30.5 C
Mataram
Tuesday, May 26, 2026
spot_img
Home Blog Page 18

MENILIK PERMASALAHAN KETIMPANGAN GENDER DI DESA ADAT SADE

0

Oleh : Dandy Ayub Prasetyo, Salsabila, Naiq Husna Daroja Liani, (Kelompok Pemerhati Sosial FHISIP UNRAM)

Mataram 12 November 2024 Anggota baru Kelompok Pemerhati Sosial FHISIP UNRAM merilis kajian cepat terhadap potensi permasalahan ketimpangan gender yang terjadi di desa adat sade. Kajian cepat ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pendidikan Dasar Ke-35 yang wajib dilakukan oleh calon anggota baru Kelompok Pemerhati Sosial FHISIP UNRAM sebagai media dalam melakukan transformasi wacana dan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat.

Dalam kajian cepat ini menilai bahwa desa sade memiliki budaya dan tradisi yang unik dan beragam yang harus dipertahankan dan diwariskan, akan tetapi terdapat budaya dan tradisi yang berpotensi menimbulkan ketimpangan atau diskriminasi berbasis gender, seperti budaya awiq-awiq dan tradisi nyesek (menenun)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan tradisi yang turun-temurun diwariskan untuk dilelstarikan oleh masyarakat. Budaya maupun tradisi lokal yang ada pada masyarakat indonesia tidak hanya memberikan warna percaturan kenegaraan tetapi berpengaruh pada keyakinan dan praktek-praktek keagaman masyarakat dan keberadaannya dijamin oleh konstitusi. Tradisi dan budaya merupakan sumber daya yang penting juga bagi sebuah masyrakat maka ia harus dipertahankan dan dilestarikan, akan tetapi hendaknya budaya dan tradisi tersebut tidak mengandung ketimpangan atau diskriminasi, seperti potensi ketimpangan atau diskriminasi berbasis gender.

Sade merupakan salah sutu dusun yang terletak di Desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masyarakat Sade merupakan salah satu komunitas masyarakat di Pulau Lombok yang masih mempertahankan dan memegang teguh budaya dan adat istiadatnya, hal itulah yang mendorong anggota kelompok pemerhati sosial untuk melakukan kajian cepat terhadap tradisi dan budaya yang berkembang di  sana, terutama terhadap budaya awiq-awiq dan tradisi nyesek (menenun).

Menurut Sawaluddin, dkk (2022), Awik-awik atau disebut juga tata krame yang dalam bahasa indonesia dikenal sebagai norma adat istiadat yang mengatur tentang kehidupan sosial masyarakat untuk menciptakan suasana hidup yang sahaja, beradab dan berbudaya. Lebih lanjut, awiq-awiq memilik peran penting dalam kehidupan masyarakat di dusun sade dan sampai saat ini masih dipegang teguh dan menjadi pandangan hidup masyarakat sade. Salah satu ketentuan awiq-awiq yang diterapkan adalah perempuan tidak diperbolehkan untuk bekerja diluar dan harus mmenetap di dalam desa tersebut, selain ituu perempuan juga tidak diperbolehkan untuk bersekolah diperguruan tinggi dan rata-rata perempuan disana hanya bersekolah sampai sekolah dasar, hal tersebut didasarkan dari pemikiran masyarakat dusun sade yang menganggap bahwa pendidikan tidak begitu penting karena sebagian masyarakat sudah mampu mencari uang karena wilayahnya termasuk daerah wisata.

Selain yang berkaitan dengan pendidikan, di dusun sade juga ada tradisi nyesek.Tradisi nyesek (menenun) menjadi tolak ukur kedewasaan dan makna tubuh bagi perempuan yang masih dilestarikan oleh masyarakat Suku Sasak Dusun Sade Kabupaten Lombok Tengah. Tradisi nyesek menjadi salah satu syarat menikah bagi perempuan. Tradisi ini menyebabkan terbatasnya aksesibilitas bagi perempuan dan mencerminkan adanya ketidaksetaraan di masyarakat.

Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan gender di Dusun Sade bukan hanya bentuk diskriminasi terhadap perempuan, tetapi juga merupakan konstruksi sosial yang telah lama tertanam melalui norma-norma adat dan tradisi. Untuk mencapai kesetaraan gender yang adil dan inklusif, diperlukan upaya yang tidak hanya mendorong perubahan pola pikir masyarakat, tetapi juga memberi akses lebih besar bagi perempuan dalam pendidikan dan kesempatan kerja, hal ini dilakukan demi terjadinya harmonisasi dan bentuk justifikasi dari amanat konstitusi Indonesia yang menjunjung prinsip kesetaraan hak bagi seluruh warganya​ tanpa memandang gender.

Selain itu, semoga masalah ini segera diperhatikan oleh pihak-pihak terkait, guna meneumkan solusi yang tetap mempertahankan warisan budaya dan tradisi sebagai kekayaan yang dapat mennggerakan perekonomian rakyat melalui desa adat wisata, tetapi juga tetap melaksanakan tugas pembebasan dan amanat konstitusi, bahwa setiap orang mimiliki hak yang sama di hadapan hukum, tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, suku, agama, ras dan antar golongan.

Suara Tan Malaka Untuk Mahasiswa

0

Oleh : Ozy

“Ingatlah bahwa dari dalam kubur, suaraku akan lebih keras dari pada di atas bumi”. Kata-kata dari Tan Malaka yang menjadi pembangkit jiwa para aktivis mahasiswa untuk berlawan dan menyampaikan kebenaran. Kata-kata itu seolah terbukti pada situasi dan kondisi sekarang di mana nama Tan Malaka menjadi idola bagi para aktivis pemuda mahasiswa yang sedang memperjuangkan kebenaran. Banyak karya-karya dan tulisannya yang di jadikan sebagai referensi dan relevan untuk berlawan. Sebut saja Aksi Massa, Gerpolek, Semangat Muda, Madilog dan masih banyak lagi karya-karyanya yang tetap eksis di kalangan aktivis mahasiswa.

Dalam bukunya yang berjudul Aksi Massa Tan Malaka menyampaikan bahwa dalam merebut hak-haknya baik itu kebutuhan politik maupun kebutuhan ekonomi rakyat harus menggunakan aksi massa dalam menggapai hak dan kebutuhannya. Baik itu mogok, demonstrasi ataupun kampanye. Tentu aksi massa yang di maksud Tan Malaka bukanlah aksi yang berupa putch atau  anarkisme belaka karena aksi-kasi seperti itu tidak akan menghasilkan suatu kemenangan bagi rakyat mala menghasilkan kekacauan dan menurunkan kepercayaan rakyat akan aksi massa.

Aksi massa yang di maksud adalah aksi yang berasal dari massa atau rakyat banyak yang terdidik dan terorganisir yang sedang mengalami satu persamaan nasib yaitu di hisab dan di tindas oleh suatu rezim atau kebijakan hasil dari sistem modal (kapital). Seperti kaum buruh yang di pangkas upahnya, petani yang di rampas lahannya, mahasiswa yang di mahalkan buaya pendidikannya dan semua golongan rakyat yang merasa resah akan suatu kebijakan yang di keluarkan oleh rezim. Untuk menyukseskan aksi massa dalam merebut hak dan tuntutan rakyat, rakyat arus bersatu dan tidak terpecah-pecah, buruh, tani, mahasiswa, dan semua golongan proletar harus menjadi satu kesatuan yang utuh dan memiliki sikap politik yang sama untuk melakukan perlawanan dan bangkit dari ketertindasan. Seperti yang dikatakannya dalam Aksi Massa “siapkan barisanmu dengan selekas-lekasnya! Gabungkanlah buruh dan tani yang berjuta-juta, serta penduduk kota dan kaum pelajar di dalam satu partai massa proletar”.

