27.5 C
Mataram
Thursday, May 28, 2026
spot_img
Home Blog Page 76

Kerja Keras

0

Malam itu terasa hangat

Membunuh gigil dalam gelap
Juga terbang menemani ngengat

Pagi hari, aku langsung teringat
Pada tubuhmu dan cucuran keringat
Menggenang dosa-dosa

Katamu sekalipun aku pergi,
Peluh pergulatan itu tetap membekas
Melekat di antara dinding-dinding kesepian

Dan malam ini benar-benar hangat
Merekat harap dan tekat
Dari kubangan got yang pengap

Tengah malam, 2021

Matinya Pakar Pendidikan

0

Pada prinsip dasarnya pendidikan merupakan pengantar pembangunan manusia seutuhnya, dalam pandangan John Dewey “pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia”. Kita mesti sepakat bahwa pendidikan diperlukan semua orang dan dialami oleh semua manusia dari semua golongan. Ini penting, sangat! Jika pendidikan adalah jembatan strategis memanusiakan manusia, maka suatu keharusan bagi kita untuk memahami esensi pendidikan.

Yunani mengartikan pendidikan sebagai “pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak, juga Romawi yang melihat mendidikan sebagai “educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa dilahirkan di dunia. Tidak juga kita lupakan yang pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini kita Pribumi melihat pendidikan dalam pandangan bapak pendidikan Indonesia Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang akrab disapa Ki Hajar Dewantara, mengartikan pendidikan sebagai “upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat”

Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, tetapi dalam kenyataanya seringkali tidak demikian. Seringkali kepribadian manusia cenderung direduksi oleh sistem pendidikan yang ada. Model pendidikan yang hanya dioreantasikan kepada manusia yang dihasilkan pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman bukannya bersikap kritis terhadap zamannya.

Pendidikan mencakup pembahasan yang begitu luas dan kompleks, maka pendidikan tidak dapat dipahami secara sederhana. Dalam lintasan sejarah yang panjang dengan berbagai performanya, pendidikan telah mewarnai jalanya kehidupan manusia. Indonesia khususnya, pendidikan menjadi hal yang menarik untuk dibahas baik eksistensinya maupun kontribusinya.

Kita tahu bahwa setiap tahun kampus-kampus di Indonesia menerima mahasiswa baru lebih khusus dalam fakultas pendidikan, setiap tahun pula mencetak sarjana pendidikan, magister, hingga profesor pendidikan. Hematnya negara ini bahkan tidak krisis pakar pendidikan. Tapi kenapa dewasa ini rasanya negara ini sedang krisis pakar pendidikan. Pertanyaan muncul, dikemanakan para lulusan sarjana, doktor, hingga profesor pendidikan di negeri ini? Ternyata tidak dikemanakan perannya. Jika ini berlanjut untuk tiga generasi, maka tinggal kita tahlilan bersama atas matinya pakar pendidikan.

Sadar untuk sekarang, kita sedang berada pada era digital di mana era ini informasi hanya dengan dua ibu jari. Akes informasi baik untuk ilmu pengetahuan, berita, dan bahkan tentang masa depan hanya bermodalkan handphone plus kuota. Dan itu hanya memerlukan waktu beberapa menit saja dengan menggunakan handphone kita. Orang nonton youtube tutorial memasak dengan waktu beberapa menit saja udah bisa menjadi chef dadakan. Semuanya hanya bermodalkan kuota orang bisa jadi apa yang dia nonton. Ini juga yang menjadi pertanyaanya, apakah dengan begitu mudanya akses ilmu pengetuhan pakar masih bisa hidup di era sekarang. Linearitas!

Dalam dunia pendidikan modern tidak asing kita mendengar linearitas, dimana pendidikan dijalankan menuju kearah spealisasi, dari yang umum ke khusus. Hakikat pendidikan seharusnya demikian, kita mesti tahu arah. Bagi saya kompasnya hanya linearitas!, biar kita tidak menjadi pridul praktis. Sebab, pendidikan adalah proses, dan proses itu butuh waktu dalam menyempurnakannya. Upaya sadar untuk mengembangkan potensi yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan agar memanusiakan manusia atau menjadikan insan kamil.

