21.5 C
Mataram
Thursday, May 28, 2026
spot_img
Home Blog Page 69

Ayo Marahi BEM Unram: Tanggapan Untuk Royyan Fadli

0

Tulisan Royyan Fadli, “Jangan Marahi BEM Unram” teramat mencerahkan utamanya dalam konteks historisitas (kesejarahan) gerakan feminisme. Namun, tulisan tersebut terlampau cerah hingga menyilaukan bahkan cenderung membutakan kita dari akar persoalan yang menyulut kegaduhan, yakni postingan BEM Unram tentang feminisme. Dalam tulisan itu, Fadli memang menyebutkan sejumlah kesalahan BEM Unram, namun tidak ada uraian deskriptif atas sejumlah kesalahan tersebut.

Tulisan ini tidak akan menambah kilauan paparan feminisme yang telah dengan terang ditulis oleh Fadli, tetapi paling-paling hanya hendak membedah secara kritis dan deskriptif sejumlah argumen BEM Unram tentang feminisme. Dengan dasar dekonstruktif tersebut, akan disingkap akar epistemik dan potensi implikasi berbahanya. Tulisan ini juga akan mengulas fenomena brutalitas media sosial, serta akan ditutup dengan memandang feminisme dari perspektif Horizon tverschmelzungnya Hans Goerg Gadamer, sebuah tesis atas bagaimana seharusnya horizon feminisme didudukan.

“Barangsiapa yang menyatakan bahwa langit itu biru, padahal sebenarnya setengah kelabu, telah melacurkan kata-kata dan mempersiapkan diri menjadi tiran” -Albert Camus

Menelanjangi BEM Unram

BEM Unram tidak hanya telah berhasil menyulut “kemarahan” publik, sebagaimana yang dipahami Fadli dalam tulisannya “Jangan ‘Marahi’ BEM Unram,” lebih dari itu, BEM Unram telah berhasil mempermalukan Unram secara institusional bersama dengan seluruh civitas akademik didalamnya. Padahal, masih segar dalam ingatan, manakala bangsa ini “mengamuk” terhadap upaya sistemis pemberangusan pemberantasan korupsi melalui pelemahan KPK, Unram berhasil mementaskan kemuakan dan amukan nalar serta moral publik. Kita boleh berbangga, untuk pertama kalinya, Unram berhasil menolak kehadiran ketua KPK, yang tengarai sebagai biang keladi pelemahan KPK (Baca: KPK Collapse dan Urgensi Penolakan Firli Bahuri Sampaikan “Kuliah Anti Korupsi” di Unram). Namun, seluruh reputasi baik, serta respek terhadap Unram tersebut runtuh oleh postingan absrud tentang feminisme oleh BEM Unram. Diatas reruntuhan tersebut, terbangun kesan dan citra buruk, bahwa Unram adalah markas bagi para misoginis, sebuah institusi patriarkis yang primitif. Sebab tulisan ini mendekonstruksi argument BEM Unram, hendaknya pembaca terlebih dahulu membaca postingan BEM Unram.

Pertama, dalam postingan tersebut BEM Unram memulai dengan mempertanyakan tentang kesalahan yang termuat dalam gerakan feminisme, “Trus apa yang salah dari gerakan ini????” tulis BEM Unram, diandaikan telah terlebih dahulu tersemat kesalahan didalam feminisme. Seharusnya ada silogisme atau minimal premis-premis yang mengantarkan pada kesimpulan. Tanpa silogisme, premis atau dalil apapun feminisme dihakimi bersalah.

Kedua, BEM Unram menulis “Tentu ada yang salah guys,,,,” terdalilkan postulat kosong dengan basis argumentasi pembuktian yang absurd. Dalil yang digunakan sempit, diandaikan bahwa ada suatu fitrah tertentu yang melekat dalam diri perempuan. Sedari awal, konsepsi mengenai fitrah problematis, Thomas Hobbes memfitrahkan manusia sebagai homo homini lupus, yakni manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, Aristoteles juga memfitrahkan manusia sebagai zoon politicon, mahluk yang berpolitik, sepanjang sejarah, ada teramat banyak fitrah manusia. Inilah alasan mengapa konsepsi mengenai fitrah itu bermasalah. Tidak seharusnya gambaran spesifik, khas dan terbatas tentang manusia dipaksakan berlaku universal dan digunakan sebagai dasar menyalahkan konsepsi lainnya. Atas beragamnya kopsepsi tentang fitrah manusia, hendaknya fitrah manusia didasarkan pada historisitas manusia, “manusia adalah mahluk historis” tulis Prof. F. Budi Hardiman.

Ketiga, BEM Unram menulis “feminisme radikal memperjuangkan KEBEBASAN yang kebablasan” disini sama sekali tidak diuraikan kebebasan macam apa yang dimaksud oleh BEM Unram. Selain itu, ukuran yang digunakan sebagai standar penentuan “kebablasan” itu kabur dan tidak jelas.  Seharusnya ada standar tertentu untuk menentukan apakah suatu hal melampaui batas (baca: kebabalasan) atau tidak. Hebatnya lagi, BEM Unram menggunakan kata ganti subjek yakni “Dia” untuk menyebut feminisme yang merupakan objek. Bagi BEM Unram, feminisme “menggerus nilai dan norma yang berkembang di masyarakat Indonesia.” Feminisme yang merupakan objek pengetahuan dianggap sebagai entitas destruktif yang melumat nilai dan norma. Bukankah objek pengetahuan hanya mungkin dihidupkan oleh subjek, manusia-manusia yang berakal. Objek pengetahuan apapun akan destruktif manakala itu dipahami secara tertutup, sempit dan terbatas, atau bahkan digunakan sebagai dasar pembenar penindasan.

