28.3 C
Mataram
Wednesday, June 10, 2026
spot_img
Home Blog Page 78

Dream Light, Sebuah Kelompok Belajar Penerang di Masa Depan

0
Anak-anak kelompok belajar Dream Light. (Foto: Suandi).

Lombok Barat, MEDIAUnram.comDream Light sebuah kelompok belajar yang berdiri sejak lima tahun lalu, dahulu hanya berjumlah tujuh orang anak kini telah berjumlah ratusan anak hingga menjadi program kerja Karang Taruna Desa Gontoran, Kecamatan Lingsar.

Hal itu diungkapkan pendiri sekaligus pembina Dream Light, Suandi. Ia mengatakan kelompok belajar ini awalnya hanya fokus mengajar bahasa inggris saja, namun seiring perkembangannya kini juga ada mata pelajaran matematika dan bahasa arab.

Suandi juga mengaku kelompok belajar yang didirikan 17 Januari 2016 ini mengalami proses pembentukkan yang tak melulu berjalan lancar begitu saja. “Alhamdulillah setelah banyak sekali halangan dan rintangan, sampai saat ini sudah berusia lima tahun, masih tetap berdiri dan bertahan,” katanya saat dihubungi tim Media Unram, Kamis, (25/02/2021).

Hal ini rupanya memperoleh perhatian pemerintah desa setempat, pasalnya Dream Light dijadikan sebagai program kerja Karang Tarunanya. “Kami sampai diberikan fasilitas proyektor, printer, komputer, dan beberapa guru tambahan di bidangnya masing-masing,” beber Suandi.

Kegiatan belajar yang berlangsung setiap sabtu sore dan minggu pagi itu tampaknya menjadikan aula serbaguna Desa Gontoran sebagai tempat belajar namun tak jarang pula memanfaatkan rumah pendirinya.

Di akhir wawancaranya, Suandi menuturkan harapannya agar Dream Light semakin maju. “Adik-adik di sini bisa menjadi cahaya untuk menerangi tempat tinggal kami di masa depan,” tutupnya. (san)

Karena Cinta, Mereka Kembali ke MEDIA

0
Anggota MEDIA Unram bersama Alumni (Foto: MEDIA/Irma)

Mataram, MEDIAUnram.com – Dengan mengusung tema Cinta Akan Membawamu Kembali ke MEDIA, tahun ini Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) MEDIA Universitas Mataram (Unram) kembali menggelar Dies Natalis ke-34 bersama alumni.

Ketua panitia, Yudiatna Sahreza menjelaskan, kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, yaitu tanggal 21, 24 dan 28 Februari. “Hari pertama tanggal 21 kemarin acara webinar dengan tema Aktualisasi Diri Melalui Penulisan Opini, tanggal 24 puncak acara dan hari ketiga tanggal 28 acara bedah buku,” ungkapnya.

Kegiatan yang digelar di Arena Budaya Unram itu resmi dibuka oleh Wakil Rektor (WR) Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unram, Enny Yuliani. Dalam sambutannya ia menyinggung tema yang diusung. “Tanpa rasa cinta dan rasa memiliki kita tidak akan maju,” tuturnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unram, Enny Yuliani saat memberi sambutan (foto: MEDIA/Santi)

Menariknya, rangkaian puncak acara tersebut dimeriahkan dengan beberapa rangkaian acara seperti pemotongan tumpeng, berbagai hiburan; tarian, akustik, drama musikal, dan pembacaan puisi serta pengumuman pemenang lomba tulis dan fotografi yang diadakan pra acara.

Pemimpin Umum UKPKM MEDIA Unram, AA Istri Adeka Saputri menceritakan mengapa tahun ini MEDIA mengangkat tema tersebut. Menurutnya, itu adalah semboyan MEDIA sejak lama yang melambangkan kekeluargaan dan dilandaskan cinta. “Apapun masalahnya kita akan kembali lagi, karena semua permasalahan yang timbul akan dikalahkan oleh rasa cinta dan kekeluargaan itu,” terangnya.

Nampaknya kehadiran alumni sekaligus reuni akbar itu merupakan bagian dari perwujudan tema tersebut. “Kita mengundang semua alumni agar bisa kumpul lagi, sesibuk-sibuknya alumni kami ingin mereka datang bergabung membawa memori-memori tempo dulu yang diikat oleh cinta itu,” ujar perempuan asal Sumbawa itu.

Di sela pembicaraannya, ia menyampaikan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam acara Dies Natalis kali ini. “Saya berterima kasih kepada teman-teman yang sudah berpartisipasi di acara ini, terutama kepada panitia yang sudah meluangkan waktu, tenaga, pikirannya demi kelancaran kegiatan ini,” katanya.