Pendidikan juga menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin, karakter, pikiran dan tubuh manusia yang dilakukan secara integral tanpa dipisah-pisahkan antara ranah-ranah tersebut. Mari kita sama-sama memahami esensi pendidikan. Nadiem Makarim bisa jadi Mentri Pendidikan, padahal basicnya entrepreneurship, hehehe. Padahal banyak Prof yang basicnya emang di pendidikan. Mungkin ini tanda matinya pakar pendidikan atau abad kegelapan di mana abad ini ditandai dengan lahirnya manusia renaissance, Wallahu a’lam.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2021

 

Tahun ini, UKPKM Media Unram Kembali Adakan Diskusi Publik

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Setelah setahun tidak dilaksanakan, UKPKM MEDIA Unram kembali adakan Diskusi Publik (Dispub). Kali ini mengangkat tema “Rakyat berdaulat atas pendidikan, tepatkah sasaran anggarannya?”
 
Ketua panitia Desti Silisnawati menjelaskan, diskusi publik merupakan program kerja (Proker) tahunan UKPKM MEDIA Unram. Tahun kemarin tidak dilaksanakan, karena masih terkendala pandemi Covid-19. “Ini merupakan proker dari Divisi Humas,” kata Desti dalam sambutannya di Aula Gedung PKM Unram, Kamis (29/4) sore

Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) Unram, Enny Yuliani yang diwakili Kepala Bagian Bidang Kemahasiswaan, Abdul Faruk.

Dalam diskusi ini, materi pertama disampaikan oleh  Dewan Pengurus Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) NTB Hendriadi. Materi yang disampaikan berkaitan dengan Pendidikan dan Alokasi Anggarannya di NTB. 

Hendriadi mengungkapkan bahwa saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB berada di urutan 29 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

“Dari data tersebut, dapat kita simpulkan bahwa, kualitas pendidikan di NTB perlu ditingkatkan lagi dari segi akses dan kuantitas,” ungkapnya.

Karena pada dasarnya pendidikan itu butuh pengawalan bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat awam, terlebih lagi para mahasiswa.

“Transparansi data terkait pendidikan, baik dari pemerintah maupun birokrasi sangat kita butuhkan,” lanjutnya.

Kemudian, materi kedua disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan (WD II) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Saiful Arni Muhsyaf. Materi yang disampaikan ialah mengenai biaya pendidikan akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas.

Selain kedua pemateri, dalam acara ini juga turut mengundang puluhan ketua/anggota (delegasi) dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-Unram, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Kota Mataram. Kemudian, alumni Media Unram.
 
Acara selesai menjelang magrib. Usai melaksanakan diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama dengan seluruh tamu undangan. (M)

Cita Anak Bangsa “Digunting” Birokrasi Unram

0

Rabu, 28 April 2021 merupakan tenggat waktu pelaksanaan klarifikasi hasil verifikasi data calon mahasiswa jalur SNMPTN. Di luar dugaan, ternyata ada beberapa calon mahasiswa yang tidak lolos proses verifikasi berkas jalur SNMPTN. Persoalannya beragam, mulai dari perbedaan nilai yang terinput di PDSS dengan nilai yang tertera di dalam Rapor, hingga hilangnya berkas yang seharusnya diverifikasi.

Universitas Mataram melalui masing-masing Fakultas memberikan kesempatan bagi calon mahasiswa jalur SNMPTN yang merasa dirugikan oleh keputusan hasil verifikasi untuk melakukan klarifikasi data.

Khusnul Khotimah dan Silfa Mahendi Yolanda adalah dua dari lima calon mahasiswa jalur SNMPTN yang melakukan proses klarifikasi data di Fakultas Hukum. Keduanya berasal dari SMAN 1 Jonggat. Oleh pihak Fakultas, Khusnul dan Silfa dinyatakan tidak lulus verifikasi data karena tidak melampirkan data untuk diverifikasi. Padahal sebelumnya Khusnul dan Silfa telah melampirkan data melalui jasa pengiriman POS. Data itu terkirim pada tanggal 14 April dan diterima oleh pihak panitia penyelenggara penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN pada tanggal 15 April, sebagaimana tertera pada informasi resi pengiriman POS.

Setelah mendapat instruksi langsung dari Dekan Fakultas Hukum untuk melakukan pengecekan berkas verifikasi data ke lokasi pihak penerima, Khusnul dan Silfa langsung menuju rektorat untuk melakukan pengecekan kembali data yang telah mereka kirim, dengan didampingi oleh Abdul Fattah, Kepala Bidang Advokastrat BEM FH UNRAM.

Sesampainya di rektorat, yakni stand penerimaan mahasiswa jalur SNMPTN, alur birokratis yang kusut dan kaku berlanjut. Pertanyaan yang pertama kali dilayangkan oleh pihak panitia adalah kebenaran pengiriman berkas, pertanyaan itu langsung saja dijawab dengan memberikan bukti pengiriman. Bahkan setelah resi pengiriman itu di berikan, pertanyaan pongah lainnya yang menyiratkan kesan keengganan untuk mengakomodasi kepentingan calon mahasiswa dilayangkan, sambil mengembalikan resi tadi, ditanyakan kapan tanggal pengiriman berkas yang sudah jelas tertera di resi, padahal bisa saja langsung dibaca. Jawaban yang tersampaikan oleh Khusnul dan Silfa sama, tanggal 14.