Keempat, BEM Unram menganggap feminisme hanya berisi wacana “kebebasan yang sebebas-bebasnya bagi perempuan dalam ‘hal-hal reproduksi nya, orientasi seksualnya’ dan kedudukan dalam keluarga.” Dalam kepala(epistem pengetahuan) BEM Unram, wacana dominan feminisme berkutat pada seksualitas, betapa seksisnya isi ‘kepala’ BEM Unram. Kesetaraan akademis sebagai salah satu aspek yang diperjuangkan feminisme, yakni oleh sosokpahlawan nasional, R.A Kartini luput dari sorot mata dan jangkauan ‘kepala’ BEM Unram. Teramat banyak aspek-aspek lain dari feminisme yang terabaikan oleh BEM Unram, semisal, keterwakilan perempuan dalam legislatif, hak-hak khusus pekerja perempuan. Pembaca barangkali tidak akan sepakat bila wacana dan “buah” feminisme diatas disebut “berbenturan dengan nilai-nilai agama dan norma yang berkembang di Indonesia” sebagaimana yang ditulis BEM Unram.

Terakhir, melalui postingan tersebut, BEM Unram atau kelompok tertentu di dalamnya menyingkap demagogi yang mereka obral secara internal. Lebih dari itu, demagogi tersebut bahkan diobral dengan dalih Tuhan, hal ini tercermin jelas dari klaim BEM Unram yang mempertentangkan antara sila pertama, yakni keTuhanan Yang Maha Esa dengan gerakan feminisme. Bila kita bedah, dalam epistem (kepala) mereka, seolah para pejuang, aktivis dan penggiat feminisme adalah tidak berTuhan, atau setidak-tidaknya menentang Tuhan. Fadli hendaknya menyoal tentang kesalahan yang sama oleh BEM Unram, yang menggunakan interpretasi atas agama untuk melegitimasi represi, alienasi dan inferioritas perempuan, sebagaimana yang terjadi di era Wollstenhome. Fadli yang telah menulis panjang tentangsejarah feminisme tentunya tidak menghendaki prahara yang sama terulang.

Fadli sebagai seorang alumni Unram, yang kini ber-almamater Nicholas Copernicus University Collegium Maiaus, Polandia barangkali bisa dengan enteng menulis “hal-hal semacam ini sebenarnya tidak perlu dianggap terlalu serius” atau “Jangan Marahi BEM Unram” namun dekonstruksi atas postingan BEM Unram yang telahteruraikan diatas lebih dari cukup sebagai dasar untukmenanggapi serius, sinis, atau bahkan memarahi BEM Unram atas postingannya. Mengapa malah menyalahkan penanggapnya? Bukankah BEM UNRAM sendiri yang menyulut tanggapan-tanggapan sinis dan kegaduhan itu.

Melalui komentar-komentar dan berbagai tanggapan sumbang atas postingan tersebut, terkandung kehendak untuk menegaskan bahwa BEM Unram sama sekali tidak mewakili suara keseluruhan civitas akademik Unram. Bahkan, dalam tulisan lain di Media Unram, ada tuduhan bahwa tulisan tersebut mewakili LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Semoga saja tidak benar, sebab jika demikian, adalah berbahaya bila BEM, atau LDK sebagai ruang kemahasiswaan berpretensi fundamentalistis.

Entah wacana apa yang hendak ditawarkan oleh BEM Unram melalui postingannya tentang feminisme, ada seloroh sinis yang terujar di publik, “jangankan wacana, bahkan ruang eksistensi wacana, yakni pikiran barangkali nihil.”

Brutalitas Media Sosial

Kita harus mengakui, bahwa tidak hanya BEM Unram yang hadir dengan argumen dangkal sekaligus absurd tentangfeminisme. Di sisi lain, para “hakim” digital dengan brutal,menghakimi BEM Unram turut keliru sebab hanya menjatuhi penghakiman-penghakiman tanpa sedikitpun menguraikan dasar penghakimannya. Teramat banyak kesimpulan yang diambil tanpa secuilpun argumentasirasional. Seharusnya, sosial media sebagai salah satu ruang publik tidak menjadi gelanggang bagi bar-barisme dan cercaan, tetapi gelanggang bagi “gladiator-gladiator” argumenrasional.

Biarkan argumen-argumen itu dihamparkan di hadapan hakim akal budi atau rasionalitas. Sesungguhnya ada “daya paksa yang tidak memaksa dari argumen yang lebih rasional” sebagaimana tulis Jurgen Habbermas. Bagaimanapun, cercaan dan penghakiman itu kontraproduktif

Kita tidak seharusnya mengutuk remang dengan kegelapan, setidaknya, masih ada cahaya di dalam keremangan.

Peleburan Horizon: Mendudukan Feminisme

Feminisme, sebagaimana juga gerakan supranasional lainnya, sebutlah hak asasi manusia misalnya, hendaknya didudukansebagai suatu horizon. Untuk menjelaskan tentang horizon, uraian Hans-Goerg Gaddamer teramat mencerahkan, “Horizon adalah jangkauan penglihatan (pengetahuan) yang mencakup segala hal yang dapat dilihat dari suatu sudutpandang tertentu. Bila diterapkan pada pemikiran, kita berbicara tentang kesempitan horizon, tentang peleburan horizon, tentang pembukaan horizon baru dst… Seseorang yang tidak mempunya horizon adalah seseorang yang tidak melihat jauh dan karenanya terlalu melebih-lebihkan apa yang paling dekat dengannya”

Postingan BEM Unram tentang feminisme, adalah contoh yang sangat baik dari “Seseorang (kelompok) yang tidak mempunyai horizon” sebagaimana dalam konsepsinya Gaddamer. Ciri utama horizon adalah tidak terisolasi, melainkan terbuka. Selain itu, horizon tidak statis, melainkan dinamis dan terus bergerak.  

Bila BEM Unram menyatakan ada perbedaan worldview antara Indonesia dengan akar urat gerakan feminisme, harusnya perbedaan dari kedua horizon tersebut dileburkan. Tiap-tiap horizon memang terikat dengan ke-khas-an kontekshistoris, kultural, sosial, religius dan politisnya. Untuk itu, peleburan dimaksudkan bukan untuk melumat nilai-nilai dan esensi dari tiap-tiap horizon, tetapi untuk meniadakan kesempitan-kesempitan dan menyatukan nilai-nilai ideal dari tiap-tiap horizon. Sehingga dengan demikian, dapat dihasilkan suatu horizon baru yang tidak saling menghegemoni.

