28.5 C
Mataram
Saturday, September 26, 2026
spot_img
Home Blog Page 93

Pembagian Kuota Internet Belum Merata, ini Kata WR II

0

Media Unram – Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unram Kurniawan, angkat bicara terkait tidak meratanya pembagian kuota internet kepada seluruh mahasiswa Unram.

“Yang bermasalah adalah pemilik kartu simpati. Sedangkan kartu lain, Alhamdulillah tidak ada masalah,” ungkap Kurniawan kepada Media Unram saat dikonfirmasi via WhatsApp, Jumat (19/6).

Kurniawan menjelaskan, sebelumnya, pihak kampus melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram memberikan waktu kepada mahasiswa agar mengisi kembali nomor seluler di SIA Unram hingga Rabu, (17/6) lalu. Tetapi sampai dengan hari ke lima UAS, masih banyak mahasiswa yang belum mendapatkan kuota internet.

“Terkait masalah mahasiswa yang belum mendapatkan kuota, saya belum ada laporan,” lanjut Kurniawan.
Kurniawan mengatakan, bagi mahasiswa yang belum mendapatkan kuota internet dari kampus, agar segera memberikan data kepada kami melalui BEM.

Pada waktunya yang sama, Media Unram juga mewawancarai salah satu ketua perhimpunan mahasiswa prodi, Usmariadi. “Terkait data, kami sudah menyerahkan data kepada pihak BEM. Tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan terkait itu,” beber Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Unram ini.

Orang yang biasa disapa Us ini juga menjelaskan, pihak BEM mengatakan bagi mahasiswa yang belum mendapatkan kuota internet sejak awal, akan memperoleh kuota dobel.

“Untuk mahasiswa sosiologi saja sekitar 50 orang yang belum mendapatkan kuota internet. Dan sampai sekarang belum ada,” lanjut Us.

Mahasiswa yang berasal dari Lombok Utara ini berharap, semoga Unram segera mendistribusikan kuota kepada mahasiswa. “Semoga ada titik terang, terkait masalah ini. Kasihan teman-teman yang sedang melakukan UAS, jangan sampai terkendala karena kuota internet,” pungkasnya. (khn)

Banyak Mahasiswa Belum Dapat Kuota Internet, Ketua Himasos: Unram Jangan PHP

0

Media Unram – Hingga hari ke lima Ujian Akhir Semester (UAS), kuota internet yang disediakan oleh Unram belum sepenuhnya didapatkan oleh mahasiswa.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Usmariadi menjelaskan, banyak mahasiswa yang belum bisa mendapatkan kuota dari Unram. “Ini menjadi perdebatan di grup ketua himpunan Unram,” ungkapnya saat diwawancarai Media Unram via WhatsApp, Jumat (19/6).

Lebih jauh dia menjelaskan, sebelum UAS pihak Unram mengatakan akan mendistribusikan kuota internet kepada seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.

“Bahkan banyak yang belum mendapatkan sejak bulan lalu. Dan hari ini, masih ada mahasiswa yang belum mendapatkan kuota. Padahal UAS sedang berlangsung,” lanjut orang yang biasa disapa Us ini.

Us berharap agar pihak Unram segera memberikan kuota kepada seluruh mahasiswa. “Unram jangan PHP. Kasihan teman-teman yang sedang melakukan UAS, jangan sampai terkendala karena kuota. Semoga aja ada titik terang nantinya,” pungkasnya. (khn)

Kawan

0

Oleh: Khan, Mahasiswa Jomblo Pecinta Kopi.

Kawan, bagaimana kabar kalian? Sudah lama kita tidak berjumpa ya

Kawan, tak rindukah kalian saat kita duduk melingkar bersama?

Menikmati secangkir kopi di pinggir jalan,
Membahas persoalan yang ada; Mulai dari tugas, kampus, gadis, hingga kondisi negara yang tengah krisis.

Kawan, taukah kalian, bahwa hari ini aku sedang mengkhawatirkan keadaan kita.

Nilai akhir, kuota internet dari kampus yang akan berakhir.

Kawan, ngomong-ngomong, apakah kalian sudah membaca berita?
Tentang hukuman bagi pelaku yang menyiram air keras, hanya mendapatkan ganjaran satu tahun penjara.                                 Alasannya, karena tidak sengaja. Padahal, cacat mata seumur hidup adalah akibatnya.
Pasti sudah ya.