Mendangar jawaban itu, pihak penerima malah memperumit persoalan dengan mengungkit timeline pengiriman berkas, mempertanyakan mengapa pengiriman baru dilakukan pada tanggal tersebut, bahkan Khusnul dan Silfa disalahkan dengan dalil pengiriman berkas mereka terlambat dan diluar jadwal. Padahal, kebijakan perpanjangan pengiriman disampaikan langsung oleh Dekan FH melalui BEM FH kepada calon mahasiswa FH jalur SNMPTN.

Kebijakan perpanjangan pengiriman berkas yang dikeluarkan oleh dekan itu bahkan ditanyakan dasar dan landasan hukumnya, padahal Dekan adalah pimpinan Fakultas Hukum yang memiliki otoritas dan kompetensi dibidang Hukum. Selain itu, pertanyaan birokratis ini menyiratkan fakta absurditas jalur komunikasi dan koordinasi Fakultas dan Universitas.

Tersirat sikap intimidatif dan keengganan untuk mengakomodasi permasalahan prinsipil yang menyangkut masa depan calon mahasiswa. Khusnul dan Silfa didikte untuk mengakui bahwa ada porsi kesalahan mereka dalam hal ini.

Setelah alur rumit, kusut dan perdebatan alot, berkas Khusnul dan Silfa baru ditemukan, rupanya berkas itu terlewat karna pihak penerima mengira itu bukanlah berkas verifikasi data calon mahasiswa. Hal teknis semacam ini hampir saja mempertaruhkan masa depan dua orang generasi penerus bangsa yang hendak menggapai mimpi dan cita-citanya di Fakultas Hukum Universitas Mataram. Mereka hampir saja membuang cita-cita meraka sebab harus menanggung beban pertanggung jawaban dan kesalahan yang sama sekali tidak mereka lakukan.

Pada akhirnya, mereka harus digantung dalam ketidakpastian dengan jawaban tunggu, tunggu dan tunggu, tanpa kejelasan lanjutan apapun. Ketiga calon mahasiswa lainnya yakni Warisa Febriana, Julia Kurniati dan Fidiati Hidayah harus turut membenamkan impian dan cita-cita mereka.

Pihak Fakultas tidak meloloskan verifikasi berkas mereka sebab terdapat perbedaan antara data PDSS dan Rapor yang terlampir. Fidiati sampai harus berderai air mata, menangisi keputusan tersebut. Ketiga calon mahasiswa tersebut harus terbebani secara psikis karena keputusan itu. Padahal ketiganya sama sekali tidak terlibat dalam penginputan nilai PDSS yang sepunuhnya dilakukan oleh pihak sekolah. Mereka harus menanggung beban kesalahan dan merelakan cita-cita serta impian mereka terbunuh oleh kaku dan tirannya ketentuan.

Sistem yang seharusnya membantu manusia dalam melaksanakan tugas dan kerja-kerjanya malah mengorbankan manusia yang seharusnya terbantu olehnya.

Persoalan yang terurai di atas barangkali tidak hanya terjadi terhadap calon mahasiswa di Fakultas Hukum, namun juga terhadap calon mahasiswa di Fakultas-Fakultas lainnya di Universitas Mataram. Universitas Mataram dengan alur tekhnis birokrasi yang kusut dan tirannya, mengabaikan hal yang prinsipil yakni peraihan cita-cita dan impian generasi penerus bangsa yang telah digantungkan di Universitas Mataram.

Universitas Mataram harusnya menjadi lembaga pendidikan tinggi yang mengemban amanat konstitusional, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, namun pada praktiknya, malah menyerupai institusi pembunuh cita-cita dan impian generasi penerus bangsa.

Secercah Asa bagi Anak Bangsa

Diantara kusut dan kakunya persoalan yang merintangi anak bangsa dalam menggapai cita-citanya, asa hendaknya senantiasa terjaga menyala, berikut solusi atas asa itu.

Pertama, terhadap Khusnul dan Silfa serta calon mahasiswa lainnya yang barangkali bernasib sama, pihak Universitas dalam hal ini WR I harus sepenuhnya bertanggung jawab atas kelalaian dan alpanya profesionalitas pihak penyelenggara SNMPTN Universitas Mataram.

