31.5 C
Mataram
Wednesday, May 27, 2026
spot_img
Home Blog Page 40

Bentuk Kelompok Usaha, KKN Desa Tempos Namai KUBe

0

Lobar, MEDIA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)- PLP Terpadu Universitas Mataram, membentuk kelompok usaha bersama yang diberi nama KUBe bekerjasama dengan Ibu Rumah Tangga yang berada di Dusun Tempos Utara, Desa Tempos, Kecamatan Gerung, Selasa(20/12).

Pembentukan kelompok usaha bersama ini merupakan salah satu program kerja utama KKN Terpadu Unram yang bertujuan untuk menyediakan wadah bagi ibu Rumah Tangga (IRT) sehingga dapat melakukan kegiatan yang produktif, disamping mengurus pekerjaan rumah tangga terutama yang berada di Desa Tempos, yang diharapkan dapat menjadi peluang terbukanya usaha sehingga berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan sosial keluarga.

Kegiatan ini dimulai dengan memberikan sosialisasi pembentukan kelompok usaha bersama, kemudian dilanjutkan dengan mengadakan pelatihan pembuatan kripik pepaya yang merupakan produk yang ditawarkan untuk dikembangkan kedepannya.

“Tujuan kami mengundang Ibu rumah tangga kesini untuk membentuk kelompok usaha bersama yang nantinya dapat dikembangkan oleh ibu-ibu disini, produk yang kami tawarkan berupa kripik pepaya dengan bahan-bahan yang telah kami sediakan, kami memilih pepaya karena yang kami lihat di desa ini pepaya hanya di jual saja, tanpa diolah lebih lanjut. Sehingga kami ingin membuat inovasi baru dari pepaya yang masih muda dengan mengolahnya menjadi kripik yang memiliki nilai jual tinggi,” tutur Nur Hayatunnufus.

Ibu rumah tangga yang berada di Dusun Tempos Daye ini sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan yang di adakan oleh mahasiswa KKN-PLP Terpadu Unram, walaupun hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, namun mereka juga ikut berpartisipasi langsung dalam proses pembuatan kripik pepaya.

“Baru pertama kali saya mendengar bahwa pepaya yang masih muda dapat di jadikan kripik, ini merupakan hal yang baru kami dapatkan, karena disini pepaya hanya dijual ke pasar saja bahkan dibuang-buang,” ungkap Rohmati.

Adapun susunan struktur dari kelompok usaha bersama ini terdiri dari Rohmati selaku ketua, Misrah sebagai sekretaris dan Lina wati sebagai bendahara. “Kami berharap semoga kelompok usaha bersama ini dapat terus berjalan dan berkembang dengan usaha yang inovatif agar dapat menjadi penghasilan tambahan ibu-ibu disini,” Sambungnya.

Kegiatan ini berlangsung sekitar pukul 16.00-18.00 Wita, di posko KKN yang dihadiri oleh anggota KUBe sejumlah 6 orang serta mahasiswa KKN sebanyak 10 orang dan berlangsung dalam keadaan yang kondusif sembari berbincang-bincang, kelompok usaha bersama ini juga mendapatkan dukungan dari Babinsa, BKD (Balai Keamanan Desa) serta Kepala Dusun Tempos Utara, Desa Tempos. (Mra/Advetorial)

Adakan Penyuluhan, KKN Desa Leming Manfaatkan Limbah

0

Lotim, MEDIA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Mataram (Unram) Desa Leming, Kecamatan Terara, adakan penyuluhan terkait dengan pemanfaatan limbah, terutama limbah jagung dan sekam padi, Sabtu(7/1).

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat desa Leming untuk mengolah limbah pertanian terutama bonggol jagung yang banyak di temukan di desa Leming. Supaya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi sehingga dapat menunjang perekonomian desa.

Dalam penyuluhan ini dijelaskan bahwa pemanfaatan bonggol jagung bisa dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan jamur janggel, yang memiliki nilai ekonomi serta dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat akan jamur yang kaya protein.

Selain itu, kegiatan penyuluhan tersebut juga diisi dengan demonstrasi pembuatan media jamur janggel menggunakan limbah bonggol jagung.

Acara penyuluhan ini dibuka langsung oleh kepala Desa Leming, H. Ayunan yang dalam sambutannya sangat mengapresiasi program ini. Salah satunya adalah kegiatan penyuluhan pemanfaatan limbah jagung.

“Di Desa Leming bonggol jagung selama ini hanya menjadi limbah. Jadi dengan adanya kegiatan penyuluhan dan pelatihan ini saya harap masyarakat dapat memaksimalkan potensi desa dengan mengolah limbah bonggol jagung menjadi suatu yang bernilai ekonomi,” harapnya.

Kegiatan penyuluhan ini kemudian di akhiri dengan pemberian 1200 bibit pohon diantaranya bibit Durian, bibit Nangka, bibit Mangga, dan bibit Mahoni kepada enam kepala Dusun di desa Leming. Sedangkan untuk penanaman bibit secara simbolis dilakukan di depan kantor desa Leming yang diwakili oleh Kepala Desa Leming H. Ayunan, Sekretaris BPD, dan tokoh masyarakat.

Kegiatan penyuluhan tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Leming dan turut hadir seluruh kepala dusun di Desa Leming, ibu PKK, tokoh masyarakat, serta masyarakat Desa Leming pada umumnya. (Zhr/Advetorial)

 

 

 

Peduli Lingkungan, KKN Desa Tumpak Adakan Penanaman Pohon

0

Loteng, MEDIA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Mataram (Unram) Desa Tumpak adakan penanaman pohon di sepanjang jalan Pantai Areguling, Pantai Mawun dan Taman Wisata Alam Gunung Bongak Desa Tumpak Kecamatan Pujut, Selasa (18/1).