Bapak Republik Indonesia itu pun pernah menyampaikan bahwa dalam perjuangan kemenangan harus direbut secara 10p% oleh rakyat dengan carah menumbangkan si penindas tampa menggunakan metode lobi-lobi atau diplomasi. Karena dengan menggunakan metode diplomasi kemenangan yang diraih oleh rakyat hanya setengah karena ada proses tawar-menawar. Metode diplomasi hanya akan menghasilkan kesepakatan dari sak penindas dan si tertindas, dari hasil kesepakatan itu kemenangan yang di raih oleh rakyat (tertindas) hanya setengah dan si penindas masih memiliki kesempatan yang besar untuk menindas. Maka dari itu kemenangan bagi Tan Malaka harus 100% di raih oleh rakyat tanpa berdiplomasi atau bekerja sama dengan si penindas.

Mengingat Tan Malaka yang menjadi tokoh besar dalam gerakan dan banyak menjadi idola bagi para aktivis mahasiswa, apakah kondisi gerakan mahasiswa hari ini sesuai dengan apa yang ditawarkan oleh Tan Malaka?

Dengan kondisi gerakan mahasiswa hari ini yang berasal dari banyak latar belakang organisasi menjadikan gerakan mahasiswa terpecah-pecah akibat ego dari masing-masing organisasi. Masing-masing lembaga organisasi mahasiswa berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi organisasi. Seolah-olah dalam gerakan, organisasi mahasiswa saling bersaing untuk menunjukkan taringnya siapa yang lebih hebat. Padahal tujuan gerakan adalah untuk melawan segala ketertindasan. Tan Malaka sudah menyampaikan, untuk menyukseskan  kemenangan rakyat kita harus bersatu dalam satu kesatuan yaitu atas nama rakyat yang tertindas dan terhisab. Tidak lagi bicara saya dari organisasi ini dan itu. Tetapi kondisi sekarang mahasiswa yang seharusnya bersatu dengan rakyat kelas buruh, tani dan semua golongan rakyat masih mempertahankan ego masing-masing. Jangankan bersatu dengan rakyat dan golongan lain, antar sesama golongan mahasiswa saja kita masih terpecah-pecah. Bagaimana kita akan menggalang persatuan bila kondisi gerakan masih terpecah-pecah??

Selain berkotak-kotak, yang menjadi problem dari gerakan mahasiswa hari ini adalah banyaknya aktivis yang senang hati “menjilat muka para pejabat” dan menghianati gerakan itu sendiri. Banyak aksi-aksi besar terjadi dan orasi-orasi membara dari para aktivis bahkan mencaci maki para pejabat yang mengeluarkan kebijakan yang tak pro rakyat. Seolah-olah mereka sangat membenci dan ingin membumihanguskan para pejabat-pejabat korup yang anti rakyat, namun aksi-aksi besar dan orasi membara dari para aktivis, pasti ada tangan-tangan gelap bawah meja untuk berdiplomasi dan menghianati gerakan. Banyak di antara para aktivis yang bisa di katakan “oknum” yang berkoar-koar di jalan namun selepas aksi mereka bergandeng mesra dengan para pejabat di tempat-tempat kopi atau restoran dengan berbagai kesepakatan, tentu saja kesepakatannya untuk tak melanjutkan aksi. Hal semacam ini dijadikan hal lumrah bagi para aktivis (oknum). Selama ini masih terjadi , cita-cita Tan Malaka yang kita idolakan sangat mustahil akan terjadi. Jangankan untuk tidak tawar-menawar 50 50, tawaran yang dihasilkan malah untuk membiarkan para penindas tetap eksis dan di gantikan dengan amplop tebal dan masuk ke kantong pribadi sang oknum.

Mungkin saja apa bila Tan Malaka yang kita idolakan melihat situasi gerakan mahasiswa yang masih berkotak-kotak karna ego masing-masing dan tak mau bersatu dan juga masih banyak oknum aktivis yang menjilat muka para pejabat yang membeli otaknya dan menghianati gerakan, Tan Malaka mungkin saja akan berkata, “bakar saja buku-bukuku dan jangan lagi memajang posterku di didinding kamarmu”.

Aliansi Gerakan Perempuan NTB Adakan Mimbar Bebas di Mataram, Tekan Permasalahan Perempuan

0


Mataram, MEDIA— Aliansi Gerakan Perempuan NTB mengadakan mimbar bebas bertema “Tuntaskan Permasalahan Perempuan, Kami Menolak Dibungkam!” yang berlangsung di persimpangan Bank Indonesia, Kota Mataram.

Acara ini dilatarbelakangi oleh data yang mengkhawatirkan dari BPS, yang menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat mencatat tingkat perkawinan anak tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 17,32%. Selain itu, terdapat sekitar 400.000 kasus pelecehan dan kekerasan seksual di wilayah tersebut.

Listia, Menteri Pergerakan Perempuan BEM Universitas Mataram, mengungkapkan bahwa aksi serupa akan terus dilaksanakan untuk menekan pemerintah dan pihak terkait agar segera menuntaskan permasalahan perempuan di NTB dan seluruh Indonesia.
“selain aksi hari ini kita juga merencanakan aksi berikutnya dengan aliansi dan forum sehingga publik khususnya pemerintah lebih peduli dan memandang darurat permasalahan-permasalahan yang dihadapi perempuan saat ini” ungkapnya.

Listia juga menyampaikan bahwa aksi mimbar bebas ini terkait berbagai permasalahan yang dihadapi oleh perempuan dan menekankan pengesahan RUU PPRT.
“Aksi ini bertujuan menekankan pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT) serta menangani berbagai permasalahan perempuan di berbagai aspek.” Ujarnya.

Adapun beberapa poin tuntutan dalam mimbar bebas yang dilakukan oleh Aliansi Gerakan Perempuan NTB sebagai berikut:

  1. Mendesak pihak berwenang untuk segera menangani dan memberikan perlindungan yang optimal kepada korban kekerasan seksual serta menindak tegas pelakunya.
  2. Merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 agar lebih memperhatikan perlindungan perempuan dan anak, serta menghapus ketentuan yang merugikan.
  3. Mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) guna melindungi perempuan dari kekerasan domestik dan memberikan kepastian hukum bagi korban.
  4. Menuntut segera disahkannya RUU PPRT yang memberikan perlindungan hukum bagi pekerja rumah tangga, mayoritas dari mereka adalah perempuan.
  5. Menuntut upaya yang lebih serius untuk mencegah perkawinan anak, terutama pada anak perempuan, sebagai bentuk perlindungan hak asasi dan pendidikan anak.

Dengan aksi ini, Aliansi Gerakan Perempuan NTB berharap dapat meningkatkan kesadaran publik dan mendesak pemerintah untuk mengambil langkah nyata dalam menyelesaikan isu-isu yang dihadapi perempuan di Indonesia.


Aksi Mimbar Bebas ini terjadi pada tanggal 8 November 2024, pada pukul 14.00 WITA, yang dihadiri oleh berbagai macam elemen yang yang tergabung dalam aliansi Gerakan Perempuan NTB.(nxl)

Sport Center Unram Segera Dibuka, Mahasiswa Akan Dikenakan Tarif Pembayaran Tiket

0

Unram, MEDIA Sport Center Universitas Mataram segera dibuka tahun 2025 mendatang, mahasiswa dikenakan tarif pembayaran tiket untuk masuk. (13/11/2024)

Selain diperuntukkan untuk mahasiswa, Menurut Lalu Hijrah Saputra selaku perencana program dan tata laksana, Sport Center juga akan dibuka untuk umum dan akan dikenakan biaya sewa untuk masuknya. Penarikan tarif ini bertujuan untuk mendukung pemeliharaan fasilitas dan meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna.

