28.5 C
Mataram
Saturday, September 26, 2026
spot_img
Home Blog Page 92

Stop, Jangan Lagi Ada Dosen Cabul di Unram

0
Ainun Jariah (foto: ist)

Media Unram – Salah satu aktivis perempuan Universitas Mataram (Unram), Ainun Jariah turut berkomentar terkait kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum dosen Fakultas Hukum (FH), (19/7) lalu. Menurutnya, pelaku pencabulan tersebut harus diberikan hukum yang pantas, seperti hukuman pidana maupun administrasi.

Anggota Forum Pengkaji Konsitusi (Formasi) ini juga berharap pihak kampus dan kepolisan mengawali kasus ini hingga selesai.

“Ya walaupun korban hanya meminta dosen pembimbingnya diganti, setidaknya kasus ini harus selesai, agar tidak terjadi lagi,” beber Ainun kepada Media Unram, Rabu (22/7) sore.

Ainun menjelaskan, keputusan pihak Unram untuk mengeluarkan oknum dosen dari jabatannya adalah langkah yang tepat. “Stop, jangan sampai kampus sekelas Unram memiliki dosen-dosen berotak cabul. Jika masih ada dosen seperti itu, lebih dikeluarkan,” tegasnya.

Perempuan kelahiran Bima ini juga mengimbau kepada seluruh mahasiswa/i untuk meningkatkan kewaspadaan  terhadap segala bentuk bentuk pelecehan seksual, baik di dalam maupun dl luar lingkungan kampus. “Saya mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman untuk selalu waspada,” katanya.

Pada ujung pembicaraanya bersama Media Unram, Ainun berharap, ini adalah kasus pencabulan terakhir yang yang terjadi di Unram maupun universitas lain. “Semoga tidak ada lagi kasus seperti ini di dalam lingkungan kampus,” pungkasnya.

Sebelumnya, oknum dosen yang melakukan pencabulan dengan inisial NIN ini telah menjalani  sidang Dewan Kode Etik Fakultas Hukum Unram, Selasa (21/7) lalu.

Berdasarkan hasil sidang yang dimpimpin Ketua Dewan Kode Etik FH Unram, Prof. Zainal Asikin SH MH dan belasan dosen yang tergabung di dalamnya, oknum dosen tersebut dipecat dari jabatannya sebagai Sekretaris Bagian di jurusan Hukum Pidana FH Unram. (adk/khn)

Ratusan Orang Menandatangani Petisi Agar Rektor Unram Mengusut Tuntas Dugaan Pelecehan Seksual

0
Ilustrai Petisi (ist)

Media Unram – Ratusan orang telah menandatangani sebuah petisi yang diajukan kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknnum dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (FH Unram), Senin (20/7).

Berdasarkan pengamatan Media Unram, hingga saat ini, pukul 14.12 WITA, sebanyak 125 orang telah menandatangani petisi yang dibuat oleh Nur Janah ini.

Pelecehan seksual yang dialami perempuana/ laki-laki dikampus akhir-akhir ini sudah mulai disuarakan oleh korban. Fenomena ini bukan hanya terjadi di kampus pinggiran, tapi diUnivesitas ternama di Indonesia. Nusa Tenggara Barat kali ini dikejutkan dengan munculnya kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen Fakultas Hukum. Kejadian ini dilakukan dengan modus konsultasi skripsi yang dilakukan diruang tertutup, bahkan sampai ke kediaman oknum dosen. 

Relasi kuasa antara dosen dengan mahasiswa/wi membuat tidak banyak korban yang berani melaporkan secara terbuka. Ketakukan akan tidak diluluskan, diberikan nilai yang rendah, tidak diikutkan dalam kelas oknum dosen (pelaku) menjadi momok tersendiri bagi korban. Katanya dalam petisi.

Seperti yang diketahui, salah satu oknum dosen FH Unram diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswi yang sedang berkonsultasi skripsi. Karena melihat ruang dan waktu potensi terjadinya pelecehan seksual dilingkungan kampus, menjadi penyebab mereka menuntut agar Rektor Unram.

Adapun tuntuan yang dibuat sebagai berikut:

1. Membentuk tim investigasi independent untuk mengusut tuntas dugaan pelecehan seksual yang terjadi dilingkungan Fakultas Hukum dan semua Fakultas di UNRAM .

2. Membahas secara terbuka hasil temuan tim investigasi indepentent sebagai wujud edukasi kepublik, serta  memastikan akuntabilitas.

3. Menyediakan SOP terkait dengan mekanisme konsultasi  tugas-tugas perkuliahan.

4. Menyediakan sistim  layanan/ mekanisme pengaduan yang ramah bagi korban untuk melapor.

Untuk menandatangani petisi tersebut, bisa mengunjungi https://www.change.org/p/gubernur-ntb-usut-tuntas-kasus-dugaan-pelecehan-seksual-di-unram?recruiter=30709405&utm_source=share_petition&utm_campaign=psf_combo_share_initial&utm_medium=whatsapp&recruited_by_id=acac8260-da78-012f-a1bc-40401fa5e37a (khn)

Sedang Konsul Skripsi, Mahasiswi Diduga Dicabuli Dosen

0

Media Unram – Seorang oknum dosen di Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) diduga cabuli mahasiswi. Kasus tersebut terungkap setelah keluarga korban membeberkan dugaan pencabulan tersebut pada pihak kampus.

Diduga, aksi pencabulan dilakukan saat korban tengah melakukan konsultasi skripsi di salah satu ruangan Fakultas Hukum.

Rektor Unram, Prof. Lalu Husni yang dihubungi belum lama ini enggan berkomentar banyak. Ia meminta media menghubungi Wakil Rektor III Unram.

“Masih ada acara, ke WR III saja,” katanya melalui aplikasi pesan instan.

Sementara Dekan Fakultas Hukum Unram, Dr. Hirsanuddin, mengatakan kasus tersebut dalam proses verifikasi.
“Kami baru dapat informasi tentang masalah tersebut. Kami sekarang sedang melakukan verifikasi terhadap yang bersangkutan terlebih dahulu baru kami bisa informasikan,” ujarnya belum lama ini.

Ia mengatakan, pada Senin besok oknum dosen bersangkutan akan dilakukan sidang etik terkait kasus tersebut. Sidang etik akan digelar di Unram secara terbuka.

Ketua Majelis Etik Fakultas Hukum Unram, Prof. Zainal Asikin menyarankan agar kasus tersebut dibawa ke aparat penegak hukum, sehingga dari penyidikan hingga hasil putusan pengadilan, Majelis Etik dapat mengeluarkan putusan terhadap oknum dosen tersebut.

“Kita bicara sanksi, norma hukum berbeda dengan norma etik dan berbeda sanksinya. Tidak bisa orang melanggar kode etik dihukum dengan norma hukum,” katanya.

“Kalau pelanggaran kode etik hukuman terberat penurunan pangkat, (dan) pencopotan jabatan sebagai sekretaris jurusan. Kalau mau dihukum pecat maka lihat UU ASN yaitu kalau dihukum pidana dengan ancaman hukuman lima tahun,” imbuhnya.

Namun ia mengatakan akan tetap berikan sanksi maksimal terhadap oknum dosen tersebut. “Insyaallah kita akan kenakan sanksi yang maksimal,” ujarnya. (red)

Sumber: KoranNTB.com

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof Dr Enny Yuliani membenarkan bahwa ada dugaan pencabulan yang dilakukan oknum dosen FH Unram. “Saya mendapatkan informasi dari WD III FH,” katanya kepada Media Unram via WhatsApp, sore tadi. (*)

 

Desa “BISA” NTB, Terobosan Untuk Memajukan Wisata Ditengah Pandemi

0
Kanan, Wabup NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Foto; www.ntbprov.go.id)

Media Unram – Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah mengatakan desa wisata akan kembali ramai dikunjungi, jika pengelola mampu memberikan rasa aman dan sehat kepada para wisatawan. Oleh karena itu, program Desa Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) yang didorong oleh Kementerian Pariwisata dan ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) harus diperjuangkan dan didukung, karena menjadi kebutuhan pariwisata di masa yang akan datang.

“Pariwisata yang kita perjuangkan tidak bisa dipisahkan dengan konsep sehat dan aman, tidak hanya wisata indah dan bersih saja,” ucap Wagub dalam sambutannya saat meluncurkan Desa Wisata dan program BISA di Dermaga Tawun, Desa Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (18/7).

Wabup menjelaskan, bahwa pariwisata yang ada di Kabupaten Lombok Barat terus mengalami kemajuan yang membanggakan. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas semua pihak untuk memberikan edukasi kepada masyarakat maupun wisatawan agar tetap mematuhi protokol kesehatan.

‘’Kalau wisatawan sudah melihat keindahan, merasakan kemanan serta kebersihannya tetap terjaga. Maka rasa rindu mereka untuk berkunjung akan terus tumbuh,” tegas orang yang biasa umi Rohmi ini.

Umi Rohmi berpesan, pembangunan destinasi wisata di Kabupaten Lombok Barat harus mengutamakan dan sejalan dengan kelestarian alam. “Jangan sampai membangun namun tidak memperhatikan kelestarian alam,” katanya.

