25.4 C
Mataram
Friday, June 12, 2026
spot_img
Home Blog Page 102

Penjara Ilusi

0
ilusi

 

Nabila hanya ingin Ayahnya sepakat kalau ia akan melanjutkan ke universitas,  Ayahnya hanya meminta satu ia harus seperti Zio, adik Nabila yang berbeda beberapa menit lahir dari rahim Mama Zainab.

 

Mama Zainab menginginkan kedua anaknya tetap melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari SMA. Walaupun yang berhak untuk setuju atau tidaknya tetap seorang kepala keluarga.

 

Ayah Nabila memegang penuh kendali, Mama Zainab tidak berkuasa jika palu sudah diketuk, ia takut suaminya murka dan dikatakan istri durhaka.

 

Sudah jauh-jauh hari sebelum hari kelulusan, Nabila bercita-cita akan melanjutkan di universitas ternama.

“Asalamualaikum” ucap Zio, setelah pulang dari kursus basketnya, ia bergabung ke ruang makan.

 

Cuaca hari ini panas sekali, kondisi pikiran dan hati Nabila yang juga panas dan terus berpikir keras. “… Kali ini aku harus berani berbicara kepada Ayah, bahwa aku ingin melanjutkan pendidikanku. Toh, aku juga putrinya,” pikir Nabila.

 

Suasana makan siang saat itu sunyi. Zio mulai membuka obrolan, menceritakan apa saja yang ia ingin ceritakan, Ayah selau tertarik pada cerita Zio, tidak ada kata tidak sepakat untuk Zio.

 

Hanya Nabila yang diam, namun ia menikmati cerita kembarannya itu. Nabila juga senang dengan Zio, tidak ada benci ataupun dendam hanya karena Zio di nomer satukan Ayah.

 

“Wah, Zio beruntung sekali kalau kamu ikut pertandingan basket itu” Nabila masuk di obrolan antara putra dan Ayah.

 

“Sebenarnya aku tidak ingin menganggu pembahasan mereka, Ayah juga pada akhirnya akan sedikit mengacuhkan aku. Namun kali ini aku butuh berbicara dengan Ayah, untuk impian dan cita-citaku,” gumam Nabila.

 

“Ayah aku juga mau melanjutkan ke universitas ini!” Nabila menyodorkan selembar brosur.

 

Hening…!! Mama Zainab mulai cemas jika suaminya marah, Mama Zainab menunduk.

 

“Nabila, sudah ayah tegaskan kalau kamu tidak perlu bersusah payah sekolah. Kamu cukup membantu mama di rumah, lagi pula pada akhirnya nanti kamu akan mengurus suamimu, tidak ada gunanya sarjanamu..” jelas Ayahnya.

 

“Belajar saja menjadi calon istri yang baik pada Ibumu, cukup Zio yang meneruskan pekerjaan Ayah..” lanjutnya.

 

“Ayah, tidak seperti itu aku ini juga putrimu. Walaupun nanti pada akhirnya mengurus suami dan anak. Mendidik anak tidak hanya sebatas bisa menulis dan membaca saja,” jawab Nabila.

 

“Berani-beraninya kamu menjawab ucapan Ayah, aku ini Orangtuamu..!” Tegas Ayahnya.

 

Tampak cek-cok di meja makan, Zio diam, Mama Zainab khawatir. Sudah tak ada lagi nafsu makan terlihat. Nabila menangis, selalu saja Zio dan hanya Zio di mata Ayahnya.

 

Suami dari Mama Zainab itu pergi dari acara makan siang, wajahnya memerah, nafasnya gelagapan, marah besar pada Nabila saat tak didengar perintahnya. Ia terbiasa memegang kendali, Mama Zainab selalu meng-iyakan tanpa membantah perintah suaminya itu. Seketika Nabila memberontak, tentu amarahnya memuncak.

 

Satu menit setelahnya, Nabila berlari menangis keluar dari ruang makan, ia tersedu-sedu, rapuh hatinya, tersakiti oleh orang terdekatnya, orang yang dia anggap tidak akan menyakitinya. Orang yang anak perempuan-perempuan lain di luar sana disebut-sebut tidak akan mematahkan hati perempuannya. Gelar laki-laki yang tidak akan membuat hancur perempuannya. Gelar itu disebut Ayah.