Keadilan nampak hanya dimuliakan dalam ucapan dan tulisan, namun dihinakan dalam sikap dan tindakan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Universitas Mataram seharusnya mampu mendidik dengan sikap dan tindakan, yakni menghadirkan keadilan terhadap Khusnul dan Silfa. Pelimpahan kesalahan terhadap mereka adalah kedzaliman dan tindakan yang despotik (sewenang-wenang) untuk itu, demi menjaga makna dan nilai filosofis pendidikan, Khusnul dan Silfa harus terjamin memperoleh keadilan.

Kedua, terhadap Warisa, Julia dan Fidiati, kedepannya sekolah-sekolah yang ada di NTB harus berbenah, serta secara cermat, jeli dan teliti memperhatikan proses penginputan nilai PDSS tiap siswanya. Sistem penginputan data juga hendaknya melalui beberapa kali proses verifikasi awal oleh pihak sekolah dan siswa, sebelum data itu benar-benar terinput ke PDSS. Jangan sampai masa depan generasi penerus bangsa yang prinsipil harus dikorbankan oleh kekeliruan tekhnis semacam ini.

Universitas Mataram sebagai lembaga pendidikan tinggi hendaknya membumikan kemanusiaan, dengan menghadirkan solusi alternatif bagi calon mahasiswa yang tidak lolos verifikasi. Universitas Mataram dapat menginstruksikan sekolah-sekolah untuk mengeluarkan surat pernyataan bahwa telah terjadi kelalain yang murni dari pihak sekolah dengan dilengkapi bukti dan dokumen terkait. Dengan begitu, calon mahasiswa yang menjadi menjadi korban dan paling dirugikan dapat memperoleh hak asasinya.

Kedepannya, seluruh pihak yang terlibat harus berbenah, kesalahan yang sama tidak boleh lagi terjadi terhadap regenerasi penerus bangsa ini.

Ramadan Berbagi, Himasos Bagikan Makanan Kepada Anak di LKSA

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Unram, membagikan makanan kepada anak-anak di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).
 
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Kerja (Proker) dari divisi Pengabdian Masyarakat (PM) Himasos. Didampingi Ketua Himasos Suandi, puluhan makanan untuk berbuka puasa itu dibagikan melalui lembaga yang berada di Desa Batu Kute, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat (Lobar).
 
Ketua Divisi PM Sarisah mengatakan, makanan yang dibagikan itu merupakan hasil donasi dari anggota dan pengurus himpunan.
 
“Kami mengumpulkan dana dari teman-teman Himasos,” kata wanita yang akrab disapa Sari itu kepada MEDIAUnram.com, Selasa (27/4) malam.
 
Sebelum membagikan makanan, kata Sari, dia dan teman-teman Himasos duduk bersama anggota LKSA saya kemudian berdiskusi kecil-kecilan dengan anggota lembaga. “Sambil menunggu adik-adik mengaji,” lanjut wanita kelahiran Lombok Tengah (Loteng) ini.
 
Muhammad Islahuddin selaku ketua LKSA mengucapkan rasa terima kasih kepada anggota Himasos yang telah memberikan sejumlah makanan kepada anak-anak di sana.
 
“Sebenarnya banyak orang yang berniat membantu, namun hanya sedikit yang bergerak,” ungkap Islahuddin dalam sambutannya.
 
Dia juga mengatakan, kegiatan ini sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari mahasiswa sosiologi, yaitu tentang kemasyarakatan.
 
Pada waktu yang sama, Ketua Himasos Suandi juga mengucapkan hal serupa kepada pihak LKSA, karena telah menerima dengan antusias kegiatan dari himpunan.
 
Kegiatan berakhir menjelang berbuka puasa, sekitar pukul 17.50 Wita. Sarisah berharap, kegiatan ini bermanfaat bagi anak-anak di LKSA.
 
Pada akhir perkataannya, dia mengatakan, kegiatan ini akan dilaksanakan satu kali lagi. “Insya Allah, kegiatan ini akan dilakukan kembali menjelang lebaran Idul Fitri,” pungkasnya. (khn)

Dua Warga di Lombok Tengah Terbakar Akibat Ledakan Senapan Angin Gas

0

Lombok Tengah, MEDIAunram.com – Nasib nahas menimpa dua warga Desa Perabu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).
 
Kedua korban itu, Saipul Fahmi alias MQ. Arya (32) dan Lalu Karman Darwis (31). Mereka mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya akibat ledakan gas senapan angin yang sedang diperbaikinya pada Jumat (24/4/2021).
 
Bhabin Kamtibmas desa Prabu Polres Lombok Tengah, Aipda Misnan Suryadi yang dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut.
 
