24.5 C
Mataram
Saturday, September 26, 2026
spot_img
Home Blog Page 89

Peduli Masalah Sampah, Mahasiswa UNRAM Gagas LERI Berbahan Styrofoam Bekas

0

Media Unram – Melalui Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang kewirausahaan, tiga orang mahasiswa Universitas Mataram (Unram) menggagas Lampu Estetik Romantis (LERI) sebagai salah satu cara untuk menekan jumlah sampah tak terurai styrofoam menjadi produk estetik yang indah dan cantik.

Ketua PKM, Ni Putu Virgi Eka Ayu Rasta mengatakan, styrofoam merupakan bahan yang tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat membusuk.

Oleh karena itu, dia dengan kedua temannya, Nida Atun Nisa dan Dony Firmansyah, mengolah limbah styrofoam menjadi produk yang bermanfaat.

“Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan styrofoam sebagai lampu estetik,” katanya ke Media Unram, Senin (28/9).

Ni Putu Virgi Eka Ayu Rasta. (MD/Ist)

Kemudian, lanjut Virgi, lampu estetik ini bisa menjadi alternatif ketika mati lampu. Karena bahan bakarnya terbuat dari minyak goreng. Sumbu yang digunakan, mirip orang pada zaman dulu, sebelum adanya lampu listrik.

“Lampu ini memiliki keunggulan, karena hemat listrik, harganya terjangkau, tahan lama dan memiliki rancang bangun yang indah,” lanjut mahasiswa semester lima, jurusan pendidikan matematika ini.

Rencananya, mereka akan memasarkan lampu estetik ini sebagai lampu hias diberbagai wilayah pariwisata. Seperti kawasan Kuta Mandalika.

Sementara itu, Nida menjelaskan, ini juga sebagai usaha untuk merealisasikan program pemerintah terkait jumlah sampah tak terurai.

“Karena produk ini akan membantu mengurangi sampah tak terurai, yang tentu akan berdampak sangat baik terhadap lingkungan,” katanya.

Nida Atun Nisa (kiri),Dony Firmansyah (kanan). (MD/ist)

Kemudian, lanjutnya, styrofoam juga termasuk salah satu bahan limbah berbahaya. Banyak digunakan sebagai bahan market bangunan, dekorasi dan wadah makanan. Sehingga jumlahnya sangat banyak.

Menurutnya, hingga saat ini, penanganan limbah styrofoam dilakukan dengan penggunaan kembali tanpa modifikasi, pembakaran, dan ditimbun dalam tanah.

“Cara-cara tersebut merupakan metode konvensional yang tidak ramah lingkungan,” ungkapnya.

Sampah merupakan masalah terbesar saat ini di belahan dunia manapun. Pada tahun 2010 terhitung ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan dari seluruh dunia.

Ada 3,22 juta ton sampah plastik yang dihasilkan oleh pesisir Indonesia tiap tahunnya. Dari berbagai jenis sampah yang saat ini menjadi perhatian terbesar adalah sampah styrofoam.

Virgi berharap, melalui PKM-K dapat menumbuhkan semangat kewirausahaa dikalangan mahasiswa.

“Karena semangat kewirausahaan ini dapat membuat kita ingin terus berinovasi dan berkreativitas untuk melihat permasalahan lingkungan sekitar serta mencari solusi dari permasalahan tersebut,” tutupnya. (Lnf)

Sambut Mahasiswa Baru, BEM Unram Adakan Mustfest

0

Media Unram – Sebagai penyambutan mahasiswa baru, Kementerian kreatifitas mahasiswa (Krima) BEM Unram mengadakan University Student Festival (Musfest).

Dengan mengikuti protokol Covid-19 dan bekerja sama dengan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Unram, kegiatan yang dilaksanakan di depan gedung PKM ini mengangkat tema “Let’s dare our pandemic era”

Ketua panitia, Rizky Ramadhan menjelaskan, tema ini bertujuan agar mahasiswa tetap semangat dalam masa pandemi seperti ini. Menurutnya, di tengah pandemi Covid-19 ini, mahasiswa tetap bisa melakukan kegiatan.

“Dengan selalu menjalankan protokol kesehatan,” kata Rizki saat ditemui Media Unram disela-sela kesibukannya, Senin (28/9).