Penanaman pohon ini merupakan salah satu program kerja Mahasiswa KKN Tematik Desa Tumpak dengan tema Desa Wisata, yang bekerjasama dengan BPDAS Dodokan Moyosari sebagai pihak penyedia bibit pohon.

Kegiatan penanaman ini dirasa menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan demi terciptanya lingkungan hijau dan sehat.

Feldy Nivanda selaku Ketua KKN Desa Tumpak mengungkapkan bahwa, kegiatan penanaman berbagai jenis pohon ini bertujuan untuk memelihara lingkungan dan mewujudkan sapta pesona pariwisata Indonesia, guna menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

“Semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan para wisatawan, saya juga berharap kegiatan penanaman seperti ini bisa terus dilaksanakan,” tuturnya.

Disamping mahasiswa KKN Desa Tumpak, antusiasme serta keikutsertaan masyarakat sekitar juga sangat mendukung kegiatan ini.

Rosadi, S.Pd.I. selaku Kepala Desa Tumpak menyampaikan bahwa,  terlaksananya kegiatan penanaman pohon di tiga lokasi wisata Desa Tumpak ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan para pengunjug kedepannya.

Demikian pula Camat Pujut Lalu Sungkul, S.Pd. juga sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia  berharap dalam 5–10 tahun kedepan, hasilnya sudah dapat dirasakan.

“Program ini sangat penting dalam menjaga lingkungan agar tetap lestari. Saya juga berharap agar kedepannya kita semua dapat merasakan manfaatnya dan bebrsama-sama memelihara dan merawat bibit ini,” harapnya.

Kegiatan ini didukung juga oleh pemuda dari Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS). Dan dilaksanakan pada hari Selasa – Kamis, 18 – 20 Januari 2023.

Turut hadir dalam kegiatan ini yaitu Camat Pujut, Kepala Desa Tumpak, Bhabinkamtibmas, Ketua Proklim dan TSBD Desa Tumpak, Kepala Dusun Areguling, Mawun dan Bongak. (Zhr/Advetorial)

 

Melampaui Polemik Proporsional Tertutup dan Terbuka

0

Oleh : Abdul Fattah, Peneliti Metajuridika

Daripada turut terbenam dalam perdebatan tentang pemilihan umum dengan sistem proporsional tertutup atau proporsional terbuka, perhatian publik seharusnya diarahkan pada perdebatan tentang hal-hal yang lebih prinsipil.

 

Independensi penyelenggara.

Yang jauh lebih penting dari proporsional tertutup atau terbuka adalah independensi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai lembaga penyelenggara. Prosesi demokrasi yang seharusnya dijaga, terindikasi curang bahkan sedari prosesi awal.

Beberapa partai politik yang seharusnya tidak memenuhi persyaratan diloloskan secara paksa oleh KPU. Intimidasi oleh Komisioner KPU RI terhadap komisioner KPU Daerah benar-benar mencederai nilai demokrasi.

Partai Gelora, Partai Kebangkitan Nusantara dan Partai Garuda yang semula tak lolos verifikasi malah diloloskan oleh KPU. Langkah itu dimaksudkan untuk memecah suara sejumlah partai yang dianggap pecahan dari partai-partai tersebut.

Teranyar, Hadar Nafis Gumay, mantan komisioner KPU, mewakili Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Bersih menyerahkan sejumlah bukti kecurangan KPU dalam verifikasi faktual partai politik kepada Komisi II DPR. Sejumlah bukti mengungkap keterlibatan istana. Bila laporan itu benar, maka ini benar-benar gawat.

Bagaimana mungkin prosesi pemilu demokratis dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bila pelaksanaannya saja curang dan tidak adil. Pelolosan dan penjegalan sejumlah partai menguak bahwa penyelenggara disusupi kepentingan politis dan ekonomis.

Perdebatan tentang sistem pemilihan mana yang lebih baik tidak lebih dari suara sumbang. Demikian pula dengan argumentasi yang didengungkan, cuma alibi, kedok yang menutupi keruhnya pemilu.

 

Sistem Partai Politik

Hal yang kerap diabaikan adalah aturan main pemilu. Pada 2020 lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) memutus bahwa Partai Politik yang telah lolos verifikasi dan menembus ambang batas pada pemilu 2019 hanya perlu melakukan pemeriksaan administratif tanpa perlu verifikasi faktual pada pemilu berikutnya.

Di lain pihak, partai yang tak lulus harus mengulang semua tahap verifikasi baik faktual maupun administratif. Perbedaan prosedur ini jelas merupakan tindakan diskriminatif yang bertentangan dengan prinsip perlakuan yang setara.

Praktik politik kontemporer menyingkap juga raibnya identitas dan ideologi partai politik. Padahal partai politik adalah salah satu pilar penting demokrasi.

Dalam sistem demokrasi, pluralitas tata nilai adalah realitas tak terelakan. Partai politik seharusnya hadir untuk mewadahi penyaluran aspirasi rakyat berdasarkan ideologi dan platform yang dipilih.

Alih-alih mempraktikan politik berbasis ideologi, partai politik di Indonesia cenderung cair dan tanpa ideologi. Ideologi dan identitas paling-paling dijadikan sebagai kemasan untuk mendulang suara, sementara isi partai cenderung sama saja.

Dalam penyusunan kabinet misalnya, asas profesionalisme dan meritokrasi diabaikan, yang paling determinan dalam penentuan kabinet adalah politik transaksional. Hampir tak ada partai politik yang memilih beroposisi karena tergiur pada jabatan yang diobral untuk partai-partai koalisi.

 

Partai Politik Deliberatif

Bagaimanapun, identitas dan ideologi partai politik penting demi mewadahi dan menjadi kanal bagi pluralitas masyarakat dan tata nilai yang dianut.