Dia menjelaskan, peristiwa yang menimpa korban itu berawal saat keduanya sedang memperbaiki senapan angin dengan tabung gas di rumahnya. Kemudian, secara tiba-tiba tabung gas tersebut meledak.
 
“Akibatnya, Saipul mengalami luka bakar sebagian besar bagian tubuh dan Darwis mengalami luka bakar pada tangan dan betis kanan,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (25/4).
 
Lebih lanjut dia menjelaskan, penyebab ledakan masih diselidiki. Sedangkan kedua korban itu, saat ini telah dirawat di Rumah Sakit Umum Praya. (Lnf)

BEM dan DPM Universitas Mataram Buta Narasi

0

Jika berbicara tentang Negara, di dalam pemerintahan ada Badan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif dalam sebuah lingkaran demokrasi. Ada banyak tuntutan kepada pemerintah agar dapat memberikan pendidikan yang menyeluruh kepada anak bangsa agar negara menjadi maju sesuai dengan amanat UUD 1945. Yang paling gencar meneriakkan tuntutan ini adalah kalangan intelektual, termasuk mahasiswa.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) adalah Badan Eksekutif dan Legislatif kampus yang pada dasarnya memiliki peran yang sama persis dengan pemerintah, yakni harus memenuhi aspirasi dari rakyat kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa tuntutan akan pendidikan adalah kebutuhan pokok bagi setiap kalangan. Atas dasar itulah, kita dapat menarik kesimpulan bahwa para mahasiswa sebagai rakyat di lingkungan kampus memiliki tuntutan yang sama dengan rakyat di lingkungan bangsa dan Negara. DPM yang baik harus dapat memenuhi aspirasi ini namun kenyataannya (?) masih menjadi tanda tanya besar dibenak mahasiswa.

Setiap program kerja harus memiliki visi untuk pengembangan diri setiap mahasiswa, harus memiliki unsur untuk belajar (dalam arti yang sebenarnya), harus berupa suatu aksi untuk bergerak. Dengan kata lain, kalau misalnya tidak bisa dielakkan kenyataan bahwa BEM memang terlahir untuk mengadakan acara-acara dan gerakan moral maka setiap kegiatan atau acara yang dilaksanakan oleh Badan Eksekutif harus memiliki tujuan edukatif dan sebagai ruang atau lahan untuk studi.

Berbicara tentang lembaga tertinggi kampus, yakni BEM dan DPM dilingkup Universitas Mataram, tidak akan ada habisnya. Tahun ini penuh akan kemunduran, lembaga-lembaga tertinggi ini semestinya menjadikan pengalaman tahun sebelumnya sebagai pembelajaran. Narasi yang dibangun oleh dua lembaga ini berujung stuck dan tidak ada perubahan dari tahun kemarin.

Trias politika adalah gaung-gaung lembaga tertinggi di tingkat Univesitas Mataram dalam menghidupkan dinamika bernegara di dalam kampus, namun oposisi selazimnya belum hidup misalnya pengawasan dan lembaga terawasi. BEM dan DPM mestinya mengambil peran dalam mewujudkan hidupnya demokrasi mahasiswa di kampus.

Sekarang bagaimana agar setiap kegiatan atau acara itu menjadi lahan dan ruang untuk studi? Ya, jelas, lakukanlah kegiatan yang memiliki konsep dan memiliki aksi-aksi susulan yang berkelanjutan. Contoh yang dapat penulis berikan adalah melakukan kegiatan atau acara yang memang membuka ruang seluas-luasnya untuk belajar dan mengembangkan diri. Sudah semestinya BEM membuat suatu acara yang memiliki program pengkajian, bukan acara tontonan belaka.

Program kerja yang memang memberikan jawaban terhadap isu-isu yang diangkat, bukan malah menjadikan isu-isu itu sebagai pembenaran untuk diadakannya acara hiburan semata. Ingin mengadakan acara seni budaya, pahamilah terlebih dahulu apa seni budaya itu dengan melakukan berbagai diskusi dan riset mendalam serta pengejawantahan usaha pengkajian itu dalam sebuah acara yang memang berisi.

Lalu selanjutnya lakukan pengarsipan dan dokumentasi yang baik, yang nantinya memang bisa menjadi bahan koreksi, bahan bahasan, bahan kajian selanjutnya. Begitu juga dengan acara-acara dan kegiatan lainnya. Lakukan kegiatan dengan wacana yang memang memberangkatkan kita semua (mahasiswa) kepada pemahaman tentang isu yang ada. Visi dan misi pencerdasan tidak boleh berhenti atau selesai pada hari H acara dilaksanakan, tetapi mesti ada aksi lanjutan untuk mencampai kesempurnaan tujuan.

