24.6 C
Mataram
Wednesday, June 10, 2026
spot_img
Home Blog Page 82

Peti Demokrasi

0
Sumber Twitter :ShafiqPontoh

Oleh: Mariam

 

hai, para penggila jabatan

di mana kalian simpan kunci demokrasi itu?

apakah kalian menyembunyikannya di dalam peti?

haruskah peti itu ikut melompat ke dalam jurang yang kalian ciptakan?

 

hai, insan-insan bersaraf kekuasaan

doaku pada Tuhan:

biarkan mereka saja yang terjatuh,

jangan ikutsertakan si suci itu

sungguh, aku tak ingin kehilangan eksistensinya

aku ingin demokrasi tetap berdiri tegak, tanpa noda di dalamnya

 

hai, makhluk pencari kemenangan

menetaplah dalam jurang, menghilanglah dari peradaban

Maret 2021, Asrama Unram Siap Dihuni

0
Gedung asrama putra usai direnovasi. (MD/in)

Media Unram – Gedung asrama putra dan putri Universitas Mataram (Unram) siap dihuni kembali pada Maret 2021 mendatang.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan (WR II), Kurniawan. Ia menjelaskan, awal tahun 2020 lalu, pihak Unram memulai untuk merenovasi gedung asrama tersebut. Namun, karena pandemi Covid-19, kedua asrama itu tidak bisa dikerjakan secara bersamaan.

“Targetnya, akhir tahun ini sudah selesai,” ungkapnya saat ditemui Media Unram, Senin (30/11).

WR II, Kurniawan saat ditemui tim Media Unram di ruang kerjanya. (MD/tim)

Kemudian, lanjutnya, fasilitas yang disediakan akan lebih bagus dari sebelumnya. Perbaikan tersebut dilakukan untuk mengganti beberapa bagian gedung asrama dan fasilitas yang rusak akibat gempa silam.

“Nanti, kita carikan tempat tidur dan lemari. Bagian di dalam gedung juga kita sudah cat, bagus. Cuma diluar udah mulai kotor lagi, namanya juga lama tidak dihuni,” beber profesor hukum tersebut.

Rencananya, usai perbaikan dilakukan, asrama tersebut akan diserahkan dan dikelola oleh Badan Pengelola Usaha (BPU). Kini, asrama putra bertingkat dua itu sudah selesai, sedangkan asrama putri yang bertingkat empat masih dalam proses perbaikan.

Pada waktu yang berbeda, anggota Media Unram juga menemui Sekretaris BPU, Kadek Wiratama. Ia menjelaskan, gedung asrama akan dilengkapi fasilitas kamar tidur, kamar mandi, dapur, juga beberapa fasilitas penunjang, seperti kasur dan lemari baru.

Gedung ini diperuntukkan bagi mahasiswa baru (maba) terutama bagi mahasiswa penerima KIP-Kuliah.

“Namun, nantinya akan disaring lagi sesuai beberapa kriteria khusus, berhubung kapasitas asrama yang juga terbatas,” kata orang yang biasa disapa Kadek itu.

Sama seperti tahun lalu, pihak Unram bekerja sama dengan BPU terkait pengelolaan asrama. Lebih jauh dosen Fakultas Teknik (FT) Unram ini menjelaskan, kisaran harga sewa kamar sekitar Rp200 ribu per orang. Proses pembayaran sewa bisa dilakukan secara virtual melalui Bank NTB Syariah ke pihak terkait.

Kadek Wiratama saat ditemui tim Media Unram. (MD/tim)

“Uang sewa tersebut akan dialokasikan untuk pemeliharaan gedung, seperti pengadaan satpam dan petugas kebersihan asrama,” ungkapnya.

Kemudian, lanjut kadek, agar pengelolaan asrama putra dan asrama putri bisa berjalan lancar, akan ada pengaturan terkait batas waktu berkunjung asrama, waktu penutupan gerbang, dan sebagainya bagi mahasiswa.

“Karena ini wilayah kampus, jika ada kejadian apa-apa, tentu kampus yang akan menjadi sorotan,” pungkasnya. (in, mnd)

Kesetaraan Perempuan Dalam Dunia Pendidikan

0

Oleh: Ernida Sri Wardani

Kesetaraan dalam kehidupan sosial adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka, yang bersifat kodrati. Setiap laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dan perlakuan yang sama dalam lingkungan mereka tanpa adanya perbandingan, terutama penilaian dalam dunia pendidikan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 34 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam Pasal 48 Undang-Undang dikatakan Wanita berhak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.

Pendidikan merupakan hal yang mendasar bagi kehidupan manusia, dalam memperoleh pendidikan baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama. Melihat kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan masyarakat pada saat ini banyak sekali mendapat diskriminasi, seperti perempuan masih dibawah kekuasaan laki-laki. Dalam kehidupan masyarakat masih adanya penilaian bahwa perempuan berada dalam kekuasaan laki-laki, tentunya hal ini akan bertentangan dengan harkat manusia.

