24.2 C
Mataram
Thursday, June 11, 2026
spot_img
Home Blog Page 87

Senyum dan Tangis

0

Oleh: Michael A. Waroy

Sepasang mata mana yang tak suka melihat senyummu?
Hati siapa yang tidak mencintai senyumannmu?
Senyumannmu begitu indah.

Senyumannmu membuat kami belomba-lomba.
Kami berlomba untuk mendapatkan senyumannmu.
Kami berlomba agar lekuk bibirmu terus keatas.
Ya, kami berusaha menyingkirkan satu sama lain untuk itu.

Tapi mereka semua bodoh!
Hingga aku yang jadi juaranya.
Sebab cuma diriku yang dapatkan tangismu.

Mereka tak berpikir bahwa manusia sesungguhnya perlu tangisan untuk senyuman yang lebih indah.

Akulah juaranya;

Aku mendapatkan tangisan terdalammu.
Juga senyuman terindahmu.

 

Mataram, 2020

Kurangi Potensi Masuknya Paham Radikal, PIB Adakan Dialog Pancasila

0

Media Unram – Untuk mengurangi potensi masuknya pemahaman radikal bagi pemuda desa, Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKM PIB) Universitas Mataram (Unram) mengadakan Dialog pancasila, Sabtu (19/9).

Ketua umum PIB, Mustain Nasrullah menjelaskan, pemahaman radikal tidak hanya muncul dalam lingkungan kampus. Namun, dikalangan masyarakat desa, pemikiran radikal juga bisa muncul.

“Jadi jangan sampai ada pemahaman-pemahaman menyimpang mengenai pancasila yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Kemudian, lanjut Mustain, kegiatan ini sebagai bentuk program kerja dari Divisi Pengabdian Masyarakat. Juga menjalankan salah satu dari Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian.

“Tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada para pemuda, agar turut berperan dalam kegiatan desa atau daerah sekitar untuk menjaga ketertiban dan kerukunan dalam bermasyarakat sesuai dengan pancasila dan UUD 1945,” bebernya.

Kegiatan dengan tema “Merawat Kemajemukan, Menjaga Indonesia bersama Pemuda melalui Desa di Era Pandemi” ini menghadirkan beberapa narasumber. Seperti, Ketua DPD II KNPI Lombok Timur (Lotim), Muhammad Habiburrohman, Kapolres Lotim yang di wakili Kasat Intel Polres Lotim, Ketua GP Ansor Lotim Arif Rahman Fajar Septiawan. Serta para pemuda desa dan luar desa Masbagik Utara Baru.

Sementara itu, perwakilan Kapolres Lotim sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini harus dilaksanakan. “Agar kita tetap bisa menjaga kesatuan antar suku, ras dan agama,” tegasnya.

Kegiatan ini kegiatan yang diadakan di Kantor Desa, Masbagik Utara Baru ini mendapatkan pujian dari masyarakat, khususnya pemuda.

“Saya sangat antusias karena semangat para pemuda dari berbagai kalangan yang turut berpartisipasi dalam dialog pancasila ini,” ungkap ketua pelaksana Dialog Pancasila, Bayu.

Bayu berharap, para pemuda yang di desa dapat memahami secara mendalam tentang pancasila. “Yang terpenting adalah cara kita mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjutnya.

Acara tersebut kemudian ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada masing-masing narasumber dan pihak desa. (Ysr/Lnf)

RS Unram Dianggap Buruk

0

Media Unram – Kematian mahasiswa Fakuktas Teknik Universitas Mataram (Unram), Ivan Fauzi Ridwan yang dinyatakan positif Covid-19 oleh Rumah Sakit (RS) Universitas Mataram (Unram), nampaknya menjadi catatan buruk bagi keluarga.

“Para pegawainya ramah. Tapi mereka memiliki koordinasi yang buruk,” kata saudari Ivan, Mita Damayanti kepada Media Unram melalui WhatsApp, Sabtu (19/9).

Mita menjelaskan, manajemen RS Unram tidak memiliki koordinasi yang baik. Tidak bisa mengendalikan divisi-divisi yang ada dengan baik. Tidak bisa mendeteksi permasalahan teknis dengan baik. “Percuma ada manajemen di sana,” tegasnya.

