21.5 C
Mataram
Thursday, May 28, 2026
spot_img
Home Blog Page 75

Setelah Sekian Lama Tidak Dilaksanakan, MEDIA Unram Kembali Adakan LJTL

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Setelah sekian lama tidak dilaksanakan, Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) MEDIA Unram kembali adakan Latihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (LJTL).

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gedung PKM Unram ini mengangkat tema “Mengembangkan Jiwa Kritis Pers Melalui Kepenulisan”.

Ketua panitia Ajiburrahman menjelaskan, LJTL merupakan lanjutan dari Latihan Jurnalistik Tingkat Dasar (LJTD) yang sebelumnya diadakan pada 16 hingga 18 Oktober 2020.

Dia berharap, kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh anggota. “Untuk meningkatkan kemampuan menulis,” kata pria yang akrab disapa Aji dalam sambutannya, Sabtu (19/06/2021).

Menurut Aji, bagi seorang jurnalis, kata dan tulisan merupakan senjata. Oleh karena itu, ketajaman dan kualitas tulisan harus ditingkatkan.

“Karena itu merupakan senjata untuk meruntuhkan dan melawan kezaliman,” lanjutnya.

Rencananya, kata Aji, kegiatan ini akan dilaksanakan selama dua hari kegiatan indoor 19 hingga 20 Juni. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan outdoor.

Kegiatan tersebut  resmi dibuka oleh Pemimpin Umum UKPKM MEDIA Unram, AA Istri Adeka Saputri. Mahasiswi Fakultas Hukum ini mengatakan, kegiatan LJTL ini merupakan agenda yang dikhususkan untuk anggota UKPKM MEDIA saja.

“Mengingat sudah tiga tahun lamanya kegiatan LJTL ini tidak dilaksanakan, bisa dikatakan tahun ini merupakan pertama kali UKPKM MEDIA Unram mengadakan LJTL,” kata wanita kelahiran Empang, Sumbawa ini.

Lebih jauh dia mengatakan, tujuan dari kegiatan LJTL ini merupakan salah satu cara memperdalam kemampuan menulis, berpikir dan memperkuat sifat utama jurnalis yakni independen.

Menurut pengamatan penulis, dalam acara tersebut turut hadir beberapa Ketua UKM dan LPM se-Kota Mataram. Kemudian, usai melakukan pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian materi oleh Abdul Latief Apriaman, S.I. Kom dan Fitri Rachmawati, S.Sos.(M)

BSO Dianggap Membuat Kinerja BEM dan DPM Fakultas “Pincang”

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Badan Semi Otonom (BSO) Garda Biru dapat menyebabkan fungsi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di setiap fakultas terganggu.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua DPM Unram 2021 Azis Meinudin. “BSO Garda Biru bisa menyebabkan fungsi DPM Fakultas dan BEM di fakultas pincang,” katanya kepada awak media melalui WhatsApp, Minggu (13/06/2021) malam.

Aziz Meinudin, Ketua DPM Unram Terpilih. (Foto: ist)

Menurut Azis, secara prosedur, GBHPKO BEM dan fungsi pokoknya, BSO Garda Biru ini perlu dirasionalisasikan terlebih dahulu dengan DPM Unram, karena bertolak belakang dengan BEM Unram dan DPM Unram.

Azis menjelaskan, sebelumnya, Jumat (11/06/2021), DPM mengundang BEM untuk membahas rasionalisasi BSO Garda Biru. “Namun, pihak BEM tidak mengindahkan undangan diskusi tersebut dengan alasan sedang melaksanakan agenda internalnya,” ungkap pria Prodi Sosiologi semester 6 ini.

Sementara, Ketua BEM Yusril Ashfahani mengatakan, BSO Garda Biru bukanlah program kerja dari BEM. Menurutnya, BSO Garda Biru tidak perlu untuk dirasionalisasikan.

“Yang perlu dirasionalisasikan hanya Program Kerja BEM yang menggunakan anggaran dari kampus, sedangkan BSO ini bukan merupakan program kerja,” ucapnya saat dikonfirmasi tim MEDIA Unram.

Yusril juga mengatakan, BSO seperti Forum Sosial Masyarakat se-Unram dan Forum Perempuan se-Unram yang tidak dipermasalahkan.

“Kami buat BSO Forum Sosmas se-Unram, Forum Perempuan se-Unram kenapa bapak-bapak dewan diam? Mengapa BSO Garda Biru yang nyata gerakannya untuk mengakomodir semua mahasiswa dipermasalahkan. Ini merupakan Grand Design dari Kementerian BEM Unram,” bebernya.

Seperti yang diketahui, disosialisasikan melalui Diskusi Akbar (13/6) yang mengangkat tema “Sejarah dan Kemenangan Garda Biru di Unram.”

