21.5 C
Mataram
Thursday, May 28, 2026
spot_img
Home Blog Page 68

Lama Dicari, Akhirnya Ketua DPM Bersuara

0
Ketua DPM Unram 2021, Azis Meinudin.

Mataram, MEDIA – Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Mataram (DPM Unram), Azis Meinudin akhirnya angkat bicara terkait permasalahan Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira).

“Proses Pemilihan Raya Mahasiswa Unram seharusnya selesai dalam waktu yang ditetapkan oleh panitia penyelenggara,” kata Azis kepada mediaunram.com via WhatsApp, Minggu (9/1).

Azis menjelaskan, pihak Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) sebenarnya sudah menyiapkan time line dan mekanisme pemilihan, namun persiapan tersebut mengalami beberapa kendala.

“Diantaranya berubahnya sistem, dari online ke offline,” jelasnya.

Azis mengaku, pihaknya telah melakukan persiapan sejak beberapa bulan lalu, hingga empat hari menjelang pencoblosan, sistem pemilihan diubah.

Menurut Azis, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram terlalu mengkhawatirkan Pemira dilakukan secara offline.

“Karena sejak kami buat UU Pemira, tidak ada satu lembaga pun yang mempertanyakan terkait dengan mekanisme Pemira. Kenapa tiba-tiba diubah?,” lanjutnya.

Lebih jauh Azis menjelaskan, jika Universitas Mataram ingin memiliki Ketua dan Sekjend BEM yang baik, seharusnya melalui proses dan dipilih melalui jalur prosedural yang baik pula.

“Tidak simsalabim, seperti mendadaknya SK pemilihan online dari Birokrasi,” katanya.

Apakah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tetap bisa mendapat anggaran tanpa SK BEM dan DPM?

Menjawab pertanyaan tersebut, Ketua DPM menjelaskan, UKM tetap mendapatkan anggaran meski tanpa SK BEM dan DPM.

Kemudian, lanjutnya, anggaran UKM berbeda dengan anggaran BEM dan DPM.

“UKM tetap bisa mendapatkan anggaran dari birokrasi, karena sudah masuk periodesasi,” ungkapnya.

Azis juga menjelaskan, DPM Unram mengangkat pemilihan Ketua dan Sekjen BEM periode 2021 sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

“Untuk menghasilkan pemimpin, kita perlu percayakan proses ini ke penyelenggara dan saya harap penyelenggara juga sigap dengan masukan,” pungkasnya.

Seperti yang diketahui, pemilihan Ketua dan Sekjen BEM periode 2021 tidak kunjung diselenggarakan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran organisasi mahasiswa (Ormawa). Pasalnya, mereka tidak akan mendapatkan anggaran dari pihak birokrasi jika SK BEM dan DPM tidak terlibat didalamnya.

Hingga saat ini pula, belum ada informasi valid tentang keberadaan dan tanggapan Ketua KPRM, Arya Pratama. Kita berharap, semoga pemilihan Ketua dan Sekjen BEM periode 2021 segera dilaksanakan. (khn)

 

 

Degradasi Nilai Demokrasi Mahasiswa Unram  

0

M Rizky Tafaul (Mahasiswa FISIPOL)

Semenjak bulan Desember lalu,  hiruk pikuk pesta demokrasi sudah mulai terjadi di lingkungan kampus tercinta Univeritas Mataram. Atmosfer persaingan antar setiap calon semakin terasa, suasana kampanye menghiasi dinamika kehidupan demokrasi di kalangan mahasiswa, siapakah yang paling layak dan pantas mengisi posisi strategis tertinggi di lingkungan kampus ini.

PEMIRA tahun ini, terdapat tiga bakal calon ketua dan wakil ketua BEM Universitas Mataram periode 2022/2023, pasangan calon urut pertama membawa tagline “Kolaborasi Garuda”, pasangan calon urut kedua “Unram Unity”, dan pasangan calon urut ketiga dikenal dengan tagline “Poros Kebhinekaan”.

