21.5 C
Mataram
Wednesday, May 27, 2026
spot_img
Home Blog Page 33

Gerakan Mahasiswa Momentuman dan Terpecah Belah Bukti Hegemoni Pemerintah Orde Baru Masih Tumbuh Subur

0

Oleh : Zahir

Seorang koboi datang ke sebuah kota dari horizon yang jauh. Di kota ini sedang merajalela perampokan, perkosaan dan ketidakadilan. Koboi ini menantang sang bandit berduel dan ia menang. Setelah banditnya mati, penduduk kota yang ingin berterimakasih mencari sang koboi. Tetapi ia telah pergi ke horizon yang jauh. Ia tidak ingin pangkat-pangkat atau sanjungan-sanjungan dan ia akan datang lagi kalau ada bandit-bandit berkuasa.

-Soe Hok Gie mengenai analogi gerakan mahasiswa

 

Hegemoni Pemerintah Orde Baru Terhadap Gerakan Mahasiswa

Jika kita melihat rentetan gerakan dan peran mahasiswa dalam sejarah perjuangan Indonesia, mahasiswa memiliki peran yang sangat besar. Mulai dari tahun 1905 yang dimana menjadi pelopor kebangkitan nasional, tahun 1928 dipeloporinya gerakan sumpah pemuda, tahun 1945 dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan indonesia, tahun 1966 dan 1998 perannya dalam pergantian rezim.

Rentetan gerakan mahasiswa diatas tidak terlepas dari solidnya gerakan mahasiswa dengan rakyat itu sendiri. Saya rasa tiada orang yang meragukan peran mahasiswa dalam perubahan sosial-politik baik di Indonesia maupun dunia. Dari rentetan sejarah diatas kita bisa melihat betapa pemuda dan mahasiswa memiliki peran besar dalam perombakan atau pergantian era.

Namun beban kesejarahan tersebut yang membuat mahasiswa makin hari makin menjadi-jadi. Dibalut dengan romantisme-heroisme bahwa mahasiswa adalah Agent of change,social control, moral force, iron stocks, dan guardian of value.

 

Negara dengan hegemoninya mengatur dan membatasi gerak mahasiswa, lebih jauh lagi negara bahkan menyediakan lakon dan peran untuk mahasiswa. Lakon dan peran tersebut disiapkan panggung dengan penontonnya adalah Rakyat.

Hegemoni pemerintahan orde baru terhadap peranan mahasiswa sebagai agen pengubah membuat negara lebih leluasa sebagai sutradara dalam lakon zaman yang sedang dimainkan saat ini. Negara dengan kekuasannya yang cenderung korup menyiapkan panggung untuk mahasiswa dengan lakon yang ada, mahasiswa memainkan peranannya sebagai aktor sementara rakyat akan terus menjadi penonton.

Hal inilah yang berdampak pada gerakan mahasiswa yang kadang sifatnya momentuman, bahkan pasca demonstrasi besar-besaran 1998 gerakan mahasiswa yang menang dan berhasil masih menjadi angan-angan.

Beban sejarah yang begitu besar dipundak, ditambah hegemoni negara yang melekat dikepala mahasiswa melahirkan mitologi dan mistik-mistik dalam gerakan mahasiswa. Dimana posisi mahasiswa dalam aksi-aksinya?, tentu saja jawabannya diposisi dimana rakyat berada, namun akibat mitologi dan mistik-mistik gerakan mahasiswa diatas membuat mahasiswa berada di kotak yang terpisah dengan rakyat.

Auto kritik terhadap Peranan Mahasiswa (Agent Of Change, Guardian of Value, Iron Stock, Social Control, dan Moral Force)

Tidak perlu terlalu jauh, sebagian besar mahasiswa saat ini bahkan mengamini peranan heroiknya tersebut. Mereka dengan bangga mengutarakan diri mereka sebagai sang agen pengubah. Di arena masa orientasi mahasiswa baru atau lebih dikenal dengan PKKMB misalnya, para Ketua BEM serta pimpinan lembaga mahasiswa lainnya dengan menggebu-gebu menyatakan peran mahasiswa sebagai agen pengubah. “Mahasiswa adalah agent of change, guardian of value, social control bla bla bla.”

Maka tak heran, dengan peran-peran yang heroik itu mahasiswa dalam gerakannya sering kali bergerak secara otonom bahkan lebih parahnya secara individualistik lembaga tanpa ada keterlibatan rakyat yang katanya dibela itu sendiri.

Mengapa?, Peran negara dalam membentuk kesadaran subyektif mahasiswa ditambah dengan sebagian besar mahasiswa mengamini diri mereka sebagai sang agen perubahan menempatkan diri mereka sebagai seorang ‘intelegensians’ yang lagi-lagi mahasiswa tetap dipihak rakyat, namun berada pada barisan berbeda dengan mereka karena dalih mahasiswa adalah kaum terpelajar.

Alih peran dan sebagian mahasiswa yang kian hari belum bisa menemukan jati dirinya membuat gerakan mahasiswa stagnan dan makin mengkaburkan masa depan gerakan mahasiswa.

Penyematan diri sebagai agent of change menurut Tera salah seorang Aktivis di NTB, merupakan sebuah kecacatan berpikir. Sebab, hal tersebut akan merubah pola pikir mahasiswa terhadap peranan dan bentuk gerakannya.

“Narasi agent of change justru membentuk dan menyetrum pola pikir mahasiswa untuk menjadi (saya adalah entitas yang supreme, mahasiswa adalah entitas yang berbeda dari entitas yang lain, maka perubahan hanya bisa diraih karena saya terlibat) nah narasi itu yang kemudian membuat mahasiswa jauh dari gerakan rakyat,” ucap Tera.