Tidak menutup kemungkinan, bahkan dalam wacana feminisme, ada potensi hegemoni kultural (kebudayaan) barat. Sebab feminisme bukanlah sebuah objek pengetahuan yang tidak terikat dengan konteks sejarah atau kultur tertentu. Feminisme memang berakar urat pada konteks kultural tertentu, yakni kebudayaan barat. Untuk itu, pemahaman atas feminisme memang hendaknya didasarkan pada horizon kebudayaan Indonesia yang terbuka dan dapat diperluas. Dengan begitu, feminisme dapat menjadi instrumen pembebas perempuan, yang tidak saling tertutup dan menekan nilai-nilai kultural.

Setidaknya, terlepas dari polemik diatas, kita boleh bersyukur, bahwa berkat postingan tersebut, mahasiswa sekaliber Fadli sampai bersedia membuat tulisan panjang yang mencerahkan tentang historisitas feminisme. Semoga dengan ini, penulis-penulis kaliber lainnya tersulut untuk berlaga dalam gelanggang rasionalitas.

Komentar Mahasiswa Baru Tentang Perkuliahan

0

Kuliah luar jaringan (luring) atau offline di Universitas Mataram (Unram) dilakukan sejak 16 Agustus 2021. Hal itu berdasarkan surat edaran dengan Nomor: 8300/UN.18.1/TU/2021.
 
Dalam surat edaran tersebut menjelaskan, proses perkuliahan luring diprioritaskan untuk mahasiswa angkatan 2020 dan 2021. Kemudian mata kuliah yang menjalankan praktikum dan mahasiswa yang menjalankan tugas akhir.
 
Berangkat dari situ, mediaunram.com menghubungi beberapa mahasiswa baru (maba) dan mahasiswa semester tiga untuk mengetahui perasaan mereka tentang perkuliahan.
 
Berikut beberapa komentarnya:
Yusigap Rahman Z, mahasiswa semester awal Fakultas Manajemen. “Waktu kuliah sering tabrakan. Baru keluar dari kelas offline, langsung kelas online,” katanya saat ditemui mediaunram.com di rektorat, Senin(15/11) sore.
 
Kemudian, Rema Fadilla. “Kami cuman akrab ke beberapa teman. Itupun teman-teman yang kami kenal sebelumnya. Soalnya ada beberapa teman kelas yang jarang bergaul,” ungkapnya.
 
Berikutnya, Nurahyani Widia Anggraeni. “Kuliah online kurang efektif. Kami sering terkendala kuota. Dosen kadang nggak percaya kalau kami nggak ada kuota,” katanya.
 
Kemudian, Yulia Fatmawati, mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. “Awalnya kesel banget, karena dikasi tahu mendadak, ditambah belum ada kos,” ungkapnya.

Gambar: Rangga
Penulis: khn

Dua Mahasiswa Viral itu Berdamai

0
{"source":"other","uid":"FF18DEA1-3464-4527-B4CE-8ECC35A55786_1636862576013","origin":"gallery","is_remix":false,"used_premium_tools":false,"used_sources":"{"version":1,"sources":[]}","premium_sources":[],"fte_sources":[]}

MATARAM, MEDIAUnram.com – Sempat ramai dibicarakan, isu dugaan pelecehan seksual yang dilakukan mahasiswa Unram YP (L) kepada NA (P) yang juga mahasiswa Unram selesai.
 
Hal itu dibuktikan dengan pertemuan kedua belah pihak, dengan menyelesaikannya secara kekeluargaan dan menandatangani surat perdamaian.

Salah satu fasilitator pertemuan YP dengan NA, Delian Adlofeno mengatakan, kasus kedua mahasiswa Unram tersebut bukan pelecehan seksual seperti yang ramai dibicarakan, melainkan pencemaran nama baik.
 
“Mereka tidak mau kasus ini berlanjut. Ini hanya persoalan komunikasi. Sekali lagi, ini bukan kasus pelecehan seksual seperti yang viral di Twitter beberapa hari lalu,” kata Delian kepada MEDIAUnram.com, Sabtu (13/11) malam.
 
Pertemuan YP dengan NA dilakukan di kediaman SKM, Jalan Teluk Bayur, nomor 100. Tepatnya di belakang SMAN 2 Mataram.
 
Dalam pertemuan tersebut turut hadir dua keluarga dan kerabat NA. Kemudian beberapa saksi lainnya; Aminah Firashinta, Nur Sanya Fahmi Mantika, Lalu Rahmat Hidayatulllah Hasby.
 
Menurut Delian, selama di lokasi, kedua belah pihak melakukan pembicaraan secara baik.

“Intinya mereka sepakat bahwa masalah ini sudah selesai dan tidak perlu dimasalahkan lagi,” lanjut mahasiswa semester lima Fakultas Hukum itu.

Pose kedua mahasiswa, saksi dan pihak keluarga di Kedai SKM. (Foto/ist)

Selain Delian, saksi Aminah Firashinta menegaskan, kedua belah pihak tidak boleh lagi mendapatkan perlakuan buruk (buly). “Tidak boleh  ada oknum yang membuly, karena ini hanya kesalahpahaman,” katanya.

Permasalahan kedua belah pihak  selesai sampai di sini. Pihak YA dan NA diharapkan menjalin silaturahmi yang baik. “Semoga ini menjadi kasus terakhir di Unram,” pungkasnya. (khn) 

Jangan Marahi BEM Unram

0
Foto: ist.

 

Mungkin beberapa dari kita sudah melihat unggahan dari BEM UNRAM atas tanggapan mereka terhadap gerakan feminisme yang sedikit banyak cukup memancing reaksi dari mahasiswa. Dalam unggahan tersebut dinyatakan bahwa feminisme dianggap sebagai paham yang meniadakan fitrah perempuan yang seharusnya menjadi hamba yang Sholehah, istri yang mematuhi suami dalam hal kebaikan, mendidik anak, bermanfaat bagi semesta, dan lain sebagainya.

