25.4 C
Mataram
Friday, June 12, 2026
spot_img
Home Blog Page 104

Demonstran Kembali Mandi Water Canon

0

Media Unram – Mahasiswa kembali terkena semprotan water canon  saat melakukan aksi di depan Kantor DPRD NTB, pukul 16.42 Wita.

Aksi lanjut yang dilakukan oleh sebagian besar dari Mahasiswa ini kembali ricuh.

Suasana saat masa aksi disemprot water canon  oleh pihak kepolisian. (Foto: Ibe)

Dari kericuhan ini, untuk sementara dua orang mahasiswa telah menjadi korban dan dilarikan ke rumah sakit. Perselisihan antara pihak aparat kepolisian dan para demonstran menjadi penyebab adanya kericuhan. Para demonstran menginginkan agar mereka diberikan izin untuk masuk ke dalam area gedung DPRD.

Berbeda pendapat dengan demonstran, pihak aparat kepolisian menghimbau agar tidak memaksa untuk masuk ke dalam area gedung DPRD. “Pokoknya, kalian tidak boleh masuk. Ini peringatan,” ungkap salah satu aparat kepolisian.

Sebelumnya, ketua DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Isvie Rapaeda, telah menerima aspirasi para demonstran dan akan dilanjutkan ke Jakarta. Tetapi, pihak demonstran tidak menerima jika hal tersebut dibicarakan di luar. Menurut mereka, kurang etis jika permasalahan seperti ini dibicarakan dan diselesaikan di luar gedung DPRD. Hal itu yang menyebabkan para pihak demonstran memaksa agar mereka diberikan izin untuk masuk.

Untuk menstrelisasikan kedaan, pihak kepolisian mengajak para demonstran untuk melantunkan asmaul husna. (khn)

Aksi Lagi, Ketua DPRD NTB: Kami Terima Aspirasinya

0
Ketua DPRD, Baiq Isvie Rapaeda saat bertemu para demonstran. (foto: Wry/Cnk)

 

Media Unram – Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Isvie Rapaeda menerima aspirasi mahasiswa dan akan dilanjutkan ke Jakarta hari ini juga.

Aksi yang dilakukan pada Senin, 30 September 2019 ini meminta kejelasan anggota DPRD dalam menyikapi permasalahan revisi UU KPK. “Saya meminta anggota DPRD untuk menyikapi dengan jelas permintaan kami. Bahwa, kami menolak revisi UU KPK” Ungkap Ketua BEM Unram, Amri Akbar yang juga sebagai kordum dalam orasinya.

Menanggapi hal ini, Ketua DPRD NTB, Baiq Isvie Rapaeda turun di tengah – tengah demonstran yang meliputi dari kalangan Mahasiswa yang ada di Mataram dan beberapa organisasi masyarakat. “Kami akan menerima aspirasi ini dan akan dilanjutkan ke Jakarta hari ini juga,” ungkapnya. Dia juga meminta kepada para demonstran untuk menulis aspirasi agar bisa ditandatangani.

Dalam aksi ini, demonstran perwalian dari kaum buruh juga menyampaikan orasi yang berkaitan dengan RKUHP dan revisi UU KPK. “UU RKUHP dan revisi UU KPK tidak sesuai berpihak dengan bagaimana keberlangsungan hidup rakyat,” ungkap salah satu anggota organisasi buruh.

Selain itu, dalam aksi ini, mereka juga menyinggung kebakaran yang ada di Kalimantan dan Sumatera. Menurut mereka, kebakaran yang ada di Kalimantan, Sumatera dan Riau bukan karena terbakar, tetapi dibakar. (khn)

Catatan Demonstrasi Hari Ini: Tragedi, Komedi, dan Parodi

0

Oleh : Ahmad Sirulhaq

Tidak ada yang abadi, kecuali Wiranto. Begitulah salah satu spanduk dan meme yang viral dalam gelombang aksi mahasiswa hari ini. Jika Anda adalah eksponen demonstran ’98, boleh jadi anak Anda ikut berada di parlemen jalanan hari ini untuk berhadapan dengan musuh bapaknya yang dulu, 21 tahun yang lalu, Wiranto. Demikian kira-kira pesan yang ingin disampaikan mahasiswa dalam meme itu.

Tapi, yang menarik dari aksi hari ini bukanlah soal keabadian atau bukan abadi, tapi bagaimana mahasiswa yang selama ini dituduh hilang dari jalanan, tiba-tiba keluar dari oroknya dan mengobarkan api perlawanan pada pemerintah sekaligus oposisi, dengan cara yang berbeda pada pendahulunya: aksi bukan melulu soal strategi dan tragedi, tapi ia bisa saja tentang komedi dan juga parodi. Serta, dari pengalaman ini, kita bisa belajar banyak.

Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya, kata orang-orang. Jika hari ini mahasiswa menemukan masanya, sudah barang tentu karena merekalah orangnya, bukan kita, bukan siapa-siapa yang lain. “Tapi, ini adalah orang yang sama yang suka menumpang dalam kegelapan, Bung,” celoteh nyinyir orang-orang yang kemudian berseliweran sana-sini, “mereka tak lebih dari para bandit yang ditunggangi kepentingan khilafah yang hendak merongrong kekuasaan yang sah”. Sebentar!

Bagaimana bisa penunggang menunggangi dirinya, jika pemerintah koalisi dan juga oposisi bersanding begitu mesra di suatu tepi di peron MRT, tidak begitu lama setelah pengibaran bendera putih “pascaperang-dingin” yang diakhiri oleh palu godam MK di atas sidang pemilu presiden 2019 itu?. Semangkok “nasi goreng mejik” buatan Megawati yang tesaji manis pada Macan Tropis yang selama ini dipuja, bukan hanya melumpuhkan segalanya, tapi juga bisa bercerita banyak hal tentang kredo-kredo lawas dalam politik: tak ada musuh dan kawan abadi; hanya kepentinganlah yang abadi; hari ini, kredo itu bertambah satu: hanya Wiranto yang abadi, selainnya tidak.

