23.9 C
Mataram
Thursday, June 11, 2026
spot_img
Home Blog Page 89

KSR-PMI Unram Adakan Sosialisasi New Normal di Beberapa Wilayah NTB

0
KSR-PMI Unit Unram. (Foto: Ist)

Media Unram – Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) Unit Universitas Mataram (Unram) mengadakan sosialisasi new normal di beberapa wilayah Kabupaten/Kota yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan ini dilaksanakan pada 20-26 Juli 2020.

Ketua KSR PMI Unit Unram, Ari Sandi menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk membantu pemerintah dalam memberikan pemahaman tentang new normal kepada masyarakat, sehingga dapat beraktivitas seperti biasa dengan menerapkan protokol Covid-19.

“Agar masyarakat tidak kaku dan ragu dalam beraktivitas meski harus berdampingan dengan Covid-19,” kata orang yang disapa Sandi ini saat dihubungi Media Unram via WhatsApp, Jumat (24/7).

Seperti yang diketahui, beberapa wilayah di NTB telah membuat aturan terkait penerapan new normal sekaligus melakukan upaya pencegahan Covid-19. Masyarakat diharapkan mengikuti aturan tersebut dengan selalu menerapkan protokol kesehatan. Peran itu juga yang dilakukan oleh KSR PMI Unit Unram untuk membantu menyosialisasikan new normal.

Sandi juga mengatakan, bahwa kegiatan ini dilaksanakan di dua desa setiap Kabupaten/Kota yang ada di NTB.

Salah satu masyarakat Ampenan, Maskanah menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, untuk  mengetahui cara mencegah diri agar tidak terkena Covid-19 selama beraktivitas.

“Saya senang dan ini sangat membantu,” ucapnya.

Maskanah berharap, pandemi ini segera berakhir. “Semoga virus ini cepet berlalu, yang sakit mudahan cepet sembuh,” pungkasnya. (cnk)

Panitia Debat Mahasiswa Unram Dinilai Inkonsisten

0

Media Unram – Salah satu peserta debat mahasiswa, Sulaiman Perawira Sasakadi menganggap tidak ada pedoman dan transparansi penilaian terkait lomba yang diadakan Universitas Mataram (Unram).

Mahasiswa angkatan 2018 Prodi Ilmu Komunikasi (Ilkom) ini menganggap panitia penyelenggara tidak konsisten.

“Pukul 17.00 pengumuman peserta yang lolos ke semi final berbeda dengan pengumuman pada pukul 19.00,” katanya kepada Media Unram, Kamis (23/7).

Orang yang biasa disapa Adi ini menjelaskan, awalnya tim dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Argument hanya satu yang lolos ke semi final.

“Awalnya tim saya dan UKM Argument A lolos. Namun pada pengumuman kedua, tim saya tidak lolos, diganti oleh tim Argument B. Jadi 2 tim dari  Argument lolos semua,” bebernya.

Lebih jauh Adi menjelaskan, panitia penyelenggara juga tidak memberikan kesempatan bertanya bagi peserta.

“Panitianya tidak ada akhlak. Peserta mau nanya di grup whatsapp saja tidak diberikan izin, bahkan dikeluarkan,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, seharusnya Wakil Rektor (WR) III dan juri memberikan klarifikasi terkait masalah ini.

“WR III dan juri kok tidak memberikan karifikasi, justru orang yang tidak berkapasitas yang diturunkan,” pungkas Adi. (khn)

 

Tahun ini Unram Tetap Adakan Lomba Debat Secara Online

0
Budi, (Foto: tim)

Media Unram – Tampaknya Covid-19 tidak mengahambat bagi Universitas Mataram (Unram) untuk melaksanakan lomba debat mahasiswa. Mulai dari kemarin, Rabu (22/7) hingga Jumat (24/7), lomba tersebut tetap berlangsung secara online.

Salah satu panitia penyelenggara, Budi mengatakan, walaupun sudah memasuki massa new normal lomba tersebut tetap diadakan online. “Perlombaan ini harus tetap dilaksanakan, karena ini merupakan perlombaan wajib Unram,” katanya saat dikunjungi oleh Media Unram disela-sela mempersiapkan perlombaan.

Budi menjelaskan, untuk debat bahasa Inggris, National University Debating Championship (NUDC) diikuti oleh 12 tim; 8 tim dari fakultas, 2 tim dari Program Studi (Prodi), dan 2 tim dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Sedangkan untuk Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI), diikuti oleh 14 tim; 8 tim dari fakultas, 3 tim dari Prodi, 2 tim dari UKM Argument, dan 1 tim dari UKM Prima.

“Setiap peserta diseleksi dari masing-masing fakultas, Prodi, dan UKM-UKM agar bisa mengikuti,” katanya.

Dalam lomba ini, lanjut Budi, dibagi menjadi beberapa sesi dengan waktu 100 menit. “Untuk pagi jam pukul 11.00 Wita dan pukul 17.00 Wita,” ungkapnya.

Dia juga menjabarkan, bagi peserta yang terkendala kuota internet dan jaringan, disarankan agar mendatangi kampus dan menggunakan Wifi yang telah disiapkan.

“Tiap-tiap fakultas dan beberapa tempat seperti perpus kan ada Wifi, jadi mereka bisa menggunakan itu,” katanya.

Untuk tim penilaian, kata Budi, panitia penyelenggara mengundang beberapa alumni Unram dan dosen dari universitas lain.