Lantas, apa yang salah, dari postingan ini? tentu ada yang salah guys. Setidaknya menurut penulis, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari unggahan ini, pertama, cara penyampainnya yang self righteous, menghakimi, dan terkesan menggeneralisir. Kedua, terlepas dari gagasannya yang disampaikan melalui platform Instagram, unggahan ini tidak mencantumkan sumber yang menjadi basis dari argumentasi dan tuduhan-tuduhannya atas gerakan feminism. Ketiga, kajiannya terkesan sangat dangkal, sekalipun terdapat kalimat “ketika kita mengkaji lebih dalam” dalam unggahan tersebut. Untuk memulai argumentasi dari tulisan ini mari kita menelisik sedikit lebih jauh tentang sejarah singkat kemunculan dan perkembangan paham dan gerakan feminisme.

Jika ditelisik sedikit lebih jauh, feminismE mulai lahir dan mulai dinamai feminisme sejak tulisan dari seorang filsuf politik Marry Wollstenhome, “A Vindication of the Rights of Woman” dipublikasikan. Tulisan tersebut dinilai cukup kontroversial di zamannya dikarenakan penolakannya atas pendapat yang umum pada masa itu bahwa laki-laki adalah sex yang lebih utama dibanding wanita, dan wanita adalah sex kelas dua.

Wollstenhome dalam tulisannya berpendapat bahwa sistem edukasi pada masa itu cenderung menomorduakan perempuan, dikarenakan menganggap bahwa tugas utama wanita adalah pekerjaan domestik, dan wanita tidak memerlukan pendidikan yang tinggi dikarenakan hal tersebut. Pada masa itu wanita dianggap secara alami berbeda dari laki-laki, dan perbedaan itulah yang menyebabkan posisi wanita dalam strata sosial lebih rendah dibanding laki-laki. Alih-alih mengamini hal tersebut, Wollstenhome menolak dan memandang bahwa kultur, sistem, dan interpretasi atas dalil-dalil agamalah yang menyebabkan itu terjadi.

Hal yang juga penting untuk saya sampaikan disini adalah, jika ada pendapat bahwa pandangan seperti ini (pandangan tentang inferioritas wanita) hanya dimiliki oleh masyarakat tidak terdidik, anda salah, karena intelektual top, pejabat tinggi, dan orang-orang berpengaruh pada zaman itupun berpendapat demikian. Anda mungkin akan terkejut jika mendengar bahwa Intellectual Giant seperti Jean-Jacques Rousseau yang teori-teori nya menghiasi buku-buku kuliah kita, khususnya para anak sosial politik, juga beranggapan demikian. Tidak tanggung-tanggung, Rousseau bahkan beranggapan bahwa terdapat perbedaan secara alamiah diantara kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), dan bahwa laki-laki memang dasarnya lebih cerdas dan lebih aktif dibanding permpuan. Ketergantungan perempuan atas laki-laki adalah kondisi alamiah (memang seharusnya terjadi), dan ini disebabkan bukan oleh pranata sosial, melainkan dikarenakan perbedaan dari kapasitas laki-laki dan perempuan dalam bernalar”.

Bisa kita bayangkan, jika raksasa intelektual sekaliber Rousseau saja berpendapat seperti ini, bagaimana masyarakat umum pada zaman itu? bagaimana orang-orang yang tidak mengenyam bangku sekolah memandang perempuan? bagaimana para pejabat akan membuat kebijakan?

 Adalah hal yang sangat masuk akal dan memang seharusnya terjadi, perlawanan perempuan terhadap pranata sosial dan prejudice terhadap perempuan di zaman itu, hidupnya gerakan feminisme justru adalah hal yang sangat diperlukan.

Wollstenhome dengan berani dan penuh percaya diri menantang diskursus yang kala itu mapan, dengan menerbitkan tulisan-tulisannya yang berisi bantahan terhadap persepsi kaum-kaum intelektual dan petinggi negara pada zaman itu.

Untuk memperjelas keadaan sosial masyarakat pada zaman itu, perlu saya sampaikan juga bahwa di zaman itu, wanita tidak diizinkan memiliki properti atas nama mereka, tidak bisa menandatangani dokumen legal, harus menyerahkan gaji yang didapatkan dari pekerjaan mereka kepada suaminya, tidak bisa memilih dalam pemilu dan dianggap tidak perlu tercatat dalam data-data sipil kewarganegaraan. Singkatnya, eksistensi sipil dari wanita ditolak dan hanya diakui dalam kasus pengadilan (hanya dicatat jika melakukan pelanggaran hukum).

Sebagai penegasan kembali, dimanakah fenomena ini terjadi? di Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, negara-negara yang pada zaman itu (ya di zaman sekarang juga masih sih) adalah negara-negara dengan perdaban maju, di bidang teknologi, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Jika di negara-negara sekaliber itu saja seperti ini, bagaimana dengan kebanyakan negara-negara lain di dunia? bisa kita bayangkan sendiri.

Anggapan yang menyatakan bahwa feminisme menentang agama dan menyatakan agama sebagai sumber penindasan terhadap kaum perempuan juga saya pikir perlu di cross-check kembali. Perlu dicatat bahwa Wollstenhome (lagi-lagi, nanti disebutin juga yang lain deh) adalah seorang Kristen, sekalipun tidak pernah menyatakan keimanannya kepada kekristenan dalam tulisan-tulisannya, Wollstenhome juga tidak pernah menyatakan dirinya menolak kekristenan, atau menyatakan bahwa kekristenan adalah sumber dari penindasan terhadap wanita, yang dia advokasi adalah interpretasi atas agama yang dijadikan dalih untuk melanggengkan supremasi laki-laki dibidang sosial dan politik pada masa itu.

Wollstenhome mengkritik konsep “dosa asal” yang diambil dari Alkitab yang digunakan untuk menderogasi perempuan, karena dianggap sebagai makhluk yang memaksa Adam untuk memakan buah terlarang, yang dengan kisah itu, wanita kemudian dicitrakan sebagai makhluk inferior dan penyebab masalah. Ya, kalau saya bilang, mirip-mirip dengan ayat dalam Surat An-Nisaa ayat 34 yang menyatakan bahwa “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita”. Seandainya orang membawa ayat ini kemudian melarang perempuan untuk jadi ketua kelas, mencalonkan diri menjadi wakil rakyat, bupati, gubernur, mungkin banyak diantara kita yang kesel juga kan. Apalagi kalau sampai ada orang yang mau menerobos antrian di minimarket melewati perempuan-perempuan yang antri dengan bilang “sesungguhnya laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan”, saya yakin adu jotos nya tidak akan berjalan sebentar, ya karena emang nyebelin banget. Kurang lebih seperti itulah pergulatan kaum perempuan di masa itu dengan interpretasi agama.