Lagi pula, kecuali Berita Satu yang langsung menembakkan jarum framing pada “Gejayan Memanggil” agar roda perlawanan itu segera gembos, media-media mainstream yang lain, mencoba lebih bijak dalam mencari angle dan narasumber untuk menu berita aksinya kali ini. Sekelas Jakarta Post pun tidak terlihat tergoda untuk membingkai aksi hari ini bahwa di belakang semua ini banyak alumni Monas(h) (University).

Di NTB, salah satu media tak sabar melihat mahasiswa untuk berbaris di Udayana, hinggga menurunkan berita yang langsung mengecoh dengan menulis judul berita “Mahasiswa Indonesia Kompak Demo Tolak RUU KUHP, Unram Demo Minta AC dan Wi-fi”. Tak lama, viral di medsos, “Mahasiswa Unram, Hari Kamis (26/09/2019) Kuliah di Udayana”. Rektor bergeming: lebih baik diskusi ketimbang aksi, kami siap memfasilitasi. Apa daya, mahasiswa sudah terlanjur sakit hati.

Kalau begitu, apakah yang mempersatukan mahasiswa? Apakah harim-harim kece dan ukhti-ukhti cantik itu?

Baiklah!. Aku cerita sedikit. Dulu, setidaknya aku pernah berada di tengah barisan para demonstran, takut di depan, tak bisa beretorika, aku bukan orator. Tapi jika disuruh berpuisi, aku hobi. Jangan salah, selain kubaca pada aksi demonstrasi, puisi adalah satu-satunya senjataku untuk menundukkan perasaan perempuan pujaan hati.
Pernah juga, tengah malam kawan-kawan singa jalanan dari organ mahasiswa lain membangunkanku malam-malam di sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa. Di atas gedung yang sekarang ini banyak diisi anak-anak marching band itu, mereka bilang kau harus jadi sutradara aksi esok hari, ada Megawati yang mau datang di hotel Grand Legi.

Dari pengalaman yang sedikit itu, sedikit yang kutahu dari aksi demonstran ialah, setidaknya waktu itu, mungkin juga sampai hari ini, jangan terlalu banyak berdrama dan bercerita, simpanlah itu jika momentumnya sudah tepat. Presiden mau datang, apalagi yang harus ditunggu?, mari bersuara! Waktu itu, aku sendiri tidak tahu apa yang menjadi kesalahan presiden, selain menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan Tarif Dasar Telephon (TDT), kalau aku tidak keliru. Sebagai mahasiswa, kebijakan itu kuanggap dosa. Lalu, yang benar bagaimana? Yang benar ya jangan naik, jangan terlalu berfilsafat.

Singkatnya, mahasiswa punya standar moral tersendiri. Patokannya jika bukan Soe Hok Gie, ya Che Guevara. “Jika hatimu bergetar melihat ketidakadilan, maka kita adalah saudara, kawan”; “Tunduk tertindas, atau maju melawan, ya adalah ya, tidak adalah tidak, karena ragu-ragu adalah penghianatan.” Standar moralnya cukup terang, walaupun itu-itu saja. Aku sendiri punya jargon perlawanan favorit sendiri waktu itu – yang kutulis di belakang kaosku sebagai baju resmi panitia sembilan perancang Pemilu Raya mahasiswa Unram sistem kepartaian – “Aku bukan peluru dengan bedil, aku adalah kata-kata dan pena, berbicara atas nama cinta dan juga ayat-ayat Tuhan”. So, begitulah! Jangan terlalu banyak cerita.

Maka, jika ada gelagat yang tidak beres dari pemerintah dan juga legislatif, hati seorang mahasiswa jalanan akan lebih mudah menangkap aroma tak sedap daripada otak laboratoran yang terus berada di laboratorium penguji. Empati lebih mudah menggerakkan kaki daripada narasi. Apa boleh buat. Itulah mahasiswa itu, ia nyata, jas almamater dan benderanya juga terang sekalipun tidak pernah dicuci, bukan jas almamater grosiran tak bermerek yang sekali pakai langsung dikumpulkan kembali di hari itu lalu dibawa langsung ke laundry. Jadi, maklumi saja, tatkala Yasonna menembak langsung para ketua BEM di acara ILC, retorika mahasiswa itu terkesan kurang rapi, tapi empatinya mudah diresapi. Lagipula, tidak mudah mendebat para pejabat politisi yang sudah berkarat dan mendapat “kartu pe-en-es” di senayan.

Oh, satu lagi. Sampai sejauh ini, jika dibaca secara cermat, kita tidak melihat ada tendensi untuk menurunkan presiden. Dari parameter ini saja, mereka masih “on the track”. Lalu, mengapa mereka begitu marah? Bukankah RUU KUHP, yang di antaranya mengatur tentang gelandangan dan selangkangan, tidak jauh-jauh amat dari KUHP buatan kolonial itu? Bukankah pasal penyerangan terhadap harkat dan martabat presiden juga tidak jauh-jauh amat dari UU ITE tentang penghinaan dan pencemaran nama baik? Di samping itu, bukankah presiden sudah berkata dengan cukup jelas, RUU KUHP ditunda untuk sementara waktu, untuk dilimpahkan pembahasannya pada periode DPR selanjutnya? Sek-sek.

Kawan, aku mau tanya: apakah kau punya ayam?, pastikan ia terus berada di dalam kandangnya, bila perlu kasi ia peringatan jauh-jauh hari sebelumnya, sebelum RUU KUHP disahkan, jangan sampai ayammu ceroboh keluar jalan-jalan ke pekarangan orang, apalagi pada saat kau tidak sedang punya uang. Satu lagi pesanku, jika kau sudah menikah, jangan suka memperkosa istri biarpun kebelet sekali!. Titik. Yah, undang-undang semacam ini terasa lebih nusantara(is) ketimbang undang-undang gaya kolonial. Itu sudah ketinggalan zaman, HAM melarangnya.

