24.6 C
Mataram
Thursday, June 11, 2026
spot_img
Home Blog Page 84

Catatan Hitam Demokrasi Mahasiswa Unram

0

Oleh: Haerul Muamalah

Demokrasi adalah medan aktualisasi, karena demokrasi mewadahi dialektika dari pihak manapun untuk menghasilkan konklusi dari suatu isu publik yang sedang hangat diperbincangkan.

Demokrasi juga melahirkan perspektif-perspektif baru dari para pembuat kebijakan. Sehingga dalam merumuskan kebijakan untuk publik secara moral dan etik, produk yang dihasilkan harus benar-benar berangkat dari urgensi dan kemaslahatan konstituen. Bukan dari intervensi apalagi kepentingan sepihak untuk memuluskan rencana pribadi tertentu, tentu itu telah melanggar nilai-nilai publik.

Kampus dalam hal ini tidak hanya belajar teori-teori di dalam kelas, tapi sebagai miniature Negara, kampus menjadi ranah praktik demokrasi mahasiswa, merepresentasikan melalui lembaga-lembaganya dengan nama eksekutif, legislatif dan mahasiswa umum sebagai konstituen publik.

Salah satu core demokrasi mahasiswa di Kampus Universitas Mataram yang hari ini sedang menemukan momentumnya kembali, yakni Pemilu Raya Mahasiswa (Pemira). Ini akan menjadi _gawe_ besar yang ditunggu-tunggu sekali dalam setahun.

Perhelatan ini tentu dimaksudkan untuk mencari presiden mahasiswa yang mampu merepresentasikan kemasalahatan publik di kampus Universitas Mataram. Sehingga apa yang diperjuangkan dalam rangka Pemira ini harus jelas dan merepresentasikan publik bukan pesanan atau kerja-kerja ditengah malam seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) adalah wadah yang memfasilitasi munculnya Pemira, sekaligus melahirkan _Trigger Mechanism_ yang biasanya dikenal dengan KPRM (Komisi Pemilu Raya Mahasiswa) yang menyiapkan langkah taktis dalam pemira mahasiswa tersebut.

Tapi sungguh tidak disangka, saat ini DPM seperti tidak bisa menjawab permasalahan eksistensialnya sebagai lembaga yang menampung aspirasi mahasiswa, untuk siapa produk dan peraturannya tersebut ? Tidak jelas di representasikan untuk siapa.

Tantangan eksistensial tersebut diantaranya, keterbukaan ketika pemilihan KPRM, persyaratan yang seolah dibuat sepihak tanpa pertimbangan publik, tidak dipertarungkan diatas panggung terbuka, pengalaman kerja dan jam terbang mereka sejauh mana? Tentu ini sangat dibutuhkan, karena dia akan memimpin Pemira Unram yang dinamis.

Hal ini lagi-lagi membuka pintu pertanyaan kita semua. Terpilih melalui siapa dan dengan mekanisme yang bagaimana? Hanya DPM lah yang tau. Setelah diumumkan, KPRM seperti mati suri, tidak pernah diperkenalkan dan tiba-tiba langsung memberi kejutan seperti mengulang kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Selanjutnya tidak pernah ada bahasan bersama tentang Pemira yang menggunakan sistem online, tiba-tiba keputusan rektor keluar dan menetapkan Pemira Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tahun ini menggunakan platform tersebut.

Dari siapa proposalnya? Tentu ada yang mengusulkan dan mengintervensi birokrasi. Lalu atas nama siapa? tidak ada jajak pendapat sebelumnya.

Sosialisasi yang minim bahkan pencerdasan politik yang sangat kurang tiba-tiba menghasilkan keputusan yang tidak jelas direpresentasikan untuk siapa.

Banyak pertanyaan akhir-akhir ini yang dilontarkan mahasiswa. Tentu ini sekelumit dari tulisan yang hanya mengungkapkan sedikit, dan tak tau mau disampaikan kemana. Yang pada akhirnya mental dan dikembalikan pula.

Pintu permainan demokrasi mahasiswa ini seolah dibuka lebar dan dipertontonkan diatas kepiawaian DPM berdansa diatas panggung yang menawan, pesertanya dari semua kalangan, tapi tiket masuknya bertuliskan “Boleh masuk acara, asalkan diam! Acara sedang berlangsung.”