  • Ketua Panita Mustfest, Rizki Ramadhan. (MD/tim)

Lebih jauh dia menjelaskan, acara ini sudah dipersiapkan sejak bulan Mei lalu. Terbukti dengan banyaknya sponsor yang mendukung acara ini. Seperti Bank NTB dan lainnya.

“Dana kebanyakan kami dapatkan berasal dari sponsor, meski cukup susah. Banyak yang mengundurkan diri karena pandemi ini,” lanjut mahasiswa yang mengambil prodi Hubungan Internasional ini.

Acara ini cukup mendapatkan perhatian hangat oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Enny Yuliani.

“Awalnya, Bu Enny hanya memberikan izin 50 orang dan tidak boleh buka stand. Namun kami mencoba bernegosiasi dengan masing-masing stand dijaga oleh 2 orang dan diberikan izin,” ungkapnya.

Sebelumnya, 9-12 September lalu, mereka mengadakan Webinar. Dengan mendatangkan pemateri-pemateri yang berkualitas dan berpretasi.

Puluhan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memperkenalkan organisasinya. Dihiasi dengan berbagai penampilan dan atraksi.

Salah satu UKM, UKPM Media Unram saat mempromosikan organisasinya. (MD/tim)

Kegiatan ini memiliki antusias yang besar dari mahasiswa. Menurut pengamatan media selama di sana, kegiatan tersebut diikuti sampai selesai, menjelang solat asar.

“Untuk bisa memasuki acara, peserta harus menggunakan masker dan memakai handsinitizer yang telah disediakan panitia,” pungkas Rizki. (B)

Yang Tak Lekang

0

Oleh: Elsa Ermasari, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Diantara gang gelita
Dan gempita rembulan,
yang pijarnya sulit bertahan
Ada gumpalan harapan yang mungkin saja belum terteka
Baru lahir dan masih merona.

Diantara deru kendaraan yang memekakan telinga
Kadang juga buat asma
Ada kepalan semangat yang masih hangat dirasa
Menggelitik mata agar selalu terjaga.

Bersama harap dan semangat yang ada,
Seringnya, doa Ibu terselip di sana
Juga peluh Bapak yang sampaikan semangatnya
Harap-harap, pulang jadi orang berada

Waktu berharap, 2020

Kisah Unik Dibalik Stand Penjualan KSR

0

Catatan: Khan – Al Won

Dalam kondisi pandemi seperti ini, umumnya, mahasiswa (termasuk penulis) yang menetap di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) sering merasa malas membeli cemilan, kopi, rokok jika harus naik, melewati atau memanjat gerbang belakang Unram.

Tepatnya gerbang yang biasa dilalui untuk keluar wilayah Unram, di Gomong. Atau, keluar melalui jalur masuk yang berada di depan, dengan menggunakan sepeda motor. Ah… Terasa jauh. Boros bensin.

Sementara itu, Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unram hadir membawa solusi. Mereka seakan mengetahui masalah yang dihadapi para penghuni PKM. Terutama para perokok dan pengopi.

Di depan sekretnya, organisasi yang lebih dikenal KSR ini menjual berbagai makanan dan minuman. Mulai dari kopi hingga aneka cemilan. Harganya pun sesuai pasaran. Pastinya sesuai dengan isi dompet mahasiswa.

Sore menjelang solat magrib, anggota Media Unram berkesempatan bertemu dengan Ketua KSR PMI Unram, Ari Sandi, di meja bundar PKM.

Dia menjelaskan, KSR membuka stand penjualan, karena pada 25-30 Oktober mendatang, mereka akan melaksanakan salah satu proker besar. Yaitu kemah bakti pengabdian masyarakat.

“Hanya sementara. Pertengahan Oktober, kami sudah tidak berjualan lagi,” kata orang yang akrab disapa Sandi ini.

Lebih jauh Sandi menjelaskan, dana yang diberikan oleh birokrasi Unram tidak cukup untuk melaksanakan kegiatan ini. Masih banyak kegiatan besar KSR yang sudah dilaksanakan. Ditambah lagi, ada beberapa yang belum. Juga, untuk sangu kepengurusan selanjutnya. “Tidak mungkin, kami membiarkan uang kasnya kosong,” ucapnya.