Mita Damayanti. (MD/Ist)

Kemudian, lanjut Mita, pihak keluarga masih ragu dengan hasil rekaman cctv yang diberikan pihak RS. Pasalnya, mereka tidak diperlihatkan saat petugas melakukan tes swab kepada Ivan.

“Video itu banyak yang dipotong. Kami tidak melihat saat Ivan dilakukan tes swab. Bener nggak, Ivan udah swab lagi,” ucap perempuan alumni FKIP Unram ini.

Dia mengatakan, pihak keluarga juga merasa aneh dengan alasan RS Unram. Cctv merekam saat adanya pergerakan dari manusia, dan tidak cukup memori penyimpanan, sehingga banyak remakan video yang dipotong.

“Kalau memang alasannya video itu banyak dipotong karena si Ivan nggak bergerak, kenapa waktu sakratul mautnya, Ivan nggak dikasi lihat. Padahal bergerak. Kan aneh,” beber wanita yang sudah delapan tahun tinggal di Lombok ini.

Lebih jauh dia menjelaskan, mereka mengkhawatirkan, Ivan terpapar Covid-19 saat berada di RS Unram. Karena hasil pertama negafif dan kedua positif.

“Saya ada pemikiran gitu, karena temen saya juga punya cerita yang sama. Awalnya reaktif, tapi setelah di RS justru positif,” katanya.

Mita juga berpesan kepada seluruh mahasiswa Unram, khususnya mahasiswa teknik, agar tidak terlalu mengkhawatirkan dan memikirkan keadaan ini. Karena menurutnya, Ivan belum tentu benar terpapar Covid-19.

Sementara itu, Wakil Direktur RS Unram, dr. Adanto Wiweko menjelaskan, video rekaman cctv yang dipotong, guna menghemat penyimpanan.
“Sistem cctv yang ada itu merekam ketika ada manusia yang bergerak. Sehingga, banyak video yang kami potong. Karena kami juga memiliki pasien lain. Dan, Penyimpanan RS Unram bisa penuh,” bebernya.

dr. Adnanto Wiweko. (MD/Ist)

Kemudian, lanjut Adnanto, pihak RS melakukan swab tes sebanyak dua kali berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) terbaru, yang keluar Juli lalu. Untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, swabnya dilakukan sebanyak dua kali. Baik di hari pertama atau ketiga, tergantung kondisi pasien.

“Kami melakukannya di hari pertama dan ketiga, tanggal 11 sama tanggal 13 atau 14, saya agak lupa. Intinya dua kali, karena beda protokol dengan yang di rumah. Kalo yang di rawat di rumah swabnya untuk mengetahui dia sudah sembuh atau belum bisa satu kali, dua kali, atau tiga kali. Ketika sudah negatif, sudah selesai,” pungkasnya. (khn)

Timdiksi Nasional 2020 Diadakan Secara Online dan Istimewa

0

Media Unram – Untuk meningkatkan silaturahmi antar mahasiswa Bidikmisi se-Indonesia. Juga, sebagai sarana mengembangkan potensi diri, Departemen Prestasi Forum Mahasiswa Bidikmisi (Formadiksi) Universitas Mataram (Unram) mengadakan kegiatan Timdiksi Nasional 2020. Kali ini dilaksanakan secara online.

Ketua panita, Hamzani menjelaskan, kegiatan yang digelar pada 10-14 September ini bertepatan dengan satu dekade berdirinya bidikmisi.
“Kami mengangkat tema ‘Mahakarya Satu Dekade Bidikmisi Menuju Indonesia Emas 2045’. Karena pelaksanaan kegiatan ini bertepatan dengan satu dekade,” katanya dalam sambutan.

Kemudian, lanjut Hamzani, pelaksanaan Timdiksi Nasional tahun ini lebih istimewa dari tahun sebelumnya. Karena menghadirkan dan memberikan penghargaan kepada mahasiswa Bidikmisi berprestasi Unram.

Ketua Panitia, Hamzani saat memberikan sambutan. (MD/Ist)

Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari, 10-14 September ini juga terdapat berbagai seminar nasional. Wakil Rektor (WR) Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unram, pembina formadiksi, Kasubag bagian Kesejahteraan Mahasiswa, juri setiap cabang lomba, alumni dan senior bidikmisi, para nominasi bidikmisi awards, dan ketua Organisasi Mahasiswa (Ormawa) se-Unram.