Menteri Harmonisasi Kehidupan Kampus

Ini Latar Belakang Acara BKK UPT BKPK Unram Kemarin

0
Kelas Bimbingan Konseling Kelompok luring pada 3 November 2020

Media Unram – Unit Pelaksana Teknis Bimbingan Konseling dan Pembinaan Karir (UPT BKPK) Universitas Mataram (Unram) telah menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Konseling Kelompok (BKK) secara daring (23/10) dan luring (26/10).

Kegiatan yang bertema “Psychological First Aid”  ini, melibatkan semua fakultas dan tiga program studi (prodi) di bawah rektor, juga sebagai bentuk sosialisasi, bahwa mereka siap membangun kesehatan mental mahasiswa yang memiliki masalah tidak hanya urusan akademik.

Sebelumnya UPT yang berlokasi di sebelah lantai satu perpustakaan ini telah melakukan penelitian berbasis online, Focus Group Discussion (FGD) tentang permasalahan mahasiswa dengan peserta sekitar 200 mahasiswa.

“Ternyata masalah mahasiswa kita tidak hanya urusan akademik,” kata Kepala UPT BKPK Unram, Pujiarohman, M.Psi, Selasa (3/11).

Pujiarohman, M.Psi., Ketua UPT BKPK Unram. (foto: roy)
Pujiarohman, M.Psi., Ketua UPT BKPK Unram. (foto: roy)

Urusan akademik yang menjadi kompleksitas masalah bagi mahasiswa terdiri dari pelajaran, perkuliahan, tugas, dosen, dosen pembimbing akademik (PA). “Di luar itu, masalah kesehatan, hubungan dengan orang tua, keluarga, pacar, teman, dan lain-lain,” tambah Psikolog Unram itu.

Menurutnya, kompleksitas masalah tersebut akan mempengaruhi mahasiswa untuk berpenampilan bagus dengan indikator jam masuk kuliah, nilai, dan produktifitas mahasiswa.

UPT BKPK hadir untuk mengurus faktor-faktor ini. BKK sebagai program awal untuk membangun sebuah sistem kesehatan mental mahasiswa secara integratif.

Tidak hanya mahasiswa, bulan ini UPT BKPK Unram juga akan mengadakan pelatihan untuk dosen-dosen PA. “Kedepanya, setelah mahasiswa serta dosen PA kita didik, dan kita sudah punya ‘UPT’. Saya membayangkan akan ada Sistem Kesehatan Mental Mahasiswa Integratif,” jelas Puji.

Sistem Kesehatan Mental Mahasiswa Integratif  ini akan mengawal mahasiswa yang sudah terlihat bermasalah di bidang akademiknya. “Atau mahasiswa itu sendiri yang langsung datang ke kami,” pungkas Puji. (roy)

Batas teman

0

Oleh: El

Pada batas-batas samudera yang hilang dalam bayang, aku meringkuk pilu dalam sebuah pemikiran buntu. Jingga yang mulai menjilat birunya lautan, kini menggelap berarak jatuh pada bagian bumi di ufuk sana.

“Kau benar-benar tidak pernah menyimpan rasa suka padaku sedikit saja, tuan?”

Gemuruh di dada mulai mencipta jelaga yang siap menjadi abu. Hilang, dan tak bersisa.

“Kita hanya teman.”

Mataku mulai meredup pilu. Seakan tahu keadaan, gelapnya malam tanpa bintang memaksaku mengerti, ini tak akan pernah berhasil.

“Apa yang tak kumiliki yang di miliki puan itu?” Tanyaku sedikit bergetar.

Helaan nafasmu yang memberat seakan memberiku peringatan. Bahwa aku tak lebih dari seorang teman. Bahwa hubungan ini tak akan berubah selain dari persahabatan.

“Kamu tidak memiliki hatiku,” katamu begitu kejam.

Sial.

Kelabu, 2020

UU Omnibus Law Cipta Kerja Disahkan, BEM SI Wilayah Bali Nusra Kirim Surat Untuk Presiden

0

Media Unram – Sebagai bentuk kekecewaan terhadap pengesahan UU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, Koordinator Wilayah (Korwil) Bali Nusra Badan Eksekutif Mahasiswa se-Indonesia (BEM SI), Irwan mengirim surat kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo, Selasa (3/11).