 

“Kak Nabila, akan kuberusaha berbicara pada Ayah” ucap Zio menghampiri Nabila.

 

“Tak usah Zio, tak mengapa. Nanti jika Ayah sudah tidak marah, akan kucoba lebih baik berbicara padanya” jawab Nabila.

 

“Aku sedikit iri padamu, baik dari mama dan Ayah kamu sempurna mendapat kasih sayangnya, ingat tidak? saat kamu dibelikan robot oleh Ayah saat ia pulang berkerja dari sekolah? kamu dibelikan robot aku hanya diberi mainan kunci,” lanjut Nabila.

 

“Ingat lagi? saat aku meminta dibelikan boneka, Ayah malah memarahiku dan memukuliku dengan bambu. Ketika kamu meminta es krim Ayah cepat mencarikanmu dan saat kejadian sama padaku, aku hanya di beri es potong,” lanjut Nabila dengan suara tersedu, menangis di hadapan Zio.

 

“Zio, Ayah hanya menginginkanmu, tidak dengan keberadaanku,” Nabila berteriak pada Zio dan menangis.

 

Zio memeluk kakaknya yang sedang rapuh itu, ia juga perihatin kepada kembarannya, sejak kecil mereka berdua  sudah diperlakukan berbeda, Zio mendapat kasih sayang yang baik dari Ayahnya. Tidak bagi Nabila.

 

Suami Mama Zainab bekerja setiap pagi hingga siang hari, mendidik anak bangsa di salah satu SMA. Mama Zainab hanya bergantung pada suaminya, ia hanya seorang ibu rumah tangga, tidak diizinkan untuk bekerja sekalipun Mama Zainab seorang sarjana.

 

Amarah suami Mama Zainab tak berhenti pada kejadian siang hari itu. Nabila terkejut mendengar benturan keras di tembok ruang kamar Orangtuanya. Sontak terkejut mendengar benda jatuh dan terdengar pecah. Nabila berlari menuju kamar Mama Zainab dan Ayahnya, ia penasaran dan mengintip dari lubang kunci pintu kamar.

 

Jilbab Nabila telah basah, berlinang air keluar dari matanya, matanya memerah, sesak nafasnya, terkejut hatinya. Dilihat Mama Zainab dipukul wajahnya, ditendang dengan keras oleh Ayahnya, Mama Zainab dibentak keras.

 

“Istri tak berguna, tak bisa mendidik putri sendiri dengan baik.. !” teriak suami Mama Zainab.

 

Nabila melihat kejadian dengan jelas, Mama Zainab tak kuasa dengan amarah suaminya itu, Mama Zainab hanya menangis dangan lemah. Tak memberontak ataupun menjawab ujaran suaminya itu, Mama Zainab melakukan itu karena takut sakit jantung suaminya muncul.

 

Setelah Nabila lama mendengar bentakan Ayahnya ternyata ia bukan marah karena Nabila saja, ia pusing dengan tagihan hutang dari bank, hutang yang tanpa diketahui oleh putra-putrinya.

 

Nabila tak tahan dengan kelakuan Ayahnya itu. Ingin Nabila memeluk Mama Zainab dan mengatakan ia tak perlu menangis. Tidak tahan melihat kekerasan pada Mamanya, cepat-cepat mengambil langkah seribu, ia membuka pintu kamar dan memeluk Mama Zainab, melindungi Mama Zainab dari pukulan Ayahnya.

 

“Sudah Ayah, pukuli aku. Jangan sakiti Mama, hanya ia yang aku miliki, tak akan kubiarkan Ayah merenggut Mama dariku”   ucap Nabila merintih.

 

Suami Mama Zainab itu terkejut ketika ia melihat Nabila berlari ke dalam kamarnya. Nabila tak ingin Mama Zainab terus dihajar. Hanya Mama Zainab yang menyayanginya, hanya Mama Zainab yang menuruti keinginannya, Nabila mengingat ketika dulu meminta dibelikan boneka kepada Ayahnya sontak dipukuli bambu. Hanya Mama Zainab yang memberikan ia boneka yang dirajut sendiri olehnya. Takkan Nabila membiarkan Mama Zainab disakiti oleh Ayahnya sekalipun.

