31.5 C
Mataram
Wednesday, May 27, 2026
spot_img
Home Blog Page 45

Menghanguskan Tikus Rakus

0
ilustrasi: gagasanriau.com

Beberapa waktu lalu, saya menanam kacang hijau di kebun. Saya pikir-pikir lahan kosong akan bermanfaat ketika ditanami tumbuhan. Beberapa waktu akan tumbuh subur, kemudian dapat dipanen. Lalu kita bisa menikmatinya; sebagai bahan makanan sehari-hari.

Tapi kenyataannya, tidak. Seluruh biji kacang hijau itu rusak dimakan tikus.

Tikus sawah memang hewan perusak. Liar. Sama halnya dengan tikus kantor. Tak ada bedanya.

Apalagi mereka, yang katanya wakil rakyat. Banyak hal kita tanamkan pada mereka; kepercayaan, impian, harapan agar kedepannya kesejahteraan terwujud. Kita bisa hidup sejahtera.

Tapi kenyataannya, kepercayaan yang kita tanam telah rusak. Mereka memakan, menggunakaan apa yang bukan hak mereka.

Saya berpikir, solusi untuk membasmi tikus adalah dengan meracunnya. Karena jika terus menerus tikus dibiarkan duduk manis di sarangnya, tumbuhan yang ditanam tak akan tumbuh. Kita akan mati kelaparan. Lahan yang seharusnya memiliki asas kebermanfaatan, menjadi tanah lapang yang kosong.

AJI Mataram Kecam Tindakan Intimidasi Terhadap Sejumlah Jurnalis

0

Jurnalis yang Menulis
Dugaan Penimbunan Solar di Lombok Barat

Mataram, MEDIA – Lantaran membuat berita dugaan penimbunan solar yang dilaporkan warga ke aparat kepolisian, sejumlah jurnalis di Mataram diintimidasi bahkan ada yang berupaya menyuap wartawan.

Menanggapi hal itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram, Muhamad Kasim mengecam tindakan yang menganggu dan menghalang halangi kerja jurnalistik. Apalagi menghalangi informasi terkait kepentingan publik dan penegakan hukum.

“Jadi tindakan yang mengintimidasi dengan meminta penghapusan berita bahkan memaksa jurnalis menerima sejumlah uang agar berhenti memberitakan kasus tersebut sangat disayangkan dan AJI Mataram mengecam tindakan tersebut,” tegas Muhammad Kasim.

Pria yang akrab disapa Cem membeberkan,  sejumlah jurnalis yang diintimidasi sejak berita tersebut tersebar, seperti Haris Mahtul, Pemimpin Redaksi NTBSatu.com.

Haris diminta menghapus berita berjudul “Di Sana Demo Di Sini Menimbun yang tayang di canal YouTube NTB Satu. Berita terkait dugaan penimbunan Solar dalam truk yang dilaporkan warga Kecamatan Batu Layar Lombok Barat.

“Kawan Jurnalis, Haris diminta menghapus berita dan dipaksa menerima amplop berisikan uang yang cukup banyak, rekan kami dipaksa di depan umum menerima segepok uang, hingga akhirnya melapor ke Majelis Etik AJI Mataram agar uang tersebut dikembalikan melalui mekanisme organisasi,” kata Muhammad Kasim.

Muhammad Kasim mengatakan, jumlah uang yang dipaksa harus diterima Haris sebesar Rp 10 juta, oleh oknum LSM di NTB.

Haris Mahtul telah berusaha menolak dan berupaya mengembalikan uang tersebut. Namun oknum LSM tersebut tidak mau kooperatif. Bahkan saat dikembalikan melalui AJI Mataram.

Karena oknum LSM tidak bersedia menerima pengembalian uang melalui AJI Mataram, AJI Mataram akhirnya melapor ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mataram untuk memproses pengembalian dana yang merupakan upaya suap oleh oknum LSM tersebut.

“Upaya ini kami lakukan untuk pembelajaran bersama agar semua pihak menghargai kemerdekaan pers dan tidak menganggap rendah profesi jurnalis,” tagas Kasim.

Sementara itu, Haris Mahtul mengaku berkali kali mendapatkan telpon, terlebih setelah mengembalikan uang suap tersebut.

Sebelumnya dia diminta menghapus berita dan tidak menindaklanjuti berita dugaan penimbunan solar tersebut.