Kemeriahan pesta demokrasi ini tiba-tiba tergerus setelah pada tanggal 21 Desember, KPRM sebagai penyelenggara secara mengejutkan mengeluarkan berita acara Thechinacal Meeting PEMIRA Universitas Mataram dengan keputusan bahwa; “Pelaksanaan Pemilihan Raya Mahasiswa tingkat Universitas dilaksanakan secara Offline (langsung)”, dengan merujuk pada Ketetapan Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Mataram Nomor: 007/TAP/DPM/UM/Xl/2021.

Keputusan sepihak ini menjadi sebuah polemik diskusi di kalangan mahasiswa, mengingat kondisi mahasiswa yang saat ini sedang melaksanakan libur akhir semester dan KKN. Ini merupakan awal dari degradasi nilai demokrasi di kampus terbaik NTB (Universitas Mataram) dimana terjadi pelanggaran asas pokok demokrasi “partisipasi” di PEMIRA kali ini, bahwa jika pelaksanaan PEMIRA dilaksanakan secara langsung (offline) maka ketersediaan partisipasi mahasiswa sebagai pemilih secara otomatis  akan berkurang drastis.

Tak hanya itu, dalam proses PEMIRA tahun ini time line yang dikeluarkan KPRM dalam laman instagram @kprm_unram21 tidak sesuai dengan fakta di lapangan, pemungutan suara yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 30 desember 2021 sampai awal januari ini masih tidak ada kejelasan baik itu dari penyelenggara KPRM, DPM maupun birokrasi kampus.  Ini menandakan proses PEMIRA tahun ini sarat akan kepentingan dan tidak adanya keterbukaan KPRM sebagai penyelenggara.

Permasalahan-permasalahan tersebut sudah lama dirasakan mahasiwa, kepedulian mahasiswa akan demokrasi kampus dapat dilihat dari respon yang diberikan, salah satunya melalui aksi yang dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 2021 di halaman gedung rektorat Universitas Mataram. Aksi ini bertujuan untuk menyelamatkan demokrasi kampus, bahwa PEMIRA ini bukan hanya milik KPRM atau DPM, melainkan seluruh mahasiswa Universitas Mataram, namun hingga sampai saat ini, aksi tersebut tidak direspon dengan tegas oleh KPRM, DPM maupun birokrasi, sehingga terjadi kebingungan yang dirasakan tidak hanya oleh mahasiswa secara umum tetapi juga kepada para bakal calon BEM.

Di satu sisi, pelaksaan PEMIRA Unram yang tidak ada kejelasannya berdampak terhadap kegaiatan Organisasi yang lain. Terhambatnya pogram kerja  dan tersendatnya Dana pelaksanaan. Hal itu terjadi karna terlambatnya proses pelantikan dan pemberian SK bagi kepengurusan Yang baru.

Bukan hanya itu, Kejelasan terkait pembayaran UKT dari tahun ketahun Kawan Kawan  BEM selalu advokasikan sehingga diberlakukan perpanjangan pembayaran, lalu tahun ini siapa yang akan mengadvokasikan? Tentu  hal ini sangat berdampak kepada mahasiswa. Melihat 3 tahun terakhir kondisi perekonomian kita ditengah pandemi ini tidak pernah stabil. Kejelasan SK Bantuan pun menjadi pertanyaan Besar Bagi saya pribadi. Jangan sampai dengan adanya kekosongan jabatan BEM ini dimanfaatkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab. Karena Bisa saja Bantuan UKT Kemendikbud ini masih berlanjut tapi oleh beberapa Oknum dimanfaatkan untuk meraih untung bagi pribadinya. Seperti khasus yang pernah terjadi di Bantuan Bidikmisi Misalnya, itu saja di Grogoti Birokrasi untungnya BEM mampu membongkar semuanya.

Kekosongan Jabatan Organisasi tertinggi di Universitas Mataram bagi saya Banyak sekali dampaknya. Karna begitu banyak hal hal yang sudah kawan kawan BEM bantu advokasikan dan permasalhan yang sudah diselesaikan, entah tentang pelayanan, fasilitas kampus dan dana Bantuan.