Oh iya kawan, terkait masalah tentara, yang viral karena meminta presiden untuk turun dari jabatannya,          Justru malah dia dipecat dari dari jabatannya.

Tentara yang dipenjara karena menangkap TKA,                     walaupun dalam berita yang tersebar dia dipenjara karena terlibat dalam kasus pembunuhan.

Padahal, yang dibunuh itu adalah seorang pencuri kelas berat,          orang yang selalu membuat resah masyarakat.

Yang membuat ku heran kawan, kasusnya kapan, waktu penangkapnya kapan.

Apakah kalian tau itu?

Kawan, aku sedih, ketika TKA asing sudah banyak masuk ke Indonesia. Merampas hak kerja masyarakat kita. Tapi, itukan berita lama, sudah lumrah. Hahaha… TKA dapat kerja, warga sendiri merana.

Kawan, sejenak, mari kita sisihkan sedikit waktu untuk mendoakan Indonesia. Semoga lekas sembuh, baik dari virus corona maupun dari virus hukum negara.

Kawan, ingat, jaga diri mu,
Kita akan bertemu dengan keadaan yang baru. Dengan semester yang baru pula.

Pojok kamar, 15 Juni 2020.

Wisuda Online Unram Ditunda

0

Media Unram – Rencana wisuda online yang akan dilaksanakan Unram pada 18 Juni 2020 ditunda dengan alasan pendaftar yang jumlahnya sangat sedikit.

Berdasarkan SE Nomor 526/UN18.1/EP/2020 beberapa pilihan untuk calon wisudawan dan wisudawati yang sudah mendaftar yaitu:
a. Semua biaya wisuda dikembalikan dengan rincian:
– Pembelian toga Rp 250.000,-
– Buku dan Kartu IKA Rp 75.000,-
– Bagi wisudawan dan wisudawati yang membayar biaya pengiriman saat mendaftar pengiriman, biaya pengirimannya Rp 50.000.
Bagi yang memilih poin a, hanya mengembalikan kelengkapan atau toga yang pernah diterima.

b. Sebagian biaya wisuda dikembalikan
– Buku dan Kartu IKA Rp 250.000,-
– Bagi wisudawan dan wisudawati yang membayar biaya pengiriman saat mendaftar pengiriman, akan dikembalikan Rp 50.000.
Bagi yang memilih poin b, pada saat dibukanya kembali pendaftaran wisuda , maka tidak perlu lagi membayar biaya pembelian toga.

c. Biaya wisuda tidak dikembalikan
Bagi yang memilih poin c , pada saat dibukanya kembali pendaftaran wisuda, maka tidak perlu lagi membayar biaya pembelian toga, buku dan kartu IKA serta biaya pengiriman. Ini berlaku bagi wisudawan dan wisudawati yang sudah membayar biaya pengiriman saat pendaftaran.

Khusus para wisudawan dan wisudawati yang memilih pengembalian biaya wisuda harus mengikuti mekanisme yang tertera di  http://wisuda.unram.ac.id. Kemudian, mengisi isian nomor rekening pengembalian biaya wisuda. Pengisian nomor rekening ini mulai dapat dilakukan pada 19-30 Juni 2020. Pengembalian biaya dilakukan melalui nomor rekening sesuai dengan yang diisi oleh pendaftar. Pelaksanaan wisuda periode Maret 2020 yang sempat tertunda akan tetap dilaksanakan dalam waktu yang belum dapat ditentukan. (lnf/b)

Nomor Satu

0

Michael Waroy

Engkau yang selalu jadi nomor satu,
Ku ingin kau tau betapa aku merindu,
Rinduku begitu parah hingga membatu,
Dan kau adalah mantra untuk melunakkannya,
Aku yang pergi terlalu aksa,
Hatiku terus meronta-ronta,
Sebab menanggung rasa.

Hai kau yang nomor satu,
Di sini aku sendiri tanpa ada yang memahamiku,
Seperti bayi yang masih belajar bicara,
Sedang kau laksana ibu yang memahami anaknya.

Kau memang nomor satu dan satu-satunya,
Entah kapan kita berjumpa,
Semoga aku bisa mendapat mantra,
Sebelum kejamnya mati tiba.

