25.5 C
Mataram
Tuesday, May 26, 2026
spot_img
Home Blog Page 23

Hari Pertama PJ Gubernur NTB Masuk Kantor Disambut Aksi Tuntut Air Bersih di Tramena

0

Mataram, MEDIA—Hari Pertama PJ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk Kantor disambut oleh Aliansi Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat NTB Untuk Tramena menuntut untuk segera mebuka Akses Air Bersih ke Desa Gili Indah. Senin, (01/07).

Aliran air bersih ke Gili Meno dan Trawangan telah beberapa kali di buka dan tutup, dan sekarang akses air itu ditutup. Masyarakat Gili Indah sudah hampir 1 bulan lebih tidak mendapat akses air bersih dan ini menimbulkan banyak masalah dimasyarakat.

“Kami masyarakat Gili Indah menuntut untuk secepatnya pemerintah membuka akses air bersih, dan terkhusus kami di Gili Meno sudah 1bulan lebih tidak ada air bersih” Orasi, dari salah satu masyarakat Gili Meno.

Yudiatna Dwi Sahreza, Sekjen BEM Universitas Mataram, selalu Kodum Aksi menyampaikan bahwa Goal gerakan ini adalah PJ Gubernur yang baru keluar menemui masa aksi.

“Goal dari gerakan yang kami PJ Gubernur hadir menemui Kami, dan memberikan pernyataan sikap terhadap masalah krisis air di Tramena” Ucapnya

Humas aksi setelah melakukan banyak negosiasi dan keluar menyampaikan bahawa PJ Gubernur tidak mau keluar untuk menemui masa aksi.

” PJ Gubernur tidak mau keluar menemui kita” Ungkap humas aksi.

Pada Pukul 12.50 Wita Asisten II Gubernur NTB, H. Fathul Gani keluar menemui masa aksi. Kami berharap untuk akses air segera diselesaikan oleh pemerintah dan tanpa adanya kerusakan lingkungan yang terjadi Ungkap perwakilan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut Asisten II menyampaikan bahwa kita sudah melakukan langkah awal untuk masalah ini.

“Untuk Gili Air dan Gili Trawangan air sudah dibuka untuk aksesnya dan yang belum sekarang ini hanya Gili Geno saja” Ucapnya.

Langkah yang di ambil dari pihak Gubernur untuk menangani masalah ini dengan melakukan langkah penanganan awal.

“Kami sudah menyiapkan berapa kapal, tandon air supaya bisa mengalirkan air bersih ke Gili Meno dan ini solusi jangka pendek yang kami lakukan”. Lanjutnya.

Masa Aksi tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat NTB Untuk Tramena yang terdiri dari 14 lembaga yaitu : BEM Unram, DPM Unram, AMP(Aliansi Mahasiswa Papua), DPM Undikma, BEM Pertanian Unram, BEM FHISIP Unram, BEM UNHAZ, KPR (Kesatuan Perjuangan Rakyat), PMJ (Perkumpulan Mahasiswa Jabodetabek), BEM FKIP Unra, DPM UNHAZ, FMN (Front Mahasiswa Nasional), Wanapala NTB, Sahabat Hijau Lestari. (albn).

Hari Pertama PJ Gubernur NTB Masuk Kantor Disambut Aksi Tuntut Air Bersih di Tramene

0

Mataram, MEDIA—Hari Pertama PJ Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) masuk Kantor disambut oleh Aliansi Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat NTB Untuk Tramena menuntut untuk segera mebuka Akses Air Bersih ke Desa Gili Indah. Senin, (01/07).

Aliran air bersih ke Gili Meno dan Trawangan telah beberapa kali di buka dan tutup, dan sekarang akses air itu ditutup. Masyarakat Gili Indah sudah hampir 1 bulan lebih tidak mendapat akses air bersih dan ini menimbulkan banyak masalah dimasyarakat.

“Kami masyarakat Gili Indah menuntut untuk secepatnya pemerintah membuka akses air bersih, dan terkhusus kami di Gili Meno sudah 1bulan lebih tidak ada air bersih” Orasi, dari salah satu masyarakat Gili Meno.

Yudiatna Dwi Sahreza, Sekjen BEM Universitas Mataram, selalu Kodum Aksi menyampaikan bahwa Goal gerakan ini adalah PJ Gubernur yang baru keluar menemui masa aksi.

“Goal dari gerakan yang kami PJ Gubernur hadir menemui Kami, dan memberikan pernyataan sikap terhadap masalah krisis air di Tramena” Ucapnya.

Humas aksi setelah melakukan banyak negosiasi dan keluar menyampaikan bahawa PJ Gubernur tidak mau keluar untuk menemui masa aksi

” PJ Gubernur tidak mau keluar menemui kita” Ungkap humas aksi.

Pada Pukul 12.50 Wita Asisten II Gubernur NTB, H. Fathul Gani keluar menemui masa aksi. Kami berharap untuk akses air segera diselesaikan oleh pemerintah dan tanpa adanya kerusakan lingkungan yang terjadi Ungkap perwakilan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut Asisten II menyampaikan bahwa kita sudah melakukan langkah awal untuk masalah ini.

“Untuk Gili Air dan Gili Trawangan air sudah dibuka untuk aksesnya dan yang belum sekarang ini hanya Gili Geno saja” Ucapnya.