Tidak lupa juga dia menekankan pentingnya bagi daerah wisata untuk mematuhi protokol Covid-19 sebagai syarat hidup aman dan produktif di masa pandemi. “Kita tidak boleh bosan dengan protokol Covid-19, kita tidak bisa memilih salah satunya apakah aman atau produktif, harus keduanya,” ujar Rektor Universitas Hamzanwadi tersebut.

Dengan demikian, lanjutnya, tanggung jawab yang paling utama adalah menjaga lingkungan agar tetap indah dan aman bagi siapapun yang berkunjung. “Semangat berjuang dengan slogan ‘clean, safety dan environment’ ini benar-benar harus diwujudkan. Bukan hanya slogan saja,” tegas Wabup.

Senada dengan itu, Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid mengatakan, destinasi wisata di Sekotong merupakan masa depan Kabupaten Lombok Barat, karena potensi alamnya yang luar biasa. Untuk itu, banyak hal yang harus disiapkan oleh pemerintah, terutama penataan lingkungan serta menyediakan fasilitas pendukung lainnya.

“Pemda telah menyusun peraturan bupati tentang penataan destinasi wisata. Supaya wisata ke depannya betul-betul ditata dengan baik,” tegasnya.

Fauzan menjelaskan, secara umum isi peraturan bupati tersebut adalah mengatur semua kelas hotel yang dibangun oleh para investor harus berstandar kecuali homestay milik masyarakat. Kemudian, Pemda juga mengatur hal-hal detail lainnya seperti, penempatan kabel yang mengharuskan semuanya underground atau dibawah tanah.

“Demikan pelabuhan, hanya tiga yang kami izinkan untuk boleh dibangun. Dua milik swasta dan satu pelabuhan milik pemerintah,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Fauzan, pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah mengembangkan 57 desa yang akan diprioritaskan sebagai desa wisata. Semua desa-desa wisata tersebut secara bertahap akan dilakukan digitalisasi.
“Sehingga websitenya akan tersambung dengan website Dinas Pariwisata Lombok Barat. Dan Pemda Lobar akan membantu semaksimal mungkin untuk mempublikasikannya. Ini menunjukan kita memiliki atensi besar terhadap pengembangan wisata, termasuk dalam menjaga lingkungan pesisir kita,” tutup Bupati Lobar. (khn)

Karena Mules, Ketua DPRD Tidak Bisa Menemui Aksi Tolak Omnibus Law

0

Media Unram – Ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat NTB mendatangi kantor DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (16/7).  Dalam aksi ini mereka mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi NTB untuk mewujudkan pendidikan gratis melalui pengalokasian anggaran APBD dan lima tuntutan lainnya kepada wakil rakyat. Namun sayang, mereka tidak bisa menemui Ketua DPRD karena mules.

Menurut pengamatan Media Unram, massa aksi yang terdiri dari berbagai organisasi seperti, BEM Unram, BEM NTB RAYA, KAMMI, SMI, LMND, HMI MPO, PMKRI, dan FPBI ini berkumpul di Arena Budaya Unram. Kemudian berjalan menuju kantor DPRD melalui Jl. Airlangga Gomong, Kec. Selaparang menuju Kantor DPRD Provinsi NTB sambil melakukan orasi.

Pukul 11.08 WITA massa aksi sampai di Kantor DPRD. Koordinator Umum (Kordum) sekaligus Ketua BEM Unram Irwan membacakan tuntutan. Berikut tuntutan yang disampaikan:

  1. Menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja.
  2. Mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi NTB untuk mewujudkan pendidikan gratis melalui pengalokasian anggaran APBD.
  3. Mendesak pemerintah untuk membuka ruang partisipasi untuk seluruh elemen masyarakat dalam setiap perubahan undang-undang maupun kebijakan.
  4. Harus ada regulasi dari Pemda NTB terkait stabilitas harga komofitas pertanian.
  5. Menolak RUU HIP dan mencabut dari PROGLENAS.
  6. Stop represifitas terhadap gerakan rakyat.
Kordum sekaligus Ketua BEM Unram saat orasi dan membacakan tuntutan. (Foto: Roy)

Sela-sela waktu, Media Unram menemui Koordinatur Lapangan satu (Korlap I) Anwar Dwi Anggara. Dia menjelaskan, tuntutan yang paling utama adalah omnibus law dan permasalahan pendidikan selama pandemi Covid-19.

“Selama pandemi ini kan banyak sektor ekonomi yang tidak berjalan. Banyak siswa/mahasiswa yang putus sekolah. Jadi kita menginginkan Pemda atau DPR punya sikap untuk memastikan bahwa tidak ada anak NTB yang putus sekolah,” terang Anwar.

Lebih jauh Anwar juga menjelaskan solusi yang diberikan terkait permasalahan pendidikan tersebut. “Solusi yang kami tawarkan adalah APBD di alokasikan untuk pendidikan saat ini. Atau uang beasiswa S2 program dari gubernur bisa dialokasikan ke S1, karena satu mahasiswa yang melanjutkan ke S2 bisa membiayai 20 mahasiswa yang s1. Jangan sampai kita membiayai S2 sementara yang S1 banyak yang putus pendidikan,” bebernya.

 

Anggota DPR menemui dan menerima tuntutan massa aksi

Tidak lama setelah melakukan beberapa orasi dari berbagai organisasi, pukul 11.51 WITA Ketua Komisi 1 DPRD Provinsi NTB Raihan Anwar menemui dan menandatangi tuntutan massa aksi. “Kalau seperti ini kan tuntutan pahlawan, buat apa saya pertimbangkan,” katanya.

Raihan Anwar saat menemui massa aksi. (Foto: Roy)

Ditemui setelah menandatangani tuntutan massa aksi, Raihan mengatakan akan melaporkan tuntutan tersebut kepada pimpinan. “Ketua tidak bisa menghadiri, karena mules hehehe,” ungkapnya dihadapan sejumlah wartawan. Raihan menjelaskan, pihak DPRD akan menyelesaikan tuntutan massa aksi sebelum tanggal 27 Juli. “Namanya usaha kan, jadi biar diteruskan ke pak gubernur,” ujarnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, sikap DPR dengan meneruskan aspirasi mahasiswa itu tidak sama persis. Karena DPR ini terdiri dari berbagai partai, mewakili partai masing-masing, kebijakan mengenai itu tergantung pimpinan masing-masing partainya. “Tetapi sebagai wakil rakyat kita harus menampung dan menerima aspirasi masyarakat macam ini, sehingga saya harus menerima tuntutannya,” pungkasnya.

Usai tuntutannya diterima dan ditandatangani, massa aksi membubarkan diri dengan tertib pukul 12.29 WITA. (roy)

Cinta Kasih Untuk Aisya

0

“Oleh: Rahayu Praya Ningsih”

Hari ini untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku ingin segera aku akhiri. Awan pekat itu dengan kejam menyergapku, tanpa peduli aku sudah siap atau tidak. Impianku, cita-citaku dan segala mimpi indah berakhir sudah. Sebuah pengkhianatan sadis telah berlaku dalam sejarah hidup keluargaku.

“Lelaki macam apa kau Mas! Apa kami tidak cukup bagimu! Aku dan Aila setiap hari menunggumu pulang kerja dengan sabar dan setia, tapi lihat kelakuanmu! Dasar lelaki bajingan!” teriak Ibuku dengan amat geram.

Nafasku sudah hampir tidak bersisa, amat pedih mendengar pertengkaran itu. Bersembunyi dibalik selimut, menangis terisak-isak. Hingga lemas dan lemah tubuhku. Belum pernah aku merasakan derita sepahit ini dalam hidupku. Aku, anak sepuluh tahun dengan jelas mendengar setiap kata dan amukan orangtuaku. Aku tidak tahu apa rencana Tuhan terhadap anak kecil sepertiku sehingga empedu ini aku telan mentah-mentah.

Laki-laki yang ku sebut Ayah, telah meruntuhkan bangunan cinta yang selama ini berdiri kokoh. Pengkhianatannya menghancurkan kesetiaanku dan Ibuku. Tanpa merasa bersalah sama sekali, malamnya ia pulang dengan kabar duka. Membawa wanita paruh baya dengan bayi digendongannya. Mulanya Ibuku hanya mengira dia kawan atau rekan kerja dari Ayahku, tetapi itu hanya pikiran semu. Ayahku telah menikahi wanita jalang itu sejak dua bulan yang lalu. Wanita itu sebatang kara, ditinggal mati suami pertamanya lantas merengek kepada Ayahku untuk menghidupinya. Alasannya juga karena ia baru saja di PHK dari kantornya dan bayinya masih perlu banyak biaya untuk tetap hidup. Entah bagaimana Ayahku mengenal wanita itu, yang jelas aku sudah menancapkan kebencian kepadanya dan juga bayinya.

“Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, tapi aku minta satu hal, tolong terima dia dan bayinya,” pinta Ayahku.