“Sedangkan para finalis setiap cabang lomba mengikuti kegiatan secara online melalui aplikasi zoom yang juga dapat disaksikan langsung melalui Youtube Formadiksi Unram,” lanjut Hamzani.

Hamzani juga menjelaskan tujuan kegiatan ini. Berikut pemaparannya:

1. Menjalin silaturrahim antar mahasiswa bidikmisi Universitas Mataram dengan mahasiswa Bidikmisi di Indonesia melalui Kompetisi Karya Ilmiah.
2. Menjalin silaturahim Universitas Mataram dan perguruan tinggi negeri maupun swasta penerima bidikmisi se-Indonesia.
3. Meningkatkan kemahiran, kecakapan, dan kreativitas mahasiswa bidikmisi dalam bidang kepenulisan.
4. Menumbuhkan semangat berdaya saing mahasiswa bidikmisi.

Sementara itu, WR III Unram, Enny Yuliani mengatakan, Bidikmisi telah memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi.

“Serta menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang produktif dan mandiri,” katanya dalam sambutan Seminar Nasional dengan tema “Optimalisasi Peran Mahasiswa Bidikmisi Melalui Pendidikan Berkualitas Di Era New Normal Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045” di depan 742 peserta.

Setelah itu, pemotongan tumpeng yang diikuti pmbina Formadiksi Unram, Oryza Pneumatica Inderasari

Bapak Bidikmisi sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 2009-2014, Mohammad Nuh DEA juga mengisi kegiatan ini secara daring.

“Acara Seminar Nasional ini juga diisi oleh Bapak Bidikmisi yakni Prof. Dr.Ir Mohammad Nuh DEA yang juga merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 2009-2014 dan Alumni Bidikmisi Unram angkatan pertama,” ungkap Fauzin selaku Ketua Umum Formadiksi dalam sambutannya.

Selanjutnya, acara seminar nasional melalui zoom di mulai oleh Fitria Tisa Oktavia, Ph.D (Cand), alumni Bidikmisi Unram tahun 2010.

Kemudian diisi oleh Mohammad Nuh, DEA. Dia menjelaskan, esensi pendidikan adalah belajar. “Pendidikan adalah sistem rekayasa sosial terbaik dan teruji untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan” katanya.

Acara ditutup dengan persembahan video kolaborasi silat mahasiswa Bidikmisi dan tarian pasga MA NW Aik Ampat. (Lnf)

Keluarga Ivan Mengeluhkan Keputusan RS Unram

0

Media Unram – Hasil swab tes yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit (RS) Universitas Mataram (Unram) menyatakan Ivan Fauzi Ridwan meninggal karena terkena Covid-19. Namun, pihak keluarga masih belum sepenuhnya menerima hal itu. Benarkah Ivan telah dilakukan swab tes untuk kedua kalinya.

Mita menjelaskan, pihak RS Unram belum memberikan bukti kepada keluarga, bahwa mereka telah melakukan swab tes kembali.

Selain hasil swab yang mencurigakan, karena waktu pengecekan dengan hasilnya berselang 32 detik dan dikeluarkan setelah Ivan meninggal. Pihak keluarga juga nampak dipersulit saat ingin melihat rekaman cctv.

“Kemarin, kami sudah ingin melihat. Tapi disuruh hari ini. Setelah menonton, kami tidak diperlihatkan waktu pihak RS melakukan swab tes. Yang diperlihatkan hanya saat mereka mengurus jenazah Ivan. Jadi ini masih ngambang,” katanya kepada Media Unram melalui WhatsApp, Jumat (18/9).

Kemudian, lanjut Mita, tidak terlihat pengawalan saat pemakaman jenazah Ivan. Lalu yang menimbun tanah adalah petugas gali kubur tanpa menggunakan Alat Pelindung Badan (APB). Ivan dimakamkan di TPU Karang Medain.

“Setau saya, ketika ada pemakaman jenazah yang terkena Covid-19, mulai dari yang penggalian liang lahad hingga penimbunan menggunakan APD yang lengkap. Serta kuburannya kok berdekatan dengan kuburan yang bukan terkena Covid. Harusnya kan dibedakan,” beber perempuan berkacamata ini.

Tidak hanya itu, nama Ivan juga tidak terdaftar dalam press release. Baik yang ada di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun daerah asal Ivan, Sukabumi, Jawa Barat (Jabar).
“Sampai hari ini, Kamis (17/9) namanya Ivan belum terdaftar. Ini kan aneh,” katanya.