BSO Garda Biru merupakan lembaga memfasilitasi  dan mengakomodir seluruh gerakan mahasiswa Unram, terkait berbagai permasalahan. (dik/adk)

Rayakan Ulang Tahun ke-13, FARM’S COMMUNITY Tampilkan Berbagai Karya Anggota Baru

0

MEDIAUnram.com – Organisasi Seni Fakultas Peternakan atau yang lebih dikenal dengan FARM’S COMMUNITY rayakan ulang tahun ke-13. Acara ini diselenggarakan di lapangan voli Faterna dengan nuansa outdoor pada Sabtu (29/05/2021).

Acara yang dimulai pukul 19:00 WITA ini mengangkat tema “Merangkai Langkah Baru Dalam Waktu Yang Terus Melaju”, acara ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi para anggota baru untuk menampilkan apa yang sudah mereka pelajari dari awal.

“Karena di acara ini semua anggota baru diwajibkan menampilkan karya mereka, baik berupa musik, tari maupun teater,” Ungkap Adi, Ketua Umum FARM’S COMMUNITY kepada awak MEDIA Unram.

Pembina FARM’S COMMUNITY, Riyan Aryadin dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa setiap kegiatan yang diadakan harus berdampak pada peningkatan softskill dari para anggota, baik anggota baru maupun anggota lama.

Acara ini juga turut dihadiri oleh perwakilan dari setiap organisasi kesenian yang ada di Unram, perwakilan ormawa internal Fakultas Peternakan dan perwakilan setiap organisasi kesenian semua Universitas yang ada di Mataram.

Berakhir sekitar pukul 22:10 WITA, acara ini sukses menampilkan berbagai karya anggota baru, band dari FARM’S COMMUNITY W-Project dan band lokal Last One ft. Baiq Fira.

Di akhir pembicaraannya, Adi berharap semoga dengan adanya acara ini dapat menambah kesolidan antara sesama anggota UKM Kesenian di semua Universitas yang ada d Mataram.

“Dan yang paling utama, saya berharap acara ini dapat menambah semangat para anggota FARM’S COMMUNITY untuk tetap berkarya di dunia seni,” tutupnya. (Lnf)

IKA Unram Tidak Boleh Dijadikan Alat Politik

0

Mataram, MEDIAUnram.com – Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Mataram (Unram) tidak boleh dijadikan sebagai alat politik, kepentingan pribadi maupun kelompok.

Hal itu diungkapkan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Yusril Ashfahani dalam kegiatan Munas IKA ke-IV yang digelar di Hotel Same. Dia menegaskan, calon PP IKA periode 2021-2024 harus bersikap jujur, transparan dan akuntable.

Suasana interupsi yang sempat dihadang oleh ketua panitia dan Wakil Rektor (WR) III. (Foto: ist.) 

“Mendukung penuh program kemahasiswaan dan Unram secara umum,” katanya.

Kemudian, lanjut pria yang akrab disapa Yusril itu, IKA Unram diharapkan mampu membuka jaringan seluas-luasnya, agar alumni mendapatkan lapangan pekerjaan.

“Juga membuka peluang beasiswa bagi mahasiswa Unram. Baik yang menempuh jenjang S1 maupun S2,” lanjutnya.

Pada akhir pembicaranya, Ketua BEM berharap, calon PP IKA mampu menjaga nama baik institusi Unram. “Dengan tidak melakukan perbuatan tercela, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme,” tegasnya.

Sebelumnya, interupsi tersebut sempat dihadang oleh ketua panitia dan Wakil Rektor (WR) III. Namun dengan diskusi yang baik, pihak BEM Unram diberikan kesempatan menyampaikan aspirasi.

Informasi,  Munas IKA kali ini diadakan selama dua hari, yakni 29-30 Mei. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Rektor Unram, WR III, dan beberapa tamu undangan. (M)

 

Keren, Pantai Elak-elak Tetap Ramai Dikunjungi

0

MEDIAUnram.com – Sempat ditutup pada hari raya Idul Fitri lalu, kini Pantai Elak-Elak ramai dikunjungi usai dibuka pada Selasa  (25/05/2021).

Meski hampir dua minggu pasca lebaran, pantai yang berada di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat tetap menjadi pilihan banyak orang untuk berakhir pekan. 

Rabu (26/05/2021), anggota MEDIA berkesempatan mengunjungi salah satu destinasi wisata yang terkenal di Pulau Seribu Masjid ini. Di sana sangat cocok dijadikan tujuan piknik bersama keluarga, karena suasana pantai yang sejuk ditambah pemandangan indah.

Penjaga pantai, Mutiadi menjelaskan, para pengunjung tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar saja, namun dari berbagai daerah yang ada di Pulau Lombok.

“Biasanya pengunjung berasal dari Mataram, Praya, KLU, dan daerah lain di Lombok,” katanya. 