Tapi, amarah itu tidak hanya datang dari RUU KUHP, bahkan lebih dalam lagi, tentang RUU KPK yang telah disahkan dengan cara terburu, mahasiswa sepertinya menyimpan dendam karena telah kecolongan. “Kau diam, maka RUU KPK kusahkan,”; “Kau berteriak, maka RUU KUHP kutunda sementara,” kira-kira filosofinya begitu. Maka, hari ini, kita menyaksikan mahasiswa melawannya. Diamnya mahasiswa selama ini, ternyata tak lebih menggetarkan daripada nyaringnya suara Fahri di ILC. Mereka bangkit, dan anak-anak SMK pun menguntit.

Selebihnya, banyak palajaran sebenarnya yang bisa dipetik dari sebuah aksi, lebih-lebih pada aksi kali ini. Di antaranya, selain tentang mahasiswa yang lebih memakai perasaan (empatinya) daripada akalnya tadi, juga tentang aksi gaya millenial yang berhasil menarik banyak simpati.
Kalau tidak percaya, baca saja panflet di aksi-aksi itu: “Jangan Matikan Keadilan, Matikan Saja Mantanku”; “Cukup Cintaku yang Kandas, KPK Jangan”; “Itu DPR Apa Lagunya Rossa, Kok Tega, Perempuan Bukan Milik Pemeritnah”; “Kirain Hubungan Kita Aja yang Gak Jelas, DPR Lebih Gak Jelas”; “I Have Seen the Smarter Cabinet in IKEA.” Bagaimana perasaanmu, kawan, apakah kau masih mati rasa?

Jadi, lebih dari sekadar cara ekspresi perasaan, jenis aksi kali ini telah melampaui gaya aksi senior-senior mereka terdahulu, yang tidak begitu mempertimbangkan aspek rasa dan selera, ‘taste’. Sebab, jangan salah, kekuasaan yang otoriter itu tragedi. Untuk melawannya, selain dengan strategi dan aksi, perlu sedikit komedi. Supaya, selain mereka hanya bisa terus menertawakan kita, sesekali mereka juga bisa menertawakan diri sendiri.

Dari tragedi ke tragedi, dari komedi ke komedi, saya hanya ingin mengatakan pada mahasiswa, kalian benar: “demokrasi telah dikorupsi”. Nasib terbaik adalah mereka yang tidak pernah terlahir sama sekali, kata Gie. Bahkan, Dewa Yunani pun sesekali cemburu pada manusia, justru karena manusia itu fana, kata Achilles pada kekasih rampasan perangnya. Jadi, mau abadi atau tidak, seperti Wiranto, itu bukan soal. Mau jadi pahlawan atau tidak, seperti Fahri dan Fadli, itu tidak penting. Mau dikenang atau tidak, seperti Budiman dan Adian, jangan baperan, sebab di tengah-tengah tragedi dan komedi, selalu ada parodi.

Lihat saja nanti, atau hari ini. Hanya persoalan waktu, sejarah akan mencatat apa saja, termasuk akan mencatat hari ini, siapa-siapa yang pahlawan dan siapa-siapa yang pecundang. Lagi pula, apa gunanya jadi pahlawan jika ada jenis nasib terbaik yang lain, selain tidak pernah terlahir sama sekali – yaitu tidak terlahir seperti mereka-mereka yang jadi pahlawan kemudian diberikan keberkahan umur yang cukup panjang, hanya untuk menyaksikan dirinya yang masih gagah berdiri, yang dalam tempo dua puluh satu tahun lebih beberapa hari sejak reformasi, segera berubah menjadi bandit yang cukup disegani.

*Mantan_demonstran_baris_tengah

Mahasiswa NTB Demo Tolak RUU Bermasalah

0
Suasana saat demo mahasiswa di depan kantor DPRD Provinsi NTB (Foto:Roy)

Media Unram — Ribuan mahasiswa Universitas Mataram (Unram) dan sejumlah perguruan tinggi di Kota Mataram demo menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) bermasalah di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB, Kamis (26/9). Sejumlah tuntutan disampaikan oleh massa aksi yang tertuang dalam pernyataan sikap 10 tuntutan rakyat.

Massa dari mahasiswa Unram berkumpul sekitar pukul 08.00 Wita di Kampus Unram. Mereka berjalan menuju gedung DPRD NTB sambil orasi dan membentangkan poster-poster tuntutan.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram, Amri Akbar menyampaikan tuntutan demo tersebut yaitu menolak hasil revisi Undang-Undang KPK yang melemahkan KPK. Mahasiswa juga meminta evaluasi Revisi Undang-Undang (RUU) Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP). Selain itu menolak RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, dan RUU Ketenagakerjaan yang dianggap tidak pro terhadap rakyat dan buruh.
“Apabila dalam empat hari kerja Presiden dan DPR RI masih menolak aspirasi rakyat, maka Gubernur dan DPRD NTB memfasilitasi mahasiswa NTB pergi ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasi masyarakat,” ujar Amri.

Ketua DPRD NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda, menemui perwakilan mahasiswa di ruang rapat paripurna DPRD NTB. Isvie berjanji akan membawa tuntutan mahasiswa ke Jakarta pada Senin (30/9).
Demo mahasiswa tersebut diwarnai kericuhan. Dari pantauan Media Unram, menjelang tengah hari atau pukul 12.00 Wita, polisi menembakkan gas air mata ke arah massa demonstrasi yang ingin merangsek masuk ke halaman gedung DPRD NTB. Mahasiswa berlarian menghindari gas air mata. Sejumlah mahasiswa yang didominasi perempuan jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Massa bertahan menjelang pukul 18.00 Wita, yang kemudian membubarkan diri. (khn/roy)

 

Demo di Rektorat, Mahasiswa Universitas Mataram Soroti Kasus Suap di Kampus

0
Suasana demo di Rektorat Universitas Mataram, Selasa (24/9/2019)
Suasana demo di Rektorat Universitas Mataram, Selasa (24/9/2019)


Media
UnramMahasiswa Universitas  Mataram kembali menggelar aksi demo di kantor rektorat untuk bertemu dengan rektor dan membahas sembilan tuntutan pada 24 September 2019.