 

Amarah dari suami Mama Zainab memuncak, diambilnya botol parfum dari kaca, tak sempat melempar Nabila dan Mama Zainab, suami Mama Zainab itu didorong oleh Nabila ke pojok tembok kamar. Tidak ada orang lain di ruang selain mereka.

 

Nabila ketakutan melihat Ayahnya duduk diam, nafasnya sesak memegang jantungnya. Mama Zainab sontak khawatir jika suaminya serangan jantung, Nabila dan Mama Zainab menghampiri pria yang telah lemah itu.

 

Datang segerombolan orang ke rumah Nabila, tetangga rumah, sahabatnya, keluarganya, rekan-rekan guru tempat Ayahnya mengajar, dan teman Zio berkumpul di rumah Nabila.

 

Nabila melihat Mama Zainab  mengangis lemah dengan tudung hitam yang menutupi kepalanya, dilihat juga luka di pipi Mama Zainab yang basah bekas tamparan Ayahnya.

 

Zio pun begitu, ia lemah melihat Ayahnya tertidur pulas ditutupi kain putih, setiap kali orang datang di buka kain itu sampai kepala Ayahnya, dibacakan surah-surah dari Al-Quran.

 

Hingga peringatan tujuh hari suami Mama Zainab meninggal, Nabila murung, ia masih merasa bersalah kepada Ayahnya, ia menyesal dengan pikiran andai saja ia tidak mendorong Ayahnya, ia merasa bersalah karena Ayahnya tidak sempat mendapatkan pertolangan pertama dari dokter sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Kini mama Zainab harus membesarkan putra-putrinya sendirian, mencari nafkah untuk hidup baru tanpa suaminya.

 

 

 

Rafika Miatul S.

Serangga Berziarah

0
https://www.google.com/search?q=gambar+serangga&sxsrf

Ada darah. Percakapan malam

yang bergayut pada bangkai tempua

Juga kuburan-kuburan bercat pekat

Jenazah meringkih di balik kerajaan nisan

Dari kegelapan, cahaya telah raib

 

Puing mimpi menikam jalanan

yang dipenuhi gerimis amis

Musim mencucurkan kain kapan

Waktu digenangi ketelanjangan kata

Arah bagai kilat, menusuk pikiran terujung

 

Ledakan isak memendek gairah

Gagak yang dingin, hati terkelupas

detak nadi berloncatan

Bibir-bibir mengeras di sudut kabut

awan dengan kehitaman bersujud

bunga-bunga kamboja membuka mata

 

atau ranting-ranting melati

mengiris urat-urat leher

serakan tulang membanjiri kuburan

hingga ribuan cacing berdengung

juga jutaan serangga berziarah

 

Silvia L

“Jiwaku Adalah Hantu”

0
org.mozilla:en-US:official&channel
org.mozilla:en-US:official&channel

Imajinasiku membentuk gelombang arak

Pembakaran kisah mengelupas puisiku

Meski pantulan pahit terekam

Nyanyian liar tetap mengguyurku

Setelah api melahap bait ini

Aku adalah sejarah penuh retak

Surga diterbangkan angin

Muasal ajal melapuk

Pada pertambangan diksi

Lambang-lambang menyusut

Ungkapan meloncati tafsiran

Serupa nyeri dari hurup

Melepas nasib pada amukan kata

Bukan cekikan alur

Adonan peristiwa melunak

Bahasaku adalah persimpangan gelap

Penuh kematian  dibalik jeruji baris

Jiwaku adalah hantu

Kenangan meremas ingatanku

Tetesan kesunyian menjadi tebing

Makna tak tersingkap

Pada luka yang berkarat

Seperti darahku membeku

Nasibku,

Khayalan penuh bunyi

Tanpa kalimat akan menjadi keterasingan

Goncangan maut menanti

Kepekatan takdir menggoyang naluriku

Meski bara akan memburam

Mati akan menjadi samar

Notasi hitam tetap memeluk wujudku.