“Kami dari masyarakat NTB mengutuk keras Presiden Joko Widodo karena telah menandatangani UU Omnibus Law,” kata Irwan saat ditemui Media Unram. Menurutnya, penandatangan Presiden Jokowi seakan tidak menghargai berbagai aksi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat.

Bersama empat rekannya, Irwan mengirim pesan untuk Presiden Jokowi melalui POS. Ia mengaku, setelah mengetahui  kabar presiden telah menandatangani UU Omnibus Law Cipta Kerja, BEM segera menyusun surat tersebut. Berikut isi suratanya:

 

Kepada,

Yth, Presiden Republik Indonesia

Bapak Ir. Joko Widodo

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak presiden, emosi masyarakat semakin hari semakin memuncak atas disahkannya UU Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja. Gelombang dari organisasi-organisasi masyarakat, mahasiswa, buruh dan tani pun terus turun kejalan bergerak atas dasar yang sama yaitu mengharapkan sebuah kebijakan bapak sebagai Presiden Republik Indonesia untuk mencabut UU Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja. Hari ini ketika rakyat yang turun ke jalan tidak diindahkan suaranya oleh bapak, itu membuat kepercayaan rakyat kepada kabinet yang di pimpin oleh bapak presiden menjadi turun dan sudah banyak pula narasi-narasi mosi tidak percaya terhadap DPR dan Presiden yang terus digaungkan oleh masyarakat baik di media sosial atau secara langsung. Apakah dari sekian banyak gerakan akhir-akhir ini hati bapak tidak terketuk untuk mengkaji kembali isi dari UU Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja tersebut?

Narasi yang disampaikan oleh bapak selaku presiden beberapa hari yang lalu di pidato presiden hanya membawa sakit hati kepada masyarakat yang terdampak oleh pengesahan undang-undang tersebut. Sudah jelas jika mahasiswa, buruh, petani dan rakyat miskin kota turun kejalan menyuarakan aspirasinya melalui aksi ataupun demonstrasi, itu artinya apa yang ada di UU Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja yang telah di sahkan oleh Presiden tidak diterima oleh pihak-pihak tersebut. Apakah bapak masih ingin memaksakan UU tersebut terus di jalankan tanpa memperhatikan suara atau aspirasi dari rakyat yang memilih bapak?. Bapak dan kabinet bapak disumpah untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia bukan malah untuk memperjuangkan kesejahteraan para pengusaha-pengusaha besar apalagi yang berbasis perusahaan asing!

Pak presiden yang masih kami hormati sebagai presiden Negara Indonesia, sebaik apapun narasi UU Cipta Lapangan Kerja versi pemerintah dan penguasa, apa artinya jika hal tersebut mendapat penolakan hampir di seluruh daerah di Indonesia, prosesnya yang tidak transparan kepada rakyat pun menjadi masalah utama di dalam UU Cipta Lapangan Kerja tersebut dan prosesnya yang terkesan tergesa-gesa harus kembali ditinjau oleh bapak presiden kembali. Karena undang-undang tersebut sangat menentukan nasib buruh, petani dan rakyat miskin kota di masa yang akan datang.

Perlu bapak ketahui sebagai Presiden Negara Indonesia bahwa saat ini kondisi negara  sedang tidak baik-baik saja, ditambah lagi dengan bapak telah menandatangani UU Cipta Lapangan Kerja ditengah malam tanpa diketahui masyarakat, padahal UU tersebut terjadi gejolak yang luar biasa di seluruh penjuru negara ini yang sebenarnya bapak harus menenangkannya dengan segala permintaannya guna untuk kepentingan nasib warga negara bapak. jangan sampai krisis ini berkepanjangan dan melebar sampai ke ranah krisis sosial dan krisis politik.

jangan sampai kepercayaan kami masyarakat akan luntur dengan tindakan bapak yang telah melukai hati kami para buruh, petani, rakyat miskin kota dan mahasiswa. tunjukanlah kepada kami kalau bapak mencalonkan diri sebagai presiden hanya untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan golongan yang hanya ingin merusak alam Indonesia.

