28.5 C
Mataram
Wednesday, May 27, 2026
spot_img
Home Blog Page 38

DPM Unram Disebut Menjadi Penghambat Pelantikan Ormawa Unram 2023

0

Unram, MEDIA – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unram disebut sebagai penghambat pelantikan Ormawa Unram periode 2023. Rabu (10/5).

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua BEM Unram Martoni Ira Malik.

Martoni menyampaikan bahwa DPM Unram memang menjadi salah satu penghambat kenapa pelantikan belum juga dilaksanakan.

“Awalnya memang itu yang membuat terhambat proses pelantikan kita ini,” kata Martoni

Seperti yang diketahui bahwa, sejak terpilihnya ketua BEM Unram yang sekarang pada bulan Februari yang lalu, DPM Unram justru dianggap bermasalah hingga bulan April kemarin.

“Mengenai pelantikan pihak rektorat mengakatan sedang di proses, adapun keterlambatan pelantikan teman-teman ukm bisa berkegiatan sembari menunggu pelantikan,” ungkap Ketua DPM Unram Abdullah Al-Hadid.

Hingga pertengahan bulan mei 2023 belum juga ada informasi pasti dari pelantikan ormawa unram periode 2023.

Beberapa ormawa mengeluhkan hal tersebut, salah satunya Wahana Mahasiswa Pengabdi Masyarakat (WMPM).

“Terkait itu kita juga was-was dalam berkegiatan selain administrasi yang illegal, kita juga terhambat kegiatan karena kekurangan dana dari birokrasi,” ujar Ketua WMPM Taufik.

“Pelantikan ini harus dilaksanakan secepatnya mengingat beberapa ormawa udah ganti kepengurusan 2022 kemarin. Yang semestinya pelantikan ini udah selesai di bulan januari biar bisa dihitung satu tahun kepengurusan,” sambungnya.

Taufik juga sangat menyayangkan alasan DPM Unram yang menjadi penghambat pelantikan Ormawa.

“Ngeliat pelantikan yg belum tereksekusi otomatis yang kena dampaknya bukan dpm dan bem saja melainkan semua ormawa juga,” tegasnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua BEM Unram Martoni Ira Malik mengatakan bahwa ia dan beberapa staff BEM lainnya sudah berkomunikasi dengan pihak birokrasi terkait dengan pelantikan.

“Hasil komunikasi dengan pihak birokrasi, SK baru naik ke pimpinan karena ada kesalahan numenklatur di struktur kepengurusan,” tuturnya.

Martoni juga mengungkapkan bahwa selain permasalahan DPM Unram, SK yang masih dalam proses pembuatan juga menjadi kendala kenapa pelantikan belum juga dilaksanakan.

“SK baru diketik oleh birokrasi dan revisi beberapa numenklatur,” ungkapnya.

“Kita juga sangat menyayangkan kondisi ini, tapi yang terpenting komitmen untuk saling kawal proses selanjutnya ini sedang kita atensikan bersama,” sambung Martoni.

Menjawab keresahan beberapa ormawa, Martoni juga menyampaikan bahwa BEM Unram tidak diam dan terus menuntut agar pelantikan segera dilaksanakan.

“Kita sudah audiensi beberapa Minggu terakhir ini serta crosschek kondisi SK dan sebagainya,” tukasnya.

Media Unram juga menghubungi Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Sujita, S.T., M.T., terkait dengan kenapa pelantikan belum dilaksanakan.

Menurut Sujita, memang ada beberapa kendala SK untuk saat ini sehingga mengjambat dilaksanakannya pelantikan ormawa.

Ia juga menyampaikan bahwa Pelantikan diperkirakan akan dilaksanakan minggu depan.

“Nunggu Sk…selesai. Insyallah minggu depan,” terangnya. (Zhr)

Sengketa Lahan, Ormawa Faterna Minta BEM MIPA Segera “Angkat Kaki”

0

 

Unram, MEDIA – Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Pertenakan (Faterna) satu suara meminta BEM Mipa untuk cabut dari gedung sekretariat yang ada di Faterna. Selasa (9/5).

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua BEM Faterna Yudiatna Dwi Sahreza. Menurut Yudi hal tersebut merupakan perintah langsung dari Wakil Rektor 3 bidang kemahasiswaan dan alumni Dr. Sujita, S.T., M.T.,.

“Ini perintah dari Wr 3 langsung, tadi sekitaran jam 13.00 Wita saya di telpon sama Wr 3, intruksi beliau untuk mengambil kunci gedung sekretariat dan mengambil alih gedung itu,” ungkapnya.

“Mereka kan punya fakultas sendiri, kenapa tidak dimanfaatkan,” sambungnya.

Hal tersebut menurut Yudi bermula ketika kunjungan Rektor Universitas Mataram ke Fakultas Peternakan.

“Ini bermula ketika kunjungan pertama pak Rektor pada tanggal 10 Februari (2023), nah sejak saat itu pak rektor bilang bahwa gedung sekretariat FARM’S COMMUNITY (FC) dan Himpunan D3 sudah tidak layak dan perlu direnovasi,” tutur Yudi.