 

Mataram, 30 November 2019

#Silvia

Selamat. Pasangan Irwan-Faksi Menjadi Ketua dan Sekretaris BEM

0

Media Unram – Paslon nomor 3, Irwan-Faksi memenangi kontes pemilahan Ketua BEM dan Sekretaris BEM usai melawati proses perhitungan suara yang cukup panjang dan dengan kontroversi.
Pemilihan Raya Unram (pemira) yang dilaksanakan pada tanggal 27- 28 November akhirnya menemui garis akhir dengan selesainya perhitungan suara.

Poster ucapan selamat atas kemenangan Irwan-Faksi beserta info suara antar paslon. (Foto: BEM)

Menurut data yang didapat dari Bawasra, Irwan-Faksi berhasil menang dengan total suara 3534. Dikuti oleh Fauzan-Minan dengan total suara sebanyak 2052, dan Fazar-Guruh dengan suara 291.

Proses perhitungan yang dilaksanakan di Rektorat Unram ini, banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa. Terlebih lagi masalah surat suara yang dirasa kurang sesuai, khususnya di Fakultas Hukum dan FKIP. Hal inilah yang menyebabkan perhitungan suara berjalan dengan kontroversi.

Mengenai hal ini, Ketua Bawasra, Aqidah Nurul Wahidah menjelaskan bahwa ini murni dari kesalahan penyelenggara, karena ada miskomunikasi antar anggota. Setelah itu, Aqidah menjelaskan bahwa tim pemenangan dan pendukung Fauzan-Minan, ingin mengadakan pemilihan ulang yang ada di fakultas hukum. “Di dalam peraturan tata tertib KPRM, minimal selisih suara 5 persen baru bisa dilakukan pemilihan ulang. Mengenai masalah suara yang ada di fakultas hukum itu, setelah dikalkulasi, tidak sampai dari 5 persen,” terangnya kepada wartawan Media Unram.

Sebelum proses perhitungan suara, tim pendukung dari Irwan-Faksi bersikeras agar KPRM dan Bawasra menyelesaikan masalah terkait suara yang ada FKIP. Karena jumlah surat suara yang disampaikan tidak sesuai.

Ketua KPRM, Sulaiman Perawira Sasakadi mengklarifikasi hal tersebut. “Bagaimana kami akan menerima gugatan tersebut, sedangkan kami belum menghitung surat suara,” ungkapnya kepada wartawan Media Unram.

Lebih jauh lagi, Sulaiman menjelaskan bahwa ini merupakan kesepakatan awal dari rapat yang sudah diadakan dengan para ketua tim pemenangan dari masing-masing paslon.

Penghitungan suara yang dibuka oleh Rektor Universitas Mataram ini berakhir pada pukul 14.00 WITA (29/11/19) ini, menetapkan paslon nomor 3, Irwan-Faksi sebagai pemenang. Dengan demikian, Irwan dipastikan menjadi Ketua BEM Unram dan Faksi sebagai sekretarisnya.

Pembukaan kotak suara oleh Rekror Unram, Lalu Husni didampingi WR 3, Muhammad Natsir, Ketua KPRM, Sulaiman Perawira Sasakadi dan Ketua Bawasra, Aqidah Nurul Wahidah. (Foto:Tim)

Pemira tahun ini terasa berbeda dengan pemira yang sebelum-sebelumnya. Dimana pemira pada tahun ini turut menyertakan pemilihan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) di dalamnya. (cnk)

Klarifikasi KPRM, Sulaiman: Ketua Bawasra Berhak Diganti Jika Ingin Menaungi KPRM

0

Media Unram – Ketua Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM), Sulaiman Perawira Sasakadi, angkat bicara terkait dengan masalah dana, pertemuan dan konsumsi yang sempat disinggung oleh Bawasra.

Ketua KPRM, Sulaiman Perawira Sasakadi. (Foto: Tim)

Ketua KPRM mengklarifikasi bahwa dana yang diberikan birokrasi sudah keluar, tetapi pihak KPRM belum memberikannya kepada Bawasra, karena KPRM melihat bahwa Bawasra belum membutuhkan dana.