“Mereka yang menjadi tim penilaian merupakan orang-orang yang hebat dan sudah berpengalaman,” tutupnya. (tim)

Stop, Jangan Lagi Ada Dosen Cabul di Unram

0
Ainun Jariah (foto: ist)

Media Unram – Salah satu aktivis perempuan Universitas Mataram (Unram), Ainun Jariah turut berkomentar terkait kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum dosen Fakultas Hukum (FH), (19/7) lalu. Menurutnya, pelaku pencabulan tersebut harus diberikan hukum yang pantas, seperti hukuman pidana maupun administrasi.

Anggota Forum Pengkaji Konsitusi (Formasi) ini juga berharap pihak kampus dan kepolisan mengawali kasus ini hingga selesai.

“Ya walaupun korban hanya meminta dosen pembimbingnya diganti, setidaknya kasus ini harus selesai, agar tidak terjadi lagi,” beber Ainun kepada Media Unram, Rabu (22/7) sore.

Ainun menjelaskan, keputusan pihak Unram untuk mengeluarkan oknum dosen dari jabatannya adalah langkah yang tepat. “Stop, jangan sampai kampus sekelas Unram memiliki dosen-dosen berotak cabul. Jika masih ada dosen seperti itu, lebih dikeluarkan,” tegasnya.

Perempuan kelahiran Bima ini juga mengimbau kepada seluruh mahasiswa/i untuk meningkatkan kewaspadaan  terhadap segala bentuk bentuk pelecehan seksual, baik di dalam maupun dl luar lingkungan kampus. “Saya mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman untuk selalu waspada,” katanya.

Pada ujung pembicaraanya bersama Media Unram, Ainun berharap, ini adalah kasus pencabulan terakhir yang yang terjadi di Unram maupun universitas lain. “Semoga tidak ada lagi kasus seperti ini di dalam lingkungan kampus,” pungkasnya.

Sebelumnya, oknum dosen yang melakukan pencabulan dengan inisial NIN ini telah menjalani  sidang Dewan Kode Etik Fakultas Hukum Unram, Selasa (21/7) lalu.

Berdasarkan hasil sidang yang dimpimpin Ketua Dewan Kode Etik FH Unram, Prof. Zainal Asikin SH MH dan belasan dosen yang tergabung di dalamnya, oknum dosen tersebut dipecat dari jabatannya sebagai Sekretaris Bagian di jurusan Hukum Pidana FH Unram. (adk/khn)

Ratusan Orang Menandatangani Petisi Agar Rektor Unram Mengusut Tuntas Dugaan Pelecehan Seksual

0
Ilustrai Petisi (ist)

Media Unram – Ratusan orang telah menandatangani sebuah petisi yang diajukan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknnum dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (FH Unram), Senin (20/7).

Berdasarkan pengamatan Media Unram, hingga saat ini, pukul 14.12 WITA, sebanyak 125 orang telah menandatangani petisi yang dibuat oleh Nur Janah ini.

Pelecehan seksual yang dialami perempuana/ laki-laki dikampus akhir-akhir ini sudah mulai disuarakan oleh korban. Fenomena ini bukan hanya terjadi di kampus pinggiran, tapi diUnivesitas ternama di Indonesia. Nusa Tenggara Barat kali ini dikejutkan dengan munculnya kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen Fakultas Hukum. Kejadian ini dilakukan dengan modus konsultasi skripsi yang dilakukan diruang tertutup, bahkan sampai ke kediaman oknum dosen. 

Relasi kuasa antara dosen dengan mahasiswa/wi membuat tidak banyak korban yang berani melaporkan secara terbuka. Ketakukan akan tidak diluluskan, diberikan nilai yang rendah, tidak diikutkan dalam kelas oknum dosen (pelaku) menjadi momok tersendiri bagi korban. Katanya dalam petisi.

Seperti yang diketahui, salah satu oknum dosen FH Unram diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswi yang sedang berkonsultasi skripsi. Karena melihat ruang dan waktu potensi terjadinya pelecehan seksual dilingkungan kampus, menjadi penyebab mereka menuntut agar Rektor Unram.

Adapun tuntuan yang dibuat sebagai berikut:

1. Membentuk tim investigasi independent untuk mengusut tuntas dugaan pelecehan seksual yang terjadi dilingkungan Fakultas Hukum dan semua Fakultas di UNRAM .

2. Membahas secara terbuka hasil temuan tim investigasi indepentent sebagai wujud edukasi kepublik, serta  memastikan akuntabilitas.

3. Menyediakan SOP terkait dengan mekanisme konsultasi  tugas-tugas perkuliahan.

4. Menyediakan sistim  layanan/ mekanisme pengaduan yang ramah bagi korban untuk melapor.

Untuk menandatangani petisi tersebut, bisa mengunjungi https://www.change.org/p/gubernur-ntb-usut-tuntas-kasus-dugaan-pelecehan-seksual-di-unram?recruiter=30709405&utm_source=share_petition&utm_campaign=psf_combo_share_initial&utm_medium=whatsapp&recruited_by_id=acac8260-da78-012f-a1bc-40401fa5e37a (khn)

Sedang Konsul Skripsi, Mahasiswi Diduga Dicabuli Dosen

0

Media Unram – Seorang oknum dosen di Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) diduga cabuli mahasiswi. Kasus tersebut terungkap setelah keluarga korban membeberkan dugaan pencabulan tersebut pada pihak kampus.

Diduga, aksi pencabulan dilakukan saat korban tengah melakukan konsultasi skripsi di salah satu ruangan Fakultas Hukum.