Pihak keluarga juga merasa ambigu dengan pernyataan RS, bahwa segala yang berkaitan dengan Covid-19 ditanggung pemerintah.

“Katanya, semuanya ditanggung pemerintah. Tapi kok biaya pemakaman dan gali kubur, kami yang urus. Kami tidak mempermasalahkan uang. Cuman kami heran aja,” kata ayah Ivan, disela-sela pembicaraan Mita.

Sementara itu, Wakil Direktur RS Unram, dr. Adanto Wiweko menjelaskan, rumah sakit tidak berhak untuk memasukan data Ivan ke dalam press release. Karena itu bagian dari wewenang Satuan Tugas (Satgas) Covid-19.

“Setiap sore kami melaporkan yang positif berapa dan yang negatif berapa. Saya sendiri punya pengalaman ada yang rilis dihari yang sama ada yang menunggu satu bulan atau sehari setelahnya,” ucapnya.

Kemudian, lanjut Adnanto, petugas RS Unram hanya mengantar dan memasukkan jenazah ke dalam kubur. “Yang menimbun itu masyarakat,” katanya.

dr. Adnanto Wiweko (MD/Ist)

Lebih jauh dia menjelaskan, awalnya Pemerintah Kota (Pemkot) memiliki satgas pemakaman. Namun, sudah tidak ada sejak Juli lalu. Hanya RS Kota Mataram dan RSUD Provinsi saja yang mampu melakukan penimbunan. Karena kedua RS itu memiliki Satpol PP.

“RS Unram tidak mampu melakukan penimbunan, juga penggalian. Tidak mungkin memerintahkan pegawai saya melakukan itu. Karena sampai saat ini kan juga aturan itu tidak begitu jelas jadi semuanya ditanggung rumah sakit,” jelasnya kepada Media Unram.

Adnanto juga mengaku, pihaknya tidak mengetahui terkait uang pemakaman. Menurutnya, RS Unram bukan dinas yang bisa berbuat banyak. Sudah mengirim petugas hingga ke TPU adalah usaha yang baik dari Unram.

“Bayangkan, sekali ngirim itu menggunakan enam APD, dikali Rp. 500rb, kan banyak. Kalau disuruh dimakamkan dan sebagainya, kita kaya lilin, kita tolong orang kita juga hancur. Saya juga harus jaga performa anak-anak saya. Kalo mereka melakukan yang terlalu jauh dari tugas mereka pasti akan ada masalah internal,” jelasnya.

Menurutnya, masalah pemakaman memang tidak ideal. Seharusnya, kata dia, Pemda atau pemerintah mengambil ambil peran. “Kalau diserahkan ke rumah sakit jelas, kami ndak mau,” ungkapnya.

Terkait pengamanan, Adnanto mengatakan, tidak semua butuh keamanan. Polisi memiliki SOP, polisi dapat menentukan mana yang perlu dikawal dan yang tidak. Salah satu indikator yang perlu dikawal adalah tergantung daerah. Apakah sebelumnya pernah diprotes atau tidak.

“Pada kasus ini, kemarin kita lapor. Kami mengatakan bahwa alm. Ivan mahasiswa kami. Jadi polisi memutuskan untuk tidak mengirim orang. Menurut saya juga memang sedah tepat, istilahnya menghemat sumber daya. Kalau memang tidak perlu, buat apa,” kata Adnanto.

Dia juga mengakui, selama RS Unram memakamkan pasien, hanya dua kali mendapatkan pengawalan. Karena sebelumnya, mereka menyelesaikan secara baik-baik.

“Makanya saya agak kaget, keluarga komplain, setau saya udah oke. Saya baru sadar, karena satu masalah. Ternyata bapak ibu pasien tidak ada di sini, jadi mungkin infonya tidak tersampaikan dengan baik dan kedua mungkin ada penarikan biaya dari pemakaman,” bebernya.

Di ujung pembicaraanya, Adnanto juga menjelaskan, pihak RS Unram sudah memberikan 169 file rekaman cctv.

“Kita hanya merekam ketika ada gerakan saja agar tidak penuh penyimpanan kami,” pungkasnya. (khn)

Benarkah Mahasiswa Teknik Unram itu Meninggal Akibat Covid-19?

0
Rumah Sakit Unram (MD/roy)

Mita: Swab kedua Ivan dilakukan setelah atau sebelum meninggal?