Langkah yang di ambil dari pihak Gubernur untuk menangani masalah ini dengan melakukan langkah penanganan awal.

“Kami sudah menyiapkan berapa kapal, tandon air supaya bisa mengalirkan air bersih ke Gili Meno dan ini solusi jangka pendek yang kami lakukan”. Lanjutnya.

Masa Aksi tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat NTB Untuk Tramena yang terdiri dari 14 lembaga yaitu : BEM Unram, DPM Unram, AMP(Aliansi Mahasiswa Papua), DPM Undikma, BEM Pertanian Unram, BEM FHISIP Unram, BEM UNHAZ, KPR (Kesatuan Perjuangan Rakyat), PMJ (Perkumpulan Mahasiswa Jabodetabek), BEM FKIP Unra, DPM UNHAZ, FMN (Front Mahasiswa Nasional), Wanapala NTB, Sahabat Hijau Lestari. (Albn)

CUKUPI SUDAH, KISAH PELECEHAN LINGKUP KAMPUS!

0

Oleh : rahmat (mahasiswa fakultas teknik)

Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan berita kasus pelecehan seksual oleh oknum Dosen terhadap perilaku pelecehan terhadap Mahasiswa di kampus Negeri Universitas Mataram.

Fenomena tindakan pelecehan seksual di kampus masih menjadi isu yang memprihatinkan. Kasus-kasus seperti ini bagaikan benalu yang menggerogoti nilai-nilai luhur akademik dan menciptakan rasa tidak aman bagi para mahasiswi.

Di Universitas Mataram sendiri kasus pelecehan tidak hanya terjadi di tahun 2024, melainkan tahun-tahun sebelumnya juga pernah terjadi dan sampai belum ada kejelasan dari pihak kampus. Sejauh ini Rektor (ba) belum mampu menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya jawab sebagai orang nomor satu di Universitas Mataram.

Predikat yang diembat oleh Universitas Mataram menjadi kampus terbaik, justru paradoks dengan apa yang terjadi di Universitas Mataram sendiri. Bagaimana tidak, di tahun 2024 juga berbagai polemik pemberitaan yang lalu-lalang dan muncul di media massa terkait kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum dosen Fakultas Pertanian terhadap mahasiswinya, tidak hanya terhadap mahasiswi juga aksi bejat oknum dosen, melainkan juga pada alumni hingga rekan sesama dosen.

Kampus yang sepatutnya menjadi ruang didik yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh Civitasnya untuk mengenyam nalar dan intelektualitas keilmuan, Justru menjadi tempat ternak oknum Cabul.

Hal ini mesti dievaluasi Oleh pihak kampus Unram. Satuan tugas penangan kekerasan seksual SATGAS PPKS Mesti instens dan independen dengan mengawal korban dalam bentuk keseriusan dalam penangan kasus yang di alami korban. Dan membantu si korban atas kasusnya ke Aparat Penegak Hukum APH dan memberikan efek jerah kepada pelaku.

Menurut data dari Kemen Pemberdayaan Perempuan PPAA per April 2024, terjadi 2.681 kasus kekerasan seksual dilingkungan Perguruan tinggi. Dari data tersebut Mengindikasikan banyaknya oknum predator-predator seksual yang berkeliaran dilingkuangan kampus yang beberapa pelakunya dari kalangan terdidik yang banyak menggunakan gelar akademik.

Namun data dari jumlah kasus pelecehan dan kekerasan seksual diatas, hal ini bisa berpontensi bertambah mengingat banyaknya korban yang masih takut dan ragu-ragu untuk melakukan Speak up atas perisistiwa yang dialaminya, karena konsekuensi yang di hadapi sangat berat bagi korban.

PPKS yang diharapkan sebagai Lokomotif penggerak untuk memerangi kejahatan Seksual dinodai dengan beberapa pemberitaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan Civitas akademik, Fenomena ini seakan menjadi belenggu bagi kampus untuk menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi
seluruh Civitasnya.

Kampus yang diharapkan punya gerakan responsif dan inklusif untuk mencegah serta menangani isu pelecehan seksual, terkesan lamban. Karena isu tersebut seakan menjadi aib bagi kampus untuk menjaga Citra Universitas.

Lalu apa gerakan miniatur kampus?

Masih abu-abu gerakan yang di digadang-gadang sebagai lembaga yang punya kapabilitas untuk menyerap aspirasi dan gerakan justru menutup diri, introvert.

Turut berduka cita Lembaga sekarang lebih penting menambah pencitraanya sebagai kordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Se – Indonesia (BEM SI) sedangkan dapurnya kotor.

Lembaga kemahasiswaan internal kampus mesti membuka mata, bukan acuh tak acuh dengan problematik yang ada.

Mahasiswa Prodi Sosiologi FHISIP Unram PKL di BRIDA NTB

0

Lobar, MEDIA—Mahasiswa Prodi Sosiologi Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (PHISIP), Universitas Mataram (Unram), Praktik Kuliah Lapanga (PKL), di Badan Riset Dan Inovasi Daerah Nusa Tenggara Barat (BRIDA NTB), yang berada di Desa Lelede, Bantu muluk, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, NTB.

BRIDA merupakan instansi pemerintah yang berkomitmen untuk mewujudkan NTB Sejahtera dan Mandiri, melalui program-program unggulan dan merangkul masyarakat untuk mandiri dengan berkolaborasi.