Mahasiswa Universitas Mataram (Unram) yang sebelumnya telah melakukan aksi pada tanggal 26 Mei 2019.Banyak tuntutan yang masih belum jelas, diantaranya kasus suap KKN. Pihak Unram meminta waktu satu bulan untuk mencari siapa oknum yang bermain pada kasus ini. Namun, sampai tiga bulan berikutnya belum ada kepastian untuk mengungkap siapa oknum yang terlibat.

Bukan hannya kasus suap KKN saja yang masih alibi, ada beberapa tuntutan juga tidak pernah disentuh oleh pihak Unram.Sebelumnya, mahasiswa berjanji akan mengawal terus semua poin tuntutannya hingga terlaksana. Namun, setelah tiga bulan lamanya mahasiswa kembali menemukan kasus yang lebih fatal dari tuntutan sebelumnya, sehingga mahasiswa Unram kembali menggelar aksi di gedung rektorat.

Dalam aksi ini, mahasiswa Unram memiliki beberapatuntutan, diantaranya adalah tuntutan mengenai kasus suapdalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang terjadi di Unram. “Kasus suap yang terjadi di kampus kita belum dituntaskan. Bahkan, oknum mahasiwa yang terlibat besok akan wisuda,” kata Ketua BEM Unram Amri Akbar sekaligus kordum saat melakukan orasi di depan gedung Rektorat.

Mahasiswa berjalan kaki menuju gedung rektorat Universitas Mataram untuk menggelar demonstrasi, Selasa (24/9/2019)

Selain itu, dari salah satu tuntutan masa aksi, menuntutadanya tambahan dana untuk setiap organisasi mahasiswa yang ada di Unram. “Kegiatan mahasiswa itu menentukan akreditasikampus. Jika pihak kampus kurang memberikan dana bagiormawa, maka mahasiswa tidak akan bisa melakukan kegiatan,” lanjut Amri dalam orasinya.

Amri juga mengatakan bahwa, sistem yang berada diUnram masih banyak yang salah. Visi dan misi yang ada dikampus hanya sebagai formalitas. Menurut Amri, setiap kali pihak kampus ingin membuat kebijakan, seharusnya melakukan diskusi bersama mahasiswa, karena kebijakan apapun yang berkaitan dengan mahasiswa, hanya mereka yang mengetahui keadaannya.

             “Tuntutan kami dalam aksi sebelumnya tidakdilaksanakan oleh pihak rektorat. Seandainya dilaksanakan, ituhanya harapan palsu,” sambungnya.

Diberi hukuman

Mahasiswa berorasi saat demo di gedung Rektorat Universitas Mataram, Selasa (24/9/2019)

Menanggapi permasalahan ini, Rektor Unram, Lalu Husni mengatakan bahwa, oknum birokrat telah diberikan hukuman atas perbuatannya, “Oknum yang melakukan suap telah kami berikan hukuman. Tetapi untuk memecat seorang pegawai negeri sipil tidaklah mudah, harus ada mekanismenya,” ungkapnya.

Mengenai permasalahan fasilitas dalam perkuliahan, Husni menjelaskan bahwa, fasilitas masih dalam proses,  “Sekitar 70% pembangunan dan fasilitas masih dalam proses,” lanjutnya. Husni juga mengatakan, bahwa keadaan keuangan yang menjadi masalah besar dalam proses pembangunan dan fasilitas ini.

Masa aksi pun menuntut agar hasil tuntutannya harusterjawab dan ditulis. Jika jawaban surat mereka tidak akandijawab masa aksi akan menunggu di kantor rektor Unramhingga surat tersebut diberikan. (KHN)

Penerimaan Anggota Baru UKPKM Media Melalui LJTD

0
mediaunram
mediaunram

Media – Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (LJTD) yang diselenggarakan pada tanggal 20-22 september 2019 sudah di buka. Acara LJTD berlangsung di dua tempat dengan tanggal yang berbeda. Tempat inclass di Aula Bidikmisi tanggal 20-21  dan outclass 22 di Dusun Taman Ayu Gerung.

LJTD yang ke 27 ini menyerap anggota baru sejumlah 34 orang, terdiri dari berbagai Fakultas dan tingkatan semester yang berbeda. “calon anggota baru Media pada LJTD yang ke 27 diikuti oleh mahasiswa mulai dari semester satu sampai dengan semester lima. Namun, didominasi sama semester satu” kata Ihsan Hadi selaku ketua panitia pada saat penyampaian laporan.

Ditempat yang sama Meza Royadi selaku Pimpinan Umum Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) Media mengatakan, sebagai jurnalis memikul tanggung jawab yang berat, karena  turbolensi tulisan jurnalis sangat menentukan kondisi bangsa. Disamping itu juga peran jurnalis di lingkungan Universitas dapat membatu menyebarkan informasi keadaan Universitas.

Meza juga meyinggung masalah Klasterisasi Kemahasiswaan Universitas Mataram (Unram) yang terisolir ke posisi 103 pada peringkat yang di rilis kemenristekdikti pada kurun waktu yang belum terlalu lama ini. Peran Media untuk membantu memperbaiki peringkat ini juga sangat dibutuhkan “mungkin nanti Media  bisa membantu Unram melalui penerbitan di media sosial. Dengan memberitakan kegiatan yang dilaksanakan organisasi mahasiswa”

Sunoto sebagai perwakilan dari birokrasi megapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Media, dan mengharapkan bibit-bibit baru yang unggul akan timbul pada para calon anggota baru. Sejauh ini Media sudah mulai aktif lagi setelah beberapa tahun tidak pernah aktif, karena pergantian kepengurusan.

Sebagai lembaga pers mahasiswa, Media harus membuat berita yang berimbang, tidak boleh memberitakan kasus yang tidak berimbang, Karena akan menghasilkan situasi yang berbeda kepada pembaca jika memberikan informasi yang tidak berimbang.