“Kami belum memberikan dana kepada Bawasra karena kami melihat pertemuan Bawasra hanya sekali dan pertemuan lainnya adalah pertemuan tidak formal jadi tidak membutuhkan uang atau dana,” kata Sulaiman kepada wartawan Media Unram pada Kamis, (28/11/19).

Mengenai pertemuan dengan Bawasra, pihak KPRM menolak dengan alasan bahwa tidak ada ajakan berupa undangan yang resmi dari pihak Bawasra dan menganggap ketua Bawasra tidak memiliki etika dalam mengajak atau mengundang dalam pertemuan.

“Tidak ada undangan resmi dari Bawasra, hanya sebatas nanya posisi dan ajakan biasa untuk bertemu,” ungkap Sulaiman. Dia juga menjelaskan bahwa alasan KPRM tidak menghadiri pertemuan tersebut karena KPRM sibuk menyiapkan persiapan untuk hari pemilihan Ketua BEM dan Sekretaris BEM.

Menurut mahasiswa Fisipol ini, ketua Bawasra tidak memiliki etika dalam mengajak atau mengundang dalam pertemuan. “Setidaknya ada undangan digitalah,” lanjutnya.

Selain membahas dana dan pertemuan, Sulaiman juga mengklarifikasi mengenai Bawasra tidak mendapatkan konsumsi yang juga sempat disinggung oleh Ketua Bawasra, Aqidah Nurul Wahidah. Sulaiman menjelaskan, bahwa pihak Bawasra yang tidak diberikan konsumsi adalah mereka yang tidak menggunakan kartu tanda pengenal.

“Kami sangat memperhatikan konsumsi terhadap Bawasra, bahkan kami dengan ketua Bawasra makan bersama kemarin,” lanjutnya.

“Jangankan Bawasra, KPRM pun memberikan konsumsi untuk tamu undangan dari UKM-UKM yang ada di Universitas Mataram,” sambung Sulaiman.

Mahasiswa berkumis tipis ini juga menjelaskan bahwa KPRM adalah lembaga independen dan diberikan SK langsung oleh rektor. Kapasitas Bawasra tidak dapat menaungi KPRM, Bawasra hanya mengawasi sesuai dengan poin yang ada di Undang-Undang Pemira 2019.

“Jika kita buka Undang-undang Pemira 2019, ketua Bawasra berhak diganti jika mencoba menaungi KPRM. Karena melanggar undang-undang,” jelas Sulaiman. (adk/khn)

Tidak Dapat Konsumsi, Bawasra: Dana Sudah Cair, Tapi KPRM Bilang Belum

0

Media Unram – Pemilihan Raya 2019 yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) 2019, menimbulkan tanda tanya bagi Badan Pengawas Pemilihan Raya (BAWASRA), utamanya dalam hal pelaksanaan pemira.

Badan Pengawas Pemilihan Raya (BAWASRA) angkat bicara mengenai penggunaan dana Pemilihan Raya oleh Komisi Pemilihan Raya (KPRM).

Ketua Bawasra, Aqidah Nurul Wahidah.

Bawasra merasa tidak diindahkan oleh KPRM. Bagaimana tidak, pemira di hari pertama telah terlaksana, namun belum ada dana yang diterima oleh Bawasra untuk pembuatan seragam, id card, serta konsumsi selama proses pengawasan terjadi.

“Kami sudah mengirim proposal Bawasra untuk disatukan, namun pihak KPRM mengatakan bahwa dananya belum keluar semua. Sedangkan WR3 bilang dana sudah cair,” ucap Ketua Bawasra, Aqidah Nurul Wahidah.

Sampai saat ini, tidak ada tanggapan atau klarifikasi dari pihak KPRM terhadap hal tersebut, pihak KPRM enggan angkat bicara.

Pada Rabu, (27/11/19) tim Bawasra juga telah mengundang Ketua dan Sekretaris KPRM untuk mengadakan diskusi ringan sekaligus sebagai evaluasi kegiatan di hari pertama. Namun pihak KPRM menolak pertemuan tersebut dengan alasan sedang mempersiapkan pemira untuk hari kedua.