Pantai yang menjadi salah satu tempat wisata populer di Sekotong ini, lanjut Mutiadi, merupakan tempat wisata dengan lahan pribadi.

“Pantai ini dikembangkan bersama oleh pengelola, Tokoh-tokoh setempat, serta masyarakat sekitar pantai,” ungkapnya. 

Untuk memasuki wilayah ini, para pengunjung tidak dipungut biaya masuk dan parkir. Cukup membayar seikhlasnya. 

“Kami tidak menentukan tarif masuk pengunjung, pengunjung bayar berapa pun tetap kami terima karena tidak mau memaksakan,” lanjut Mutiadi. 

Kemudian hasilnya digunakan untuk membangun berbagai fasilitas umum demi menunjang kenyaman pengunjung.

“Dari uang parkir itulah kami kembangkan fasilitas di sini sedikit demi sedikit, bangun tempat salat, setelah itu toilet, dan seterusnya,” jelasnya.

Selain berbagai fasilitas tersebut, pantai ini juga menyediakan jasa sewa tikar seharga Rp 5.000 per tikar, sewa perahu dengan kisaran harga Rp 200.000. Tidak hanya itu, di sana juga menyediakan berbagai spot foto yang menarik. (adk)

Membalas dan Dibalas

0

Bersama dedaunan yang mulai berguguran, juga angin sore hari yang menyejukkan. Kamu dan aku menengadah menatap langit yang perlahan membara begitu indah.

“Kamu tahu ….”

“Engga,” jawabku polos.

Kamu tersenyum, gemas. Sepertinya itu sebuah awal dari topik yang akan kau buka di sore ini, bukan pertanyaan. Maafkan kebodohanku. Kamu menghela nafas dan berkata, “Aku menyukai saat pohon-pohon di danau ini berguguran. Rasanya tenang dan beban yang seharian dipikul seakan luruh bersamaan dengan daun yang gugur itu.”

Aku diam, mencoba menelisik bola mata coklat di wajahmu yang sedang menerawang itu. Terbuat dari apa sebenarnya kamu? Hingga, hanya dengan bernafas saja aku sudah jatuh dalam sekali. Kamu menatap balik tepat pada mataku yang menatapmu juga.

“Coba kamu nikmatin udara ini, tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan,” Instruksimu seperti pelatih yoga.

Aku mengikuti dan rasanya menenangkan, sangat. Sebelum gadis berambut sebahu itu mendekat ke arah tempat kita duduk. Ah, tempatmu duduk tepatnya. Sekilas, aku lihat matamu berkilat indah. Seakan benar-benar kagum dengan apa yang kau pandang kini. Ya, gadis itu. Yang merebutmu dariku. Ah tidak, kamu memang bukan milikku sejak awal bukan?

“Hei, mau naik perahu keliling danau?” tanyanya.

Kamu tersenyum dan langsung bangkit. Menggandeng gadismu menjauh dan melupakan aku yang terlihat menyedihkan ini.

“Kau tak mau ikut?” tanya gadis berambut sebahu itu, kepadaku.

Oh, Tuhan. Dia memang benar-benar cantik dan begitu baik. Seperti malaikat. Tapi, kembali melihat tatapan memujamu untuknya. Aku ingin menghilangkannya saja.

“Gimana?” tawarnya lagi.

Aku tersenyum, setidaknya masih bersamamu kan? Meski gadis itu bersama kita. Menurutku, bersamamu dan melihatmu tertawa meski bukan untukku itu tak apa. Asal bersamamu.

“Engga perlu,” bukan aku, tapi kamu yang menjawabnya. Aku tersenyum kaku, ingin membantah sebelum kamu menambahkan, “dia udah ada janji katanya,” bohong.

Aku makin tersenyum, apa senyumku kurang miris untuk memberitahukan kalau aku kecewa? Iya kecewa yang seharusnya tidak boleh ada. Aku bukan siapa-siapa yang harus melarang kamu. Aku menganggap itu sebuah pengusiran secara halus.

“Pergi dulu,” anggukku dengan mata nanar.

Terus menjauh kakiku dari tempat kita duduk tadi, mungkin kamu sudah berlayar di perahu kecilmu bersama gadis yang merenggut hatimu itu. Aku tersenyum lagi. Bukankah tingkat kecewa tertinggi adalah tersenyum saat air matamu jatuh? Iya, aku melakukannya.

“Kamu menangis untuknya lagi?”

Itu, orang yang aku harap bisa aku balas perasaannya dibanding patah hati terus-menerus denganmu. Tapi tak bisa. Aku tersenyum melihatnya duduk di sebelahku. Menempelkan minuman dingin pada pipiku yang sebenarnya sudah beku karena angin sore ini yang menusuk tubuhku telak. Aku mengangguk untuk pertanyaannya barusan.