Maka dari itu kami mahasiswa dan seluruh elemen Masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) berharap kepada Bapak Presiden Ir. Joko Widodo agar memperhatikan hak-hak Rakyat Indonesia sesuai dalam sila ke lima keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, dengan hal itu Presiden dipilih rakyat dan harus kembali kepada rakyat.

Dengan melihat tindakan yang diambil presiden dengan mengesahkan UU Cipta Lapangan Kerja di tengah malam, maka kami menyatakan:

  1. mengutuk keras presiden republik indonesia telah mengesahkan UU cipta kerja
  2. kami masyarakat Nusa Tenggara Barat menyampaikan kekecewaan yang mendalam atas telah disahkannya UU Cipta Lapangan Kerja

Irwan berharap, dengan mengirim surat seperti ini dapat direspon dengan baik oleh presiden. Pasalnya, menurut Irwan, aksi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, khususnya mahasiswa tidak dapat mengetuk hati presiden.

Menurutnya,  “Suratnya sudah dikirim, InshaAllah dalam waktu tiga hari akan sampai kepada presiden. Semoga beliau membaca,” pungkasnya. (tim)

 

 

 

Ada Kamu Dalam Sujud Ku

0

Oleh: Baiq Nadia Indra Sukmawati

Benar, cinta tidak cukup dengan doa saja.

Namun, apa daya, nyaliku hanya sampai pada sujud terakhir. Dengan melangitkan namamu.

Jangan kau tanya kenapa?!

Sebab, diri sadar, pilihan mu adalah dia. Bukan aku.

Huftt….

Kau tau, aku hanya cerita usang yang di masukan dalam kotak. Ditimbun. Tidak akan dibuka kembali.

Pasrah ku berkata;
Biarkan semesta bekerja
Entah, akhirnya seperti apa
Moga-moga bahagia.

 

 

 

Sumber gambar: Kisahhikmah.com

Lingkungan Terkutuk

0

Oleh: Marini Mandalika Lamri

Malam di lingkungan bawah jembatan itu nampak seperti malam biasanya. Orang-orang sibuk bercengkerama, ada yang sudah lelap, ada yang masih terjaga sambil bersiul-siul, ada juga yang buru-buru merapikan rumah kardusnya akibat tertiup angin.

Di tengah kejemukan itu, terdengar suara teriakan dari seorang wanita yang berada dalam rumah kardusnya di pojok tanah ini. Keluarlah seorang nenek tua dari gubuk itu, ia kemudian meminta bantuan untuk dicarikan dukun beranak. Ternyata wanita itu akan segera melahirkan. Ya, iya adalah seorang wanita yang mengandung diluar pernikahan dan memilih untuk tidak menggugurkan janin itu. Malam yang tadinya biasa saja itu kemudian dipenuhi kehangatan. Bayi mungil tak berdosa telah lahir ke dunia dengan tangisnya yang membuat siapa saja yang mendegarnya terharu. Bocah laki-laki itu diberi nama Candil.

Candil tumbuh menjadi anak yang baik, ia bisa merasakan bangku sekolah karena jasa neneknya, mbok put, yang setiap hari mengadu nasib sebagai buruh cuci. Lalu mana ibunya? Ternyata ia seorang yang egois, asik keluyuran memacari para pria hidung belang diluar sana. Hampir tak pernah pulang, bahkan hampir tak pernah mengurusi si candil anak malang itu.

Malangnya candil anak yang baik dan pintar yang bercita-cita menjadi seorang abdi negara ini tumbuh di lingkungan yang benar-benar yang tidak mendukung dan dapat dibilang mengerikan. Tetangganya bahkan teman-teman seumurannya tidak bersekolah, mereka sehari-hari memulung atau mengemis bahkan beberapa banyak yang berprofesi sebagai “preman”. Candil sering menjadi korban dari kebengisan mereka, mulai dari kekerasan psikis dan fisik sudah jadi makanannya sehari-hari di kehidupan jalanan yang keras. Terkadang, Candil, bocah SMP itu mulai ikut terbawa arus kehidupan gelap itu. Tapi lagi-lagi neneknya lah yang hadir sebagai tameng candil dari kelakuan-kelakuan teman-temannya. Candil begitu sangat menghargai neneknya.