“Tetap berbayar,” ujarnya.

Mengenai tarif pembayaran tiket masuk Sport Center, Hijrah membeberkan pengelolaannya menggunakan regulasi dan peraturan menteri.

“Di SK menteri itu aturannya untuk pemakaian aset di BMN (Barang Milik Negara) di bawah lembaga itu ada tarifnya.” Beber Hijrah.

Namun menurut Hijrah teruntuk mahasiswa dan civitas akademika Unram akan dikenakan pemotongan tarif pembayaran asal menunjukkan kartu identitas berupa KTM.

“Khusus mahasiswa dan civitas akademika bayarnya 50%.” ungkapnya.

Hijrah mengatakan bahwa jika mahasiswa tidak menunjukkan KTM, maka akan tetap dikenai biaya penuh bahkan untuk sekedar biaya parkir.

“Kalau mahasiswa nanti kita buatin aturan, walaupun dia mahasiswa tapi jika tidak menunjukkan KTM tetap dipungut biaya,” ucapnya.

Lebih lanjut ia katakan mengenai pengelolaan sport center jam operasionalnya terbatas, tidak dibuka selama 24 jam.

“Di hari biasa sampai jam 00.00 (Wita), tetapi di bulan puasa dibuka setelah tarawih sampai jam 03.00 (Wita)” pungkas Hijrah.

Dilain sisi, Beberapa Mahasiswa menyayangkan penarikan biaya di Sport Center, di antaranya mereka bahkan mengatakan tidak setuju dan menganggap penarikan biaya tersebut salah satu tindakan pungli.

“Kita kan bayar UKT, yang berarti untuk pembayaran di salah satu penggunaan fasilitas itu mungkin adalah suatu pungli, jika ingin adanya bayar terhadap Sport Center ini mungkin bisa kepada masyarakat di luar wilayah kampus yang di luar kategori mahasiswa.” Ungkap Ferdiansyah, salah satu mahasiswa Unram.

Salah satu Ormawa olahraga di Unram juga turut bersuara akan hal ini. Mereka berharap dengan kehadiran sport center ini dapat menjadi wadah untuk mahasiswa mengembangkan minat dan bakat dalam bidang olahraga. Oleh karena itu memiliki harapan besar agar fasilitas Sport Center digratiskan, khususnya untuk ormawa olahraga agar tidak menyewa lapangan di luar.

“Mungkin bisa diberikan jadwal gratis juga untuk ormawa-ormawa olahraga tiap fakultas agar kita bisa lebih mengembangkan lagi skill kita dibidang yang sesuai dengan fungsi sport center ini,” ujar Lalu Dodi Nike Lauda selaku Ketua Umum SPORTEK Fakultas Teknik Unram.

Diketahui, Proyek yang telah direncanakan sejak 2021 ini bertujuan sebagai salah satu syarat peningkatan akreditasi kampus dan diharapkan dapat meningkatkan fasilitas olahraga bagi mahasiswa di Universitas Mataram.

Pembangunan ini mencakup berbagai fasilitas seperti gym center, lapangan olahraga seperti volly, tenis, basket dan futsal serta kolam renang anak dan dewasa bahkan dilengkapi pula dengan coffee shop. (Nad, Iwn)

12 Tahun Masyarakat Krisis Air Bersih Akibat Tambang, PJ Gubernur Takut Temui Masa Aksi

0

Mataram, MEDIA—Aliansi Masyarakat peduli Lingkungan lakukan aksi tuntut penutupan Tambang-tambang Galian C yang merusak lingkungan yang berdampak ke tujuh desa yang mengakibatkan krisis Air Bersih selama 12 tahun Terakhir, Kamis, (31/10).

Tambang Galian C ini tersebar di beberapa desa dan menimbulkan dampak krisis air bersih di tujuh desa yang terdampak. Akibat limbah tambang yang di alirkan ke sungai ini berdampak ke banyak aspek mulai dari pertanian, perkebunan, pendangkalan Air, kesehatan masyarakat.

Dari penuturan salah seorang masa aksi bawa 12 tahun sudah mereka tidak menam padi dan hasil dari perkebunan mereka juga menurun drastis, selain itu juga menimbulkan banyak yang sakit akibat debu-debu pertambangan.

“Sudah 12 tahun kami tidak pernah menanam padi kerena sumber air yang sudah terkena limbah tambang, selain itu yang dulunya saya bisa bisa panen 1000 butir kelapa sekarang hanya 100 butir kelapa”. Tutur salah seorang masa aksi.

Sebelum masyarakat melakukan demostrasi di kantor Bupati Lombok Timur, setelah itu beberapa tambang sudah pernah ditutup dan selama seminggu aliran air sungai bersih, Namun itu tidak bertahan lama.

Setelah beberapa bentrokan didepan kantor gubernur, Pj Gubernur tidak kunjung menemui masa aksi, Masa Aksi sempat mecoba untuk masuk ke kantor gubernur. Yang keluar menemui masa kasi adalah Asisten II Setda, Dr. H. Fathul Gani M.Si.

TUNTUTAN KEPADA GUBERNUR

  1. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj Gubernur) untuk segera menutup total secara permanen semua tambang galian C yang legal yang berada di seluruh wilayah di Kabupaten Lombok Timur.
  2. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj. Gubernur) untuk menindak semua oknum pejabat yang ikut bermain di semua instansi pemerintahan yang berkaitan dengan tambang (ESDM dan DLHK).
  3. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj. Gubernur) atas tambang galian C yang yang berizin dalam waktu 2X24 jam sampai kami mendapat kepastian hukum dan jaminan dari apa yang telah diamanatkan oleh Undang-undang di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  4. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj. Gubernur) untuk menertibkan dan mencabut izin bagi para penambang yang melanggar SOP dan AMDAL. serta aturan lainnya yang telah di atur dalam Undang-undang di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  5. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj. Gubernur) untuk mereklaması lingkungan dan alam yang rusak sebagai dampak limbah tambang galian C selama 12 tahun.
  6. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj Gubernur) untuk memberikan sangsi hukum dan denda sebagaimana telah di atur dalam amanat Undang-undang di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  7. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB (Pj, Gubernur) untuk memberikan ganti rugi kepada semua desa terdampak oleh limbah tambang galian C selama 12 tahun.

Setelah pembacaan tuntutan oleh korlap Aksi, Dr. H. Fathul Gani M.Si menyampaikan bahwa dari pihak birokrasi menerima tuntutan masa aksi dan akan dikawal permasalahan ini sampai selesai.

“kami terima tuntutan ini dan kami akan kawan masalah ini, hari Senin saya akan langsung menuju lokasi ini merupakan konsekuensi dari apa yang sudah kami tanda tangani hari ini” ucapnya.

Lalu Umam, selaku korlap aksi merasa sangat kecewa kepada PJ Gubernur kerna tidak kunjung keluar menemui masa aksi, padahal yang kami inginkan hanya berdiskusi dengan beliau terkait masalah ini.

“kami sangat kecewa kepada Pj Gubernur yang tidak menemui kami, kami sudah jauh-jauh datang dari lombok timur dan surat yang kami masukan sudah 14 hari” ungkapnya.

Jumlah masa aksi yang turun hampir 2000 orang, yang datang dengan 50 mobil seperti Truk, Dam, Pik Up, Sedan dan lain-lain.Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan ini terdiri dari 7 desa antara lain Desa Korleko Induk, Desa Korleko Selatan, Desa Tirtanadi, Desa Bandok, Desa Anggaraksa, Desa tanah Gadang, Desa Teko.(albn)

Kisah Dadap, PIK, dan Pembangunan Sosial yang Gagap

0

Ada 3 mode yang bisa digunakan dalam menjalankan urusan kepublikan: statisme, voluntary exchange, dan intimasi. Pembangunan Sosial merupakan mode statisme, yang mengandaikan hirarki berlapis negara.