Oleh karena itu hari senin tanggal 8 Mei 2023 menurut penuturan Yudi, Wakil Dekan 3 Fakultas Peternakan menginstruksikan Kasubag kemahasiswaan Fakultas Peternakan, untuk melanjutkan instruksinya ke ormawa supaya pindah sekret.

“Kemarin kan gedung itu sebenarnya masih diperkarakan, Faterna atau Mipa yang punya?, namun katanya Wd 3 kami, perkara tersebut sudah selesai dipetinggi-petinggi sana,” terangnya.

Tidak hanya itu, Yudi juga mengatakan bahwa ada beberapa ormawa di Fakultas Peternakan yang memang tidak memiliki sekretariat.

“Ini juga keresahan ormawa faterna yang sudah lama tidak punya sekret, seperti DPM Faterna, UKMF Olahraga, dan Mt – An-Nahl,” katanya.

“Terlebih lagi ada isu dari pak rektor bahwa gedung sekretariat di Faterna ini akan di renovasi, terus dimana dengan nasib kami para ormawa,” lanjutnya.

Media Unram juga berupaya melakukan konfirmasi ke pihak BEM Mipa, Sudah beberapa kali dihubungi melalui pesan WhatsApp tapi tidak ada tanggapan.

Bukan hanya itu, Media Unram juga berupaya menghubungi Ketua BEM Mipa melalui telepon WhatsApp, namun panggilan pertama tidak diangkat lalu panggilan kedua ditolak.

Dan hingga berita ini terbit tidak ada tanggapan dari pihak BEM Mipa.

Menurut Yudi, meskipun sekretariat Ormawa Faterna akan direnovasi, namun ormawa Faterna tidak akan pindah hingga disediakan ruang sekretariat pengganti.

“Satu suara kita ndak akan pindah hingga disediakan pengganti yang layak,” ujarnya. (Zhr)

Geram Mencari Ketua DPRD NTB, Massa Aksi : Sudah 4 Kali Kita Dibohongi

0

Mataram, MEDIA – Aliansi Rakyat NTB Menggugat geram mencari keberadaan Ketua DPRD NTB, sembari berteriak “Sudah 4 kali kita dibohongi,” Kamis (4/5). 

“Dari sekitaran pukul 11.00 Wita humas kita masuk, katanya bu Isvie (Ketua DPRD NTB) di dalam,” ungkap Yudi salah seorang Humas Aksi. 

“Namun selang 20 menit lamanya, pihak kepolisian menginformasikan kembali kepada kita (Humas Aksi) bahwa bu Isvie (Ketua DPRD NTB) sedang berada di luar daerah,” lanjutnya. 

Menurut Yudi, informasi tersebut disampaikan langsung oleh Kasi Intelejen Polda NTB yang sedang berjaga di dalam Gedung DPRD Prov NTB  

Namun selang beberapa waktu, sekitar pukul 11.45 Wita, Yudi menuturkan kembali bahwa humas aksi berdiskusi kembali dan mencoba menggali informasi keberadaan Ketua DPRD NTB sebab ketidakpercayaan terhadap ungkapan Kasi Intelejen tersebut. 

beberapa menit kemudian Kasi Intelejen Polda NTB  mengganti jawaban sebelumnya terkait keberadaan Ketua DPRD NTB. 

“Mohon maaf bu ketua sedang ada kegiatan,” ucapnya. 

Tidak percaya dengan ungkapan tersebut, beberapa massa aksi terus mendorong gerbang dan memaksa masuk ke dalam Gedung DPRD NTB untuk mengetahui keberadaan asli dari Ketua DPRD NTB.

Beberapa saat kemudian, Yudi kembali menuturkan bahwa 17 pimpinan lembaga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat NTB Menggugat mendesak jawaban yang pasti dari pihak kepolisian terkait keberadaan Ketua DPRD NTB. 

Setelah didesak oleh beberapa Pimpinan lembaga, Kasi Intelejen akhirnya mengungkapkan bahwa Ketua DPRD NTB sedang berada di jalan.

“Bu ketua sedang berada di jalan dan menuju kesini, informasinya langsung dari ketua komisi v,” katanya. 

Ketua DPRD NTB tak kunjung datang, massa aksi geram kemudian membakar banner aksi untuk menunjukkan rasa geramnya.

Hingga zuhur tiba, massa aksi tetap menunggu yang bahkan dengan mengumandangkan azan zuhur langsung di lokasi Aksi. 

tepat pukul 13.50 Wita Ketua DPRD NTB akhirnya datang dari arah Islamic Center untuk menemui massa aksi.

Namun, Kordum Aksi M. Afif Amanullah mengungkapkan bahwa massa aksi hanya mau menemui Ketua DPRD NTB bersama dengan fraksi-fraksinya. 

“Kita tidak mau ditemui kalau hanya oleh Ketua DPRD NTB, kita mau ditemui langsung oleh Ketua DPRD beserta dengan fraksi-fraksinya,” ungkapnya. 