BRIDA NTB terdiri atas 9 program dari masing-masing bidang sesuai dengan tugas dan fungsi pokok masing-masing bidang, yaitu Program Beasiswa NTB, Program Broda Shool Academy, Program Edu Wisata, Program Kemitraan, Program Penelitian dan Pengembangan, dan Program Indeks Inovasi Daerah.

Azhari Evendi, S.sos., MA. Selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Mengungkapkan bahwa banyak manfaat yng didapatkan mahasiswa selama PKL.

“mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka pelajari di bangku kuliah dalam lingkungan kerja nyata”. Ungkapnya.

Azahari evendi juga ini untuk melatih skill individu maupun kelompok dari mahasiswa dalam melakukan sebuah pekerjaan.

“Mahasiswa akan berinteraksi dengan profesional di bidangnya, belajar dinamika kerja timm, serta penngembangan soft skills seperti komunikasi, manajemen waktu, dan pemecahan masalah”.lanjutnya

Adapun selama PKL di BRIDA mahasiswa PKL akan di pecah untuk masuk didalam bidang yang ada di Brida, sehingga ada beberapa kegiatan yang mereka lakukan yaitu:

Petama, Kegiatan Eduwisata BRIDA yang dilakukan setiap adanya kunjungan dari sekolah/universitas. Dalam kegiatan ini mahasiswa di tunjuk sebagai pemandu wisata yang bertugas langsung di lapangan yang membantu tim eduwisata BRIDA dalam memberikan penjelasan tentang prototype permesinan yang ada di BRIDA. Sehingga hal tersebut dapat Mempermudah tim eduwisata untuk menyampaikan penjelasan tentang prototype permesinan. Sebagai pemandu wisata sebelumnya mahasiswa akan di berikan materi dan diajarkan bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik kepada pengunjung, sehingga pengunjung dapat memahami materi yang di berikan oleh mahasiswa.

Kedua, Kegiatan Inkubasi Bisnis membantu para pengusaha baru atau yang sedang berkembang untuk mengembangakan ide bisnis yang berjalan. Kegiatan inkubasi bisnis ini, diharapkan mampu mempertemukan pelaku bisnis dengan konsumen dan investor. Kegiatan Mahasiswa dalam bidang ini untuk membantu inkubasi bisnis mendaftar tenant- tenant yang ada di Badan Riset Inovasi Daerah dan membuat profil dari tenant tersebut setelah itu melakukan kunjungan ke tenant untuk di mewawancarai dan mengambil dokumentasi berupa foto.

Kegiatan Magang mahasiswa Sosiologi ini dilakukan selam 30 hari yaitu dari tanggal 15 Februari – 15 Maret 2024.(albn/advetorial)

Oknum Dosen Unram yang Melakukan Pelecehan Seksual Dipecat

0

Unram, MEDIA— Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), Universitas Mataram (Unram), mengungkap alasan pemberhentian oknum dosen yang melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswa bimbingannya di Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

Ketua Satgas PPKS Unram mengatakan, setelah melakukan investigasi. Tindakan pelecehan yang dilakukan oknum dosen AW saat melakukan bimbingan terbukti benar, semua yang disampaikan korban mengenai tindakan cabul pelaku terbukti benar.

Oknum dosen AW melakukan pelecehan secara verbal dan nonverbal, tapi tidak sampai tahap persetubuhan, bahkan diketahui korban dari oknum dosen AW mencapai tiga orang, ada dua orang alumni yang melapor pada tahun 2010 dan 2015.

Oknum dosen AW, menggencarkan aksinya dengan mengancam akan menunda bimbingan, dan apabila niat bejatnya dituruti ia menjanjikan mempermudah mahasiswa saat sesi bimbingan dengannya.

Oleh karena itu, oknum dosen AW yang berstatus ASN ini diberikan sanksi administrasi, yakni diberhentikan secara tetap sebagai dosen tetap di Unram. Berdasarkan Pasal 14 Permendikbudristek No. 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Ketua Satgas PPKS Unram turut mengungkap hambatan dalam kasus ini, “Kami dapat laporan, tapi setelah investigasi, tidak ada korban yang berani Speak up,” ucapnya. Jumat, (21/6).

Kedepan akan ada rencana perombakan ruang dan pemasangan CCTV di ruang dosen, untuk mencegah kejadian serupa. Dan pelarangan sesi bimbingan di luar kampus, kecuali sudah mendapatkan izin yang jelas.

“Kami hanya bisa melakukan pendampingan,
dan mendorong korban untuk membuat laporan polisi agar ada tindak hukum yang dapat diambil untuk pelaku,” lanjut Ketua PPKS ini.

Lalu Wiraharyadi, Ketua Bem Fatepa mengatakan alasan korban belum melapor polisi, dikarenakan pelecehan ini belum diketahui keluarga korban, ini tentu menjadi pertimbangan korban.(srh)

Mahasiswa Prodi Sosiologi Ikut Berpartisipasi Dalam Rapat Kunjungan Kerja DPR RI ke NTB

0

Mataram, MEDIA—Mahasiswa Prodi Sosiologi ikut berpartisipasi dalam Rapat kunjungan kerja Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dengan Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam meninju Ekonomi Kreatif yang ada di NTB.