“Kenapa tidak membalas perasaanku saja? Saling mengasihi, bahagia. Happy ending,” celotehnya, aku tertawa.

“Kamu tahu, kisah itu ga punya yang namanya happy ending. Karena yang namanya bertemu pasti akan berpisah,” beberku sembari membuka kaleng minuman dan menenggaknya.

“Tapi, seenggaknya kita bakal dipisahin sama kematian. Bukan perasaan yang ga berbalas,” sindirnya telak.

Aku tertawa, lebih pada tertawa miris pada kehidupan yang aku bingung maunya apa. Aku tak pernah benar dalam menebak kehidupanku sendiri. Diriku yang tak beruntung.

“Memang begitu, dunia betul-betul jahat. Ga ngizinin aku balas perasaan kamu, tapi semesta juga ogah bekerja agar perasaanku dibalas,” kataku menerawang angin.

Sore yang dingin, dengan perasaan yang dingin pula. Tak mau jika tidak dihangatkan kamu.

Sore hari, 2021

Catatan 23 Tahun Pasca Reformasi

0

Dua puluh tiga tahun lalu, tepatnya tanggal 21 Mei 1998 adalah momentum bersejarah dalam perjalanan Demokrasi Indonesia. Gerakan yang dilakukan oleh Mahasiswa yang tumpah ruah di jalanan dalam rangka menumbangakan Rezim Soeharto yang telah berkuasa kurang lebih selama 32 tahun. Selama 32 tahun tersebut rakyat berada dalam kondisi keterkungkungan dibawah tekanan pemerintahan otoriter. 

Kondisi tersebut menyebabkan rakyat menuntut adanya keterbukaan dan kebebasan serta terjadinya proses desentralisasi kekuasaan yakni dari pusat ke daerah. Hal itu mendorong semangat rakyat Indonesia untuk melakukan proses transformasi secara politik atau lebih dikenal dengan reformasi.

Kini, pasca 23 tahun gerakan reformasi memunculkan beberapa pertanyaan dasar yang perlu kita jawab bersama hari ini yaitu: Apakah reformasi yang telah kita perjuangkan itu sudah sesuai dengan kehendak dan cita-cita kita bersama sesuai amanah Undang-Undang Dasar 45? Ataukah gerakan reformasi tersebut telah menghasilkan sesuatu yang tidak jauh berbeda dari masa Orde Baru? Ataukah justru sebaliknya Orde Baru yang sudah kita runtuhkan lebih mampu mewujudkan kehendak rakyat? Oleh karena itu barometer keberhasilan cita-cita reformasi bisa kita tinjau dari tiga aspek penting yaitu; Ekonomi, Politik, dan Sosial. 

Pada masa Orde Baru terjadinya kesenjangan Ekonomi, aset dan kekayaan hanya dimiliki oleh sekelompok orang yaitu para pemodal (konglomerat) sementara itu tingkat kemiskinan masih tinggi di tengah masyarakat. 

Selanjutnya masuknya Indonesia kedalam sistem Ekonomi global yang kita sebut sebagai Ekonomi Neoliberal, kedekatan Soeharto dengan Negara-Negara Barat dibuktikan dengan terbentuknya Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI). Grup tersebut dibentuk untuk memberikan bantuan kepada Indonesia yang tengah melakukan stabilisasi, membuat kebijakan ekonomi yang pada masa itu identik dengan kebijakan-kebijakan Neoliberal. Diantaranya seperti privatisasi aset nasional, sistem perdagangan bebas, dibukanya keran investasi bagi asing dan lain sebagainya. 

Hal tersebut telah berdampak bagi perekonomian Indonesia mengalami suatu kondisi ketidakpastian dan sangat rentan dipengaruhi dengan kondisi perekonomian global. Hal ini dapat dibuktikan ketika terjadinya krisis finansial Regional Asia yang berdampak terhadap Ekonomi Indonesia sebagai penyebab terjadinya krisis Ekonomi 1998 . 

Pasca reformasi kondisi Ekonomi tampaknya tidak jauh berbeda dengan kondisi di masa Orde Baru, Hal tersebut bisa kita lihat dari beberapa indikator yaitu:

  1. Tingkat ketimpangan Ekonomi yang tidak jauh lebih baik dari masa Orde Baru. Masa Orde Baru tingkat pertumbuhan Ekonomi di tahun 1980 hingga 1996 di level 7,03 persen sementara pertumbuhan Ekonomi sejak era reformasi selalu di bawah angka 6,0 persen. Sedangkan tingkat gini ratio (ketimpangan) dari tahun 1980-1996 rata-rata adalah 0,32-0,35, data terakhir sebelum pandemi Covid 19 di pemerintahan Jokowi tingkat gini ratio 0,380. Artinya selain tingkat pertumbuhan Ekonomi yang tinggi pada masa Orde Baru tingkat rasio gini (ketimpangan) masih lebih rendah daripada tingkat gini ratio di era reformasi.(Sumber BPS).
  2. Aset-aset nasional yang belum mampu dikelola oleh anak bangsa yang akhirnya mendorong pemerintah untuk membuka keran investasi dan bahkan mengundang perusahaan multinasional untuk mengelola sumber daya Ekonomi Indonesia. Alih-alih mewujudkan kemandirian Ekonomi, justru hal tersebut yang kemudian membuat Indonesia terjebak dalam kondisi ketergantungan Ekonomi. 