*
SAMPAH warga sekarang ditampung grup dari Pemda DKI. Mereka tak minta bayaran. Tak ada layanan sampah dari Pemkab Tangerang. Karang Taruna setempat mau angkut sampah asal pelanggannya di atas 50 orang, baru ongkosnya cukup. Tapi ibu-ibu setempat sudah bisa milah sampah, plastiknya bisa dijual, lumayan. Yang anorganik, ada Empang, jadi bisa buat pengurugan. Ada potensi koperasi perempuan pesisir bisa usaha sampah.

AIR BERSIH. Sekitar 80 meter pipa PDAM yang rusak, bocor disana sini, tak kunjung diperbaiki. Sekelompok orang memanfaatkan situasi tsb, membangun bak penampung dengan persetujuan PDAM, dan mulai menjual air bersih kepada warga. Perlu PDAM itu perbaiki pipanya, agar tak berat kami beli air.

UNTUK SANITASI. Warga membuang kotoran langsung ke kali. Drainase tidak ada. Setelah tanggul dibangun, airnya lebih tinggi (elevasinya dari air sungai di kampung. Itu sebabnya warga disitu mau digusur. Nanti di ujung dibangunkan kolam penampung, akan pake sistem pompa untuk buang air ke laut.

Pengalaman, didukung UIN Sunan Gn Jati Cirebon, dulu memang pernah ada program bantuan toilet jongkok belasan ribu dari Baznas Kemarin sudah komunikasi dengan Baznas urusan lain, besok kita bisa minta jamban saja.

20an KK yang kena gusuran, kami sudah setuju untuk pindah ke tanah timbul yang disiapkan Pemkab. Tapi entah gimana ceritanya, tiba-tiba saja sudah ada perusahaan yang mengklaim itu punya mereka, padahal tanah timbul itu sejak 30 tahun terakhir kosong. Akhirnya warga belum mau pindah karena status lahan tidak jelas. Jalur jalan dan area doking kapal plus bongkar-muat tangkapan ikan belum bisa dilanjutkan.


*
PIK datang. Sekarang PIK 2 jadi PSN. Saya berdiri di atas tanggul melihat jalan tol yang belum selesai. Pada ujung jembatan tol tsb, nanti akan bertemu dengan jalan keluar ke area pintu masuk di depan. Karena warga menolak pindah, air tergenang tinggi dan sampah plastik berserakan di pemukiman warga, baunya busuk. Di sebelah kiri kumpulan ibu-ibu mengupas kerang, itu area milik warga setempat, aslinya orang Parean, tinggal di Kamal.

Setelah PIK ada. Tak boleh cari ikan di sekitar, pinggiran. Kemarin baru saja 2 perahu nelayan ditangkap Satpam PIK. Limbah pabrik dulu cuma liwat, sekarang banyak dan menetap disini.

Tangkapan ikan nelayan berkurang 70 persen. Ongkos melaut naik. Proporsi biaya: 75 persen solar, 25 persen untuk logistik. Cari BBM susah, SPBU jauh, sewa gojek Rp 20.000.


*
Seseorang yang cukup senior bercerita soal ini.
“PIK datang era Bupati Ismed. Mereka minta ketemu. Saya tahu, pengusaha itu bukan mau berantem. Dia punya uang, dia mau beli saja. Akhirnya mereka tak jadi masuk Dadap. Tapi saya kalah karena Desa Dadap berubah status jadi kelurahan. Kena dibayar BPD nya. Di wilayah lain warga kena gusur. Ismed diganti Zaky.

Saat ketemu Rizal Ramli saat itu, saya tahu, sebagai Menteri dia (sudah) berpihak, tapi belum bertindak.
Perlawanan agraria akhirnya harus melalui jalur hukum, dan seperti biasa kita pasti kalah.
Metode advokasi kebijakan berbasis bukti seperti ini jauh lebih menjanjikan. Dengan jalur perlawanan, tingkat kehilangan orang, tinggi. Bisa 80 persen. Kalo ini, paling ilang sedikit, nambah lagi sedikit.”


*

Pembangunan sosial adalah statisme. Antitesa untuk pembangunan ekonomi berorientasi pasar bebas a la Rostow dkk yang mengandaikan kesejahteraan otomatis bisa tercipta bila pertumbuhan ekonomi berlangsung dan trickle down effect terjadi. Segelintir orang tambah makmur, dan sebagian besar harus tabah menunggu tetesan.


Mengambil etosnya dari Myrdal, ia memajukan kebijakan terencana jangka panjang oleh state alih2 kerja sosial berbasis proyek para pekerja sosial. Berlaku universal, inklusif, partisipatif. Migley bilang, pembangunan sosial mensyaratkan adanya investasi sosial.


*

Pada kasus Dadap, persoalan WASH yang dialami warga 3 RW, menunjukkan tidak bekerjanya statisme. Pembangunan sosial di Dadap menjadi gagap untuk menjawab kesejahteraan sosial.

Agar menang (bertahan dalam seleksi sosial; darwinism), orang-orang bersekutu untuk mencapai tujuan. Mode voluntary exchange (pertukaran sukarela) dan intimasi secara berangsur mengambil posisi mengganti statisme. Dalam kata lain, dua mode ini yang beralas konstruk teori yang berbeda bisa menggantikan Statisme. Pertukaran Sukarela biasanya digunakan di sektor bisnis. Intimasi berbasis kedekatan sebagai anak negeri (satu kampung, seorganisasi, satu alumni, segurungaji, dsb).

Keinginan untuk menang bisa memaksa orang-orang untuk menggunakan metode yang salah dalam menyelesaikan urusan publik. Salah satu pendukungnya: dengan berganti identitas secara mudah. Pagi ini saya seorang pengusaha yang seharusnya ikut tender agar bisa jadi pelaksana proyek pemda, sebentar petang saya adalah ponakan walikota yang kebetulan kontraktor. Intimasi mengalahkan Statisme.

Saya masih bekerja mendorong State hadir. Kami belajar HAM. Belajar soal hak warga dalam pelayanan publik. Belajar soal SPM dan SDGs. Belajar anggaran. Belajar advokasi.
Bersama warga buat bukti melalui audit sosial, membawa mereka masuk ke arena kebijakan, menunjukkan mereka titik lemah sistem yang mesti diperbaiki, dan bersama mereka mendekonstruksinya.


–Ervyn Young, 29 Okt 2024.

Enam Mahasiswa jadi Tersangka Perusakan Gerbang, Aliansi Rakyat NTB Melawan Lakukan Aksi Tuntut Cabut Laporan

0

Mataram, MEDIA—Setelah Enam Mahasiswa di tetapkan sebagai tersangka dalam perusakan Gerbang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Barat (NTB), Aliansi Rakyat NTB Melawan lakukan aksi demontrasi di depan kantor DPRD NTB tuntut pencabutan laporan, Rabu, (16/10).

Aksi ini merupakan aksi bentuk protes terhadap penetapan tersangka dalam kasus perusakan gerbang DPRD NTB pada saat Aliansi Masyarakat NTB Melawan melakukan aksi kawal putusan MK pada 23 Agustus 2024 lalu.

Sebelum aksi ini dilakukan pada malam harinya Aliansi Masyarakat NTB Melawan telah melakukan Aksi Simbolik untuk mengajak mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat untuk melakukan Aksi hari ini.

Setelah beberapa perwakilan lembaga menyampaikan orasi Ilmiahnya, Ketua DPRD NTB belum juga keluar menemui mahasiswa dan yang keluar menemui Hamadan Kasim dari Fraksi Golkar dan Ali Al-Khairi dari Fraksi Gerindra.