Undang-Undang (UU) No. 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif. Dalam Proses menjalankan undangan ini di NTB masih belum masih oleh Dinas Pariwisata, dan perlu mejadi evaluasi untuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KEMENPAREKRAF) untuk mengkodinir Dinas Pariwisata yang ada di daerah-daerah.

Ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya di NTB. Sektor ini mampu mendorong inovasi, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global. Oleh karena itu, DPR RI menilai pengembangan ekonomi kreatif harus menjadi prioritas utama.

Dinas Pariwisata memiliki peran penting dalam mendukung dan memfasilitasi perkembangan ekonomi kreatif di NTB. Mereka bertanggung jawab mengidentifikasi potensi ekonomi kreatif dan mengembangkan strategi untuk mempromosikan serta mengembangkan potensi tersebut. Langkah-langkah seperti menyelenggarakan festival budaya, pameran seni, dan kompetisi kreatif dapat menarik perhatian wisatawan dan investor.

Dinas Pariwisata juga harus menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan ekonomi kreatif.

Dari pihak DPR RI nyatakan bahwa peran Mahasiswa/pemuda sangat penting menyebabkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di NTB.

“mahasiswa penuh inovasi dan kreativitas, dapat memberikan pandangan segar dan ide-ide baru untuk pengembangan ekonomi kreatif. DPR RI sering mengundang mahasiswa untuk berpartisipasi dalam rapat dan diskusi mengenai ekonomi kreatif.” Ucapnya.

Dalam mendukung ekonomi kreatif ada lima cara yang disampaikan oleh DPR RI.

  1. Melenyelenggaraan Seminar dan Workshop
  2. Materi Promosi yang Menarik:
  3. Pemanfaatan Media Sosial;
  4. Kerja Sama dengan Media Massa;
  5. Melibatkan Komunitas Kreatif

Kegiatan Rapat Kunjungan kerja ini dilakukan pada hari Senin 5 Februari 2024, dengan jumlah peserta 15 orang Yang teridiri Mahasiswa 3, pihak dinas pariwisata 7 Orang, pihak DPR RI 5 orang. (Albn/advetorial)

Mahasiswa PKL Sosiologi ambil Peran Dalam RAKORWIL “Eliminasi TBC di Indonesia” Oleh PKBI NTB

0

Mataram, MEDIA—Mahasiswa Pelatihan Kerjan Lapangan (PKL) Prodi Sosiologi ambil peran sebagai Notulen dalam acara Rapat Koordinasi Wilayah (RAKORWIL) yang di adakan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Nusa Tenggara Barat ( NTB) bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (DinKes NTB) dan Komunitas Sub Recipient( SR).

Rakorwil yang di akadakan ini mengkat tema “Eliminasi TBC di Indonesia – Menuju 90%”. Rapat ini bertujuan untuk memperkuat upaya eliminasi tuberkulosis (TBC) di Indonesia, khususnya di wilayah NTB, dengan target ambisius mencapai penurunan kasus hingga 90%.

Acara dibuka oleh MC, Dimas Andrian Maulana, diikuti dengan sambutan dari Bapak Ahmad Hidayat S.Pd, SR Manajer Komunitas dan Direktur PKBI, yang menekankan bahwa program TBC sudah menjadi program internasional. Ahmad Hidayat menggarisbawahi pentingnya evaluasi program untuk memperbaiki pendekatan eliminasi TBC.

Bapak H. Lalu Hamzi Fikri, Kepala Dinas Kesehatan NTB, juga memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bahwa permasalahan TBC memerlukan respons cepat dan komunitas memiliki peran penting dalam penanggulangannya.
“Solusi harus datang dari komunitas. Dengan kebijakan, regulasi, dan kekuatan yang kita miliki, kita bisa melakukan intervensi hingga tingkat komunitas,” tegasnya.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi eliminasi TBC di Indonesia. Pemateri menyampaikan data dan strategi eliminasi TBC berdasarkan Peraturan Presiden No. 67 tahun 2021 tentang penanggulangan TBC. Poin-poin penting yang disampaikan meliputi peningkatan akses layanan TBC bermutu, optimalisasi upaya promosi dan pencegahan, serta peningkatan peran serta komunitas dalam eliminasi TBC.

Data situasi TBC di NTB periode 2021-2023 menunjukkan peningkatan kasus yang terdeteksi. Estimasi kasus TBC pada tahun tersebut mencapai 20.548, dengan notifikasi kasus meningkat dari 7.153 pada 2021 menjadi 10.947 pada 2023. Namun, tantangan dalam penemuan kasus secara aktif dan pelaporan real-time masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.

Diskusi yang diadakan memberikan ruang bagi peserta untuk bertanya dan berbagi pengalaman. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Ibu Winda mengenai pencapaian terapi pencegahan TBC (TPT) di Mataram dan cara untuk meningkatkan koordinasi komunikasi yang kurang maksimal. Pertanyaan lain dari Mas Wawan menyinggung tentang panduan terbaru untuk TPT dan peran sektor lain dalam penanganan TBC.

Sesi pemaparan dan diskusi yang intensif ini diakhiri dengan beberapa rekomendasi strategis untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan TBC, termasuk memperkuat koordinasi antar sektor dan memastikan keterlibatan aktif semua fasilitas kesehatan dalam melaporkan data penemuan kasus TBC.