Kekuatan pemodal memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi sehingga berdampak pada ketidakmerataan dan ketidakadilan pembangunan Ekonomi. Data terakhir yang dirilis oleh The Interpreter media asal Australia menyebutkan bahwa, Kekayaan 4 orang terkaya Indonesia setara 100 juta penduduk. Hal ini kemudian memasukkan Indonesia kedalam negara dengan tingkat ketimpangan ekonomi yang tinggi. Semangat reformasi untuk mensejahterakan rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945 dan Pancasila belum direpresentasikan terlihat dari kondisi ekonomi di masa pasca reformasi sampai hari ini.

Dalam bidang Politik, gerakan reformasi yang ditandai dengan proses demokratisasi dalam sistem pemerintahan serta perkembangan proses demokrasi yang bersamaan dengan globalisasi Ekonomi. Yang kemudian di barengi dengan berkembangnya ideologi liberalisme yang membuat kekuatan kapital atau modal menjadi kekuatan paling penting dalam segala aspek, inilah yang kemudian disebut oleh tokoh barat Joe Klien sebagai ‘Demokrasi Korporasi’. 

Eksistensi dari demokrasi korporasi di Indonesia sendiri dapat kita lihat dari kebijakan-kebijakan yang ambil oleh penguasa lebih mengakomodasi para pemodal daripada kepentingan rakyat secara umum, dikeluarkannya UU Omnibuslaw belum lama ini nampaknya menjadi bukti nyata kekuatan pemodal dalam mempengaruhi proses pengambilan kebijakan. 

Selain itu, Partai politik sebagai Infrastruktur politik, sebagian besar partai politik di Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir elit yang tentunya memiliki modal kapital dan sosial yang kuat, jadi tidak heran jika dalam hal usung mengusung calon pemimpin seperti kepala daerah, partai politik cenderung mengistimewakan figur-figur yang dinilai memiliki modal kapital membuat proses kaderisasi di tubuh partai politik tidak berjalan semestinya. Pendidikan politik yang menjadi salah satu fungsi dari partai politik hanya diringkas ke dalam kampanye-kampanye yang gegap gempita yang sama sekali tidak mencerahkan bahkan partai politik hanya menjadikan rakyat menjadi objek politik lima tahunan.

 Macetnya proses kaderisasi di partai politik membuat partai politik hanya mengeluarkan kader kader karbitan yang tidak mempunyai kompetensi sehingga berdampak pada krisis representasi pada lembaga-lembaga pemerintahan seperti DPR, bahkan lembaga-lembaga yang sebenarnya akan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat justru menjadi lahan subur praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Hal tersebut berdampak kepada buruknya tata kelola pemerintahan. 

Dalam bidang Sosial. Kekuatan modal Sosial yang sejak dulu menjadi ciri khas dan kekuatan bangsa Indonesia sudah tereduksi dalam kehidupan Sosial bangsa Indonesia, dipacu oleh beberapa faktor yaitu pola pikir materialisme mengacaukan komitmen sosial sehingga berdampak kepada sistem nilai yang bertumpu pada pragmatisme. 

Sistem nilai seperti gotong royong, saling menghormati, kesopanan, silaturahim menjadi hal langka di tengah masyarakat akibat persaingan Ekonomi Politik dan Ekonomi. Selain itu ketimpangan Ekonomi berdampak pula kepada kohesi sosial masyarakat.

 Fenomena-fenomena keterbelahan yang terjadi ditengah masyarakat pasca era reformasi ini bisa kita lihat dari setiap perhelatan pemilu yang seharusnya menjadi momen pesta rakyat malah menjadi penyebab perpecahan yang tidak berkesudahan. Beragam isu yang menimbulkan reaksi masyarakat ke dalam kubu pro dan kontra secara massif terjadi, munculnya istilah-istilah perpecahan seperti Cebong-Kampret di Pilpres 2019 dan gejala-gejala disintegrasi lainnya semakin menguat di tengah masyarakat sejak awal era reformasi 1998.