Sampai akhirnya, neneknya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Di sisi lain, ibunya telah menikah dengan seorang pria dan tinggal jauh dari candil. Betapa hancur hidup bocah malang saat itu, Nenek atau tamengnya dari segala hinanya kehidupan itu telah tiada. Ia menangis sejadi-jadinya. Sepeninggal mbok Put, candil putus sekolah. Hidupnya mulai tak terarah luntang lantung di ruang hampa. Terjebaklah ia di bagian gelap dunia.

Di umur yang masih sepantaran anak SMP itu, ia sudah rasakan bagaimana rasa air miras saat ia depresi, terpengaruh obat-obatan sialan, ia di cap berandal yang tiap hari memancing keributan. Tapi perlu kalian tau, ia tetaplah candil anak yang baik, ia mengamuk karena ia merasa lingkungannya benar-benar mengerikan, ia tak segan membantu seseorang yang membutuhkan.

Sampai pada malam itu, ia melihat salah seorang teman premannya, menyeret seorang wanita ke lorong gelap itu. Wanita itu berteriak, buru-buru mulutnya di bekap oleh pria tadi. Candil sadar akan apa yang terjadi. Ia berusaha menolong wanita tak berdaya itu. Terjadi perkelahian sengit antara candil dan pria tadi. Keduanya babak belur. Pria tadi terpojok ke ujung gang, sialnya tangannya menggapai sebuah botol kaca, ia pecahkan kemudian ia coba hunuskan ke arah candil. Candil dengan sigap menghindar, ia benar-benar kewalahan. Candil yang berada di bawah pengaruh alkohol itu berhasil merebut botol tadi kemudian ia tikam sampai pria tadi kehilangan nyawanya. Saat hal itu terjadi, salah seorang komplotan preman tadi melihatnya, kemudian ia buru-buru berteriak minta pertolongan dan menuduh bahwa candil, seorang bocah ingusan SMP telah menjadi pembunuh malam itu.
Karena para komplotan preman yang menjadi saksi berbohong dan menuduh candil yang hendak melakukan perbuatan bejat kepada seorang wanita serta membunuh salah seorang teman mereka. Dijebloskanlah candil ke dalam dinginnya jeruji besi.

Semakin hancurlah hidupnya. Ia tak habis pikir mengapa hidup semacam benar-benar mengutuknya menjadi orang paling menyedihkan di dunia. Di dalam sana, ia bertekad dan selalu menguatkan diri untuk menjadi lebih baik. Bertemu ia dengan beberapa orang di sel itu, syukurlah ia dapat bertemu orang yang agak lebih baik. Disana candil banyak dapat petuah dari mereka tentang bagaimana rencana candil setelah keluar bui. “Menyedihkan sekali hidupmu, nak. Kau juga yang bodoh mau mengorbankan dirimu demi menolong orang lain, hidup ini tak menghargai orang-orang macam kau haha mau jadi pahlawan kesiangan rupanya” mendengar perkataan itu candil bersikap biasa saja. Sudah kebal telinganya mendengar kata-kata orang yang bermental preman seperti itu. “Cobalah nak, kau cari kerja saja nanti setelah keluar dari bui. Lamarlah pekerjaan di toko-toko kecil itu. Jadilah anak yang baik. Masa depanmu masih panjang. Aku yakin banyak yang butuh tenagamu” Disini candil terperanjak oleh kata-kata seorang napi, teringat ia dengan neneknya. Betapa bodohnya dia sampai terjebak di antah berantah kehidupan. Semenjak itu, ia kembali bersemangat dan bertekad kuat untuk merubah nasib malangnya.
Karena masih dibawah umur, Candil dibebaskan. Ia memulai langkah pertamanya dengan senyum yang tak kunjung layu, ia merasa dunia kali ini akan berbaik hati padanya, akan menyambutnya. Langsung saja ia keluar dari bui, menghirup udara segar sambil mencari-cari pekerjaan. Malang sekali ternyata, berita bahwa Candil hendak melecehkan seorang wanita serta membunuh seorang pria tengah viral. Nama dan fotonya di ekspos ke berbagai media. Wahh benar-benar mampus pikirnya. Semua orang memandang hina kearah dirinya. Beberapa orang meludah bahkan melempari serta menyiramnya dengan air berbau itu. Pupus harapannya menjadi manusia lebih baik hari itu. Lingkungan mengutuk candil sejadi-jadinya. Mengapa orang-orang begitu merasa diri mereka lebih suci sampai menghinakan dan menghancurkan orang lain. Kembali bocah ini terombang ambing di antah berantah kehampaan. Padahal setiap anak adalah berlian yang hanya perlu diasah lagi.