Setelah Wollstenhome, akhirnya mucul tokoh-tokoh feminis yang lain dan berkembanglah paham feminisme menjadi lebih beragam dengan berbagai macam aliran, mulai dari feminisme sosialis, liberal, psikoanalisis, eksistensialis, postmodern dan lain sebagainya. Saya berusaha positive thinking saja, mungkin yang ingin disasar BEM Unram adalah feminisme-feminisme baru, yang gagasannya menentang agama, menentang sistem keluarga, dan bahkan menentang perbedaan biologis dasar antara laki-laki dengan perempuan yang menurut saya memang cocok di debatkan, walaupun saya tidak keberatan juga seandainya ada yang berpendapat seperti itu, selama hanya pendapat dan tidak mengacaukan masyarakat, seharusnya ya tidak apa-apa.

Untuk menghormati perjuangan para tokoh, mungkin saya sampaikan dua tokoh lagi, yang menurut saya pantas menyandang gelar feminis dan aktivis yang inspiratif, yakni Emma Goldman dan Margaret Sanger. Emma Goldman dan Margaret Sanger bisa dikatakan sebagai tokoh awal-awal yang mempromosikan birth control, atau yang istilah yang lebih kita kenal sekarang sebagai KB (Keluarga Berencana, ya mirip-mirip itulah). Keduanya beranggapan bahwa perempuan seharusnya bisa menikmati hubungan seks tanpa harus memiliki anak, yang pada zaman itu mungkin orang masih berpikiran bahwa, hubungan seks hanya untuk reproduksi semata, dan wanita tidak perlu menikmati hubungan seks, asalkan laki-laki puas.

 Ide ini mungkin bagi beberapa orang di zaman sekarang sudah biasa, bahkan saya juga berani beranggapan bahwa agama pun memerintahkan agar hubungan tersebut (anda tau lah maksud saya, ngaku..), harus bisa dinikmati kedua belah pihak secara setara. Namun pendapat dari kedua tokoh ini pada masa itu dianggap sangat kontroversial, Emma Goldman bahkan ditahan sampai 40 kali karena terus menerus menyebarkan idenya, senasib dengan Goldman, Margaret Sanger juga masuk penjara karena menyebarkan alat kontrasepsi untuk wanita-wanita imigran yang miskin. Bayangkan anda masuk penjara karena menyebarkan alat kontrasepsi untuk warga miskin yang notabene sangat membutuhkannya, jelas akan jadi pengalaman yang sangat tidak seru.

Sekali lagi, seandainya ada orang yang kemudian menyatakan bahwa “banyak anak banyak rejeki, tindakan tersebut memang salah, karena membatasi seseorang untuk punya anak, mereka hanya kaum-kaum yang tidak percaya kepada rezeki yang akan diberikan Tuhan”.

 Ya gimana ya, pertama tidak semua orang mempercayai hal serupa, jadi memaksa seseorang untuk tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi menurut saya tidak bisa diterima, dan jika melihat keadaan zaman sekarang dengan kondisi dunia yang telah jauh berbeda saya pikir perbincangan kita akan lebih panjang lagi.

Aliran feminisme sangat beragam, jadi menurut saya, menggeneralisir feminisme sebagai paham yang meniadakan fitrah perempuan yang seharusnya menjadi hamba yang Sholehah, istri yang mematuhi suami dalam hal kebaikan, mendidik anak, dan bermanfaat bagi semesta menurut saya kurang bisa diterima, kalau saya bilang sedikit kurang tajam, mungkin karena disampaikan lewat Instagram sih ya. Anggap saja begini, misalnya ada seseorang yang bilang “Islam adalah agama ekstrim yang mengajarkan kekerasan dan bertentangan dengan Pancasila, buktinya 9/11 dan bom bali,” kita pasti kesal juga, dan kata-kata seperti itu tentu akan jadi kata-kata yang sama sekali tidak membuat kita ceria.

Saya juga termasuk orang yang sering berdebat teman-teman perempuan saya yang feminis, soal standar kecantikan, budaya patriarki, kesenjangan gaji dan lain-lain, dan saya tidak alergi dengan itu, dan menurut saya sebaiknya kita tidak. Saya juga sering bercanda ke teman-teman dengan bilang saya misoginis, sambil mengangkat kasus-kasus feminis yang nyiramin cuka ke selangkangan laki-laki di kereta dan feminis yang bilang AC itu sexist (untuk bercanda).

 Jadi hal-hal semacam ini sebenarnya tidak perlu dianggap terlalu serius, hanya saja saya dan banyak diantara kita mungkin berharap BEM Unram akan menyampaikan anlisis atau kajian mereka dengan lebih meyakinkan dan akademis sebagai lembaga eksekutif tertinggi di kalangan mahasiswa.

Sekalipun demikian, saya beranggapan bahwa kita yang tidak setuju dengan postingan BEM Unram tidak perlu mengomeli mereka, menghujat, ataupun kalau istilah kaum gaul ngecancel mereka, cukup jadikan untuk bahan diskusi saja, tebarkan perdebatan dengan argumentasi-argumentasi rasional yang akan menghiasi kehidupan intelektual dari kampus tercinta ini.

Menurut saya justru ini kesempatan bagi kita insan akademik untuk menyelenggarakan dialektika atau perdebatan atas suatu isu yang menurut saya banyak diantara kita yang merindukan perdebatan semacam ini. Semoga tulisan ini bisa menjadi pemantiknya, terimakasih bagi yang sudah membaca.

Lombok Kita Kaya

0
Foto: ist.

“Pulau seribu masjid” Itu julukanmu
Gunung menjulang tinggi identitasmu
Keindahan alam yang tersaji menenangkan qalbu

Lantunan suara burung dan angin sejuk
jadi penenang hati
Masyarakat ramah, menyapa di setiap penjuru

Lombok kaya budaya, karya, cerita dan cinta

Jahat
Sungguh jahat
Insan hanya menikmati tanpa menjagamu

Kawan,
Jaga yang seribu
Rawat yang menjulang tinggi
Lestarikan yang indah
Taati yang ramah

Jaga Lombok kita!
“Pasek dese ilang sirne, Kahuripan besengkale.”