Berbicara tentang kesetaraan perempuan dalam dunia pendidikan, tentu saja tidak bisa lepas dari berbagai masalah yang dialami terutama dalam ruang lingkup masyarakat pedesaan yang masih memiliki pemikiran kuno. Masih adanya pemikiran bahwa pendidikan tidak terlalu penting bagi perempuan, pendidikan hanya diperuntukan untuk laki-laki saja, karena nantinya laki-laki yang akan menjadi kepala keluarga untuk mencari nafkah. Dengan adanya pemikiran seperti hal itu, membuat banyak anak perempuan tidak dapat menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti sarjana.

Dalam kehidupan masyarakat pedesaan banyak orangtua melarang anak perempuannya untuk menempuh pendidikan tinggi, dianggap tidak layak, karena menurut mereka tugas anak perempuan hanya bekerja di dalam rumah saja menjadi ibu rumah tangga, mencuci, memasak, dan lain sebagainya. Sehingga menganggap pendidikan tidak terlalu penting bagi anak perempuan. Sering terlihat di wilayah pedesaan masih banyak anak perempuan yang pendidikannya hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Selain menganggap pendidikan tidak penting bagi perempuan, banyak orang tua juga memiliki pemikiran seperti mereka beranggapan bahwa anak perempuan memiliki keinginan untuk cepat menikah, dikhawatirkan hanya akan menghabiskan biaya tanpa adanya hasil yang maksimal sesuai pengeluaran mereka. Sehingga anak perempuan di desa lebih baik diam dirumah untuk mengurus rumah.

Diskriminasi gender terhadap perempuan masih kerap terjadi, perempuan masih dibatasi dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi, karena adanya subordinasi yang menganggap perempuan berkedudukan lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga menciptakan tidak adanya kesetaraan dalam kehidupan sosial antara laki-laki dan perempuan yang menimbulkan masalah dalam lingkungan masyarakat.

Dari hal tersebut, memicu timbulnya gerakan dari kelompok perempuan untuk mendapatkan hak kesetaraan mereka dalam dunia pendidikan dan mendapatkan hak yang seharusnya sama dengan laki-laki. Gerakan yang timbul yaitu seperti anak perempuan yang diangap tidak layak menempuh pendidikan tinggi tetap nekat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang starata. Hal tersebut guna untuk membuktikan kepada orangtua ataupun masyarakat, bahwa perempuan bisa meraih mimpi mereka serta memiliki kesetaraan yang sama dan pantas melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Seiring perkembangan zaman, pola pikir masyarakat yang ada di pedesaan juga mengikuti alur perubahan yang ada, walaupun tidak menyeluruh. Sudah terlihat perubahan dari masyarakat yang memiliki pola pikir primitif menjadi modern, dari perkembangan pola pikir tersebut memicu banyak orangtua sadar bahwa pendidikan tinggi tidak hanya untuk laki-laki saja, namun perempuan juga berhak mempunyai pendidikan yang sama. Selain itu juga dilihat dari partisipasi gerakan yang muncul dari kelompok perempuan, dapat membuktikan kepada orangtua ataupun masyarakat bahwa mereka bisa setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan. Sehingga, pada era modernisasi saat ini banyak orangtua mempunyai harapan untuk melihat anak perempuan mereka bisa melanjutkan pendidikan tinggi.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan kesetaraan dalam dunia pendidikan diperlukan adanya kesadaran dari orangtua, lingkungan masyarakat ataupun dari gerakan kelompok perempuan, bahwa perempuan juga memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Perempuan juga memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan tinggi sesuai dengan keadilan yang telah tercantum dalam UUD NO.34 Tahun 1999. Agar tidak ada lagi diskriminasi terhadap perempuan yang menyatakan bahwa perempuan tidak layak untuk memiliki pendidikan tinggi. (*)

 

Kuliah Daring Mahasiswa; Siap Buk, Baik Pak

0

Oleh: Muh. Rizal Afwan

Pandemi Covid-19 atau virus corona merupakan suatu momok yang sangat menakutkan sekarang ini. Segala macam aktivitas manusia terhambat sehingga kurang efisien dalam melakukan suatu kegiatan. Tidak terkecuali dalam kegiatan pendidikan, setelah adanya pandemi ini kegiatan belajar mengajar dilakukan tidak lagi tatap muka secara langsung melainkan dalam jaringan (daring). Sesuai dengan kebijakan yang di buat oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Makarim, terkait pendidikan tahun ajaran 2020/2021 di masa pandemi covid-19. Ada 8 point penting dalam kebijakan yang telah dikeluarkan Nadiem, salah satunya, khusus perguruan tinggi dibawah naungan kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, diputuskan tetap ditutup meski berada di zona hijau. Dengan demikian, perkuliahan tetap diadakan secara daring atau online.

Nadiem menilai, aktivitas perkuliahan di perguruan tinggi atau universitas sangat memungkinkan dilakukan dengan sistem daring atau jarak jauh dibandingkan pendidikan tingkat dasar atau menengah. Kemudian, yang diperbolehkan sesuai dengan kebijakan Nadiem untuk pendidikan perguruan tinggi, yakni kegiatan penelitian di laboratorium studio, bengkel, atau aktivitas perkuliahan yang membutuhkan peralatan dibolehkan di kampus. Tetapi harus mengikuti protocol kesehatan.