Jurnalis NTBSatu.com lainnya juga mengadu diintimidasi, usai menelpon Kapolres Lombok Barat AKBP Wirasto Adi Nugroho untuk mengkonfirmasi kejadian warga yang menggagalkan dugaan penimbunan solar di SPBU Meninting.

“Rekan kami ditelpon, dan ditanya benar baru habis telpon Kapolres ya, tidak usah ditulis berita itu, demikian bunyi sms di handphone rekan jurnalis saya di lapangan,” kata Haris.

Bukan hanya itu, Haris juga mengaku ditemui sejumlah orang dengan permintaan yang sama, menghapus dan menghentikan pemberitaan tersebut.

Tak hanya Haris, media lokal di Lombok Tegah juga mendapat intimidasi, seperti Radar Mandalika agar tidak membuat berita terkait dugaan penimbunan solar tersebut.

Koordinator LBH Mataram, Badarudin SH mengatakan pihaknya akan mendampingi jurnalis yang mengalami intimidasi dan tindakan upaya suap oleh oknum LSM yang menginginkan penghapusan berita.

“Kita akan dampingi dan mengurus pengembalian uang suap yang telah ditolak oleh jurnalis Haris Mahtul, selain itu bagi jurnalis yang mendapatkan intimidasi karena pemberitaan, LBH Mataram membuka ruang pengaduan sejak hari ini, ” kata Badar.

Mereka yang merasa diintimidasi bisa melapor ke LBH Mataram di Jalan Gunung Tambora, Kompleks Gomong Square No. 23, Lingkungan Pemuda, Kelurahan Dasan Agung Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.

“Jika ada kawan-kawan jurnalis yang mendapat intimidasi, kami persilahkan mengadu pada LBH Mataram” kata Badarudin. (red)

Kisah Mahasiswi Korban Pelecehan Seksual di Fakultas Hukum

0
ilustrasi: kompas.com

Laporan Arman

Kasus pelecehan seksual masih menghantui Universitas Mataram (Unram). Hingga saat ini, tidak sedikit mahasiswa menjadi korban.

“Saya sering dirangkul,” ucap salah satu mahasiwi yang tidak ingin disebutkan identitasnya.

Perempuan yang resmi menjadi mahasiswi Unram pada dua tahun lalu mengaku, seringkali mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari salah satu pria di Fakultas Hukum.

Dia mengatakan, beberapa bagian tubuhnya sering disentuh pelaku. “Paha saya juga ditepuk beberapa kali,” ungkapnya.

Nampaknya, perilaku yang dilakukan oleh manusia tak bermoral itu tidak hanya sekali. Beberapa kali korban disapa (dipanggil) dengan kalimat menggoda.

“Dia juga sering ngomong didekat telinga saya,  mulutnya deket sekali,” jelasnya. “Tangan saya juga tiba-tiba dipegang,” lanjutnya.

Korban juga mengaku, pelaku menjalankan aksinya setiap kali ada kesempatan, biasanya dalam keadaan sepi. Tidak tanggung-tanggung, punggung korban pun acap kali menjadi sasaran kegatalan tangannya.

“Yang lebih menjijikkan waktu dia mengambil sendok bekas saya. Ndak tau buat apa,” tegasnya.

Lebih jauh dia bercerita, setiap kali bertemu, pelaku memainkan jari-jarinya saat bersalaman. “Mau ndak salaman, saya ndak enak. Tapi kalo saya salaman dia begitu,” katanya.

“Saya juga disuruh memijat dia,” lanjutnya.

Menurut korban, sudah banyak mahasiswi atau orang yang senasib dengan dirinya atas tindakan pelaku. “Kayanya bukan cuman saya yang digituin, pasti sebelumnya ada. Mungkin, setelah ini ada juga,” ucapnya dengan yakin.

Kini, korban tidak lagi berada di Fakultas Hukum. Dirinya mengalami trauma berat atas tindakan tersebut.

Kenapa Tidak Melapor?

Menjawab pertanyaan itu, korban mengatakan dirinya tidak berani untuk melaporkan kejadian tersebut. Pasalnya, dia tidak mau keamanan dirinya terancam. “Sudah banyak yang melapor, tapi keamanannya terancam. Saya takut,” jawabnya.

Selain itu, korban tidak menginginkan keluarganya mengetahui kejadian yang menimpa dirinya. “Saya takut orang di rumah kepikiran,” lanjutnya.