Media Unram – Kasus meninggalnya Ivan Fauzi Ridwan, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) yang dinyatakan positif Covid-19 oleh Rumah Sakit (RS) Unram nampaknya menimbulkan tanda tanya bagi keluarga.

Kakak kandung Ivan, Mita Damayanti meragukan hasil swap RS Unram yang menyatakan bahwa adiknya terkena virus Covid-19. Pasalnya, hasil tes pertama dan kedua berbeda.

“Kok bisa hasil pertamanya negatif. Terus hasil keduanya positif,” katanya saat ditemui Media Unram di M Hotel, Cakranegara, Kamis (17/9).

Mita menjelaskan, swab tes pertama benar, minimal 2×24 jam. Waktu tesnya Jumat (11/9) pukul 06.03 WITA. Minggu (13/9) pukul 07.27 WITA, hasilnya keluar.

Kemudian, lanjut Mita, saat swab kedua, waktu tesnya Minggu (15/9) pukul 01.34.36 WITA, dan hasilnya keluar pukul 01.34.59. Selisih 32 detik.

Kakak Ivan, Mita Damayanti (MD/khn)

“Ivan meninggal pukul 00.35. Nah dia di swab kedua setelah dia meninggal atau sebelum?,” heran Mita.

Lebih jauh Mita menjelaskan, pihak keluarga sudah menanyakan hal ini kepasa pihak RS. Mereka mengaku, lanjut Mita, human error. Buru-buru. Swab tes tidak hanya malam itu, tapi tanggal 14 pagi.

“Cuman karena Ivan keburu meninggal, jadi saya langsung buru-buru telpon lab minta langsung dikeluarin hasil swabnya,” ceritanya, menjelaskan perkataan pihak RS Unram.

Terkait hal itu,  Mita dan ayahnya, Mumu Muhidin meminta rekaman cctv RS Unram. Untuk memastikan apakah Ivan benar sudah dilakukan tes swab. Namun, pihak RS meminta Mita dan ayahnya datang pada keesokan harinya.

“Kita juga sempat berdebat dengan pihak RS. Masa cuman mau nonton rekaman cctv aja harus pake surat segala. Setau saya, nggak perlu pake surat. Saya ini ayahnya. Orang tuanya,” ucap bapak yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat itu.

Sebelumnya, kata Mita, Senin (7/9) lalu mereka mendapatkan surat rujukan untuk melakukan rapid tes di RS Hepatica. Dari hasil tes tersebut, adiknya dinyatakan reaktif dan dia non reaktif. Kemudian, Kamis (10/9) Ivan dibawa menuju RS Unram untuk dilakukan swap tes, dan mendapatkan giliran pada hari Jumat. Begitu sampai di RS, Ifan segera dibawa ke ruang isolasi.

“Waktu hari Jumat itu, ketika saya mau swab Ivan, kondisinya gak memungkinkan banget. Benar-benar udah down,” kata alumni FKIP Unram ini.

Yang membuat curiga juga, lanjutnya, saat petugas RS menjelaskan kepada pihak keluarga untuk tetap tenang dan merasa khawatir jika seandainya Ifan terkena virus Covid-19. Tes dahak, tes darah, dan semuanya ditanggung pemerintah.

“Jadi seakan-akan dia udah ngasi tau semua, tapi saya gak ngeh. Terus, sorenya dibawa ke ruang isolasi. Disini saya juga sempat mikir, ‘kenapa ya diisolasi banget’, mungkin karena dia reaktif,” bebernya.

Pada waktu yang sama, Yudi Kurniawan menjelaskan, keluarga sudah memeriksa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pihak keluarga mengkhawatirkan Ivan mengidap penyakit pneumonia.

“Waktu di sana, disuruh ronsen. Setelah itu, dirujuk di RS Catur Warga. Hasilnya TBC. Syukur gak ada pneumonia, karena itu sebelas dua belas sama corona,” beber Yudi.

Bagaimana tanggapan Pihak RS Unram terkait hal ini?

Sementara itu, Media Unram juga menguhubungi pihak RS Unram. Wakil Direktur RS Unram dr. Adnanto Wiweko mengakui, ada gejala pada pernapasan Ivan.

dr. Adnanto Wiweko

“Setelah kita tracking dan cek memang menderita TBC dan sudah diterapi hampir satu tahun. Karena saat ini TB dan Covid gambaran paru-parunya mirip. Sementara kita sesuaikan dulu, saya kan harus melindungi pasien lain,” katanya saat ditemui Media Unram, Jumat (18/9).