Pada awalnya kebijakan ini diterima dengan sangat baik oleh para mahasiswa, dimana perkuliahan dapat dilakukan langsung dari rumah, sehingga mahasiswa tetap dapat bertemu dengan orang tua mereka. Jadi bagi mereka yang dari luar daerah atau kabupaten tidak lagi merantau untuk kuliah, karena kuliah bisa dilakukan di rumah saja.

Perkuliahan secara online juga dianggap sebagai salah satu cara dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi sekarang ini. Tatap muka secara online merupakan suatu kecanggihan teknologi yang dapat kita rasakan sekarang, dimana bukan hanya sekedar suara yang dapat kita dengarkan melainkan bisa langsung tatap muka (face to face). Jadi segala macam aktivitas manusia dapat dilihat dengan sangat mudah melalui jalur online. Dengan kecanggihan teknologi ini, perkuliahan dapat dilakukan dengan santai oleh mahasiswa dimana kuliah online bisa juga dilakukan diatas kendaraan, bahkan juga saat dirumah sambil makan, minum, rebahan dan lain sebagainya. Setiap harinya tidak ada kegiatan lain yang dilakukan oleh mahasiswa selain kuliah online.

Setelah perkuliahan daring ini berjalan beberapa bulan para mahasiswa mulai merasa bosan dan mengeluh, dimana sistem perkuliahan daring dirasa tidak efektif dalam pembelajaran sehingga banyak mahasiswa yang tidak mengerti dengan penjelasan yang dipaparkan oleh dosen. Dimana ketika dirumah banyak sekali hal yang dilakukan oleh mahasiswa baik membantu pekerjaan orang tua di rumah maupun kegiatan lainnya. Sehingga terkadang mereka tidak terlalu fokus pada kuliah yang mereka lakukan. Kadang mereka sedang berada di sawah membantu orang tuanya, terkadang juga sedang di dapur membantu ibunya, sehingga fokus mereka terbagi-bagi.

Belum lagi tugas yang diberikan oleh dosen yang sangat banyak, sehingga mereka mearasa sedikit repot mengerjakannya. Terlebih lagi jika satu tugas belum diselesaikan datang lagi tugas berikutnya, inilah yang membuat mahasiswa merasa stress karena terlalu lama menjalani perkuliahan daring, dikarenakan materi yang dipahami terlalu sedikit sedangkan tugas begitu banyak dan bertubi-tubi. Di sisi lain juga tedapat banyak sekali gangguan jaringan yang di rasakan oleh para mahasiswa dimana sinyal yang tidak stabil membuat penjelasan dosen terputus-putus, sehingga banyak materi yang tidak dapat dipahami secara efektif. Ditambah lagi mahasiswa harus tetap memiliki kuota internet yang digunakan dalam perkuliahan daring ini. Aplikasi pembelajaran secara tatap muka ini menghabiskan banyak kuota sehingga terkadang kuota yang masa aktifnya 30 hari dapat habis hanya dalam dua minggu atau bahkan hanya satu minggu. Karena belum lagi untuk mencari materi baik dari blogspot maupun youtube.

Banyaknya jadwal kuliah yang tidak sesuai dan sering digonta-ganti oleh sebagian dosen membuat mahasiswa harus ekstra sabar, karena tidak jarang mereka harus kuliah pada malam hari, dan bahkan pada hari libur sekalipun. Hal ini merupakan suatu ekspektasi yang jauh dari yang dibayangkan oleh para mahasiswa, alih-alih dapat santai dan tidur sepuasnya malah setiap harinya tetap dikejar oleh deadline tugas yang begitu banyak.

Setiap paginya harus bangun untuk mengikuti kuliah melalui zoom atau google meet, terlihat jelas wajah-wajah bekas bantal mereka. Sehingga tak jarang banyak sekali mahasiswa yang mematikan cameranya agar tidak terlihat. Terkadang juga ada yang mematikan cameranya lalu melanjutkan tidurnya. Hal inilah yang membuat kegiatan belajar-mengajar tidak berjalan dengan baik.

Hampir di setiap pertemuan pada saat pandem ini, kata-kata yang selalu mucul di awal maupun akhir pertemuan yaitu “Siap bu, baik pak, terimakasih bu, terimakasih pak.” ini menjadi suatu kebiasaan yang di ucapkan oleh para mahasiswa. Menurut mereka mengerti atau tidaknya dalam pemebelajaran, mereka harus tetap mengucapkan terimakasih kepada dosen. Sehingga sebagian dari mahasiswa sering membuat story di akun whatsapp mereka dengan caption “Siap bu, baik pak, adalah materi hari ini”.