Menurutnya, pelaku berani menjalankan aksinya karena merasa dilindungi segelintir oknum. “Ndak mungkin dia tenang begitu menjalankan aksinya kalo ndak ada yang melindungi. Pasti ada,” tegasnya

Dia berharap, pihak-pihak terkait mampu menyelesaikan persoalan pelecehan seksual di Unram. Unram sebagai perguruan tinggi negeri terbaik di NTB, mesti memberikan rasa aman kepada segenap civitas akademik.

Sulaiman, Kecerdasan Seorang Pemimpin

0

Dua pria ini sejajar. Keduanya memiliki pengetahuan sempurna. Daud raja pemberani dengan putera Sulaiman yang bijak. Hal itu terbukti karena mereka telah membuat tahta kekuasaan bertahan dan mampu dipercaya sekian lamanya. Baginda Sulaiman menggantikan raja sebelumnya, Baginda Daud.

Rendah hati. Sikap itu terwujud dengan Sulaiman yang suka bersyukur. Kekuasaan yang megah tak membuat Sulaiman pongah. Padahal kekuasaan dan pengetahuan berhimpun dalam dirinya. Di hadapan Allah Sulaiman bersyukur atas nikmat itu. Nikmat yang membuat dirinya punya kelebihan dibandingkan dengan yang lain.

Apa sebenarnya kecakapan yang Allah anugerahkan untuk Sulaiman? Qur’an. mengisahkan kutipan pernyataan Sulaiman:

“Kami berikan mukjizat kepada Sulaiman berupa angin yang dapat membawanya pergi jauh. Perjalanan yang biasanya ditempuh sebulan pergi, sebulan pulang dapat Sulaiman tempuh dalam sehari. Kami jadikan tembaga dapat mencair laksana air untuknya. Kami jadikan jin tunduk kepada Sulaiman untuk menjadi pekerjanya dengan izin Tuhannya. Siapa saja di antara jin-jin yang berani menyalahi perintahnya, Kami timpakan adzab yang pedih kepadanya (QS Saba’: 12)

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: ‘Hai manusia, kami telah dianugerahi pengertian tentang suara burung dan kami telah dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu karunia yang nyata (QS an-Naml (27): 16)

Otoritas kekuasaan itu bukan sebuah pilihan. Kelebihan yang dipunyai Sulaiman meningkatkan rasa syukur. Kekuasaan apapun adalah karunia Allah. Begitulah Baginda Sulaiman memandangnya. Lebih tepatnya, itu adalah amanah. Daud lebih memilih Sulaiman untuk melanjutkan tahta. Dari sebelas putera Daud hanya Sulaiman yang terpilih jadi penerus tahta. Kekuasaan itu diawali dengan pidato Sulaiman tentang anugerah dan kelebihan yang dipunyainya. Pada rakyat dirinya berseru bahwa semua kelebihan itu anugerah. Allah memberi Sulaiman mukjizat berupa kemampuan memahami bahasa burung. Kemampuan yang sangat berguna untuk seorang raja. Tak hanya suara burung Sulaiman juga diberi nikmat memahami keluhan seekor semut. Qur’an melukiskan ini dengan memukau

“Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentara-tentaranya dari jin, dan manusia serta burung lalu mereka diatur dengan tertib. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kamu, agar kamu tidak dibinasakan oleh Sulaiman dan tentara-tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari” (QS Surah an-Naml (27) ayat 17-18)

Lihat sebentar kisah ini: Sulaiman mengumpulkan semua pasukan. Berdirilah di sana rombongan yang komplit: manusia, jin, burung. Sungguh gelar pasukan yang menggetarkan. Hingga seekor semut-pun kuatir dan cemas melihatnya. Spontan seekor semut itu beri peringatan pada kawanan semut lain. Sulaiman dan pasukanya tanpa sadar bisa memusnahkan kediaman kawanan semut. Ketakutan semut itu hinggap sampai telinga Sulaiman. Kecemasan itu rintihannya didengar oleh Baginda Sulaiman.