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda, S.H., M.H menyampaikan bahwa anggota DPRD beserta dengan fraksi-fraksi lainnya sedang sibuk menyiapkan berkas pencalonan kembali.

“Untuk anggota DPRD yang lainnya saat ini sedang sibuk menyiapkan berkas pencalonan kembali, makanya hanya saya dengan Ketua Komisi v yang menemui adek-adek,” jelas Isvie.

Tidak puas hanya ditemui oleh Ketua DPRD NTB dan Ketua Komisi V, Aliansi Rakyat NTB Menggugat akhirnya menuntut agar dipertemukan dengan semua fraksi-fraksi. 

Hingga pukul 14.35 Wita, Ketua DPRD NTB menyetujui tuntutan massa aksi tersebut dengan mengundang 2 perwakilan setiap lembaga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat NTB Menggugat untuk Audiensi bersama pada hari Senin tanggal 8 Mei 2023. (Zhr)

 

1700 Massa Aksi Diperkirakan Siap Geruduk Gedung DPRD NTB

0
sumber gambar : kompas.com

Unram, MEDIA – 1700 massa aksi diperkirakan siap untuk geruduk gedung DPRD NTB pada kamis besok (4/5).

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh M. Afif Amanullah selaku Sekretaris Jenderal Bem Unram ketika dihubungi oleh pihak MEDIAUnram.

“Kalau kita kalkulasikan ada 17 lembaga yang siap pas teklap tadi, dan bisa diperkirakan sekitar 1700 massa yang akan turun,” ungkap Afif.

17 lembaga tersebut diantaranya Bem Unram, Bem Fkip, Bem Peternakan, Bem Fh, Bem Pertanian, Bem Mipa, Bem Feb, Dpm Unram, Bem Universitas Bumi Gora, Bem Universitas Teknologi Sumbawa, Walhi NTB, Front Mahasiswa Nasional (FMN), FMR, KPR, Himasda, Formula, dan Serikat Mahasiswa Indonesia(SMI).

Menurut Afif, Demo yang direncanakan sejak bulan puasa ini membawa beberapa tuntutan yang dintaranya : Menuntut DPRD NTB untuk menolak uu cipta kerja serta ikut mendukung reformasi POLRI.

Tidak hanya itu, Afif juga mengungkapkan beberapa petugas dalam aksi kali ini.

Posisi Koordinator Umum (Kordum) dipegang langsung oleh Bem Unram, untuk Koordinator Lapangan 1, 2 dan 3 secara berurut dipegang oleh Bem Universitas Teknologi Sumbawa, Bem Pertanian Unram dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI).

Dan untuk posisi Hubungan Masyarakat (Humas) dipegang langsung oleh lima lembaga, yaitu Bem Fh, Bem Peternakan, Bem Mipa, Bem Universitas Bumi Gora serta Walhi NTB.

Martoni Ira Malik selaku Ketua Bem Unram mengatakan aksi ini tidak akan diberhentikan apabila Ketua DPRD NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda, S.H., M.H beserta fraksinya keluar menemui massa aksi.

“Intinya kita tunggu sampai Ketua DPRD keluar bersama fraksinya, yang lain kita tidak terima,” ucapnya.

Martoni juga mengungkapkan bahwa aksi yang dinaungi 17 lembaga ini tetap menggunakan nama “Aliansi Rakyat NTB Menggugat.”

Aksi geruduk DPRD NTB ini diperkirakan mulai dari pukul 08.00 Wita dengan titik kumpul berada di Arena Budaya Unram. (Zhr)

Fisipol dan Farmasi Banjir Peminat, Zainal Asikin : Mestinya Jadi Fakultas

0

Unram, MEDIA – Guru Besar FH Unram Prof. Dr. H. Zainal Asikin, S.H., SU. melalui akun facebook-nya @Zainal Asikin Kang Ikin, mengungkapkan program studi (prodi) dibawah rektor atau fisipol serta prodi farmasi banjir peminat dan mestinya layak jadi fakultas.

Hal tersebut dilontarkan dalam postingannya pada hari selasa (18/4) yang bertajuk “Prodi Unggul dan Progresif di Unram.”

“Unram memiliki prodi farmasi yang jumlah peminatnya sangat banyak, maka prodi farmasi semestinya sudah bisa menjadi sebuah fakultas tersendiri,” Ungkapnya dalam postingan tersebut.

Hal tersebut ia lontarkan dengan melakukan komparasi pada survey prodi banjir peminat dari kompas.com dengan yang ada di unram.

Secara nasional farmasi berada pada peringat pertama prodi banjir peminat, sedangkan menurutnya di Unram sendiri berada di peringkat keempat.

Sama halnya dengan farmasi, fisipol tergabung didalamnya Ilmu komunikasi, Hubungan internasional dan sosiologi menurutnya juga sudah layak menjadi fakultas. Yang menurutnya di Unram berada di peringkat kelima prodi banjir peminat, satu tingkat dibawah farmasi.

“…Unram memiliki prodi yang tergabung dalam fisip, seharusnya sudah bisa menjadi fakultas,” katanya.