Tanggapi Opini Feminisme BEM Unram, Mantan Aktivis Kampus; Perbaiki Dulu Nalarnya!

0
Foto: Instagram/ @bemunram

MATARAM, MEDIAUnram.com – Beberapa hari lalu, jagat maya dihebohkan oleh akun Instagram resmi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mataram (Unram) @bemunram yang mengunggah konten opini perihal gerakan feminisme.

Sebelumnya, postingan tersebut terlebih dahulu diunggah oleh akun Instagram @forumperempuanunram, sebuah akun Instagram di bawah naungan Menteri Pemberdayaan Perempuan BEM Unram.
 
Sebaris gagasan dalam konten tersebut bertuliskan: “Feminisme meniadakan fitrah perempuan. Fitrah perempuan yang menjadi hamba solehah, istri yang mematuhi suami dalam hal kebaikan, mendidik anak, bermanfaat bagi semesta.”
 
Karena postingan tersebut, akun Instagram @ forumperempuanunram dan @bemunram mendapatkan beragam tanggapan dan kritik.
 
Konten tersebut menuai kritik dari berbagai kalangan, salah satunya dari mantan aktivis Unram, Ilda Karwayu. “Coba dirapikan dulu nalarnya!” selorohnya saat dihubungi Mediaunram.com via WhatsApp.
 
Wanita yang akrab disapa Ilda itu mengaku tidak menemukan premis yang jelas pada konten tersebut. Menurutnya, dalam menyampaikan gagasannya terhadap satu gerakan, BEM Unram terlalu mengedepankan pemikiran Islam.
 
“Ini BEM atau LDK berkedok BEM? Islam banget sudut pandangnya,” ujar alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) itu.
 
Lebih jauh Ilda mengatakan, sebelum menulis dan mengunggah konten tersebut, seharusnya pihak BEM Unram melakukan pembacaan lebih mendalam, serta memisahkan antara prinsip/visi pribadi dan visi organisasi.
 
“Organisasi macam BEM begitu, apa nggak malu bersikap ekslusif (mengusung pandangan keyakinan tertentu) dalam menyampaikan gagasannya?”
 
Ilda pun kemudian tak habis pikir, “Bagaimana bisa mereka menyetarakan Feminisme Sosialis yang merupakan perluasan dari Feminisme Marxis?”
Berangkat dari situ, ia menyarankan Forum Perempuan Unram untuk melatih nalar dan memperluas referensi.
 
“Di Instagram itu ada @velmadotme yang konten-kontennya berbasis science as a framework, atau bisa juga main ZenCore di aplikasi Zenius,” jelasnya.
 
Tak hanya itu, ia pun menyarankan forum yang berada di bawah naungan BEM Unram itu untuk menilik berita dari media berkredibilitas, serta membaca beragam buku, di antaranya, Gen karya Siddhartha Mukherjee, Beauvoir Melintas Abad karya Ester Lianawati, The Second Sex karya Simone de Beauvoir.

Selanjutnya, dapat pula mereka berdiskusi dengan lingkaran dari berbagai core values, sehingga pemikiran dan wawasan jadi lebih terbuka. “ Nggak macam katak dalam tempurung.”

Foto: Instagram @ildakarwayu

 
“Melatih nalar itu emang nggak bisa singkat, tapi bukan berarti mustahil,” lanjut perempuan yang kini berprofesi sebagai guru di salah satu lembaga bahasa itu.
 
Terkait ramainya kritikan terhadap konten tersebut, MEDIAUnram.com juga menghubungi Surya Arafah, Koordinator Forum Pemberdayaan Perempuan Unram untuk diminta tanggapannya. Awalnya, pesan dibalas. “Hehe. Memang begitu konsekuensinya,” katanya.
 
Namun, saat ditanya lebih lanjut perihal dihapusnya konten feminisme, dan kemudian akun @forumperempuanunram diubah jadi private, Surya Arafah tidak menjawab; pesan MEDIAUnram.com hanya dibaca.
 
Selain itu, MEDIAUnram.com juga menghubungi Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen), Dian Pertiwi Sari. Dia mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan jawaban secara lembaga. “Jadi saya tidak akan memberikan jawaban apapun  di sini (via WhatsApp),” katanya. (Khn)

Kelompok Budidaya Lebah Madu Gandeng Himikom Tingkatkan Promosi Produk

0
Foto: ist.

Mataram, MEDIAUnram.com – Untuk mempermudah promosi digital produk yang dimiliki, perwakilan kelompok budidaya Lebah Madu Trigona mengikuti pelatihan desain visual Rabu, (10/11).

“Kurangnya kemampuan anggota kelompok dalam bidang promosi digital menghambat kami dalam menarik pelanggan baru, apalagi masyarakat saat ini lebih tertarik dengan visual desain yang bagus dan menarik,” kata Sairi, Ketua Kelompok Harapan Keluarga.

“Pelatihan desain ini juga merupakan permintaan khusus dari saya sendiri,” lanjutnya.

Pelatihan desain ini kemudian difasilitasi oleh tim Program Holistik Pemberdayaan dan Pengembangan Desa (PHP2D) Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himikom) Universitas Mataram (Unram).

Tim PHP2D Himikom Unram melihat kelompok Budidaya Lebah Madu Trigona di Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) merupakan kelompok yang memerlukan pendampingan khusus mengenai aplikasi digital dan desain visual, karena aplikasi digital dan desain visual penting untuk meningkatkan engagement di media sosial.

Pelatihan desain ini dilatih langsung oleh Baiq Honey Cantika yang merupakan anggota tim PHP2D Himikom Unram, dan didampingi secara intensif oleh beberapa anggota tim lainnya yang memiliki keahlian dalam bidang desain.

Sebelum memulai pelatihan terlebih dahulu tim PHP2D Himikom Unram dengan anggota kelompok budidaya Lebah Madu Trigona, telah menyepakati aplikasi Canva sebagai media pelatihan.