Kondisi Sosial Politik Ekonomi pasca 23 tahun reformasi nampaknya belum mencerminkan suatu proses dari upaya perwujudan nilai dan cita-cita kita sebagai bangsa. Semangat reformasi dalam setiap bidang kehidupan berbangsa dan bernegara belum termanifestasikan secara baik. 

Di bidang Ekonomi, terjadinya ketimpangan Ekonomi, kekayaan yang hanya dikuasai oleh segelintir orang, masih tingginya angka kemiskinan, belum terwujudnya kemandirian Ekonomi menjadi sekelumit permasalahan dibidang Ekonomi. Di bidang Politik, menguatnya kekuatan kapital atau modal yang kemudian dalam praktiknya membentuk suatu proses Demokrasi Korporasi yang hanya mengakomodir kepentingan para pemodal, partai politik yang idealnya menjadi infrastruktur politik untuk menghasilkan calon pemimpin dan wakil rakyat yang berkompeten justru hanya menghasilkan kader-kader karbitan yang miskin akan pengalaman di bidang politik. Hal ini dikarenakan partai politik memberikan karpet merah hanya bagi mereka yang memiliki modal. 

Di bidang sosial, akibat dari menguatnya modal kapital membentuk pola pikir masyarakat yang materialistik yang mengacaukan komitmen sosial sehingga berdampak kepada sistem nilai yang bertumpu pada pragmatisme, serta ketimpangan Ekonomi juga berdampak pada kohesi sosial yang ada hal yang demikian membuat menguatnya potensi keterbelahan ditengah masyarakat. 

Masalah masalah Ekonomi, Politik dan Sosial ini mencerminkan belum terwujudnya semangat dari reformasi kita. Momen 23 tahun reformasi ini sudah seharusnya menjadi bahan refleksi dan evaluasi dari setiap elemen bangsa untuk menjadikan semangat reformasi menjadi aksi nyata dalam setiap proses pembangunan baik secara Ekonomi, Politik dan Sosial. 

Aksi Bela Palestina, Mahasiswa Unram Bakar Bendera Israel

0
Suasana aksi pembakaran bendera Israel. (Foto:Yudi)
Suasana aksi pembakaran bendera Israel. (Foto:Yudi)

MEDIAUnram.com – Puluhan mahasiswa Univesitas Mataram gelar Aksi Solidaritas untuk Palestina pada kamis (20/05/2021). Aksi yang dimulai sekitar pukul 16:40 WITA tersebut diwarnai dengan aksi pembakaran bendera Israel sebagai bentuk pertentangan atas kekejaman Israel terhadap Palestina.

Tragedi yang menimpa Palestina ini dinilai telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Menko Pergerakan Eksternal BEM Unram, Khairul Muamalah menyampaikan bahwa mahasiswa Unram menentang keras segala bentuk kekerasan dan penjajahan yang telah melanggar perikemanusiaan.

“Maka dari itu, hari ini kami para mahasiswa mewakili seluruh masyarakat NTB menyuarakan dan mendorong Gubernur untuk mendesak pemerintah pusat agar segera membantu Palestina ,” tegasnya.

Menteri Sosial Politik (Sospol) BEM Unram, Noly Aditya juga menuntut pemerintah Indonesia agar segera melakukan aksi nyata atas tragedi ini. Karena jika melihat sejarah, Palestina berjasa besar terhadap Indonesia karena merupakan Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ketua BEM Universitas Mataram, Yusril Ashfahani menyuarakan beberapa sikap atas tragedi yang saat ini menimpa Palestina.
1. Mengecam dan mengutuk dengan keras perilaku Israel yang melakukan penjajahan, penindasan, kebiadaban dan kekejaman terhadap Palestina.
2. Mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina.
3. Mendesak pemerintah untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
4. Mendesak pemerintah untuk menjamin keselamatan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Palestina.
5. Mengajak seluruh elemen masyarakat NTB untuk berperan aktif dalam menyerukan kemerdekaan Palestina.
6. Mengajak seluruh elemen masyarakat serta pemerintah NTB untuk memberikan bantuan kepada Palestina, baik dalam bentuk materi maupun doa.

Tak sampai disitu, aksi tersebut juga dilanjutkan dengan penggalangan dana untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Dana yang didapat akan di salurkan ke Palestina melalui lembaga kerjasama yang sudah disepakati BEM Unram.

“Perlu diingat, saudara-saudara kita di Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan materil, tetapi juga do’a,” ungkapnya. (Lnf)

Solidaritas dan Aksi Bersama Untuk Palestina

0

Menurut ahli sosiologi Lowis Cosser, konflik sosial didefinisikan sebagai suatu perjuangan terhadap nilai dan pengakuan terhadap status yang langka, kemudian kekuasaan dan sumber-sumber pertentangan dinetralisir atau dieliminir saingannya. Konflik di Timur Tengah antara Israel-Palestina kembali memanas beberapa minggu belakangan ini. Konflik ini dipicu oleh adanya serangan yang dilakukan Israel terhadap warga sipil Palestina di Masjid Al – Aqsa Yerussalem. Serangan yang dilakukan Israel kemudian dibalas oleh serangan roket dari para pejuang di Jalur Gaza. Tak mau kalah, Israel kembali menyerang melalui serangan udara, ratusan orang termasuk anak-anak tewas serta ribuan warga luka-luka.