“Pergi kau! Aku tidak sudi menampung lelaki bajingan dan wanita jalang dirumahku! Cuihh!” bentak Ibuku.

Mana mungkin Ibuku mau menerima perempuan itu. Akupun tidak akan pernah memanggil wanita itu Ibu, tidak akan pernah. Diusiaku yang masih kecil, Ayah sudah mengajariku menjadi gadis pendendam sejati.
***

Esoknya lagi-lagi aku mendapati kejutan pahit dari penghianat itu. Ibuku mendapati bayi yang ada digendongan wanita jalang itu semalam, kini sudah berada di depan pintu rumahku. Bayi itu diletakkan dalam keranjang kecil berselimut biru muda, dan di sela-sela selimut itu terselip sepucuk surat. Entah pukul berapa mereka kembali kerumahku malam itu. Yang aku tahu sekarang bayi itu adalah adik tiriku.

“Aila sayang ayo kamu segera berangkat sekolah, nanti telat ,” ucap Ibuku. Sebenarnya aku ingin menanyakan apa isi surat itu, untuk seusiaku wajar saja jika aku selalu ingin tahu perihal yang terjadi di sekitarku. Namun aku tidak punya waktu mengurusinya, karena sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup. Mungkin lain waktu bisa kutanyakan pada Ibu.

Pergi ke sekolah dengan hampa semangat dan impian yang padam. Ibuku juga tampak tidak begitu bergairah ketika aku menyalaminya, hanya segaris senyum tipis menghantar kepergianku. “Hati-hati dijalan sayang,” sahut Ibuku ketika aku baru saja keluar dari gerbang rumah.

Sesampainya di sekolah, sungguh semua hal berubah drastis dalam pandanganku. Semua terlihat mendung, bahkan terik matahari terasa sedingin kabut malam bagiku. Berteman sudah tidak menarik lagi, ikut lomba sudah tidak lagi aku lakukan. “Untuk apa?, toh juga tidak ada yang bangga,” batinku. Semangat untuk berprestasi sudah mati, tidak ada yang tersisa. Demikian hari-hariku berlanjut dengan hambar sampai seterusnya.
***

“Ngapain sih Ibu belain dia terus! Dia yang salah! Sengaja ngejatuhin vas bunga terus pura-pura luka!” bentakku.

“Sudahlah Aila, maafkan adikmu, lantainya sedang licin habis Ibu pel tadi makanya vas bunganya jadi jatuh, jadi dia emang ga sengaja,” ujar Ibuku membela.

“Alah! Dia aja yang lemah dan ceroboh! Lama-lama semua barang di rumah ini bisa pecah gara-gara dia!” sahutku dengan emosi memuncak.
“Tenang Aila, adikmu…”
“Ah! Sudahlah! Terserah Ibu! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap dia adikku, jadi jangan harap aku berbaik hati padanya,” ucapku sambil pergi ke kamar lalu mengunci pintu.

Selama tujuh tahun ini aku seakan-akan hidup di neraka. Setiap hari harus melihat bocah sial itu, berpura-pura semuanya baik-baik saja. Setiap kali bocah itu ada, kilatan memori pahit itupun kembali datang. Semakin menumbuhkan dendam dan kebencian kepada para penghianat itu. Berusaha menganggap kalau kehidupan kami bahagia, aku dan Ibuku serta adik tiriku. Namun tidak pernah satu hari pun hidupku menyenangkan, semenjak malam dimana Ayah membawa wanita dan bayinya itu kerumah.

Alangkah tidak sudinya aku sekalipun memanggilnya adik. “Bocah itu pembawa sial!” ujarku amat kesal.

Tapi entah mengapa Ibuku bersikap lunak padanya. Selama bertahun-tahun Ibu dengan sudi merawatnya, mencukupi kebutuhannya bahkan menyekolahkannya di SD tempatku dulu. Aku tidak tahu apa yang membuat Ibu mau menerima kehadirannya. Akupun tidak pernah menanyakannya, terlalu sibuk mengurusi kebencianku kepada sosok Ayah dan wanita jalang itu. Akupun juga mulai menjaga jarak dari Ibuku dan bocah itu, sibuk dengan duniaku sendiri hingga aku beranjak remaja.
***

Siang itu aku baru saja ingin menikmati tontonan televisi sambil menyilang kaki. Berharap ada yang bisa sedikit menghiburku setelah bosan berada di kamar. “Kakak, ini aku bawain kue bolu pandan kesukaan kakak, aku dan Ibu yang bikin tadi,” ujar bocah itu yang tiba-tiba menghampiriku. Aku terkejut ketika ia hendak menyodorkan bolu itu ke arahku. “Aku kasih kakak potongan yang paling besar biar kakak senang, hehe…” lanjutnya.

“Tidak usah! Aku sedang tidak nafsu makan,” ketusku. Bersikap sok manis dihadapanku tidak akan membuatku melupakan apa yang sudah terjadi. “Makan aja sana sendiri, tidak usah sok baik deh! Dasar bocah pembawa sial!” hardikku sambil berlalu meninggalkannya. Hilang sudah keinginanku untuk menonton tv, berbicara dengan bocah itu hanya membuat rasa bosanku kian meradang.

Nampaknya Ibu mendengar perkataanku. Kalimat kasar yang keluar dariku mungkin membuatnya merasa iba kepada bocah itu. Sayup-sayup dari dalam kamar kudengar Ibu mencoba menenangkan tangisan bocah itu. “Aku tidak peduli!” desisku.

“Aila sayang, buka pintunya nak, Ibu mau bicara sama kamu,” ucap Ibuku sambil mengetuk pintu kamar.

“Aku sedang sibuk Bu, lain kali aja,” sahutku dari dalam kamar. Yang benar saja, mana mungkin aku akan mau mendengar perkataan Ibuku yang hanya akan melontarkan pembelaan untuk bocah itu. Aku sebenarnya tidak sibuk, sama sekali. Hanya merebahkan diri dikasur sambil terus membayangi kejadian tujuh tahun lalu yang amat drastis mengubahku dan hidupku. Aku tidak peduli bagaimana keadaan penghianat itu. Dia sudah lama menghilang dari kehidupanku, tanpa kabar sama sekali. Masih hidup atau sudah mati, entahlah. Tidak penting bagiku.
***

“Jangan lupa besok Ibu datang ke upacara kelulusanku,” ujarku singkat. Sungguh malas sebenarnya untuk datang ke acara semacam itu, terlebih harus mengundang wali murid. Jika hari itu bisa kutinggalkan, maka pasti aku tidak perlu untuk meminta Ibuku untuk hadir. Namun sayangnya itu merupakan hari terakhirku menjadi siswi SMA. Aku juga tidak menyangka akan bisa bertahan selama itu, mengingat aku yang sudah putus asa akan makna dari hidup.

“Iya sayang, Ibu pasti datang untukmu,” balasnya.
“Tapi aku minta Ibu datangnya belakangan, aku berangkatnya sendiri aja,” ujarku. Lebih tenang rasanya kalau aku sendiri yang datang lebih dulu ketimbang harus datang bersamaan dengan Ibu dan bocah itu.

“Wah! Kak Aila sudah mau lulus SMA, bentar lagi kuliah terus wisuda terus nikah deh, hehe..” sahut bocah itu.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut bocah itu, seperti ada yang menusuk dadaku. Menghunus tepat di ulu hatiku, hingga rasanya emosiku mencuat. Terlebih dengan kata-kata menikah dan segala impian yang pernah aku bayangkan, ketika masih memilikinya dulu. “Sok tau! Kamu tuh ga tau apa-apa soal aku, jadi jangan coba-coba buat ngatur hidupku!” bentakku lalu pergi meninggalkan Ibu dan bocah itu yang masih duduk di sofa ruang tamu.
***

Keesokannya aku sudah siap-siap berangkat ke sekolah untuk terakhir kalinya. Mengenakan kebaya hijau muda lengkap dengan sanggulnya yang aku pinjam dari kenalanku. Untung saja dia mau berbaik hati meminjamkan miliknya, mengingat bahwa aku tidak pernah berpikir untuk menyiapkan hal-hal seperti ini.
“Bu, nanti Ibu langsung saja ke kursi para wali murid disana, tidak usah mencariku,” ucapku lalu segera berangkat menuju sekolah.
***

Sesampainya di sekolah aku lansung menuju kursi para siswa. Tanpa mau berbicara dengan orang lain disana ataupun hanya sekedar bertegur sapa. Aku berharap acara ini tidak berlansung lama agar aku segera bisa mengakhiri masa-masaku di SMA.

Hingga di penghujung acara, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti rangkaian yang ada. Hanya sekedar mengikuti instruksi dari pemandu acara saja. Pada saat sesi penyampaian kata-kata perpisahan, akupun tidak merasa sedih sama sekali. Tidak ada air mata yang keluar atau isak tangis yang terdengar. Benar-benar tidak ada.