Opini masyarakat tentang – apa yang dikonsepsikan oleh John Rawls sebagai – “the goods” (yang baik) seharusnya diteruskan oleh partai politik dalam ruang publik. Tugas partai politik adalah memastikan ruang publik diisi dengan diskursus yang memperjuangkan kepentingan kelompok masyarakat yang diwakili. Partai politik di Indonesia harusnya beranjak dari perjuangan semata demi kepentingan politis dan ekonomis menuju kepentingan-kepentingan etis.

Praktik legislasi belakangan betul-betul menguak tersumbatnya opini publik, diskursus deliberatif dan praktik perjuangan demi kepentingan etis. Undang-undang yang ditelurkan menyiratkan bahwa parlemen dikendalikan oleh transaksi politis dan kepentingan ekonomis elit.

Tanpa modal identitas dan ideologi, praktik partai politik hanya akan berkutat pada persoalan “untung rugi”. Pada titik ini, kita menemukan relevansi thesis demokrasi deliberatif yang ditawarkan J. Habbermas. Partai politik seharusnya mempraktekkan politik deliberatif. Untuk mewujudkan itu, tentu tidak mudah.

Butuh perubahan fundamental, kader-kader yang diorbitkan parpol, haruslah yang paling bernas, memiliki kemampuan argumentasi rasional. Selain itu, nurani yang memihak konstituen, alih-alih sponsor atau pemodal. Sebab tanpa nurani, maka argumentasi hanya akan digunakan untuk memuluskan kepentingan lancung. Identitas dan ideologi partai harus diperjelas, demikian pula dengan nilai yang diperjuangkan.

 

Mataram, 22 Januari.

Cegah Banjir, Mahasiswa KKN Desa Mertak Bersihkan Drainase

0

Loteng, MEDIA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Mataram (Unram) mengadakan pembersihan drainase di lingkungan rumah masyarakat Dusun Bumbang, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Minggu (08/1).

Hal demikian dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir dari Dusun Bumbang Desa Mertak Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Sebab, Jika terjadi banjir maka akses untuk keluar masuk menuju Taman Wisata Alam Gunung Tunak terhambat.

“Program Pembersihan drainase merupakan salah satu awal untuk mengurangi bencana banjir di desa mertak. Ini merupakan salah satu proker kelompok Kkn kami dan  merupakan salah satu langkah awal agar masyarakat sekitar peka terhadap hal tersebut. Saya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan terutama disaat musim penghujan seperti sekarang,” Tutur Reza Rizki Sabilla, selaku Ketua KKN Desa Mertak.

Pemilihan lokasi pembersihan Drainase terlebih dahulu sudah disikusikan bersama karang taruna dan pemerintah desa (Pemdes), yaitu di Dusun Bumbang Desa Mertak Kecamatan Pujut Lombok Tengah, karena di dusun tersebut sering terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi, di sebabkan karena tersumbatnya drainase.

”Menurut Saya program drainase adalah program baik yang dilakukan oleh adik-adik KKN khususnya yang kemarin di daerah dusun bumbang, karena kebersihan sebenarnya tidak pandang usia dan saya juga sangat bersyukur karena program ini, terutama jika dapat di tambah lagi kegiatan drainase dibagian dusun awang dipinggir pantainya, serta kami sangat senang jika adik-adik dapat membantu dalam pembuatan plang jagalah kebersihan agar masyarakat paham akan adanya kebersihan sekitar untuk mengubah karakter masyarakat untuk sadar akan kebersihan”. Jelas kepala Desa Mertak, Moh. Syahnan.

Pembersihan drainase tetap difokuskan pada jalan yang menuju Taman Wisata Alam Gunung Tunak yang berada di Dusun Bumbang Kecamatan Pujut Lombok Tengah, sampai menuju muara.

“Tanggapan saya kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh mahasiswa tematik unram adalah kegiatan yang sangat positif,  mengingat akhir-akhir ini hujan mengguyur sejumlah wilayah Kabupaten lombok tengah khususnya di Desa Mertak Kecamatan Pujut,” Ungkap Bhabinkamtibma Desa Mertak, Bripka Akhmad Gunarta.

 “Di samping bertujuan untuk pembersihan drainase untuk menata  lingkungan, gotong-royong ini adalah salah satu wadah untuk mempererat tali silaturrahim antar warga setempat serta untuk membangkitkan dan membangun kembali semangat gotong-royong dalam masyarakat. Saya sangat mengapresiasi kegiatan adek-adek kkn unram tersebut karena sangat bermanfaat dan bisa dirasakan sama masyarakat karena momentum kegiatan gotong royong dilaksanakan sesudah banjir,” sambungnya. 

Proses pelaksanaan program kerja ini dilakukan oleh Sepuluh orang anggota KKN Tematik Universitas Mataram Desa Mertak yakni, Reza Rizki Sabilla, Muh. Fitratul Akbar,  Syarifudin, Andhika Sukma Satria, Via Nita Ayu Khusnul F,  Rengganis Uci Yullanda, Diniatul Hanifa, Tina Egalana,  Nur Mira Azrina, Hidayatul Fatmi.

Babinsa Desa Mertak Kecamatan Pujut,  Labuh menegaskan bahwa Kegiatan gotong royong pembersihan drainase sangat bermanfaat dan perlu ditingkatkan

“Semoga dengan telah terlaksananya giat gotong royong pembersihan drainase di dusun bumbang nantinya menjadi contoh bagi dusun-dusun yang lain,” harapnya.

 Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 09.00-14.00 Wita. Dan turut melibatkan Kepala Desa Mertak, Kepala Dusun Bumbang, Bhabinkamtibnas, Babinsa, karang taruna beserta warga masyarakat Dusun Bumbang Desa Mertak Kecamatan Pujut. (Zhr/Advetorial)

 

Pemira FH Mandul, Birokrasi dan Penyelenggara Ngibul

0

Oleh: Aris Munandar

Sistem demokrasi adalah produk dari pengalaman sejarah umat manusia dalam mengelola kekuasaan. Suatu fenomena yang mempunyai daya tarik dan pesona luar biasa. Siapapun akan amat mudah tergoda untuk berkuasa, sekalipun menggunakan cara-cara lancung atau menghalalkan segala cara, yang oleh Machiaveli dirumuskan sebagai “End justify the meaning”.

Sedemikian mempesonanya daya tarik kekuasaan sehingga tataran apa saja kekuasaan akan diperebutakan melalui kompetisi atau bahkan cara-cara curang. Demikian juga yang terjadi di Fakultas Hukum Universitas Mataram (FH Unram). Transformasi dan kompetisi merebutkan kekuasaan hendaknya disertai norma, aturan, dan etika. Namun, pada kenyataanya, dalam pemira FH Unram, nilai-nilai dan norma-norma itu seakan tidak berdaya menjinakan hasrat kekuasaan yang curang dari pihak penyelenggara, yakni Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) dan Badan Pengawas Pemilihan Raya (Bawasra).

Makna pemilihan umum yang paling esensial bagi suatu kehidupan politik yang demokratis adalah sebagai sarana pergantian dan perebutan kekuasaan yang dilakukan dengan regulasi, norma, dan etika sehingga sirkulasi dapat dilakukan secara damai dan beradab. Lembaga KPRM dan birokrasi kampus merah Fakultas Hukum Unram telah melacurkan makna esensial dan nilai demokrasi tersebut.

Pemira FH yang seharusnya dilaksanakan belum juga menemui titik terang. Padahal dibeberapa fakultas lainnya di Unram, prosesi Pemira telah selesai dan telah terpilih ketua BEM dan DPM. Ada maksud dan tujuan terselubung yang curang dari KPRM dan BAWASRA untuk menenangkan atau paling tidak menguntungkan calon tertentu dengan mengulur-ulur jalanya Pemira.

Ini menandakan semangat dan bentuk partisipasi bahkan pesta demokrasi Mahasiswa Fakultas Hukum Unram gagal bahkan sebelum dimulai. Alih-alih menyelesaikan persoalan ini birokrasi malah memilih sikap diam dan bahkan cenderung mendukung upaya lancung penyelenggara pemira. Birokrasi fakultas Hukum yang mengajarkan nilai-nilai ideal Hukum malah turut bermain curang dengan mengabaikan aspek etis pada nilai-nilai demokrasi.

Pemilihan Raya Mahasiswa (PEMIRA), merupakan pesta demokrasi kampus sebuah mekanisme yang di selenggarakan dalam satu tahun sekali. Akibat penundaan dan kelalaian penyelenggaraan kepentingan mahasiswa harus dikorbankan. Maka jelaslah Pemira FH mandul, birokrasi dan penyelenggara ngibul.
Kualitas dan kemampuan pemegang kendali sistem yaitu KPRM tentu secara sudut pandang yang objektif bahwa pada dasarnya telah keluar pada jalur tupoksi yang sepenuhnya itu menjadi acuan dasar dalam sebuah pelaksanaan pemira yang sesuai dengan yang seharusnya.

Jika Pemira tak ingin dicap sebagai suatu prosedur yang kontrarevolusioner terhadap tata pelaksanaan demokratis, maka kepentingan mahasiswa harus diutamakan dan pemira hendaknya segera dilaksanakan sebelum periodesasi BEM berakhir. Itu dilakukan demi menghindari kekosongan kekuasaan.

Bayangkan, betapa banyak kepentingan mahasiswa yang harus dikorbankan bila terjadi kekosongan kekuasaan. Tidak akan ada BEM yang menyuarakan persoalan nilai atau bahkan seperti yang belakangan marak terjadi, kasus pelecehan seksual. Bentuk pelaksanaan harus di kawal secara ketat oleh BAWASRA, namun yang menampak malah sebaliknya, bentuk penyusunan yang amburadul dan tidak mampu mengawasi berjalanya KPRM.

Pemira masih menggairahkan untuk menghidupkan Kembali nilai esensi Demokrasi di lingkungan kampus dengan memperkokoh peranan elemen mahasiswa, membuka dan terbuka bentuk partisipan seluruh mahasiswa fakultas hukum unram.

Birokrasi dan Kprm ini sudah mandul membuat pelaksanaan pemira tidak berjalan sesuai harapan mahasiswa, kepongahan dan kebodohan tak usah dirawat, kampus adalah rumah bagi pikiran. Merawat semangat nilai-nilai yang positif demi terwujudnya fakultas hukum yang lebih maju dari tahun sebelumnya, suatu momen pergantian kekuasaan BEM dan DPM fakultas Hukum Unram.

KPRM dan BAWASRA sudah gagal, sebab tidak ada informasi bahkan tidak ada kegiatan yang di laksanakan oleh dua Lembaga tersebut. Ini menandakan mandul dan gagal bersamaan dengan birokrasi yang tidak mampu menganalisis persoaalan yang ada.

Pikiran yang kritis akan terus ada dan tumbuh manakala melihak kebobrokan yang di tampakan oleh dua Lembaga yang seharusnya, menjadi harapan nomor satu bagi mahasiswa agar terpilihnya ketua BEM dan DPM yang dipandang pantas mengemban amanah untuk memimpin FH Unram satu periode kedepannya.

Dampak kekosongan BEM dan DPM : Mahasiswa FH Bermasalah

0

 

Unram, MEDIA – Pemira Fh Unram tahun 2022 diundur, yang mengakibatkan kekosongan kursi BEM dan DPM Fh Unram. Hal demikian berdampak pada mahasiswa Fh Unram, terutama persoalan akademik.