Dan dilansir dari @Media Unram yang bertajuk “KPRM dan DPM pengecut” saya sangat mengapresiasinya walaupun pembahasan lewat Chat WhastsApp ternyata para ketua UKM juga merasakan keresahan yang sama seperti yang saya rasakan. Harapan saya BEM dan DPM Universitas Sebagai Lembaga tertinggi harus merasa memiliki rasa  pertanggungjawaban Moril terkait permasalahan ini walaupun memang Secara Administrasi sudah tidak ada legitimasi hanya saja menjadi catatan penting Bagi kita seluruh Mahasiswa untuk mengawal Permasalhan ini Khususnya BEM dan DPM yang dipilih langsung Oleh Mahasiswa harus memiliki Beban pertanggung jawaban yang Berbeda.

“Pemimpin itu lahir dari kerja keras dan kepedulian yang terasah” Najwa Shihab.

Kepedulian kita tentang permasalahan ini merupakan bentuk kepedulian kita  terhadap penerus nahkoda kepemimpinan tertinggi di kampus ini. Pemimpin yang baik akan lahir dari proses yang baik pula, semoga demokrasi yang sudah tertanam lama tidak dirusak oleh hal-hal semacam ini yang dapat menuju DEGRADASI NILAI DEMOKRASI di kampus tercinta kita ini.

 

 

KPRM dan DPM Pengecut

0

Mataram, MEDIA – Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Mataram (DPM Unram) tidak bertanggung jawab. Bahkan dianggap pengecut.

Diundurnya proses pemilihan Ketua dan  Sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2022 dinilai sebagai penyebabnya. Pasalnya, dengan terhambatnya proses pemilihan, SK kepengurusan organisasi mahasiswa (ormawa) periode 2022 tidak keluar sesuai waktu.

“Saya takut, terhambatnya pencairan dana UKM. Artinya, agenda diundur. Kita banyak proker dari awal tahun sampai akhir tahun,” kata Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Prima tahun 2021, Sultan Fakhrur Rassyi.

Ungkapan itu diungkapkan Sultan di grup WhatsApp Forum UKM Unram 2021. Menanggapi itu, @dianpertiwi6699 juga turut berkomentar.

“@Azis Meinudin selaku mantan ketua lembaga yang menaungi kepanitiaan pemira, ayo bersuara ketua,” katanya menandai Ketua DPM periode 2021, Azis Meinudin.

“Walaupun sudah jadi mantan ketua DPM setidaknya tunjukkanlah beban moril anda di sini,” lanjutnya.

Menurut pantauan mediaunram.com, diskusi cukup alot hingga mantan Sekjen BEM periode tahun lalu, @Fadli_UNRAM mengajak seluruh ketua Ormawa bertemu di Aula PKM Unram.

Pada waktu yang sama, mantan Pemimpin Umum (Pemum) Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) MEDIA Unram juga, AA Istri Adeka Saputri juga turut berkomentar.

Menurutnya, munculnya berbagi pertanyaan dan kecurigaan dikalangan mahasiswa tentang hilangnya ketua dan pengurus KPRM suatu kewajaran.

“ KPRM Unram memang selalu penuh dengan kontroversial. Tiga tahun saya di Unram, tiga tahun juga KPRM menghilang,” katanya saat dihubungi via WhatsApp.

Hal sama juga diungkapkan Cordinator Gerakan Mahasiswa Peduli Unram (Gempur), Wahyu. “Nyali itu sama dengan nyawa. Karena ketika mereka dicari dan tidak memiliki nyali untuk menjelaskan problematika yang terjadi kepada mahasiswa, percuma mereka percuma hidup,” tegasnya.

Kemudian, lanjut Wahyu, seprogresif apapun pekerjaan mereka, jika tidak melibatkan mahasiswa secara umum, menurutnya hal itu akan mencemari demokrasi kampus.

“Kapan DPM melakukan jejak aspirasi di setiap fakultas dalam menyentralkan permasalahan mahasiswa,” ungkapnya.

“KPRM juga pengecut soalnya mampu di intervensi sama birokrasi,” tegas Wahyu.

Diketahui, hingga saat ini, pemilihan Ketua dan Sekjen BEM periode 2022 tidak kunjung dilaksanakan. Sedangkan, SK kepengurusan lembaga tahun lalu sudah selesai.