Maka dia tersenyum dengan tertawa karena perkataanya. Dan dia berkata: “Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat Mu ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang saleh (QS Surah an-Naml (27) ayat 19)

 

Keluhan semut itu membuat Sulaiman tersenyum. Kecemasan semut telah membawa Sulaiman pada kesadaran betapa rapuhnya kekuasaan. Semut yang tampak kecil dan hina memperoleh perlindungan dari kuasa Sulaiman. Sungguh kepemimpinan yang arif. Tanpa memahami itu semua anugerah maka kekuasaan ga jadi bencana. Kelak Thomas Aquinas mengekalkan paham itu dengan hukum kodrat. Sebuah legitimasi etis atas bangunan kekuasaan. Bahwasanya kekuasaan manusia itu tak pernah mutlak dan selalu terbatas. Karena bagi Thomas Aquinas semua manusia itu ciptaan Allah maka dilarang bagi manusia untuk merasa lebih unggul. Tugas penguasa tak lain adalah melindungi kepentingan rakyatnya dan menjamin keamanan bagi rakyatnya². Seekor semut-pun memiliki hak perlindungan.

Sulaiman kini terpaku dengan mukjizat yang diberikan padanya. Doanya melantun indah dengan penuh pujian. Daud konon pernah bertanya: “Wahai Tuhan bagaimana aku menyukuri-Mu, padahal kesyukuran adalah nikmat-Mu yang lain, yang juga membutuhkan syukur dariku? Allah mewahyukan kepadanya bahwa: “Kalau engkau telah menyadari bahwa apa yang engkau nikmati bersumber dariKu, maka engkau telah mensyukuri-Ku”.

Pada kekuasaan yang memiliki nalar seperti itulah Plato sebut dengan negara utopis. Konsep yang selalu membayangkan negara seperti anatomi tubuh. Pemimpin, aparat dan rakyat bagai susunan kepala, dada dan perut. Maka pemimpin hendaknya dipegang oleh pribadi yang berakal dengan cara pikir rasional. Sulaiman sosok beriman dan berakal yang diberi kelebihan komplet: mampu mendengar keluhan seekor semut hingga kepemimpinanya yang sangat disiplin. Sikap itu dilukiskan dengan memukau:

Dan dia memeriksa burung-burung, lalu mereka berkata: “Mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan menyiksanya dengan siksa yang pedih atau aku benar-benar akan menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan bukti yang terang (QS an-Naml ayat 20-21)

Gelar pasukan itu kini mengundang rasa kecewa. Pasukan burung tidak berada dalam barisan. Sulaiman bergetar dan mengancam: hukuman akan dijatuhkan pada burung Hud-hud. Niccolo Machiavelli secara lantang menyebut bahwa kekuasaan butuh sebuah teror. Bagi Machiavelli kekuasaan apapun bentuknya harus mampu melayani kepentingan raja. Etika keji yang dikatakan Machiavelli: yang baik adalah apa saja yang memperkuat kekuasaan raja. Segala apa yang melayani tujuan itu harus dibenarkan. Tapi Sulaiman bukanlah pencetus Machiavelli. Sulaiman mempertegas wajah umum kekuasaan: menegakkan disiplin dan memperluas kepatuhan. Kelak Thomas Hobbes meyakini bahwa naluri terkuat dalam kekuasaan adalah mempertahankan nyawa. Kata Hobbes: jika ingin menertibkan manusia, untuk membatasi nafsu-nafsunya, tak ada cara lain kecuali menebar ketakutan bukan meminta tanggung jawab moral. Leviathan nama negara Hobbes yang tugasnya menebar rasa takut.

Tapi Sulaiman tidak berdiri di atas negara Hobbes. Kekuasaanya membawahi manusia, jin dan binatang. Sulaiman ingin kekuasaan itu merata dan diterima. Agaknya itulah yang membuat Hudhud kemudian bicara pada Sulaiman. Hud hud membawa informasi yang tidak diketahui Sulaiman. Hud hud mengusung berita yang langka. Qur’an mengisahkan itu semua:

Burung Hud hud ternyata berada tidak jauh dari tempat Sulaiman berdiri. Burung Hud-Hud berkata:

“Wahai Sulaiman, aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ dengan membawa berita yang benar’. Sesungguhnya aku menemukan seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (QS An Naml (27): 22-23)

Hud hud membawakan informasi. Tentang negeri yang bernama Saba’. Berita itu dibawa dengan bersemangat. Sebuah informasi yang bisa diandalkan. Kelak Joseph Stiglitz, peraih nobel ekonomi, meyakini bahwa informasi adalah penentu keputusan ekonomi politik. Stighlitz percaya bahwa sistem statistik dan akunting yang saat ini ada merupakan model pengolah informasi yang andal. Tapi sejauh mana informasi itu diolah sangat ditentukan oleh kualitas lembaga kekuasaan. Setidaknya ilmuwan pemuja kapitalisme, Francis Fukuyama, mempercayai kualitas kelembagaan sangat menentukan dalam meraih kemajuan ekonomi.