Kemudian, lanjutnya, alasan dilakukannya swab tes sebanyak dua kali berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) terbaru, yang keluar Juli lalu. Untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, swabnya dilakukan sebanyak dua kali. Baik di hari pertama atau ketiga, tergantung kondisi pasien.

“Kami melakukannya di hari pertama dan ketiga, tanggal 11 sama tanggal 13 atau 14, saya agak lupa. Intinya dua kali, karena beda protokol dengan yang di rumah. Kalo yang di rawat di rumah swabnya untuk mengetahui dia sudah sembuh atau belum bisa satu kali, dua kali, atau tiga kali. Ketika sudah negatif, sudah selesai,” bebernya.

Adnanto menjelaskan, karena di RS terdapat pasien lain, kita harus tau jenis penyakitnya, dan yakin bahwa penyakitnya memang ada. Alasan swab pertama dan kedua berbeda, karena penyebaran virus ketika tes pertama tidak terlalu banyak.

“Jadi di PCR hasilnya negatif. Begitu sudah beberapa hari dia berkembang, dan virusnya banyak yang terambil dan hasilnya positif,” katanya.

Selanjutnya, dia mengatakan adanya kesalahan dari tes pertama. “Kami melakukan semua pasien termasuk ibu hamil yang melahirkan di sini untuk tes swab sebelum dan sesudah operasi. Untuk meyakinkan dia sudah bebas. Kalo positif ya sesuai aturan, pertama pengobatannya covid, kedua ga boleh ditarik biaya, ketiga kalo meninggal harus ikut protokol,” pungkasnya. Bersambung (khn)

 

Anisa, Gadis yang Meraih Gelar Sarjana Teknik Termuda di Unram

0

 Lalu Wiraahman Wiradharma: Berdasarkan data yang ada di Unram, belum pernah ada yang menyelesaikan program studi teknik sipil di bawah usia 20 tahun.

Media Unram – Dikalangan masyarakat, jurusan teknik melekat dengan stigma lulusnya yang lama. Jurusan yang tidak bisa diselesaikan dengan tepat waktu. Namun, hal itu bisa disanggah oleh Baiq Anisa Dwiz Octavia, lulusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram).

Wanita yang berasal dari Lombok Timur (Lotim) ini berhasil menorehkan prestasi sebagai wisudawan terbaik dan termuda dengan usia 19 tahun.

Anisa menjelaskan, tidak ada kiat-kiat yang dilakukan selama menjalani perkuliahan.

“Dalam jurusan teknik, itu ada tugas besar dan praktikum. Dua hal itu tidak boleh gugur. Kalo tidak lolos otomatis tidak bisa ikut ujian, jadi bakal ngulang lagi,” bebernya dalam sebuah stasiun tv lokal.

Pada waktu yang sama, dosen fakultas teknik, Lalu Wiraahman Wiradharma menjelaskan, teknik sipil merupakan jurusan yang susah. Walapun ada kemungkinan, tidak mudah diselesaikan dalam waktu yang tepat dan cepat.

“Membutuhkan banyak hal, kerja keras, tahan banting, agar dapat menyelesaikan kuliah dengan cepat,” katanya.

Wiraahman juga menjelaskan, berdasarkan data yang ada di kampus, belum pernah ada yang menyelesaikan program studi teknik sipil di bawah usia 20 tahun.

Kemudian, lanjutnya, setiap mata kuliah di fakultas teknik mempunyai tugas besar yang harus diselesaikan.

“Agar mendapatkan surat puas tugas besar, surat puas praktikum yang kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk setiap tahapan perkuliahan itu. Untuk KKN kalau surat puasnya belum cukup maka tidak bisa ikut,” ucapnya.

Untuk biaya kuliah, Anisa dibiayai oleh pamannya. Ia juga mendapatkan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) subsidi rendah.

“Saya tidak punya motor, jadi ke mana-mana sama teman, sebagai balas budi saya bantu belajar, ngerjakan tugas. Sebisa mungkin saya ada timbal balik untuk mereka,” beber gadis berkulit putih itu.