“Kita peringatan ke birokrasi, kemudian tekan seluruh ketua UKM terkait dampak yang kita dapatkan, sehingga bisa cari solusi ntah itu mereshuffle kepanitiaan KPRM atau BEM dan DPM SKnya,” kata Sultan.

Mediaunram.com juga menghubungi Ketua DPM dan Ketua KPRM, tapi hingga tulisan ini muncul, belum ada klarifikasi dari kedua ketua tersebut. (khn)

 

Mengembangkan Diri Melalui Diskusi

0

Mataram, MEDIA – Dalam rangka merawat nalar dan mengembangkan kemampuan anggota, Unit Kegiatan Pers Kampus  Mahasiswa (UKPKM) MEDIA Universitas Mataram (Unram) memiliki program kerja diskusi mingguan.

Dalam diskusi yang dilakukan di Kedai Kopi Mas Gondrong, Jalan Panca Usaha, Kecamatan Cakra, MEDIA Unram mengangkat tema Manajemen Organisasi yang dibawakan Ari Wahyu.

“Manajemen merupakan proses pengelolaan, perencanaan, pengendalian sumber daya dalam organisasi untuk mencapai tujuan,” kata Ari.

Sedang organisasi, menurut Ari, merupakan sekelompok orang, dua atau lebih untuk mencapai tujuan yang sama.

“Organisasi memiliki prinsip, perumusan tujuan, pembagian kerja, pendegelasian wewenang, tingkat pengawasan, rentang manajemen atau kendali, kesatuan perintah, dan koordinasi,” bebernya.

Pria yang mengambil prodi Hubungan Internasional (HI) ini mengatakan, keuntungan yang bisa didapatkan di MEDIA ialah bisa menjadi apa pun dan di mana pun.

Kemudian, lanjutnya, setiap anggota yang berada di organisasi perlu memiliki hubungan baik. Pengurus juga dinilai perlu mendekatkan diri kepada anggota.

Lebih jauh pria kelahiran Narmada, Kabupaten Lombok Barat mengatakan, manajemen organisasi tidak terpisah dengan manajemen waktu. “Bagaimana kita  bisa membagi waktu antara kuliah, organisasi dan lainya,” jelasnya.

“Organisasi, khususnya MEDIA memerlukan tindakan, meskipun tindakan kecil untuk perubahan,” ungkapnya.

Kegiatan ini merupakan agenda perdana pengurus baru MEDIA, di bawah kepemimpinan Zulhaq Armansyah, usai dipilih dalam kegiatan Rapat Umum (Rapum) Desember lalu.

Sejumlah anggota dan pengurus baru turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kegiatan berakhir setelah azan magrib berkumandang, sekitar pukul 19.00 Wita. (yla)

 

Serba serbi kegiatan

Tetesan Air Mata, di Atas Kertas

0

By : G. S. Aji (Bagas)

Pilu
Tak terucap
Tak tersampaikan
Hanya lembaran tanpa goresan

Lembaran baru bermunculan
Menunggu terlukis
Melukis kisah, dalam canda dan tawa
Melukis kisah, dalam tetesan air mata

Tik … tik … tik …
Suara air mata yang menetes
Perlahan
Membasahi lembaran itu

Bisikan angin
penenang Sukma
Sorotan senja
Penghangat raga

Sunyi ….Kosong
Tanpa tahu sebabnya
Hanya menyisakan
Tetesan air mata, di atas kertas

3/1/22

Tarif Kayangan-Poto Tano Meningkat

0

Lombok Timur, MEDIA – Tarif penyeberangan Pelabuhan Kayangan Lombok Timur dan Pelabuhan Poto Tano Sumbawa naik 15 persen mulai 1 Januari 2022. Kenaikan ini berlaku untuk penumpang dewasa dan semua jenis kendaraan.

Hal ini sesuai keputusan Gubernur NTB Nomor 550-776 tahun 2021 dan Keputusan Direksi PT. ASDP IF (Persero) Nomor KD.130/OP.404/ASDP 2021 tentang Tarif Angkutan Penyeberangan Lintas Kayangan-Poto Tano.

Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Kayangan-Poto Tano, Iskandar Putra yang menerangkan, kenaikan tarif ini sudah melalui proses panjang. Bahkan pengajuannya sejak era Kepala Dinas Perhubungan NTB sebelumnya.

“Semasa Pak Bayu sudah kita ajukan, tapi memang diaminkan pada era Pak Faozal,” ujar Iskandar.

Iskandar menjelaskan, persetujuan dari Dinas Perhubungan NTB juga melalui proses alot. Butuh kajian dari beberapa lintas sektoral dan akademisi sebelum ditetapkan.

“Pak Faozal waktu itu bilang, kalau tarif naik, pelayananmu juga harus ditingkatkan dulu dong. Beri rasa aman dan nyaman kepada penumpang,” kata Iskandar mengulas pernyataan Kepala Dinas Perhubungan NTB, Moh. Faozal beberapa waktu lalu.

Menjawab kepala dinas, Iskandar pun bersama 12 perusahaan penyeberangan Kayangan-Poto Tano pun sudah mulai memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat. Salah satunya, memperbaiki kondisi kapal dan menyediakan fasilitas publik lainnya. Baik di wilayah pelabuhan maupun fasilitas di dalam kapal penyeberangan.

Di satu sisi, setiap bulan, pihak Dinas Perhubungan NTB juga rutin mengecek kondisi kapal maupun fasilitas pendukung lainnya. Tentunya hal ini untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat

Kadishub: Awalnya 24,5 Persen, Kita Setujui 15 Persen

Sementara Kepala Dinas Perhubungan NTB, Moh. Faozal yang dihubungi wartawan menjelaskan, penyesuaian tarif ini sudah melalui proses panjang dan melalui kajian panjang dari tim.

“Awalnya Gapasdap minta kenaikan 24,5 pesen malah. Tapi setelah kita analisa kemampuan daya beli kemudian kondisi pandemi, akhirnya kita sepakati 15 persen,” jelas Faozal.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata NTB itu juga merincikan, kenaikan tarif untuk semua moda transportasi itu juga tidak signifikan. Dia mencontohkan, kelas medium bus mengalami kenaikan tarif Rp 66 ribu. Sedangkan kendaraan lainnya, tidak mencapai Rp 50 ribu.

“Tidak ada yang di atas Rp 100 ribu kenaikannya. Tapi lihat apa yang mereka dapatkan. Pelayanan lebih baik dan maksimal,” tegasnya.

Kenaikan Tarif Tak Masalah Asal Pelayanan Lebih Maksimal

Di satu sisi, kenaikan tarif penyeberangan Kayangan-Poto Tano sudah lima tahun belum diupgrade. Sedangkan kondisi kapal penyeberangan semakin lama semakin membutuhkan biaya perawatan yang tinggi.

“Kalau ada penumpang mengeluhkan kapal kotor atau kendala lainnya, pasti perusahaan penyeberangan yang kena semprot kan? Nah, dengan adanya penyesuaian tarif ini kita harapkan diimbangi dengan pelayanan yang maksimal,” tegasnya.

Sedangkan menjawab tudingan kenaikan tarif di waktu yang kurang tepat menurutnya tidak menjadi soal. Sebab berbicara soal waktu, tidak bisa diitung kapan waktu yang tepat. Dia mencontohkan, tarif penyeberangan Pelabuhan Lembar-Padangbai yang justru mengalami kenaikan pada awal masa pandemi 2020 lalu. Namun tidak ada gejolak di tengah masyarakat

Di satu sisi, sejumlah penumpang menilai, penyesuaian tarif penyeberangan Kayangan-Poto Tano masih dalam batas wajar. Sebab baginya kenaikan tarif bukan masalah besar, jika melihat pelayanan dari pihak pelabuhan.

“Yang penting pelayanan lebih dimaksimalkan, ya kenapa harus mengeluh. Toh naiknya juga tidak seberapa,” ujar Rahman, salah distributor ikan asal Lape Lopok Sumbawa.