Tolak ukur terpenting untuk memastikan kualitas lembaga adalah managemen informasi’. Seberapa cepat umpan balik dari informasi itu diolah untuk menjadi keputusan taktis. Sulaiman menegaskan kembali temuan Stiglitz.

Hud hud membawa informasi tentang negeri Saba’. Sebuah negeri yang dilukiskan oleh Qur’an penuh dengan kelimpahan. Qur’an secara meyakinkan memberitahu pada pembacanya keadaan Saba’:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda di tempat kediaman mereka yaitu dua kebun di kanan dan di kiri. “Makanlah dari rezeki Tuhan kamu dan bersyukurlah kepada-Nya; negeri yang baik dan Tuhan Maha Pengampun” (QS Saba’ (34): 15)

Tentu kita telah mengetahui bagaimana kelanjutan dari kisah Baginda Sulaiman: menaklukkan kerjaan Saba dan Ratu Balqis. Tapi pada tulisan ini, pribadi tak menginginkan Indonesia berperang-menaklukkan negara-negara lain. Yang ingin ditekankan adalah, bagaimana seorang penguasa mampu memberikan rasa aman, nyaman kepada seluruh makhluk hidup yang ada dalam kekuasaannya.

Kharismatik seorang pemimpin bukan saat ia mampu bertahta dengan waktu yang lama. Bukan pula dari kelihaiannya berpolitik: mengalahkan seluruh lawannya. Namun saat ia mampu memastikan rakyat tidak menderita, tersiksa. Mampu membedakan baik buruk, mana kepentingan mana kewajiban. Jangan mencampur antara kewajiban dan kepentingan. Apalagi menyelipkan kepentingan ke dalam kewajiban.

Mari contohi gaya, pemikiran, kekuatan, ideologi berkuasa Baginda Sulaiman dan Daud.

Gandeng DKP3 dan UPTD KLU, PPK Ormawa Unram Laksanakan Posyandu Ternak

0

Lombok Utara, MEDIA – Tim Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram) mengadakan kunjungan ke Dinas Peternakan dan UPTD Kabupaten Lombok Utara (KLU), Senin (15/8) lalu.

Kunjungan ini bertujuan untuk membahas kolaborasi antar berbagai pihak.

Kolaborasi dilakukan agar tercipta relasi antar dinas terkait dengan tim pelaksana PPK Ormawa dalam program posyandu ternak yang bertujuan untuk menyelesaikan wabah PMK serta meningkatkan produktivitas ternak Ruminansia di Desa Gumantar.

Ketua PPK Ormawa menjelaskan ada beberapa program yang akan dilakukan selama kegiatan Posyandu Ternak.

“Nanti programnya akan kita koordinasikan dengan UPTD selaku mitra dalam kegiatan ini untuk membantu dalam pelaksanaan program Posyandu Ternak,” katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Trisna Hadi mengatakan di KLU tepatnya di Desa Gumantar diberikan jatah sebanyak 6000 dosis vaksin dan sudah disalurkan 1500 dosis melalui UPTD.

“Saya harap dengan adanya program posyandu ternak kolaborasi dengan mahasiswa ini dapat membantu menyalurkan vaksin secara menyeluruh di Desa Gumantar,” lanjutnya.

Kepala UPTD Syaiful juga mengatakan sangat terbantu dengan adanya kerjasama ini.

“Tentunya dengan adanya Program Posyandu Ternak dari Mahasiswa ini kami sangat terbantu, saya menyetujui program yang akan dilaksanakan seperti recording ternak dan konsep Posyandu ternak yang sangat menarik,” pungkasnya. (M)

29 Tahun Kota Mataram; Permasalahan Banyak, Rakyat Tak Ditemui

0

MATARAM, MEDIA – Sejumlah orang yang terlibat dalam Aliansi Rakyat NTB Menggugat mendatangi Gedung Gubernur NTB, Kamis, (1/9). Aksi tersebut dilakukan untuk memperingati usia Kota Mataram ke 29.

“Sebagai ibu kota Provinsi NTB, masih banyak problematika yang harus diselesaikan, mulai persoalan anak jalanan, pengemis, pengangguran, alih fungsi lahan, keamanan, tata ruang kota, dan berbagai persoalan lainnya,” ungkap salah satu orator.