Waktu terasa begitu cepat, dimana perkuliahan yang seharusnya dirasakan begitu lama namun sekarang terasa sangat singkat. Perkuliahan yang dirasakan baru saja di mulai satu bulan yang lalu, tapi ternyata sudah enam bulan saja. Dimana dengan di sebarkannya jadwal ulangan akhir semester (UAS) di setiap fakultas atau prodi masing-masing. Sehingga mahasiswa merasa heran, ilmu yang mereka dapatkan begitu sedikit namun perkuliahan satu semester akan segera berakhir.

Pandemi covid-19 ini memang sangat merugikan semua kalangan, segala aktivitas harus dilakukan secara online, atau jarak jauh, dimana harus menjaga jarak antara yang satu dengan lainnya.

Semoga di tahun yang akan datang pandemi ini segera musnah dan perkuliahan dapat di selenggrakan secara offline. Sehingga kerinduan yang terpendam antar mahasiswa dan dosen yang begitu lama, dapat terlampiaskan dengan kembali diadakannya kuliah tatap muka secara offline. (*)

Perdana, UKM Prima Adakan Seminar Mawapres Berskala Nasional

0

Media Unram – Guna memberikan motivasi bagi mahasiswa yang ingin menorehkan prestasi di bidang akademik maupun non akademik, 14-15 November 2020 lalu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran dan Riset Ilmiah Mahasiswa (Prima) Universitas Mataram (Unram) mengadakan seminar Mahasiswa Prestasi (Mawapres) nasional.

Ketua panitia Fadlika Ahmadi menjelaskan, ini pertama kalinya Prima melaksanakan seminar Mawapres berskala nasional. Ia berharap, melalui seminar yang mengusung tema “Berfikir Maju, Start Action, with Mawapres University (BIMA SAKTI) ini bisa mengantar mahasiswa untuk berpikir maju.

“Semakin peka terhadap masalah-masalah disekitar kita,” katanya kepada Media Unram via WhatsApp.

Kegiatan yang bertempat di Auditorium M Yusuf Abu Bakar ini diadakan secara online melalui aplikasi zoom. “Sekitar 140 mahasiswa yang menjadi peserta dari berbagai universitas di Indonesia,” lanjutnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) Enny Yuliani. Ia menjelaskan, menjadi mahasiswa tidak harus bergelut dalam dunia akademik saja, melainkan ikut berperan aktif dalam kegiatan keorganisasian.

“Memiliki IP tinggi harus di imbangi dengan keaktifan dalam kegiatan organisasi dan keaktifaan ini bukan penghalangan untuk mendapatkan IP tinggi,” katanya saat memberi sambutan.

Beberapa pemateri yang juga turut hadir dalam seminar ini yakni Muhammad Alan Nur (Mawapres 1 Nasional 2020), Arga Putra Panatagama (Mawapres 2 Nasional 2018), Baiq Nila Sari Ningsih (Mawapres 1 Unram 2016) dan Retno Zahra Mawapres 1 D3 Unram 2018.

Para pemateri ini diharapkan menjadi role model bagi para peserta untuk terus menorehkan prestasi agar bisa menjadi generasi penerus yang akan menorehkan serangkaian prestasi dan menjadi generasi unggulan bangsa kedepannya. (Lnf)

Ayah

0

Oleh: Dwi Kurniawati

Ayah..
Air mata membasahi malammu
Keringat mengguyur siangmu
Dikala raga kau anggap tak berdaya
Ketika kau tak mampu mengisi relung kasih untuk jiwa sang buah hati

Tak henti kau langkahkan kaki
Tak henti kau tadahkan jari-jemari untuk berdoa
Tak henti pula kau memberikan raga untuk berjuang
Tak ada jua yang lau harapkan kecuali balasan dari Sang Kuasa

Kau berjuang untuk berlian yang kau timang
Kau tak pantang untuk insan yang kau asuh
Aku adalah jiwa yang tak berdaya
Yang hanya mampu berkeluh kesah dari apa yang kau persembahkan

Jika ku berikan isi semesta
Mungkin tak mampu mengembalikan tulang kuatmu yang mulai rapuh
Tak mampu pula mengembalikan kulit kencangmu yang telah lusuh
Dan tak mampu mengembalikan guliran waktu yang kau arungi

Hanya gerakan lisan yang ku ukir untuk mendoakan
Walaupun jauh dari kesempurnaan
Berulang ku ungkapkan terimakasih
Namun tak henti kau memberikan kasih

Untuk kekuatan yang kau hibahkan
Pada raga yang jauh dari pengabdian
Walau berbagai rintangan
Dan tak pernah kau hakimi pembalasan.

Politik Kampus Membuat Kita Tidak Rasional

0

Oleh: Muhammad Royyan Fadli

 

Dalam pembicaraan masalah politik, seringkali terjadi perdebatan, khususnya mengenai pilihan calon, kualitas calon, program-program yang diajukan ataupun kebijakan yang telah dijalankan. Sayangnya perdebatan-perdebatan ini seringkali tidak melibatkan rasionalitas, dan lebih mengedepankan sentiment. Perdebatan politik beserta bias didalamnya tak hanya terjadi di level negara, provinsi ataupun kabupaten, melainkan juga di lingkungan kampus.