Namun orang-orang acuh tak terima, mereka tidak sadar, berlian itu terus mereka lumuri dengan lumpur sampai akhirnya sang berlian merasa dirinyapun hanya lumpur. Begitulah kehidupan bekerja, kejam. Kalian hanya bisa mengandalkan kaki kalian saja untuk berdiri dan kedua tangan untuk menutup telinga.

Candil yang dari dulu rapat menutup telinganya dari kutukan orang, sekarang mulai mendegar. Senyum yang tadi tak henti-hentinya ia tampakkan di wajahnya mulai luntur. Begitu pula air matanya. “Mengapa orang tak memberiku kesempatan untuk berubah, Ini bukan salah ataupun mauku, mengapa mulut-mulut mereka terus saja mengukungku ditengah kehinaan ini. Haha, apakah masa depan itu masih pantas untuk bocah sialan sepertiku” Candil hancur lagi kali ini, bahkan sampai berkeping-keping.
Di tengah kehancuran itu, Candil menyadari bahaya lain. Dilihatanya beberapa komplotan preman yang salah satu temannya telah ia bunuh menatapnya dengan bengis. Para komplotan preman itu mendengar kabar bahwa Candil telah keluar dari bui. Yap, ini ajang balas dendam, “Nyawa dibalas nyawa”, pikir mereka. Bergegaslah mereka mengejar Candil. Candil benar-benar ketakutan, dengan kaki dan hati yang lemah itu ia berlari, ia masih punya cukup tenaga untuk menyelamatkan hidupnya, terus saja ia berlari sekuat tenaga dan “Brakkkkk!!”. Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dengan secara nyata menghancurkan Candil. Ia terpental cukup jauh dan terluka parah. Para komplotan preman yang mengejarnya tadi terkejut kemudian lari tunggang langgang meninggalkan tempat kejadian.

Kalian pikir Candil kesakitan. Tidak, dia bahkan tersenyum, ia bahagia, ia tau akan meninggalkan dunia kejam ini, ia sadar ia akan beristirahat. Ia tidak sabar menceritakan kisahnya kepada neneknya yang begitu ia rindukan, ia akan menyusul.

-Tamat-

 

 

 

 

Sumber gambar: pinterest

Gomong Bukan Daerah Strategis Untuk Pembuangan Sampah

0

Media Unram – Tumpukan sampah di wilayah Gomong, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) nampaknya mengganggu masyarakat setempat. Bau sampah yang menyebar kurang lebih sampai 10 meter.

Hal itu diungkapkan oleh Rudi, tukang parkir di sekitar lingkungan pembuangan sampah sementara tersebut. Pasalnya, di sekitar wilayah itu terdapat sekolah dan beberapa warung makan.

“Saya saja pernah muntah-muntah. Banyak masyarakat yang sudah protes masalah lokasi pembuangan sampah yang ada di gomong ini tidak strategis,” katanya saat ditemui anggota Media Unram, Minggu (18/10).

Rudi menjelaskan, tempat pembuangan ini sudah direncanakan akan dipindahkan tahun depan. Namun, hal itu belum bisa terealisasi, karena tidak adanya anggaran.

“Katanya lokasinya akan dipindahkan ke tempat yang lebih jauh dari pemukiman warga, di sekitar Loang Baloq tahun depan,” ungkap Rudi.

Masyarakat berharap, pemerintah mempercepat pengeluaran anggaran tersebut, agar mereka tidak terus menerus diganggu oleh aroma sampah.

Sementara itu, salah satu petugas kebersihan di Gomong, Ramdan membantah hal tersebut. Ia menjelaskan, setiap hari tumpukan sampah itu dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berlokasi di Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat (Lobar).

“Sebenarnya sampah di sini tetap diangkut setiap hari, lalu dipindahkan ke pembuangan akhir,” ujar lelaki kelahiran Gerung, Kabupaten Lobar itu.

Menurut Ramdan, semua terjadi karena kurangnya kesadaran dan kepedulian warga sekitar terhadap lingkungan. Seperti membiarkan sampah berserakan semalaman, sehingga masalah sampah di daerah ini tidak kunjung selesai.