Menilik Pemira di Fakultas lain yang sudah selesai,  membuat semua orang mempertanyakan Pemira Fh. Banyak Mahasiswa yang merasa kesusahan dikarenakan tidak adanya kepengurusan BEM dan DPM yang baru.

“Kacau, tidak ada kejelasan. Kprm dan Bawasra yang sudah terbentuk belum ada tindakan sama sekali. Kalau kita lihat dari fakultas lain kan sudah selesai semua,” ungkap Zam Rival Gibran salah seorang mahasiswa Fh yang diwawancarai tim MEDIAUnram.

“Dampaknya bagi saya adalah tidak ada tempat saya untuk mengadu sekarang, saya ini mahasiswa akhir banyak yang mau diurus, biasanya kemarin-kemarin sering dibantu sama Bem, tapi sekarang siapa lagi tempat saya mengadu,” lanjut mahasiswa yang kerap disapa Gibran tersebut.

Tidak hanya Gibran, ungkapan senada juga dilontarkan oleh Annisa Raudatul Rahman, salah satu Mahasiswi Fh Unram.

“Kan biasanya kalau abis uas itu ada aja masalah yg berhubungan sama nilai. Nah biasanya anak-anak Bem yg bantuin buat urus. Tapi tumben uas yg kemarin kaya sepi banget anak-anak bem, eh ternyata baru tau kalau pemilihan bem itu belum dilaksanain, aku kira masi kepemimpinan yg lama,” Tuturnya.

Mungkin kalau ada masalah ukt atau lainnya besok, sebisa mungkin terpaksa kita yang harus ngurus sendiri. Ya walaupun bakal ribet pasti, tapi mau gimana lagi,” Sambung mahasiswi semester 6 tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua KPRM Fh Unram tahun 2022 mengatakan bahwa pemira diundur dikarenakan penerimaan ketua beserta anggota Kprm dan Bawasra telat pada tanggal 13 Desember 2022 dari DPM Fh.

“Karena itu kita telat mengadakan pemira di Fh, dan juga kondisi sekarang ialah waktu libur semester tiba,” tukasnya.

Lalu Rizaldy Darma Tandela selaku Ketua DPM Fh periode 2022 menolak berpendapat ketika dihubungi oleh tim MEDIAUnram, ia menyarankan Tim MEDIAUnram agar menghubungi sekjendnya yakni Gema Ayodya.

“Kprm adalah lembaga independen, dan Dpm tidak bisa mengitervensi itu. Dpm hanya bisa jika Kprm bertanya maka Dpm menjawab, tidak bisa selebihnya. Sekarang yang mengawal mereka dari pihak birokrasi. Yang penting kami sudah memberikan semua draft yang dibutuhkan Kprm dan Bawasra,” tegas Gema Ayodya selaku Sekjend DPM Fh Unram 2022.

Berdasarkan keresahan mahasiswa tersebut ditambah isu “maruk kekuasaan” yang beredar,  tim MEDIAUnram juga menghubungi Raudatul Atfal selaku Pj Ketua BEM Fh Unram 2022 untuk menanggapi hal tersebut.

Ia menuturkan bahwa, memang  benar Wakil Dekan 3 (WD3) Fakultas hukum memintanya untuk memperpanjang SK untuk mengisi kekosongan, namun sampai sekarang SK tersebut masih belum diterbitkan.

“Dalam hal ini bukan bem yg haus kekuasaan, dari bulan Desember kita nunggu Kprm buat laksanakan pemira secepatnya sesuai surat keputusan (SK) kita bekerja,” balasnya ketika dihubungi melalui pesan singkat What’s App (WA) oleh Tim MEDIAUnram.

“Sekarang mau ngurus mahasiswa sudah banyak kendala, karena memang kita sedang sibuk KKN dan Badan Pengurus Harian (BPH) bem juga punya urusan masing-masing,” sambungnya.

Dari sekian banyaknya polemik diatas, Raudatul Atfal selaku Pj Ketua BEM 2022 mengharapkan agar Pemira Fh Unram segera dilaksanakan.

“Saya berharap Kprm segera kerja kayak Fakultas lain, Supaya aman apa-apa ini. Mudah-mudahan periode berikutnya tidak terulang seperti ini lagi,” harapnya, sembari mengakhiri wawancara dengan Tim MEDIAUnram. (Zhr/Albn)

Mahasiswa KKN Unram Hadirkan Terobosan Melalui Pelatihan Pembuatan Silase

0

 

Lombok Timur, MEDIA – Mahasiswa Universitas Mataram yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) di Desa Jurit Baru, kecamatan pringgasela. Membuat suatu program dan terobosan yang luar biasa yaitu pelatihan pembuatan silase untuk masyarakat Desa Jurit Baru, Rabu (11/1).

Kegiatan tersebut dilaksanakan mengingat banyaknya masyarakat desa jurit baru yang beternak hewan, khususnya sapi. “terlebih didesa jurit baru ini masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pemberian pakan ternak yang benar,” ujar Ermi Iwahyuni selaku penanggung jawab krgiatan.

Ermi Wahyuni menerangkan, bahwa dalam manajemen atau tata laksana pemeliharaan ternak, pakan ternak mempunyai peran yang sangat penting bagi ternak, baik pakan yang berupa bahan organik maupun yang nonorganik untuk kepentingan kesehatan ternak. 

“kualitas pakan dapat menjadi perhatian penting dalam pemberian pakan ternak. pakan ternak yang baik dapat mencukupi nutrisi yang diperlukan oleh ternak itu sendiri. jumlah nutrisi yang dibutuhkan ternak tergantung dari jenis ternak, bobot badan  ternak dan umur ternak,” Lanjutnya.

 Dalam kegiatan tersebut pakan silase yang lebih difokuskan. Pakan silase merupakan salah satu hijauan segar yang bisa menjadi alternatif untuk mencukupi nutrisi pakan ternak dan pengawetanannya melalui proses fermentasi.