Mengenai Ibuku, aku tidak tahu ia benar-benar datang atau tidak. Mengundang para wali sebenarnya hanya sebagai formalitas saja. Akupun tidak terlalu memikirkan hal itu. Sampai akhirnya acara telah benar-benar selesai dan kami telah dibubarkan. Teman-temanku yang lain sibuk berfoto dengan orangtua mereka, merayakan kelulusannya. Ada juga yang sedang berfoto bersama teman satu gengnya di depan photo boot yang sengaja dipampang di area upacara. Tidak ada rasa iri bagiku. Aku menghabiskan masa SMA-ku dengan amat biasa-biasa saja. Tidak ada kawan dan sahabat yang aku tangisi. Aku lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah.
***

Aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Padahal aku mengira Ibu sudah lebih dulu sampai di rumah. Hingga malam tiba, belum ada tanda-tanda kepulangan Ibuku. Ada rasa cemas yang mendatangiku, sebab walau bagaimanpun juga dia tetaplah Ibuku. Bertanya ke tetangga sekitar rumah mengenai keberadaan Ibuku, atau paling tidak mereka pernah melihat Ibuku berada dimana.

“Bapak ndak tau nak,” ujar Bapak yang rumahnya berada di samping rumahku.
“Aku ndak pernah lihat Ibumu seharian ini,” ujar gadis yang rumahnya berada di seberang jalan rumahku.

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Masuk ke dalam kamar Ibuku. Terkunci. Lantas segera aku dobrak pintu itu, namun tenagaku belum cukup kuat untuk membukanya. Aku berinisiatif mengambil linggis yang ada di dapur, lalu dengan sekuat tenaga aku hantam pintu itu hingga engselnya lepas dan akhirnya terbuka. Namun yang kutemukan nihil. Aku mengamati sekeliling, tidak ada yang aneh. Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada dua lembar surat di atas meja rias Ibuku.

Istriku tersayang,
Aku tidak memintamu untuk memaafkanku, juga tidak memintamu untuk mengikhlaskan madumu. Jangan anggap aku tidak mencintaimu. Kamu dan Aila adalah hartaku yang paling berharga. Tapi yang aku minta adalah tolong terima bayi ini, rawat dan sayangi dia seperti kau menyayangi dan merawat Aila, putri kecil kita. Ini adalah permohonan terakhirku dan Ibu dari bayi ini. Ibunya sebatang kara, dan hampir mencapai batas usianya karena penyakitnya.
Kami akan pergi ke dunia yang kau dan Aila belum pernah kunjungi. Namun Aila pasti akan membenciku, mendendam pada Ayahnya. Tapi aku percaya suatu saat nanti dia akan mengerti dan bisa menyayangi Aisya seperti adik kandungnya sendiri.
Selamat tinggal sayangku,
Aku tunggu hadirmu dalam keabadianku.

Bergetar hatiku membaca isi surat itu. Surat yang dahulu aku penasaran akan apa isinya, namun entah kenapa aku terlupa untuk menanyakannya kepada Ibu waktu itu. Surat yang ditulis oleh Ayahku, orang selama bertahun-tahun sudah memberiku keahlian menjadi seorang pendendam. Membuatku amat fasih mematikan hati dari perasaan sayang dan cinta kepada orang lain.

Sementara itu, pandanganku juga teralihkan ke lembar surat yang kedua. Pada pojok kirinya tertulis namaku,

Aila putriku sayang,
Maafkan Ibu Nak, Ibu hanya hadir sebentar, sekedar melihatmu untuk terakhir kalinya. Kamu sungguh cantik dan anggun mengenakan kebaya itu Nak.
Maaf Ibu harus segera pergi menyusul Ayahmu. Sakit yang Ibu derita biarlah Ibu saja yang tahu, kamu cukup bahagia saja.
Tolong kamu jaga adikmu, Aisya. Sayangi dia, sebab dia amat bahagia memiliki Kakak sepertimu.
Ibu menitipkan dia di sebuah Panti Asuhan untuk nanti sepulangmu dari sekolah, kamu bisa menemuinya. Segala kebutuhan hidupmu dan Aisya sudah Ibu siapkan Nak.
Ibu mencintaimu, dan akan selalu begitu.

Membaca kedua surat itu, membuat perasaan yang semulanya mati dan tidak bisa merasakan hangatnya kasih dan curahan cinta perlahan mulai hidup. Tanpa kusadari air mataku mengalir deras seketika. Kebencian yang selama ini tertanam kuat dan kokoh akhirnya hancur lebur. Kepedihan dari penghianatan sadis kini berganti menjadi tangisan kerinduan. Ibuku dan adikku, aku ingin memeluk erat mereka. Mendekap mereka dengan segenap hati sambil berkata aku mencintai kalian. Tapi kini, keluargaku yang tersisa hanyalah adik kecilku. Ayahku, Ibuku, dan Ibu tiriku sudah memberiku kasih sayang yang bahkan tidak aku tahu. Betapa bodohnya aku sehingga aku tidak bisa membaca bagaimana curahan kasih yang selama ini mereka berikan. Sungguh kejam perbuatanku kepada adik kecilku yang bahkan tidak pernah menaruh dendam sedikitpun kepadaku.

Cucuran air mata kini telah membasahi jiwa yang penuh dendam. Semuanya sirna, tidak bersisa. “Oh Tuhan! Dimanakah adikku sekarang?” jeritku dalam tangisan. “Apa yang sudah aku lakukan? Sungguh buta dan batunya hatiku sehingga tidak melihat kasih sayang mereka selama ini!” ujarku dalam kepedihan yang amat sangat.

Tanpa basa-basi lagi malam itu juga aku pergi mencari alamat dari Panti Asuhan yang Ibu maksud disurat itu. Bertanya ke sana-sini, naik-turun angkot demi menemukan Panti itu. Demi menemukan keluargaku.
***

Pukul 04.00 dini hari, aku akhirnya menemukan keberadaan lokasi dari Panti Asuhan tersebut. Setelah berjam-jam diperjalanan, sendirian mencari angkutan umum yang masih menyediakan jasa dan berbekal sebuah kartu bertuliskan alamat panti beserta kartu ATM yang Ibu selipkan di antara lembaran surat.

Memasuki halaman Panti Asuhan, aku lansung mencari seseorang yang berada disana, entah itu anak panti ataupun pengasuhnya. Beruntung aku mendapati penjaganya yang sedang duduk di teras panti sambil meminum secangkir kopi yang tinggal setengahnya.

Panjang lebar aku menjelaskan maksud kedatanganku kepada pejaga itu. “Sebentar ya Mbak, saya panggilkan penanggung jawab dari panti ini dulu,” ujar penjaga panti itu. Tidak berselang lama, orang yang dimaksud si penjaga itupun keluar sambil memakai sarung dengan kupluk hitam dikepalanya.

Baru saja aku ingin membuka mulut memberikan penjelasan. Namun, lansung saja aku dibantu penjaga panti itu menjelaskan maksud kedatanganku. Penjaga itu mengatakan persis seperti apa yang aku ceritakan kepadanya.

“Memang benar tadi pagi ada anak yang dititipkan di Panti ini, kalau anda mau mari saya antarkan ke kamar anak-anak untuk memastikannya,” ujar lelaki paruh baya itu.

Aku diajak menyusuri lorong Panti mencari kamar tempat adikku berada. Aku melihat ada dua lorong yang dihubungkan oleh satu ruang yang cukup luas. “Mungkin sebagai ruang kumpul atau ruang tamu,” pikirku.

“Silahkan anda masuk, adik kecil itu berada di dalam, mungkin sekarang masih tidur,” ucap lelaki itu. Dengan segera aku memasuki kamar itu, mataku sibuk mencari wajah adikku di antara anak-anak yang sedang tertidur pulas itu. Ada sekitar tujuh orang anak didalamnya yang tidur di atas ranjang bersusun. Sebanyak tiga buah ranjang bersusun yang kulihat disana.

Lalu pandanganku terhenti tatkala melihat seorang gadis kecil yang selimutnya hanya sampai perut tengah tertidur dengan lelapnya. Lansung saja aku menghamburkan diri memeluk adik kecilku.

“Kak Aila, kenapa Kakak disini?” ujarnya yang masih setengah sadar. Dia mungkin terkejut melihatku yang tiba-tiba datang memeluknya, namun kantuk masih saja menggantung di kelopak matanya.

“Kakak kesini mau jemput kamu pulang,” lirihku pelan.
“Tapi Kakak ga sayang sama Aisya, kan?” jawabnya dengan begitu polos.
“Maaf-kan Ka-kak, udah berbuat ja-hat sa-ma Aisya, Ka-kak janji ga ba-kal gi-tu lagi sa-ma Aisya,” ujarku sesenggukan dengan air mata mengalir deras. Begitu menyayat hati takkala aku mengatakan hal itu sambil terngiang bagaimana kelakuanku kepada adik kecilku ini. “Ka-kak sa-yang banget sa-ma Aisya, Kakak a-kan selalu sa-yang sa-ma Aisya sampai kapanpun,” ucapku sambil memeluknya dengan hangat.
“Aisya juga sayang Kak Aila,” balasnya.
“Sekarang, ayo kita pulang,” ujarku kepada adikku, Aisya.