Canva sendiri merupakan platform desain grafis yang digunakan untuk membuat desain grafis seperti poster, infografis dan desain visual lainnya di media sosial. Aplikasi ini tersedia di smartphone baik itu android maupun ios.

Pemilihan canva sebagai media pelatihan desain, karena supported device yang dimiliki anggota kelompok pada saat itu smartphone.  Sehingga dapat dengan mudah untuk dilatih dengan intensif.

“Bagi sebagian orang, menggunakan aplikasi Canva adalah hal yang mudah. Namun, bagi anggota kelompok budidaya Lebah Madu Trigona merupakan hal yang memerlukan pelatihan khusus, agar kedepannya bisa mengoperasikan aplikasi desain lainnya,” kata Sairi.

Sairi juga menjelaskan pelatihan ini sangatlah efektif, karena di akhir pelatihan para peserta diminta untuk membuat satu karya desain. Hal ini yang kemudian memudahkan para peserta pelatihan mudah untuk memahami penggunaan Canva.

“Pelatihan ini sungguh luar biasa, karena kami beberapa puluh persen sudah memahami bagaimana cara menggunakan aplikasi tersebut,” katanya.

Pelatihan yang berlangsung selama dua jam ini turut dihadiri oleh Zulhaqiqi, Bagian Pemasaran Kelompok Harapan Keluarga, Wawan Rizki, Anggota Kelompok Sari Kembang, dan Lalu Mujahidin, Anggota Kelompok Tunas Muda. (RNI)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan Pemuda Untuk Indonesia

0
Foto: ist.

Kilas Balik Sejarah Pergerakan Pemuda

​Sejarah selalu menunjukkan bahwa pemuda Indonesia tidak hanya diam, anak muda indonesia selalu mengambil peran dalam proses perjuangan bangsa ini. Sejarah mencatat perjuangan pemuda dimulai sejak pergerakan nasional, ketika mahasiswa lembaga STOVIA mendirikan organisasi “Boedi Oetomo” yang pada saat itu dijadikan wadah perjuangan para pemuda pada 20 Mei 1908 di Jakarta. Perjuangan tersebut diikuti oleh sekelompok mahasiswa di Belanda dengan membentuk suatu organisasi pemuda dengan nama Perhimpunan Indonesia.

Organisasi inilah yang mencetuskan serta menginisiasi terselenggaranya Kongres Pemuda pada tahun 1928 yang telah melahirkan sumpah pemuda. Peran Pemuda kemudian dilanjutkan pada saat ingin memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, pemuda mengambil kesempatan dan mementum itu, untuk kemudian mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk membacakan proklamasi kemerdekaan. Dan setelah Indonesia merdeka, pemuda menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mempertahankan Republik yang baru saja merdeka, hingga pada akhrinya Negara Kesatuan Republik Indonesia benar-benar bebas dan merdeka dari penjajahan.

Tidak berhenti sampai disitu, pergerakan pemuda berlanjut saat penuntutan turunnya orde lama dan orde baru, hingga kemudian dengan kesatuan dan semangat dari berbagai macam elemen pemuda menuntut adanya reformasi pada tahun 1998.

Pemuda Aktor Intelektual

​Pemuda merupakan aktor intelektual yang kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Pemuda merupakan ujung tombak bangsa ini. Sejarah telah banyak mencatat bahwa merdekanya bangsa ini tidak pernah terlepas dari pikiran dan aksi-aksi hebat dari anak muda. Penting untuk seorang pemuda merawat dan menjaga khazanah pikirannya untuk bangsa ini, meskipun datang dari berbagai keragaman yang berbeda pemuda harus tetap menjadi satu kesatuan yang utuh untuk bangsa ini.

Dalam sudut pandang demografi penduduk, dijelaskan bahwa kelompok umur pemuda masuk sebagai usia yang produktif, yakni usia-usia yang dalam perhitungan beban ketergantungan memiliki posisi sebagai penanggung beban penduduk usia tidak produktif. Melihat hal itu, sudah selayaknya pemuda Indonesia berperan lebih aktif sesuai dengan kualitas yang dimiliki, sehingga peran pemuda sebagai katalisator pembangunan semakin terlihat nyata adanya.

Pemuda Yang Merdeka

Pemuda yang merdeka adalah pemuda yang mampu terlepas dari segala bentuk belenggu jajahan yang merugikan diri sendiri dan bangsa. Pemuda harus mampu menjaga marwah kepemudaannya, B.J. Habibie pernah berkata bahwa “Hidup itu bukan soal hitungan, inti dari hidup adalah komitmen: komitmen pada ilmu, komitmen pada negara dan bangsa, komitmen pada rekan seperjuangan, dan komitmen itu mutlak”.

Berangkat dari petuah yang disampaikan oleh mantan presiden ketiga Indonesia itu, sudah seharusnya pemuda saat ini menjaga komitmen yang telah ada, menjaga amanat bangsa ini pada pundak kita. Sebuah bangsa akan maju apabila pemudanya berpikir maju begitu pula sebaliknya, bangsa ini akan hancur bila pemudanya hancur.

Masa muda adalah masa yang merdeka, jika tidak dijaga dan dirawat dengan baik, masa muda akan menjadi bumerang bagi pemuda dan bangsa ini. Sejatinya manusia yang dinamis, pemuda harus bisa lebih dinamis dan berpikiran maju dan pastinya tidak kaku. Dalam bagian tulisan pemuda merdeka ini, sedikit dari saya sebagai salah satu pemuda yang banyak memiliki harapan, “Jaga keberanian dan rawat harapan, karena tanpa keberanian dan harapan pemuda telah kehilangan segalanya”.

Pemuda Adalah Pahlawan

Momentum peringatan hari pahlawan pada 10 November identik dengan momen perjuangan berdarah untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Sudah 76 tahun Indonesia berdiri sebagai sebuah negara dan tentu ini lahir dari perjuangan hebat para pejuang bangsa yang dengan pengrobanan, gotong royong dan semangat pantang menyerah membawa kita sampai pada hari ini. Sungguh krusial bahwa generasi muda mampu menjadi pahlawan mahasa kini yang memiliki empati tinggi, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Lantas sudah sejauh mana peran dan pengaruh pemuda sebagai Pahlawan Indonesia?