Kedua Perwakilan dari Fraksi Golkar dan Fraksi Gerindra ini masuk kembali setelah beberapa penyampaian orasi oleh mahasiswa yang ditetapkan jadi tersangka dan beberapa negosiasi supaya ketua DPRD yang keluar langsung menemui masa aksi.

 Pada Akhirnya kedua Fraksi ini menerima penyampaian Aspirasi oleh masa Aksi dan mendengar pembacaan beberapa poin tuntutan sebagai berikut :

  1. Menuntut dan mendesak DPRD NTB untuk mencabut laporatn terrhadap masa aksi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakt NTB Melawan pada Aksi Demontrasi pada tanggal 23 Agustus 2024.
  2. Menuntut dan mendesak DPRD NTB untuk menghentikan tindakan Kriminalisasi dan intimidasi baik terhadap masa aksi maupun masyarakat umum yang membela Haknya.
  3.  Menuntut dan mendesak DPRD NTB untuk menghentikan tindakan pembungkaman penyampaian Aspirasi masa aksi maupun masyarakat umum yang membela haknya.

Hamdan Kasim dari Fraksi Golkar menyampaikan untuk tuntutan pencabutan laporan nanti harus diskusikan terlebih dahulu dan dia sendiri tidak bisa mencabutnya secara langsung.

“kami tidak punya kewenangan intervensi proses hukum, tapi dalam waktu dekat ini ibu ketua DPRD berkordinasi untuk bertemu Forkopimda terkait dalam pembahasan masalah ini” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut Yudiatna Dwi Sahreza, Sekjen BEM Unram sangat kecewa karena ketua DPRD tidak bisa menemui masa aksi yang sudah menunggu dan berpanas-panasan.

“Tentu ada rasa kecewa melihat Ketua DPRD NTB tidak menemui Masa Aksi” Ungkapnya.

Yudi juga menabahkan bila nantinya DPRD tidak mencabut laporan tersebut maka Aliansi Masyarakat NTB Melawa akan menghadirkan masa lebih besar lagi.

“nantinya jika laporan tidak dicabut kami akan terus melakukan gerakan perlawanan yang lebih besar dan melakukan galang solidaritas dari semua pihak baik dari dalam kampus maupun luar kampus” ujarnya.

Aksi dimulai pada 13.00 sampai dengan 16.20 Wita yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat NTB Melawan. (Albn/Srh/Nxl)

Pendidikan Menentukan Bonus Demografi dan Bencana Demografi

0

Oleh : Hadid


Pada dasarnya pemerintah selalu meagungkan yang namanya Bonus Demografi, secara optimis pemerintah menginformasikan di berbagai media-media, upaya tersebut agar masyarakat mengetahui dampak dari bonus demografi. Dalam pandangan pemerintah sendiri, hadirnya bonus demografi membawa dampak yang sangat positif untuk membangun Indonesia dalam berbagai sektor terutama dalam sektor ekonomi. Perlu kita ketahui Apa Yang dimaksud Dengan Bonus Demografi? Bagaimana Dampak Bonus Demografi bagi Negara Indonesa?. Dengan pertanyaan sederhana seperti itu, kita bisa mengkaji dan mengetahui apa dampak sebenarnya dengan adanya bonus demokrafi dan masyarakat juga perlu tau apa saja keuntungan dan kerugian yang di dapat hadirnya bonus demorafi tersebut.


Bonus demografi adalah kondisi ketika populasi usia produktif mampu mencukupi kehidupan mereka sendiri bahkan menopang mereka yang tidak lagi produktif. Oleh karena itu, hal ini akan berdampak langsung pada kondisi ekonomi negara. Perekonomian dan kesejahteraan akan membaik bahkan meningkat. Bonus demografis yang dimana rata-rata populasi suatu negara lebih banyak usia yang produktif ketimbang usia yang non produktif, yang dimaksud dengan usia produktif dimana suatu negara memiliki rata-rata populasinya berusia 15-60 Tahun.


Dengan adanya dampak seperti itu, suatu negara bisa memanfaatkan keuntungan dalam meningkatkan ekonomi yang disebabkan oleh penurunan rasio ketergantungan sebagai hasil proses penurunan kematian bayi dan penurunan fertilitas dalam jangka panjang. Suatu negara harus bisa memaksimalkan sebelum terjadinya dari dampak bonus demografis tersebut.


Jika dalam suatu negara tidak bisa memanfaatkan pra-bonus demografis, seperti dalam meningkatkan kualitas pendidikan, maka bisa dikatakan negara tersebut telah menyia-nyiakan keuntungan dari dampak bonus demografis. Sektor pendidikan sangat menentukan manfaat dari adanya bonus demografis, seperti yang kita ketahui bersama bahwa pendidikan merupakan dasar dalam meningkatkan kualitas masyarakat suatu negara, bisa kita jandikan salah satu contoh ketika Jepang di luluhlantahkan oleh Amerika Serikat, yang dimana Kaisar Hirohito pada saat itu menanyakan berapa guru yang masih hidup. Kenapa Kaisar Hirohito tidak menanyakan berapa sisah pasukan yang ada. Karena Kaisar Hirohito mengetahui dengan adanya guru bisa meningkatkan kuliatas berfikir masyarakat jepang yang mengalami kekalahan pada waktu Perang Dunia ke II pada saat itu. Dan sekarang jepang kita bisa saksikan bersama bagaimana kemajuan negara jepang.


Dengan memajukan kuliatas pendidkan, Masyarakat dengan sendirinya mampu bersaing secara sehat dalam berbagai bidang, Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara pernah berkata “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat. Pada dasarnya pendidikan akan melatih dan membentuk bagaimana perkebangan kualitas manusia itu sendiri. Yang dimana kita ketahui bersama bahwasan pendidikan moral yang terutama kita tingkatkan. Kerena dengan moral yang didik secara maksimal manusia bisa menjadi lebih bertanggung jawab apa yang akan dilakukan kedepannya nanti. Oleh sebab itu penting sekali pendidikan moral dalam pekerbangan kualitas Manusia itu sendiri.


Bangsa dikatakan maju kita moral Masyarakat sudah terdidik dengan baik, bisa kita ambil salah satu contoh dari Negara Jepang lagi, yang diamana di sana ketika mengantri saja tidak ada desak-desakan, karena masyarakat disana mengetahui bagaimana pentingnya budaya mengantri dan tidak boleh mendahului orang yang sudah mengantri sedari awal. Ini menunjukan bahawasan moral dan etika itu penting sekali untuk di dalam dunia pendidikan dan tertanam betul dalam lubuk hati pada Masyarakat tersebut. Ini adalah salah satu contoh bagaimana pentingnya pendidikan dalam menentukan suatu Bangsa itu maju atau tidaknya.


Kita melihat sekarang di Negara Kita tercinta Negara Indonesia, kita ketahui bersama bagaimana dalam bidang pendidikan kita, setiap pergantian pemerintahan, sistem pendidikan kita pasti diganti pula, tidak ada konsistensi terhadap sistem pendidikan, yang terjadi kita kebingungan dalam melaksanakan suatu metode pendidikan yang layak bagi kita sendiri, banyak sekali kasus-kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan kita akhir-akhir ini, kita mendengar sama-sama di media sosial Murid tidak lagi menghargai Guru, Murid tidak mengetahui Negara-Negara di benua Eropa, Guru yang dipaksa untuk mengisi kuesioner-Kuesioner yang banyak manipulatif padahal yang terjadi dilapangan sangat berbeda, yang tidak lagi menfokuskan cara mengajar yang baik untuk anak didiknya. Dan banyak sekali kasus-kasus yang lain.


Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini membuat kita prihatin terhadap kualitas Masyarakat Indonesia, pendidikan menjadi sektor utama dalam menentukan majunya suatu bangsa, tapi dengan melihat kondisi dunia pendidikan kita, kitapun merasa pesimis, apalagi indonesia akan menghadapi demografi, yang dimana kita ketahui bersama bahwasan demografi sangat menentukan suatu bangsa maju, dengan mengunankan istilah bonus demografi, secara umum, bonus bisa dikatan adalah hadiah yang sangat bermanfaat. Apalagi Indonesia negara dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Apakah Indonesia Mendapatkan Bonus Demografi atau Bencana Demografi ?

Sekian pemaparan penulis terhadap perkembangan dunia pendidikan dan kita menghadapi demografi pada Tahun 2030 nanti. Terima Kasih….

Penderitaan Superfisial dan Bagaimana Kejahatan Bisa Dibenarkan : Resensi Buku Kejahatan dan Hukuman (Crime and Punishment)

0

Oleh : M. Zahiruddin

Deskripsi buku

Judul buku          : Crime and Punishment

Penulis buku      : Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky

Penerbit              : Penguin Classics

Tahun terbit       : 1866, Terjemahan pertama diterbitkan oleh Viking pada tahun 1991, diterbitkan di Penguin klasik 1991, diterbitkan kembali dengan revisi 2003.

Penerjemah       : David Mcduff

Tebal halaman   : 727 halaman

Genre                : philosophical, psychological

ISBN                  : 978-0-141-90835-9

Crime and punishment merupakan salah satu mahakarya dari Fyodor Dostoyevsky yang tergolong dalam sastra klasik dalam hal ini sastra Rusia. Mengisahkan tokoh bernama Rodion Romanovich Raskolnikov, seorang mahasiswa hukum yang  terpaksa menyudahi kuliahnya lebih cepat lantaran mengalami kesulitan finansial. Berlatar pada era pra-revolusi sekitar tahun 1800-an di Sant Petersburg, Rusia.

Dostoyevsky merangkul campuran linguistik kompleks yang melekat dalam sastra Rusia pada novel ini. Ia mengajak pembaca memakai sudut pandang psikologis dan filosofis untuk  menyelami kegelapan dalam diri manusia. Bagaimana orang-orang yang mengalami kesengsaraan dan penderitaan superfisial (dalam hal ini kemiskinan) kehilangan nilai-nilai spiritualitas mereka.

Dostoyevsky juga menyampaikan reaksinya terhadap kaum-kaum nihilis yang berkembang di kalangan pemuda radikal era itu. Hal ini ia sampaikan melalui penggambaran sang tokoh utama yang mengalami dilema eksistensial mengenai arti atau makna hidup itu sendiri. Ia ingin menunjukkan kepada pembaca apa yang menyebabkan hilangnya iman kepada Tuhan dan diabaikannya landasan moral dalam hidup.

Secara keseluruhan dalam resensi ini saya ingin menjabarkan bagaimana sinopsis dari novel ini, bagaimana kesengsaraan dan penderitaan superfisial mampu menyebabkan manusia tergerus jauh ke dalam kegelapan diri hingga mengabaikan nilai-nilai moral dalam hidup. Serta bagaimana manusia mampu abai terhadap moralitas kemudian membenarkan tindakan jahatnya.

Sinopsis

Rodion Romanovich Raskolnikov merupakan mahasiswa hukum yang harus menyudahi perkuliahannya di Universitas lebih cepat, dikarenakan mengalami kesulitan finansial untuk membayar biaya pendidikannya.  Ia tinggal di apartemen kumuh nan sempit di daerah Sant Petersburg, Rusia. Raskolnikov yang dibiayai oleh ibunya seorang pensiunan pegawai dan adik perempuan seorang pengasuh, harus hidup melarat dan kotor jauh dari keluarga.

Untuk melangsungkan hidup, Raskolnikov harus rela menggadaikan barang-barang berharga peninggalan mendiang ayahnya kepada seorang wanita tua pemilik apartemen sebelah bernama Alyona Ivanovna. Wanita tua itu sangat dikenal di daerah sekitar tempat Raskolnikov tinggal. Ia dikenal karena kekayaannya dan bagaimana ia begitu kejam terhadap para penggadai dengan menaikkan harga tebus beberapa kali lipat jika mereka telat dalam menebus barangnya. Wanita tua tersebut juga dikenal karena perilakunya yang tidak adil dalam memperlakukan adik tirinya yang bernama Lizaveta. Ia memperlakukan Lizaveta sebagai pesuruh, juru masak, dan tukang cuci di kediamannya sendiri. Ia bahkan sudah menuliskan surat wasiatnya agar harta kekayannya disumbangkan ke salah satu Biara tanpa meninggalkan sepersen apa pun kepada Lizaveta.

Berangkat dari permasalahan finansial, dan melihat bagaimana wanita tua tersebut menimbun kekayaannya yang begitu dibenci oleh orang-orang sekitar tempat tinggalnya, Raskolnikov akhirnya memutuskan untuk membunuh wanita tua tersebut, kemudian merampas aset dan kekayaannya untuk digunakan melanjutkan perkuliahannya. Ia merasa bahwa tindakan ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarga atau dirinya dari kemiskinan.

Pada akhirnya Raskolnikov mengunjungi wanita tua tersebut dengan kedok menggadai barang lagi. Raskolnikov kemudian membunuh wanita tersebut dengan cara menghantam kepalanya menggunakan kapak hingga tengkorak kepalanya pecah. Setelah membunuh wanita tua tersebut, Raskolnikov segera merampas semua aset dan barang berharga milik wanita tua tersebut. Ketika sedang mengambil barang berharga dari wanita tua tersebut, tanpa Raskolnikov sadari tiba-tiba Lizaveta yang malang kembali ke Apartemen. Dan apa yang seharusnya tidak direncanakan Raskolnikov adalah harus membunuh Lizaveta dengan cara yang sama seperti wanita tua tadi.

Pasca pembunuhan tersebut, Raskolnikov mengalami demam, menggigil, dan rasa gemetar yang luar biasa. Sepanjang cerita Raskolnikov menunjukkan gejala kegilaan dalam dirinya, ia tiba-tiba akan bicara sendiri, mengalami delirium yang aneh, bahkan sangat anti sosial dan terus ingin menyendiri.

Raskolnikov harus menanggung penderitaan akibat dari tindakannya sendiri, selama merasakan demam dan delirium yang berkepanjangan ia dirawat oleh sahabatnya bernama Razumikhin dan seorang dokter muda bernama Zosimov. Namun Raskolnikov tidak pernah mau diperlakukan baik oleh Razumikhin dan Zosimov, ia lebih memilih menyendiri, dan tidak pernah mau menemui siapa pun bahkan Ibu dan Adeknya yang sudah jauh-jauh berkunjung ke Kota tempatnya tinggal.

Raskolnikov seakan tak hidup akibat penderitaan, dan rasa bersalah yang timbul pasca pembunuhan tersebut. Sepanjang cerita ia digambarkan begitu menderita, terkucilkan, bahkan hilangnya hasrat hidup akibat dari tindakan yang ia lakukan sendiri. Ia akan menghabiskan waktunya untuk merenung, bicara sendiri, jalan sendirian tengah malam, dibarengi dengan demam dan mengigil yang luar biasa. Ia juga tak jarang akan dihantui oleh pikirannya sendiri melalui mimpi-mimpi aneh yang dialaminya.