Rektor Unram, Prof. Lalu Husni yang dihubungi belum lama ini enggan berkomentar banyak. Ia meminta media menghubungi Wakil Rektor III Unram.

“Masih ada acara, ke WR III saja,” katanya melalui aplikasi pesan instan.

Sementara Dekan Fakultas Hukum Unram, Dr. Hirsanuddin, mengatakan kasus tersebut dalam proses verifikasi.
“Kami baru dapat informasi tentang masalah tersebut. Kami sekarang sedang melakukan verifikasi terhadap yang bersangkutan terlebih dahulu baru kami bisa informasikan,” ujarnya belum lama ini.

Ia mengatakan, pada Senin besok oknum dosen bersangkutan akan dilakukan sidang etik terkait kasus tersebut. Sidang etik akan digelar di Unram secara terbuka.

Ketua Majelis Etik Fakultas Hukum Unram, Prof. Zainal Asikin menyarankan agar kasus tersebut dibawa ke aparat penegak hukum, sehingga dari penyidikan hingga hasil putusan pengadilan, Majelis Etik dapat mengeluarkan putusan terhadap oknum dosen tersebut.

“Kita bicara sanksi, norma hukum berbeda dengan norma etik dan berbeda sanksinya. Tidak bisa orang melanggar kode etik dihukum dengan norma hukum,” katanya.

“Kalau pelanggaran kode etik hukuman terberat penurunan pangkat, (dan) pencopotan jabatan sebagai sekretaris jurusan. Kalau mau dihukum pecat maka lihat UU ASN yaitu kalau dihukum pidana dengan ancaman hukuman lima tahun,” imbuhnya.

Namun ia mengatakan akan tetap berikan sanksi maksimal terhadap oknum dosen tersebut. “Insyaallah kita akan kenakan sanksi yang maksimal,” ujarnya. (red)

Sumber: KoranNTB.com

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof Dr Enny Yuliani membenarkan bahwa ada dugaan pencabulan yang dilakukan oknum dosen FH Unram. “Saya mendapatkan informasi dari WD III FH,” katanya kepada Media Unram via WhatsApp, sore tadi. (*)

 

Desa “BISA” NTB, Terobosan Untuk Memajukan Wisata Ditengah Pandemi

0
Kanan, Wabup NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Foto; www.ntbprov.go.id)

Media Unram – Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengatakan desa wisata akan kembali ramai dikunjungi, jika pengelola mampu memberikan rasa aman dan sehat kepada para wisatawan. Oleh karena itu, program Desa Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) yang didorong oleh Kementerian Pariwisata dan ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) harus diperjuangkan dan didukung, karena menjadi kebutuhan pariwisata di masa yang akan datang.

“Pariwisata yang kita perjuangkan tidak bisa dipisahkan dengan konsep sehat dan aman, tidak hanya wisata indah dan bersih saja,” ucap Wagub dalam sambutannya saat meluncurkan Desa Wisata dan program BISA di Dermaga Tawun, Desa Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (18/7).

Wabup menjelaskan, bahwa pariwisata yang ada di Kabupaten Lombok Barat terus mengalami kemajuan yang membanggakan. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas semua pihak untuk memberikan edukasi kepada masyarakat maupun wisatawan agar tetap mematuhi protokol kesehatan.

‘’Kalau wisatawan sudah melihat keindahan, merasakan kemanan serta kebersihannya tetap terjaga. Maka rasa rindu mereka untuk berkunjung akan terus tumbuh,” tegas orang yang biasa umi Rohmi ini.

Umi Rohmi berpesan, pembangunan destinasi wisata di Kabupaten Lombok Barat harus mengutamakan dan sejalan dengan kelestarian alam. “Jangan sampai membangun namun tidak memperhatikan kelestarian alam,” katanya.

Tidak lupa juga dia menekankan pentingnya bagi daerah wisata untuk mematuhi protokol Covid-19 sebagai syarat hidup aman dan produktif di masa pandemi. “Kita tidak boleh bosan dengan protokol Covid-19, kita tidak bisa memilih salah satunya apakah aman atau produktif, harus keduanya,” ujar Rektor Universitas Hamzanwadi tersebut.

Dengan demikian, lanjutnya, tanggung jawab yang paling utama adalah menjaga lingkungan agar tetap indah dan aman bagi siapapun yang berkunjung. “Semangat berjuang dengan slogan ‘clean, safety dan environment’ ini benar-benar harus diwujudkan. Bukan hanya slogan saja,” tegas Wabup.

Senada dengan itu, Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid mengatakan, destinasi wisata di Sekotong merupakan masa depan Kabupaten Lombok Barat, karena potensi alamnya yang luar biasa. Untuk itu, banyak hal yang harus disiapkan oleh pemerintah, terutama penataan lingkungan serta menyediakan fasilitas pendukung lainnya.

“Pemda telah menyusun peraturan bupati tentang penataan destinasi wisata. Supaya wisata ke depannya betul-betul ditata dengan baik,” tegasnya.

Fauzan menjelaskan, secara umum isi peraturan bupati tersebut adalah mengatur semua kelas hotel yang dibangun oleh para investor harus berstandar kecuali homestay milik masyarakat. Kemudian, Pemda juga mengatur hal-hal detail lainnya seperti, penempatan kabel yang mengharuskan semuanya underground atau dibawah tanah.