Mungkin banyak diantara kita yang sering menyaksikan perdebatan dimana kedua belah pihak tidak menerima fakta yang disampaikan satu sama lain, menolak fakta dikarenakan identitas, atau afiliasi dengan kelompok tertentu. Fenomena tersebut seolah bertentangan dengan sifat manusia sebagai makhluk rasional. Namun faktanya, fenomena ini masih seringkali terjadi, pertanyaannya, mengapa?

Sebuah video menarik yang di upload oleh channel youtube yang juga sangat menarik yakni Ted-Ed, yang berjudul “Do Politics Make Us Irrational?”, yang merupakan visualisasi dari kuliah Jay Van Bavel seorang professor psikologi dari New York University (NYU), mengenai bias otak manusia dalam mengelola dan menginterpretasikan informasi. Video tersebut menjelaskan konsep-konsep seperti Partisanship, disonansi kognitif dan solusi untuk menghadapi bias pemikiran tersebut.

Video tersebut diawali dengan mengutip penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 di Amerika Serikat. Penelitian tersebut melibatkan sekitar 1.111 orang dewasa di Amerika Serikat untuk menguji kemampuan mereka dalam menganalisa data. Dalam soal-soal yang disediakan terdapat soal yang berkaitan dengan “Identitas Politik” dari masyarakat Amerika Serikat seperti “Bagaimana hubungan antara angka kriminalitas dengan UU Gun Control di AS?”, yang menjadi perdebatan yang terpolarisasi dalam masyarakat AS berdasarkan identitas politik mereka (democrat, republican). Sementara soal lainnya dengan tingkat kesulitan yang sama tidak berhubungan dengan identitas politik masyarakat.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan peserta dengan kemampuan matematika yang tinggi cenderung menjawab dengan benar pertanyaan yang tidak berkaitan dengan identitas politik. Sedangkan peserta dengan kemampuan matematika yang juga baik, bahkan tergolong matematikawan handal cenderung menjawab dengan salah pertanyaan yang berkaitan dengan identitas politik jika jawaban yang benar bertentangan dengan political beliefs mereka.

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa identitas seseorang mempengaruhi pikiran mereka dalam memproses dan menginterpretasikan fakta dan data, fenomena ini disebut sebagai partisansihip, yakni suatu preferensi atau bias yang kuat terhadap suatu ide atau kelompok.

Politik, etnis, agama dan nasionalisme termasuk ke dalam bentuk-bentuk dari partisanship. Mengelompokkan diri kedalam suatu komunitas dengan jenis-jenis di atas tentunya suatu hal yang normal dan sehat dalam kehidupan manusia, dikarenakan sifat sosial dari manusia itu sendiri. Berkelompok dalam suatu pemikiran atau komunitas tertentu membentuk identitas dan karenanya manusia cenderung termotivasi untuk mempertahankan atau membela kelompok dan identitas kelompoknya sekaligus membela pemikirannya. Namun hal ini kemudian akan menjadi masalah apabila yang dipercayai oleh suatu kelompok bertentangan dengan kenyataan.

Dalam video tersebut diberikan analogi yang sangat representatif mengenai fenomena ini;
“Jika anda menonton tim olahraga favorit anda dan anda melihat tim anda melakukan pelanggaran yang serius, anda tahu bahwa itu melanggar peraturan, tetapi teman-teman anda sesama penggemar dari tim tersebut berpikir bahwa pelanggaran tersebut dapat diterima, oleh sebab itu anda bisa jadi mulai menyalahkan wasit, menuduh tim lawan melakukan pelanggaran lebih dulu, bahkan meyakinkan diri anda sendiri bahwa tidak ada pelanggaran sama sekali”.

Pergulatan “anda” dalam analogi diatas disebut “disonansi kognitif”. Disonansi kognitif sendiri adalah teori yang dipopulerkan oleh Leon Festinger, psikolog sosial yang terkenal dan berpengaruh dalam sejarah psikologi sosial. Disonansi kognitif dideskripsikan sebagai suatu kondisi membingungkan yang terjadi ketika individu menemukan diri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diketahui, atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang diyakini.

Disonansi tersebut menimbulkan ketegangan psikologis yang berujung pada ketidaknyamanan. Maka dari itu, untuk mengurangi hal tersebut individu akan mencari informasi yang konsonan dengan keyakinan atau sikap diri mereka dalam melakukan pemilahan terhadap informasi maupun situasi yang sama dan sejalan dengan sikap mereka serta menolak atau menghindari semua materi informasi yang bertentangan dengan keyakinan atau sikap mereka (Hutagalung, 2016).

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa, ketika kita dihadapkan pada situasi dimana fakta bertentangan dengan identitas dan keyakinan kita, ataupun bertentangan dengan posisi dari kelompok dimana kita berafiliasi, “kita cenderung mencari pembenaran, mencari informasi yang sesuai dengan keyakinan atau sikap dari kelompok afiliasi kita dan menolak serta menghindari semua materi informasi yang bertentangan dengan keyakinan atau sikap kelompok kita”. Disonansi kognitif seringkali membuat kita lebih mengutamakan relasi kita dengan kelompok dibandingkan memandang permasalahan secara objektif, akurat, dan faktual.