Rakorwil ini diharapkan menjadi momentum penting dalam upaya bersama untuk mencapai eliminasi TBC di NTB dan seluruh Indonesia pada tahun 2030. Peran aktif komunitas dan sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mewujudkan target ambisius ini​.

Kegiatan ini diadakan pada hari Kamis, 25 Januari 2024 dengan jumlah peserta rakorwil sebanyak 25 orang.(albn/advetorial)

Wajah BEM Unram Bopeng Sebelah

0


Selamat kepada BEM Unram yang telah terpilih menjadi Koordinator Pusat BEM SI Rakyat Bangkit. Kebanggaan masih terus membara dalam hati para Pimpinan BEM Unram. BEM Unram merasa diri disegani di tingkat nasional, namun lupa akan sisi lain dari kampus sendiri.

Dibalik gemerlapnya pergerakan mereka di tingkat Nasional bersama BEM SI Rakyat Bangkit, BEM Unram justru redup dalam gerakan di Kampus sendiri. Ketimbang memilih bergerak membela mahasiswa yang memilih mereka di kampus sendiri, Pimpinan BEM Unram justru lebih memilih bergerak di luar dengan rasa bangga menjadi Koordinator pusat BEM SI Rakyat Bangkit. Hal yang tentunya dibangga-banggakan tersebut tentunya memiliki sisi lain yang diabaikan oleh para Pimpinan BEM Unram 2024 sendiri.

Mereka yang merasa diri disegani karena mendapat posisi Korpus BEM SI Rakyat Bangkit, ternyata memiliki persoalan yang tidak kalah gemerlapnya dari rasa bangga mereka. Dari masalah internal kepengurusan hingga buruknya pola gerakan di kampus menjadi sisi lain BEM Unram 2024 yang merasa disegani tersebut.

Mahasiswa Kelas Peyek berwatak Heroik


Jika anda adalah pecinta film superhero pasti anda sudah tak asing dengan lagaknya. Datang ketika dibutuhkan, menghilang menyisakan kekacauan. Mungkin seperti itulah gambaran secara umum lagak dari pimpinan BEM Unram periode 2024, mereka hadir ke permukaan ketika masalah timbul, lalu tenggelam menyisakan puing-puing kekacauan.


Mengapa tidak, semisal dalam menangani permasalahan UKT, BEM Unram muncul ke permukaan menawarkan audiensi berkali-kali. Padahal jika diartikan secara sederhana, esensi audiensi adalah untuk menyatukan pikiran supaya permasalahan yang terjadi menjadi jelas solusinya. Entah standar pemaknaannya berbeda atau tidak, yang pasti audiensi yang dilaksanakan tidak membuahkan hasil apapun, dan mereka sudah mengetahui hal tersebut sedari awal.

Usut punya usut, ternyata gerakan mahasiswa Unram sengaja dibatasi oleh beberapa oknum Pengurus BEM Unram yang sudah masuk angin menerima amplop dari birokrasi.

Tak lama pasca kejadian tersebut, BEM Unram memang sempat mengadakan aksi bersama beberapa lembaga mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Menolak UKT, aksi tersebut pecah pada tanggal 15 Mei 2024. Namun kondisinya sama dengan audiensi yang dilakukan, bahkan dalam aksi tersebut Rektor Unram enggan menemui massa aksi. Aksi tersebut juga terbilang tidak memiliki hasil, pasalnya para Wakil Rektor yang menemui massa aksi hanya memberikan janji-janji manis mengenai transparansi data penggolongan UKT Mahasiswa.

Satu bulan berlalu selepas aksi, data tersebut masih belum transparan dan sampai di tangan mahasiswa. BEM Unram selaku motor penggerak mestinya melakukan follow up terhadap data tersebut, namun mereka sudah merasa puas diri dikarenakan UKT ditunda naik. Ditambah dengan peran Ketua BEM Unram, Herianto yang menjadi Koordinator Pusat BEM SI Rakyat Bangkit yang sudah melakukan audiensi dengan komisi X DPR RI, membuat beberapa pengurus BEM Unram angkuh dan menokohkan diri. Watak demikian yang ditunjukkan BEM Unram adalah watak heroik, mereka muncul ketika masalah berseliweran, lalu hilang meninggalkan kekacauan.

Terlalu banyak masalah yang ditinggalkan BEM Unram sehingga tak bisa disebutkan satu-satu. Bahkan hingga sekarang, tidak ada pengurus BEM Unram yang mau duduk bersama dengan Ormawa yang padahal sekretariatnya satu gedung di PKM Unram. Lebih parah lagi Ketua dan Sekjen BEM Unram yang tak pernah menunjukkan batang hidungnya, sesekali muncul seolah tidak ada beban dan masalah mengenai keluhan mahasiswa Unram.

Daripada duduk bersama ormawa, para pimpinan BEM Unram lebih memilih mengasingkan diri entah dimana. Maka tak heran, watak seperti ini adalah watak oknum yang terlalu menganggap dirinya tokoh yang enggan duduk atau berdialog dengan mahasiswa lainnya.

Bahkan di awal kepengurusan, Ketua BEM Unram justru ribut masalah bagi-bagi kursi di internal kepengurusan.