Ia sangat menyayangkan bahwa fisipol sampai saat ini masih menjadi prodi dibawah rektor, padahal menurutnya dari segala aspek sudah memenuhi kriteria sebagai fakultas.

“…Dari segala aspek telah memenuhi aspek financial dan infrastruktur.” Terangnya.

Kendati demikian, farmasi dan fisipol belum juga mendapatkan sinyal hijau terkait transformasi menjadi fakultas. Terlebih bagi fisipol yang sampai saat ini diduga hanya sampai diming-imingi.

Dalam postingannya, Asikin menerangkan kendala yang dihadapi fisipol dan farmasi hingga saat ini belum menjadi fakultas. Menurutnya karena Unram di era ini telah dianggap kelebihan memiliki fakultas sehingga sudah tidak ada slot lagi.

“Harus ada merger(penggabungan) beberapa prodi di unram, yang berdampak pada hapusnya fakultas lama dan agar slotnya dipakai oleh fakultas baru,” tegasnya.

“Artinya jika jumlah mahasiswa dikelola sangat kecil tidak harus dikelola oleh pihak fakultas, tapi cukup dikelola oleh prodi,” lanjut dosen hukum bisnis tersebut.

Tak cukup sampai disana, ia juga membandingkan kebijakan Unram dengan Universitas lain yang ada di Indonesia.

“Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) telah mengekspose beberapa prodinya yang sepi peminat, bahkan ada yang tidak menerima mahasiswa baru untuk sementara waktu,” ujarnya.

Menurutnya, Unram bukannya mengikuti jejak Universitas-universitas tersebut, malah beberapa tidak terima jika fakultasnya dikatakan minim peminat.

“Ketika saya menulis tentang adanya prodi yang minim peminat atau kurang laku di Unram, banyak yang emosi dan kebakaran jenggot,” tulisnya.

Mantan dekan Fakultas Hukum tersebut juga menekankan bahwa Unram mestinya membuat cetak biru, yaitu berkaitan dengan berapa jumlah standar mahasiswa yang pantas dikelola oleh fakultas.

“Disinilah kearifan berfikir pimpinan fakultas, karena jika akan merger, ada jabatan yang akan terhapus sebagai dekan. Oleh sebab itu Unram perlu membuat cetak biru,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dalam postingan tersebut Asikin juga menyebutkan beberapa fakultas unggul dan progresif di Unram yang bisa dijadikan panutan bagi fakultas-fakultas lain. Diantaranya Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP), Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan Fakultas Hukum.

Satu diantaranya yakni fakultas kedokteran yang ia sebut sebagai fakultas dengan usia muda namun sudah mendapatkan akreditasi unggul. menurutnya fakultas kedokteran mestinya jadi panutan bagi fakultas-fakultas lain. 

“Fakultas lain di Unram tidak perlu jauh-jauh melakukan study banding jika ingin meningkatkan status akreditasi prodi atau fakultas, cukup study banding ke Fakultas Kedokteran,” cakapnya. (Zhr)

Mengabadikan Aib

0

Oleh : Arman

Takdir aib itu. Pertama, untuk dihindari dan kedua untuk disembunyikan. Di sembunyikan pun, jika aib itu sudah keterlaluan, ia akan memunculkan diri. Apalagi jika aib itu sudah keterlaluan, masih pula didokumentasikan. Karenanya aib jenis ketiga ini bukan hanya akan muncul di kelak kemudian, tetapi juga akan menjadi azab dan kegemparan.

Mari kita tengok takdir aib yang pertama itu, bahwa ia jenis perilaku yang harus dihindari. Tujuannya jelas, karena hidup manusia harus berujung pada martabat, sedang aib adalah pembengkok martabat paling nyata. Maka, hidup yang berujung pada aib adalah hidup yang tidak diperintahkan.

Tetapi ini adalah tahapan paling ideal dan itu berat bagi sebagian orang. Maka disediakanlah tahapan kedua yakni tahap rasional, tahapan ketika aib cukup disembunyikan. Boleh menyandang aib sepanjang ia disembunyikan.

Manusia adalah spesies paling rawan aib sekaligus paling pemalu di jagat ini, karenanya kepadanya bahkan alam sendiri menyediakan banyak dinding penghalang. Dinding paling tangguh dari itu semua bernama rahasia. Dinding rahasia itu berlapis-lapis. Semakin tinggi derajat rahasia, semakin tebal dan berlapis dinding-dindingnya.

Inilah dinding yang melindungi orang-orang berderajat mulia. Ia adalah pelindung dengan presisi tinggi. Dari pribadi jenis ini, yang sibuk dibicarakan hanyalah keluhuran dan prestasi-prestasi hidupnya. Kepada aibnya, orang tidak tega. Kenapa? Karena aib itu, jikapun ada, pasti jumlahnya tak seberapa. Dan yang tak seberapa itupun terdiri atas aib yang remeh-temeh saja. Apalagi makin luhur perilaku seseorang makin peka dalam menyusun daftar aibnya. Jangankan sampai berhutang atau makan tak bayar, makan terlalu kenyang saja, bicara terlalu keras, tertawa terlalu lebar, sudah menjadi aib bagi mereka.