“Demikan pelabuhan, hanya tiga yang kami izinkan untuk boleh dibangun. Dua milik swasta dan satu pelabuhan milik pemerintah,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Fauzan, pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah mengembangkan 57 desa yang akan diprioritaskan sebagai desa wisata. Semua desa-desa wisata tersebut secara bertahap akan dilakukan digitalisasi.
“Sehingga websitenya akan tersambung dengan website Dinas Pariwisata Lombok Barat. Dan Pemda Lobar akan membantu semaksimal mungkin untuk mempublikasikannya. Ini menunjukan kita memiliki atensi besar terhadap pengembangan wisata, termasuk dalam menjaga lingkungan pesisir kita,” tutup Bupati Lobar. (khn)

Karena Mules, Ketua DPRD Tidak Bisa Menemui Aksi Tolak Omnibus Law

0

Media Unram – Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat NTB mendatangi kantor DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (16/7).  Dalam aksi ini mereka mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi NTB untuk mewujudkan pendidikan gratis melalui pengalokasian anggaran APBD dan lima tuntutan lainnya kepada wakil rakyat. Namun sayang, mereka tidak bisa menemui Ketua DPRD karena mules.

Menurut pengamatan Media Unram, massa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi seperti, BEM Unram, BEM NTB RAYA, KAMMI, SMI, LMND, HMI MPO, PMKRI, dan FPBI ini berkumpul di Arena Budaya Unram. Kemudian berjalan menuju kantor DPRD melalui Jl. Airlangga Gomong, Kec. Selaparang menuju Kantor DPRD Provinsi NTB sambil melakukan orasi.

Pukul 11.08 WITA massa aksi sampai di Kantor DPRD. Koordinator Umum (Kordum) sekaligus Ketua BEM Unram Irwan membacakan tuntutan. Berikut tuntutan yang disampaikan:

  1. Menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja.
  2. Mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi NTB untuk mewujudkan pendidikan gratis melalui pengalokasian anggaran APBD.
  3. Mendesak pemerintah untuk membuka ruang partisipasi untuk seluruh elemen masyarakat dalam setiap perubahan undang-undang maupun kebijakan.
  4. Harus ada regulasi dari Pemda NTB terkait stabilitas harga komofitas pertanian.
  5. Menolak RUU HIP dan mencabut dari PROGLENAS.
  6. Stop represifitas terhadap gerakan rakyat.
Kordum sekaligus Ketua BEM Unram saat orasi dan membacakan tuntutan. (Foto: Roy)

Sela-sela waktu, Media Unram menemui Koordinatur Lapangan satu (Korlap I) Anwar Dwi Anggara. Dia menjelaskan, tuntutan yang paling utama adalah omnibus law dan permasalahan pendidikan selama pandemi Covid-19.

“Selama pandemi ini kan banyak sektor ekonomi yang tidak berjalan. Banyak siswa/mahasiswa yang putus sekolah. Jadi kita menginginkan Pemda atau DPR punya sikap untuk memastikan bahwa tidak ada anak NTB yang putus sekolah,” terang Anwar.

Lebih jauh Anwar juga menjelaskan solusi yang diberikan terkait permasalahan pendidikan tersebut. “Solusi yang kami tawarkan adalah APBD di alokasikan untuk pendidikan saat ini. Atau uang beasiswa S2 program dari gubernur bisa dialokasikan ke S1, karena satu mahasiswa yang melanjutkan ke S2 bisa membiayai 20 mahasiswa yang s1. Jangan sampai kita membiayai S2 sementara yang S1 banyak yang putus pendidikan,” bebernya.

 

Anggota DPR menemui dan menerima tuntutan massa aksi

Tidak lama setelah melakukan beberapa orasi dari berbagai organisasi, pukul 11.51 WITA Ketua Komisi 1 DPRD Provinsi NTB Raihan Anwar menemui dan menandatangi tuntutan massa aksi. “Kalau seperti ini kan tuntutan pahlawan, buat apa saya pertimbangkan,” katanya.

Raihan Anwar saat menemui massa aksi. (Foto: Roy)

Ditemui setelah menandatangani tuntutan massa aksi, Raihan mengatakan akan melaporkan tuntutan tersebut kepada pimpinan. “Ketua tidak bisa menghadiri, karena mules hehehe,” ungkapnya dihadapan sejumlah wartawan. Raihan menjelaskan, pihak DPRD akan menyelesaikan tuntutan massa aksi sebelum tanggal 27 Juli. “Namanya usaha kan, jadi biar diteruskan ke pak gubernur,” ujarnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, sikap DPR dengan meneruskan aspirasi mahasiswa itu tidak sama persis. Karena DPR ini terdiri dari berbagai partai, mewakili partai masing-masing, kebijakan mengenai itu tergantung pimpinan masing-masing partainya. “Tetapi sebagai wakil rakyat kita harus menampung dan menerima aspirasi masyarakat macam ini, sehingga saya harus menerima tuntutannya,” pungkasnya.

Usai tuntutannya diterima dan ditandatangani, massa aksi membubarkan diri dengan tertib pukul 12.29 WITA. (roy)

Cinta Kasih Untuk Aisya

0

Oleh: Rahayu Praya Ningsih

Hari ini untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku ingin segera aku akhiri. Awan pekat itu dengan kejam menyergapku, tanpa peduli aku sudah siap atau tidak. Impianku, cita-citaku dan segala mimpi indah berakhir sudah. Sebuah pengkhianatan sadis telah berlaku dalam sejarah hidup keluargaku.

“Lelaki macam apa kau Mas! Apa kami tidak cukup bagimu! Aku dan Aila setiap hari menunggumu pulang kerja dengan sabar dan setia, tapi lihat kelakuanmu! Dasar lelaki bajingan!” teriak Ibuku dengan amat geram.