Mataram, 11 Juni 2020

Hari Lahir Pancasila di tengah Pandemi Covid-19

0

Oleh : Hasan Ikhtiar Akbar
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mataram

“Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang ku kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah”(Ir. Soekarno).

Pada 1 Juni 1945 Pancasila di rumuskan oleh Bung Karno dan para Founding Fathers. Tentu ini tidak berjalan mulus, akan tetapi ada beberapa gejolak yang dialami bangsa dan Founding Fathers sehingga terciptanya titik terang Pancasila. Dan kini Hari Lahir Pancasila di peringati setiap tahun, yakni pada 1 Juni. ĹppĺPancasila merupakan dasar negara bangsa Indonesia serta pedoman hidup bagi warga negara Indonesia dan diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa dalam bernegara.

Menurut Muhammad Yamin, Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.

Seharusnya bangsa Indonesia bangga dengan Pancasila, sebab Pancasila merupakan ideologi yang lengkap. Apabila diimplementasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, akan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan.

Namun kenyataannya, penerapan Pancasila masih jauh panggang dari api. Apalagi pada situasi sekarang ini, di tengah merebaknya Virus Corona sangat jauh dari harapan. Yang terjadi kini bukan penerapan Pancasila, melainkan pergeseran Pancasila. Ketuhanan yang menjadi pilar utama moralitas, telah diganti dengan keuangan yang terbatas. Kemanusiaan yang akan mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, telah diganti dengan kebiadaban. Semangat persatuan telah berubah menjadi pergolakan dan perdebatan, semangat para Founding Fathers telah sirna atas perbuatan yang merusak etika. Permusyawaratan sebagai sikap kekeluargaan sudah jarang dilakukan, sifat individualisme makin menjadi jadi. Bahkan semakin terang diperlihatkan. Sementara keadilan sosial telah berubah menjadi keculasan dan keserakahan. Tanpa memikirkan hak-hak yang semestinya mendapatkan bantuan.

Penerapan Pancasila belum benar-benar dilaksanakan secara murni, serta konsekuen dalam kehidupan sehari-hari berbangsa dan bernegara. Implementasi makna Pancasila dirasakan masih jauh dari harapan. Karena masih banyak hal-hal yang tidak sepadan dengan kandungan yang ada di Pancasila. Sebab di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai umum sekaligus khusus yang menjadi pengikat bangsa ini.

Perekonomian bangsa saat ini sedang dalam bayang-bayang, para pekerja banyak di PHK karena perusahaan kesulitan untuk menanggung beban biaya tenaga kerja. Penurunan permintaan pasar yang ekstrim membuat perusahaan harus melakukan penghematan biaya operasional. Apabila hanya berpaku pada pengendalian kesehatan saja. Perekonomian masyarakat dan pemerintah akan memburuk. Ini adalah tugas bersama agar bagaimana dua hal yang sangat penting ini menjadi seimbang.

Menurut penulis masyarakat harus tetap melakukan aktivitasnya dalam menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19 ini. Hanya saja, tentunya harus dengan tetap menerapkan disiplin New Normal. Tetap menjalankan protokol kesehatan, sebagai fase yang sudah mulai dijalani oleh masyarakat sekarang ini.

Berbicara mengenai New Normal. Dalam aspek sosiologis New Normal saling terkait dengan perubahan sosial. Perubahan sosial sering melahirkan pro kontra. Dikarenakan adanya pemaknaan yang saling bertentangan. Oleh karena itu pemerintah harus benar-benar mensosialisasikan agar masyarakat tidak gagal paham yang mengakibatkan kesengsaraan.

Merujuk pada Teori Fungsionalisme Talcot Parsons. Masyarakat layaknya seperti organ tubuh manusia, yang saling terikat dan berhubungan satu sama lain. Artinya guna mencegah penyebaran Covid-19 tentu harus adanya koordinasi yang harmonis, jangan ada berita yang simpang siur antara masyarakat dan pemerintah. Dan ini penting untuk menjaga stabilitas dalam masyarakat. Covid-19 ini merujuk pada bentuk perubahan sosial tidak terencana. Perubahan sosial ini terjadi di luar kehendak dan pengawasan masyarakat, sehingga banyak menimbulkan pertentangan di antara masyarakat.