Menurut informasi yang diperoleh Media Unram, Anisa merupakan anak yatim.  “Ayahnya sudah meninggal dunia dan boleh dibilang kurang mampu dari segi ekonomi,” kata Wirrahman melalui WhatsApp, Rabu (3/9).

Sebenarnya, Anisa berkuliah selama empat tahun di fakultas teknik Unram. Namun, akselerasi Sekolah Dasar (SD) selama lima tahun, Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun,  dan Sekolah Menengah Akhir (SMA) selama dua tahun.

“Jadi masuk teknik masih muda umur 15 tahun,” jelas Wirrahman.

Wirrahman berharap, ini bisa menginspirasi anak-anak muda milenial.

Karena ditengah kekurangannya, Anisa bisa membuat rekor lulusan sarjana termuda di fakultas teknik. (b)

Tiga Lokasi Sunset Terbaik di Lombok yang Harus Kamu Kunjungi

0
Pantai dua. (md/lnf)

Media Unram – Melihat matahari terbenam atau istilah kekiniannya “Sunset”, sampai saat ini masih menjadi primadona bagi masyarakat. Sebagian orang melihat sunset ini memiliki daya tarik tersendiri.

Namun sayang, adanya pandemi Covid-19 ini menghalangi sebagian masyarakat untuk menikmati sunset. Tapi, selama kita bisa mengikuti protokol Covid-19, kita bisa mengunjungi beberapa daerah wisata tersebut.

Berikut rekomendasi tiga lokasi sunset terbaik di Lombok yang bisa kamu kunjungi:

 

  1. Bukit Merese
Sunset di Bukit Merese. (MD/lnf)

Siapa sih yang tidak tahu dengan bukit yang satu ini? Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya masyarakat Lombok, sebagian besar mengetahui dan pernah berkunjung kesana. Hampir setiap hari bukit ini didatangi para pengunjung. Baik di waktu siang maupun sore hari. Bukit yang terletak di Pujut, Kabupaten Lombok Tengah ini menyajikan pemandangan yang indah. Lokasi bukit yang tinggi, mengharuskan kita untuk berjalan menaiki bukit sekitar 5-10 menit untuk mencapai puncak. Di atas puncak, mata kita akan dimanjakan dengan hamparan laut biru yang luas. Tentunya dengan panorama sunset yang indah.

 

  1. Pantai Dua
Pantai dua. (md/lnf)

Selanjutnya ada Pantai Dua. Pantai yang terletak di Kabupaten Lombok Utara (KLU) ini sepertinya masih jarang diketahui oleh para wisatawan. Terbukti dengan masih sepinya pengunjung di pantai ini.

Tarif masuk ke pantai ini termasuk masih terjangkau, yakni Rp 3000/motor. Pantai yang terletak beberapa kilometer setelah pantai Klui ini menawarkan hamparan rumput dan pohon kelapa yang luas. Disana  terdapat beberapa berugak di sekitar pantainya.

Jika ingin menikmati sunset yang lebih indah, kita harus lebih merapat ke bibir pantai.

Suasana yang sepi, ditambah suara deburan ombak , tentunya langit berwarna jingga akan menambah kenikmatan sunset di pantai ini.

 

  1. Pantai Ampenan
Pantai Ampenan. (MD/lnf)

Terakhir, ada Pantai Ampenan. Pantai dengan julukan “pantai sejuta umat” selalu ramai dikunjungi. Khusunya para pemuda.

Mengapa dinamakan “pantai sejuta umat”? Karena pantai ini berada di Kota Tua Ampenan dan dekat dengan pusat Kota Mataram.

Selain karena kemudahan dan kecepatan akses, banyaknya pedagang menjadi alasan pantai ini selalu ramai dikunjungi. Mulai dari makanan berat (berbagai olahan makanan laut/seafood), makanan ringan, minuman, jajanan jadul dan masih banyak lagi. Harganya pun sesuai dengan isi kantong.

Tidak heran, jika banyak mahasiswa yang berkunjung ke sana.

Selain itu, di dekat area parkir juga terdapat tempat bermain (play ground) untuk anak-anak. Itulah mengapa pengunjung pantai ini berasal dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Jadi, selain sebagai tujuan sunset, jalan-jalan atau hanya sekedar ngopi, pantai ini juga sangat cocok untuk dijadikan tujuan liburan keluarga.

Itulah rekomendasi tempat untuk berakhir pekan dan menikmati matahari terbenam yang ada di Pulau Lombok. Masih banyak lagi.