“Pasangan Ketua dan Sekjen adalah pasangan yang diusung oleh 2 koalisi sehingga pembagian struktur di BEM 2024 ini sistem bagi kursi. Inilah yg menyebabkan BEM sekarang jarang kelihatan Karena dalam tahapan penyelsaian struktur pengurus,” Beber Herianto dua bulan selepas terpilih. dilansir dari mediaunram.com

Watak yang ditunjukkan disini sudah terlalu birokratis. Bahkan mereka hanya mau bergerak ketika sudah dilantik dan ada SK.


“Kami tunggu SK resmi keluar dulu biar legalitas kami ada untuk bergerak sebagai BEM di Unram,” sambung Herianto.


Penulis baru tahu bahwa mahasiswa untuk sekedar berpikir dan bergerak terlegitimasi oleh SK.

Dengan watak heroik seperti itu, maka penulis menyimpulkan bahwa, Pimpinan BEM Unram sama seperti peyek. Peyek jika disebut gorengan bukan dari tukang gorengan, disebut kue kering tapi digoreng. Pimpinan BEM Unram jika disebut mahasiswa tapi lagaknya kayak birokrat, disebut birokrat tapi mahasiswa.

Nihil Metodologi


Jika BEM Unram disebut tidak pernah bergerak saya mungkin kurang setuju, mereka bergerak namun secara metode nihil. Ini memang bukan masalah yang pertama kali dalam kepengurusan BEM, sudah lama masalah ini menjamur, namun bisa dibilang BEM Unram periode 2024 yang paling buruk.

Jika kita melihat lebih jauh beberapa gerakan yang dilakukan oleh BEM Unram, mungkin tidak nampak kelemahan, sebab mereka memang tidak pernah mengevaluasi gerakan. Sebut saja perkara kajian, hingga sekarang gerakan bukannya dilandasi dengan kajian yang jelas justru malah dijadikan ajang unjuk gigi.

Sering kali dalam gerakan, mahasiswa pada umumnya acuh tak acuh bahkan tak mau terlibat, barangkali permasalahannya ada dua, karena tidak pernah dibiasakan bergerak dan tidak tahu menahu apa permasalahan yang disuarakan. Kedua masalah tersebut bisa dibilang bertahap, sebab mahasiswa tidak biasa bergerak barangkali karena tidak pernah tahu ada masalah. Ketidaktahuannya terletak pada metodologi penggerak, dalam hal ini BEM Unram.

Kita sebut BEM Unram penggerak sebab merekalah yang secara sah dipilih secara demokratis oleh mahasiswa yang kemudian diberikan beban harapan di pundaknya. Ketika masalah muncul, bukannya mengkaji lebih dalam lalu menyebarkannya dalam bentuk kajian, BEM Unram malah lebih memilih untuk membuat meme atau pamflet aksi, tanpa menjabarkan masalah apa sebetulnya yang dituntut secara komprehensif.

Bukti mereka nihil metodologi juga terlihat jelas pada pola gerakan yang selalu momentuman, sudah momentuman persiapannya juga tidak maksimal. Parahnya juga pola gerakan yang dilaksanakan terlalu monoton sehingga disebut nihil metodologis, biasanya diawali audiensi, kalau tidak dapat amplop biasanya lanjut aksi, selepas aksi apa? Syukur tuntutan diterima, jika tidak harus apa?

Bahkan penulis berkeyakinan bahwa masalah yang selama ini dituntut mungkin tidak pernah dipahami secara komprehensif oleh Pimpinan BEM Unram 2024.

Barangkali permasalahan tersebut mungkin tidak pernah direfleksikan kembali sebab nihilnya metodologi, nihilnya metodologi lahir karena tidak adanya evaluasi. Evaluasi mungkin pernah dilakukan namun tidak maksimal sebabnya lagi-lagi terletak pada nihilnya metodologi. Nihilnya metodologi barangkali disebabkan oleh para pimpinan BEM Unram periode 2024 menutup diri untuk paham, paham akan kondisi kampus dan metode gerakan. Mereka menutup diri untuk paham barangkali disebabkan oleh watak heroiknya, terlalu menokohkan diri sehingga enggan untuk berdialog dengan mahasiswa maupun lembaga mahasiswa lainnya, yang pada akhirnya menimbulkan kebuntuan pengetahuan. Yang pada ujungnya pasrah pada penindasan dan memaksa orang lain untuk memahami kondisi mereka.


“Ya begitulah birokrasi kita” ungkap Herianto, Ketua BEM Unram 2024 ketika dimintai pendapat mengenai telatnya pelantikan Ormawa beberapa waktu lalu. Dilansir dari mediaunram.com Ungkapan yang keluar dari mulut seorang Ketua BEM tersebut bisa dibilang sungguh tidak berbobot, bentuknya pasrah.

Hingga kini, kita terutama penulis masih berangan-angan tentang suatu gerakan yang sangat besar. Dimana semua komponen dari organisasi mahasiswa maupun mahasiswa yang bukan organisatoris melakukan perlawanan dengan cara masing-masing. Yang bergerak di bidang kesenian, melawanlah dengan kesenian. Yang bergerak di bidang event, bentuklah event untuk melawan. Yang bergerak di bidang pengabdian, mengabdilah untuk melawan. Yang bergerak di bidang kepenulisan, menulislah untuk melawan. Yang bergerak dibidang lomba, berlombalah dengan tema melawan. Yang bergerak dibidang debating, berdebatlah dengan mosi melawan, semisal mosi “pendidikan gratis” “Kampus rumah bagi pelaku kekerasan seksual”

Semua hal tersebut akan mungkin jika terkonsolidasi dengan baik secara metodologis oleh penggerak, tentunya itu adalah BEM Unram.