Fenomena disonansi kognitif ini sangat relevan dengan yang terjadi di kampus kita akhir-akhir ini, tepatnya mengenai unggahan ucapan selamat kepada Ketua dan Sekjend BEM Prodi di bawah Rektor “terpilih”, dan aklamasi dari calon Ketua dan Sekjend BEM Universitas, yang keduanya memancing reaksi masyarakat Unram. Unggahan ucapan selamat kepada Ketua dan Sekjend BEM Prodi di bawah Rektor “terpilih” menghebohkan masyarakat tiga prodi, yang tidak tahu menahu mengenai pemilihan tersebut, bahkan Ketua Himpunan Mahasiswa masing-masing prodi mengaku sama sekali tidak mengetahui tentang pemilihan tersebut.

Pihak yang pro maupun kontra dengan “terpilih”nya Ketua dan Sekjend tersebut masing-masing mempertahankan argumentasinya. Namun, tidakkah terlihat berat sebelah? Kita seringkali mendengar mengenai “kampus miniatur negara” dan kalimat yang semisal dengannya, penerapan lembaga Eksekutif dan Legislatif di kampus tidak lain adalah untuk mewujudkan demokrasi di lingkungan kampus, sebagai duplikasi dari sistem demokrasi yang telah berjalan dalam kehidupan bernegara kita. Lantas bagaimana calon yang tidak didukung bahkan tidak diketahui pencalonannya dapat dikatakan mewakili sistem demokrasi yang berusaha diterapkan di lingkungan kampus? Secara filosofis, sangat bertentangan, namun tetap menghadirkan dukungan dengan segala argumentasi.

Fenomena kedua juga tidak kalah menghebohkan, aklamasi dari satu calon menghadirkan gelombang protes di sosial media bahkan berujung pada aksi demonstrasi. Jika dikerucutkan (sebatas pengetahuan penulis), inti dari polemik ini adalah pada penafsiran mengenai kata LKMM di salah satu peraturan DPM, Penanggung Jawab Sementara (PJS) Sulaiman Perawira Sasakadi yang ditugaskan oleh ketua DPM Unram menafsirkan LKMM sebagai Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa.

Sedangkan, pada UU Pemira tertulis Latihan Kepemimpinan Manajemen Organisasi, dan pada Petunjuk Teknis Penyelenggaraan tertulis Latihan Kepemimpinan saja, bahkan pada Peraturan Rektor terbaru, pasal 4 poin b sama sekali tidak menyebutkan LKMM secara spesifik, melainkan hanya latihan kepemimpinan/pendidikan dasar yang diadakan oleh Universitas, Fakultas atau organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan lainnya yang dibuktikan dengan sertifikat.

Penunjukkan Sulaiman Prawira Sasakadi sendiri sebagai PJS bukannya tanpa kontroversi, penunjukkannya diklaim tidak menggunakan surat tugas, dan tanpa kesepakatan anggota DPM Unram. Penunjukkan ini adalah perintah langsung dari Ketua DPM Unram Muhammad Al-Fajar, yang mana tindakan ini dianggap sebagai tindakan yang tidak demokratis oleh beberapa anggota DPM lainnya, sehingga akhirnya menghadirkan gugatan yang ditandatangani beberapa BPH dari DPM Universitas sendiri.

Penafsiran dari PJS DPMU ini sendiri pada akhirnya berujung pada diskualifikasi dua calon lainnya, dan menyisakan pasangan calon Wahyu Adi Guna dan Galuh Savitri Maharani sebagai satu-satunya calon yang lolos dalam persyaratan administrasi. Pihak yang pro dan kontra dengan kebijakan ini mempertahankan posisinya dengan argumentasi masing-masing, yang cenderung terlihat berat sebelah.

Menurut pandangan penulis, proses penunjukan PJS yang tidak melibatkan dan mendapatkan persetujuan dari anggota DPMU serta penafsiran yang tidak melibatkan anggota DPMU merupakan tindakan yang melanggar prinsip perwakilan dari lembaga DPM sendiri. Karena sejatinya setiap anggota DPM mewakili suara mahasiswa dari dapil mereka masing-masing, sehingga mengabaikan suara anggota DPM sama dengan mengabaikan suara semua mahasiswa yang mereka wakili, terlebih lagi para dewan yang duduk menjadi anggota DPM tahun ini merupakan mereka yang “dipilih langsung” oleh mahasiswa. Sehingga suara mereka tidak dapat diabaikan dan digantikan oleh penunjukan secara sepihak oleh ketua DPMU saja.

Mengabaikan suara para anggota DPMU yang dipilih mahasiswa adalah tindakan mengamputasi demokrasi yang notabene hanya atas dasar demokrasi inilah semua lembaga pelaksana dan pendukung demokrasi kampus dibentuk, mulai dari lembaga eksekutif, legislatif, komisi pemilihan, badan pengawas dan lain sebagainya. Lantas apa artinya segala proses untuk penentuan nahkoda lembaga eksekutif jika dalam prakteknya tidak mengiraukan suara para “wakil rakyat” yang sama saja mengabaikan suara mahasiswa yang diwakilinya?.