Keuntungan dari pakan silase yakni bahan yang digunakan merupakan bahan-bahan yang yang gampang di didapatkan . dengan membuat pakan silase diharapkan masyarakat dapat mengurangi dalam proses penyabitan rumput, yang mulanya dilakukan 3 kali sehari menjadi 1 kali sehari.  

oleh karena hal tersebut, Mahasiswa KKNT Universitas Mataram  Desa Jurit Baru mengadakan pelatihan pembuatan pakan ternak (silase).

Sementara itu Sunarhadi staf resot kembang kuning mengatakan, pakan ternak diberikan 10% dari berat badan. “Saya berharap dengan diadakannya pelatihan ini semoga dapat memberikan pemahaman bagi masyarakat  tentang bagaimana cara pemberian pakan yang baik dan benar” Sambungnya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Dusun Selak aik, Desa Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela. Turut mengundang narasumber dari pihak UPTD Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kecamatan Pringgasela dan Kecamatan Masbagik. Hamzanwadi selaku narasumber  Acara tersebut mengingatkan masyarakat untuk merubah pola pemberian pakan.

Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat setempat dan perwakilan dari resort Kembang Kuning TNGR. Ermi Iwahyuni Selaku penanggung jawab dari program ini berharap kegiatan ini bisa berjalan merata di semua dusun desa jurit baru. (Zhr/Advetorial)

 

 

Organisasi vs Magang: Organisasi Kampus Kalah dengan Magang?

1

Oleh: M. Rido Fajri

Apakah Organisasi mahasiswa mulai kehilangan eksistensi?

Sedang menjadi buah bibir dimana-mana, katanya organisasi kampus sudah kehilangan pamor dan tidak berguna lagi. Saingan terberat organisasi kampus saat ini adalah magang dan program-program exchange atau komunitas leadership yang lebih luas jangkauannya semacam program dari MBKM, tedX, Aiesec, dsbnya.

Akhir-akhir ini pengurus organisasi mahasiswa dihadapi oleh fenomena penurunan progres dan kehilangan personil inti ditambah dengan penurunan jumlah rekrutmen anggota baru. Puncak fenomena ini sangat terasa ketika program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek RI mulai tahun 2020 kemudian berhasil dilaksanakan secara offline pada tahun 2022 ini.

Program MBKM ini memberikan kesempaatan bagi mahasiswa/i untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun langsung ke dunia kerja sebagai persiapan karier masa depan. Dalam penerapannya mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk 1 (satu) semester (setara dengan 20 SKS) menempuh pembelajaran di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama; dan paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS menempuh pembelajaran pada program studi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda, pembelajaran pada program studi yang berbeda di perguruan tinggi yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar perguruan tingginya. Jadi, mahasiswa nantinya secara tidak langsung akan diajak untuk belajar caranya hidup di lingkungan masyarakat. Pada dasarnya kebijakan tersebut bertujuan untuk dapat mengenalkan adanya dunia kerja pada mahasiswa sejak dini. (Savima.com, 2021)

Namun, bertolak belakang dengan tujuan baiknya muncul masalah baru pada organisasi mahasiswa. Masalah yang timbul karena banyak mahasiswa pengurus organisasi yang mengikuti proram tersebut, yaitu mulai dari kekurangan anggota aktif, penurunan rekrutmen anggota baru, perombakan pengurus inti, tersendatnya program kerja sehingga tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan masalah organisasi lainnya. Kemudian, secara berkelanjutan berdampak pada ketidakmaksimalannya kontribusi, regenerasi, hingga kaderisasi dalam masing-masing organisasi. Sehingga kegiatan berjalan ala kadarnya dan tidak benar-benar mencerminkan tujuan akibat terlalu sibuk menjaga keutuhan internal.

Dahulu, ketika ditanya apa kegiatan yang superior bagi mahasiswa, jawabannya adalah organisasi, tetapi banyak dari mahasiswa sekarang justru berlomba-lomba untuk magang. Hal tersebut menjadikan eksistensi organisasi kian tergerus, terlebih di tengah pandemi yang menjadikan organisasi tidak dapat seutuhnya “terbang” sebebas dahulu.

Padahal, organisasi adalah tempat paling aman bagi mahasiswa untuk “berbuat kesalahan” dan belajar. Berbeda dengan magang, yang notabenenya sudah berbicara tentang perusahaan dan bisnis. Organisasi diibaratkan sebagai langkah pertama untuk mencari pengetahuan dan pengalaman sebelum memasuki dunia kerja, yang salah satunya adalah magang itu sendiri. Namun, realitasnya organisasi sering kali dianggap kurang berinovasi dan beradaptasi yang menjadikannya dianggap tidak relevan lagi bagi beberapa kalangan mahasiswa. Organisasi menjadi tempat pertama kali belajar memimpin, tentang dipercaya dan mempercayai orang lain, yang membuka pikiran serta pandangan baru untuk bisa beradaptasi.

Namun, banyak pula mahasiswa yang justru menganggap organisasi tidak lagi relevan untuk diikuti, terlebih di tengah implementasi program MBKM Magang. Padahal, relevan atau tidaknya, tergantung kultur organisasi yang dipilih dan pribadi mereka sendiri.

Atas banyaknya asumsi yang menjelaskan lebih unggul organisasi atau magang? Maka, mari coba kita bedah dengan studi perbandingan.