Lebih jauh Ramdan menjelaskan, masyarakat tidak sadar terkait peran mereka dalam mengelola sampah. Padahal, sudah dipermudah dengan adanya pembuangan sampah di sekitar mereka.

“Seharusnya masyarakat sudah sadar,” tegas lelaki yang bekerja sebagai operator di pembuangan tersebut. (KLP. 1)

Perayaan Sumpah Pemuda Ala Bale Ade

0

Catatan: Khan – Al Won

Rabu, 28 Oktober 2020, masyarakat Indonesia merayakan hari Sumpah Pemuda. Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyambut salah satu hari istimewa tersebut, mulai dari mahasiswa hingga pemuda desa. Tidak terkecuali komunitas literasi.

Hari itu, beberapa anggota Media Unram berkesempatan mengunjungi Sanggar Balai Anak Desa (Bale Ade) di Dusun Medas, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) untuk menyaksikan pentas seni.

“Kegiatan ini sebagai salah satu cara kita menyambut hari sumpah pemuda, juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan emosial antar komunitas atau siapapun yang pernah berkunjung di sini,” kata Ketua Sanggar Bale Ade, Supardi dalam sambutannya.

Kegiatan dengan tema “Malam Perjumpaan Sahabat BaleAde” tersebut nampak meriah. Terlihat dari besarnya antusias para pengunjung. Ratusan orang datang dan memadati halaman Sanggar Bale Ade. Berbagai komunitas literasi yang ada di Lombok, seperti komunitas kebun buku, kurir buku, komunitas gerakan berbagi, lainnya ada di sana.

Tidak hanya itu, nampak juga anggota KPS, BEM Fakultas Hukum, Ekonomi Unram, pemuda Desa Medas, Kepala Dusun, Ketua Bumdes, dan lainnya menghadiri acara ini. Mereka seakan berkumpul karena rindu.

Pukul 20.08 WITA, acara dimulai. Para pengunjung disuguhi beberapa potong ubi rebus dan kacang-kacangan. Kemudian, mereka menikmati pembacaan puisi dan live music. Dekorasi panggung, serta keadaan sanggar yang indah juga menambah nikmatnya suasana malam itu.

Menariknya, para pengunjung diberikan kesempatan untuk menampilkan bakatnya. Orang yang biasa disapa Ade itu menjelaskan, panggung bukan sesuatu yang menyeramkan.

“Di sini tidak ada settingan. Ini panggung kita. Siapapun bisa tampil,” katanya.

Bagaimana Sejarah Sanggar Bale Ade dan Perjalannya?

Hal itu tentu menjadi tanda tanya besar. Bagaimana tidak? dengan lokasi yang bisa dibilang di daerah terpencil itu bisa menarik perhatian banyak masyarakat, khususnya komunitas literasi.

“Selama sekolah, saya melihat ada perbedaan pendidikan yang terjadi antara desa saya dengan perkotaan,” kata orang yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum UKPKM Media Unram ini saat ditemui usai kegiatan pementasan.

Melihat kurangnya pendidikan di desa, menjadi latar belakang terbentuknya komunitas ini.

Menurutnya, penting bagi anak-anak untuk mengasah dan mengembangkan minat dan bakat, seperti bermain musik, melukis, dan lainnya. Akses yang didapatkan anak-anak desa berbeda dengan kota. Dengan begitu, ia mencoba menyiapkan wadah bagi anak-anak di Desa Medas atau siapapun yang ingin belajar.

Ia juga menjelaskan, awalnya, komunitas ini sempat dipandang sebelah mata oleh masyarakat. “Meski begitu, niat yang baik pasti memiliki jalan,” lanjutnya.

Pada tahun 2014-2017, komunitas ini memiliki nama Sanggar Kampung Kertas. “Sedangkan tahun 2009-2014 itu masih berbentuk gerakan personal,” ungkapnya.

Terkait banyaknya relasi, Bang Ade menjelaskan, itu berkat hubungan emosional baik yang dibangun selama ini. Tidak pernah memandang “bendera” komunitas setiap mencari relasi.

Lihat saja, lanjut Ade, dia tidak pernah mengundang secara resmi untuk kegiatan ini. Siapapun yang pernah berkunjung ke sini merupakan sahabat Bale Ade.