Politik kampus sangat amat harus untuk lebih berkualitas dari politik Desa, Kecamatan, Kabupaten maupun Provinsi, bahkan Negara. Mengapa? Karena rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia adalah 7,6 tahun, alias tidak lulus SMP, sedangkan masyarakat kampus, 100 persennya adalah lulusan SMA sederajat, bagaimana kita akan rela perpolitikan dari masyarakat yang 100 persennya lulusan SMA sederajat ini akan sama dengan yang rata-ratanya tidak lulus SMP?

Lantas apa gunanya pendidikan jika kualitas perpolitikan kita sama saja, dengan beragam siasat untuk menggapai jabatan, amat jauh dari kontestasi berbasiskan gagasan. Segala kesimpulan kembali kepada pembaca. Apakah politik kampus kian tidak rasional? Apakah keputusan-keputusan pejabat pemilu kampus sudah rasional? Apakah membelanya akan menjadi tindakan yang rasional atau hanya karena disonansi kognitif pihak pembela membela mati-matian demi kesamaan dan bertahannya relasi yang baik dengan kelompok afiliasinya?

Silahkan pembaca simpulkan sendiri, karena saya bisa saja bias. Tapi setidaknya saya mengakui bahwa saya bisa bias, saya tidak lepas dari kecacatan logika, bukannya membela mati-matian hanya karena kelompok. Semoga kedepannya politik kampus kita akan lebih berkualitas dan menjadi kontestasi berbasis ide bukan berbasis kelompok. (*)

 

Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional (HI).

Gebrakan Baru aDC Nasional 2020: Lomba Debat Nasional Online Pertama di NTB

0
Ketua Paniti, M. Azmil Umur saat memberi sambutan. (MD/ist)

Media Unram – Untuk menfasilitasi  siswa dan mahasiswa dalam melatih kemampuan berpikir kritis terhadap isu lokal, nasional, dan internasional, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Argument Universitas Mataram (Unram) kembali mengadakan acara Argument Debating Championship (aDC).

aDC merupakan lomba debat Bahasa Inggris tingkat nasional yang diadakan setiap tahun dan menjadi agenda terbesar dalam program kerja UKM argUMent.Kali ini dengan tema “Embark in a Greater Adventure by Unleashing  Your Unlimited Potential”.

Berbeda dari tahun sebelumnya,  kali ini aDC dilaksanakan secara online. “Karena pelaksanaannya dilakukan di tengah pandemi, sehingga seluruh kegiatan lomba dilaksanakan secara daring,”  ungkap M. Azmil Umur selaku ketua panitia saat memeberi sambutan di Gedung Auditorium M. Yusuf Abu Bakar Unram, Jumat (27/11).

Selain itu, aDC juga mengadakan lomba bagi siswa ditingkat SMA dan mahasiswa se-Indonesia, yaitu lomba public speaking dan writing opinion.

Azmil menjelaskan, setelah hari itu (pembukaan), pada 28 November 2020, dilaksanakan kegiatan debat yang diikuti berbagai perguruan tinggi di Indonesia via ZOOM dan ditayangkan secara langsung melalui akun youtube argUMent. Kemudian, pada 29 November 2020 merupakan puncak acara, yang diisi dengan rangkaian acara semifinal dan grandfinal dari lomba debat, serta webinar nasional.

Lebih jauh Azmil menjelaskan, pada tahun ini juga aDC mengundang Maerel Dhalia Arumnisa dari Universitas Diponegoro, Devi Shalsabila dari Universiats Airlangga , Deputy Chief of Adjudicators (DCA) 1 dan L.M Jagad Al Ula dari Universiats Mataram, Deputy Chief of Adjudicators (DCA) 2.

Usai memberi sambutan, anggota Media Unram berkesempatan menemui Azmil. Ia mengatakan, peserta lomba berasal dari berbagai sekolah dan universitas di Indonesia.

“Untuk Public Speaking diikuti sebanyak 15 mahasiswa untuk level Universitas dan 30 siswa untuk level SMA, sedangkan untuk lomba Writing Opinion diikuti 23 mahasiswa untuk level universitas dan 38 siswa untuk level SMA,” bebernya.

Kemudian, lanjutnya,  tujuan diadakanya acara ADC ini sebagai wadah untuk memfasilitasi siswa dan mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. “Sebagai ajang bagi siswa dan mahasiswa untuk menunjukkan kreatifitas diri,sebagai sarana pengembangan diri bagi siswa dan mahasiswa untuk melihat kemampuan dalam menganalisis isu nasional dan internasional,” bebernya.

Selain itu, untuk memaksimalkan peran siswa dan mahasiswa sebagai generasi pembawa perubahan menuju kemajuan negara Indonesia.

Diujung pembicaraanya, Ia berharap aDC mampu mencetak generasi bangsa yang memiliki jiwa dan pikiran kritis serta cerdas dalam menjawab tantangan global, dan permasalahan yang ada di masyarakat. (han)

 

 

 

 

Unram Bangun Gedung Business Center

0

Media Unram – Sejak 28 November lalu, Universitas Mataram (Unram) membangun gedung Business Center di depan kampus, tepatnya sebelah barat jalur masuk Unram.