Hal tersebut juga akan mungkin jika kita berdialog dan mengakui persamaan derajat antar mahasiswa, tidak ada yang lebih tinggi karena anak BEM maupun anak organisasi, semua sama. Jangan sampai ada yang menokohkan diri diatas yang lainnya, bahkan merasa diri lebih mahasiswa dari mahasiswa lainnya.

Barangkali penulis memiliki satu kesimpulan bahwa sebelum menyamaratakan pendapat, terlebih dahulu hendaknya kita menyamaratakan derajat. Tidak ada mahasiswa yang terlalu diagung-agungkan dan menjadi tokoh, sebab, Ketokohan yang dirawat dalam tubuh mahasiswa, merupakan cikal bakal lahirnya penindas baru dalam Republik kecil (kampus).


Keliru Mengenai Gerakan


Jika berangan-angan untuk melakukan gerakan secara multisektoral mestinya harus dimulai dengan gerakan-gerakan sektoral. Tak perlu memikirkan hal itu, BEM Unram justru terlalu jauh bergerak, dengan Ketua BEM mereka yang menjadi Koordinator Pusat BEM SI Rakyat Bangkit terlalu sibuk mengurusi permasalahan yang bukan menyangkut permasalahan kampus tempat ia membayar UKT.

Barangkali ini merupakan kekeliruan bagi penulis mengenai pandangan BEM Unram dalam bergerak. Mengapa kita harus keluar sedang masalah terlalu banyak di Kampus kita? Jika kita ingin gerakannya multisektoral membahas semua permasalahan mengapa kita tidak memulainya dengan gerakan sektoral semisal ‘Pemberantasan pelaku pelecehan seksual’ di Kampus sendiri, atau menyuarakan masalah ‘pendidikan yang terlalu mahal’. Kita bisa memulainya dari situasi dan kondisi kampus sendiri, tidak perlu terlalu jauh.

Kondisi di Unram sekarang sedang ribut-ributnya dengan kasus pelecehan seksual oleh oknum dosen terhadap mahasiswi. Permasalahan Pelecehan seksual bukan kali pertama di Kampus ini, bahkan bisa dibilang ini masalah tahunan yang telah menjamur, dan ini bukan satu-satunya. Barangkali banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi namun karena banyaknya korban yang tidak berani melapor, jadi hanya beberapa yang muncul di media. Kita tidak akan pernah tahu akan hal tersebut karena kita tidak pernah terlalu dalam menyentuh hal tersebut. Anggap saja hal tersebut benar adanya, sebab lembaga yang menjamin keamanan serta keselamatan korban justru hanya menjadi lembaga curhat. Hingga sekarang tidak ada masalah pelecehan seksual yang dapat diselesaikan secara tuntas oleh Satgas PPKS.

Lalu apa masalahnya dengan BEM Unram? Tentu saja diam adalah masalah. Pertanyaannya, pernahkah BEM Unram 2024 bersuara langsung secara lantang selepas kasus pelecehan seksual yang mencuat beberapa waktu lalu. Mereka dengan organ-organ didalamnya seperti Kementerian perlindungan perempuan dan advokasi justru hingga sekarang tidak sampai muncul ke permukaan untuk menyuarakan kasus ini. Muncul namun terlambat, itulah watak heroik, ‘hero muncul belakangan’. Secara kasar BEM dipilih untuk apa?(silahkan anak BEM yang baca merenung sejenak).

Lalu dibalik permasalahan ini, masih perlukah kita menaruh rasa percaya terhadap BEM Unram 2024? Masih butuhkah kita keberadaan BEM Unram 2024? Atau bahkan masih perlukah kita menganggap keberadaan BEM Unram 2024? Haruskah kita memulai gerakan baru tanpa kehadiran BEM Unram 2024? (Silahkan yang bukan anak BEM merenung sejenak)

Yang pasti adalah hal ini perlu kita jadikan bahan refleksi bersama, untuk segera menyusun metode baru untuk bergerak.

Sebab, refleksi tanpa aksi Idealisme yang melarikan diri, aksi tanpa refleksi aktivisme yang berbahaya.

Tambahan


Diatas sudah diuraikan mengenai BEM Unram, namun mungkin banyak yang lupa ada satu lagi organisasi mahasiswa yang mestinya lebih lantang bersuara.
Konon katanya organisasi mahasiswa tersebut bernama DPM Unram. Rumornya organisasi mahasiswa ini masih ada, namun hingga kini keberadaannya masih menjadi tanda tanya.

Sekian
Terima kasih kepada petani tembakau
Orang manggil sih zahir

Diduga Lecehkan Mahasiswi, Oknum Dosen Unram Didesak Minggat

0

Unram, MEDIA—Pelecehan terhadap mahasiswi yang di lakukan oknum dosen diduga terjadi lagi di Unram, kali ini terjadi di fakultas pertanian.

Perbuatan oknum dosen fakultas pertanian tersebut sudah menjadi rahasia umum dilingkungan kampus, diduga perbuatan oknum dosen tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian, Lalu Wira Hariadi mengatakan, oknum dosen Fakultas Pertanian Unram itu melakukan aksinya pada saat situasi sepi. Modusnya, AW yang juga dosen pembimbing skripsi korban, menerima layanan konsultasi di ruangannya.