Kini Covid-19 per tanggal 31 Mei 2020 pagi telah mencapai 25.773 kasus, ini merupakan angka yang cukup tinggi bagi sebuah negara. Ini terjadi karena kurangnya perhatian dan kerjasama antara seluruh warga Indonesia. Masih banyak masyarakat yang ngeyel akan kesehatan dan keselamatan. Masih banyak masyarakat yang sok kebal (anti Corona).

Masa wabah bukan berarti tidak bisa apa-apa, justru menjadi kesempatan untuk saling menjaga, memanfaatkan waktu yang ada untuk beribadah kepada yang maha kuasa. Kini bulan suci ramadhan telah berlalu, hal ini mengakibatkan masyarakat semakin banyak yang berlalu lalang melakulan aktivitas di luar rumah. Hal ini menyebabkan di beberapa daerah menerapkan masuk desa wajib memakai masker. Ini merupakan langkah yang tepat selain penyemprotan disinfektan di setiap daerah dan cuci tangan menggunakan sabun serta penerapan pola hidup sehat. Tentu ini digelar guna pencegahan penyebaran Covid-19 yang semakin meningkat.
Dengan demikian jika merujuk pada kekuatan Pancasila. Penerapan Pancasila dengan sungguh-sungguh akan memudahkan semua dalam mengatasi merebaknya Covid-19 ini. Karena di dalam setiap sila Pancasila sangat jelas arah dan tujuannya. Mari sama-sama bersatu, jauhkan ego masing-masing, saling memperhatikan dan berperilaku baik dan adil demi keberlangsungan hidup yang benar-benar kembali normal.

Terakhir untuk superhero saat ini (tenaga medis) tetap semangat dalam menjalankan tugas di sini kami membantu lewat doa dan tindakan yang dapat mencegah Covid-19 dengan diam dirumah apabila tidak ada hal yang sangat penting dan mendesak, selalu menjaga pola hidup sehat. Semoga tidak ada lagi masyarakat yang melanggar etika. Akan ada saatnya bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta. Semoga Allah membalas semua kebaikan-kebaikan yang telah diberikan untuk masyarakat dan bangsa. Aamiin.

Menyikapi Pluralitas Beragama

0

Oleh: Michael Ayyasy Waroy

Hidup di sebuah komunitas dalam suatu wilayah dan negara, manusia pada hakikatnya mempunyai satu kesamaan yakni individu sebagai makhluk sosial dan spiritual. Tetapi dalam suatu wilayah negara mempunyai silsilah dan sejarah yang berbeda-beda, entah itu budaya, ras, maupun agama. Sehingga pada keadaan tertentu, legitimasi setiap kelompok yang kuat kemudian melahirkan perbedaan dalam masing-masing kelompok. Pada era modern ini, dalam suatu kelompok tidak hanya mempunyai satu kesamaan yang tunggal tetapi heterogen dan multikultural, karena faktor globalisasi yang membuka gerbang manusia untuk masuk ke dalam dunia politik, ekonomi, sosial maupun lainnya.

Dengan perbedaan yang dimiliki dan kekhasan tersendiri, tampaknya masih banyak pengklaiman tentang kebenaran yang mutlak sendiri dalam masing-masing kelompok, salah satunya kebenaran dalam hal beragama. Agama lahir dari silsilah dan sejarah berbeda, agama mampu memposisikan manusia untuk menyandarkan dan menempatkan pemeluknya pada kedamaian dan kebahagiaan individu. Dengan agama, manusia bisa saling menampilkan dan menciptakan suatu ledakan revolusi yang berwatak kekerasan, konflik, dan disintegrasi. Dengan agama pula suatu masyarakat bisa saling membantai, melawan, dan membasmi kelompok masyarakat lainnya. Bahkan masyarakat dengan ras, budaya, dan bahasa yang sama bisa saling membantai karena perbedaan agama.

Di Indonesia, peristiwa Ambon, Kupang, Mataram dengan perusakan tempat ibadah merupakan bukti kongkret atas pluralitas agama yang tidak mampu disikapi dengan arif yang kemudian dipolitisir secara vertikal, akan memunculkan kemelut yang berkepanjangan.