Diberitakan sebelumnya, Organisasi Angkutan Darat (Organda) NTB meminta Pemprov NTB mengkaji kembali kenaikan tarif penyeberangan Kayangan-Poto Tano. Pasalnya kenaikkan tarif yang ditentukan kajiannya belum lengkap. Sehingga kenaikan tarif ini bisa mempengaruhi ekonomi, jual beli barang dan transportasi. (redaksi media)

 

 

Pemira, Apa Kabar?

0

Catatan KHAN 

Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) Universitas Mataram tahun (Unram) 2021 tidak konsisten. Ketua Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) menghilang. Tidak bertanggung jawab. Pihak birokrasi terlalu mengintervensi pesta demokrasi mahasiswa.

Bagaimana tidak? Mekanisme Pemira yang disiapkan KPRM menggunakan sistem offline. Namun, entah mengapa, secara mengejutkan berubah menjadi online.  Hal itu berdasarkan SK Rektor Unram nomor 14122/UN18/HK/2021; Menetapkan Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) Universitas Mataram tahun 2021 diselenggarakan secara online/daring.

Itulah sekelumit permasalahan terkait Pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2022. Sistem yang disiapkan KPRM nampaknya tidak berjalan sesuai rencana. Pasalnya, pihak birokrasi terlalu mencampur tangan pesta demokrasi yang diadakan dalam satu tahun sekali ini.

Yang menjadi pertanyaan kita saat ini, di mana Ketua KPRM? Bagaimana responnya terkait hal ini? Apakah ia menyerahkan tugasnya kepada pihak birokrasi?.

Beberapa kali pihak mediaunram.com mencoba menghubungi KETUA KPRM via WhatsApp, namun tidak ada balasan. Hingga tulisan ini muncul, pihak KPRM juga belum memberikan informasi.

Tidak hanya itu, Mahasiswa Unram juga memerlukan pernyataan yang jelas dari pihak KPRM terkait sistem online.  Apakah persiapannya telah “matang”? Mengingat jadwal pemilihan Ketua BEM periode 2022 sudah dekat, yakni 30 Desember 2021.

Jika sudah siap, kenapa tidak ada sosialisasi kepada mahasiswa? Seandainya belum, bagaimana bisa pihak KPRM tetap menargetkan Pemira tetap  dilaksanakan tanggal 30 Desember 2021?

Kita berharap, semoga ada titik terang dari permasalahan Pemira Unram tahun ini. Pemilihan Ketua BEM dapat berjalan lancar sesuai dengan persiapan. Dan, ketua KPRM harus berani muncul ke depan publik, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap mahasiswa. Jika tidak, ia akan dianggap pengecut oleh mahasiswa.

e-Koran Edisi 68

0

 

https://drive.google.com/file/d/1HFmHiIA1lS83DBswvA7K_WEpFkp5TfcZ/view

Layouter: Ary Rangga Rezki

Soe Hok Gie, Mapala dan Politik Kampus

0
Foto: ist.

Akhir tahun merupakan waktu yang sibuk bagi para aktivis kampus berebut kursi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik di lingkup Fakultas maupun Universitas, tidak terlepas di Unram juga. Dan akhir-akhir ini Unram disibukkan dengan kegiatan tersebut.

Di tahun-tahun sebelumnya pemilihan ini berlangsung panas dan tentu banyak drama. Pertama kali saya mengikuti Pemira langsung disuguhkan dengan tawuran antar pendukung paslon. Di tahun berikutnya drama ketua KPRM menghilang saat penghitungan suara, dan dipemilihan tahun kemarin terpilihnya secara aklamasi salah satu paslon. Tahun ini drama apakah yang akan terjadi?

Sampai saat saya menulis ini, ada tiga bakal calon ketua dan sekjen BEM Unram 2022 yang telah terlihat pamfletnya di sosial media. Dan info dari instagram resmi KPRM Unram pendaftaran calon ketua dan Sekjen telah resmi ditutup. Entah ketiga bakal calon yang terlihat ini sudah menyerahkan berkasnya saya tidak tau dan tentu tidak mau tau.