Deky Aswandi, Pengidap Jantung Bocor Membutuhkan Bantuan Kita

0

Media Unram – Salah satu pengidap jantung bocor berasal dari Leong Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Deky Aswandi membutuhkan uluran tangan kita.

Menurut penjelasan salah satu keluarga korban, Hapid melalui Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat (Kadiv PM) Himasos, Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Deky mengidap penyakit jantung bocor selama empat bulan. Sesuai dengan rujukan Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB, kemudian harus di rujuk ke RS Jantung Jakarta.

“Saat ini, kami belum mempunyai dana untuk biaya pergi ke Jakarta dan biaya hidup selama menjalani pengobatan di sana,” ungkap Hapid.

Berikut keperluan yang dibutuhkan Hapid dan keluarga selama menjalani masa pengobatan di Jakarta yang berhasil dirangkum oleh Media Unram:
1. Tiket untuk PP tiga orang (satu pasien, satu keluarga , satu pendamping),
2. Biaya kos maksimal selama kurang lebih tiga bulan,
3. Biaya hidup sebanyak tiga orang,
4. Biaya tiket kontrol bolak balik setelah oprasi minimal 4 s/d 5 kali atau sampai dinyatakan sembuh total.

Hapid menjelaskan, pihak keluarga hanya mengandalkan bantuan dari donatur. “Kami hanya mengandalkan dari donatur. Kami tak mengingkari, Alhamdulillah dari Dinsos masih udah dapet,tapi dari PKH nya. Dari Baznas Kabupaten kita udah dapet. Sekarang kita ajuin ke Baznas provinsi tapi blm ada respon,” bebernya kepada Media Unram saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (19/6).

Mari, kita bersama-sama meringankan beban saudara Deky Aswandi, dengan memberikan sedikit bantuan kepadannya. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.

Untuk saluran donasi, melalui Bank BRI: 3571 01 032863 53 1 (MELLA LATHIFAH ANGGARANI)

Bukti transfer dikirim melalui: 0877 5973 9008 (SARINAH). (Khn)

Aku Menyerah

0

Oleh: Zyil Hasina

Dunia terus berputar,
Waktu terus berjalan,
Semangat kian memudar,
Harapan kian terlupakan.

Diri tak sanggup lagi berjuang meraih impian,
Kaki tak sanggup lagi melangkah mengejar angan,
Rasa tak sanggup lagi berkorban,
Tak ada lagi jiwa yang penuh harapan.

Perjuangan hanya tinggal kenangan,
Kini, aku menyerah.
Sebab keangkuhannya menghinakan hati,
Kepiawaiannya menggundahkan hati,
Kedengkiannya menyayat hati,
Kesetiaannya menunda rintangan kesuksesan yang kan ku alami,
Segala mengusik kisah hidup yang kutulis rapi.

Dan ku putuskan, aku menyerah.

 

Mataram, 22 Juni 2020

Sudah Berumur Tiga Tahun, ini Kisah Komunitas Seni Ampure Sesela

0

“Jika seni bertujuan untuk memelihara akar dari budaya kita, masyarakat harus membiarkan seniman bebas mengikuti visi mereka masing-masing kemanapun hal itu membawa mereka” – Jhon F. Kennedy.

Sesela, Media Unram – Untuk melepas kejenuhan selama beberapa bulan sekaligus menyambut new normal, anggota UKPKM Media Unram Sesela, Media Unram mengunjungi salah satu tempat komunitas kesenian, Ampure Sesela, Sabtu (20/6).

Pose bersama anggota UKPKM Media Unram bersama anggota Komunitas Ampure Sesela (foto: ist)

Dalam kunjungannya kali ini, anggota Media Unram juga turut berpartisipasi dalam salah satu rangkaian kegiatan yang diadakan oleh komunitas yang berasal dari Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat ini. Yaitu kegiatan kelas video grafis. Sebelumnya, beberapa kegiatan seperti, hiburan (bernyanyi), materi scat dan tentang cukil.

Menurut penjelasan salah satu pendiri komunitas ini, Ahmad ijtihad, Ampure Sesela merupakan sebuah komunitas yang memberikan wadah untuk berkspresi dan berkarya, khususnya para pemuda.

“Dalam komunitas ini kita bisa saling berbagi pengetahuan secara umum. Selain itu kami juga mengarsip sosio kulter yang ada di desa Sesela melalu berbagai media, baik tulis, audio visual,” beber orang yang biasa disapa Ijtihad ini kepada Media Unram, saat ditemui sedang duduk santai.

Kanan: Ahmad Ijtihad
(foto: ist)

Ijtihad juga menerangkan, mereka memperkenalkan hasil karyanya melalui pameran seni, pentas musik, hingga peristiwa budaya Bubupek. Yakni riset yang dilakukan selama satu bulan, kemudian dipresentasikan dalam waktu satu hari. “Setiap hasil riset dipresentasikan dengan cara dan tema yang berbeda-beda,” katanya.

Lebih jauh ijtihad menerangkan, kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh komunitas Ampure ini memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya masyarakat setempat. “Karena sebagaian besar aggota komunitas ini berasal dari sesela, maka setiap ada kegiatan komunitas pasti akan melibatkan pihak-pihak yang ada di desa,” ungkap ijtihad.

Selain itu, lanjutnya, melalui komunitas ini mereka bisa mengenalkan Sesela sebagai desa budaya. “Karena secara sejarah, Desa Sesela ini adalah desa yang berbudaya, hal tulah yang kita upayakan agar hidup kembali,” harapnya.

Asal usul diberikannya nama Ampure

Bagi sebagian masyarakat Lombok, ampure bukan sebuah kalimat yang asing untuk didengarkan. Jika melihat maknanya sendiri, ampure lebih mengaju pada ucapan permohonan maaf.

Menurut penjelasan ijtihad, kata Am Pure Sesela (dalam bahasa Lombok) yang berarti “Saya asli orang Sesela”. Ketika disebut ampure, artinya kita meminta maaf kepada Desa Sesela. Suatu daerah yang memiliki sejarah politis dan memiliki peran yang besar pada masa perjuangan. Tetapi jarang diketahui oleh masyarakat.

“Jadi, ketika menyebut nama komunitas ini, kita bisa mengartikan bahwa orang tersebut memberitahukan bahwa dia asli orang Sesela dan bisa juga dia meminta maaf kepada desa ini,” terang orang yang memiliki rambut gondrong tersebut.

Menariknya, Ampure Sesela ini tidak pernah menggunakan sistem kaderisasi dalam perekrutannya. “Selama orang tersebut mau beproses bersama, maka orang tersebut adalah bagian dari Ampure,” beber Ijtihad.

Ijtihad mengaku, komunitas ini selalu didukung oleh desa dalam segala kegiatan. Bahkan dalam setiap kegiatan kita biasanya menghadirkan tokoh-tokoh desa untuk memberikan semacam wejangan dan orasi kebudayaan.

Pria berkaca mata ini juga mengaku, setiap melakukan kegiatan, komunitas ampure tidak pernah disokong oleh dana dari pihak manapun. “Setiap dana berasal dari dana gotong royong para anggota,” pungkasnya.

Catatan penulis: Komunitas Ampure bisa menjadi tempat bagi para pemuda-pemudi, khususnya mahasiswa yang ingin mengetahui lebih jauh lagi terkait dengan budaya-budaya yang ada di Sesela, Lombok Barat.

Di sana, warga setempat ramah-ramah, suasanannya nyaman, tenteram. Karena berdekatan dengan pondok pesantren. Ramai, namun tidak macet. (Ays, Lnf, Khn)

Ibu Pasti Pulang

0

Oleh: Rahayu Praya Ningsih

“Kak, ini aku bawain kue labu kesukaan Kakak,” ujarku sambil mengusap lembut kepalanya. Berharap dia akan mengingatku ketika aku membawakan kue kesukaannya dulu. Ini sudah kali ketiga aku berkunjung dengan membawakannya kue labu, setelah sebelumnya ia menolak mentah-mentah dan melempar begitu saja kue itu ke tanah. Kue labu yang aku tempatkan dalam kotak bekal siang miliknya sama sekali tidak membuatnya tertarik untuk mencicipinya, bahkan untuk sekedar melihatnya pun tidak.

Dia masih saja terpaku dengan ranting yang ada digenggamannya, memainkan benda tersebut layaknya makhluk yang bisa diajak bicara dan bercanda. Sesekali dia tertawa, lalu seketika ekspresinya menjadi sedih. Kembali tertawa, lalu berubah menjadi tatapan kosong. Tapi tidak mengapa, esok hari aku akan kembali lagi. Dan seterusnya aku akan kembali.