Jika kita menggunakan PoV mahasiswa yang ingin mendaftar sesuatu, ini adalah perbandingan benefit yang akan didapatkan di keduanya dilihat dari segi keuangan, pendalaman skill, dan relasi, antara lain:

  1. Segi keuangan
  2. Organisasi mahasiswa

Ngeluarin uang banyak, untuk:

  • Kas anggota tiap bulan
  • Beli PDH yang kadang tidak bisa dipakai lagi
  • Nombokin danusan bisa sampai ratusan ribu
  1. Magang: Justru kebanyakan dapat uang sebagai fee magang, kalaupun tidak biasanya ada uang makan
  2. Segi pendalaman skill
  3. Organisasi mahasiswa: Biasanya sih belajar publick speaking, people management tapi lebih sering ada masalah politis
  4. Magang: Sama-sama bisa mendapatkan pendalaman skill seperti organisasi kampus, tapi lingkupnya lebih lebar dan luas
  5. Segi Relasi
  6. Organisasi mahasiswa: Bisa dapat kenalan dari senior dan teman lintas jurusan/fakultas.
  7. Magang: Bisa dapat kenalan dari orang yang berpengalaman di bidang yang ingin kita telusuri karirnya dan teman-teman satu tim, mungkin bisa dari berbagai universitas.

Hmm jika kalau dibandingkan, sepertinya organisasi kampus jadi tidak terlihat semenarik itu ya?

Eits, tapi ini yang penting. Kita harus bisa membedakan tujuan dari keduanya.

  1. Organisasi mahasiswa bertujuan untuk Karena ini lembaga organisasi, tujuannya untuk memberi layanan sesuai tri dharma dan menyelesaikan masalah kemahasiswaan di kampus. Jadi, kita akan belajar bersosialisasi dan memulai komunikasi strategis tingkat dasar. Sangat komunal dan cocok untuk melatih social skills Dan yang terpenting dalam organisasi, kaderiasasi penjenjangan kepemimpinan didapatkan lebih leluasa. Oleh karena itu, skill organisasi akan mengakselerasikan upgreading karir dalam kompetisi magang.
  2. Magang bertujuan untuk Sesuai namanya, magang bertujuan untuk mempersiapkan karir kita. Jadi disini kamu akan memberikan skills yang kamu kuasai untuk kepentingan target perusahaan, dan belajar lebih lanjut bidang yang ingin kita tekuni. Maka, yang didapatkan saat magang akan sangat berbeda antar individu, menyesuaikan kebutuhan pengembangan karirnya.

Apa yang perlu dilakukan pemimpin dan jajaran pengurus organisasi agar gak kalah dari magang dan agenda eksternal kampus lainnya?

Perlu dipahami, organisasi kampus dan magang itu bukan saingan. Jadi keduanya bukan subtitusi yang bisa menggantikan satu sama lain. Harusnya, organisasi kampus gak merasa kalah dan bisa membacanya sebagai potensi untuk belajar dari tingginya antusiasme magang ini.

Justru, ini bisa menjadi peluang untuk pengurus organisasi kampus untuk:

  1. Melaksanakan program kerja berbasis Human Centered Design, jadi cari tahu dulu apa yang anggota dan penerima manfaatmu butuhkan. Buatlah asesmen (upaya mendapatkan data/informasi) dan banyak-banyak research supaya banyak refrensi. Jangan sampai cuma ngulang-ngulang program saja karena bisa jadi sudah tidak relevan.
  2. Membangun sistem kerja yang jelas, yang lebih meng-empower Jangan ada rapat-rapat telat sampai tengah malam, buat jobdesk/tupoksi rinci, beri anggota ruang berpendapat, dan pastinya, beri target yang jelas.
  3. Kolaborasi! Yap, kolaborasi ini bukan cuma dengan organisasi kampus sebelah, tapi juga dengan berbagai startup, corporate, agency. Bukan cuma dalam bentuk sponsorship, tapi juga bisa berpartner misal untuk menjadi pengisi acara, mengadakan acara berdua atau menjadi mentor.

Saat tiga hal ini dijalankan, ekosistem organisasi kampus akan bertumbuh. Organisasi kampus bisa menjadi ruang untuk para pengurus dan anggotanya belajar dan berkembang.

Tidak apa-apa pengurus organisasi juga magang di perusahaan A atau startup B, karena memang magang dan organisasi itu dua hal yang berbeda. Disinilah peran organisasi bisa menjadi tempat untuk anggotanya mengeksplor banyak hal di dalam kampus, sebelum mempersiapkan karirnya di luar kampus.

Dari studi banding yang penulis pernah ikuti dengan Universitas Andalas dan Institut Pertanian Bogor dengan hasil bahwa kedua universitas tersebut mengalami permasalahan yang sama dengan yang kita rasakan saat ini. Namun, kedua universitas ini telah berhasil mengkolaborasikan irisan kesamaan antara organisasi mahasiswa, akademik, dan program MBKM yang notabenenya magang menjadi sebuah sistem yang terpadu. Program MBKM yang berhubungan dengan akademik dapat dijadikan satu kesatuan penilaian SKS. Maksudnya adalah mata kuliah yang dapat diimplementasi dikegiatan MBKM akan masuk dalam sistem penilaian perkuliahan dengan terhitungnya SKS kuliah. Artinya MBKMnya dapat kuliah juga dapat. Kemudian kegiatan MBKM dan sistem perhitungan SKS kuliah ini diimplementasikan dalam program-program organisasi kemahasiswaan yang relevan dengan beberapa mata kuliah.

Contohnya, kegitan pengabdian dalam organisasi mahasiswa yang relevan dengan suatu mata kuliah seharusnya dapat terhitung SKSnya karena proses kompleksitas pembelajaran yang didapat selama pengabdian menjadi implementasi tridhrama perguruan tinggi yakni pengabdian. Contoh lainnya yaitu program magang yang disesuaikan dengan basic organisasi, misal BEM memiliki program magang di Kantor Gubernur atau DPM memiliki program magang di Kantor DPRD. Kemudian, mata kuliah masing-masing mahasiswa yang menjadi peserta/panitia dalam program itu seharunya dapat terhitung SKS kuliahnya. Sehingga pada akhirnya tidak ada kegiatan mahasiswa yang sia-sia dan tidak ada perspektif negatif yang ditimbulkan oleh satu sistem (misalnya MBKM) dengan sistem yang lain (Organisasi Mahasiswa). Kemudian sistem irisan ini akan membuat mahasiswa lebih mudah dalam mengefesien-efektifkan waktu, tenaga, pikiran, dan materialnya.