Ia juga berharap kedepannya anggota tetap berkontribusi di Media Unram. “Memajukan, menjayakan, mengharumkan nama Media Unram, baik itu di kehidupan kampus maupun di masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, alumni MEDIA, Kusmayadi, merespon acara ini dengan berharap MEDIA semakin menumbuhkan rasa kekeluargaan kedepannya. “Semoga ke depannya Media Unram membuat acara agar kami (almuni) lebih berbaur lagi,” pungkasnya.

Kegiatan ini diketahui telah mengantongi surat izin berkegiatan dari Satgas Covid Unram dengan dihadiri maksimal 100 peserta serta menerapkan protokol kesehatan Covid-19. (san)

Mahasiswa dan Rekonstruksi Peradaban di Era Post Truth

0

Post-truth muncul dan berkembang ditunjang akses informasi yang masif, di mana masyarakat dapat memproduksi informasi sendiri dengan berbagai media. Orang dengan mudah mengambil data apapun dan membuat kesimpulan sendiri serta tafsir sesuai yang diinginkan. Media menjadi arena pertaruhan kepentingan pribadi dan kelompok.

Isu politik dan agama adalah komoditas informasi yang laris manis di era post-truth. Menggunakan senjata disinformasi dengan teknik merekayasa pesan atau gambar agar membungkam pikiran kritis masyarakat. Rekayasa informasi dilakukan dengan masif agar setiap orang bingung untuk menafsirkan. Ini mengakibatkan kecurigaan dan permusuhan di antara kelompok-kelompok masyarakat.

 

Istilah ”post-truth” atau ”pasca-kebenaran”, pemantiknya adalah dua peristiwa politik yang pada saat itu cukup menghebohkan dunia Barat, yaitu referendum Brexit di Inggris dan pemilihan presiden di Amerika Serikat. Brexit maupun pemilihan presiden AS yang memenangkan Donald Trump itu sama-sama dipenuhi kebohongan.

Realitas sosial manusia berkembang begitu pesat dengan segala dimensinya. Modernisasi menghela gerakannya dengan amat ligat, hampir menyentuh segala sektor kehidupan. Pada masa ini, geliat pemikiran yang disokong oleh kemajuan teknologi begitu melesat, merambah pola pikir jutaan manusia di dunia.

Seorang profesor di Universitas Notre Dame, USA, mengemukakan gagasan intelektualnya terkait gejolak kontroversi Islam awal. Dari jarak ribuan kilometer, di Indonesia, seseorang mampu melahirkan reaksi intelektual berupa pembacaan dan pemahaman gagasan tersebut. Semua berkat teknologi, di samping mampu memudahkan manusia menjangkau akses menuju kebaikan, juga mampu mengantarkan kepada kebatilan.

Termasuk yang mencuat belakangan ini, soal gerakan radikalisasi yang begitu meresahkan. Islamic State yang kian gencar menebar terornya, maraknya pengeboman, serta menjamurnya orang kehilangan dengan kedok hendak berjuang di jalan Tuhan mencerminkan bahwa masyarakat kita masih rapuh menelan asupan salah satu bias modernisasi.

Demikian sedikit gambaran bahwa seiring bergulirnya masa, manusia selalu ramai dengan lalu lalang perubahan dengan segala tetek bengek yang tersemat di dalamnya. Kematangan bernalar dan keampuhan berpikir amatlah dibutuhkan dalam hal ini. Tanpa kedua hal tersebut, kita bakal terseret derasnya arus menghanyutkan kita.

Mahasiswa, pemuda yang berkecimpung di dunia pendidikan, ialah sosok yang turut hadir meramaikan keberlangsungan perubahan ini. Bukan sekadar meramaikan pada tataran pemerhati saja, lebih jauh, mahasiswa ikut terlibat dalam aksi perubahan ini. Bahkan, mahasiswalah yang diimpikan bakal memimpin masyarakat menuju idealisme.

Bukan tanpa alasan, mengapa Ir. Soekarno mengatakan dengan lantang bahwa dunia mampu Ia guncang dengan 10 pemuda. Pemuda yang sehat jiwa dan raga biasanya selalu meletup gairah semangatnya. Ketika mendalami sesuatu, pemuda sering berjuang mati-matian demi mencapai tujuan, malang melintang menghancurkan lawan.

Kalau dahulu pemuda berjuang memberangus serangan penjajah, sekarang pemuda justru dihadapkan kepada hal yang lebih serius dari itu. Melawan penjajah adalah peperangan fisik, jejaknya mampu diendus oleh mata telanjang. Sedangkan, masa sekarang adalah peperangan ideologi yang wujudnya pun abstrak tak tergambarkan. Hanya mata dan hati jeli yang mampu melacak motif busuk wujud penjajahan dalam konteks ini dan mahasiswa adalah yang dimaksud dari pemuda pemberantas penjajah modern itu.