Padahal fakta sejarah gerakan-gerakan mahasiswa dikatakan berhasil karena tidak ada pendikotomian antara gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat. Aksi dengan buah kemenangan biasanya adalah aksi yang melibatkan rakyat dan sifatnya masif, tidak ada unsur egosentris gerakan antara lembaga yang satu dengan lainnya. Narasi agent of change kemudian membuat pendikotomian antara gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat, karena dalih bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual.

Penulis sendiri merasa perlu ada upaya demitologisasi gerakan yang lebih masif lagi, supaya kita sebagai mahasiswa terlepas dari jeratan-jeratan hegemoni negara. Langkah awal yang hendak dilakukan mungkin dengan cara mengubah pola pikir terhadap peranan mahasiswa yang terlalu subyektif tersebut.

“Mahasiswa itu adalah penyokong perubahan, dia rasanya kalau di saya adalah bukan agent of change. Karena Kalau kita bicara upaya memperjuangkan hak-hak demokratis, terlebih soal demonstrasi besar-besaran mahasiswa itu memiliki peran sebagai penyokong terhadap elemen atau entitas yang lebih banyak kuantitasnya seperti kaum tani atau kelas buruh, masyarakat umum pada intinya,” tegas Tera.

 

Implikasi Hegemoni Pemerintah Orde Baru Terhadap Gerakan Mahasiswa

Implikasi dari hegemoni negara ini membuat gerakan mahasiswa kian hari menjadi gerakan yang sifatnya momentuman, lebih parah dari itu gerakan-gerakan yang dilakukan bahkan atas nama lembaganya masing-masing (terpecah-belah). Padahal menurut Fajar salah seorang penggerak lingkungan di NTB, seharusnya mahasiswa sekarang sudah tidak lagi berbicara tentang perbedaan ideologis lembaga, mahasiswa mestinya turun atas dasar musuh bersama.

“kita tidak bicara lagi tentang perbedaan ideologis perbedaan metode gerakan, tapi sudah berbicara tentang perbedaan kepentingan dalam artian hari ini, harusnya ada salah satu penyadaran ya kita harusnya turun atau bergerak atas dasar musuh bersama itu sendiri,” ungkap Fajar atau lebih akrab disapa Beko.

Naif mungkin kata yang tepat dari Tera, menurutnya egosentrisme gerakan memang ada sejak dulu hingga terpecah belah. Namun, perpecahan itulah yang kemudian membentuk kesadaran apriori yang dimana jika bergerak secara organ masing-masing hanya akan memenangkan organ itu saja.

“Naif sih, menilik sejarah di 98, sekitar tahun 93 dan 95 gerakan itu pecah, memang betul ada aja egosentris gerakan yang ingin merebut lapangan politik, akan tetapi di tahun 97 dan 98 mereka sadar bahwasanya gak akan bisa menang kalau benderanya satu,satu,satu, harus nyatu memang semuanya. Langsung melihat kenyatan bahwa jika caranya terpecah-pecah kemudian membawa kemenangan bagi organ dan lembaganya sendiri itu ndak akan bisa tercapai,” ucap Tera.

Ada pola-pola yang penulis tangkap selama mengamati gerakan-gerakan mahasiswa akhir-akhir ini. Semisal demonstrasi hari-hari ini lebih ke tarung gagah-gagahan siapa yang berorasi, aksi cenderung dijadikan panggung untuk menunjukkan eksistensinya. Maka tak heran, sering kali aksi misalnya menumbalkan korban. Karena, petugas aksi yang ditugaskan sibuk menunjukkan eksistensinya tanpa terlalu memikirkan massa aksi yang lain. Bahkan saat ini trendnya adalah buat story di sosial media menggunakan foto atau video orasi ditambah dengan kata-kata idealik yang entah hasil sendiri atau buku.

Implikasi terhadap peranan mahasiswa dibawah bayang-bayang negara juga melahirkan kebiasaan baru. Yang mulanya mahasiswa diidentikkan dengan penggerak atau demonstran, orang-orang yang berpengaruh terhadap berubahnya kebijakan sosial politik negara, dan kini sudah beralih trend. Beberapa mahasiswa sekarang lebih memilih sebagian besar hidupnya di kampus sebagai seorang penambang piala plastik. Tak bisa dipungkiri juga, hal ini merupakan batasan-batasan gerak mahasiswa saat ini yang diatur oleh negara.

Hal inilah yang menurut Tera juga menjadi dampak minimnya minat mahasiswa untuk melakukan demonstrasi. Bahwasanya lembaga-lembaga atau dari segi individu mahasiswa tidak pernah dibiasakan untuk bergerak.

“Absennya iklim gerakan atau kebiasan kita untuk melakukan demonstrasi atau gerakan, itu kemudian menjadi keterbiasaan. Normalisasi dimana orang juga udah malas gerak, beberapa lembaga juga bahkan kadang-kadang juga sudah terlihat kayak, bukan acuh! Mereka tetap ingin membahas itu tapi mereka tidak siap karena dipengaruhi oleh faktor eksternal atau lingkungan yang tidak membiasakan organ atau lembaganya itu untuk bergerak turun ke jalan,” terangnya.

Perpecahan dan gerakan yang sifatnya momentuman itu pada ujungnya merubah paradigma mahasiswa lainnya tentang gerakan mahasiswa. Bahkan beberapa mahasiswa harapannya pupus terhadap gerakan mahasiswa akhir-akhir ini.

Berikut pendapat beberapa mahasiswa mengenai gerakan-gerakan mahasiswa akhir-akhir ini.

“Jujur saja tidak ada yang saya harapkan. Namun setidaknya jangan sampai para pendemo mengorbankan diri sendiri sampai pingsan hanya untuk kegiatan yang tidak membuahkan hasil,” ungkap WL salah seorang mahasiswi FKIP Unram.