“Mbak, waktu kunjungannya sudah habis,” ujar perawat itu mengingatkan.
“ Baik Mbak.”
“Syila pulang dulu ya Kak, besok Syila datang lagi,” ucapku sambil melambaikan tangan ke arah Kakakku. Tentu saja dia tidak membalas lambaianku, karena memang melihatnya pun tidak.
***

Namaku Syila. Tiga tahun terakhir adalah masa-masa perjuangan yang berat bagiku. Kehidupanku seketika berbanding terbalik dari beberapa tahun silam. Syifa, Kakakku yang merupakan satu-satunya keluargaku yang masih hidup saat ini. Ayahku telah lama meninggal, waktu itu ketika Kak Syifa berumur tiga tahun dan Ibuku sedang mengandung diriku. Beruntungnya Kak Syifa ketika itu masih sempat merasakan kasih sayang seorang Ayah.

Selanjutnya kami dibesarkan oleh seorang bidadari yang Tuhan kirim dengan rupa yang amat cantik dan baik hati, dia biasa kami panggil Ibu. Bagiku dia adalah wujud cinta kasih Tuhan yang diberikan kepada kami. Memberikan kami hidup dan kehidupan. Dia yang menjadi rumah kami dan pelindung bagi kami di segala situasi.

Aku dan Kakakku terpaut usia tiga tahun. Waktu itu, ketika Kak Syifa berusia 18 tahun, ia amat merasakan betapa di dalam hidupnya membutuhkan sosok Ibu. Kak Syifa senantiasa membaktikan dirinya untuk membantu Ibu berjualan kue keliling kampung, kue terenak buatan bidadari kami. Ya, Ibuku menghidupi kami dengan berjualan kue keliling kampung. Dan setiap hari libur, Kak Syifa selalu ikut menemani Ibu untuk berjualan. Aku yang waktu itu masih dianggap kecil belum diperbolehkan untuk ikut berjualan, alhasil aku ditugaskan untuk di rumah menunggu kepulangan mereka sambil sesekali membereskan dan membersihkan rumah.

Kak Syifa amat senang bisa ikut membantu Ibu. Menurutnya, melakukan hal yang bisa meringankan pekerjaan Ibu adalah hobi teristimewanya. Sedangkan aku selalu bertugas untuk membantu Ibu dan Kakak membereskan dapur sehabis mereka memasak kue. Begitulah, cinta kasih di keluarga kami terjalin begitu lekat karena memang kami hidup bersama dan saling membantu dengan uluran kasih dan kehangatan. Sungguh, ini adalah kehidupan yang aku harap akan berlansung selamanya. Aku, Kakakku dan bidadari kami, Ibu.

Namun sayangnya hidup tidak selalu mengikuti kemauan manusia. Kehidupan seketika memberontak. Dia membangkang apa yang hatiku inginkan. Dia berpaling dari doa-doa yang senantiasa aku panjatkan. Tuhan mencabut pemberian indah tersebut dari kami. Begitu cepat, hingga rasanya bagai mimpi. Aku rapuh dan seolah jatuh terpelanting ke bagian paling gelap dari kehidupan. Bahkan Kakakku sampai tidak mampu membendung penderitaan ini. Jiwa raganya terguncang hingga kesadaran menjauhinya. Beruntung aku mampu bertahan, segera bangkit demi melanjutkan sisa-sisa mimpi. Tapi tidak dengan Kak Syifa.
***

“Dek, Kok Ibu belum juga pulang, ya?” tanya Kakakku cemas.
“Ibu masih dijalan mungkin Kak, tunggu aja sebentar lagi” ujarku.
“Tapi matahari sudah hampir terbenam, Dek, Ibu tidak pernah pulang selambat ini, kan?” sahut Kakakku mulai panik. “Kamu tunggu di rumah ya. Kakak mau mencari Ibu sebentar.”
“Kakak mau cari kemana? Ini juga sudah hampir malam Kak,” tanyaku.
“Kamu tunggu saja di rumah, Kakak akan keliling menyusuri jalan yang biasa Kakak dan Ibu lewati ketika berjualan,” ujar Kakakku. Lansung saja Kakakku pergi keluar untuk mencari Ibu. Berbekal senter dan juga jaket yang dibawanya.

Hari itu, Kakakku memang tidak bisa menemani Ibu berjualan. Bukan tanpa sebab, melainkan Ibu menyuruhnya untuk menemaniku di rumah.
“Untuk hari ini, kamu ga usah ikut Ibu jualan, ya? Temani adik kamu. Sesekali kamu juga harus berada di rumah. Kasian Syila kalau harus selalu sendirian di rumah,” pinta Ibu.
Kakakku tidak pernah menolak apapun yang diperintahkan Ibuku, dia selalu mematuhinya. Dan akhirnya untuk sehari ini saja, dia menemaniku di rumah.
***

Sudah hampir jam 9 malam dan Kakakku belum juga pulang, begitupun dengan Ibuku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diam dan menunggu di rumah saja. Untuk mengusir rasa bosan, akupun pergi ke kamar Ibu. Mengambil baju-bajunya yang sudah robek dibagian jahitannya. Sudah beberapa hari terakhir aku melihat Ibu pergi berjualan dengan kondisi pakaian yang bolong-bolong, entah itu dibagian pundaknya, ketiaknya maupun dibagian lengannya. Ibu sebenarnya tahu bahwa ada jahitan yang lepas dibajunya, namun ia memilih untuk tetap memakainya.

“Nggak apa-apa sayang, cuman bolong-bolong kecil. Lagian bajunya juga masih bagus dan layak pakai,” ujar Ibuku ketika aku bertanya mengapa ia tidak membeli baju baru.

Begitulah Ibuku, sesederhana itu ia dalam menilai sebuah penampilan. Setelah mendapatkan beberapa potong baju yang menurutku bisa diperbaiki, akupun mencari jarum dan benang yang Ibu simpan di laci kamarnya. Tidak butuh waktu lama untuk mencari barang kecil itu, setelah beberapa saat aku merogoh laci tersebut, akhirnya ku temukan yang ku cari. Aku cukup terlatih untuk bisa menjahit baju, Ibu yang mengajariku. Ya, walaupun hanya menjahit secara manual, tapi setidaknya aku bisa dengan kreatif menambalnya dan tidak harus selalu membeli baju ketika ada bagian robek.

“Syila…Syila…buka pintunya Dek,” teriak Kakakku sambil menggedor pintu. Sontak aku terkejut dan lansung terbangun, membukakan pintu. Entah kapan aku tertidur, sebab baju-baju Ibuku masih berada digenggamanku sewaktu aku terbangun ketika mendengar suara teriakan Kakak.
“Kakak kok pulangnya….”
Belum saja aku menyelesaikan kalimat pertanyaanku, Kakak sudah menghambur memelukku sambil menangis terisak-isak.
“Ayo! Kita pergi ke rumah sakit,” ujar Kakakku.
“Ada apa, Kak? Dan kenapa Kakak menangis?” tanyaku dengan masih sedikit menahan kantuk.
“Ibuu…Ibuu…Dia masuk rumah sakit” ujarnya sambil menangis.
***

Tampak beberapa orang masih menunggu di lorong kamar jenazah rumah sakit, tempat Ibuku dirawat.
“Mereka ini adalah anak kandung dari korban,” ujar seorang bapak yang tinggalnya tidak jauh dari rumah kami.
Bapak itu dengan rela mau mengantarkan kami ke rumah sakit setelah kami tergopoh-gopoh meminta bantuan kepadanya. Kakakku dengan masih terisak-isak menceritakan kejadian yang terjadi kepada Bapak tersebut sembari di atas motor ketika hendak menuju ke rumah sakit. Aku hanya bisa menangis sambil sesekali sesenggukan ketika mendengar cerita Kakakku.
“Ibunya tidak tertolong, Pak,” ujar salah seorang Ibu.
“Buk…..”
Kakakku seketika pingsan mendengar perkataan Ibu itu.
***

Kejadian tiga tahun yang lalu telah merubah kondisi Kakakku dengan begitu drastis. Setelah Ibu meninggal, dia menjadi pribadi yang murung dan lebih banyak diam. Dia masih menjadi Kakak yang hangat, namun ketegarannya itu hanya berlansung beberapa tahun saja. Jauh di dalam dirinya ternyata menyimpan pedih dan penderitaan yang bahkan dia sendiri tidak mampu mengatasinya.

Sampai akhirnya menginjak tahun keempat sepeninggal Ibu, kelakuan serta sikapnya mulai aneh. Bahkan bisa dibilang tidak waras. Dia mulai berhalusinasi dengan masuk dapur dan berpura-pura seakan-akan dia sedang memasak kue bersama Ibu. Mengobrol dan berbicara layaknya sedang berhadapan dengan Ibu.

Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuknya dimasa-masa itu, aku hanya bisa menemaninya setiap saat dan mengurusi segala kebutuhannya sambil sesekali berujar, “Ibu pasti pulang, Kak.”
Hanya kata-kata itu yang bisa aku lontarkan ketika dia acapkali bertanya “Dek, Kok Ibu belum juga pulang, ya?”

Aku tahu dirinya sedang depresi, mungkin dia menanyakan hal itu sebab dirinya masih tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa kami. Hingga bertahun-tahun lamanya. Sampai pada suatu kejadian dia memanggilku yang saat itu aku sedang merapikan kamar, “Adek, kesini yuk?”