Merupakan kolaborasi yang brilian jika mahasiswa mampu bergabung dengan masyarakat dan melakukan konstruksi peradaban di dalamnya. Masyarakat butuh seseorang yang mampu dijadikan sebagai acuan dalam melangkah, mereka butuh referensi dalam bertindak menuju kehidupan yang mulia. Mahasiswa adalah jawaban dari semuanya.

Bukan sembarang mahasiswa yang layak diterjunkan di tengah khalayak. Dibutuhkan kemampuan mengatur masa, kepiawaian mengatasi problematika, serta keahlian dalam intelektual, agar mahasiswa mampu memakmurkan tatanan masyarakat yang ada.

Sebagai contoh, mahasiswa yang kompeten dalam bidang keagamaan bisa terjun mendistribusikan keilmuannya melalui pengadaan penyuluhan materi keagamaan untuk masayarakat. Tergabung di dalamnya, menggalakan soal bagaimana memahami doktrin keagamaan dengan efektif dan sesuai tuntunan. Melihat gejala dewasa ini, maka wacana deradikalisasi mungkin mampu menjadi tujuan utama pencerahan keagamaan masyarakat.

Mahasiswa yang terampil dalam bidang kedokteran bisa menggelontorkan potensinya lewat pengadaan pengobatan gratis dan sebagainya. Mahasiswa yang mahir soal ekonomi bisa menggandeng pihak koperasi desa, mengarahkan bagaimana keuntungan bisa melonjak, serta bagaimana lingkungan bisa diatasi, bagaimana agar perihal kemiskinan yang menjangkit dan sebagainya bisa diminimalisir.

Semua mahasiswa dengan berbagai kemahiran dalam bidang masing-masing dipersilakan mengalirkan ilmunya lewat berbagai kegiatan positif di masyarakat, kegiatan yang konsturktif dan mampu memiliki daya jual tinggi.

Dalam menapaki konstruksi sebuah daerah yang dituju memang tidak selalu berjalan mulus. Senantiasa hadir aral mengawani perjuangan. Biasanya, permasalahan hadir seperti penolakan oleh sebagian kecil masyarakat yang memang terlanjur larut dalam kultur keterbelakangannya dan merasa puas berkubang di dalamnya.

Problematika bisa berupa minimnya fasilitas daerah, cuaca yang menghambat perhelatan kegiatan, kekurangsadaran SDM yang bertugas soal urgensi pengembangan ini dan sebagainya. Kendati demikian, sambil dicarikan solusi, pencapaian yang gemilang diharapkan tercapai dengan sempurna.

Tatanan daerah yang efektif, baik materi ataupun nonmateri, moral masyarakat yang berbudi, pemahaman keagamaan yang bersih, tali silaturahmi yang erat antar warga, kerjasama yang tanpa perhitungan, aura kekompakan yang meruap dan sebagainya adalah representasi tujuan dari pembangunan daerah menuju iklim pengusung peradaban yang cerah dan mencerahkan.

Semua tatanan pembangunan yang cukup efektif dalam proses pemberian napas segar bagi setiap napas pembangunan dan kemanusiaan seharusnya harus berlandaskan kesadaran dan kolektivitas kehidupan yang yakin akan sebuah dorongan kebersamaan dalam koridor kesadaran. Artinya disini, semua bentuk iklim cerah tentang pembangunan dan kesadaran masyarakat harus ditindaklanjuti dengan metodos yang lebih kuat daripada konsep dalam setiap diksi yang saya lontarkan ini menjadi kontinum utama untuk mencapai sebuah kesadaran akan representasi diri sebagai seorang manusia yang berlabelkan masyarakat dan mahasiswa.

Problematika masyarakat dan kesadaran masyarakat menjadi tanggung jawab utama para kaula muda dengan artefak buatan selaku mahasiswa, peran utama mahasiswa bukan hanya pada tataran akademisi dan intelektualitas namun, di dalam diri seorang mahasiswa terdapat core utama yaitu sebagai jantung utama masyarakat yang akan membawa benih-benih kebermanfaatan dalam setiap napasnya sebagai seorang penggerak peradaban.

Roda penggerak peradaban yang player utamanya adalah mahasiswa, tentunya akan dapat memberikan masyarakat lega akan setiap tenaga dan kontribusi kebermanfaatan yang diberikan. Menurut hemat saya, semua tindakan dan konsep pemikiran para kaula muda menjadi jalan utama menuju pintu besar rekonstruksi peradaban. Modal moralitas dan sosial menjadi bomerang utama dalam landasan perjuangan atas asas kesadaran.