Nafasku sudah hampir tidak bersisa, amat pedih mendengar pertengkaran itu. Bersembunyi dibalik selimut, menangis terisak-isak. Hingga lemas dan lemah tubuhku. Belum pernah aku merasakan derita sepahit ini dalam hidupku. Aku, anak sepuluh tahun dengan jelas mendengar setiap kata dan amukan orangtuaku. Aku tidak tahu apa rencana Tuhan terhadap anak kecil sepertiku sehingga empedu ini aku telan mentah-mentah.

Laki-laki yang ku sebut Ayah, telah meruntuhkan bangunan cinta yang selama ini berdiri kokoh. Pengkhianatannya menghancurkan kesetiaanku dan Ibuku. Tanpa merasa bersalah sama sekali, malamnya ia pulang dengan kabar duka. Membawa wanita paruh baya dengan bayi digendongannya. Mulanya Ibuku hanya mengira dia kawan atau rekan kerja dari Ayahku, tetapi itu hanya pikiran semu. Ayahku telah menikahi wanita jalang itu sejak dua bulan yang lalu. Wanita itu sebatang kara, ditinggal mati suami pertamanya lantas merengek kepada Ayahku untuk menghidupinya. Alasannya juga karena ia baru saja di PHK dari kantornya dan bayinya masih perlu banyak biaya untuk tetap hidup. Entah bagaimana Ayahku mengenal wanita itu, yang jelas aku sudah menancapkan kebencian kepadanya dan juga bayinya.

“Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, tapi aku minta satu hal, tolong terima dia dan bayinya,” pinta Ayahku.

“Pergi kau! Aku tidak sudi menampung lelaki bajingan dan wanita jalang dirumahku! Cuihh!” bentak Ibuku.

Mana mungkin Ibuku mau menerima perempuan itu. Akupun tidak akan pernah memanggil wanita itu Ibu, tidak akan pernah. Diusiaku yang masih kecil, Ayah sudah mengajariku menjadi gadis pendendam sejati.
***

Esoknya lagi-lagi aku mendapati kejutan pahit dari penghianat itu. Ibuku mendapati bayi yang ada digendongan wanita jalang itu semalam, kini sudah berada di depan pintu rumahku. Bayi itu diletakkan dalam keranjang kecil berselimut biru muda, dan di sela-sela selimut itu terselip sepucuk surat. Entah pukul berapa mereka kembali kerumahku malam itu. Yang aku tahu sekarang bayi itu adalah adik tiriku.

“Aila sayang ayo kamu segera berangkat sekolah, nanti telat ,” ucap Ibuku. Sebenarnya aku ingin menanyakan apa isi surat itu, untuk seusiaku wajar saja jika aku selalu ingin tahu perihal yang terjadi di sekitarku. Namun aku tidak punya waktu mengurusinya, karena sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup. Mungkin lain waktu bisa kutanyakan pada Ibu.

Pergi ke sekolah dengan hampa semangat dan impian yang padam. Ibuku juga tampak tidak begitu bergairah ketika aku menyalaminya, hanya segaris senyum tipis menghantar kepergianku. “Hati-hati dijalan sayang,” sahut Ibuku ketika aku baru saja keluar dari gerbang rumah.

Sesampainya di sekolah, sungguh semua hal berubah drastis dalam pandanganku. Semua terlihat mendung, bahkan terik matahari terasa sedingin kabut malam bagiku. Berteman sudah tidak menarik lagi, ikut lomba sudah tidak lagi aku lakukan. “Untuk apa?, toh juga tidak ada yang bangga,” batinku. Semangat untuk berprestasi sudah mati, tidak ada yang tersisa. Demikian hari-hariku berlanjut dengan hambar sampai seterusnya.
***

“Ngapain sih Ibu belain dia terus! Dia yang salah! Sengaja ngejatuhin vas bunga terus pura-pura luka!” bentakku.

“Sudahlah Aila, maafkan adikmu, lantainya sedang licin habis Ibu pel tadi makanya vas bunganya jadi jatuh, jadi dia emang ga sengaja,” ujar Ibuku membela.

“Alah! Dia aja yang lemah dan ceroboh! Lama-lama semua barang di rumah ini bisa pecah gara-gara dia!” sahutku dengan emosi memuncak.
“Tenang Aila, adikmu…”
“Ah! Sudahlah! Terserah Ibu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap dia adikku, jadi jangan harap aku berbaik hati padanya,” ucapku sambil pergi ke kamar lalu mengunci pintu.

Selama tujuh tahun ini aku seakan-akan hidup di neraka. Setiap hari harus melihat bocah sial itu, berpura-pura semuanya baik-baik saja. Setiap kali bocah itu ada, kilatan memori pahit itupun kembali datang. Semakin menumbuhkan dendam dan kebencian kepada para penghianat itu. Berusaha menganggap kalau kehidupan kami bahagia, aku dan Ibuku serta adik tiriku. Namun tidak pernah satu hari pun hidupku menyenangkan, semenjak malam dimana Ayah membawa wanita dan bayinya itu kerumah.

Alangkah tidak sudinya aku sekalipun memanggilnya adik. “Bocah itu pembawa sial!” ujarku amat kesal.