“Media harus menjadi organisasi yang unggul dalam memberikan informasi kepada seluruh pembaca” cuitan Meza di tempat yang terpisah (tim)

Klasterisasi Kemahasiswaan Unram Terisolasi

0
Rektor ITB menerima piagam penghargaan dari Menristekdikti. (Foto: Dok. Kemenristekdikti)
Rektor ITB menerima piagam penghargaan dari Menristekdikti. (Foto: Dok. Kemenristekdikti)

Oleh : Ahmad Fatoni Dwi Putra (Menteri Media Komunikasi dan Informasi BEM UNRAM) dan Meza Royadi (Pimpinan Umum UKPKM MEDIA UNRAM)

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI ) adalah Lembaga yang menaungi langsung perguruan tinggi yang ada di Indonesia. KEMENRISTEKDIKTI  memiliki visi yaitu untuk mewujudkan Pendidikan tinggi yang bermutu serta kemampuan IPTEK dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa.

Selaras dengan visi KEMENRISTEKDIKTI maka penting untuk pengembangan kegiatan kemahasiswaan pada tataran kelembagaan kemahasiswaan di Perguruan Tinggi (PT). PT juga harus terus mendorong pengembangan minat, bakat, penalaran, dan kreativitas serta keilmuan dan keprofesian mahasiswa.

Dalam merealisasikan pengembangan kemahasiswaan di PT, maka Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Belmawa membuat rancangan program yang disusun dalam bentuk hexagon, bidang kemahasiswan untuk mejadi acuan dalam mengembangkan kemahasiswaan di PT. Hexagon Kemahasiswaan tersebut berupa pengembangan bidang penalaran dan kreativitas, bidang kesejahteraan dan kewirausahaan, bidang minat, bakat, dan ormawa, bidang penyelarasan dan pengembangan karir, bidang mental spiritual kebangsaan, dan bidang internasionalisasi.

Pemeringkatan kemahasiswaan bertujuan untuk memacu PT untuk lebih peduli pada kegiatan kemahasiswaan, sehingga mampu menumbuh-kembangkan prestasi mahasiswa dalam bidang penalaran dan kreativitas, bidang kesejahteraan dan kewirausahaan, bidang minat, bakat, dan ormawa, bidang penyelarasan dan pengembangan karir, bidang mental spiritual kebangsaan, dan bidang internasionalisasi. Pemeringktan juga dilakukan sebagai upaya dalam menginventarisir prestasi nasional maupun internasional mahasiswa.

 

Kondisi Kampus

Universitas Mataram (Unram) adalah satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ada di Nusa Tenggra Barat (NTB). Tentu saja label PTN satu-satunya di NTB membuat banyak siswa yang baru saja menyelesaikan masa studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk berbondong-bondong mendaftarkan diri berkuliah di Unram. Mereka memiliki harapan mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak dengan berkuliah di PTN.

Namun, kondisi yang terjadi malah sebaliknya. Jika dilihat dari kondisi fisik atau fasilitas penunjang belajar mengajar yang ada di Unram tentu saja bisa dibilang minim. Sehingga berdampak pada kegiatan mahasiswa.

Tidak adanya batasan mahasiswa dalam satu kelas menyebabkan kondisi proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal. Beberpa fasilitas penunjang juga masih minim, contohnya pendingin ruangan seperti kipas angin atau AC.

Banyak kipas angin dan AC yang rusak dan tidak berfungsi. Tentu saja berdampak pada daya serap mahasiswa menerima pelajaran. Dosen pun mengeluh dengan kondisi ini karena idealnya mahasiswa menerima pelajaran dalam kondisi rileks dan nyaman. Namun, dengan konsidi kelas yang padat dan tidak ada pendingin ruangan maka akan sangat mengganggu proses belajar mengajar.

Terbukti pada pengklasteran Kemahasiswaan yang di publikasikan KEMENRITEKDIKTI Jumat, 06 September 2019 Unram tidak masuk ke jajaran 100 besar, dan terlempar ke urutan 103. Pada tahun sebelumnya Unram masuk ke dalam 50 besar dengan peringkat ke 37.

Usia Unram sudah menginjak 57 tahun  pada bulan Desember mendatang sudah bisa dibilang cukup tua. Dengan usia yang sudah tua Unram seharusnya bisa menghasilkan mahasiswa yang berprestasi yang bisa bersaing di kancah nasional maupun internasional. Sesuai dengan Visi Universitas yakni menjadi Lembaga Tinggi Berbasis Riset Berdaya Saing Internasional. Dengan demikian Unram dapat terbantu keluar dari posisi 100 besar dan bisa bersaing kembali ke posisi 50 besar dan bahkan bisa bersaing ke posisi 10 besar.

Salah satu faktor pendukung kegiatan mahasiswa adalah dana. Dana yang di kucurkan unram hingga saat ini adalah 7.500.000 per organisasi. Namun dana sebesar yang diberikan belum cukup untuk kegiatan yang bertarap internasional bahkan bertaraf regional masih belum cukup. Bahkan masih ada organisasi yang mendapatkan dana di bawah Rp 7.500.000.

Lomba

Lomba yang diikuti oleh mahasiswa banyak yang tidak dibiayai secara penuh oleh Unram. Kadang mahasiswa harus menambah dari dana pribadi untuk memenuhi kebutuhan lomba. Mahasiswa tentu saja memiliki dana minim tapi memiliki gagasan dan ide besar untuk memajukan dan mengharumkan nama Unram.

Namun, tidak ada dukungan dari lembaga untuk menyokong lomba yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa. Mahasiswa dipaksa untuk mencari sendiri biaya tambahan untuk mengikuti lomba, disamping mereka memikirkan kompetisi yang akan dihadapi. Beban mereka malah ditambah dengan bagaimana cara menutupi kekurangan dana untuk berangkat berkompetisi.

Banyak juga mahasiswa yang mengikuti lomba di luar daerah, mereka beristirahat di fasilitas umum seperti masjid, kantor POLISI atau rumah keluarga yang ada disana, sembari menunggu jadwal kompetisi berlangsung. Tentu saja kondisi ini sangat tidak ideal bagi mahasiswa yang akan mengahdapi kompetisi dengan tekanan tinggi ditambah lagi kondisi tubuh yang tidak prima diakibatkan tempat istirahat yang tidak layak.