Tulisan ringkas ini sejatinya mengajak saudara-saudara semua yang berstatus dan berlabelkan sebagai mahasiswa agar ikut andil meramaikan pesta pembangunan masyarakat bukan hanya pembangunan dalam konteks kognitif saja akan tetapi bagaimana kemudian seorang yang sudah berlabelkan mahasiswa dapat memberikan tindakan praksis yang berlandaskan kesadaran dan cinta karena era saat ini sangat membutuhkan dua elemen tersebut sebab, geliat modernisasi di era Post truth yang terjadi di dunia ini butuh bimbingan yang memadai agar tidak ditempuh secara salah kaprah oleh masyarakat.

Ladang Jagung Ekas, Destinasi Wisata Musiman Sekali Setahun

0

Lombok memang terkenal dengan berbagai keindahan alamnya, seperti bukit, air terjun dan pantai. Diantara banyaknya wisata alam itu, ternyata ada sebuah wisata yang hanya bisa dinikmati sekali setahun, yaitu ladang jagung yang berada di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.

Sama seperti ladang lainnya, ladang yang berada di wilayah selatan pulau Lombok ini memiliki hamparan hijau tanaman jagung. Namun yang unik, lokasi ladang tersebut berada di dekat Pantai Kura-kura, salah satu pantai yang cukup terkenal di Pulau Lombok. Tentu itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Tidak heran, meski cuaca panas, wisata yang satu ini tetap ramai dikunjungi.

Pemandangan ladang jagung ekas buana. (Foto: ear)

Pada hari itu, Minggu (21/02/2021), anggota MEDIA Unram berkesempatan untuk mengunjungi ladang tersebut. Sesampai di sana, kita hanya perlu membayar tiket sebesar Rp10 ribu untuk motor dan Rp20 ribu untuk mobil. Kemudian, kita harus menaiki bukit selama 10-20 menit untuk memasuki hamparan ladang jagung. Benar saja, mata kita dimanjakan dengan ladang jagung hijau dan indah warna biru lautan.

Hal itu juga diungkapkan oleh pengunjung yang merupakan seorang mahasiswi, Yunda. Ia mengatakan, ladang jagung ini merupakan tempat yang bagus untuk refreshing dan hunting. “Apalagi ini tempatnya musiman, rugi kalau tidak berkunjung spotnya menarik semua,” katanya saat ditemui awak MEDIA Unram, Minggu (21/02/2021).

Yunda juga mengharapkan, para pengunjung lebih menjaga kebersihan alam dan tidak merusak ladang jagung tersebut.

“Di atas sana (bukit), ada banyak sampah botol plastik dan sampah lainnya. Apalagi di jalan banyak pohon jagung yang dirusak sembarangan, kasihan yang punya ladang,” sambungnya. (ear)

Kopma Unram dan UIN Mataram Bekerja Sama Galang Bantuan Korban Banjir

0
Mahasiswa Kopma Unram dan UIN Mataram saat melakukan penggalangan dana. (foto: aji)

Mataram, MEDIAUnram – Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Islam Negari (UIN) Mataram bekerja sama menggalang bantuan untuk korban banjir beberapa daerah di Lombok.

Aksi ini digelar oleh puluhan mahasiswa Kopma dari kedua Universitas tersebut. Diketahui kegiatan itu berlangsung hari Rabu lalu hingga Jumat kemarin yang dilakukan di dua titik, yakni simpang Brawijaya dan simpang Sweta.

Lalu Muhammad Handri Kusmara, Ketua Umum Kopma Unram menyampaikan aksi penggalangan dana dilakukan guna membantu korban banjir yang terjadi beberapa waktu lalu. Adapun daerah yang menjadi sasaran bantuan yakni, Sekotong Kabupaten Lombok Barat, Kuta Kabupaten Lombok Tengah, dan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur.

Ia menyebutkan total hasil penggalangan dana selama tiga hari sejumlah Rp5.360.900. “Hari pertama Rp1.320.500, hari kedua Rp1.780.400 dan hari ketiga Rp2.260.000,” terangnya.

Lebih jauh Handri menjelaskan bantuan tersebut akan disalurkan dalam bentuk sembako. “Terkait mekanisme penyaluran bantuan, kita akan salurkan secara langsung dalam bentuk sembako kepada masyarakat terdampak, nanti hari Selasa,” katanya saat diwawancara tim Media Unram, Jumat, (19/02/2021).