Maka jelas kenapa ada aib yang “boleh” sepanjang mereka disembunyikan. Karena apa yang disebut “boleh” itu hanyalah menyangkut soal-soal sederhana, yang kebanyakan orang jamak melakukan dan ia adalah soal yang mudah dimaafkan.

Karenanya, jika yang disembunyikan itu bukan lagi aib yang jamak, tetapi sudah melebihi batas kejamakan, maka dinding-dinding pelindung itu akan melepas tanggungjawabnya.

Aib itu lalu akan mengembara serupa makhluk Frankenstein yang menanyakan siapa bapaknya. Ia akan mencari sampai ketemu walau harus ke ujung dunia. Celakanya pertemuan itu selalu berakhir di ruang dan waktu yang keliru, dan biasanya ditandai oleh dua keadaan: Pertama, aib itu menemukan sang induk tepat ketika prestasinya sedang menjulang, ketika kepadanya seluruh keberuntungan seperti sedang ditumpahkan. Kedua: tepat ketika keadaan sedang sebaliknya, yakni ketika sang induk sedang di akhir masa kejayaan. Tegasnya, sudah tinggal pensiun, malah masuk penjara.

Jadi ada jenis aib yang kehilangan proteksi karena kadarnya yang sudah kehilangan toleransi. Seberapapun besar ia dilindungi, cuma akan diberontaki. Maka bisa dibayangkan, jika ada aib yang sudah keterlaluan itu masih pula didokumentasikan. Ia akan segera menjadi tontonan umum dan tak ada perangkat apapun yang bisa mencegah publik untuk segera menggelar acara nonton bareng di mana-mana yang kegaduhannya akan melebihi Piala Dunia atau kebaya merah.

Tetapi inilah yang terjadi: mengabadikan aib itu, tampak makin meninggi dari hari ke hari. Makin banyak saja orang yang gatal merekam walau itu aib sendiri. Bahkan ada saja orang tampil mewah dengan percaya diri, walau jelas-jelas hidupnya dibiayai oleh korupsi.

Dan semoga kita bukan termasuk golongan para manusia yang mengabadikan aib.

Mandek, Alaska Rayakan Satu Tahun Kasus Kekerasan Seksual

0

Mataram, MEDIA – Aksi geruduk polda Ntb, Massa aksi gelar pemotongan kue untuk memperingati satu tahun kasus tak kunjung ditangani, Selasa (21/3).

Pemotongan kue ini dilakukan untuk memperingati kasus pelecehan seksual di Nusa Tenggara Barat yang selama satu tahun tak kunjung dilanjutkan, hanya berhenti di tahap penyidikan saja.

“Pas hari ini satu tahun kasus pelecehan seksual tapi tidak dilanjutkan. Saya sendiri yang menginisiasi sebab saya yang mendampingi adek-adek dari awal, makanya ini bentuk protes saya sebagai pendamping untuk mengantar kue ke Polda,” ungkap dosen sekaligus pendamping korban kasus pelecehan seksual di Fh Unram, Alvina Satriawan.

 “kasus sudah naik, pelaku sudah mengaku, tapi sampai sekarang tidak ada kelanjutan dalam kasus ini,” sambungnya.

Aksi yang dinaungi oleh mahasiswa dan dosen ini tergabung dalam Aliansi Anti Kekerasan Seksual (ALASKA). Diantaranya Lpw Ntb, Senyum Puan, BEM Se – Universitas Mataram, Formappi, PBH Mangandar, Satgas PPKS dan Laboratorium Hukum Unram.

Goal utama dari aksi ini adalah untuk mendesak Polda Ntb untuk menaikkan kasus kekerasan seksual pada tahap penyidikan, dan proses tuntas seusai dengan prinsip dan ketentuan hukum pidana terhadap pelaku predator seksual. Serta berikan jaminan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual.

Kapolda Ntb juga juga didesak untuk memberikan tanggung jawab moral terhadap kerugian korban dan masyarakat akibat proses hukum yang tidak adil.

Menurut pengamatan MEDIAUnram.com, massa aksi mulai melakukan orasi sejak pukul 09.00 Wita. Namun Kapolda Irjen Pol Djoko Poerwanto tak kunjung menemui massa aksi. “Ada undangan nonton Ogoh-ogoh di cakra,” kata salah seorang perwakilan Polda.

Menjelang zuhur Kapolda tak kunjung keluar, massa aksi dengan geramnya memaksa masuk dengan mendorong gerbang hingga salah satu massa aksi terdorong masuk. Namun miris, bukannya mengamankan dengan baik-baik Aparat polisi justru memukuli dan mengeroyok massa aksi tersebut.

Tidak puas dengan mendorong gerbang, massa aksi juga membuat lingkaran di tengah jalan depan gerbang Mapolda Ntb hingga menghambat laju kendaraan yang berlalu-lalan, sembari menyuarakan kata “Jangan pernah percaya Polisi.”

Tepat pukul 14.00 Wita Kapolda tak kunjung menemui massa aksi, orator demi orator silih berganti menyampaikan orasinya namun belum ada lampu hijau dari pihak Polda Ntb.