Oleh karena itu, dia dan anggotanya membuka stand penjualan. Selain usaha untuk mencari dan menutupi kekurangan dana, ini juga merupakan salah satu cara untuk melatih anggota KSR.

“Setiap mengadakan kegiatan besar, kami tidak mungkin mengharapkan dan sepenuhnya menggunakan bantuan dana dari birokrasi untuk kegiatan besar. Kegiatan kami banyak. Seberapa sih bantuan birokrasi,” beber Sandi sambil sesekali menghisap rokok ditangannya.

Bagaimana jika ada yang mengatakan, “KSR ini seakan-akan menyaingi Kopma?”

Terkait hal itu, Sandi mengatakan, pada dasarnya, siapapun bisa membuka stand penjualan di Gedung PKM. Tidak ada yang melarang.

Namun, dia mengaku merasa sungkan dengan UKM lain, terutama Koperasi Mahasiswa (Kopma). Pasalnya, Kopma bergerak dibidang bisnis dan penjualan.

Untuk sementara ini, Kopma belum bergerak. Belum jualan. Menurutnya, bukan masalah yang cukup serius jika untuk sementara waktu KSR membuka stand penjualan. Juga, kebanyakan pembeli adalah anggota KSR itu sendiri.

“Sepertinya, Kopma tidak merasa keberatan. Kami pun berjualan tidak lama,” ungkap mahasiswa FKIP Unram ini.

Sandi juga bercerita, bahwa berjualan adalah tradisi lama yang dimiliki KSR. Sebelumnya, mereka juga mencari dana dengan berjualan. Mulai dari baju hingga beraneka jajan/kue.

Untuk baju, mereka menjualnya pada alumni, dengan harga yang tidak ditentukan. Dan untuk jajan, para anggota mengambil, kemudian membawa dan menjualnya di fakultas dan kelasnya masing-masing.

“Namun sekarang, karena pandemi, juga Kopma sedang tidak berdagang, kita bikin stand penjualan,” tegasnya.

Pembicaraan kami, Kamis (24/9) kemarin terkesan biasa saja. Seperti tidak ada yang istimewa. Tapi, bagi penulis, ada sesuatu yang bisa dipelajari dari obrolan singkat itu. Khususnya, cara menjalankan keuangan organisasi.

Kembali ke pembahasan stand penjualan tadi, bagi teman-teman mahasiswa, khusunya yang tinggal di Gedung PKM, bisa mengunjunginya. Para penjualnya ramah, ganteng dan cantik.

Hanya saja, hingga hari ini, penulis belum mengetahui, bisa berutang atau tidak.

Kuota Kemdikbud Tersalurkan, Bisakah Mengakses Seluruh Aplikasi?

0

Media Unram – Kemdikbud mulai melakukan penyaluran subsidi kuota tahap pertama. Namun, semua kuota tidak sepenuhnya dapat mengakses semua aplikasi.

Kuota yang disalurkan Kemdikbud dibagi menjadi kuota belajar dan kuota umum. Berbeda dengan kuota umum yang dapat mengakses segala aplikasi, ternyata kuota belajar hanya dapat mengakses aplikasi pembelajaran saja, Rabu (23/09).

Dilansir dari tribunnews.com aplikasi pembelajaran yang dimaksud seperti Kipin School 4.0 Microsoft Education, Quipper, Ruangguru, Rumah Belajar, Sekolah.mu, Udemy, Zenius, Google Classroom, Edmodo, serta dapat mengakses laman kuota-belajar.kemdikbud.go.id
Sementara, untuk platform konferensi video seperti Cisco Webex, Google Meet, Microsoft Teams, U Meet Me dan Zoom.

Selain dapat mengakses aplikasi di atas, kuota belajar juga dapat mengakses 401 situs perguruan tinggi di Indonesia.(B)

Sumber: tribunnews.com

Gubernur Dianggap Belum Bisa Menyelesaikan Permasalahan di NTB

0

Media Unram – Menyambut momentum hari tani, ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat NTB Mengguggat mendatangi kantor Gubernur NTB dengan membawa enam point tuntutan. Mereka menilai gubernur belum bisa menyelesaikan berbagai permasalahan di NTB.

Didepan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Lalu Gita Ariadi, mereka mengatakan, mulai dari sengketa lahan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah (Loteng), hingga sengketa lahan di Oi Katupa, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, belum diselesaikan oleh gubernur.