Merespon kegiatan tersebut, Akbar, Direktur Kopma UIN Mataram, mengapresiasi aksi gabungan ini serta mengharapkan penggalangan dana ini sebagai awal kerja sama antara Kopma Unram dan Kopma UIN Mataram.

“Semoga kedepannya Kopma Unram dan Kopma UIN Mataram bisa bekerja sama tidak hanya dalam aksi kemanusiaan, tapi juga dalam hal lain seperti usaha dan bisnis,” tutur mahasiswa semester delapan itu. (aji)

Potret Kemiskinan di Negeri Ini

0

Kemiskinan adalah suatu problematika yang dihadapi oleh semua lapisan masyarakat bahkan di semua Negara. Kemiskinan menjadi salah satu masalah utama yang harus dientaskan oleh pemerintah. Karena ini menyangkut tentang kemakmuran suatu negara, jika masih banyak terdapat penduduk yang miskin berarti tingkat kemakmuran di suatu negara tersebut perlu dipertanyakan. Kemiskinan juga termasuk kedalam masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat, oleh sebab itu masalah kemiskinan termasuk kedalam masalah global.

Masalah kemisikinan di Indonesia memang sangat memprihatinkan, apalagi Indonesia merupakan negara berkembang, kemiskinan menjadi masalah terbesar yang dihadapi sehingga harus diperioritaskan. Menurut Supriatna (1997:90) suatu penduduk dikatakan miskin bila ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas, pendapatan, kesehatan dan gizi serta kesejahteraan hidupnya yang menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan. Jika dilihat dari penjelasan tersebut maka tidak salah jika Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang kemiskinan di dunia. Pendidikan yang rendah serta kualitas hidup yang sangat memprihatinkan membuat banyak sekali pengangguran yang berdampak kepada kemiskinan.

Pemerintah berupaya menekan angka kemiskinan hingga ke level 9,2 persen pada tahun 2021. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan target tingkat kemiskinan pemerintah pada tahun depan berada pada kisaran 9,2 hingga 9,7 persen.

Salah satu contoh kemiskinan yang terdapat di Indonesia adalah adanya suatu penyimpangan di mana pekerjaan keras seorang lelaki dilakukan oleh seorang wanita. Wanita yang seharusnya melakukan pekerjaan yang mudah dituntut untuk melakukan suatu hal yang nampak berbeda dari biasanya yaitu pekerjaan laki-laki.

Seperti yang dilakukan oleh ibu Nuraini bekerja sebagai tukang parkir sejak 3 tahun yang lalu, ia memutuskan untuk menjadi tukang parkir untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Menjadi seorang tukang parkir adalah suatu keputusan yang berat baginya namun ia harus melakukannya, demi terpenuhinya kebutuhan tersebut. Ia mempunyai seorang suami dan satu orang anak berusia 3,5 tahun. Ia memutuskan untuk menjadi seorang tukang parkir karena untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Uang kiriman dari suaminya yang berada di Malaysia tidak mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Ia mulai bekerja sejak pukul 07.00 pagi sampai pukul 18.00 sore, ia menjelaskan dalam waktu sepanjang itu ia kadang-kadang mendapatkan uang sebesar Rp80.000 dan itupun harus dipotong dan diserah ke Dinas Perhubungan sebesar 30% dari hasil yang ia dapatkan.

Untuk menjadi seorang tukang parkir membutuhkan mental yang sangat kuat terlebih ia adalah seorang wanita. Di mana kebanyakan tukang parkir hanya dilakukan oleh seorang laki-laki, dan memang benar itu adalah pekerjaan seorang laki-laki. Walaupun terkadang seorang wanita sepertinya bisa melakukan pekerjaan tersebut, namun tetap saja kelihatan bahwa yang dilakukan itu tidak semestinya dikerjakan oleh wanita.

Dalam melakukan pekerjaan tersebut ia sedikit kewalahan, di samping Ia menjaga kendaraan tersebut, di sisi lain Ia juga harus menjaga buah hatinya. Memberinya makan, memandikannya dan mengurus  keperluan lainnya. Sehingga tidak jauh dari sekitaran tempat parkir itu ia membuat pondok kecil untuk menyimpan semua keperluan dan kebutuhannya.

Dari fenomena di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa faktor ekonomilah yang menjadi masalah utama yang tengah dihadapi oleh ibu Nuraini. Selain itu juga ia mengatakan bahwa dahulu ia menikah pada usia yang relatif muda yakni pada umur 18 tahun, dan ia pun mengatakan bahwa putus sekolah sejak masih SMP, hal itu di karenakan faktor ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk menikah muda dengan tujuan untuk meringankan beban orang tua.