 

Aspek Penilaian

Proses penilaian pemeringkatan bidang kemahasiswa ditentukan berdasarkan 4 aspek penilaian antara lain Pertama aspek institusi sebesar 20%. Institusi merupakan aspek penting di bidang kemahasiswaan yang akan mempengaruhi prestasi mahasiswa.

Beberapa penilaian di aspek institusi ini adalah aspek kelembagaan yang berisi beberapa poin diantaranya adalah regulasi pembinaan mahasiswa, beasiswa/bantuan biaya pendidikan, asuransi kesehatan, konseling, pembinaan kegiatan mental kebangsaan, program pembinaan kewirausahaan mahasiswa, pengembangan pusat karir, tracer study alumni. Tentu saja banyak aspek ini masih belum dipenuhi untuk menunjang pemeringkatan kemahasiswaan unram.

Ada 2 aspek juga menjadi perhatian mahasiswa yang luput dari perhatian kemahasiswaan Unram. Aspek pembiayaan dan aspek penghargaan prestasi. Tentu saja kedua aspek ini akan sangat berpengaruh pada psikologi mahasiswa yang mengkuti kegiatan lomba atau kegiatan kemahasiswaan lainnya.

Jika alokasi dana kegiatan kemahasiswaan ini tidak diperhatikan secara masif maka akan menimbulkan beban yang lebih besar bagi mahasiswa selain memikirkan lomba, mereka juga harus memikirkan dana lomba atau kegiatan kemahasiswaan lainnya. Dan setelah mereka mendapatkan prestasi di bidang kemahasiswan juga harus menjadi perhatian. Pengharagaan harus diberikan kepada mahasiswa berprestasi tersebut.

Kedua, aspek kegiatan non lomba/pengakuan/rekognisi memiliki nilai persentase penilaian sebesar 10%. Aspek ini dibagi lagi menjadi 4 komponen yaitu mahasiswa berwirausaha, pertukaran mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat dan rekognisi.

Ketiga, aspek Prestasi Kegiatan Ko dan Ekstrakurikuler Mandiri memiliki nilai persentase 30% yang memiliki 4 komponen penilaian. Komponen penilaian ini berdasarkan prestasi dari tingkat provinsi, wilayah, nasional, dan internasional. Kegiatan Ko dan Ekstrakurikuler yang dimaksud adalah kegiatan yang diadakan selain KEMENRISTEKDIKTI.

Keempat, Aspek Prestasi Kegiatan Ko dan Ekstrakurikuler Belmawa memiliki nilai paling tinggi yakni 40%. Hampir sama dengan aspek ketiga memiliki 4 komponen berdasarkan prestasi dari tingkat provinsi, wilayah, nasional, dan internasional.

Berdasarkan keempat aspek yang ada tentu saja aspek Prestasi Kegiatan Ko dan Ekstrakurikuler Mandiri dan Prestasi Kegiatan Ko dan Ekstrakurikuler Belmawa menjadi penentu bagi kualitas dari kemahasiswaan PT dengan jumlah nilai 70%.

Namun, sebenarnya aspek yang paling menentukan suatu kemahasiswaan adalah dari aspek institusi. Institusi yang memberikan pelayanan terbaik pada mahasiswa dan terus mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi. Mahasiswa tanpa pembinaan yang tepat dan apabila tidak diberikan penghargaan atas prestasi yang diraih akan membuat mahasiswa tertekan secara psikologis karena akan merasa bekerja sendiri.

Untuk menduduki posisi yang ideal untuk unram dalam pengklasterisasi kemahasiswaan maka harus memperhatikan beberapa hal: pertama Unram harus memberikan fasilitas belajar yang memadai untuk mendukung daya serap ilmu pengetahuan yang diberikan kepada mahasiswa di dalam kelas.

Kedua memberikan dukungan yang besar kepada seluruh kegiatan mahasiswa terutama melalui sumbangan dana, guna membangun semangat yang tinggi bagi mahasiswa dalam menjalankan kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan bidang organisasi masing-masing

Ketiga unram harus lebih gencar lagi untuk memberikan pelatihan kepada mahasiswa dan memberikan penghargaan apresiasi yang lebih tinggi lagi guna membangun karakter yang kuat mental juara, karena mental juara sangat dibutuhkan untuk menjadi percaya diri dalam berkompetisi

Lebih memperhatikan lagi ko-ekstrakulikulir, karena sangat menentukan posisi Universitas dalam pengklasteran kemahasiswaan. Mempunyai nilai sangat tinggi 70%. Demi menjadikan Unram mampu berdaya saing Internasional pada tahun 2025.

BEM, DPM Memanas

0
Asno Azzawagama Firdaus (Ketua DPM Unram) dan Muh. Amri Akbar (Ketua BEM UNRAM)
Asno Azzawagama Firdaus (Ketua DPM Unram) dan Muh. Amri Akbar (Ketua BEM UNRAM)

Dua lembaga petinggi organisasi Universitas Mataram (Unram) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) saling melontarkan kata-kata panas.

Media – Berawal dari sindiran di media sosial yang dilakukan ketua BEM yang menyindir keras DPM. Sindiran ketua BEM berbuntut panjang dengan aksi saling sindir dengan DPM melalui media sosial. Sehingga status ini tidak diterima oleh anggota DPM karena merugikan citra lembaga dan anggota.

M. Amri Akbar selaku ketua BEM menyatakan kebenaran adanya tulisan yang telah dia buat, lantaran DPM tidak pernah bekerja sesuai dengan tugasnya. Bahkan masih menyibukkan dirinya dengan penerimaan anggota baru

“kita mengundang DPM untuk ikut dalam kepentingan mahasiswa banyak di rektorat, namun dari pihak DPM tidak ada yang hadir satu orang pun,” kata Amri.

Padahal sebagai lembaga Legislatif tingkat universitas tidak etis jika membuka pendaftaran untuk anggota baru, karena itu akan mengurangi marwah dari DPM itu sendiri. Jika memang DPM tidak kekurangan anggota, maka mereka bisa meminta delegasi dari DPM di tingkat fakultas.