Mengulas tentang kedua lembaga tertinggi kampus ini mungkin terlalu lancang kalau misalnya mengatakan bahwa semua kegiatannya tidak memberikan edukasi. Karena pada kenyataannya, ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh BEM yang memang bertujuan memberikan edukasi atau usaha ‘pertolongan’ bagi masyarakat.

Contohnya seperti kepedulian terhadap situasi pandemi covid-19, korban yang terdampak musibah, dan sebagainya. Akan tetapi, lagi-lagi berhadapan pada kenyataan bahwa aksi-aksi seperti itu stuck dan berhenti di saat itu saja tidak ada buah yang bisa dihasilkan dalam kegiatan yang diselenggarakannya. Semisal kegiatan-kegiatan seminar yang dilakukan, mungkin ini menjadi argumen simpanan bagi pihak yang dituding untuk membela diri.

Sekarang yang perlu dipertanyakan “apakah setiap seminar yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa di kampus kita ini memiliki arsip tulisan (notulensi) pembahasan yang dilakukan dalam tulisan?” Jika ada, “apakah kesimpulan dari seminar itu telah dilakukan atau direalisasikan dalam kehidupan?” Kalau iya, “apakah telah dilakukan pengkajian mendalam atau riset lanjutan untuk menemukan permasalahan-permasalahan baru atau solusi konkret terhadap isu-isu yang dikaji tersebut?”

Kalau boleh menebak dengan arogan, paling-paling hanya menulis di notebook penerbitan buletin yang isinya hanya berupa pressrelase kegiatan atau sedikit tulisan artikel yang mendalam, atau lebih parah hanya rencana untuk turun ke jalan.

Apakah ada karya ilmiah atau karya akademis dari mahasiswa sendiri yang membahas tentang kegiatan-kegiatan seminar yang dilaksankaan itu beserta pembahasan isu-isunya? Sudah berapa banyak buku atau dokumentasi yang telah dihasilkan oleh para aktivis kita sekarang ini, yang terlibat dalam berbagai pelaksanaan kegiatan terkait dengan program kegiatan beserta isu-isunya? Paling-paling hanya blog atau website, yang jika dibuka hanya berisikan informasi jadwal sebagai bentuk usaha publikasi. Bukan sebagai usaha penyebaran informasi melalui media dengan tujuan kepentingan pendidikan (edukasi). 

Pengamatan yang intens dari penulis sebagai masyarakat umum kampus terhadap kinerja BEM dan DPM, tak ada salahnya pula bahwa penjabaran paragraf di atas bisa kita letakkan sebagai hipotesa awal, paling tidak sebagai warning bagi kita semuanya (termasuk penulis sendiri) bahwa aksi-aksi dari mahasiswa kita pada masa sekarang ini sedang berada di dalam kebuntuan (Buta Narasi). Mengapa penulis berhipotesa demikian? Ya, memang pada kenyataannya bahwa setiap kegiatan atau program yang dilaksanakan, umumnya hanya sekadar menjadi suatu aksi ‘puncak’.

Penulis jelaskan lebih lanjut bahwa hari H atau waktu pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut seolah menjadi puncak gunung besar, puncak dari semua rencana yang telah disusun dalam program kerja, yang tidak ada kelanjutannya ketika acara itu selesai dilaksanakan.

Sekali lagi penulis tegaskan: acara atau kegiatan hanya sebagai puncak dari proses penyusunan rencana dalam program kerja (atau bahkan mungkin tidak ada di dalam proker, melainkan hanya berupa puncak dari proses penyusunan acara di dalam kepanitiaan yang telah dibentuk).

Tidak ada proses pemahaman tentang ‘seberapa penting’ sebuah kegiatan atau acara yang diadakan. Tidak ada proses pengkajian dan pendalaman materi terkait substansi dari kegiatan, yang kemudian menyebabkan pelaksanaan hari H-nya itu tidak memberikan kepuasan kepada kelompok-kelompok yang hobi mengkritik (orang-orang iseng, seperti penulis sendiri).

Proses-proses ini semestinya dilakukan di awal, juga di akhir. Dan karena proses awal yang buruk itu, berakibat kepada tidak adanya keberlanjutan atau aksi susulan dari kegiatan yang telah dilakukan. Seminar dan diskusi hanya sekadar menjadi kegiatan diskusi sesaat ketika diskusi itu dilaksanakan.