Sehingga, dari fenomena tersebut penulis menggaris bawahi bahwa ketidakmampuan ekonomi di kalangan masyarakat menengah kebawah menjadikan masyarakat yang miskin semakin miskin. Upaya untuk memperbaiki kedaan dengan menikah muda malah dapat menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Di sisi lain putusnya pendidikan merupakan salah satu penyebab utama keadaan tersebut dapat terjadi. Di mana  ketidakmampuan untuk memikirkan kedepannya adalah masalah yang akan dihadapi.

Semoga kita mendapatkan manfaat dari realitas apa yang kita lihat di masyarakat dan sebagai pelajaran serta landasan dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Di mana sikap terbuka serta optimisme menjadi modal besar yang kita miliki, yang ada pada diri setiap individu. Untuk menjadi sebuah tonggak awal dalam meraih cita-cita dan harapan.

Penulis berpesan kepada kita semua bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat pokok dan harus dituntut sampai setinggi mungkin. Dengan demikian jika seseorang memiliki pendidikan yang tinggi maka kehidupan dapat dikontrol serta tidak gampang untuk dibodohi. Adapun pernikahan merupakan hak setiap manusia di dunia, namun jika menikah di usia yang sangat muda akan menimbulkan masalah kedepannya, hal ini disebabkan karena pola pikir yang belum matang sehingga masih labil dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan. Oleh karena itu marilah berpikir maju sehingga kedepannya kita dapat mengatasi kesulitan dalam kehidupan kita kedepannya dan kita juga dapat saling membantu satu sama lain, agar kehidupan yang kita jalani bisa bermanfaat dan bermakna.

Kapan Pulang?

0

Tidak ada terdengar suara anjing menggonggong di sore hari, tandanya sudah tidak ada lagi yang melatihnya agar jinak. Benar, ayahku selalu melatihnya ketika hari beranjak sore.

Sekarang aku melihat anjing peliharaanku hanya tertidur pulas, seolah anjing itu bahagia karena mendapat libur berlatih. Aku kesal melihatnya tertidur tanpa rasa gelisah, berbeda denganku.

Sudah menginjak seminggu ayahku pergi ke luar kota, aku tahu ia akan menginap sekitar tiga minggu, namun rasanya ayahku sudah berbulan-bulan di sana.

Sudah seminggu pula aku berangkat sekolah menggunakan ojek online, karena biasanya ayah yang mengantarku, sebab tempat ia bekerja searah dengan sekolahku, sedangkan tempat ibu bekerja sangat jauh dengan sekolahku.

Dalam seminggu ini, hanya dua kali ibu dan ayahku mengobrol melalui telepon, aku selalu menyelip untuk menanyakan “ayah kapan pulang?” dan selalu dijawab “segera.” Jawaban itu tidak membuat rasa gelisahku berkurang sedikitpun.

“Sudah, makan saja dulu, ayahmu akan segera pulang jika pekerjaannya selesai,” ucap ibu yang melihatku hanya memainkan sendok di meja makan.

“Jika ayah tidak kembali, biarkan saja! Biar tidak ada lagi yang melarang kita keluar bermain,” tambah Dio, adik laki-lakiku.

Memang, ayah akan melarang kita untuk bermain di luar rumah, sedangkan adikku gemar sekali bermain di luar rumah bahkan menjelajah sampai dusun sebelah, begitulah kelakuan anak yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama itu.

**
Tiga minggu berlalu. Seperti biasa, aku berangkat sekolah dengan wajah tanpa senyuman. Rasanya seperti ada yang hilang di hari-hariku, membuat rasa gelisahku bertambah saja.

Saat aku pulang sekolah, kudapati rumah dalam keadaan sepi, aku menghela napas, berpikir bahwa sampai kapan aku dihadapi dengan suasana sepi ini. Bahkan rasanya aku sudah berteman dengan sepi selama ayah ke luar kota.

Tak lama kemudian telepon ku bergetar tanda pesan masuk, aku sudah tahu itu pasti pesan dari ibu dan isinya pasti “kalau sudah pulang, pesan saja makan di warung sebelah dan jangan lupa belajar.”

Kalimat itu setiap hari ibu ucapkan melalui pesan. Jika ayahku ada di sini, ia akan memasak makanan untukku. Itulah yang aku rindukan pada ayah. Tetapi, walaupun ibu sibuk, ia tetap baik bahkan tidak pernah marah padaku.
“Sudahlah, toh juga sebentar lagi ayah pulang,” ucapku lesu.
“Masih saja memikirkan ayah, ia tidak akan pulang, pekerjaannya pasti masih banyak,” sahut adikku sedang main game.