Penderitaan superfisial

Penderitaan superfisial dalam hal ini kemiskinan (meski tidak ringan) menjadi pangkal masalah yang mengantarkan kepada penderitaan yang mendalam dalam novel ini. Berawal dari kemiskinan secara ekonomi yang bukanlah suatu hal asing bahkan bagi sang tokoh utama, ia bahkan menjalani hidupnya dengan begitu miskin dan kotor. Namun meskipun miskin, sang tokoh utama digambarkan sebagai sosok yang dermawan dan iba.  Raskolnikov pada dasarnya adalah sosok yang selalu merasa iba dan merasakan penderitaan orang lain secara mendalam. Ia bahkan rela memberikan sisa uangnya kepada wanita yang baru ia jumpai di jalanan karena diduga menjadi korban pelecehan pria brengsek di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga bahkan dengan suka rela membantu dan menguras sisa dompetnya kepada lelaki tua pemabuk yang hidup keluarganya sangat begitu miskin dan melarat.

Namun kemiskinan ekonomi tersebut akan berubah dan memburuk menjadi kemelaratan (destitution). Hal inilah yang akan menjadi titik awal Raskolnikov melancarkan kejahatannya, kemudian dihantui rasa bersalah dan kegilaan pribadi. Dosa yang ia pilih sendiri ini kemudian mengantarkannya pada neraka pribadi, “penderitaan yang disebabkan diri (self-inflicted suffering)”: ia tidak bisa hidup dengan dirinya sendiri.

“Kemiskinan bukanlah kejahatan, itulah kebenarannya… Tetapi kemelaratan, Bapakku terkasih, kemelaratan adalah kejahatan, Pak. Dalam kemiskinan engkau masih mungkin mempertahankan segala keagungan dari perasaan yang bawaan lahir, tetapi dalam kemelaratan: tidak ada yang mampu.” 

Berawal dari kemiskinan yang memburuk menjadi kemelaratan, Dostoyevsky mengajak pembaca menyelami titik tergelap dalam hidup manusia. Kemelaratan yang menimbulkan reaksi menyimpang atau tindakan jahat kemudian berubah menjadi rasa bersalah dan penderitaan diri yang sangat mendalam. Sang tokoh utama mengalami penderitaan diri sendiri yang luar biasa membuatnya seakan ‘tidak hidup’ akibat dari tindakannya sendiri.

Sepanjang cerita Raskolnikov digambarkan sangat anti sosial, ia bahkan secara sengaja menyeret orang lain ke dalam kebohongan yang ia buat sendiri mengenai kasus pembunuhan tersebut. Bukan hanya menderita secara psikis, Raskolnikov juga menderita dan begitu lemah secara fisik. Demam, menggigil kedinginan, pusing, lemas, rapuh bahkan sampai ke tulang-tulangnya.

Kejahatan yang dibenarkan

Raskolnikov yang menderita akibat dari neraka pribadinya justru malah digambarkan tetap otentik dengan kepribadian sombongnya. Ia yang mengalami dilema eksistensial akan makna hidup (nihilis)  hingga membuatnya mengasingkan diri dan menganggap dirinya paling sadar akan hidup seolah berbeda dari orang lain pada umumnya.

Menurut Raskolnikov ada dua jenis manusia di dunia ini, orang biasa dan orang luar biasa. Ia dengan terang dan jelas membagi dua kategori manusia ini.

Kategori manusia rendah (yaitu orang biasa), yaitu untuk mengatakan bahan mentah yang berfungsi secara eksklusif untuk mewujudkan sesuatu yang lebih seperti dirinya, dan kelompok orang lain (luar biasa) yang memiliki bakat atau bakat untuk mengatakan sesuatu yang baru di lingkungan mereka sendiri.”  

Manusia biasa yang dimaksudkan di sini ialah manusia yang bersifat konservatif, tenang, hidup dalam ketaatan, kemapanan, dan suka dipatuhi. Ia beranggapan bahwa golongan manusia biasa ini memang sudah seharusnya untuk taat karena itulah fungsi mereka dan tidak ada hal yang merendahkan mereka. Sedang kategori manusia luar biasa ialah manusia pemberontak, melanggar hukum, perusak, atau memiliki kecenderungan seperti itu tergantung kemampuannya.

Menurut Raskolnikov manusia luar biasa ini adalah penjahat, namun tindakan jahatnya tersebut akan selalu dibenarkan karena memiliki dampak yang lebih baik bagi kebanyakan orang. Ia bahkan menyebut Lycurgus, Solons, kaum Mahomet, Napoleon, dan seterusnya sebagai penjahat demi keberlangsungan hidup umat manusia.  Kejahatan yang dilakukan orang luar biasa ini tentu saja bersifat relatif dan beragam; sebagian besar yang mereka tuntu ialah penghancuran realitas saat ini demi kepentingan yang lebih baik. Tetapi jika orang tersebut merasa perlu, demi gagasannya, untuk melangkahi mayat, melewati genangan darah, maka dalam hati nuraninya dia dapat mengizinkan dirinya untuk melakukannya, selalu dengan memperhatikan sifat ide dan dimensinya.

Orang luar biasa ini adalah orang yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya yang mampu mengeluarkan gagasan baru terkait kehidupan. Karena mampu mengeluarkan gagasan baru, orang-orang ini secara tidak langsung akan lebih superior dari orang biasa pada umumnya.

Raskolnikov beranggapan bahwa dengan membunuh wanita tua tersebut dan merampas harta kekayaannya ia mampu memperbaiki kesulitan ekonominya dan melanjutkan perkuliahannya di bidang hukum. Dan setelah selesai menempuh pendidikannya ia akan mengabdi kepada masyarakat luas menggunakan ilmunya.

Singkatnya saya berargumentasi bahwa semua orang tidak hanya orang-orang hebat, tapi bahkan mereka yang hanya sedikit menyimpang dari kebiasaan umum, artinya mereka yang hanya sedikit mampu mengatakan sesuatu yang baru, pada hakikatnya terikat untuk menjadi penjahat. Pada tingkat yang lebih besar dan lebih kecil tentu saja. Kalau tidak mereka akan kesulitan untuk keluar dari kebiasaan tersebut, dan sudah jelas bahwa, lagi-lagi karena sifat mereka, mereka tidak mungkin setuju untuk tetap berada dalam kebiasaan tersebut.

… Orang yang “luar biasa” mempunyai hak… bukan hak resmi, tentu saja, tapi hak pribadi, untuk membiarkan hati nuraninya melewati… rintangan tertentu, dan kemudian hanya jika pelaksanaan idenya (yang terkadang dapat menyelamatkan seluruh umat manusia) memerlukannya.”

Penutup

Dalam novel ini, Dostoyevsky dengan prosa yang kaya seolah ingin mengajak pembaca menyelami titik terdalam dan tergelap dalam kehidupan manusia. Totalitas kehidupan yang utuh seolah-olah hanya mampu dimanifestasikan jika manusia menyelami titik terdalam hidupnya dan naik lagi ke permukaan. Tentu titik terdalam/tergelap ini tidak bisa diidentifikasikan tanpa adanya definisi titik tertinggi/terang sebagai tolak ukur kebenaran. Dampaknya ialah sebuah hidup penuh dengan hal-hal superfisial tak akan mampu menjadi hidup yang utuh, begitu juga hidup yang penuh dengan kegelapan dan nestapa juga tak mampu menjadi hidup yang utuh. Sebuah hidup yang utuh ialah hidup yang terguncang, terancam dan mengalami dilema secara eksistensial, lalu terbebaskan melalui kebenaran.

Dostoyevsky mengajak pembaca kepada poin refleksi kedalaman hidup kita. Kedangkalan hidup tentunya bervariasi pada tiap individu, bagi beberapa, mungkin kemiskinan ekonomi cukup untuk menggaet sebuah krisis eksistensial, bagi yang lain mungkin bentuknya berbeda.