Nampaknya, hubungan emosional yang baik sudah dibangun dalam internal Bale Ade. Untuk pensi ini saja, mereka tidak membentuk panitia.

“Di sini, yang bekerja bukan karena diperintah. Saya juga tidak pernah memerintah. Kami bekerja secara kesukarelaan,” lanjut pria bertubuh mungil ini.

Diujung pembicaraanya, Ade berharap Sanggar Bale Ade memiliki lebih banyak relasi yang mampu diajak bekerja sama dalam bidang apapun.

Orang Tua Siswa Keluhkan Pembelajaran Daring

0

Media Unram – Orang tua siswa mengeluhkan pembelajaran Dalam Jaringan (Daring) selama pendemi Virus Corona (Covid-19). Sistem ini dianggap tidak efektif, karena orang tua siswa dituntut berperan aktif saat pembelajaran daring.

Salah satu orang tua siswa, Sarpini ditemui tim Media Unram, di Taman Udayana, Minggu (18/10) mengatakan, orang tua siswa dituntut berperan aktif, tetapi orang tua siswa sendiri tidak paham dengan materi pelajaran. Selain itu, orang tua siswa juga kewalahan membagi waktu antara berkerja dan mendampingi anak.

”Apalagi saya berjualan harus menyempatkan waktu untuk membantu anak saya belajar. Kadang anak saya, saya bawa ke tempat jualan,” ungkap Sarpini yang sehari-harinya berjualan es.

Di waktu yang bersamaan, penuturan serupa juga diungkapan oleh Asikin, seorang Aktivis Pusat Informasi Konseling Mahasiswa (PIK-M) Cerah Universitas Mataram, merasa pembelajaran daring ini kurang efektif. Bapak yang memiliki putri berusia 16 tahun ini, menuturkan bahwa putrinya merasa tertekan. Alasannya materi yang didapatkan tidak dapat diterima dengan baik, tetapi tugas sangat membebani

“ Anak saya sering mengeluh akibat banyaknya tugas yang diberikan dan kurang jelasnya materi yang didapatkan,” tuturnya.

Mereka berharap pendemi segera berakhir sehingga anak-anak bisa bersekolah dengan normal. Selain itu, semoga anak-anak tetap fokus belajar dan orang tua terus berperan untuk mendampingi sang anak. (K2)

Pantai Loang Baloq Mulai Dibuka, Pedagang Memiliki “Angin Segar”

0

Media Unram – Memasuki masa new normal, Dinas Pariwisata (Dispar) kembali membuka destinasi wisata Loang Baloq pada Juni lalu. Para pedagang setempat seakan memiliki “angin segar” untuk berjualan seperti biasa.

Meski begitu, untuk memasuki wilayah tersebut, para pengunjung diharuskan menggunakan masker.

Selain penerapan proktol kesehatan, Dispar juga menyarankan adanya pembatasan jumlah pengunjung. Hal itu diungkapkan oleh salah satu pihak keamanan yang namanya tidak ingin disebutkan.

“Karena itu pantai Loang Baloq hanya menerima 50 persen pengunjung dari kapasitas biasanya,” katanya saat ditemui Media Unram, Minggu (18/10).

Sebelumnya, NTB menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan begitu, tentu membawa dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat.

Tak terkecuali para pedagang yang ada di pantai Loang Baloq, Heri. “Meskipun begitu, saya masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu bantuan dari pemerintah juga cukup meringankan beban saya,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, anggota media juga menemui pedagang yang lain, Zubaidah. Ia merasa sangat kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini.

“Terlebih suami saya kehilangan pekerjaan akibat pandemi ini dan saya juga harus membiayai sekolah anak-anak. Jadi harapan saya satu-satunya hanya berdagang,” ungkapnya.

Dengan berangsur-angsur dibukanya lokasi wisata oleh Dispar tentunya menjadi angin segar bagi para pedagang. Meskipun jumlah pengunjung diperkirakan hanya seperempat dari jumlah biasanya. Tapi jika dibandingkan dengan periode awal pandemi, jumlah ini sangat lumayan.

Para pedagang berharap pandemi ini segera berlalu agar sektor pariwisata bisa kembali normal, sehingga omzet yang didapatkan bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. (K3)