Akhir-akhir ini mencuat ke permukaan umum beberapa masalah tentang intoleransi antara umat beragama, mulai dari Yarussalem di Israel, Rohingya di Myanmar, Uighur di Cina, sampai netizen Indonesia yang masih suka sindir-menyindir. Dalam rentan waktu saat ini, sontak isu tersebut menyita perhatian dunia, dengan latar belakang permasalahan yang berbeda dan bisa berdampak pada keutuhan berwarga negara diseluruh dunia.

Karena agama merupakan sesuatu yang nampak dan menjadikan pemeluknya percaya kebenarannya masing-masing. Sehingga menyebabkan setiap pemeluk agama melakukan klaim kebenaran (claim truth), karena agama fungsinya adalah memberikan kepastian. Klaim itu sangat baik karena disana letak kepastian dan keteguhan iman. Dalam relasi dan antar pemeluk agama, klaim semacam ini menyebabkan benturan bahkan permusuhan yang pada akhirnya menghasilkan malapetaka bagi manusia.

Dalam hubungan beragama dan hubungan antara mayoritas-minoritas, acap kali bersifat antagonistic sehingga selalu memunculkan persoalan yang menuju diskriminasi dan penindasan yang berekskalasi oleh yang besar maupun kecil, sampai ke pembasmian etnis (genosida). Secara cemerlang, sebenarnya adanya mayoritas dan minoritas tidak terlalu mempengaruhi rentan terhadap konflik, warna yang berbeda justru membentuk pelangi dalam kehidupan beragama yang rukun dan indah. Keseimbangan antar keduanya diharapkan akan semakin membentuk komposisi sosial yang ada. Ahmad wahib, dalam bukunya “Pluralisme Agama” menekankan beberapa pokok penting dalam menyikapi hal tersebut sehingga tidak terjadi chaos dan menimbulkan intoleransi.

Dalam pembinaan sikap toleransi beragama, mayoritas tentunya harus bisa menjadi sentral pokok dan penting dalam hal tersebut. Mengambil inisiatif dalam terputusnya jalur komunikasi, berdialog secara terbuka dan bijak, memahami dan mengerti kelompok agama lain, dan menghilangkan kecurigaan yang tidak perlu. Kemunculan intoleransi yang bersumber dari berbagai hal seperti konstalasi sosial, politik, dan ekonomi, membuat berbagai pihak harus mendorong pluralitas beragama.

Memandang manusia lain dengan penuh kasih sayang, menanggapi perbedaan dengan keterbukaan, memberikan ruang yang sama dalam kebebasan hak masing-masing, sehingga tidak selalu memvonis orang lain menjadi sesat dan toleransi tetap terjaga.

Dalam permasalahan yang terjadi pada saat ini, ledakan intoleransi tidak hanya dipicu secara horizontal kemudian muncul kepermukaan, konstalasi yang berkembang melalui media informasi sehingga menimbulkan persepsi yang kurang menyedapkan dalam benak umat beragama di dunia. Dengan yang mencuat di New Delhi, India kembali menegaskan permasalahan umat beragama masih belum usai. Kebebasan berpikir dalam bingkai berdemokrasi, menimbulkan persepsi antar umat beragama disana, sehingga terpengaruhnya hal tersebut menjadi adu ketangkasan, kemudian dialog keagamaan menjadi terputus.

Agama merupakan hal yang sensitif, sifatnya yang menusuk batin manusia dan sekaligus membentuk identitas pribadi sosial, sehingga rentan terhadap konflik. Agama pada hakikatnya adalah refleksi yang membuat manusia menjadi idealisme terhadap suatu tatanan sosial yang penuh keteraturan, perdamaian, dan cinta kasih. Agama manapun, yang secara formal dalam kenegaraan mengutuk keras adanya kekerasan, menghina, bahkan saling membasmi.

Dalam pandangan Tuhan yang menciptakan manusia, setiap orang bernilai pada dirinya sendiri, seseorang sekali diciptakan ia bernilai bagi dirinya sendiri dan bernilai di mata Tuhan. Setiap agama pada manusia harus mempunyai rasa aman, agama tidak boleh menciptakan rasa ketakutan dan mengancam. Agama harus baik terhadap siapa saja dan posisi manusia yang bermartabat (human dignity) manusia tidak boleh menjadi pion dan dipakai semata-mata sebagai sarana—yaitu sarana menjadi kaya dan sarana negara untuk mencapai sebuah tujuan.