Diakhir cerita Raskolnikov mulai menemukan tujuan dalam hidupnya, ia bertemu dengan Sonya yang berkebalikan dengan apa yang ia percayai. Raskolnokov yang tidak percaya dengan hal-hal spiritual dan Tuhan berkebalikan dengan Sonya yang sangat religius. Mereka yang sama-sama menderita kemiskinan dan kemelaratan mulai saling menerima dalam sebuah ikatan cinta.

“Sebuah pikiran muncul dalam dirinya: ‘apakah tidak mungkin, keyakinannya kini menjadi keyakinanku?’…”

Penderitaan dalam hal ini merepresentasikan sisi yang lebih dalam dan gelap dalam hidup, tetapi mungkin ada secercah keindahan yang bisa diambil, lebih dari yang kita kira. Keindahan yang tidak berpusar pada penderitaan itu semata, tetapi justru pada kemerdekaan dalam kebenaran yang memberinya makna.

Jika ingin memahami hidup secara mendalam, novel ini cocok untuk dibaca berulang-ulang. Namun tidak dianjurkan membacanya tanpa ada modal pengetahuan di bidang filsafat.

OCEHAN SI MISKIN : SEKAPUR SIRIH PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA

0

Oleh : AHMAD BADAWI (Ketua FMN Cabang Mataram 2024)


Seluruh negara di penjuru dunia ini mengakui bahwa pendidikan adalah aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa dan negara, Indonesia sebagai negara baru yang belum 1 abad umurnya mengerti dan paham sejak berdirinya, diberbagai dasar negara menempatkan Pendidikan sebagai sebuah hal yang penting untuk menuju negeri yang berdaulat dan berdikari diatas tanah sendiri. Setiap tahunnya pada tanggal 2 Mei masyarakat seantero negeri ini merayakan Hari Pendidikan Nasional seakan-akan momentum ini untuk mengingatkan bagi seluruh Masyarakat bahwa Pendidikan adalah bekal bagi kemajuan negeri ini. Hal demikian patut di renungkan sedalam-dalamnya apakah Pendidikan sesuai dengan harapan diawal pendiri negeri ini atau sebaliknya.


Menelisik lebih dalam kondisi pendidikan di Indonesia, selepas penjajahan yang dilakukan oleh kolonial belanda para tokoh-tokoh awal negeri ini seperti soekarno, moh.hatta dkk sangat detail mengamanatkan agar pendidikan memiliki posisi yang strategis bagi kemajuan bangsa dilihat dari implementasinya dan peraturan-peraturan yang diterbitkan seperti UU No. 4 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, hal demikian tentu dilatar belakangi atas pengaruh akibat dari kekurangan sumber daya manusia yang kompeten untuk diorientasikan pada kerja-kerja profesional yang dibutuhkan oleh pemerintahan hal tentu tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kolonial belanda sebelumnya namun dengan orientasi yang berbeda, belanda untuk orientasi pasar serta kerakusannya dan rezim awal kemerdekaan untuk membangun negeri. Setelah pergantian rezim lama ke yang baru, nuansa dunia dan dalam negeri yang baru penuh darah dan kuasa merubah rute dan orientasi pendidikan di Indonesia.


Keberpihakan rezim baru ”soeharto” pada pihak modal barat telah tampak sejak ia bertengger di puncak kekuasaan, pada tahun 1967 di jenewa perhelatan Indonesian Investment Conference sebagai pertemuan perdana bagi negera Indonesia dan korporasi raksasa internasional yang menentukan cara kerjasamanya. Hal demikian menumbuhkan orientasi baru bagi pemerintahan untuk menjalankan seluruh hal-ikhwal di Indonesia, dari sumber daya alam, sumber daya manusia hingga pengelolaan pasar didalam negeri serta pendidikan di Indonesia.

Namun kerjasama-kerjasama ini tentu tidak berkembang baik namun mengalami kemunduran-kemunduran dan mampu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia hingga rawan untuk jatuh ke jurang krisis, puncaknya pada tahun 1994 pada saat Indonesia bergabung di dalam World Trade Organization(WTO)untuk bergabung di dalam organisasi tentu tidak hanya berjabat tangan melainkan ”apa yang kudapat atau apa yang kau berikan” sehingga Indonesia setuju untuk mengikuti kesepakatan yang biasa disebut dengan General Agreement Trade on Service (GATS), singkatnya dalam kesepakatan ini memiliki muatan untuk menempatkan sektor publik kepada sektor swasta untuk meringankan beban negara ala sistem kapitalistik sesuai dengan anjuran ekonomi ala International Monetary Found (IMF) untuk dapat mengurangi beban luar negeri Indonesia yang perkirakan sebesar 30-40 % dari APBN setiap tahunnya hal ini lah kemudian menjadi faktor pendorong untuk liberalisasi, privatisasi, komersialisasi pendidikan tinggi menjadi syarat penyehatan ekonomi Indonesia demi terciptanya pertumbuhan lewat mekanisme pasar yang kompetitif. Singkatnya, Hal demikianlah yang kemudian membangun, mendorong dan menempatkan pendidikan bukan lagi sebagai sektor publik dibawah kontrol negara melainkan ikut dalam arus kontrol pasar dunia.
Ironi dan naas, sejak saat anak-anak, pemuda dan rakyat indonesia di terkam oleh mimpi buruk akibat dari cengkraman sistem ala kapitalis internasional. Setelah pergantian-pergantian rezim sejak lengsernya soeharto akibat dari hasrat kekuasaan dan tidak terkendalinya krisis moneter asia yang mencekam masyarakat indonesia dilubang penderitaan. Presiden baru naik, tidak mengubah sama sekali orientasi yang mereka kehendaki namun memuluskan dan memperjelas susunan rencana melalui kebijakan-kebijakan yang berdasar dari kesepakatan internasional tersebut. Seperti halnya UU BHMN dan dilanjutkan oleh presiden-presiden penerusnya baik itu megawati, SBY, Jokowi dengan berbagai kebijakan-kebijakan UU SISDIKNAS 2003 UU BHP 2009, UU PT 2012 serta kebijakan/peraturan lain yang tidak mengubah orientasi sebelumnya melainkan meneruskan semangat era Soeharto tersebut walaupun dalam periode yang sangat singkat gus dur memberi warna dan semangat yang berbeda di dunia pendidikan akan tetapi kandas oleh moralitasnya yang terkurung oleh hasrat politik dalam negeri dan penguasa modal internasional.


Kondisi pendidikan yang mahal, diskriminatif, elitis, manajemen birokratis dan mendukung status quo serta memapankan kesenjangan sosial bukanlah lahir begitu saja melainkan dari sejarah panjang sehingga sangatlah memprihatinkan bahkan menjauh dari cita-cita idealnya sebagai wadah pembebasan dan pemberdayaan sehingga tidak heran betapa menyedihkannya cetakkan mahasiswa dari perguruan tinggi yang berdiri tegak dengan keberpihakannya pada yang salah, berjiwa korup dan anti demokrasi serta segala keburukan tercipta karena di bentuk oleh sistem yang memiliki hasrat kepentingan yang anti kebutuhan pokok rakyat dan negara. Namun sejatinya perlu ditautkan kembali pada seluruh insan yang berkebutuhan pada pendidikan bahwa Perguruan tinggi merupakan wadah yang begitu bijak dan mulia namun terjebak dalam genggaman kepentingan para korporasi-korporasi internasional karena pendidikan tidak bisa terlepas dari ekonomi dan politik yang sedang eksis.


Bertolak dari masalah inilah, kewajiban bagi kaum muda, rakyat indonesia serta generasi berikutnya untuk tetap merefleksikan kembali kondisi dan paradigma perguruan tinggi di Indonesia. namun kondisi ini bukanlah ketetapan melainkan hal yang terbangun sehingga tidak menutup kemungkinan untuk dihancurkan dan dibebaskan agar kembali pada hakikatnya.