Ndak guna sebenarnya demo itu, capek-capek demo ujung-ujungnya tuntutan gak berhasil. Dan ada dua model pendemo menurut saya, ada yang benar-benar demo untuk apa yang dituntut, dan ada yang hanya membuat story untuk di upload,” ungkap SA seorang mahasiswa D3 Pariwisata Unram.

“Sudah tidak tahu hasilnya kenapa demo, dan saya tidak memiliki harapan,” kata SA salah seorang mahasiwi FKIP Unram.

“Mengenai demo sepertinya sejauh ini sangat jarang berhasil yaa, malah jatuhnya kaya tawuran antara para aparat dengan mahasiswa ujung ujungnya. Yang katanya mau menyalurkan aspirasi rakyat malah jadinya lebih ke meluapkan emosi sendiri bahkan sampai ada yang merusak fasilitas umum,” ucap salah seorang mahasiswi yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurut hemat penulis, jika terus dibiarkan seperti demikian maka gerakan mahasiswa akan kabur masa depannya. Memang harus ada kesadaran apriori dalam setiap individu penggerak di semua lembaga mahasiswa, bahwa jika gerakan hanya dilakukan momentuman, tidak pernah melibatkan rakyat, serta sifatnya terpecah belah maka akan tetap stagnan seperti ini hingga masa yang akan datang. Dan jika gerakan tetap stagnan maka perubahan bukan mungkin tapi tak akan pernah diraih. Kesadaran apriori itulah yang nantinya akan perlahan melepas mahasiswa dari belenggu hegemoni negara.

Sebab, jika tidak ada perombakan atau perubahan dalam gerakan mahasiswa, maka sejarah kejayaan gerakan mahasiswa akan tetap menjadi sejarah. Dan perubahan itu harus ditopang dari paradigma berpikir setiap entitas dan bahkan individu mahasiswa.

Jika tidak, maka fakta-fakta kemenangan itu hanya akan menjadi cerita, dan cerita berubah menjadi legenda. Dan semua bahan bakar motor perubahan itu tetap bersumber dari negara. Mahasiswa hanya mendengar deru merdu dari suara yang dihasilkannya.

Demo Hari Tani Nasional, Sejumlah Petani Orasi di Depan Gedung Gubernur NTB

0

Mataram, MEDIA – Aksi dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional 2023 di depan Gedung Gubernur NTB dihadiri sejumlah Petani di berbagai wilayah Lombok, (25/9).

Aksi ini diwarnai dengan lantunan-lantunan orasi para petani yang berasal dari beberapa wilayah, seperti Sambelia dan Mandalika.

“Kami hadir disini merupakan hasil dari kesepakatan bersama melihat dari permasalahan-permasalahan yang ada,” ungkap Lalu Prayadi salah seorang petani dari Kuta Mandalika.

Para petani yang hadir dalam aksi ini membuktikan bahwa mereka juga paham akan permasalahan-permasalahan pertanian yang ada di NTB, dibuktikan dengan tuntutan-tuntutan yang mereka layangkan saat berorasi.

“Kami meminta segera diselsaikan permasalahan penyelsaian kasus tanah, pelaksanaan aturan serta pembangunan, perbaikan taraf hidup masyarakat yang terkena dampak program relokasi di luar kawasan,” tegas Lalu Prayadi.

Aksi gabungan antara Front Mahasiswa Nasional (FMN) dengan petani ini secara umum menuntut agar pemerintah Nusa Tenggara Barat dalam momentum hari tani 2023 untuk segera menyelsaikan beberapa masalah yang dalam hal ini bukan hanya permasalahan agraria saja.

Adapun beberapa tuntutan yang mereka lontarkan diantaranya :

1. Segera mengungkapkan audit tanah dan penilaian ulang data pemukiman kembali ITDC bersama dengan dokumentasi yang merinci pembayaran tunai dan bank untuk kompensasi!

2. Menyediakan perumahan yang layak bagi warga sekaligus memberdayakan mereka dengan hak untuk menentukan lokasi yang tidak terputus dari akses penghidupan mereka!

3. Memberikan ganti rugi yang memadai untuk rumah penggusuran setara dengan biaya pembangunan rumah semi permanen yang dibutuhkan didasarkan pada harga bahan bangunan di kawasan Mandalika!

4. Memberikan pemulihan kehidupan bagi yang terkena dampak penduduk berdasarkan jumlah masyarakat, bukan hanya kepala keluarga, berdasarkan nilai mata pencaharian yang hilang !

5. Hentikan penggusuran sampai pemukiman kembali secara adil, kompensasi dan pemulihan mata pencaharian ketentuan telah disepakati dalam acara konsultatif dengan semua proyek masyarakat yang terkena dampak!

6. Kaji Ulang Penerbitan Izin Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. Sadhana Arifnusa Di Kecamatan Sambelia.

7. Mendesak Pemerintah Provinsi NTB untuk mengaudit keuangan Beasiswa KIP di Wilayah Mataram.

8. Mendesak Pemerintah Provinsi NTB untuk mengkaji ulang biaya kuliah mahasiswa sesuai dengan kemampuan pembayaran orang tua mahasiswa.

9. Cabut Implementasi MBKM & PTNBH Seluruh Universitas di wilayah NTB.

10. Mendesak Pemerintah Pusat untuk Mencabut UU No. 6 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja.

11. Pecat Penjabat yang jadi pengusaha di cabinet pemerintahan pusat dan provinsi.

12. Hentikan perampasan Tanah Rakyat

13. Hentikan Kriminalisasi Kaum Tani yang Memperjuangkan Tanahnya

14. Hentikan Liberalisasi , Komersialisasi dan Privatisasi Pendidikan

15. Wujudkan Pendidkan yang ilmiah, Demokratis dan Mengabdi Pada Rakyat.

16. Laksanakan Refroma Agraria Sejati sebagai Landasan Pembangunan Industri Nasional.

Aksi ini dimulai sekitar pukul 11.00 Wita dengan titik keberangkatan dari Masjid Raya Hubbul Wathan (Islamic Center).