Tapi entah mengapa Ibuku bersikap lunak padanya. Selama bertahun-tahun Ibu dengan sudi merawatnya, mencukupi kebutuhannya bahkan menyekolahkannya di SD tempatku dulu. Aku tidak tahu apa yang membuat Ibu mau menerima kehadirannya. Akupun tidak pernah menanyakannya, terlalu sibuk mengurusi kebencianku kepada sosok Ayah dan wanita jalang itu. Akupun juga mulai menjaga jarak dari Ibuku dan bocah itu, sibuk dengan duniaku sendiri hingga aku beranjak remaja.
***

Siang itu aku baru saja ingin menikmati tontonan televisi sambil menyilang kaki. Berharap ada yang bisa sedikit menghiburku setelah bosan berada di kamar. “Kakak, ini aku bawain kue bolu pandan kesukaan kakak, aku dan Ibu yang bikin tadi,” ujar bocah itu yang tiba-tiba menghampiriku. Aku terkejut ketika ia hendak menyodorkan bolu itu ke arahku. “Aku kasih kakak potongan yang paling besar biar kakak senang, hehe…” lanjutnya.

“Tidak usah! Aku sedang tidak nafsu makan,” ketusku. Bersikap sok manis dihadapanku tidak akan membuatku melupakan apa yang sudah terjadi. “Makan aja sana sendiri, tidak usah sok baik deh! Dasar bocah pembawa sial!” hardikku sambil berlalu meninggalkannya. Hilang sudah keinginanku untuk menonton tv, berbicara dengan bocah itu hanya membuat rasa bosanku kian meradang.

Nampaknya Ibu mendengar perkataanku. Kalimat kasar yang keluar dariku mungkin membuatnya merasa iba kepada bocah itu. Sayup-sayup dari dalam kamar kudengar Ibu mencoba menenangkan tangisan bocah itu. “Aku tidak peduli!” desisku.

“Aila sayang, buka pintunya nak, Ibu mau bicara sama kamu,” ucap Ibuku sambil mengetuk pintu kamar.

“Aku sedang sibuk Bu, lain kali aja,” sahutku dari dalam kamar. Yang benar saja, mana mungkin aku akan mau mendengar perkataan Ibuku yang hanya akan melontarkan pembelaan untuk bocah itu. Aku sebenarnya tidak sibuk, sama sekali. Hanya merebahkan diri dikasur sambil terus membayangi kejadian tujuh tahun lalu yang amat drastis mengubahku dan hidupku. Aku tidak peduli bagaimana keadaan penghianat itu. Dia sudah lama menghilang dari kehidupanku, tanpa kabar sama sekali. Masih hidup atau sudah mati, entahlah. Tidak penting bagiku.
***

“Jangan lupa besok Ibu datang ke upacara kelulusanku,” ujarku singkat. Sungguh malas sebenarnya untuk datang ke acara semacam itu, terlebih harus mengundang wali murid. Jika hari itu bisa kutinggalkan, maka pasti aku tidak perlu untuk meminta Ibuku untuk hadir. Namun sayangnya itu merupakan hari terakhirku menjadi siswi SMA. Aku juga tidak menyangka akan bisa bertahan selama itu, mengingat aku yang sudah putus asa akan makna dari hidup.

“Iya sayang, Ibu pasti datang untukmu,” balasnya.
“Tapi aku minta Ibu datangnya belakangan, aku berangkatnya sendiri aja,” ujarku. Lebih tenang rasanya kalau aku sendiri yang datang lebih dulu ketimbang harus datang bersamaan dengan Ibu dan bocah itu.

“Wah! Kak Aila sudah mau lulus SMA, bentar lagi kuliah terus wisuda terus nikah deh, hehe..” sahut bocah itu.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut bocah itu, seperti ada yang menusuk dadaku. Menghunus tepat di ulu hatiku, hingga rasanya emosiku mencuat. Terlebih dengan kata-kata menikah dan segala impian yang pernah aku bayangkan, ketika masih memilikinya dulu. “Sok tau! Kamu tuh ga tau apa-apa soal aku, jadi jangan coba-coba buat ngatur hidupku!” bentakku lalu pergi meninggalkan Ibu dan bocah itu yang masih duduk di sofa ruang tamu.
***

Keesokannya aku sudah siap-siap berangkat ke sekolah untuk terakhir kalinya. Mengenakan kebaya hijau muda lengkap dengan sanggulnya yang aku pinjam dari kenalanku. Untung saja dia mau berbaik hati meminjamkan miliknya, mengingat bahwa aku tidak pernah berpikir untuk menyiapkan hal-hal seperti ini.
“Bu, nanti Ibu langsung saja ke kursi para wali murid disana, tidak usah mencariku,” ucapku lalu segera berangkat menuju sekolah.
***

Sesampainya di sekolah aku lansung menuju kursi para siswa. Tanpa mau berbicara dengan orang lain disana ataupun hanya sekedar bertegur sapa. Aku berharap acara ini tidak berlansung lama agar aku segera bisa mengakhiri masa-masaku di SMA.

Hingga di penghujung acara, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti rangkaian yang ada. Hanya sekedar mengikuti instruksi dari pemandu acara saja. Pada saat sesi penyampaian kata-kata perpisahan, akupun tidak merasa sedih sama sekali. Tidak ada air mata yang keluar atau isak tangis yang terdengar. Benar-benar tidak ada.