Pada saat ini, kita berada pada titik penting dari sebuah sejarah. Ketika berbagai macam upaya pemulihan pandemi digalakkan, setiap keputusan yang diambil selalu berujung pada kegagalan. Sangat disayangkan, pemuda dalam hal ini selalu menjadi tumbal yang paling rentan memikul beban yang berat dari dampak pandemi, seperti penutupan sekolah, isu kesehatan mental yang memburuk, angka pengangguran yang kian meningkat, dan masih banyak lagi problematika lainnya. ​Laporan dari Unicef Indonesia bahwa akibat dari pandemi, sebanyak 530 sekolah yang ada di Indonesia ditutup, dan ini berdampak pada lebih dari 60 juta siswa dan 4 juta guru.

Dampak pandemi terhadap dunia pendidikan sangatlah terlihat jelas dan menegaskan bahwa pendidikan inklusif haruslah menjadi pusat dari agenda pemulihan krisis global saat ini. Pendidikan merupakan dasar untuk sebuah pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mendorong inklusi sosial, serta menciptakan masyarakat yang setara, sejahtera, dan bermartabat. Hak-hak atas pendidikan adalah hak asasi manusia yang dalam hal ini sebagai perwujudan hak-hak lainnya.

Dalam tulisan ini banyak harapan untuk kita sebagai seorang pemuda, agar bisa lebih baik lagi dalam memupuk pola pikir untuk menjadi pemecah masalah yang kreatif, tangguh dan inovatif. Tidak hanya bisa berpikir kritis, pemuda juga harus mampu memberikan aksi nyata dalam sebuah perubahan, konstruksi pikiran yang progresif serta kritik yang solutif akan membantu bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik lagi.

Mahasiswi Prestasi Unram Geram Dengan Respon Birokrasi

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Dua mahasiswi berprestasi Universitas Mataram (Unram) geram melihat lambannya birokrasi kampus merespon informasi prestasi mahasiswa/mahasiswi.

Kedua mahasiswi tersebut Elfa Septiana  dan Elsa Candra. Mereka memenangkan kejuaraan pada kompetisi Duta Lingkungan Hidup (LH) Nusa Tenggara Barat (NTB) 2021.

“Birokrasi tidak harus menunggu laporan dari mahasiswa untuk menghadap, lalu dipanggil,” ujar Elfa.

Menurut Elfa, seharusnya birokrasi lebih dulu menyelidiki informasi tersebut. Kemudian meminta mahasiswa untuk menghadap ke birokrasi untuk diberikan apresiasi.

“Kedepanya birokrasi Unram harus lebih cepat mencari informasi mahasiswa yang memiliki prestasi akademik maupun non-akademik baik di kancah lokal, nasional maupun internasional,” tegasnya.

Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional (HI) itu meraih juara 1 Duta LH NTB 2021. Dia mengaku, bersama rekannya memiliki tanggung jawab untuk menjaga eksistensi alam demi kehidupan manusia kedepannya.

“Saya juga merasa bahagia karena menjadi kebanggaan orang tua, keluarga dan sahabat,” ungkapnya saat dihubungi mediaunram.com melalui WhatsApp, Selasa (9/11).

Selain Elfa, Elsa Candra juga mencatatkan dirinya sebagai juara dalam lomba tersebut. Mahasiswi semester 7 program Hubungan Internasional Unram itu mendapatkan juara dua Duta LH NTB 2021.

“Duta LH merupakan roda penggerak antara pemerintah dan masyarakat dalam membenahi lingkungan secara bersama. Keberadaan Duta LH dirasa berpengaruh atas perubahan perbaikan lingkungan kedepan,” ungkapnya.

Elsa mengatakan, Dewan Perwakilan Mahasiswa(DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram sebagai organisasi kemahasiswaan tertinggi di jajaran kampus, harus membangkitkan semangat mahasiswa untuk mengambil peran lebih terhadap dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain keduanya, berikut mahasiswa/mahasiswi yang  masuk ke 10 besar;

1. Lina Zul Khaerunnisa (HI) Duta LH kategori Influenser,
2. Dea Aswani (Ilkom) Duta LH kategori Bahari,
3. Danti Aulia (Faperta) Duta LH kategori Berbakat.

Kontes Duta LH NTB merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Lombok Tengah dan Paguyuban Duta Lingkungan. Pembagian hadiah dilakukan, Sabtu(6/11), sore. Kegiatan itu bertempat di Ballrom lantai lima Pendopo Bupati Lombok Tengah. (dik)

Karya Foto Jurnalistik Peserta LJTD 29

0

Keterangan

Foto 2: Dalam foto ini, terdapat makna kebersamaan dalam keluarga, lebih tepatnya dalam frame ada satu keluarga yang terus bersama-sama melawan arus perekonomian dimasa pandemi yang tengah sulit. Kebersamaan mereka memberikan motivasi untuk tetap berjuang sesulit apapun keadaan, dan memberikan pelajaran tentang kebersamaan yang dapat mempermudah segala hal.

Foto 3: Para pedagang terlihat menjajakan barang dagangannya di lapak masing-masing. Tatapan Fahmin mengisyaratkan kesedihan karena berkurangnya pendapatan di masa pandemi ini.

Foto 5: Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid sekarang sudah mulai ramai kembali di tengah pandemi Covid – 19. Meski pemerintah memberlakukan peraturan yang cukup rumit untuk bepergian keluar kota akan tetapi hal ini tidak menghalangi niat masyarakat untuk pergi keluar kota. Hal ini juga didukung dengan adanya Pertamina Mandalika International Street Circuit yang membuat para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara berdatangan ke Lombok.

Foto 6: Seorang pedagang mie ayam yang tetap berjualan di tengah pandemi Covid-19. Pengunjung yang sudah kembali ramai di masa peralihan dari pandemi menjadi endemi. Hal ini membuat harapan penjual mi ayam itu kembali ada karena masa pandemi Covid-19 akan segera berakhir dan semua kembali normal.