Energi sosial sangat potensial dalam perbedaan, karena acap kali dalam hal tersebut mengintegrasikan penafsiran dan ketangguhan berbagai kelompok dengan dalil masing-masing tentang kegigihan dalam menciptakan sesuatu. Sehingga dalam ruang lingkup yang sama dengan perbedaan dan kekhasan masing-masing menuju masyarakat yang madani dan maju membuat energi sosial dalam perbedaan agama sangat diperlukan. “Penekanan orang beragama harus rendah hati, tidak ada yang lebih menelanjangi kebohongan seseorang daripada kalau ia berbicara tentang Tuhan dengan arogan, sombong, dengan menghina mereka yang berbeda,” (Nurkholis Majid).

Di dunia yang penuh kekerasan, kemiskinan, kekejaman dan keadaan putus asa, dimana orang-orang kurang makan perlu dibutuhkan agama-agama yang menjadi rahmatan lil alamin, atau dalam kutiapan Karl Marx “Agama hadir sebagai tempat bersandar dan mencurahkan keluh kesah manusia.” Perbedaan agama harus bisa kita sikapi dengan penuh kesadaran membawa diri tidak sombong, senantiasa dalam kesadaran diri bahwa kita sendiri tidak memadai, bahkan terhadap yang kita imani sendiri. Kalau kita menjadi kubu yang menolak kekarasan, sekaligus rendah hati, kita dalam segala keterbatasan akan menjadi sinar harapan bagi banyak orang yang hampir tanpa harapan. Perbedaan bukanlah sebuah masalah yang berarti, karena hakikatnya kita semua adalah manusia yang sama.

Aksi di Depan Gedung DPRD, BEM Unram: Kami Tidak Percaya Pemerintah dan Wakil Rakyat

0

Media Unram – Meski di tengah pandemi COVID-19 aliansi BEM Unram mewakili BEM SI wilayah Bali-Nusra menggelar aksi monolog di depan Gedung DPRD NTB, Rabu (20/05).

Aksi yang dilakukan oleh BEM Unram ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja pemerintah di depan Gedung DPRD NTB.

“Kami tidak percaya terhadap pemerintah dan para wakil rakyat atas kinerjanya selama ini,” kata Ketua BEM Unram Irwan.

Dalam aksi ini, ada beberapa poin tuntutan yang disampaikan. Pertama, menghentikan segala bentuk kebijakan yang tidak berpihak rakyat kecil dengan menurunkan iuran BPJS Kesehatan, menurunkan harga BBM, kendalikan harga pangan dan menyelesaikan banyak kasus PHK.

Kedua, menolak pengesahan dan pembahasan Perppu No. 1 Tahun 2020, RUU Minerba, RUU Omnibus Law Cipta Kerja dan RUU lainnya yang masih bermasalah yang tidak pro rakyat di tengah situasi pandemi COVID-19.

Ketiga, menuntut pemerintah untuk melakukan sinergitas rumusan langkah dalam memprioritaskan kebijakan dan meletakkan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan rakyat di tengah kondisi ini.

Aksi yang digelar sempat memicu ketegangan karena sempat dihadang oleh aparatur, namun melalui proses dialog yang cukup panjang akhirnya membuahkan hasil.
Irwan mengaku, poin tuntutan dalam aksi tersebut bukan untuk mendapat pengakuan dari penunggang kepentingan, tetapi sebagai bentuk pencerdasan terhadap rakyat dan momentum yang tepat dengan Hari Kebangkitan Nasional.

“Setelah mencoba berbagai strategi, akhirnya bisa menyampaikan orasi hampir dua jam dan sempat menyatakan sikap mosi tidak percaya, kita akan terus melakukan pengawalan terhadap kinerja pemerintah melalui media, mengkaji dan kemungkinan akan melakukan audiensi dalam waktu dekat,” kata Irwan kepada Media Unram.