Aku lansung bergegas menghampirinya. Namun betapa terkejutnya aku ketika mendapati dia hendak menikam dirinya dengan pisau dapur. Tangannya tengah bersiap-siap menusuk perutnya. Sontak aku lansung mencegahnya dengan mencengkram kuat-kuat lengannya dan merebut paksa pisau itu dari tangannya. Dia memberontak dan berusaha melepaskan cengkramanku, namun aku lansung memasang diri sekuat tenaga untuk melawannya. Akhirnya pisau itu aku lempar keluar jendela dapur yang tengah terbuka.

“Kakak mau ketemu Ibu, hahaha..” ucapnya.
“Apa yang Kakak pikirkan sampai bisa ngelakuin hal gila ini!” bentakku.
“Hahaha! Ibu di sana, ya?”
Karena sikapnya sudah semakin parah, akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa. Aku sebenarnya amat tidak tega melihat dia tinggal di rumah sakit jiwa, tetapi melihat kondisinya yang seperti itu membuatku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak akan sanggup untuk menanganinya jika dia tetap seperti itu. Sedih? Amat. Melihat kondisi ketika Kakakku harus dibawa ke rumah sakit jiwa.
Ketakutan mendatangiku. Sebab, mungkin kali ini aku berhasil mencegahnya, namun aku tidak tahu entah kapan dia akan melakukan hal itu kembali, dan aku juga tidak tahu apa aku bisa mencegahnya lagi.
***

Siang itu, tiba-tiba mobil Avanza putih dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Ibuku yang ketika itu hendak menyeberang jalan. Mobil itu tampak hilang kendali, terlihat dari arah lajunya yang tidak karuan. Ibuku terpental sejauh beberapa meter, kue dagangannya habis bertebaran dimana-mana. Bakul yang menjadi wadah kue itu menggelinding dan akhirnya jatuh ke selokan. Nampak kue-kue tersebut kotor karena bercampur dengan tanah yang berserakan di jalanan. Belum lagi cairan merah keluar dari tubuh Ibuku yang kini sudah tidak sadarkan diri. Tergeletak di tengah jalan. Bidadariku, kini darah segar mengalir keluar dari tubuhnya.

Orang-orang yang melihat kejadian tersebut lansung berlarian menuju Ibuku saat itu. Teriakan meminta tolong terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Hingga seorang bapak yang baru saja pulang membajak sawah lansung dengan sekuat tenaga berlari menuju kerumunan sambil mengeluarkan kalimat cacian dan sumpah serapah kepada pengendara Avanza maut itu.

“Heh! Keluar kamu sialan! Ayo tanggung jawab! Dasar keparat!” ujar Bapak itu dengan begitu geram.
Disusul juga teriakan oleh para warga yang lain. Mendesak pengendara itu supaya keluar. Mereka berulang kali memukul badan mobil tersebut, menggedor kacanya bahkan ada yang nekat menghantam mobil tersebut dengan batu. Namun butuh waktu yang cukup lama agar pengendara itu mau keluar. Andai saja petugas kepolisian tidak datang waktu itu, mungkin si pengendara itu sudah mati ditempat akibat amukan massa. Entah siapa yang menelpon petugas kepolisian tersebut, yang jelas orang tersebut berada di lokasi kejadian.

Sesampainya petugas kepolisian dilokasi kejadian, mereka lansung menelpon ambulance. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya mobil ambulance tiba. Lansung saja tanpa basa-basi Ibuku dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, pengendara mobil tersebut lansung dibawa dan di amankan oleh polisi.

Sungguh pedih ketika aku mengetahui semua rentetan kejadian yang memilukan itu. Peristiwa yang menjadi titik balik perubahan hidup Kakakku, dan juga aku. Tak henti-hentinya mataku basah, air mata mengalir tanpa jeda dari netra yang kupunya. Setelah mendengar cerita kesaksian dari seorang Bapak yang dulu menolong Ibuku ketika dia baru saja pulang bertani dari sawahnya. Terasa begitu nyata hingga rasanya aku benar-benar berada dan melihat secara lansung peristiwa itu.

Sudah sekian lama aku berniat mencari tahu kronologis kejadian yang menimpa Ibu kami. Secara diam-diam sudah beberapa bulan terakhir aku mencari keterangan dari warga sekitar tempat peristiwa tabrakan tiga tahun lalu. Aku merasa diusiaku yang sekarang sudah cukup untuk bisa mendengar bagaimana detailnya. Setelah bertanya sana-sini dan mencari informasi, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku cari. Beruntung Bapak yang dulu menolong Ibuku masih hidup dan dengan senang hati menceritakan segala yang dilihatnya tiga tahun silam.

“Pengendara itu sebenarnya yang membiayai semua proses perawatan hingga pemakaman Ibumu, Nak,” ujar bapak tersebut. “Dan pengemudi itu mengaku dia memang yang bersalah dan sudah mendapat hukumannya. Bapak hanya berharap kamu dan saudarimu bisa mengikhlaskan semuanya,” lanjutnya.
“Sudah Pak, saya sudah ikhlas.”
“Lalu, saudarimu?” tanyanya.
“Sangat sulit baginya Pak, makanya sekarang dia berada di rumah sakit jiwa karena kejadian itu,” jawabku.
“Astaga!” sahut Bapak itu kaget, “Hmm..semoga saudarimu lekas membaik, Nak. Bapak tidak bisa berbuat lebih untuk kalian,” lanjutnya.

Ketika mendengar penuturan Bapak tersebut bahwa ternyata yang membiayai perawatan Ibuku adalah si pelaku, aku sempat terkejut. Tapi rasa terkejut itu tidak membuatku merasa harus berterima kasih kepadanya. Memang sudah seharusnya begitu, bukan?
***

Esoknya aku kembali mengunjungi Kakakku. Seperti biasa, aku berkunjung dengan membawakannya kue labu. Berharap semoga hari ini ada hal baik yang terjadi pada kondisi Kakakku.

“Suster, bagaimana perkembangan kondisi Kakak saya?”
“Masih belum ada, Mbak,” jawabnya, “Setelah Mbak pulang kemarin…..” ucapan perawat itu terhenti.
“Ada apa sus? Kakak saya kenapa?” tanyaku mulai cemas.

“Dia melompat ke tanah lalu bertingkah semakin gila, Mbak. Dia menggaruk-garuk tanah menggunakan ranting yang dipegangnya sambil teriak memanggil “Ibu.. Ibu..” dan nampak juga dia menangis Mbak. Saya sampai dibantu perawat lain saking kewalahannya,” tutur perawat itu.

Penglihatanku mulai menggenang. Perlahan butiran hangat menetes membasahi pipiku. Ternyata Kak Syifa masih amat terpukul dengan kejadian itu. Aku sempat berpikir bahwa mungkin yang menjadi penyesalan terberatnya adalah, ketika dia mematuhi perintah Ibuku untuk tidak ikut berjualan di hari itu. Mungkin itulah hal pertama yang dia ingat sewaktu mengetahui bahwa Ibu tertabrak mobil.

Andai saja ia tahu bahwa itu akan menjadi hari terakhir kami bersama, tentu ia akan bersikeras untuk ikut. Andai saja ia tahu bahwa mungkin Ibu sudah memiliki firasat tentang nasibnya di hari itu, mungkin ia akan berani untuk membantah permintaan Ibu supaya ia tetap di rumah bersamaku. Hal-hal seperti itulah yang menjadi beban pikiranku ketika melihat kondisinya.

“Sekarang dia dimana, Sus?” tanyaku.
“Masih di kamarnya, Mbak. Semalaman dia terus mengerang. Untunglah pagi tadi dia setidaknya bisa tidur dengan nyenyak,” jawab Suster itu.
“Baiklah, biarkan saja dia tidur. Besok saya akan kembali lagi,”
“Baik, Mbak.”
***

Sesampainya di rumah, aku lansung membaringkan diri di ranjang kamar. Entah kenapa sore itu aku merasa begitu letih, padahal aktivitas fisik tidak banyak yang sudah aku lakukan. Aku merasa amat mengantuk. Seakan-akan rasanya tidak pernah ada kantuk yang begitu memaksaku untuk terlelap. Ditambah dengan suasana rumah yang sepi menambah sugesti untuk segera bermimpi. Memang selama ini aku jadi hidup sendiri, semenjak Kakak tinggal di rumah sakit jiwa.

“Sayang, bawa Kakakmu pulang, bawa dia bersamamu. Dia amat menderita di sana. Ingatkan dia akan kenangan-kenangan kita,”

“Ibu? Ibu? Aku mendengar suara Ibu. Ibu dimana? Kenapa gelap sekali?”
“Bawa Kakakmu pulang, sayang. Sembuhkan dia.”
“Ibu? Ibu dimana? Ibuu..”
“Ibuuu…” teriakku.

Mimpi yang membuatku seketika terbangun dan berteriak. Mimpi yang aku harapkan menjadi kenyataan. Ah! Bukankah orang mati tidak bisa hidup lagi. Begitu konyol pikiranku waktu itu. Tapi disisi lain, aku mengingat satu hal. Ibu menyuruhku untuk membawa pulang Kakakku. Aku berpikir apa maksud perkataan Ibu dalam mimpiku itu. Mimpi yang bahkan tidak akan bisa aku lupakan seumur hidupku.