 

Sekitar pukul 11.35 Wita Asisten II, H. Fathul Ghani keluar menemui massa aksi. Ia mengatakan bahwa permasalahan-permasalahan pertanian yang ada di Mandalika terutama sudah difasilitasi oleh pemerintah.

“Sudah difasilitasi oleh pemerintah, mana hak yang harus diperjuangkan oleh rakyat dan mana juga hak dari pihak swasta, jadi saya rasa clear,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, para petani tidak terima permasalahannya dianggap clear atau selesai. Mereka meminta agar pemerintah NTB untuk melakukan kunjungan ke tempat mereka.

“Coba bapak sekali-sekali menjenguk disana, jangan hanya dikit-dikit memakai moncong senjata ketika menghadapi rakyat,” ujar salah seorang petani. 

Tidak hanya orasi-orasi yang dilantunkan oleh para petani, aksi ini juga diwarnai dengan aksi teaterikal oleh beberapa massa aksi.

Aksi ini berakhir sekitar pukul 12.20 Wita, diakhiri dengan pernyataan sikap dari massa aksi. (Zhr)

Neo Kolonialisme Agraria di Indonesia

0

Oleh : Muh. Nasirudin Albani

Sejarah bangsa kita memiliki cerita panjangan tetang agraria atau pertanahan. Mulai dari zaman Sebelum kemerdekaan sampai dengan era Setelah kemerdekaan. Kita di jajah oleh Belanda dikarenakan tanah Nusantara ini sangatlah subur dan kaya Dengan Sumber daya Alam.

Sedikit kita tilik era awal VOC masuk ke Indonesia, dia awal VOC datang ke raja-raja di pulau jawa dengan menawarkan perjanjian kerja sama dalam hal perdagangan. Lama kelamaan VOC mulai menikung raja-raja tersebut dari belakang dan menguasai tanah, hutan, bahkan mengusir para raja tersebut dari Kerajaan mereka.

Lanjut ke masa penjajahan oleh Belanda dimana salah satu aturan yang dibuat adalah pencatatan pertanahan, ini merupakan cara untuk mengambil alih tanah-tanah milik rakyat. Disini penjajah dulu mereka akan memeriksa tanah-tanah milik Pribumi apakah memiliki sertifikat atau tidak, sedangkan pada masa itu Pribumi masih menggunakan hukum adat dalam pembagian tanah dan seperti yg kita ketahui bahwa hukum adat tidak tertulis. Jadi ketika Pribumi pada masa itu yangtidak bisa membuktikan bawah tanah itu adalah milik akan di ambil alih oleh kolonial dan di anggap sebagai tanah negara.

Ketika awal kemerdekaan pemerintah berusaha untuk membuat peraturan perundangan-undang guna mengatur tentang agraria. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjadi dasar peraturan perundang-undangan tersebut. Bahwasanya “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Hal tersebut menjadi cikal bakal lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) nomor 5 tahun 1960 yang akhirnya bisa terbentuk setelah 15 tahun lamanya Indonesia merdeka.

Pada Era Reformasi hingga sekarang, banyak sekali yang kita temukan masalah-masalah Agraria yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.

“Dalam lima tahun terakhir paling tidak sebanyak 2.288 konflik agraria terjadi. Sebanyak 1.437 orang dikriminalisasi atas konflik agraria ini. Lalu, 776 orang dianiaya, 75 orang tertembak, dan 66 orang tewas di wilayah konflik agraria,” Saan Mustofa wakil komisi II DPR RI ( web. DPR RI)

Dari ungkapan diatas kita tahu bahwa banyak sekali konflik Agraria yang terjadi. Kebanyakan konflik ini terjadi karena ambisi dari pemerintah itu sendiri dengan Proyek-proyek strategis Nasional yang mereka canangkan.

Dalam pertempuran dengan IMF pada 2018 di Nusa Dua bali, Staf Khusus I Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Sahala Lumban Gaol. Dalam acara tersebut Sahala menyampaikan bawah Indonesia akan membuat 10 bali baru antara lain Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Pulau Seribu, Candi Borobudur, Mandalika, Gunung Bromo, Wakatobi, Labuan Bajo, hingga Morotai akan menjadi 10 bali baru. (CNN Indonesia)

Masalah di Pulau Rempang 16.583 Hektar tanah yang menajadi tempat proyek strategis Nasional dan 7. 500 orang yang di paksa keluar dari tanah nenek moyang mereka. Tindakan represif dari para aparat negara yang melakukan penangkapan dan pemukulan yang lakukan oleh mereka.
Belum lagi dengan proyek 10 bali baru yang menimbulkan banyak Konflik Agraria, seperti Mandalika banyak konflik yang terjadi disana. Pulau komodo yang masyarakat disana dipaksa keluar dari tanah kelahiran mereka. Labuan Bajo proyek jalan yang di suatu desa yang di paksa untuk membongkar rumah dalam 3 hari, jika tidak segeradilaksanaka maka jalan itu tidak melewati kampung mereka. Dan disana mereka tidak mendapat kompensasi atas tanah mereka.

Jika kita runutkan dari kejadian diatas, ini merupakan sebuah gejala Dari Neo Kolonialisme Agraria dari pandangan saya. Bagaimana pemerintah sendiri yang melakukan pengusiran terhadap masyarakat yang seharusnya mereka jaga dan lindungi.

Neokolonialisme adalah masa penjajahan yang baru dan lebih halus. Perlu diketahui bahwa masyarakat dahulu merasakan zaman kolonialisme dan sekarang masyarakat merasakan neokolonialisme dalam kehidupan. Neokolonialisme mempunyai cakupan yang lebih kompleks daripada kolonialisme.