Mengenai Ibuku, aku tidak tahu ia benar-benar datang atau tidak. Mengundang para wali sebenarnya hanya sebagai formalitas saja. Akupun tidak terlalu memikirkan hal itu. Sampai akhirnya acara telah benar-benar selesai dan kami telah dibubarkan. Teman-temanku yang lain sibuk berfoto dengan orangtua mereka, merayakan kelulusannya. Ada juga yang sedang berfoto bersama teman satu gengnya di depan photo boot yang sengaja dipampang di area upacara. Tidak ada rasa iri bagiku. Aku menghabiskan masa SMA-ku dengan amat biasa-biasa saja. Tidak ada kawan dan sahabat yang aku tangisi. Aku lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah.
***

Aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Padahal aku mengira Ibu sudah lebih dulu sampai di rumah. Hingga malam tiba, belum ada tanda-tanda kepulangan Ibuku. Ada rasa cemas yang mendatangiku, sebab walau bagaimanpun juga dia tetaplah Ibuku. Bertanya ke tetangga sekitar rumah mengenai keberadaan Ibuku, atau paling tidak mereka pernah melihat Ibuku berada dimana.

“Bapak ndak tau nak,” ujar Bapak yang rumahnya berada di samping rumahku.
“Aku ndak pernah lihat Ibumu seharian ini,” ujar gadis yang rumahnya berada di seberang jalan rumahku.

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Masuk ke dalam kamar Ibuku. Terkunci. Lantas segera aku dobrak pintu itu, namun tenagaku belum cukup kuat untuk membukanya. Aku berinisiatif mengambil linggis yang ada di dapur, lalu dengan sekuat tenaga aku hantam pintu itu hingga engselnya lepas dan akhirnya terbuka. Namun yang kutemukan nihil. Aku mengamati sekeliling, tidak ada yang aneh. Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada dua lembar surat di atas meja rias Ibuku.

Istriku tersayang,
Aku tidak memintamu untuk memaafkanku, juga tidak memintamu untuk mengikhlaskan madumu. Jangan anggap aku tidak mencintaimu. Kamu dan Aila adalah hartaku yang paling berharga. Tapi yang aku minta adalah tolong terima bayi ini, rawat dan sayangi dia seperti kau menyayangi dan merawat Aila, putri kecil kita. Ini adalah permohonan terakhirku dan Ibu dari bayi ini. Ibunya sebatang kara, dan hampir mencapai batas usianya karena penyakitnya.
Kami akan pergi ke dunia yang kau dan Aila belum pernah kunjungi. Namun Aila pasti akan membenciku, mendendam pada Ayahnya. Tapi aku percaya suatu saat nanti dia akan mengerti dan bisa menyayangi Aisya seperti adik kandungnya sendiri.
Selamat tinggal sayangku,
Aku tunggu hadirmu dalam keabadianku.

Bergetar hatiku membaca isi surat itu. Surat yang dahulu aku penasaran akan apa isinya, namun entah kenapa aku terlupa untuk menanyakannya kepada Ibu waktu itu. Surat yang ditulis oleh Ayahku, orang selama bertahun-tahun sudah memberiku keahlian menjadi seorang pendendam. Membuatku amat fasih mematikan hati dari perasaan sayang dan cinta kepada orang lain.

Sementara itu, pandanganku juga teralihkan ke lembar surat yang kedua. Pada pojok kirinya tertulis namaku,

Aila putriku sayang,
Maafkan Ibu Nak, Ibu hanya hadir sebentar, sekedar melihatmu untuk terakhir kalinya. Kamu sungguh cantik dan anggun mengenakan kebaya itu Nak.
Maaf Ibu harus segera pergi menyusul Ayahmu. Sakit yang Ibu derita biarlah Ibu saja yang tahu, kamu cukup bahagia saja.
Tolong kamu jaga adikmu, Aisya. Sayangi dia, sebab dia amat bahagia memiliki Kakak sepertimu.
Ibu menitipkan dia di sebuah Panti Asuhan untuk nanti sepulangmu dari sekolah, kamu bisa menemuinya. Segala kebutuhan hidupmu dan Aisya sudah Ibu siapkan Nak.
Ibu mencintaimu, dan akan selalu begitu.

Membaca kedua surat itu, membuat perasaan yang semulanya mati dan tidak bisa merasakan hangatnya kasih dan curahan cinta perlahan mulai hidup. Tanpa kusadari air mataku mengalir deras seketika. Kebencian yang selama ini tertanam kuat dan kokoh akhirnya hancur lebur. Kepedihan dari penghianatan sadis kini berganti menjadi tangisan kerinduan. Ibuku dan adikku, aku ingin memeluk erat mereka. Mendekap mereka dengan segenap hati sambil berkata aku mencintai kalian. Tapi kini, keluargaku yang tersisa hanyalah adik kecilku. Ayahku, Ibuku, dan Ibu tiriku sudah memberiku kasih sayang yang bahkan tidak aku tahu. Betapa bodohnya aku sehingga aku tidak bisa membaca bagaimana curahan kasih yang selama ini mereka berikan. Sungguh kejam perbuatanku kepada adik kecilku yang bahkan tidak pernah menaruh dendam sedikitpun kepadaku.

Cucuran air mata kini telah membasahi jiwa yang penuh dendam. Semuanya sirna, tidak bersisa. “Oh Tuhan! Dimanakah adikku sekarang?” jeritku dalam tangisan. “Apa yang sudah aku lakukan? Sungguh buta dan batunya hatiku sehingga tidak melihat kasih sayang mereka selama ini!” ujarku dalam kepedihan yang amat sangat.

