga dengan Pancasila, sebab Pancasila merupakan ideologi yang lengkap. Apabila diimplementasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, akan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan.

Namun kenyataannya, penerapan Pancasila masih jauh panggang dari api. Apalagi pada situasi sekarang ini, di tengah merebaknya Virus Corona sangat jauh dari harapan. Yang terjadi kini bukan penerapan Pancasila, melainkan pergeseran Pancasila. Ketuhanan yang menjadi pilar utama moralitas, telah diganti dengan keuangan yang terbatas. Kemanusiaan yang akan mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, telah diganti dengan kebiadaban. Semangat persatuan telah berubah menjadi pergolakan dan perdebatan, semangat para Founding Fathers telah sirna atas perbuatan yang merusak etika. Permusyawaratan sebagai sikap kekeluargaan sudah jarang dilakukan, sifat individualisme makin menjadi jadi. Bahkan semakin terang diperlihatkan. Sementara keadilan sosial telah berubah menjadi keculasan dan keserakahan. Tanpa memikirkan hak-hak yang semestinya mendapatkan bantuan.

Penerapan Pancasila belum benar-benar dilaksanakan secara murni, serta konsekuen dalam kehidupan sehari-hari berbangsa dan bernegara. Implementasi makna Pancasila dirasakan masih jauh dari harapan. Karena masih banyak hal-hal yang tidak sepadan dengan kandungan yang ada di Pancasila. Sebab di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai umum sekaligus khusus yang menjadi pengikat bangsa ini.

Perekonomian bangsa saat ini sedang dalam bayang-bayang, para pekerja banyak di PHK karena perusahaan kesulitan untuk menanggung beban biaya tenaga kerja. Penurunan permintaan pasar yang ekstrim membuat perusahaan harus melakukan penghematan biaya operasional. Apabila hanya berpaku pada pengendalian kesehatan saja. Perekonomian masyarakat dan pemerintah akan memburuk. Ini adalah tugas bersama agar bagaimana dua hal yang sangat penting ini menjadi seimbang.

Menurut penulis masyarakat harus tetap melakukan aktivitasnya dalam menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19 ini. Hanya saja, tentunya harus dengan tetap menerapkan disiplin New Normal. Tetap menjalankan protokol kesehatan, sebagai fase yang sudah mulai dijalani oleh masyarakat sekarang ini.

Berbicara mengenai New Normal. Dalam aspek sosiologis New Normal saling terkait dengan perubahan sosial. Perubahan sosial sering melahirkan pro kontra. Dikarenakan adanya pemaknaan yang saling bertentangan. Oleh karena itu pemerintah harus benar-benar mensosialisasikan agar masyarakat tidak gagal paham yang mengakibatkan kesengsaraan.

Merujuk pada Teori Fungsionalisme Talcot Parsons. Masyarakat layaknya seperti organ tubuh manusia, yang saling terikat dan berhubungan satu sama lain. Artinya guna mencegah penyebaran Covid-19 tentu harus adanya koordinasi yang harmonis, jangan ada berita yang simpang siur antara masyarakat dan pemerintah. Dan ini penting untuk menjaga stabilitas dalam masyarakat. Covid-19 ini merujuk pada bentuk perubahan sosial tidak terencana. Perubahan sosial ini terjadi di luar kehendak dan pengawasan masyarakat, sehingga banyak menimbulkan pertentangan di antara masyarakat.

Kini Covid-19 per tanggal 31 Mei 2020 pagi telah mencapai 25.773 kasus, ini merupakan angka yang cukup tinggi bagi sebuah negara. Ini terjadi karena kurangnya perhatian dan kerjasama antara seluruh warga Indonesia. Masih banyak masyarakat yang ngeyel akan kesehatan dan keselamatan. Masih banyak masyarakat yang sok kebal (anti Corona).

Masa wabah bukan berarti tidak bisa apa-apa, justru menjadi kesempatan untuk saling menjaga, memanfaatkan waktu yang ada untuk beribadah kepada yang maha kuasa. Kini bulan suci ramadhan telah berlalu, hal ini mengakibatkan masyarakat semakin banyak yang berlalu lalang melakulan aktivitas di luar rumah. Hal ini menyebabkan di beberapa daerah menerapkan masuk desa wajib memakai masker. Ini merupakan langkah yang tepat selain penyemprotan disinfektan di setiap daerah dan cuci tangan menggunakan sabun serta penerapan pola hidup sehat. Tentu ini digelar guna pencegahan penyebaran Covid-19 yang semakin meningkat.
Dengan demikian jika merujuk pada kekuatan Pancasila. Penerapan Pancasila dengan sungguh-sungguh akan memudahkan semua dalam mengatasi merebaknya Covid-19 ini. Karena di dalam setiap sila Pancasila sangat jelas arah dan tujuannya. Mari sama-sama bersatu, jauhkan ego masing-masing, saling memperhatikan dan berperilaku baik dan adil demi keberlangsungan hidup yang benar-benar kembali normal.

Terakhir untuk superhero saat ini (tenaga medis) tetap semangat dalam menjalankan tugas di sini kami membantu lewat doa dan tindakan yang dapat mencegah Covid-19 dengan diam dirumah apabila tidak ada hal yang sangat penting dan mendesak, selalu menjaga pola hidup sehat. Semoga tidak ada lagi masyarakat yang melanggar etika. Akan ada saatnya bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta. Semoga Allah membalas semua kebaikan-kebaikan yang telah diberikan untuk masyarakat dan bangsa. Aamiin.