Neokolonialisme Agraria sendiri merupakan suatu kegiatan yang dimana hak atas tanah rakyat dirampas dengan cara yang legal dimata hukum.
Gejala Neokolonialisme ketika negara-negara berkembang menjadi butuh industri dari perusahaan asing dengan upah yang sangat kecil. Sekarang kita lihat bagaimana negara kita terus membuka peluang asing bagi para investor. Bahakan tanah-tanah masyarakat sediri ada yang di ganti rugi dan ada juga yang tidak sama sekali.

Semua itu dengan dalih bawa akan membuka lapangan kerja, akan tetapi dengan Sumber Daya Manusia kita yang masih belum siap dengan semua itu ini mengakibatkan banyak tenaga dari luar yang terserap.

Ini merupakan Neo kolonialisme Agraria/ Penjajahan baru di bidang pertanahan dan yang sangat disayangkan yang melakukan penjajah itu adalah pemerintah kita sendiri. Para pemangku Kekuasaan seakan tutup mata melihat penderitaan masyarakat kecil yang mempertahankan tanah mereka.

Mahasiswa Faterna Adakan Pelatihan Pemeliharaan Trigona Guna Mendorong Kemajuan Sektor Tani dan Hutan

0

Lotara, MEDIA— Dalam rangka mendorong kemajuan disektor hasil pengolahan tani dan hutan di Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Mahasiswa Peternakan Unram yang tergabung dalam tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Maternapala Unram mengadakan pelatihan manajemen pemeliharaan trigona pada Kamis, (21/9). 

 

Ketua tim pelaksana,Dwi Ayu Lestari menerangkan bahwa pelatihan ini bertujuan guna meningkatkan SDM kelompok dalam manajemen budidya lebah trigona, Sasarannya adalah para pemuda desa sesait yang tergabung menjadi kelompok tani. Pelatihan ini diadakan dikarenakan masih sedikit kelompok yang tertarik didesa sesait dalam membudidayakan lebah trigona.

 

“Adanya pelatihan ini sebagai pemantik kelompok tani atau masyarakat dalam manajemen membudidayakan lebah trigona dan berharap bisa lebih berkembang kedepannya,” Ujarnya. 

 

Para Pemuda yang hadir dalam pelatihan tersebut merasa bersyukur telah dilibatkan, seperti yang disampaikan oleh pemuda bernama Ecang.

 

“bersyukur sekali teman-teman memilih pemuda sebagai langkah awal untuk mengikuti program ini,semoga kedepannya bisa terus berkembang, ” tutur Ecang

 

Tidak hanya sekedar mengadakan pelatihan, PPK ORMAWA Maternapala Unram juga memberikan langsung koloni lebah trigona. Sebanyak 40 kotak koloni lebah trigona diberikan kepada Kelompok Tani Hutan Lotus Agro sebagai bukti dukungan langsung serta diharapkan dapat mempraktekkan ilmu yang didapat dari pelatihan ini kedepannya. 

 

Penyerahan koloni lebah diterima langsung oleh Wiriantara Haris Supan, S. Akun. MM. selaku ketua Kelompok Tani Hutan Lotus Agro.

 

”Kami mengucapkan terimakasih kepada adik-adik dari Tim PPK ORMAWA Maternapala Unram yang telah mengadakan pelatihan ini dan pengadaan koloni lebah trigona ini untuk kelompok tani hutan agro Lotus disini,” ujar Wiriantana. 

 

 

Program ini mendapatkan respon positif dari instansi pemerintah setempat. Pelatihan ini dihadiri oleh Burhanudin S.P selaku PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) Desa Sesait dan Sukri S.Pt (Bang Slesh) sebagai pemateri dalam manajemen pemeliharaan lebah trigona, sementara itu ada 2 kelompok yang mengikuti pelatihan ini yaitu Kelompok Tani Hutan Agro Lotus dan Kelompok Bunga Mekar. (Albn / adventorial )

 

Si Kulit Putih dan Hitam

0

Oleh : Siti Indrawati (Sekkum UKPKM MEDIAUnram)

Sebuah hutan, hiduplah dua orang yang bertetangga. Kedua orang itu tampak berbeda meskipun sama-sama tinggal dihutan. Yang satunya berwarna putih bak salju yang baru turun dari langit, yang satunya lagi berwarna hitam kecoklatan dengan tahi lalat yang memenuhi hampir seluruh bagian mukanya. mereka tinggal bersebelahan satu sama lain di sebuah rumah dengan danau membentang luas di sekitarnya.

 

Si kulit hitam bernama Gavina, ia selalu tampak ceria dan aktif menjelajahi hutan kesana kemari. Sedangkan si kulit putih bernama Gauri yang selalu menyendiri dan tidak suka bergaul dengan orang lain disekitarnya.

 

Suatu hari, cuaca tampak cerah. hutan yang semula tampak suram kini lebih bercahaya akibat pancaran matahari yang cerah. Ada seorang Wanita yang berkulit hitam duduk di tepi danau sembari menikmati air yang bergerak akibat terpaan angin. Wanita tersebut tampak tersenyum dengan sangat manis dan berjalan menuju rumah dekat pohon besar tempat Gavina dan Gauri itu tinggal. Gavina berencana untuk mengajak Gauri bermain di padang rumput di dekat danau. Disana udaranya sangatlah sejuk dan cocok untuk bermain.

 

“Gauri keluarlah! Mari kita bermain bersama,” ucap Gavina sembari menekan bell kecil yang ada dirumahnya Gauri. 

 

Tidak ingin menyerah, Gavina terus menekan bell itu hingga menimbulkan suara yang cukup berisik. Karena Gavina jelas tau jika Gauri tengah berada di dalam, oleh karena itu ia terus saja menekan bell rumahnya sampai Gauri keluar. 

 

Kedua mata bulatnya berbinar saat berhasil membuat Gauri keluar sampai melompat lompat kesenangan dan penuh semangat. 