Tidak dapat dipungkiri, konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung sejak 1948 ini telah menjadi sorotan di seluruh belahan dunia. Serangan demi serangan yang dilakukan oleh Israel kepada Palestina, membuat sejumlah negara seperti Rusia, Maroko, Turki, Bangladesh turut berduka dan berdoa untuk Palestina. Beberapa negara seperti Indonesia juga merespon dengan berbagai tindakan seperti bahu membahu mengumpulkan bantuan untuk warga Palestina. Ini adalah bukti kepedulian masyarakat Indonesia terhadap warga Negara Palestina, lebih dari pada itu sejarah telah mencatat dahulu bahwa negara yang pertama kali mengakui Negara Indonesia berdaulat adalah Negara Palestina yang kemudian disusul oleh beberapa negara seperti mesir dan lain-lain. Itulah yang menyebabkan hubungan antara Indonesia dan Palestina terus terjalin hingga saat ini.

Dalam disiplin ilmu sosiologi ada yang dikenal dengan teori tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan prilaku yang dilakukan oleh individu dengan mempertimbangkan interpretative atas situasi, interaksi, dan hubungan sosial yang berkaitan dengan preferensi nilai, kepercayaan, kultur, kesepakatan, ide, kebiasaan dan lainnya yang dimiliki oleh individu. Max Wabber selaku tokoh dari teori tindakan sosial, membagi menjadi empat tindakan sosial, diantaranya:

  1. Tindakan rasional biasa juga disebut tindakan instrumental tujuan. Artinya bahwa tindakan sosial yang dilakukan oleh individu dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan yang dipikirkan sebelumnya.
  2. Tindakan berorientasi nilai. Tindakan sosial yang dilakukan mempertimbangkan nilai. Artinya bahwa tindakan yang dilakukannya mempertimbangkan baik buruknya, benar atau wajar dalam masyarakat.
  3. Tindakan afektif. Tindakan sosial ini didasarkan atas keterlekatan emosional. Pertimbangan rasional meliputi perasaan seperti; marah, sedih, cinta, empati, simpati, bahagia, kasihan dan lainnya.
  4. Tindakan tradisional. Tindakan ini menggunakan tradisi, custom atau adat kebiasaan masyarakat.

Berdasarkan penjelasan teori tindakan sosial Max Wabber, maka dapat dianalisa bahwa tindakan yang dilakukan masyarakat dengan turut berduka, berdoa, dan melakukan aksi penggalangan dana untuk Palestina adalah tindakan berorientasi nilai dan tindakan afekif. Masyarakat bertindak dengan mempertimbangkan baik buruknya sehingga tergerak melakukan tindakan tersebut inilah yang disebut tindakan berorientasi nilai. Kemudian masyarakat bertindak pula atas dasar emosional yang dalam hal ini adanya rasa cinta empati, simpati, kasihan terhadap masyarakat Palestina inilah yang disebut dengan tindakan afektif.

Bijak Bermedia Sosial

Informasi atau berita seputar Konflik Israel-Palestina dapat begitu cepat dicari dan ditemui. Namun yang menjadi problematika (masalah) adalah arus informasi yang begitu cepat ditemui ini tak jarang membuat seseorang berhadapan dengan hukum. Mengapa itu bisa terjadi? Karna ketidakmampuannya menggunakan media sosial dengan bijak dan baik. Maka, hendaknya bijaklah bermedia sosial, apabila mendapatkan informasi atau berita lakukanlah beberapa hal: Pertama, periksa terlebih dahulu kebenarannya informasi atau berita yang dishare (sebar), jangan sampai kemudian menimbulkan keresahan di tengah masyarakat karna ternyata berita yang didapat lalu dishare itu adalah hoax (berita bohong); Kedua sampaikan, bagilah berita yang memberikan ketenangan, kenyamanan bagi para pembaca. Jangan kemudian membagi sebuah informasi atau berita yang menimbulkan keresahan di masyarakat.

 

Aksi Nyata untuk Palestina. Tidak Harus Jadi Muslim, Cukup Jadi Manusia

0

Sumbawa- Acap kali rasa penasaran membawa penulis kehadapan televisi akhir-akhir ini setelah mendengar kabar kekejaman Zionis Israil di komplek Masjid Al-Aqsa Jum’at 7 Mei lalu. Sebelum berbicara sebagai seorang manusia yang memiliki hati dan rasa empati, penyerangan ditempat ibadah dan saat menjalankan ibadah sangat menyayat hati umat islam diseluruh dunia. Jikalaupun itu terjadi kepada umat agama lain, saya yakin hal serupa juga akan dirasakan sebagai bentuk solidaritas sesama agama.