“Permasalahan yang ada di Mandalika, pemerintah mengatakan akan menyelesaikan sengketa tanah secara kekeluargaan. Namun, hingga saat ini warga setempat masih melakukan penolakan. Berarti gubernur belum menyelesaikan kasus ini,” beber Kordum, Irwan, Kamis (24/9).

Kemudian, lanjut Irwan, hingga saat ini, gubernur belum mengeluarkan klarifikasi terkait sengketa lahan yang terjadi di masyarakat Oi Katupa.

Seperti yang diketahui, penggusuran lahan warga Desa Oi Katupa yang dilakukan PT Sanggar Agro karya Persada (SAK), membuat masyarakat setempat menderita. Pasalnya, banyak lahan yang digunakan masyarakat untuk menanam jambu mente digusur.

Selain itu, beberapa point tuntutan yang lain juga dibacakan Irwan. Berikut selengkapnya:

1. Pemerintah Provinsi NTB menjamin stabilitas harga pra dan pasca panen.
2. Memberikan Alat Mesin Pertanian (Alsintan), pestisida dan bibit secara gratis dan memperbaiki infrastruktur penunjang pertanian NTB.
3. Terbitkan Perda untuk kesejahteraan petani.
4. Membangun industrialisasi pertanian yang kuat dan mandiri di Provinsi NTB.
5. Distribusi pupuk dan membuat tim penyuluh Program Kartu Tani NTB, paling lambat 30 September 2020.
6. Stop perampasan lahan rakyat.

Tidak hanya itu, Irwan mengaku kecewa dengan gubernur. Pasalnya, orang yang biasa disapa Bang Zul tersebut, tidak pernah menemui mahasiswa NTB setiap mengadakan aksi.

“Setiap kami (mahasiswa NTB) melakukan aksi, gubernur tidak pernah menemui kami. Oleh karena itu, melalui Sekda NTB, kami meminta segera pertemukan kami dengan gubernur. Paling terlambat, Senin (28/9) depan,” lanjut pria asal Bima ini.

Sementara itu, Sekda NTB, Lalu Gita Ariadi menjelaskan, dia menerima tuntutan yang dibawa oleh aliansi dari berbagai organisasi tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi kehadiran adek-adek disini untuk meyampaikan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan petani, perempuan dan lain sebagainya. Kami akan menyampaikan tuntutan ini ke gubernur,” ungkapnya saat menemui massa aksi di depan massa aksi, ba’da zuhur.

Sekda NTB, lalu Gita Ariadi saat menemui massa aksi. (MD/tim)

Sebelumnya, Ariadi menjelaskan, gubernur belum bisa menemui massa aksi, karena sedang menyambut kedatangan Menteri Kominfotik.

“Pak Gub sedang menyambut kedatangan Menteri. Beliau pasti menyesalkan tidak bisa menemui adik-adik sekalian. Beliau juga seorang aktivis,” ucapnya. Dia juga memuji massa aksi, karena tidak melakukan aksi anarkis. Tidak ada fasilitas yang disentuh dan dihancurkan.

Kemudian, lanjut Ariadi, dia akan menyiapkan fasilitas untuk mempertemukan massa aksi dengan gubernur. “Saya akan mengusahakan agar adik-adik bertemu dengan Pak Gub,” katanya.

Setelah itu, dia menerima tuntutan yang dibawa oleh massa aksi. Kemudian ditandatangani diatas materai.

Pose Lalu Gita Ariadi usai menandatangani tuntutan massa aksi. (MD/tim)

Diakhir pertemuannya, Ariadi mengingatkan massa aksi agar kembali dengan baik, serta tidak menganggu ketertiban lalu lintas. “Yang terpenting adalah tetap gunakan masker,” tutupnya.

Usai tuntutan diterima dan ditandatangani, pukul 13:20 WITA, ratusan massa aksi membubarkan diri dengan tertib. (Lnf/B)

Memperingati World CleanUp Day, OKP se-Masbagik Bersihkan Lokasi Wisata

0

Media Unram – Dalam rangka memperingati hari bersih-bersih Sedunia (World CleanUp Day), Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) se-Masbagik melakukan bersih-bersih di mata air Pancor Kopong, Masbagik Utara Baru, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur (Lotim).