“Kadang manusia itu moralnya lebih tinggi daripada malaikat dan kadang juga lebih rendah daripada hewan. Dan kapolda Ntb-lah yang moralnya lebih rendah daripada hewan,” tegas koordinator umum aksi, Martoni Ira Malik. (Zhr)

   

Aksi Geruduk Polda Ntb, Ketua BEM Unram : Ini Panggilan Moral

0

Unram, MEDIA – “Ibu kita bersama adalah seorang perempuan, kita tidak akan tau jika kasus seperti ini dibiarkan saja mungkin sanak kerabat kita bisa terkena kasus yang menimpa korban.”

“Ini bukan tentang eksistensi lembaga BEM atau lembaga terkait gerakan ini, namun panggilan moral bagi rekan-rekan mahasiswa yang masih merasa hidup moralnya. Mari hidup dan jangan hanya sekedar bernafas , kita tunaikan dengan hormat pada aksi besok tanpa anarkisme,” Martoni Ira Malik, Ketua Bem Universitas Mataram.

Itulah pesan singkat Martoni Ira Malik, Ketua Bem Universitas Mataram, menjelang aksi geruduk Polda Ntb yang diagendakan Selasa (21/3).

Aksi yang dinaungi oleh mahasiswa dan dosen ini tergabung dalam aliansi anti kekerasan seksual (Alaska). Diantaranya ada Lpw Ntb, Senyum Puan, BEM Se – Universitas Mataram, Formapi, PBH Mangandar, Satgas PPKS dan Laboratorium hukum Unram.

Aksi ini merupakan aksi lanjutan dari aksi 22 Desember 2022 lalu Terkait kekerasan seksual yang dilakukan oleh dosen gadungan di FH. Aksi terhadap kasus kekerasan seksual yang menyebabkan korban pingsan dan tidak berdaya ini sampai sekarang belum juga diatensi oleh pihak Polda Ntb, padahal jarak aksi pertama dengan sekarang sekitar tiga (3) bulan lamanya.

“Besok adalah aksi ALASKA yang ke dua terkait dengan kasus predator seksual yang dilakukan oleh oknum Dosen Gadungan yg tak kunjung diseriusi oleh POLDA NTB,” ungkap salah seorang akademisi Fh unram sekaligus pelopor gerakan ini, Zuhaeri.

Goals utama dari aksi ini adalah, mendesak Polda Ntb untuk Menaikan kasus kekerasan seksual pada tahap penyidikan, dan proses tuntas sesuai dengan prinsip dan ketentuan hukum pidana terhadap pelaku predator seksual. Serta berikan jaminan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual.

“Jika Kapolda Ntb tidak keluar artinya dia memang tidak punya itikad baik dalam menuntaskan kasus ini. kita dari Alaska akan melaporkan sikap tersebut ke KAPOLRI,” sambung dosen hukum bisnis tersebut.

Bukan hanya itu, Kapolda Ntb didesak untuk memberikan tanggung jawab moral terhadap kerugian korban dan masyarakat akibat proses hukum yang tidak adil.

Buruknya pelayanan seperti proses perkara yang lambat sampai banyak kasus-kasus pelecehan kecil yang tidak pernah diatensi juga menjadi tuntutan dari aksi ini.

“Goals dari aksi ini bukan hanya sekedar untuk menyuarakan hak perempuan dan meminta penanganan kasus ini segera dituntaskan, tapi ada moralitas yang terpanggil,” kata Martoni Ira Malik selaku Ketua Bem Unram terpilih.

“Kita akan terus kawal jika memang jawaban masih normatif, bukan hanya sekedar gerakan masa yang akan kita tambah tapi skema baru untuk menuntaskan kasus ini,” lanjutnya.

Untuk memobilisasi massa, pihak Bem Fh Unram juga mengungkapkan bahwa ia akan totalitas. Rikiandi Sopian Maulana atas nama BEM Fh Unram menyatakan sikap siap bersama pasukan untuk aksi dihari selasa.

“Untuk menciptakan euforia masa, meskipun yang memiliki kewenangan meliburkan itu setau saya hanya Rektor atau Pejabat tertentu. Tetapi ada beberapa dosen yg tidak mengalpakan mahasiswa yang turun aksi, dosen-dosen tersebut mendukung aksi kita di Polda,” Jelasnya.

Begitu pula dengan Bem Unram, Martoni Ira Malik selaku ketua juga mengatakan sikap siap bersama pasukan untuk menggeruduk Polda Ntb besok.

“ini panggilan moral dan saya rasa moralitas seperti ini jauh lebih penting dibandingkan 3-4 SKS di kelas. Sesekali Mahasiswa harus menunjukkan sikap tanggung jawab moral kita sesama almamater,” tegasnya.