“Hari Kebangkitan Nasional sebagai bentuk refleksi bagi kita bahwa masih banyak persoalan-persoalan yang harus dituntaskan dan diselesaikan,” pungkasnya. (B)

Mudik Versus Corona

0

Oleh: Abd. Ali Mutammima Amar Alhaq,
Mahasiswa Sosiologi/ Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Sosiologi Unram 2020

Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat dan bulan penuh ampunan Allah SWT. Segala ibadah baik yang kita lakukan semua dilipatgandakan pahalanya oleh-Nya. Namun kini, kenikmatan itu beberapa hari lagi akan berakhir, bulan suci ramadhan akan meninggalkan kita semua. Beberapa hari lagi kita akan merayakan hari kemenangan (Idul Fitri) dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati,
Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang paling ditunggu, khususnya oleh umat muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, persiapan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri itu dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan melakukan mudik atau pulang kampung bagi mereka yang merantau.

Dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang ada di kota besar menjadikan salah satu faktor dalam pertambahan penduduk. Warga kota yang sebagian besar merupakan pendatang melakukan aktivitas mudik pada kesempatan tertentu yang bersifat spiritual dan kultural. Salah satunya saat Hari Raya Idul Fitri.

Fenomena mudik merupakan kebiasaan atau tradisi yang sudah menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat Indonesia. Konsep silaturahmi dalam mudik itu lebih diikat oleh spiritualitas dan budaya. Agama dan budaya bergabung menjadi satu, sehingga mudik menjadi tradisi yang bersifat custom atau adat, dan tidak lagi hanya sekadar kebiasaan.
Salah satu hal unik yang dapat dikaji secara sosiologis dari fenomena mudik ialah meskipun kemajuan teknologi informasi saat semakin berkembang di masyarakat, hal itu tidak berpengaruh kepada aktivitas mudik. Dapat kita lihat, meski masyarakat semakin mudah untuk berkomunikasi melalui HP yang dimiliki, mudik tetap menjadi pilihan utama untuk bertemu sanak saudara. Yang tentu melibatkan kehadiran secara fisik.

Dengan dukungan berbagai fasilitas umum seperti jalan tol yang semakin banyak, transportasi umum yang semakin beragam serta layanan masyarakat seperti mudik gratis, akan semakin memudahkan masyarakat untuk melakukan aktivitas mudik dan kembali ke kampung halamannya. Namun mudik kali ini dihadapkan pada situasi pandemi yang sedang mengglobal, dunia dihadapkan pada ancaman penyebaran corona yang juga mengancam alur adat dan dan kebiasaan masyarakat pernatau untuk mudik.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi telah melakukan survei untuk menggali sudut pandang para kepala desa terkait mudik Lebaran 2020. Berdasarkan hasil survei itu 87,75% kepala desa menyatakan tidak setuju warganya yang berada di kota mudik Lebaran 2020. Sementara 10,25% kepala desa lain menyatakan setuju warganya mudik.
Kalaupun bisa mudik, di daerah tujuan para pemudik akan menghadapi sejumlah aturan bagi pendatang luar kota. Minimal ikut program isolasi selam 14 hari sebelum bertemu dengan keluarga dan lingkungannya. Jika bekerja, tentunya waktu 14 hari sudah melebihi batas waktu cuti, sehingga mudiknya akan sia-sia. Oleh karena itu penulis beranggapan bahwa, sangat tepat masyarakat untuk tidak mudik pada tahun ini agar penyebaran pandemi Covid-19 tidak semakin meluas.

Para perantau tak hanya dihadapkan pada pilihan tidak bisa mudik saat libur lebaran, melainkan juga harus berjuang bertahan hidup tanpa sanak keluarga di tanah rantau selama pandemi Covid-19. Idul Fitri yang seharusnya dijadikan momen berkumpul bersama keluarga serta melepas penat setelah setahun mengumpulkan pundi-pundi rupiah di rantau pun terkubur sementara.