Pemilihan ketua Bem dan Sekretaris Bem yang disebut Pemira (pemilihan Raya) ini dilaksanakan dalam jangka waktu 2 hari. Yakni Rabu, 27 November hingga Kamis, 28 November 2019.

Pemira yang dilaksanakan di hari pertama ini dilakukan di Fisipol, Fakultas Hukum, FKIP, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Dimulai dari sejak pukul 10.00 WITA hingga 17.00 WITA.

Saat hari pertama pemilihan, ada mahasiswa yang melakukan protes terhadap pemira. Salah satu mahasiswa yang memprotes adalah Michael Ayyasy Waroy. Menurutnya, waktu yang diberikan sedikit, bilik suara yang hanya diberi masing-masing setiap fakultas, serta persyaratan pemira yang kurang jelas.
Karena hal itu, mahasiswa yang lupa membawa KTM disuruh mencoblos dengan menunggu, sehingga waktunya habis dan tidak dapat melakukan pencoblosan.

Suasana saat pemilihan DPM dan Ketua dan Sekretaris BEM (Foto: adk)

“Lupa membawa KTM tidak diperbolehkan mencoblos. Tapi sebelumnya tidak diberi tahu kalau bisa menggunakan KRS online, ketika sudah daftar menggunakan KRS online tetapi malah disuruh nyoblos belakangan. Akhirnya saya nggak dapat nyoblos,” ucap Michael, yang juga mahasiswa Fisip. (adk)

Debat Publik Calon Ketua dan Sekretaris BEM Diwarnai Oleh Teriakan “KPRM Kurang Becus”

0

Media Unram – Debat publik tiga kandidat calon Ketua BEM dan Sekretaris BEM Universitas Mataram (Unram). Dalam debat ini paslon no 1,Fauzan dan Minan memiliki perlakuan yang berbeda dengan paslon yang lain.

Pose 3 calon Ketua Bem dan Sekretaris Bem saat duduk di meja debat masing-masing (Foto:adk)

Debat yang dilaksanakan di gedung Auditorium Abu Bakar Unram ini memiliki sedikit kontroversi. Dimana paslon no 1, Fauzan dan Minan tidak diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada paslon lain. Sedangkan, paslon-paslon lain diberikan kesempatan untuk bertanya.

Hal ini menyebabkan tim sukses dan pendukung paslon no 1 melakukan protes kepada Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) Unram. “KPRM ga becus” terdengar di antara pendukung Fauzan – Minan.

Menanggapi hal tersebut, Calon Ketua BEM no urut 1, Fauzan mengatakan bahwa dia merasa bingung, karena tidak diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada paslon lain. “Udah, tidak apa-apa. Ini sebagai pembelajaran bagi KPRM,” ungkapnya.

Tidak menanggapi hal itu, pihak KPRM melanjutkan ke sesi selanjutnya.

Debat publik yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) Universitas Mataram ini bermanfaat sebagai proses pembelajaran dan penalaran serta komitmen calon-calon Ketua BEM dan Sekretaris BEM terhadap visi dan misinya, dan agar mahasiswa membulatkan tekat menentukan arah pilihan Ketua dan Sekretaris BEM Unram.

“Debat publik ini, kami buat berbeda dan lebih terlihat menarik, karena menyinggung tentang ideologi mereka dan bagaimana infrastruktur di Universitas Mataram,” ucap Sulaiman Prawira, selaku ketua Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) Universitas Mataram 2019.

Ada 3 tema utama yg dibahas dalam debat publik ini, yakni pancasila, politik dan infrastruktur. Tema-tema tersebut merupakan hasil musyawarah dari KPRM dengan panitia dan mahasiswa umum, diangkat dari hal-hal yang masih panas di Universitas Mataram.

Sulaiman mengaku bahwa debat calon Ketua BEM dan Sekretaris BEM ini memiliki persiapan yang sangat singkat. Menurutnya, debat ini di luar dari ekspetasi. Sulaiman juga menjelaskan bahwa mempersiapkan debat ini tidak mudah.