Aksi ini direncanakan mulai pada pukul 08.00 Wita – tuntutan diterima. Dengan tujuan utama Gedung Polisi Daerah Nusa Tenggara Barat. (Zhr)

Pantai Selingkuh, Sejarah Penamaan yang Nyeleneh

0

Mataram, MEDIA – pantai selingkuh mungkin tidak asing bagi warga Mataram. Pantai dengan nama yang nyeleneh ini ternyata memiliki sejarah panjang sebelumnya. (08/3)

 

Pantai selingkuh sendiri berlokasi di Jl. Arya Banjar Getas No.90 Tj. Karang, Kec. Sekarbela, Kota Mataram. Dengan jarak tempuh menuju pantai tersebut hanya menghabiskan waktu Tujuh (7) menit dari pusat Kota Mataram. Hal itulah yang mungkin menjadi salah satu penyebab Pantai tersebut  menjadi objek destinasi wisata yang selalu ramai pengunjungnya.

 

Namun siapa sangka warga setempat masih mengenal tempat tersebut sebagai sebutan pantai buyuk Jero batu. Istilah buyuk Jero Batu tersebut kabarnya didapatkan dari kata jero batu, yakni nama dari orang Bali yang tinggal disekitar sana.

 

“Dulu itu bukan pantai selingkuh, tapi pantai buyuk Jero batu dan nama Jero batu awal mulanya dari nama orang Bali yang tinggal  ditempat tersebut,”  tutur Mahyudin, salah seorang warga setempat.

 

Pria yang biasa disapa Mahyudin tersebut mengungkapkan bahwa  diberikanya nama pantai selingkuh tersebut sejak tahun 80-an. Diawali dengan kisah seorang wanita pelacur,  yang datang berselingkuh bersama dengan suami orang. Oleh sebab itulah Para pengunjung langsung  menamakanya dengan pantai selingkuh.

 

Seiring berjalannya dinamakan Pantai selingkuh, di tempat tersebut kerap Terjadi kejadian mesum para pengunjung yang sedang pacaran.

 

Kemudian nama tersebut menjadi perhatian publik, karena menggunakan istilah “Selingkuh” yang digunakan hingga saat ini.

 

“Di sini sering sekali kejadian mesum dan hal tersebut sering di temui oleh warga setempat dan pengunjung yang berada disana,karena tempatnya banyak semak-semak untuk mengundang hal tersebut,” kata Wahyudin.

 

Meskipun kabar yang beredar demikian adanya, ternyata pantai ini selalu ramai pengunjung. Kabarnya mulai dari pukul 07:00 hingga 18:00 WITA pengunjung selalu ramai berdatangan, dan tidak sedikit yang datang dengan membawa  kekasihnya.

 

Mengutif dari Travelingyuk.com, Selain fenomena penamaan, pantai ini juga mempunyai keunikan lain. Warga setempat mengatakan ketika malam jumat, pasangan suami istri memilih mendatangi pantai tersebut untuk memadu kasih. Itu karena kondisi pemukiman yang padat penduduk di beberapa titik Kota Mataram. Hingga  membuat pasangan suami istri lebih memilih berhubungan di pantai tersebut, daripada di rumah mereka yang terlalu sempit dan nyaris tidak ada lagi ruang privasi.

 

“tetap ada pengunjung disini dari pagi,siang maupun sore hari, selalu datang pengunjung di sini,” ungkapnya.

 

Namun bukan hanya itu, tempat yang fenomal dengan namanya tersebut, juga mempunyai  fasilitas penjual yang tak kalah menarik dari pantai lainnya.

 

Tersedianya fasilitas ruko dan  penjual  kopi di tempat tersebut selalu memberikan pemenuhan terhadap pengunjung yang berbelanja. beberapa pepohonan yang rindang dan rerumputan yang hijau juga menjadi salah satu daya tarik pantai ini. Bahkan Sunset-nya kerap kali membuat mata betah untuk memandang.

 

Maka tak heran Sehingga destinasi wisata tersebut selalu ramai dikunjungi para pengunjung. (Shrl)

Meang, Surga yang Dijadikan Neraka

0

Lombok Barat, MEDIA – Angin sepoi-sepoi, rerumputan hijau, bukit yang menjulang, dan pantai pasir putih. Ditambah penduduk yang ramah, dan suasana pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan menjadikan siapapun nyaman ketika berkunjung.

 

Itulah pemandangan pertama yang kita temui ketika pertama kali menginjakkan kaki di Meang. Meang merupakan sebuah wilayah di Dusun Pangseng, Desa Penggantap, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

 

Media Unram berkesempatan mengunjungi “surga” tersembunyi di Lombok Barat ini, Rabu (1/2). Bersama rombongan dari senior jurnalis kompas.com, kami ke sana memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit dari Kota Mataram menggunakan sepeda motor.

 

Namun sayang, akses jalan di sekitar Meang sangat tidak ramah, banyak bolong dan belum diaspal. Kondisi jalan ibarat buah simalakama: berdebu ketika panas, berlumpur ketika hujan. Jalan tersebut nampaknya menjadi masalah utama masyarakat setempat.

Karena jalan itulah seorang ibu bernama Harni Permata Sari (23) terpaksa melakukan proses pelahiran yang tidak layak. Ya, dia terpaksa melahirkan bayinya di jalan karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan dia dan calon buah hati menuju puskemas terdekat.