Aku memasang raut kesal dan langsung menuju kamar mengganti seragamku dengan baju kaos dan celana pendek, menghidupkan AC kemudian membuka catatan pelajaran hari ini. Rasanya sedih sekali jika ayah mengulur waktu untuk pulang.

Mencoba menyibukkan diri adalah jalan keluarnya, awalnya aku berpikir begitu, ternyata salah, pikiranku tetap saja merujuk ke ayah dan selalu bergumam “ayah kapan pulang?”

 

Mataram, 18 Desember 2020

Resensi: The Jacatra Secret

0

Judul: The Jacatra Secret (misteri simbol satanic di Jakarta)
Pengarang: Rizky Ridyasmara
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-490-7
Halaman: x+430 halaman
Tahun terbit: edisi pertama, Juli 2013
edisi kedua, Juni 2018

Doktor John Grant, simbolog terkemuka dari Amerika, tak menyangka bahwa kunjungannya ke Indonesia akan serumit ini. Datang sebagai pembicara di sebuah pertemuan komunitas penggemar teori konspirasi, Doktor Grant justru terseret ke dalam labirin kasus pembunuhan seorang pejabat pemerintahan.

Misi pengejaran yang semula satu arah ternyata berbalik menyerang dirinya. Dibayangi teror, Doktor Grant harus segera menghentikan gerak sang pembunuh sebelum korban lain berjatuhan. Pengejaran itu tanpa disangka membawanya menelusuri lorong rahasia di Jakarta, menguak simbol-simbol terpendam yang tak banyak diketahui orang.

Rahasia besar jakarta yang sengaja dikubur dalam-dalam oleh para pembangunnya selama berabad-abad terkuak satu per satu. Bukti tak terbantahkan berserakan; ada sejarah yang sengaja tak disampaikan.

Itulah gambaran singkat tentang novel misteri yang menjadi novel pertama dari si penulis, Rizky Ridyasmara. Menceritakan tentang Doktor John Grant, simbolog terkemuka dari Amerika yang mengunjungi Indonesia untuk mengadakan pertemuan dengan para penggemar teori konspirasi. Namun sangat disayangkan, namanya harus terseret dalam kasus pembunuhan seorang pejabat pemerintahan. Dengan prolog yang melempar pembaca pada masalalu, novel ini sukses membuat kita penasaran dengan kejadian selanjutnya.

Seakan sebagai sebuah klimaks dari semua petunjuk yang dipaparkan penulis, medalion yang dicari si pembunuh -yang ternyata adalah anggota freemason- menumbangkan banyak korban. Namun, hal ini sukses menghantarkan Doktor John Grent pada simbol-simbol yang tak diketahui banyak orang. Betapa menariknya simbol-simbol yang dibahas dalam buku ini, banyak sekali simbol yang digunakan oleh Freemason ini diantaranya adalah jam pasir, mata satu, kompas, bintang daud, dan sebagainya serta memiliki makna yang berbeda dan sangat tinggi dalam organisasi freemason yang terjaga hingga kini.

The Jacatra Secret, buku karangan Rizky Ridyasmara ini merupakan buku bergenre fiksi. Meski begitu, buku ini banyak menyajikan fakta-fakta sejarah yang membimbing pembaca dalam ilmu pengetahuan yang anti mainstream. Dengan mengedepankan teori konspirasi terutama konspirasi simbol, buku ini tidak serta-merta menjadi buku yang membosankan untuk diulik. Sebab, penulis buku ini dengan cerdiknya membungkus fakta-fakta dan konspirasi dalam ruang novel yang berani dan tak lupa membubuhkan sedikit romansa di dalamnya.

Buku ini banyak menjelaskan tentang jakarta dan konspirasinya yang tentu disajikan dengan alur kisah yang penuh intrik dan seksi. Novel ini memang tak banyak memaparkan bagaimana watak tokoh-tokoh yang berperan. Nampaknya, penulis memberikan keleluasaan pembaca dalam membaca situasi dan mengajak untuk memecahkan petunjuk yang disajikan. Novel yang mengedepankan Jakarta sebagai latar kisahnya ini banyak menggunakan sudut pandang penulis, namun tak jarang juga menggunakan sudut pandang orang pertama dalam memaparkan cerita.

Kelebihannya, buku ini tak hanya menceritakan konspirasi atau kisah-kisah romansa picisan. Dalam buku ini banyak juga menguak sejarah-sejarah yang agaknya tak banyak ditemui dalam buku sejarah mainstream. Seperti sejarah terbentuknya Batavia, hingga bangunan-bangunan bekas penjajahan yang masih kokoh berdiri di Jakarta. Bukan hanya bualan belaka, penulis banyak menyertakan foto-foto sebagai penguat fakta yang ia sajikan.