Dalam debat ini, turut hadir Ketua Bem Unram 2019, Ormawa-ormawa dan mahasiwa umum Unram. (adk)

Dituntut Menyesuaikan Harga Pupuk, Kadis Pertanian dan Perkebunan NTB: Jika Ada Harga yang Tidak Sesuai, Laporkan Saja.

0

Media Unram – Himpunan Mahasiswa Suku Donggo Mataram (Himasdom) melakukan aksi demo mengenai beberapa tuntutan. Diantaranya adalah tuntutan untuk memberikan bibit jagung yang berkualitas bagi petani yang ada di Bima dan Dompu, pada Senin (19/11/19).

Pose saat masa aksi Himasdom menyampaikan aspirasi di depan Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB. (Foto: khn)

Aksi yang dilakukan di depan Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini juga menuntut agar pemerintah menyesuaikan dan memastikan harga pupuk di Kabupaten Bima dan Dompu sesuai dengan regulasi Harga Eceran Tertinggi (HET). Tidak hanya itu, Himasdom juga mendesak pemberhentian penjualan paket pupuk subsidi dan non subsidi yang ada di Kabupaten Bima dan Dompu.

Selain itu, masa yang berjumlah kurang lebih 50 orang ini juga menuntut agar pemerintah memperkuat sistem pengawasan dan kebijakan atas penyelamatan hutan lindung yang ada di Kabupaten Bima dan Dompu.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Husnul Fauzi, mengatakan bahwa pupuk urea sudah memiliki harga eceran yang jelas. “Pupuk urea subsidi sudah memiliki harga yang jelas dan resmi. Yaitu 1.800 (Seribu delapan ratus). Itu adalah harga jika petani mengambil pupuk ke penjual eceran,” ungkapnya.

Pose Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB saat menjumpai dan menyampaikan penjelasan kepada masa aksi (Foto: khn)

Fauzi juga mengatakan jika ada yang menjual pupuk kepada petani dengan harga yang tidak sesuai dengan harga yang sudah ditentukan, silahkan dilaporkan. “Mengenai dengan penjualan pupuk yang tidak sesuai harga ini, kami tidak toleran. Silahkan dilaporkan kepada pihak yang berwajib” lanjutnya.
Fauzi menjelaskan, bahwa untuk Kabupaten Bima dan Dompu memiliki jatah sebanyak 30.000 ribu. “Jadi selama musim hujan ini, 4 bulan kedepan untuk Kabupaten Bima dan Dompu sudah aman. Pemerintah Provinsi NTB juga meminta kepada pemerintah pusat agar menambah pupuk sebanyak 47.000 ton,” lanjut Fauzi.

Mengenai bibit jagung, Fauzi menjelaskan bahwa pada tahun 2020 – 2024, Gubernur NTB, Zulkifli, akan mengadakan produksi bibit mandiri. “Karena masalah kualitas bibit ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai, itu semua karena kita mendapatkan pupuk produksi daerah lain. Oleh karena itu, kita harus membuat bibit daerah sendiri, ” sambungnya.

Setelah menyampaikan aspirasi dan mendengarkan jawaban dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), masa aksi membubarkan diri dengan tertib pada pukul 11.40 WITA. (khn)

Mengurangi Sampah Plastik, BEM Unram Mengadakan ‘Unram Zero Plastik’

0

Mengurangi Sampah Plastik, BEM Unram Mengadakan ‘Unram Zero Plastik’

Media Unram – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mataram (Unram) melaksanakan kegiatan Unram Zero Plastik pada Senin, 18 November 2019 yang bertempat di depan UPT Perpustakaan Universitas Mataram.

Pose saat mahasiswa Unram berhasil mengumpulkan beberapa sampah yang ada (Foto: Adk)

Unram Zero Plastik merupakan salah satu program kerja BEM 2019 yang bertujuan untuk mengurangi adanya sampah plastik sekali pakai. Selain itu, kegiatan ini juga bermanfaat untuk menciptakan mahasiswa yang peduli akan lingkungan Unram, serta menciptakan lingkungan akademik yang bersih dan nyaman.