 

Tapi kali ini, penulis sering juga menganalisa beberapa respon netizen Indonesia di media online facebook melalui gawai. Terlebih tentang berita serangan balik dari Hamas (Militer di Gaza) yang menggencarkan kurang lebih 130 rudal ke Tel Aviv, Israel (Sumber: Kompas.com). Bukan isi beritanya yang membuat saya penasaran melainkan respon Netizen Indonesia dikolom komentar. Ada yang berpesan “berdamailah, tidak baik berbalas dendam”, “Palestina janganlah kejam !” . Suatu ketika berita lain mengabarkan Israel menyerang balik ada juga yang komentar “Balasan dari Israel atas kekejaman Hamas, mengorbankan warga sipil di Palestina”.

 

Penulis merasa aneh saja dengan perilaku netizen di Indonesia walaupun yang berkomentar negatif terhadap Palestina 10% nya saja. Berlaga sebagai seorang peneliti sosial media, kembali menelusuri rekam jejak beberapa netizen tersebut dengan mengunjungi profil fb nya. Hingga sampai pada kesimpulan bahwa Netizen yang berkomentar negatif itu didominasi oleh nonmuslim. Bukan untuk provokator, tapi fakta dapat dibuktikan walaupun di dunia maya. Netizen tersebut bisa saja Buzzer yang dibayar untuk memecah belah antar umat beragama di Indonesia, sebagai bentuk husnudzon (pikiran positif) penulis. Karena Penulis yakin banyak nonmuslim yang mengecam aksi Israel itu.

 

Walaupun solidaritas antar sesama Agama nampaknya lebih menonjol di Republik ini, bukan suatu hal yang salah . Nampaknya kita agak terlupa akan sejarah Palestina yang sudah hampir 1 abad mempertahankan wilayahnya dari jajahan Israel. Ribuan bahkaan jutaan nyawa telah menjadi tumbal kekejaman, realitasnya sebagai seorang yang mempertahankan rumah, tanah, dan kedaulatannya. Tentu semua perlawanan Palestina didasari atas kedaulatan yang harus mereka jaga bukan semata balas dendam. Nampaknya kita sebagai rakyat Indonesia juga lupa, bahwa Palestina merupakan salah satu Negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia atas Belanda.

 

Tidak harus menjadi seorang muslim, cukup jadi manusia kita akan merasakan penderitaan di Palestina. Bahkanpun jika kita tidak ingin menjadi manusia, cukup menjadi Indonesia. Maka rasa balas budi kita tunjukkan kepada Palestina sebagai Negara yang merdeka. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan…” UUD 1945. Seorang Nasionalis ataupun seorang yang katanya pancasilais, tentu akan menegakkan amanat nasional tersebut dan terenyuh akan kondisi Negara Palestina.

 

Ini bukan perang antar agama, ini semata tentang kedaulatan sehingga jelas kemana kita akan berpihak. Sebagai mahasiswa dan umumnya sebagai rakyat Indonesia, tentu saja kita memiliki keterbatasan dalam membantu warga Palestina. Tapi yakinlah, keterbatasan itu dapat kita maksimalkan. Mengutip anjuran dari aktivis kemanusiaan Indonesia di gaza, Palestina (Muhammad Husein). Ada 3 aksi nyata yang dapat dilakukan warga Indonesia untuk Palestina, diantaranya:

  1. Doakan, agar semua konflik ini usai dan Palestina diberikan kemerdekaan oleh Allah SWT.
  2. Beritakan/ Informasikan/ Suarakan, jangan diam. Setidaknya dari informasi yang kita share dapat menggugah hati masyarakat sehingga muncul upaya-upaya nyata lainnya.
  3. Berdonasi, setidaknya dari donasi kita dapat meringankan beban warga Palestina dari segi sandang, pangan, & papannya.

Sebagai manusia tentu harus dapat mengambil hikmah dari setiap musibah yang ada. Demi kemanusiaan kita dituntut untuk gotongroyong membantu warga Palestina dari beberapa upaya yang ada. Selain itu, penulis mencari upaya lainnya untuk menghentikan peperangan di Palestina dengan cara Diplomatis mungkin? Bahkan dari propaganda Indonesia. Saatnya Presiden Indonesi Joko Widodo Show Up lebih tegas dan lebih berwibawa menyuarakan serta lebih kongkret untuk membantu Palestina. Walaupun pada akhirnya jalan kedamaian adalah jalan yang terbaik.