Tapi jangan lupa. Setiap keluar rumah dan jalan-jalan, tetap ikuti arahan protokol Covid-19. (lnf)

Jangan Panggil Aku Khan

0
Khan

Ingin ku menyapa,

Tapi, ku takut aroma rokok di mulut ini mengganggunya.

 

Perlahan ku menjauh, menjaga jarak

namun tetap bisa memandanginya.

 

Sekitar lima meter dari parkiran,

ku melihatnya tersenyum.

Entah untuk ku

atau pria lain di tenda biru itu.

 

Rokok ditangan belum habis,

Dengan teman ukhtinya, dengan motor metiknya

gadis itu pergi meninggalkan ku, tanpa sepatah kata pun.

 

Hingga puisi ini tercipta,

aku hanya tau namanya saja.

Tidak tau bagaimana orangnya, atau siapa kekasihnya.

 

Asap rokok kembali ku nikmati

dalam hati menantang diri sendiri;

Jangan panggil aku Khan,

Jika kau tak dapat kumiliki.

 

Mataram, (2020)

 

Ormawa dan DPM Unram Membahas IKM, Apa itu?

0

Media Unram – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Mataram (Unram), DPM fakultas, beberapa perwakilan Himpunan Mahasiswa (Hima), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) membahas tentang Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM).

Ketua DPM Unram, Muhammad Al Fajar menjelaskan, IKM atau sistem pemerintahan mahasiswa ini memberikan kesempatan kepada Organisasi Mahasiswa (Ormawa) untuk turut menentukan kebijakan kampus dengan masuk ke dalam sistem birokrasi.

“Ini merupakan upaya mahasiswa untuk mengontrol kerja birokrasi kampus yang tidak lepas dari keprihatinan,” kata Fajar di depan beberapa perwakilan Hima dan UKM, di Taman Tahura Nuraksa, Narmada, Lombok Barat, Sabtu (5/9).

Selain itu, lanjut Fajar, adanya IKM ini untuk meningkatkan rasa solidaritas dan menyelesaikan konflik antar Ormawa. Oleh karena itu, diberi nama keluarga mahasiswa.

“Supaya yang menyelesaikan konflik antar ormawa adalah mahasiswa itu sendiri. Jadi kita akan duduk dan menyelesaikan permasalahan itu secara bersama-sama,” bebernya.

IKM ini dan tidak menyangkut kepentingan siapapun. Baik BEM, DPM, atau Ormawa.

Pria jurusan hukum Unram ini juga menjelaskan, bahwa IKM ini sudah direncanakan sejak kepengurusan sebelumnya, tahun 2019.

Namun, karena sudah diakhir kepengurusan, jadi diusahakan agar dapat direalisasikan tahun 2020.

“Awalnya draft ini akan diserahkan Juli lalu. Tapi karena terhambat virus corona, kami mengundur dan akan diserahkan pada tanggal 8 Oktober,” jelas pria kelahiran Bima ini.

Bagaimana jika ada Ormawa yang ada di fakultas maupun universitas tidak ikut berpartisipasi dalam IKM?

Pada waktu yang sama, Ayu Diana Fitri selaku Ketua Komisi I Legislasi DPM mengatakan, bagi Ormawa yang tidak ingin berpartisipasi dalam IKM dianggap bukan masalah.

“Kalo ada ormawa yang tidak tergabung, ya tidak apa-apa. Kami tidak ada memiliki hak untuk memaksa. Tetapi kami akan berusaha, agar seluruhnya bisa ikut berpartisipasi. Karena ini buat kita semua,” jelas Ayu.

Sistem pemerintahan atau keluarga mahasiswa merupakan suatu sistem pemerintah mahasiswa yang dikelola oleh, dari dan untuk kesejahteraan mahasiswa yang terdaftar.

Tujuan diadakannya sistem pemerintahan mahasiswa di fakultas dan universitas ini antara lain, agar dapat mengedepankan kondisi lingkungan ormawa yang partisipatif dan responsif.

Mewujudkan persamaan hukum, mengutamakan sisi kebersamaan dan kemanusiaan, serta membangun kondisi kemahasiswaan yang jelas.

“Seandainya sistem pemerintahan mahasiswa atau keluarga ini diterapkan, maka akan adanya transparansi dalam seluruh kegiatan yang dilakukan Ormawa,” pungkas Ayu. (khn)