Rizky Ridyasmara sebagai penulis begitu handal dalam ‘menggaet’ target pasarnya. Ia memberikan banyak misteri, teka-teki, dan scene ambigu yang begitu disukai seorang peminat konspirasi. Contohnya saja di awal cerita, profesor Sudradjat yang dibunuh memberikan sebuah petunjuk ‘As At Dutch’ dengan menggoreskan darahnya pada tembok. Dengan misteri dan teka-teki, penulis berhasil membuat pembaca penasaran dengan alur selanjutnya.

Meski begitu, penulis tetap memberikan sentuhan romansa juga aksi di dalamnya yang membuat buku ini mudah diterima di banyak kalangan sehingga konspirasi jadi terlihat tabu dan menarik bagi seluruh kalangan.

Meski banyak keunggulan, buku ini tak lepas pula dari kelemahannya. Banyak pilihan kata yang jarang digunakan. Hal itu membuat pembaca awam akan kesulitan membaca alurnya. Pun begitu dengan kata serapan atau bahkan bahasa asing yang beberapa tidak dijelaskan di kaki halaman. Banyak pula pembaca yang menganggap buku ini memiliki kemiripan dengan novel The da Vinci Code yang ditulis oleh Dan Brown. Kedua buku ini sama-sama mengangkat simbol freemason sebagai fokus dalam cerita ini. Pembaca pun merasa bahwa alur antara buku The Jacatra Secret dengan The da Vinci Code adalah sama.

Dari beberapa pemaparan di atas, buku ini adalah buku yang cukup berani dalam memaparkan opini-opini penulis dalam sebuah novel fiksi. Dengan fakta-fakta sejarah, novel ini agaknya berhasil membius pembaca seakan kisah ini nyata terjadi. Banyak sekali ilmu pengetahuan yang dapat diambil dari buku ini. Khususnya yang berkaitan dangan sejarah Jakarta sebagai latar tempat dari buku ini sendiri.

Dimensi Manusia

0

Manusia

Kaulah sosok ciptaan tangan Tuhan
yang sempurna
Pemberi detak pertama nafasmu

Dalam memulai takdir Tuhan
Esensimu telah diawali di lauhul mahfudz

Menjadi sebaik-sabaiknya mahluk
Dalam predikat khalifah

Tak bersyukurkah kau dengan itu?
Hiduplah tentram dalam dinamika dimensimu

Jangan biarkan iblis-iblis membuatmu kalah
Dalam hasutan niraksara.

Bima, 26 Januari 2021.

Bentuk Kemanusiaan, SANTAI Salurkan Bantuan

0
Anggota SANTAI bersama mahasiswa PKL Unram menyalurkan bantuan korban banjir di Sekotong. (foto; MEDIA/nrm)

Mataram, MEDIAUnram.com – Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) bersama mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Universitas Mataram (Unram), menyalurkan bantuan kepada korban banjir di Kecamatan Sekotong yang terjadi beberapa waktu lalu.

Bantuan diserahkan langsung kepada kepala desa di beberapa daerah terdampak paling parah,  yakni Desa Taman Baru dan Desa Sekotong Tengah.

Nuraini, selaku koordinator program menceritakan bantuan yang diberikan berupa paket sembako seperti beras, telur, minyak goreng, air minum dan mi instan kemudian diserahkan kepada pelaksana tugas (Plt) desa.

“Warga terdampak banjir kegirangan saat kedatangan, mereka bersyukur dikunjungi dan diberikan tambahan bantuan dari pihak SANTAI,” ungkapnya, Rabu (03/01/2021).

Kemudian, sambungnya, daerah itu setiap tahun dilanda banjir. “Bahkan, banjir tahun lalu menelan korban jiwa. Kita berharap agar Pemda melakukan penanganan segera agar banjir tidak terulang terus,” jelas perempuan itu.

Tak hanya itu, para permerhati sosial ini  juga menyerap keluhan warga mengenai penyebab banjir di daerah itu. “Mulai dari penanganan drainase, pengerukan sungai dan penanganan abrasi yang menggerus lahan warga hingga seluas satu hektar,” beber Nuraini

Di sela pembicaraannya, Ia menyebutkan bantuan ini merupakan inisiatif para anggota SANTAI begitu mengetahui terjadi banjir di Sekotong.

Nuraini berharap bantuan yang diberikan ini bisa bermanfaat untuk masyarakat terdampak bencana. “Hal ini menyadarkan semua masyarakat pentingnya menjaga alam. Lahan yang kritis harus ditanami dan dipelihara dengan baik,” tandasnya. (Nrm)