Aku terbangun dalam kondisi tanganku gemetar. Nafasku terengah-engah memikirkan maksud mimpiku itu. Mencoba berpikir jernih, mencoba meyakinkan diriku bahwa itu hanyalah mimpi. Tapi seketika aku bimbang, mencari kepastian justru kebimbangan melandaku dengan hebat. Aku memikirkan mimpi semalaman.
***

“Pagi suster,” sapaku ketika melihat perawat itu sedang bersama Kakakku di taman rumah sakit jiwa itu.

“Iya selamat pagi, Mbak,” balasnya.
“Bagaimana kondisinya hari ini?”
“Seperti yang Mbak lihat, syukurlah dia sudah lebih baik.”

Perasaan yang amat lega menghampiriku ketika melihat kondisi Kakak sudah membaik sejak penuturan perawat itu kemarin. Tujuanku mengunjungi Kakak hari ini bukan hanya ingin membawakannya kue labu saja. Aku sudah membulatkan tekad akan meminta izin kepada pihak rumah sakit untuk membawanya pulang ke rumah. Ya, aneh dan konyol memang. Aku, mempercayai mimpi semalam.

“Apakah benar sesulit itu mendapatkan izin, Sus?” tanyaku.
“Iya Mbak, karena ketika pasien berada di luar, itu akan menambah tanggung jawab kami sebagai perawat.”
“Hanya sebentar saja, Sus. Saya mohon dengan amat sangat,” pintaku, “Saya janji ini tidak akan lama. Saya hanya berniat memperlihatkannya kenangan-kenangan kami saja.” Lanjutku.
“Baiklah, akan saya usahakan, Mbak.”
***

Pagi itu akhirnya mobil pasien rumah sakit jiwa berangkat menuju rumah kami. Dengan didampingi tiga orang perawat beserta supir. Dua perawat laki-laki dan seorang perawat perempuan yang biasa merawat Kakakku. Mereka dengan pakaian seragam biru muda menemani perjalanan kami. Bersyukur bahwa Kakakku tidak mengerang atau tidak mengamuk ketika akan dibawa, dia seperti manut saja ketika di gandeng menuju mobil. Tidak bertanya, tidak berkata apa-apa. Hanya menampilkan ekspresi kosong dengan ranting selalu berada dalam genggamannya.

Bahkan ketika sampai di depan rumah pun dia tidak masih saja patuh. Melangkah dengan tenang sambil terus di gandeng oleh perawat-perawat itu. Awalnya aku berpikir niatku ini akan berhasil, sampai akhirnya semuanya gagal.

“Tidaaak…Pergi…Tidaaak…Hahaha….” teriak Kakakku ketika kita baru saja sampai di pintu. Dia mengamuk. Mengerang dan berusaha melawan para perawat itu.

Perawat-perawat dengan sigap mengambil tindakan. Mengikat tangan dan kaki Kakakku dengan tali yang mereka sudah siapkan. Dengan segera mereka membawa kembali Kakakku.

Aku yang menyaksikan kejadian itu amat menyesalinya. Betapa bodohnya aku sehingga mempercayai mimpi semu. Betapa putus asanya aku sehingga menuruti perkataan Ibuku yang hanya hadir lewat mimpi.
***

“Sayang, bawa Kakakmu pulang…bawa dia bersamamu. Dia amat menderita di sana. Ingatkan dia akan kenangan-kenangan kita,”
“Ibu? Ibu? Aku mendengar suara Ibu. Ibu dimana? Kenapa gelap sekali?”
“Bawa Syifa pulang, sayang. Sembuhkan Kakakmu.”
“Ibu? Ibu dimana? Aku tidak bisa melakukannya. Ibuu…!”
“Bawa Syifa pulang, sayang. Sembuhkan Kakakmu.”
“Ibuu..!” teriakku seketika terbangun.

Lagi-lagi mimpi yang sama kembali muncul malam itu. Aku terbangun dengan keringat bercucuran didahiku. Aku gemetar dan nafasku terengah-engah, sama seperti kemarin. Apa maksud semua ini?. Kenapa mimpi yang tidak bisa aku wujudkan terus mendatangiku?. Aku berpikir keras malam itu. Mencoba menjernihkan pikiran. Aku bangun dari tempat tidur, lalu mondar-mandir sambil memikirkan apa maksud dibalik semua mimpi itu. Mungkin ada sesuatu yang berusaha Ibu sampaikan kepadaku melalui mimpi.
***

Keesokan harinya aku kembali mengunjungi Kakak. Seperti biasa, aku bertemu dengan perawat perempuan yang biasa merawat Syifa.
“Apa kemarin Kakak saya baik-baik aja, sus?” tanyaku.

“Iya, Mbak. Syukur kejadian kemarin tidak berlansung lama. Dia kembali tenang ketika kami dalam perjalanan,” jawabnya, “Hal itu terjadi mungkin karena dia merasa tidak nyaman berada di lingkungan asing. Lingkungan yang tidak biasa dia lihat,” sambungnya.

“Tapi rumah itu ‘kan tempat tinggal kami dulu, sus,” tukasku.
“Memang, Mbak. Tetapi bisa jadi ketika dia dibawa kembali ke hal-hal di masa lalu yang membuatnya sedih, maka kemungkinan besar kejadian kemarin bisa saja terjadi.”

“Tapi, Mbak. Saya mohon untuk sekali lagi mengizinkan dia supaya dibawa ke rumah kami,” ujarku, “Kali ini, adalah kali terakhir saya meminta hal ini, sus. Tolong izinkan saya, sus. Saya mohon,” pintaku sambil menangis dihadapan perawat itu.

Aku tidak tahu mengapa aku tiba-tiba menangis. Air itu dengan sendirinya keluar dari mataku. Saat itu aku hanya berharap bahwa aku akan diizinkan membawanya pulang, sekali lagi. Dan setelahnya, apapun yang terjadi aku tidak akan meminta hal ini lagi.
***

Rupanya Tuhan masih memberiku kesempatan. Setelah aku memohon-mohon untuk diizinkan, akhirnya Kakakku dibawa kembali lagi ke rumah kami. Namun para perawat yang mendampingi kami berpesan bahwa ini kali terakhir aku diizinkan. Mereka adalah perawat yang sama yang mendampingi Kakakku kemarin.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku tiada henti berdo’a semoga hari ini hal baik terjadi. Walaupun dalam hati kecilku merasa bahwa hal ini mustahil untuk diharapkan, tetapi aku meyakinkan diri. Selama masih ada harapan, sekecil apapun itu, aku akan memperjuangkannya.
***

Begitu tiba di depan rumah dan melangkah perlahan hingga sampai di depan pintu, aku merasa tenang sebab Kakakku tetap diam dan menurut saja ketika diajak masuk. Tidak ada suara teriakan ataupun tindakan penolakan darinya.

Aku memutuskan untuk mengajaknya lansung ke kamar Ibu. Dia menurut saja ketika perawat itu menggandeng tangannya. Sampai akhirnya aku menceritakan tentang kejadian yang selama ini berbulan-bulan aku selidiki. Menceritakan kronologis kematian bidadari kami. Bahkan semua kenangan yang aku miliki bersama Kakak dan Ibu aku ceritakan kembali.
Dia hanya diam, menatap lantai dengan tatapan kosong. Butiran hangat itu kembali menetes dari pelupuk mataku. Aku merasa ini perbuatan sia-sia. Namun segera aku menghapusnya.

Lalu seketika aku teringat akan baju-baju peninggalan Ibu. Baju-baju yang masih simpan rapi dalam lemari pakaiannya. Aku mengambil beberapa potong baju yang menurutku sering Ibu kenakan dulu. Aku juga mengambil beberapa potong baju milik Ibu yang dulu sempat aku jahitkan. Aku mengeluarkannya dari dalam lemari dan menciumnya.

Lalu aku bawa ke hadapan Syifa. Meletakkannya dipangkuan Syifa sambil menceritakan bagaimana sosok Ibu. Aku mengusap lembut kepala Kakak sambil menangis menceritakan kehidupan bahagia kami dulu. Namun Syifa hanya diam mendengarkan, menatap baju-baju yang berada dipangkuannya.

Tapi tiba-tiba dia menoleh ke arahku dengan kondisi matanya berkaca-kaca. Aku terkejut bukan main. Tapi itu hanya berlansung beberapa detik saja, sebelum kemudian dia kembali menunduk, menatap baju-baju itu dengan tatapan kosong. Perawat itu tampaknya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya duduk disampingnya.

Aku menunduk, menelungkupkan wajahku dengan kedua tanganku. Menangis tersedu-sedu memikirkan apa yang sudah aku lakukan?. Tidak peduli seberapa keras usahaku, hasilnya akan selalu sama. Namun tidak disangka ketika aku merasa hampir menyerah seperti itu, suara lembut memanggilku,
“Syila…adikku.”
***