Tanpa basa-basi lagi malam itu juga aku pergi mencari alamat dari Panti Asuhan yang Ibu maksud disurat itu. Bertanya ke sana-sini, naik-turun angkot demi menemukan Panti itu. Demi menemukan keluargaku.
***

Pukul 04.00 dini hari, aku akhirnya menemukan keberadaan lokasi dari Panti Asuhan tersebut. Setelah berjam-jam diperjalanan, sendirian mencari angkutan umum yang masih menyediakan jasa dan berbekal sebuah kartu bertuliskan alamat panti beserta kartu ATM yang Ibu selipkan di antara lembaran surat.

Memasuki halaman Panti Asuhan, aku lansung mencari seseorang yang berada disana, entah itu anak panti ataupun pengasuhnya. Beruntung aku mendapati penjaganya yang sedang duduk di teras panti sambil meminum secangkir kopi yang tinggal setengahnya.

Panjang lebar aku menjelaskan maksud kedatanganku kepada pejaga itu. “Sebentar ya Mbak, saya panggilkan penanggung jawab dari panti ini dulu,” ujar penjaga panti itu. Tidak berselang lama, orang yang dimaksud si penjaga itupun keluar sambil memakai sarung dengan kupluk hitam dikepalanya.

Baru saja aku ingin membuka mulut memberikan penjelasan. Namun, lansung saja aku dibantu penjaga panti itu menjelaskan maksud kedatanganku. Penjaga itu mengatakan persis seperti apa yang aku ceritakan kepadanya.

“Memang benar tadi pagi ada anak yang dititipkan di Panti ini, kalau anda mau mari saya antarkan ke kamar anak-anak untuk memastikannya,” ujar lelaki paruh baya itu.

Aku diajak menyusuri lorong Panti mencari kamar tempat adikku berada. Aku melihat ada dua lorong yang dihubungkan oleh satu ruang yang cukup luas. “Mungkin sebagai ruang kumpul atau ruang tamu,” pikirku.

“Silahkan anda masuk, adik kecil itu berada di dalam, mungkin sekarang masih tidur,” ucap lelaki itu. Dengan segera aku memasuki kamar itu, mataku sibuk mencari wajah adikku di antara anak-anak yang sedang tertidur pulas itu. Ada sekitar tujuh orang anak didalamnya yang tidur di atas ranjang bersusun. Sebanyak tiga buah ranjang bersusun yang kulihat disana.

Lalu pandanganku terhenti tatkala melihat seorang gadis kecil yang selimutnya hanya sampai perut tengah tertidur dengan lelapnya. Lansung saja aku menghamburkan diri memeluk adik kecilku.

“Kak Aila, kenapa Kakak disini?” ujarnya yang masih setengah sadar. Dia mungkin terkejut melihatku yang tiba-tiba datang memeluknya, namun kantuk masih saja menggantung di kelopak matanya.

“Kakak kesini mau jemput kamu pulang,” lirihku pelan.
“Tapi Kakak ga sayang sama Aisya, kan?” jawabnya dengan begitu polos.
“Maaf-kan Ka-kak, udah berbuat ja-hat sa-ma Aisya, Ka-kak janji ga ba-kal gi-tu lagi sa-ma Aisya,” ujarku sesenggukan dengan air mata mengalir deras. Begitu menyayat hati takkala aku mengatakan hal itu sambil terngiang bagaimana kelakuanku kepada adik kecilku ini. “Ka-kak sa-yang banget sa-ma Aisya, Kakak a-kan selalu sa-yang sa-ma Aisya sampai kapanpun,” ucapku sambil memeluknya dengan hangat.
“Aisya juga sayang Kak Aila,” balasnya.
“Sekarang, ayo kita pulang,” ujarku kepada adikku, Aisya.

Deky Aswandi, Pengidap Jantung Bocor Membutuhkan Bantuan Kita

0

Media Unram – Salah satu pengidap jantung bocor berasal dari Leong Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Deky Aswandi membutuhkan uluran tangan kita.

Menurut penjelasan salah satu keluarga korban, Hapid melalui Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat (Kadiv PM) Himasos, Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Deky mengidap penyakit jantung bocor selama empat bulan. Sesuai dengan rujukan Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB, kemudian harus di rujuk ke RS Jantung Jakarta.

“Saat ini, kami belum mempunyai dana untuk biaya pergi ke Jakarta dan biaya hidup selama menjalani pengobatan di sana,” ungkap Hapid.

Berikut keperluan yang dibutuhkan Hapid dan keluarga selama menjalani masa pengobatan di Jakarta yang berhasil dirangkum oleh Media Unram:
1. Tiket untuk PP tiga orang (satu pasien, satu keluarga , satu pendamping),
2. Biaya kos maksimal selama kurang lebih tiga bulan,
3. Biaya hidup sebanyak tiga orang,
4. Biaya tiket kontrol bolak balik setelah oprasi minimal 4 s/d 5 kali atau sampai dinyatakan sembuh total.

Hapid menjelaskan, pihak keluarga hanya mengandalkan bantuan dari donatur. “Kami hanya mengandalkan dari donatur. Kami tak mengingkari, Alhamdulillah dari Dinsos masih udah dapet,tapi dari PKH nya. Dari Baznas Kabupaten kita udah dapet. Sekarang kita ajuin ke Baznas provinsi tapi blm ada respon,” bebernya kepada Media Unram saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (19/6).

Mari, kita bersama-sama meringankan beban saudara Deky Aswandi, dengan memberikan sedikit bantuan kepadannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.

Untuk saluran donasi, melalui Bank BRI: 3571 01 032863 53 1 (MELLA LATHIFAH ANGGARANI)

Bukti transfer dikirim melalui: 0877 5973 9008 (SARINAH). (Khn)