 

Peristiwa yang dialami Harni direkam dan beredar di jagat maya, dan menjadi sorotan masyarakat. Pada akhirnya bayi yang dilahirkan Harni akhirnya meninggal dunia usai dirujuk ke RSUD Praya, Lombok Tengah, Senin (21/2).

 

Dilansir dari kompas.com, Harni bukan orang pertama yang mengalami hal demikian. Salah seorang warga setempat inisial HR mengatakan, setiap masyarakat Meang sakit atau ingin melahirkan tandu adalah solusinya.

 

“Soalnya mobil ambulan ndak bisa masuk. Motor aja susah apalagi ambulan,” katanya.

 

“Surga yang dijadikan neraka” mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Meang saat ini. Keindahan alam seolah ditelan dengan ragamnya masalah.

 

Tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga listrik, ekonomi, juga pendidikan. Akar permasalahan tersebut hanya satu, yakni akses jalan.

 

“Jagung yang kita tanam, gara-gara akses jalan yang begini, kalau hujan udah ndak bisa ke sawah,” tutur HR.

 

Lebih jauh HR mengatakan, musim hujan merupakan salah satu hal yang ditakutkan masyarakat Meang. Pasalnya, jalan yang rusak digenangi oleh air, sungai yang menjadi pembatas antara persawahan dan muara penduduk pun ikut meluap. Bahkan listrik pun kadang-kadang mati.

 

“Kalau hujan memang luar biasa perjuangan kita, misalnya sungai yang meluap, itu bisa berhari-hari dia. Mau tidak mau harus menunggu surut, kadang sampai dua atau tiga hari baru surut,” ungkap warga lain, FR.

 

FR mengisahkan, saaat sekolah dasar dirinya berangkat dari sebelum matahari keluar. “Itu pun kita nyampe waktu keluar main. Nyampe rumah juga bisa sampai asar bahkan. Kalau sekarang ada SDN 11 Buwun Emas, tapi itu sekolah musiman. Kalau hujan gak sekolah sudah, karena gurunya juga gak bisa kesini,” bebernya.

 

Bukan tanpa inisiatif, warga Meang justru sering melakukan gotong royong membenahi jalan, tapi apalah daya jika hujan turun, Tuba habis, ikan tak dapat.

 

“Sudah terlalu banyak janji, kemarin tahun 2020 jalan ini sudah diukur, katanya mau diperbaiki dan udah dianggarkan, tapi ngukur aja dikerjain, sampai sekarang gak jadi-jadi. Bukannya gak ada gotong royong, tetap gotong royong, tapi kalau hujan kan sia-sia,” saut HR

 

Bukan hanya Martabak yang dihidangkan dengan paket komplit, tetapi begitu juga Meang, dibalik keindahan surga ini, begitu dalamnya neraka yang warga Meang rasakan.   

 

Rasa kesal mungkin sudah menghantui warga Meang, namun hal tersebut tak membuat mereka surut untuk melangsungkan hidup. Berharap adalah hal yang senantiasa sudah tertanam di benak mereka, sudah banyak usaha yang mereka kerahkan untuk meminta hak mereka dipenuhi, namun sampai sekarang belum juga terpenuhi. Mereka tidak meminta lebih, mereka hanya meminta akses jalan yang memadai.

 

Tercatat sekitar 11 orang ibu sedang mengandung di Meang, Warga dengan penuh harap supaya akses jalan segera diperbaiki, sebab mereka tak lagi menginginkan ada Harni-Harni berikutnya.

 

“Sebenarnya kan masalah-masalah yang ada di Meang ini muaranya pada akses jalan yang buruk, Baik itu kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Kalau akses jalannya memadai insya allah masalah-masalah ini bisa teratasi. Kita ndak minta lebih kok, perbaiki jalan udah cukup,” tegas Fz salah seorang pemuda di Meang.

 

Sayang sekali, dengan potensi sumber daya alamnya, Meang seharusnya mampu berpartisipasi  memajukan pariwisata Ntb. Namun sampai sekarang Meang jauh dari kata diperhatikan oleh pemerintah.

 

Padahal Meang tak pernah gagal dalam hal memanjakan mata, atmosfer pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, derunya angin terdengar seperti bernyanyi untuk kita. Entah mengapa, jika hendak berkunjung ke Meang tidak dianjurkan duduk beristirahat dijalan menikmati derunya angin, sebab derunya  seolah membawa terbang jauh pikiran kita hingga tertidur.

 

rerumputan hijau dan persawahan bak Palouse, Bukit-bukit menjulang yang tak kalah jauh dari pegunungan di Negara-negara Nordik. Hamparan laut biru kehijauan dilengkapi dengan pasir putih seolah menjadi magnet bagi siapapun yang melihatnya.

Bukan hanya itu, Penduduk yang ramah, kehadiran sapi, burung yang berterbangan makin menambah kesan bahwa Meang adalah Surga bagi setiap orang yang menginginkan ketenangan.     

 

Namun semua keindahan tersebut redup, bahkan sirnah dilahap oleh ragamnya masalah. (Zhr)