Gedung ini akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas mahasiswa hingga masyarakat seperti food court. Selain itu, bangunan yang rencananya akan bertingkat empat ini juga akan menyediakan hotel mini.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Biro (Kabiro) umum dan keuangan, Aman, SP. Ia menjelaskan, gedung ini merupakan salah satu peluang untuk meningkatkan penghasilan PNBP atau pendapatan belanja Unram. Usai pembangunan ini selesai, rencananya akan diisi dengan berbagai fasilitas.

“Akan diisi dengan food court serta beberapa bank mitra untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa,” kata Aman saat ditemui awak Media Unram, Jumat (27/11).

Kepala Biro umum dan keuangan Aman, SP, saat ditemui Media Unram. (MD/roy)

Aman mengaku, pembangunan ini sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. Namun tersendat karena terkendala anggaran. Terkait biaya pembangunan, Ia menjelaskan pembangunan ini menggunakan dana sebesar Rp12 milyar lebih.

Lebih jauh Aman menjelaskan, rencananya gedung lantai satu dan dua digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pokok mahasiswa, dosen dan karyawan.

Kemudian, hotel mini akan dibangun pada lantai tiga dan empat, yang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga pasien rumah sakit unram dan juga keluarga para wisudawan yang datang dari luar daerah.

Pembangunan Gedung Bisnis Center. (MD/tim)

“Untuk keluarga mahasiswa akan mendapatkan harga spesial menginap di hotel mini,” ungkapnya.

Diujung pembicaraannya, Aman berharap, pembangunan gedung ini akan berjalan dengan lancar dan selesai pada tahun 2021.

“Karena saat ini, sudah kedatangan kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU)  atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  untuk perjanjian penempatan ruangan,” pungkasnya. (eva)

Mempertahankan Eksistensi Budaya Lokal, Dosen Sosiologi Unram Lakukan Kegiatan Pengabdian Masyarakat

0

Media Unram – 29 Agustus lalu, Program Studi (Prodi) Sosiologi Universitas Mataram (Unram) mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Aula Balai Desa Kuta, Pujut, Lombok Tengah (Loteng).

Dosen prodi sosiologi sekaligus ketua kegiatan Solikatun S.Pd, M.Si mengatakan, kegiatan ini bertujuan sebagai wadah untuk memfasilitasi serta memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai budaya sebagai identitas mereka.

Bersama rekan-rekan dosen sosiologi lainnya, ia melakukan sosialisasi mengenai fortifikasi budaya lokal dalam mempertahankan jati diri pariwisata Lombok.

“Kegiatan pengabdian ini dilakukan berdasarkan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Derasnya arus globalisasi yang semakin pesat membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat,” ungkap orang yang biasa disapa Soli ini kepada Media Unram.

Dengan perbuahan serta masuknya unsur-unsur budaya baru tersebut, lanjut Soli, kini nilai budaya yang bersumber pada kearifan lokal mulai luntur.

Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai budaya lokal semakin menurun, penggiat budaya makin terbatas, dan kurangnya dukungan pemerintah untuk mempertahankan keaslian budaya lokal. Sementara gempuran arus globalisasi dan kapitalisme makin meningkat. Budaya lokal sebagai identitas atau jati diri masyarakat perlu dipertahankan mengingat banyaknya budaya luar yang masuk ke masyarakat.

“Desa Kuta sebagai destinasi wisata memiliki modal alam dan budaya yang dapat meningkatkan sektor pariwisata Lombok. Solusi yang diberikan dalam pengabdian ini adalah mempertahankan budaya lokal sebagai jati diri pariwisata Lombok,” bebernya.

Lebih jauh Soli menjelaskan, kegiatan tersebut membuahkan hasil, yaitu meningkatnya pengetahuan masyarakat khususnya remaja dan pemuda desa Kuta mengenai budaya lokal.

Perkembangan pariwisata mulai mengancam eksistensi budaya lokal dan memunculkan budaya-budaya baru dikalangan masyarakat seperti life style dikalangan anak muda. Selain itu, terjadinya dinamika budaya di dalam masyarakat. Penguatan modal sosial sebagai salah satu strategi dalam menjaga budaya dan pengembangan pariwisata.

Selain penguatan modal sosial, menyusun strategi dalam menjaga budaya lokal juga perlu dilakukan.

“Seperti menanamkan pengetahuan budaya pada anak sejak dini, membentuk komunitas penggiat budaya lokal, membuat awik-awik yang tegas,” ungkapnya.

Kemudian, lanjutnya, pemerintah juga perlu melibatkan masyarakat dalam musyawarah, serta meningkatkan promosi budaya lokal.

“Dengan meningkatkan sektor pariwisata, dan pemanfaatan teknologi dengan bijak juga merupakan strategi yang digunakan untuk menjaga budaya lokal dan pengembangan pariwisata,” pungkasnya. (khn)