Unram Zero Plastik ini dirangkaikan dengan kegiatan menukar sampah dengan tumbler, serta mengisi ulang air minum dengan membawa tumbler masing-masing.
“Kegiatan ini bermanfaat untuk mahasiswa agar tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menggunakan plastik sekali pakai, dengan menggunakan tumbler sebagai solusinya,” ucap Afriadin, selaku penanggung jawab kegiatan.

Untuk sampah-sampah yang terkumpul dari kegiatan Unram Zero Plastik ini, nantinya akan ditimbang dan dijual ke pengepul atau bank sampah mandiri di Ampenan, hasil dari jualan sampah tersebut akan digunakan kembali untuk kas kegiatan selanjutnya. (adk)

Lagi, Himasos Mengadakan Olsogi. Kali ini MAN 1 Mataram Jadi Juara

0

Media Unram – Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) Universitas Mataram (Unram) kembali menggelar Olimpiade Sosiologi (Olsogi). Pada olimpiade ini, MAN 1 Mataram berhasil mendapatkan juara 1 dan mengalahkan 25 sekolah yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pemberian hadiah lomba oleh Dr. Saipul Hamdi S. Pd.I., M.A. (Foto: Tim)

Kegiatan yang dilaksanakan di gedung UPT Perpustakaan Unram ini diikuti oleh 25 sekolah. Dimana 4 sekolah yang berasal dari luar pulau Lombok atau lebih tepatnya pulau Sumbawa. Sisanya, sekolah yang berasal dari Mataram, Lombok Timur, Lombok Tengah dan Narmada.
Suasana peserta menjelang lomba olimpiade sosiologi (Foto: khn)

Diantara 26 sekolah ini, yang menjadi juara 1 adalah MAN 1 Mataram. Diikuti oleh SMAN 1 Sumbawa yang meraih juara 2 dan SMAN 1 Mataram sebagai juara 3.

Acara tahunan yang kerap dilaksanakan oleh organisasi mahasiswa sosiologi Unram kali ini melibatkan seluruh SMA/sederajat Provinsi NTB. Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, hanya melibatkan sepulau Lombok saja. “Alhamdulillah ada perkembangan kegiatan ini, dan kami akan terus berusaha agar kegiatan ini semakin berkembang,” ucap Lalu Tsani, yang juga Ketua Himasos. Tsani juga optimis, bahwa olsogi nantinya akan menjadi ajang besar hingga tingkat nasional.

Uniknya, olimpiade sosiologi yang diadakan oleh Himasos ini tidak pernah memiliki juara bertahan. Tiap tahunnya sekolah – sekolah yang mengikuti kegiatan ini, juaranya selalu berbeda – beda. Menurut Tsani, hal inilah yang menyebabkan olimpiade ini memiliki daya tarik tersendiri bagi peminatnya.

Tidak hanya itu, olsogi ini juga merupakan salah satu media untuk mempromosikan prodi sosiologi yang ada di Unram kepada sekolah yang ada, khususnya NTB. “Walaupun prodi ini baru berdiri 4 tahun yang lalu, tetapi sudah dua kali mencetak wisudawan/wisudawati terbaik di Unram,” ucap Ketua Prodi Sosiologi, Ir. Syariffudin, M. Si., dalam sambutannya. Orang yang biasa disapa Syarif ini juga yakin bahwa, prodi sosiologi bisa bersaing dan memiliki kapasitas yang sama dengan prodi – prodi yang ada di Universitas Mataram.

Ketua Prodi Sosiologi Unram, Ir. Syariffudin M, Si. saat memberikan sambutan (Foto:Tim)

Dalam acara yang dilaksanakan pada Sabtu, 16 November 2019 ini, diawali dengan dengan registrasi, kemudian pembukaan yang berisi sambutan – sambutan. Setelah itu, dilanjutkan dengan persiapan dan pelaksanaan olimpiade sosiologi.

Acara selanjutnya, seminar motivasi yang diisi oleh Ir. Saipul Hamdi, S. Pd.I., M.A. yang juga salah satu dosen sosiologi.

Usai melaksanakan seminar, para peserta diberikan waktu untuk istirahat sholat dan makan (ishoma), kemudian mengumumkan 10 dari 25 tim yang lolos untuk melanjutkan lomba debat. (khn)