Tentu ada kesedihan karena tak bisa melaksanakan ritual dan kebiasaan yang biasa dilakukan pada hari lebaran. Kesedihan mereka pun bertambah pula karena bukan hanya sebatas menunda mudik saat Idul Fitri, namun ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Sehingga para perantau bahkan tak bisa memastikan kapan mereka bisa bertemu dengan keluarganya di kampung halaman.
Dikaji secara sosiologis salah satu faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat yaitu adanya sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia. Adanya kebiasaan masyarakat yang pada tahun-tahun sebelumnya melakukan mudik namun karena adanya pandemi Covid-19 ini membuat kebiasaan tersebut menjadi berubah. Selo Soemardjan seorang tokoh Sosiologi Indonesia mengatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan pola perilaku masyarakat yang pada tahun ini tidak melakukan mudik termasuk ke dalam perubahan yang tidak dikehendaki (Unitended-Change) atau perubahan yang tidak direncanakan (Unplanned-Change). Perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan ini merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki, berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Jadi sangat jelas bahwa perubahan kebiasaan masyarakat yang setiap tahun melakukan mudik, namun karna adanya pandemi Covid-19 ini menyebabkan munculnya larangan mudik dari pemerintah. Inilah yang disebut dengan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.

Para sosiolog menyebutkan teori pilihan rasional yakni setiap orang ketika memilih tindakan didasari oleh nalar rasional, memaksimalkan kegunaan, memuaskan keinginan dan kebutuhan. Di dalam teori pilihan rasional, pilihan, keyakinan, dan tindakan memiliki hubungan satu sama lain. Sebuah tindakan akan dikatakan rasional bila tindakan tersebut memiliki hubungan dengan pilihan dan keyakinan.

Penulis menilai bahwa tidak terjadinya mudik saat wabah pandemi covid-19 bukan hanya sebatas pilihan rasional yang muncul karena kesadaran dari masyarakat. Namun, hal tersebut tidak terlepas dari adanya kebijakan pemerintah yang melarang mudik karena di khawatirkan mobilitas masyarakat pada saat mudik akan berpotensi menularkan Covid-19 ini. Pada konteks ini, ada faktor eksternal berupa kebijakan pemerintah yang membuat masyarakat tidak mudik, jadi bukan saja karna pilihan rasional.
Menahan hasrat untuk tidak mudik sebagai wujud rasa sayang terhadap keluarga. Kita semua harus berpartisipasi menanggulangi pandemi Covid-19 ini. Mudik ditengah wabah pandemi Covid-19 sama saja membawa maut bagi orang tercinta. Semoga wabah ini segera berlalu dan kita dapat hidup normal kembali.

Pemotongan UKT Belum Jelas, Khairul: Unram Serius atau Tidak?

0

Media Unram – Menko Harmonisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram Khairul Muamalah mempertanyakan keseriusan Unram mengenai UKT mahasiwa selama pandemi Covid-19, Sabtu (2/5).

Menurut Khairul, keinginan mahasiswa saat ini adalah Unram mengeluarkan kebijakan pemotongan UKT selama musim virus corona ini. “Misalnya UKTnya satu juta, karena ada adanya kebijakan yang dikeluarkan Unram, maka bisa menjadi lima ratus ribu,” beber Khairul saat dikonfirmasi mediaunram.com melalui Whatsapp.

Khairul juga menanggapi pernyataan Rektor Unram, Lalu Husni mengenai banding grade sebagai solusi untuk UKT selama virus corona. Menurutnya, solusi yang dikeluarkan oleh birokrasi Unram tidak bisa menyelesaikan permasalahan mahasiswa saat ini.

Khairul menjelaskan, perbandingan grade sebenarnya sudah ada dengan mempertimbangkan 21 sebagai indikator didalamnya. “Perbandingan gred tidak menurunkan grade UKT mahasiswa, justru bisa naik,” katanya.

Lebih jauh pria asal Bima ini menjelaskan, berdasarkan Permen nomor 39 tahun 2007, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dapat meringankan UKT mahasiswa jika mahasiswa mengajukan ketidaksesuaian kemampuan ekonomi mahasiwa.

“Nah, sekarang kan sedang musim Covid-19, seharusnya Unram dapat memberikan solusi yang tepat. Dengan mengeluarkan SK pemotongan UKT mahasiswa selama Virus Corona,” ungkapnya.

Sedikit informasi, mahasiswa Unram sudah melakukan aksi media, Kamis lalu, dengan membawa dua tuntutan.

“Kebijakan yang dikeluarkan Unram tidak sesuai dengan tuntutan yang dibawa mahasiswa. Yang menjadi pertanyaan, pakah Unram serius dalam menyikapi permasalahan mahasiswa?,” pungkasnya. (Khn)