 

“Gauri, mari bermain bersamaku,” ucapnya kembali dengan nada riang. 

 

Bukannya membalas, Gauri malah hanya terdiam sembari menatap Gavina yang masih melompat-lompat tinggi. wajahnya tampak tak terlihat senang, jutek dan mengepalkan kedua tangan didepan dadanya.

 

“Kenapa kamu berisik sekali, aku ingin tertidur dengan tenang! Pergi dari sini! ” ucapnya dengan wajah marah. 

 

Gavina yang tadinya tengah melompat kini terdiam langsung saat mendengar ucapan Gauri, wajah yang tadinya ceria mulai menghilang. Ia tertunduk malu dihadapan Gauri. 

 

“Apakah kamu tidak ingin bermain denganku?” tanya Gavina membuat Gauri semakin kesal. 

 

Si kulit putih itu Manaikkan volume suara yang begitu keras. “aku tidak sudi bermain dengan orang yang berkulit hitam sepertimu! aku ini orang yang cantik, sedangkan kau berwana hitam, jelek lagi”, sarkasnya sontak membuat Gavina terkejut dengan ucapan Gavina si kulit putih yang sudah ia anggap sebagai teman itu. 

 

“Kenapa ucapanmu sangat kasar, aku hanya megajakmu bermain ke padang rumput di depan danau. Disana banyak sekali buah dan hewan-hewan kecil yang juga sedang bermain,” jelas Gavina masih mencoba untuk tidak kesal. 

 

“Pergi saja sendiri, kenapa mesti mengajakku, aku tidak ingin bergabung dengan orang-orang yang jelek seperti kalian!” balas Gauri dengan keras membuat Gavina tidak menyangka dengan kata-kata kasar yang dikeluarkan Gauri. 

 

Sebelum benar-benar masuk kembali ke dalam rumahnya, si kulit putih itu berkata, “Jangan pernah mengajakku bermain lagi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau bermain denganmu yang jelek.” 

 

Gavina terdiam dengan wajah yang berkaca-kaca, hatinya merasa sakit dihina seperti itu. Apalagi oleh orang yang sudah ia anggap sebagai temannya itu. Semenjak kejadian tersebut ia berjanji tak akan perah mengajak Gauri bermain lagi, hatinya terlalu sakit saat mengingat perkataan si kulit putih tersebut. 

 

Kedua hubungan mereka semakin merenggang, Gauri si kulit putih itu bahkan tak merasa bersalah dengan kelakuannya itu. ia benar-benar terlihat membenci Gavina yang berklit hitam itu. Namun, suatu hari ada sebuah kejadian yang membuat si kulit putih itu tersadar dengan perbuatan yang telah ia lakukan.

 

Suatu hari, hujan lebat melanda hutan. Sungai-sungai kecil meluap, menciptakan arus yang deras dan berbahaya. Gauri keluar dari rumah dan berusaha mencari tempat perlindungan. Dengan sigap, Gauri segera melompat ke atas sebuah batu besar yang terletak di tepi sungai. Namun tak berselang lama, panik dan bingung. Ia tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Tanpa berpikir panjang, Gauri berlari ke tepi sungai dan terhanyut oleh arus air yang deras. Ia berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang bisa membantunya.

 

Bertepatan dengan itu Gavina yang tengah berlindung dari hujan di bawah pohon melihat kejadian itu, ia segera berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan Gauri. Dengan kepandaian dan kecepatannya, Gavina melompat ke sungai dan berenang melawan arus yang kuat. Ia berhasil mencapai Gauri itu yang hampir tenggelam dan menariknya ke tepi sungai dengan susah payah.

 

Setelah menyelamatkan Gauri, Gavina menarik Gauri untuk duduk di tepi sungai, basah kuyup dan lelah. Gauri pun langsung merasa bersalah dan berkata, “Terima kasih, Gavina. Aku bodoh karena tidak berpikir dengan baik. Kau sangat cerdik, baik hati dan pemberani”.

 

Gavina tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa, Gauri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan. Kita saling melengkapi satu sama lain. Kita adalah teman, dan kita harus selalu saling membantu.”

 

Mendengar itu lantas membuat Gauri teringat akan perkataanya yang telah menyakiti Gavina. Ia sudah berbuat jahat namun Gavina mau membantunya dalam kesusahan seperti tadi. Sungguh ia sangat merasa bersalah dan menyesal. 

 

“Gavina, sekali lagi maafkan aku ya. Hari itu aku sudah berkata kasar padamu. Maaf karena sudah membencimu dulu”, ucapnya dengan penuh penyesalan.

 

Gavina yang mendengar itu lantas tersenyum dengan tulus. “Tidak apa-apa, dari awal aku sudah memaafkanmu. Sekarang kita harus mulai berteman ya”. 

 

Tanpa ragu Gauri mengangguk dengan cepat, ia tidak ingin menyia-nyiakan teman yang baik seperti Gavina lagi. Ia juga berjanji tidak akan berkata-kata kasar dan menjelekkan orang lain lagi. karena kita tidak tau di masa depan bisa saja orang yang kita benci menolong kita diwaktu sulit.

 

Dari kejadian itu, Gauri dan Gavina menjadi teman yang tak terpisahkan. Mereka saling menghargai dan belajar dari satu sama lain. Gavina dan Gauri belajar menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan Bersama-sama, mereka menjelajahi hutan dengan penuh kebahagiaan dan persahabatan yang abadi

4 Negara Ikuti Kegiatan Internasional Prodi HI Unram

0

Mataram, MEDIA— Prodi Hubungan Internasional (HI) Unram, mengadakan kegiatan Southeast Asian Conference Event 2023, Selasa (19/9). Kegiatan  ini mengangkat tema Migrasi dan Pembangunan di Asia Tenggara. 

Southeast Asian Conference Event ini yang pertama kali diadakan di Nusa Tenggara Barat.