Koordinator Umum kegiatan, Hamzan menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para pengunjung dan masyarakat sekitar, agar selalu menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

“Agar kita saling bahu membahu baik pengunjung, masyarakat sekitar, aparatur desa dan birokrasi untuk tetap menjaga kebersihan, khususnya untuk tempat-tempat wisata yang ada di Masbagik,” bebernya, Minggu (20/9).

Bukan tanpa alasan, kegiatan ini mengambil lokasi di wisata mata air Pancor Kopong, karena wilayah tersebut dipenuhi banyak sampah.

“Mengingat Pancor Kopong adalah salah satu penyalur air bersih terbesar di Masbagik, jadi kebersihannya harus benar-benar kita jaga,” lanjutnya.

Kemudian, lanjut Hamzan, selain membersihkan berbagai daerah wisata, juga untuk menunjang kualitas air bersih yang ada di Masbagik.

Rencananya, kegiatan ini akan terus berlanjut ke berbagai wisata dan mata air yang ada di Masbagik.

Pecinta Alam Syahir (PSA), Gerakan Sekelompok Pecinta Alam (GSPA), Sahabat Pecinta Alam (SPA), Pecinta Alam SMAN 1 Masbagik (PALAMAS), Mahasiswa Pecinta Alam Al-Mahsuni (MAPASMA), Komunitas Mata Merah , Gondrong Gunung Indonesia (GGI), Lombok Vegerus dan Lombok Phonegraphy turut meramaikan kegiatan ini.

“Tak hanya OKP, masyarakat sekitar juga terlibat langsung dalam kegiatan bersih-bersih sampah ini,” pungkasnya. (Ysr)

Senyum dan Tangis

0

Oleh: Michael A. Waroy

Sepasang mata mana yang tak suka melihat senyummu?
Hati siapa yang tidak mencintai senyumannmu?
Senyumannmu begitu indah.

Senyumannmu membuat kami belomba-lomba.
Kami berlomba untuk mendapatkan senyumannmu.
Kami berlomba agar lekuk bibirmu terus keatas.
Ya, kami berusaha menyingkirkan satu sama lain untuk itu.

Tapi mereka semua bodoh!
Hingga aku yang jadi juaranya.
Sebab cuma diriku yang dapatkan tangismu.

Mereka tak berpikir bahwa manusia sesungguhnya perlu tangisan untuk senyuman yang lebih indah.

Akulah juaranya;

Aku mendapatkan tangisan terdalammu.
Juga senyuman terindahmu.

 

Mataram, 2020

Kurangi Potensi Masuknya Paham Radikal, PIB Adakan Dialog Pancasila

0

Media Unram – Untuk mengurangi potensi masuknya pemahaman radikal bagi pemuda desa, Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKM PIB) Universitas Mataram (Unram) mengadakan Dialog pancasila, Sabtu (19/9).

Ketua umum PIB, Mustain Nasrullah menjelaskan, pemahaman radikal tidak hanya muncul dalam lingkungan kampus. Namun, dikalangan masyarakat desa, pemikiran radikal juga bisa muncul.

“Jadi jangan sampai ada pemahaman-pemahaman menyimpang mengenai pancasila yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Kemudian, lanjut Mustain, kegiatan ini sebagai bentuk program kerja dari Divisi Pengabdian Masyarakat. Juga menjalankan salah satu dari Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian.

“Tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada para pemuda, agar turut berperan dalam kegiatan desa atau daerah sekitar untuk menjaga ketertiban dan kerukunan dalam bermasyarakat sesuai dengan pancasila dan UUD 1945,” bebernya.

Kegiatan dengan tema “Merawat Kemajemukan, Menjaga Indonesia bersama Pemuda melalui Desa di Era Pandemi” ini menghadirkan beberapa narasumber. Seperti, Ketua DPD II KNPI Lombok Timur (Lotim), Muhammad Habiburrohman, Kapolres Lotim yang di wakili Kasat Intel Polres Lotim, Ketua GP Ansor Lotim Arif Rahman Fajar Septiawan. Serta para pemuda desa dan luar desa Masbagik Utara Baru.

Sementara itu, perwakilan Kapolres Lotim sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini harus dilaksanakan. “Agar kita tetap bisa menjaga kesatuan antar suku, ras dan agama,” tegasnya.