Dalam aksi tersebut, mereka membawa tujuh tuntutan, yakni:

1. Menuntut dan mendesak pemerintah provinsi ntb untuk membuka data keberhasilan program zero waste yang dicanangkan dalam program NTB Gemilang di masa akhir kepemimpinan Zul-Rohmi.

2. Menuntut dan mendesak pemerintah provinsi untuk membuka pengalokasian anggaran program zero waste yang dicanangkan dalam program NTB Gemilang di akhir kepemimpinan Zul-Rohmi

3. Menuntut dan mendesak pemerintah provinsi untuk membuka data keberhasilan industrialisasi di akhir kepemimpinan zul rohmi yang dicanangkan dalam program NTB Gemilang

4. Menuntut dan mendesak Pemprov NTB untuk segera menyelesaikan persoalan penyakit mulut & kuku yang terjadi di NTB.

5. Menuntut dan mendesak pemerintah provinsi untuk serius dan segera menjalankan segala janji-janji kampanye yang dicanangkan ketika pencalonan pilgub 2019

6. Mendesak pemerinta provinsi ntb untuk melakukan pemerataan pendidikan di setiap kabupaten dan kota yang ada di NTB.

7. Mengecam pemprov atas kegagalan dalam menjalankan program Zero Waste dan Industrialisasi di provinsi NTB

Setelah melakukan orasi dan menyampaikan tuntutan, massa aksi tidak ditemui gubernur maupun pihak pemerintah provinsi. Massa aksi membubarkan diri dengan tertib pukul sekitar pukul 14.10 Wita. (man,in)

berikut situasi selama aksi

 

Dinding Abu

0

Oleh: Spt

Kring…kring…kring… Suara alarm berbunyi

Rasanya masih ingin berbaring di tempat tidur yang nyaman ini, tetapi sekarang situasinya sudah berbeda. Jika alarm berbunyi, maka tubuh juga otomatis akan segera bangkit.

Kelopak mata perlahan terbuka, terasa berat namun ingin segera menyambut pagi dengan perasaan bahagia saat ini. Pemandangan pertama yang terlihat ialah dinding kamar yang diberi cat abu, polos tanpa hiasan di sana.

Jam menunjukkan pukul 06.17, aku membuka tirai jendela agar udara dan sinar pagi memantul ke kamarku, diiringi kicauan burung. Kembali ke pojok kanan tempat tidur untuk memutarkan lagu Best Part-Daniel Caesar feat. H.E.R. Benar, lagu favoritku.

Aku sangat menyukai suasana pagi ini, suasana segar diiringi lagu favorit dan favorit person yang sedang peregangan dengan selimut menutupi wajahnya.

“Udara segar ini mendukung sekali untuk semangat bekerja,” ucapnya menyapa pagi, sambil berjalan menuju kamar mandi.

Kami menyukai hal yang sama. Dinding yang dominan dengan warna-warna polos dan Selembut, musik di pagi hari, lukisan wayang di ruang tamu, meja dengan vas bunga bening, taman yang ramai akan bunga bermekaran,  membaca berita sambil menyantap sarapan, dikelilingi persawahan yang asri. Itulah kami.

Rumah dengan desain minimalis itu terasa lebih indah karena dilengkapi dengan prabotan sederhana ala-ala zaman dahulu, penuh dengan hiasan dinding tradisional di ruang tamunya.

Jika memandang arah luar melalui jendela dapur, maka akan terlihat taman kecil yang ditanami bunga-bunga dengan jenis yang beragam.

Pria berparas manis itu duduk di meja yang didesain layaknya mini bar membelakangi ruang keluarga. Menyantap sarapan yang baru saja tersaji, aroma gurihnya memenuhi ruangan yang terletak di bagian belakang rumah itu.

“Seperti biasa, nasi goreng spesial dengan sentuhan spesial,” ucapnya sambil membalas senyuman.

***

“Kenapa harus nasi goreng di pagi hari?” tanya Nada.

“Namanya juga orang Indonesia, harus pakai nasi,” jawabku sambil terbahak.

“Hayalanmu terlalu ndeso,” sahutnya meninggalkanku.