“Ini adalah Kegiatan konfresnsi petama yang diadakan oleh Prodi Hubungan Internasional, fakultas Hukum Universitas Mataram,” ucap Kinanti ketua Panitia SeaCMD di Hotel Lombok Astoria.

Keynote speaker dalam acara ini adalah Prof. Dr. Jun Honna Ritsumeikan dari University Jepang. Kemudian Prof. Dr. Johan lindquits Stockholm University dari Swedia, dan Dr. Luci Jordan University Of Hongkong dari Cina.

 

Fokus acara ini tentang Wilayah regional Asia Tenggara yang menitikberatkan pada sisi imigrasi dan pembangunan Bekelanjutan. Sebelum kegiatan ini HI sudah melakukan beberapa kerja sama.

 

Kaprodi HI Unram, Prof. Muhammad Sood SH., menjelaskan, sebelumnya prodi HI sering melakukan kerjasama dengan negara-negara ASEAN. Bahkan tidak sedikit mahasiswanya  yang magang ke luar negeri. Antara lain, Malaysia dan Thailand.

 

“Juga ada mahasiswa yang ke Siangapura,” sebut orang nomor satu Prodi HI tersebut.

 

Menurutnya, konfrensi seperti ini masih difokuskan untuk wilayah Asia. Sementara untuk masuk ke wilayah  Eropa, belum bisa dilakukan. Meski begitu, pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan para alumni di sana.

 

“Acara ini masih untuk wilayah Asia saja, dan untuk bisa sampai juga wilayah Eropa kita masih kekurangan dana, akan tetapi sudah mulai menjalin komunikasi dengan alumni-alumni yang ada di Eropa,” lanjutnya.

 

Dalam acara ini diikuti oleh 150 lebih peserta dan 60 paper yang mengunakan sistem kelompok. Peserta yang mengikuti acara ini dari berbagai negara. Seperti Indonesia, Jepang, Thailand, Malaysia, dan Belanda.

 

Acara ini berlangsung Selama 3 hari dengan pembahasan ada 13 topik antara lain :
1. Diaspora dan transasionalisme di asia tenggara
2. Tata kelola migrasi di asia tenggara
3. Migrasi tenaga kerja di asia tenggara
4. Pengungsi dan migrasi yang tidak teratur
5. Komunitas Subaltern dan Marginal di Asia Tenggara
6. Masyarakat Sipil dan Pembangunan Multiskalar
7.Tantangan pembangunan yang menurun
8. Agama dan Pembangunan Berkelanjutan
9. Hubungan Pariwisata dan Pembangunan
10. Keamanan Maritim, Pertahanan dan Perekonomian
11. Kerjasama Multilateral di Asia Tenggara
12. Kawasan Ekonomi Khusus dan Kapitalisme di Abad 21
13. Topik-topik lain yang relevan dengan migrasi dan pembangunan. (albn, nki/Advetorial)

Dua Mahasiswa dan Satu Alumni Unram Berhasil Lolos Seleksi PKPMN 2023

0

Unram, MEDIA – Dua mahasiswa dan satu alumni Universitas Mataram lolos seleksi Pendidikan Kader Pemimpin Muda Nasional (PKPMN) yang dilaksanakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Sabtu (16/9).

 

Ketiga mahasiswa tersebut diantaranya Muhamad Afif dari fakultas Hukum, dr.Syarifa Soraya dari fakultas Kedokteran,dan Ichlasul Amal dari fakultas matematika dan pengetahuan alam. Proses untuk dapat dinyatakan lolos seleksi membutuhkan waktu yang cukup panjang dari bulan agustus hingga september.

 

“Kita mengikuti beberapa tahapan seleksi. Seleksi pertama seleksi administrasi, meliputi berkas identitas diri dan kita disuruh bikin paper tentang proyeksi kepemimpinan millenial,” Ungkap M. Afif Amanullah

“Seleksi kedua tes CAT, yaitu tes Wawasan Kebangsaan. Dan tes terakhir tes Wawancara,” Ujar mahasiswa yang sekaligus menjabat sebagai Sekjend BEM Unram tersebut.

 

Rencananya, kegiatan ini akan berlangsung bulan depan pada tanggal 2 hingga 16 Oktober di Jakarta, dengan beberapa serangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan.

 

“Berkaca pada tahun kemarin, kegiatannya meliputi pembekalan materi tentang kepemimpinan, kepemudaan dan materi lainnya yang akan disampaikan oleh para stakeholder seperti KPK, DPR RI, MK dan juga pemuda inspiratif lainnya, disertai kunjungan ke lembaga negara yang terkait,” Jelas Afif.

 

 

Afif berharap dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan pemuda lainnya. 

 

“Semoga dengan adanya program ini bisa membuat pemuda semakin sadar terhadap perannya dalam berkontribusi untuk bangsa”, ucapnya. (Mra)

Tower Air Food Court Unram Kebakaran, Diduga Pemicunya Korsleting Listrik

0

Unram, MEDIA – Tower Air di Food Court Unram kebakaran sekitar pukul 17.35 Wita, diduga hal tersebut terjadi karena adanya korsleting arus listrik, Rabu (13/9).

 

Menurut Lalu Surya Dharma selaku Koordinatir Teknisi Listrik Unram, korsleting tersebut penyebabnya karena kapasitas dari kabel tidak sesuai dengan beban pemakaiannya.

 

“Terjadi Over Capacity atau Kapasitas instalasi tidak sesuai dengan beban pemakaian yang mengakibatkan kabelnya panas,terus meleleh lalu terjadilah konsleting listrik dan ditambah banyak material yang mudah terbakar didalam,” Jelasnya.

Kebakaran tersebut berlangsung sekitar 40 menit lamanya hingga berhasil dipadamkan. Meskipun apinya tidak terlalu besar, tapi asap kebakaran tersebut cukup menutupi seluruh kawasan Food Court Unram. 