Di tempat yang berbeda Asno azawagama selaku ketua DPM sedikit keberatan dengan status yang dibuat BEM pasalnya disebutkan bahwa, DPM gagap dalam aktualisasi. Ini tidak mencerminkan sikap dari seorang ketua.

“kata yang ditulis di media sosial itu tidak mencerminkan contoh yang baik bagi mahasiswa. Mungkin karena ketua bem dalam keadaan capek sehingga dalam menulis baperan,” ungkap Asno.

Komisi pengawasan DPM Afran juga turut membalas status yang dibuat ketua BEM melalui media sosial, yang disampaikan itu bukan mencerminkan etika yang baik seorang ketua. Seharusnya apa yang disampaikan itu dibuka pada forum rapat evaluasi.

“kritikan yang disampaikan itu sebenarnya tidak etis, dan kritikan itu disampaikan di rapat evaluasi,” Tulis Afran.

Amri juga mengklarifikasi status yang dibuatnya, bahwa itulah yang dirasakan sampai sekarang kalau pengawasan yang dilakukan oleh dpm kepada bem baru sebatas niat saja

“jika di kasi penilaian 1 sampai 10 pengawasan yang dilakukan oleh DPM. Saya memberikan nilai niat belum sampai ke nilai satu,” Ujar Amri.

Pengawasan secara kontekstual ke lapangan menandakan kalau DPM belum paham tentang pengawasan, hal ini akan membuat suasana ketidak percayaan mahasiswa terhadap kinerja yang dilakukan lembaga pengawas. Karena pengawasan yang dilakukan bukan turun langsung ke lapangan, namun mengawasi melalui perencanaan dan hasil yang telah dikerjakan.

“sebagai lembaga yang mengawasi BEM, seharusnya mereka bukan ikut turun langsung ke lapangan namun meraka mengawasi melalui rapat evaluasi” lanjut Amri.

Salah satu hal yang disayangkan oleh Amri di menjelang akhir kepengurusan BEM dan DPM adalah mengenai pembahasan Standard Operational Procedur (SOP) pengawasan oleh DPM. Hal ini karena sudah banyak sekali program kerja dari BEM yang sudah berjalan tapi ternyata DPM masih belum memiliki SOP pengawasan yang jelas terhadap BE.

“Sudah mau akhir kepengurusan baru SOP, semangat untuk DPM,” Ujarnya.

Mantan Ketua BEM Fakultas Teknik 2018 ini meminta agar DPM kembali melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) dari Lembaga Perwakilan. Kembalinya Lembaga Perwakilan ke Tupoksinya tentu saja akan membantu Lembaga Eksekutif dalam melakukan tugasnya. Dia tidak ingin Lembaga Perwakilan ini hanya menjadi wadah segelintir orang yang memiliki kepentingan di dalamnya.

“Kembalilah ke tupoksi apa sebenarnya lembaga perwakilan dan buat skala prioritas yang mahasiswa dan kampus butuhkan bukan hanya segelintir orang saja yang diperjuangkan,” Lanjut Amri.

Namun asno mengangap tupoksi yang dilaksanakan DPM sudah sesui dengan tupoksi yang sudah diatur di surat keputusan (SK) yang dibuat Rektor, sehingga DPM akan memberikan kejutan kepada BEM untuk menindaklanjuti kinerja yang dilakukan selama satu kepengurusan ini.

“kami akan kasih surprise kepada bem di rapat evaluasi mendatang” pungkas Asno.

(mez,mad)

Musfest Sebagai Ajang Promosi Ormawa

0
pembukaan cara Musfest
pembukaan cara Musfest

Media – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unram kembali menggelar acara tahunan, Mataram University Stundet Festival (MUSTFEST) yang bertemakan Merawat Spirit Membangun Negeri Melalui Kontribusi dalam Organisasi. dilakasanakan pada tanggal 7 September 2019 di perpustakaan Univeritas Mataram.

Kegiatan ini memberikan kesempatan langsung ke seluruh masiswa baru melihat berbagai organisasi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sekaligus melihat nafas setiap organisasi mahasiswa (Ormawa) tersebut “Acara ini bertujuan agar mahasiswa baru mengetahui bahwa unram memiliki beberapa organisasi dan kami juga berharap mereka mau ikut bergabung di dalamnya,” ungkap ketua panita, Sandhi Maulana.

Dalam kegiatan ini, turut juga dihadiri oleh Kepala Bagian Kemahasiswaan, Abdul Faruk, memberikan apresiasi kepada BEM yang sudah memberikan sarana untuk mempromosi organisasi yang ada di Unram “Semangat terus kepada BEM dan semua Ormawa untuk berkegiatan dan tidak boleh behenti dalam berdedikasi” ungkapnya pada saat membuka acara.

Acara ini dimulai dari jalan sehat yang diikuti oleh semua Ormawa Unram dan seluruh peserta. Berjalan mulai dari perpustakaan, kemudian berjalan keluar menuju jalan pemuda dan berakhir di pintu gerbang Perpustakaan. Setelah mengadakan jalan sehat, Ormawa unram yang turut hadir dalam kegiatan ini diberikan waktu untuk memperkenalkan organisasi masing – masing. Tidak hanya itu,  Ormawa juga diberikan membuka stand penerimaan anggota baru.