Kegiatan ini kegiatan yang diadakan di Kantor Desa, Masbagik Utara Baru ini mendapatkan pujian dari masyarakat, khususnya pemuda.

“Saya sangat antusias karena semangat para pemuda dari berbagai kalangan yang turut berpartisipasi dalam dialog pancasila ini,” ungkap ketua pelaksana Dialog Pancasila, Bayu.

Bayu berharap, para pemuda yang di desa dapat memahami secara mendalam tentang pancasila. “Yang terpenting adalah cara kita mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjutnya.

Acara tersebut kemudian ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada masing-masing narasumber dan pihak desa. (Ysr/Lnf)

RS Unram Dianggap Buruk

0

Media Unram – Kematian mahasiswa Fakuktas Teknik Universitas Mataram (Unram), Ivan Fauzi Ridwan yang dinyatakan positif Covid-19 oleh Rumah Sakit (RS) Universitas Mataram (Unram), nampaknya menjadi catatan buruk bagi keluarga.

“Para pegawainya ramah. Tapi mereka memiliki koordinasi yang buruk,” kata saudari Ivan, Mita Damayanti kepada Media Unram melalui WhatsApp, Sabtu (19/9).

Mita menjelaskan, manajemen RS Unram tidak memiliki koordinasi yang baik. Tidak bisa mengendalikan divisi-divisi yang ada dengan baik. Tidak bisa mendeteksi permasalahan teknis dengan baik. “Percuma ada manajemen di sana,” tegasnya.

Mita Damayanti. (MD/Ist)

Kemudian, lanjut Mita, pihak keluarga masih ragu dengan hasil rekaman cctv yang diberikan pihak RS. Pasalnya, mereka tidak diperlihatkan saat petugas melakukan tes swab kepada Ivan.

“Video itu banyak yang dipotong. Kami tidak melihat saat Ivan dilakukan tes swab. Bener nggak, Ivan udah swab lagi,” ucap perempuan alumni FKIP Unram ini.

Dia mengatakan, pihak keluarga juga merasa aneh dengan alasan RS Unram. Cctv merekam saat adanya pergerakan dari manusia, dan tidak cukup memori penyimpanan, sehingga banyak remakan video yang dipotong.

“Kalau memang alasannya video itu banyak dipotong karena si Ivan nggak bergerak, kenapa waktu sakratul mautnya, Ivan nggak dikasi lihat. Padahal bergerak. Kan aneh,” beber wanita yang sudah delapan tahun tinggal di Lombok ini.

Lebih jauh dia menjelaskan, mereka mengkhawatirkan, Ivan terpapar Covid-19 saat berada di RS Unram. Karena hasil pertama negafif dan kedua positif.

“Saya ada pemikiran gitu, karena temen saya juga punya cerita yang sama. Awalnya reaktif, tapi setelah di RS justru positif,” katanya.

Mita juga berpesan kepada seluruh mahasiswa Unram, khususnya mahasiswa teknik, agar tidak terlalu mengkhawatirkan dan memikirkan keadaan ini. Karena menurutnya, Ivan belum tentu benar terpapar Covid-19.

Sementara itu, Wakil Direktur RS Unram, dr. Adanto Wiweko menjelaskan, video rekaman cctv yang dipotong, guna menghemat penyimpanan.
“Sistem cctv yang ada itu merekam ketika ada manusia yang bergerak. Sehingga, banyak video yang kami potong. Karena kami juga memiliki pasien lain. Dan, Penyimpanan RS Unram bisa penuh,” bebernya.

dr. Adnanto Wiweko. (MD/Ist)

Kemudian, lanjut Adnanto, pihak RS melakukan swab tes sebanyak dua kali berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) terbaru, yang keluar Juli lalu. Untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, swabnya dilakukan sebanyak dua kali. Baik di hari pertama atau ketiga, tergantung kondisi pasien.

“Kami melakukannya di hari pertama dan ketiga, tanggal 11 sama tanggal 13 atau 14, saya agak lupa. Intinya dua kali, karena beda protokol dengan yang di rumah. Kalo yang di rawat di rumah swabnya untuk mengetahui dia sudah sembuh atau belum bisa satu kali, dua kali, atau tiga kali. Ketika sudah negatif, sudah selesai,” pungkasnya. (khn)