Tapi biasanya yang udah kenal magang dan dunia luar kampus tuh gak tertarik masuk organisasi kampus lagi. Akhirnya yang minat ke organisasi kampus justru turun terus.

Disitu poinnya. Pemimpin dan pengurus organisasi perlu berubah dan membuat organisasi kampus menjadi tempat yang masih menarik untuk dipilih. Sadari bahwa:

  1. Manusia itu take and give, dan memikirkan apa manfaatnya sesuatu itu untuk dirinya
  2. Ingat bahwa tujuan tiap orang tidak sama. Pintar pintarlah memilih tim yang setujuan, mau belajar dan berkembang bersamamu
  3. Feedback tidak hanya dalam bentuk materi atau skill, bisa jadi kebermanfaatan ataupun pertemanan yang sehat juga menjadi daya tawar organisasi.

Oh iya, kita bisa juga mengajak teman-teman yang magang untuk bergabung menempati post strategis di organisasi ataupun sharing menjadi konsultan untuk mengimplementasikan sistem kerja, mengadopsi tools-tools teamwork, dan belajar tentang adaptif dari hasil magang. Akan mengasyikkan jika organisasi kampus berani berubah dan menghilangkan stigma kuno, kan?!

Semoga pandangan saya ini bisa bermanfaat bagi pembacanya. Sekali lagi ini hanya opini dari penulis atas dasar keresahan yang dialami. Sekian dan terimakasih sudah membaca.

 

Penulis merupakan Mahasiswa Agribisnis, Fakultas Pertanian 2019

Refrensi: Google dan Instagram

Premanisme Satpam Unram

0

PREMANISME. Ya, premanisme adalah watak yang ditunjukkan satpam Unram kepada mahasiswa yang melaksanakan aksi di Depan Gedung Rektorat, Senin (5/12). Bagaimana tidak, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus mendapatkan tindakan represif dari pihak keamanan kampus. Sejumlah massa aksi dipukul, dihantam saat melakukan demonstrasi.

“Kami dikejar sampai ke luar wilayah kampus. Juga diancam akan dibunuh,” ungkap F, salah satu mahasiswa Unram yang menjadi korban kepada mediaunram.com.

Ucapan senada juga disampaikan koordinator aksi, T. Dia mengaku dirinya dipukul oleh satpam bagian belakang tubuhnya.

“Saya terjatuh kemudian diinjak. Saya bangun mencoba melerai dipukul lagi dan diinjak lagi, kemudian saya memanjat pagar besi tangan saya dipukul lagi, dan akhirnya saya didorong dan terjatuh,” jelasnya sembari menunjukkan beberapa luka di tubuhnya.

Kronologis Insiden Pemukulan terhadap Mahasiswa

Mulanya, sekitar pukul 11.56 Wita, mahasiswa menyampaikan beberapa orasi ilmiah di Kantin Rektorat Unram.

Menurut pengamatan mediaunram.com selama di lokasi, karena orasi tersebut dianggap mengganggu mahasiswa yang sedang malaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS), massa aksi diminta untuk menghentikan aksi.

Setelah diminta berhenti berorasi, massa aksi melakukan negosiasi dengan pihak keamanan kampus agar diberikan waktu untuk berorasi di depan Gedung Rektorat Unram usai UAS.

Setelah itu, massa aksi melanjutkan demonstrasi di lokasi yang telah disepakati. Mereka menyoroti persoalan Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM). Setelah menyampaikan tuntutan, terjadilah insiden saling mendorong antara mahasiswa dengan satpam Unram.

Kejadian semakin tak terbendung, massa aksi dipaksa mundur. Sejumlah mahasiswa menjadi sasaran bogem para satpam. Diantaranya adalah SA, AM, TK, MI, FR, DN dan AR.

“Saya dikejar sampai Lombo Kopi (kedai kopi,-red) bersama empat orang kawan saya, sambil saya diteriaki maling oleh satpam. Setelah tertangkap kemudian saya dicekik, diseret, bahkan saya dibanting dibagian belakang kepala, masyarakat tidak ada yang berani bantu karena dikira beneran maling,” beber SA kepada awak media.

Karena kejadian itu, SA sempat dirawat di RS Bhayangkara. Beberapa bagian tubuhnya luka-luka.

Sementara itu, Koordinator aksi Ramdani Naupal juga mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari satpam Unram. “Saya tiba-tiba dipukul dibagian dada, sampai saya terjatuh dan hampir tidak sadarkan diri,” beber Dani sembari menunjukkan lukanya.

“Saya dicekik, rambut saya ditarik oleh salah satu satpam, kemudian leher saya disayat menggunakan kunci dan perut saya ditendang, sampai saya tergeletak namun masih tetap ditendang,” sahut MI melanjutkan pernyataan Dani.

“Saya diseret dari lantai 2, namun pas ditangga saya dipukuli ditendang oleh satpam, pas saya angkat tangan menyerah tiba-tiba satu tangan melayang ke hidung saya hingga berdarah,” kata AM.

Dilansir dari Katada.id, kini kasus penganiayaan tersebut telah dilaporkan ke Polresta Mataram. Para korban juga telah divisum di RS Bhayangkara didampingi Satuan Reskrim Polresta Mataram.

Terkait permasalahan ini, media menghubungi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof Enny Yuliani untuk memberikan tanggapan. Pihak mediaunram.com beberapa kali menghubunginya via WhatsApp dan telepon, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada respon (balasan). (zhr)