Wanita itu memang tidak pernah mendukung impian masa depanku. Aku berlari mengejar Nada dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Kades Gumantar Sambut Penerimaan Tim PPK Ormawa Unram Bersama LPPM Unram

0

Lombok Utara, MEDIA- Kepala Desa Gumantar Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara sambut penerimaan mahasiswa Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), disertai Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram (Unram), bertempat di kantor Desa Gumantar pada Senin (22 /8).

PPK Ormawa adalah salah satu program unggulan Kemendikbud yang diikuti dan diseleksi dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Tim Universitas Mataram berhasil lolos dan didanai, dengan membawakan tema kesehatan ternak. Sebanyak 12 mahasiswa yang tergabung dalam tim tersebut berusaha mengimplementasikan posyandu ternak sebagai sentra pelayanan kesehatan ternak ruminansia di Desa Gumantar Lombok Utara.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Gumantar memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas program tersebut, terutama saat kondisi PMK seperti saat ini.

“Hadirnya adik-adik mahasiswa ini membantu kita dalam meningkatkan taraf kesehatan ternak didesa kita. Terlebih sekarang kita tahu banyak penyakit PMK, syukurlah dengan adik-adik ini telah membantu kita untuk mengatasi PMK yang ada di Desa Gumantar ini,” ucap Japarti. 

Jadi kami atas nama Pemerintah Desa Gumantar dan seluruh masyarakat Desa Gumantar menerima dengan senang hati adik-adik mahasiswa dari Unram untuk pengabdian di desa kami. Mudah-mudahan dengan adanya adik-adik mahasiswa ini, pembangunan dan kesehatan hewan yang ada di desa Gumantar ini bisa diatasi dengan baik,” lanjutnya. 

Kepala Desa Gumantar juga mengimbau masing-masing kepada dusun yang ada di Desa Gumantar untuk membantu membuat kader-kader yang berasal dari masing-masing dusun.

Selanjutnya untuk program yang akan dijalankan yaitu program posyandu. Posyandu dalam hal ini bukan untuk manusia melainkan untuk ternak dan ini merupakan program baru yang akan dijalankan didesa ini sebagai pelayanan sentra ternak ruminansia yang ada di dDesa Gumantar.

 “Kami ingin menyampaikan kepada bapak ibu sekalian bahwa disini kami berkegiatan selama 6 bulan hingga bulan Desember nanti. Disini kami beranggota 12 mahasiswa Fakultas Peternakan dengan program, merekam ternak untuk pendataan ternak yang ada di Desa Gumantar agar tercover datanya, yang kedua sosialisasi posyandu dan pembentukan kader dengan pelatihan-pelatihan tentang peternakan,” ucap Rosyidi sebagai ketua tim PPK Ormawa dalam sambutannya.

Rosyidi juga mengatakan bahwa jika program ini berjalan dengan lancar, kami akan melaksanakan kontes ternak dan semoga bisa dihadiri oleh bupati Lombok Utara. (adk/adv) 

Iblis Dilindungi Iblis

0
llustrasi: pinterest.com

Fulan merupakan salah satu pelaku pelecehan seksual di Fakultas Uciha, Universitas Konoha. Banyak tubuh sudah disentuhnya. Aksinya sudah banyak diketahui orang. Namun anehnya, dia tak pernah sekalipun ditegur, apalagi dihukum. Baik lembaga mahasiswa maupun birokrasi.

“Lah, gimana caranya orang itu , ya? kok bisa dia ndak dihukum?” kata Dole sembari menikmati secangkir kopinya.

“Iya. Kok bisa? Ke mana aja lembaga mahasiswa yang ada di sana. Padahal korbannya sesama mahasiswa,” sahut Hamle dengan kesal.

“Eh, asal kalian tau. Fulan selamat dan menjalankan aksinya dengan aman karena ada yang melindungi,” tegas Arman.

Pernyataan itu membuat Dole dan Hamle terkejut. Makhluk apa kira-kira yang menyembunyikan kelakukan iblis seperti itu.

“Yang pasti, hanya iblis yang menyembunyikan kelakukan iblis,” lanjut Arman sambil menghisap rokok di tangannya.

Usut punya usut, kelakukan bejat Fulan ternyata dilindungi oleh orang-orang penting di fakultas tersebut; lembaga mahasiswa dan birokrasi. Mulanya itu merupakan analisa Arman. Namun analisa Arman menjadi fakta berdasarkan penyampaian Galang, salah satu kawan Arman dari fakultas uciha.