Saya tidak akan membahas siapa calon terkuat dengan bendera apa dibelakangnya atau cara meruntuhkan rezim yang sudah puluhan tahun berkuasa, saya yakin kita punya jawabannya masing-masing. Tetapi disini saya akan membahas idola saya, organisasi saya dan rumitnya perpolitikan kampus.

Situasi seperti yang saya tuliskan diatas mengingatkan kita tentang Soe Hok Gie, Founding Father Pecinta Alam, salah satu orang yang membentuk Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) 1964 silam. Disamping dengan kegemarannya mendaki gunung, salah satu faktor Gie membentuk Mapala adalah rumitnya perpolitikan kampus.

Pada masa itu, perpolitikan kampus di UI penuh dengan konflik dan intrik, sama halnya dengan di Unram saat ini. Diceritakan pada masa itu orang-orang berebut posisi Senat Mahasiswa dengan latar belakang organisasi ekstra berbeda melakukan perdebatan dan sampai berlanjut pada perkelahian.

Orang-orang yang berebut posisi inipun memiliki latar belakang organisasi ekstra kampus. Sudah menjadi rahasia umum bahwa organisasi ekstra kampus merupakan underbow dari partai-partai politik saat ini. Itulah yang membuat Gie pada masa itu menolak kehadiran organisasi ekstra kampus di almamaternya.

Karena latar belakang itulah Gie dan kawan-kawannya di Mapala sering melakukan nonton bareng dan mendaki gunung agar terhindar dari perpolitikan kampus yang berpotensi membuat rusak silaturahmi dan pertemanan. Mungkin karena inilah sebagian besar Mahasiswa Pecinta Alam di Indonesia cuek dengan perpolitikan kampus dan tidak ingin mengambil peran.

Sejak saat itu Gie rutin mendaki gunung, mulai dari gunung Gede, Salak dan Pangrango yang sama-sama terletak di Jawa Barat. Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango menjadi tempat favorit bagi Soe Hok Gie. Dalam puisinya Gie tercatat dua kali mengucapkan “Aku cinta padamu, Pangrango”

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda”.  Adalah kata-kata dari Filsuf Yunani yang disukai Gie.

Benar saja, aktivis tersebut tidur dalam keabadian di Gunung Semeru pada usianya yang yang masih muda yaitu 26 tahun, sehari sebelum ulang tahunnya. Gie meninggal dalam pendakian karena menghirup gas beracun di atap tertinggi tanah jawa tersebut dan yang sama-sama kita tau juga Semeru masih dalam tanggap darurat akibat erupsinya beberapa hari yang lalu.

16 Desember kemarin mengenang 52 tahun wafatnya Soe Hok Gie dan hari ini 17 Desember tepat 79 tahun kelahirannya. Sudah lebih setengah abad Gie meninggalkan kita, tapi rangkaian pemikiran yang ditinggalkannya melalui beberapa karya buku masih bisa kita baca dan pahami.

Gie adalah sosok yang bebas dan idealis. Baginya keadilan dan kemanusian lebih penting dari segala bentuk apapun, oleh sebab itu beberapa dari isi karyanya ini telah menggambarkan sikap Gie yang kritis, idealis, jujur, nasionalis, dan peduli terhadap bangsa ini. dia selalu merefresentatifkan dirinya sebagai manusia yang merdeka. Hormat saya Gie!

Untuk menutup tulisan ini izinkan saya mengutip quotes yang entah saya dengar atau baca dari mana, yang katanya adalah “Jika politik memecah belah mari mendaki gunung seperti Soe Hok Gie, tapi tidak untuk mati muda”.

Hujan dan Luka

0
Seiring mendungnya awan
Perlahan semua tergantikan
Air mata yang menggantikan senyuman
Bahagiapun berubah kesedihan
Kulihat air menjelma kaca
Di ujung pelupuk mata nona
Terlihat sendu
Seperti dirundung pilu
Rintik hujan di jendela kaca
Selayak luka dan air mata
Menghapus bahagia
Di pipi yang merona
Nona dengan senyum manis
Musabab apa engkau menangis
Lelaki itukah? 
Yang membuatmu patah
Wahai puan yang mempesona
Lihat aku yang penuh asa
Berusaha menghadirkan tawa
Berupaya memberimu bahagia.