 

Akibat dari kebakaran ini, terganggunya aliran listrik kantin hingga kurangnya pasokan air bersih ke setiap fakultas. 

 

“Yang terganggu paling utama salah pasokan air bersih kesetiap fakultas, terlebih ke Rektorat dan pasokan listrik ke kantin,” ungkap Lalu Surya Dharma.

Hingga saat ini langkah yang dilakukan oleh pihak rektorat supaya menangani dan menjaga terjadinya hal seperti ini terjadi adalah dengan cara instalasi ulang kabel-kabel yang dianggap over capacity.  

 

“Langkah pertama yg kita akan ambil melakukan penggantian kabel Induk yang lebih besar supaya bisa menampung kapasitas pemakaian,” ucapnya. (Albn)

e-KTM Angkatan 2022 Mandek, disebut karena Langkanya Bahan Baku

0

Unram, MEDIA – Mahasiswa Universitas Mataram angkatan tahun 2022 belum mendapatkan elektronik kartu tanda mahasiswa (e-KTM) hingga saat ini, padahal sudah berselang satu tahun sejak Mahasiswa angkatan 2022 berkuliah di Unram.

Lantas saja hal demikian menjadi pertanyaan bagi publik Unram, terutama bagi mahasiswa angkatan 2022. Kenapa hingga saat ini e-KTM tak kunjung jadi dan dibagikan?.

Menurut penulusuran mediaunram.com, memang beberapa e-KTM sudah dibagikan, namun hal tersebut hanya bagi Fakultas Hukum dan Pertanian.

Menurut Lalu Wahyu Alam selaku Menko Kemahasiswaan BEM Unram, penyebab mandeknya e-KTM angkatan 2022 karena langkanya bahan baku.

“Dari pihak BRI katanya ada kendala dari pusat terkait pengadaan kartu khusus untuk KTM ini, Kendala yang mereka sampaikan kemarin terkait kelangkaan bahan,” ungkapnya.

Menurut Alam, proyek pembuatan e-KTM ini merupakan kerja sama antara Unram dan BRI. Setelah konfirmasi ke pihak birokrasi, Alam menyampaikan bahwa dari pihak birokrasi sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada BRI.

“Dari pihak birokrasi menyerahkan semuanya ke BRI,” ucapnya.

Merespon mandeknya e-KTM angkatan 2022 ini, Alam mengatakan bahwa ia sudah mengadakan pertemuan dengan pihak BRI langsung. Menurutnya, pihak BRI menjanjikan e-KTM angkatan 2022 paling lambat akan jadi dan dibagikan pada akhir September ini.

“Konfirmasi terakhir dari pihak BRI itu sedang proses dan paling lambat semua fakultas itu akhir september dibagi semuanya,” katanya.

“Meskipun Sangat disayangkan sekali, karena sudah satu tahun kurang lebih mahasiswa angkatan 2022 tidak mempunyai KTM,” sambungnya.

Tim mediaunram.com sudah beberapa kali berusaha meminta konfirmasi ke pihak registrasi rektorat, namun hingga berita ini diterbitkan tidak ada jawaban sama sekali. (Mra)

Unram Siap DO Oknum Mahasiswa Tersangka Kasus Dugaan Kekerasan Seksual

0

Unram, MEDIA – Unram siap Drop Out (DO) oknum mahasiswa berinisal RM yang menjadi tersangka dugaan kekerasan seksual terhadap rekannya, Rabu (30/8).

 

Sebelumnya RM telah resmi ditetapkan menjadi tersangka oleh Polda NTB.

 

Penetapan tersangka itu tertuang dalam surat Nomor: B/84/VII/RES.1.4/2023/Ditreskrimum dan turut ditandatangani Dir Reskrimum Polda NTB, Kombes Pol Teddy Ristiawan.

 

Kuasa Hukum A, Fathul Khairul Anam mengatakan, surat penetapan tersangka tersebut diterimanya dari penyidik pada Rabu, 23 Agustus 2023.

 

“Kami terima tiga hari yang lalu,” mengutif dari NTB Satu, Sabtu, 26 Agustus 2023 malam.

 

Mahasiswa jurusan hukum itu disangkakan pasal 6 huruf A Undang-undang RI Nomor 12 tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

 

Berita sebelumnya, RM diduga melecehkan rekannya sendiri, A pada Maret 2023 lalu. Modusnya, korban mulanya diajak berjalan-jalan. Sebelum menuju lokasi, korban diajak terduga pelaku ke kosnya di wilayah Ampenan, Kota Mataram dengan alasan mengganti baju.

 

Sesampainya di kos, terduga pelaku kemudian melancarkan aksi bejatnya kepada A.

 

Awal mula kasus ini, pihak Unram telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 30 hari kepada oknum mahasiswa tersebut.

 

Namun mengetahui terduga pelaku telah ditetapkan menjadi tersangka, Ketua Satgas PPKS Unram, Joko Jumadi, S.H.,M.H. mengaku bahwa akan memberikan sanksi berat terhadap tersangka.

 

“Sudah sebelum polda menetapkan jadi tersangka kami Sudah memutuskan memberikan sanksi berat yaitu pemberhentian,” bebernya.

 

Berdasarkan dari penelusuran tim Media Unram, beberapa saat yang lalu bahwa tersangka RM masih bebas berkeliaran di Kampus. 

 

Menanggapi hal tersebut, Ketua Satgas PPKS Unram mengungkapkan bahwa pemberian sanksi membutuhkan proses.

 

“Putusan Sudah diambil namun surat pemberhentian sedang berproses, tidak bisa langsung Karena untuk pemberhentian lewat Rektor,” ungkapnya.

 

“Saat ini kami di satgas sedang menyiapkan administrasinya,” sambungnya. (Albn)