“Sebenarnya kelakuan pelaku bukan lagi rahasia di Fakultas ini, Arman. Ndak sedikit yang sudah jadi korbannya. Tapi, entah kenapa dia dilindungi sama teman-teman di sana,” Galang bercerita.

“Kurang ajar! Lembaga mahasiswa macam apa yang begitu?!” kata Hamle memotong cerita Galang.

“Terus, sekarang gimana nasib korban dan pelaku?” tanya Dole.

“Kalau korban, jelas trauma. Kalo pelaku sih, masih begitu. Selo. Hidupnya kaya ndak punya dosa,” jawab Galang.

“Tapi, mau gimana lagi. Beberapa pelaku pelecehan seksual yang kemarin belum jelas. Belum ada kepastian. Masih ngambang.”

Mereka berempat sepakat, besok akan menuju ke Fakultas Uciha untuk melihat langsung wajah pelaku.

**

Keesokan harinya, mereka mendatangi Fakultas Uciha. Di sana, mereka diberi tahu Galang wajah pelaku. “Cuih!! Ndak rupanya bersalah orang tu,” kata Dole sembari meludah.

“Kok bisa lembaga birokrasi pelihara makhluk begitu. Apalagi lembaga mahasiswa ni eee. Kalau bahas politik, kepentingan jabatan kalah-kalah pilitisi. Tapi yang begini diem kaya patung,” kata Hamle.

“Yah.. Namanya Iblis. Iblis dilindungi Iblis.”

Unram Jangan Ternak Pelaku Pelecehan Seksual!

0
Penulis (MD/ist)

Oleh: Wismoyo Aris Munandar

Kasus pelecehan seksual yang dialami beberapa mahasiswa di Universitas Mataram sampai sekarang masih simpang siur. Kendati demikian, justru hal aneh yang sering terjadi ialah adanya ketidakpastian terhadap perlindungan korban.

Pelaku yang justru punya relasi di fakultas hukum ini ternyata juga bukan orang acang acangan. Bagaimana tidak, dugaan dia bersanding dengan empat serangkai yang ada di fakultas hukum. Pertama dengan birokrasi fakultas, kedua birokrasi universitas dan beberapa diantaranya adalah dosen dan guru besar di fakultas hukum.

Maka tidaklah heran, ketika pelaku pelecehan seksual dengan modus mempermudah dan mempercepat proses akademi atau kelulusan mahasiswa karna di dukung dengan sumber daya manusia di dalam fakultas hukum tersebut.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin terlalu banyak membicarakan persoalan pelecehan seksual. Akan tetapi, perlu diketahui dalam ruang akademi atau kemahasiswaan dan di mana pun. Kejahatan yang dirancang sebaik mungkin, tetap meninggalkan kelompok dan jejak.

Kejahatan birokrasi dan guru besar ini mesti kita lihat sebagai perilaku yang menyimpan dan merusak instansi.
Baru baru kemarin video tersebar. Video tersebut, memperlihatkan adanya beberapa mahasiswa dan dosen yang sedang asik asiknya karokean atau nyanyi bareng. Dalam taraf ini, kode etik dosen pun perlu dijaga. Kita tak boleh membiarkannya.

Dari kasus pelecehan seksual yang terjadi kita bisa menarik benang merahnya. Dugaan kuat, ada keterlibatan guru besar dan petinggi fakultas dalam upaya untuk memberikan ruang bagi pelaku mengatasnamakan dosen tersebut.

Fakultas hukum sebagai laboratorium pendidikan akan pentingnya hukum ternyata diciderai begitu saja oleh mereka yang punya kuasa dan relasi kekuasaan. Padahal, kasus tersebut telah diketahui oleh beberapa oknum petinggi fakultas, tapi tidak ada kejelasan dalam hal mendisiplinkan para pihak.

Tentu dalam tulisan ini, saya meminta terhadap komisi kode etik dosen dan selamat fakultas hukum untuk menindak tegas persoalan beberapa dosen yang telah menyalahgunaakna kekuasaan dan jabatannya untuk memenuhi nafsu. Sembari kita merancang perbaikan dalam tatanan moral kita semua.

Jika dalam beberapa hari kedepan, pihak dekanat tidak melakukan tindakan tegas terhadap hal tersebut maka dalam ini, kita akan melanjutkan proses yang lebih lanjut. Karena ikut menyembunyikan suatu kejahatan adalah Bagian dari kejahatan tersebut.

Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Unram