AW diduga memaksa korban melakukan hal yang tidak senonoh. Seperti menyentuh beberapa anggota tubuh korban. Perbuatan bejat oknum dosen tersebut melakukannya berulang-ulang.

“Ada juga mahasiswi yang dia suruh menyentuh (tubuh pelaku). Dan itu berulang-ulang,” kata wira kepada MEDIA Unram, jumat, 14 juni 2024

Korban AW tidak sedikit. Wira mengatakan nyaris setiap tahun selalu ada saja mahasiswi yang menjadi korban atas perbutan bejat oknum dosen tersebut, dan sebagian besar korban dari semester akhir.

Tetapi, para korban tidak berani bersuara. Karna para korban khawatir kuliahnya menjadi terhambat. Belakangan, beberapa korban berani bersuara dan mengadu ke pihak BEM sekitar akhir mei atau awal juni 2024 lalu.

“Sekarang, yang berani melapor sekitar dua hingga empat orang. Tapi yang bercerita menjadi korban pelaku itu banyak,” kata wira selaku ketua BEM pertanian.

BEM fakultas menanggapi atas kasus ini dengan menggelar aksi konsolidasi, kamis
13 juni 2024.

DN. Mahsiswa pertanian lainnya mengungkap cerita yang mirip. DN mengaku ada beberapa dari teman kelasnya Yang menjadi korban dari perbuatan bejat oknum dosen tersebut.

Tepat kejadiannya, ketika DN masih semester 3. Beberapa temannya menadapatkan perlakuan yang tidak senonoh sehabis kelas yang dilakukan oleh oknum dosen tersebut.

“Merangkul pundak hingga ke bagian sensitif,” ungkap DN.

Korban takut melawan karena yang bersangkutan merupakan dosennya. Apalagi saat itu DN dan rekannya baru semester 3.

Bahkan, DN mengaku mendapat cerita langsung dari AW, bahwa yang bersangkutan sering merayu dan menggoda mahasiswi. Kepada DN, AW mengatakan, jika itu tindakan yang biasa dia lakukan.

“Ini bukan saya dapat cerita dari orang lain, tapi dari dia langsung,” katanya.

DN tidak memungkiri Sering mendengar AW melaksanakan perbuatan bejatnya ke beberapa mahasiswi setiap tahun. Terkhusus mereka yang sedang lagi mengerjakan skripsi.

Buntut tindakan bejatnya, AW dilaporkan ke Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unram. Hari ini para korban menjalani pemeriksaan Satgas PPKS.

Wira mengaku, pihaknya siap mengawal sanksi hingga proses AW di Satgas PPKS Unram.

“Jadi kami berkomitmen mengawal kasus ini sampai selesai. Kita masih menunggu bagaimana hasil dari Satgas,” ujarnya.

Wira selaku ketua BEM pertanian pun mendesak pihak universitas menghentikan pelaku sebagai tenaga pengajar di Unram. Dia tak ingin proses penyelesaian kasus hanya berhenti pada pemberian sanksi skors terhadap AW.

“Kalau tidak sesuai harapan, kita lanjutkan ke yang lebih tinggi, kita laporkan ke polisi,” tegasnya. (Rdy)

Mahasiswa Sosiologi lakukan kegiatan mengajar di SDN 47 Ampenan

0

Mataram, MEDIA—Mahasiswa Prodi Sosiologi, Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP), Universitas Mataram (Unram), Lakukan Kegiatan mengajar di SDN 47 Ampenan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, NTB.

Ampenan merupakan kota tua yang terkenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan serta masyarakat pesisir yang ramah dan beragam, memiliki potensi alam yang luar biasa. Wisata lokal maupun mancan negara sering berkunjung untuk menikmati keindahan Ampenan. Untuk mempermudah komunikasi dengan para wisatawan lokal maupun mancanegara, peningkatan kemampuan berbahasa Inggris menjadi sangat penting.

Mahasiswa sosiologi lakukan kegiatan mengajar Bahasa Inggris di SDN Ampenan yang bertujuan untuk meningkatkan kempunan bahasa Inggris itu anak-anak yang tinggal di pesisir.

Indri Wahyuni, Ketua Kelompok mengucapkan bawah kegiatan untuk supaya anak-anak lebih mahir dalam berbahasa Inggris.

” Mengingat Ampenan merupakan salah satu destinasi wisata dan banyak juga wisatawan asing, jadi kami rasa perlu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris anak-anak pesisir”. Ungkapannya

Kepala sekolah SDN 47 Ampenan Ibu Siti Khaironi sangat mendukung penuh niat baik dari mahasiswa program studi sosiologi Universitas Mataram.

“Pada pelaksanaan program ini pentingnya perlu mengenalkan cara pengenalan diri menggunakan Bahasa Inggris terhadap anak-anak disana. agar mereka terbiasa dengan memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Inggris apabila ada wisawatan asing yang berkunjung” Ujarnya

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, yang diharapkan dapat membangun hubungan baik antara universitas dan komunitas lokal serta memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berbagi ilmu tetapi juga belajar dari pengalaman berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Kegiatan ini di adakan pada tanggal 22 Mei 2024, dengan jumlah audiens 41 siswa dan siswi SDN 47 Ampenan.(albn/adventorial)