Yang lebih mengherankan adalah hingga sekarang belum ada gebrakan yang dilakukan oleh dua lembaga tertinggi ini, DPM yang semestinya menjadi mitra oposisi eksekutif malah stuck dalam peniadaan rasionalisasi jika beracu kepada Negara yaitu lembaga eksekutif tidak boleh menjalankan agenda atau program kerja sebelum melakukan temu upaya merasionalisasikannya kepada legislatif.

Penulis menebak pasti dalam agenda akhir BEM adalah diadakannya kegiatan berupa ‘pesta’. ‘Pesta’ ini sebagai bentuk perayaan berakhirnya masa aktif anggota-anggota BEM, dan dengan bangga pula menyatakan telah melakukan sesuatu yang berarti, padahal sesuatu yang dikatakan berarti itu hanyalah berupa kegiatan-kegiatan tanpa konsep, yang diadakan dalam bentuk tontonan dan acara hiburan semata.

Sebelum penulis mengakhir tulisan cinta ini, izinkan penulis bersaksi bahwa tulisan ini semata-mata rasa cinta dan sayang kepada seluruh mahasiswa Universitas Mataram dan sebagai bentuk pengejawantahan nilai tridarma perguruan tinggi dalam diri penulis. (*)

 

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mataram.

Tahun Ini Formadiksi Unram adakan Timdiksi secara Offline

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Tahun ini Forum Mahasiswa Bidikmisi (Formadiksi) Universitas Mataram (Unram) kembali mengadakan acara Temu Ilmiah Mahasiswa Bidikmisi (Timdiksi) Nasional. Tahun lalu, Timdiksi diselenggarakan secara online karena masih merebaknya virus Covid-19. Namun, tahun ini Formadiksi optimis mengadakan Timdiksi secara offline.

Timdiksi ini merupakan pertemuan mahasiswa bidikmisi seluruh Indonesia yang disertai dengan berbagai rangkaian lomba, diantaranya lomba menulis opini, karya ilmiah dan kisah inspiratif.

Hafiz selaku ketua panitia menyampaikan, “Alasan utama kami memberanikan diri melaksanakan secara offline adalah karena esensi dari Timdiksi ini sendiri. Pada Timdiksi inilah semua Mahasiswa Bidikmisi seluruh Indonesia berkumpul menjadi satu,” ujarnya.

Adapun tema yang diusung Timdiksi tahun ini adalah Dedikasi Mahasiswa Bidikmisi Melalui Karya Cipta Menginspirasi.

“Tema ini kami angkat sebagai perwujudan dedikasi mahasiswa bidikmisi/KIP L melalui berbagai karya yang menginspirasi,” ungkap Dita selaku koordinator Timdiksi.

Selain lomba, dalam rangkaian acara Timdiksi ini juga diadakan gelaran budaya dan seminar nasional yang terfokus pada pengenalan dan pengembangan potensi lokal khususnya NTB. Rencanaya dalam gelaran budaya NTB nanti akan dihadirkan UMKM-UMKM yang bergerak dalam produksi produk lokal, ini sebagai salah satu upaya pengenalan kekayaan budaya NTB.

“Tentunya untuk bisa merealisasikan ini perlu adanya kerjasama dengan Dinas perdagangan dan beberapa instansi-instansi atau komunitas lain,” sambung Dita.

Selain itu akan ada acara talkshow inspiratif yang nantinya mengundang mahasiswa bidikmisi, serta acara penganugerahan dengan tujuan untuk menunjukan bahwa Mahasiswa Bidikmisi juga mempunyai prestasi yang tak kalah dengan mahasiswa lain.

Sebagai bentuk kepedulian mahasiswa bidikmisi kepada alam, maka akan dilakukan juga penanaman pohon yang akan menjadi satu rangkaian acara nantinya dengan field trip. (san)

Para calon peserta bisa mendaftarkan diri melalui link: https://formadiksi.unram.ac.id/ Semua persyaratan dan panduan sudah tertera pada link.

Unram Adakan Kuliah Umum, Agusdin: Konsumen Harus Kritis Terhadap Iklan

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Universitas Mataram adakan kuliah umum mengenai edukasi perlindungan konsumen dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN-RI), pada Kamis, 8 April 2021 di Ruang Sidang Senat Rektorat Universitas Mataram.

Berpedoman pada protokol kesehatan yang berlaku, kegiatan ini hanya dapat dihadiri oleh 20 peserta yang merupakan delegasi dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Universitas Mataram, dan dilaksanakan secara online melalui Zoom Meeting bagi mahasiswa yang lain.