Kegiatan ini mengalami sedikit kendala, yakni kurangnya para pengunjung yang hadir. Lantaran kegiatan ini diadakan pada hari libur, “bahwa kurangnya mahasiswa yang hadir lantaran karena acara ini bertepatan dengan hari libur, sehingga mahasiswa banyak yang pulang ke rumah masing-masing”. Lanjut sandi

Presiden Mahasiswa (presma) Unram, Muhammad Amri Akbar, juga turut berkomentar tentang kegiatan ini. Yang melihat acara yang dihelat kali ini tidak sesuai dengan apa yang sudah direncankan sejak awal “Walaupun acaranya sedikit kurang dari harapan, tetapi acara ini tetap berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Amri juga mengaharapkan kegiatan ini terus dilakukan dan mengharapkan penningkatan untuk tahun selanjutnya, karena acara ini sangat bagus dan baik untuk kedepannya. “ mudahan untuk acara ditahun depan semakin meningkat dan lebih meriah lagi, dan menjadi wahana pengetauan bagi mahasiswa baru yang mau belajar berorganisasi” “ pungkasnya saat ditemui wartawan UKPKM MEDIA  (Tim)

Kasus Suap KKN Belum Bisa Diselesaikan

0
Ilustrasi Suap KKN
Ilustrasi Suap KKN

Oleh : Ahmad Fatoni Dwi Putra (Menteri Komunikasi dan Informasi BEM UNRAM) dan Meza Royadi (Pimpinan Umum UKPKM MEDIA UNRAM)

Sudah tidak terbantahkan lagi kasus yang sudah melekat ditelinga kita semua, yaitu kasus suap Kuliah Kerja Nyata (KKN). Yang sampai saat ini belum juga rampung untuk diselesaikan oleh Tim Investigasi yang sudah dibentuk Rektor Universitas Mataram (Unram).

KKN tahun periode Desember-Januari 2018/2019. Secara implisit sebanyak 25 mahasiswa yang melakukan transaksi kisaran Rp 1.000.000 sampai dengan Rp 1.500.000 dengan oknum pejabat Unram untuk tidak mengikuti program KKN, namun nilai KKN mereka akan keluar seperti mahasiswa lainnya. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Nilai mahasiswa yang menyuap KKN ini tidak keluar sehingga mereka tidak bisa mengikuti yudisium.

Kasus ini terungkap karena salah satu mahasiswi dari fakutas hukum mengakui kesalahan yang diperbuat kepada pegawai di Fakultas Hukum. Karena mahasiswa ini akan melaksanakan yudisium, namun nilai KKN nya belum keluar sehingga keluar statement kalau dia tidak mengikuti proses KKN dengan membayar pegawai di Unram untuk tidak mengikuti KKN.
Berawal dari inilah banyak ditemukan lagi mahasiswa yang melakukakan praktek penyuapan KKN yang sering disebut mahasiswa lain “transaksi bawah meja dengan memakai topeng”. Yang nampaknya Dewi Fortuna masih belum memihak kepada mereka kalau rencananya akan berhasil sesuai strategi.

Meminta waktu

Kasus yang santer terdengar ini pun masih saja belum terselesaikan oleh Tim Investigasi. Namun mahasiswa Unram tidak mau tinggal diam dengan keadaan kampus yang semakin mencemaskan mahasiswa ini. Jika kasus ini tidak ada tindakan dari mahasiswa untuk ikut aktif untuk mengusut kasus penyuapan KKN ini, mungkin tidak terjadi investigasi oleh Rektor.
Pada tanggal 26 Juni, aliansi mahasiswa peduli kampus menggelar aksi besar-besaran digedung rektorat unram dengan memaparkan poin tuntutannya. Salah satu poin tuntutannya adalah mengusut tuntas kasus praktek suap menyuap KKN ke Rektor yaitu Lalu Husni.

Lalu Husni selaku Rektor Unram akan membentuk Tim Investigasi yang akan mengusut tuntas kasus suap menyuap KKN. Dengan meminta waktu selama 1 bulan untuk menyelesaikan kasus ini. Rektor berjanji akan memberikan sanksi tegas pada pihak yang terlibat kasus ini. Sanksi yang akan diberikan berupa skorsing bagi mahasiswa yang diduga terlibat dan bagi pihak pejabat kampus yang terlibat akan dipecat dari jabatannya.
Tentu saja tindakan dari Rektor memberikan harapan untuk masa aksi. Sekarang tinggal bagaimana
memberikan ruang bagi tim investigasi untuk berkerja. Mahasiswa juga berjanji dalam aksi tersebut akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Jangan sampai kasus ini terulang kembali di lingkungan Unram karena akan mencoreng wajah dunia Pendidikan.

Masih Menyembunyikan Oknum

Wakil Rektor satu (WR I) sebagai ketua Tim Investigasi belum membuka suara tentang oknum yang berada balik kasus penyuapan KKN ini, WR I masih ingin diberikan waktu tambahan lagi untuk melakukan investigsi.
Dengan belum berani diungkapkan nama yang menjadi oknum dibalik semua ini, membuat sebagian besar mahasiswa peduli kampus yang mengikuti gelaran aksi semakin kecewa dengan tim yang diketuai WR I dengan anggota tim dari unsur Senat, unsur pimpinan, dan Tim Hukum. Hal ini menyulutkan perhatian mahasiswa kepada tim investigasi tidak bekerja secara maksimal, karna sudah tiga bulan masih menyembunyikan nama oknum yang bersangkutan.

Masih menjadi pertanyaan siapa dibalik oknum suap menyuap KKN. Santer terdengar isu dikalangan mahasiswa jika mahasiswa yang melakukan suap telah mengulang KKN dengan jalan konvensional. Bahkan mahasiswa tersebut sudah bisa wisuda tahun ini.

Dengan keadaan ini paling tidak Rektor harus menyelesaikan empat persoalan. Pertama rektor harus mengintruksikan kepada Tim Investigasi, agar lebih cepat lagi untuk mencari seluruh oknum yang berada dibelakang semua ini.

Kedua Rektor Unram memberikan saksi tegas kepada mahasiswa yang sudah mengotori nama Lembaga dengan memberikan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya (skorsing) dengan tidak memberikan pengulangan KKN bagi mahasiswa. Agar kedepannya tidak lagi ada kejadian yang serupa di lingkungan Unram sekaligus menjadi pembelajaran bagi seluruh mahasiswa

Ketiga segera untuk memberhentikan pejabat yang sudah terlibat dalam praktek suap menyuap ini, kalau tidak diberhentikan maka bukan tidak mungkin lagi akan terjadi hal yang serupa di tahun berikutnya.
Kempat Rektor harus membenahi secara masif lingkaran struktur kepengurusan Lembaga yang membawahi program KKN ini, agar terciptanya kondisi yang kondusif demi untuk kepentingan nama Lembaga yang bersih dari korupsi.