Mengusung tema “Perlindungan Konsumen Menuju Indonesia Tangguh”, kuliah umum ini melibatkan dua pemateri. Pemateri pertama yakni Heru Sutadi S.T., M. Ikom, pemateri kedua yakni Dr. N.G.N Renti Maharani Kerti, SH., M.H. Yang tidak lain berasal dari BPKN itu sendiri.

Ketua Komisi dan Edukasi BPKN, Ir. Johan Efendi, M. Si dalam sambutannya menjelaskan bahwa BPKN merupakan salah satu lembaga negara yang ada dalam UU Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

“Badan ini merupakan sebuah lembaga negara yang diberi tugas untuk memberi perlindungan terhadap konsumen yang ada di Indonesia,” terangnya.

“Fungsi utama BPKN ialah memberikan masukan dalam bentuk dokumentasi dalam hal pembuatan kebijakan terkait perlindungan konsumen kepada pemerintahan,” lanjutnya.

Mewakili Rektor Unram, kuliah umum ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Agusdin. Dalam sambutannya Ia mengimbau kepada konsumen agar tetap teliti dan berbelanja sesuai kebutuhan. 

“Sebagai konsumen kita harus waspada, kritis terhadap iklan, teliti sebelum memilih, dan belanja sesuai kebutuhan,” tuturnya.

Ia juga berharap dengan adanya kuliah umum ini mampu memberi manfaat bagi mahasiswa. (adk)

Kecelakaan Beruntun, Seorang Kernet Truk Fuso Tewas

0
Kecelakaan truk Fuso secara beruntun di Desa Jurang Jaler, Kec. Praya Tengah, Kab. Loteng, Senin (22/03/2021). (Foto: ist)

Praya, MEDIAUnram.com– Kecelakaan beruntun terjadi di jalan Raya Desa Jurang Jaler, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Senin (22/03/2021) sekitar pukul 16.00 Wita, mengakibatkan seorang kernet truk Fuso tewas.

Kecelakaan tersebut melibatkan lima kendaraan, diantaranya tiga truk Fuso berjenis tronton; bernomor polisi L 9930 UX (Heru Purwantoro), EA 8738 A (Dedi Haryadi),  dan B 9625 UEI (Yoyo Purwito). Selain itu, mobil Xenia DR 1227 SA  (Ardian Sukamardani) dan sebuah sepeda motor Yamaha N-Max  (Santi Mumbasari).

Peristiwa kecelakaan terjadi saat dua kendaraan truk Fuso berjenis tronton bermuatan alat berat sedang dalam keadaan berhenti di sisi jalan karena salah satu dari dua kendaraan tersebut mengalami ban pecah. Kemudian, sebuah kendaraan truk Fuso EA 8738 A melaju kencang dari arah belakang dan langsung menabrak truk Fuso.

Diketahui, salah seorang korban, Wawan (39) yang berasal dari Nganjuk Jawa Timur (Jatim) saat itu tengah berada di bawah kolong truk memperbaiki ban yang pecah. Akibatnya, pria tersebut terlindas dan meninggal di tempat.

Truk Fuso saat menabrak truk Fuso lainnya hingga menewaskan salah seorang kernet. (Foto: ist)

Kasat Lantas Polres Lombok Tengah AKP Donny Setiawan, SIK membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. “Iya, benar. Wawan (39) kernet truk Fuso meninggal di tempat karena kecelakaan itu,” tuturnya, Senin (22/03/2021).

Ia mengatakan, dugaan sementara truk Fuso dengan nomor kendaraan  EA 8738 A yang dikendarai Dedi Haryadi warga Desa Baru Talan, Kecamatan Moyo, Kabupaten Sumbawa Besar mengalami rem blong.

Tak hanya itu, laju truk Fuso yang dikemudikan oleh Dedi Haryadi (30) tersebut, nampaknya masih belum bisa dikendalikan hingga menyebabkan truk Fuso itu kembali menabrak dua kendaraan lainnya, yakni sebuah Mobil Xenia dan sepeda motor Yamaha N-Max. “Pada saat itu sedang dalam keadaan berhenti untuk menuju ke arah Utara dan berada di jalur sebelah kanan jalan,” lanjut Donny.

Korban meninggal dunia dan luka luka lainnya akibat kecelakaan beruntun tersebut langsung dilarikan menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya untuk segera mendapat tindakan lebih lanjut. Dikabarkan, kerugian yang dialami dalam kecelakaan tersebut mencapai Rp 400 juta.

“Sekarang, kasus sedang dalam penanganan Laka Lantas Polres Loteng. Para saksi kejadian dan masing-masing pemilik kendaraan masih sedang dalam proses pemeriksaan,” ujar Kasat Lantas Polres Loteng tersebut. (qry)